Torosiaje, kampungnya suku bajo

24 February 2013 16:22:17 Dibaca : 77

GORONTALO, KOMPAS.com- Provinsi Gorontalo memiliki obyek wisata laut yang terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, yang berjarak tujuh jam perjalanan ke arah barat dari Kota Gorontalo.

Obyek wisata itu adalah kampung Suku Bajo, yang dikenal sebagai pelaut ulung, di Desa Torosiaje.

Desa Torosiaje atau juga dikenal sebagai Kampung Bajo berada di atas air laut Teluk Tomini dan berjarak sekitar 600 meter dari daratan.

Ada sekitar 250 rumah di Kampung Bajo yang berbentuk panggung di atas perairan Teluk Tomini.

Semua rumah di kampung yang dihuni sekitar 1.400 jiwa itu terbuat dari kayu dan masing-masing rumah terhubung dengan koridor yang juga terbuat dari kayu.

Panjang koridor yang berbentuk huruf "U" itu sekitar 2,2 kilometer. Setiba di dermaga, setiap pengunjung yang hendak ke Kampung Bajo bisa naik ojek perahu yang dipungut ongkos Rp 2.000 setiap orang.

Waktu tempuh dari dermaga ke Kampung Bajo sekitar 5-7 menit. Uniknya, begitu memasuki perkampungan Bajo, perahu akan melintas di bawah koridor kayu sekaligus sela-sela rumah warga.

Tak perlu khawatir mencari penginapan di Kampung Bajo, khususnya bagi pengunjung yang ingin bermalam di sana.

Di bagian ujung Kampung Bajo ada penginapan yang dikelola Dinas Pariwisata Kabupaten Pohuwato.

Dengan kondisi yang sederhana, setiap kamar dipungut biaya Rp 100.000. Ada enam kamar yang tersedia di penginapan tersebut.

"Selain kamar penginapan, rumah warga di Kampung Bajo juga disewakan bagi tamu. Tarifnya pun sama, yakni Rp 100.000 per kamar, " ujar Akbar Arsyad Mile (37), penanggung jawab pariwisata di Kampung Bajo, yang ditemui Kompas di rumahnya pekan lalu.

Terkait sejarah Suku Bajo di Torosiaje, tokoh di Kampung Bajo, Yoote Repi (65), menuturkan, nama Torosiaje sudah ada sejak 1901.

Dalam bahasa Bajo, toro artinya tanjung, dan siaje adalah nama panggilan seseorang yang menemukan tanjung tersebut, yakni si Aje (Haji).

Awalnya, hanya ada beberapa rumah panggung yang didiami orang-orang Suku Bajo. Lambat laun, makin banyak Suku Bajo yang bermukim di wilayah tersebut.

"Sejak 2004, permukiman di Kampung Bajo ditata lebih baik seperti sekarang ini," ucap Yoote.

Salah satu wisatawan di Kampung Bajo, Andri Arnold (35), mengaku terpesona dengan keindahan wisata laut di kampung itu.

Selain pemandangan matahari tenggelam, menginap di permukaan air laut Teluk Tomini memberi sensasi yang beda dibanding obyek wisata pada umumnya.

"Ini adalah kunjungan saya yang kedua di Torosiaje. Udaranya segar dan pemandangan lautnya menawan," kata Andri.