Sejarah Perkembangan Komunikasi Antarpribadi

19 September 2017 16:22:56 Dibaca : 43

Pada tahun 1960-an komunikasi antarpribadi memulai perkembangannya, pada tahun ini dan setelahnya komunikasi antarpribadi mulai menemukan bentuknya sampai seutuhnya bisa menjadi satu bidang studi tersendiri dalam ilmu komunikasi. Namun begitu catatan tentang sejarah perkembangan komunikasi antarpribadi telah ada jauh sebelum tahun ini, hanya saja masih pada tataran pembahasan komunikasi secara luas dan jika pun khusus masih berada pada pembahasan speech communication.
Selain dibahas dalam ilmu komunikasi, komunikasi antarpribadi juga menjadi bahasan dalam ilmu-ilmu lain. Hal seperti ini memang lazim dalam perkembangan ilmu pengetahuan, sebagaimana ilmu komunikasi sendiri yang lahir dari perkembangan sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Prof. Deddy Mulyana dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian Kuantitatif, juga menegaskan hal ini, bahwa ilmu pengetahuan akan saling berkolaborasi, mencamurkan teori-teori dari cabang ilmu yang berbeda hanya untuk mengkaji satu fenomena.

Komunikasi antarpribadi yang dibahas dalam ilmu lain ini bisa dirunut sejak awal abad ke-19. Georg Simmel (1908/1950), seorang ilmuwan sosial yang melakukan observasi serius terhadap konsep-konsep yang dibahas dalam komunikasi antarpribadi, seperti reciprocal knowledge, characteristics of the dyad, interaction, rituals, secrecy, lies and truth, dan types of social relationship. Konsep-konsep ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan para ilmuwan sosial maupun komunikasi.

Kemudian ditulis pada tahun 1920-an banyak sekali bibit-bibit intelektual bagi ilmu komunikasi yang mulai tersemai. Sebutlah Elton Mayo dan para koleganya dari Harvard Business School, sebuah sekolah bisnis belum lagi ilmu komunikasi. Mereka melakukan penelitian yang hanya berkaitan soal bisnis namun hasilnya mereka temukan ada pengaruh besar yang ternyata masih sulit dijelaskan oleh ilmu bisnis saat itu. Yang menjadi tempat penelitian mereka adalah pabrik Western Electric Hawthorne, di situ mereka menemukan ada kekuatan potensial mengenai interaksi sosial dan hubungan-hubungan sosial di tempat kerja. Bahwa interaksi atasan-bawahan dan interaksi sesama mitra kerja ternyata mempengaruhi produktivitas pabrik. Hubungan dan interaksi manusia ini isyarat dan pemikiran terhadap sifat komunikasi pendukung, keterbukaan, dan pengaruh-pengaruh yang menunjukkan kepedulian bagi kebutuhan-kebutuhan pihak lain selama interaksi berlangsung.

Selain itu juga pada tahun 1930-an berkembang pesat yang namanya dinamika kelompok. Kelompok dan antarpribadi memang mempunyai hubungan sangat erat layaknya induk dan anak dalam sebuah ilmu, induknya adalah kelomok dan anaknya adalah antarpribadi. Hal ini bisa dilihat dari topik-topik kelompok yang juga perlu dibahas dalam antarpribadi, seperti cooperation/competition, feedback, conflict, interaction sequencies, method for coding responses, sosiometric choices, and social network.

Selanjutnya pada tahun 1940-an sampai 1950-an, Eliot Chapple, seorang ilmuwan psikopatologi, menemukan temuan penting pada bidang komunikasi antarpribadi. Yakni kesesuaian ritme interaksi yang sangat berpengaruh dalam suatu hubungan antarpribadi, seperti intensitas, pemilihan waktu dan pola-pola organisasi.

Di lain ilmu, yakni pada bidang psikiatri, seorang psikiater Harry Stack Sullivan berhasil menggeserkan ilmu psikiatri dari yang sebelumnya berorientasi pada interaksi intrapribadi menjadi ke antarpribadi. Dia menemukan bahwa penyakit skizofrenia dewasa adalah akar masalah hubungan antarpribadi di masa lalu. Juga ada psikiater lainnya Jurgen Ruesch yang menulis buku nonverbal communication bersama seorang antrpolog Gregory Bateson menulis buku Pragmatics of Human Communication yang menegaskan ternyata komunikasi berperan dalam penyakit jiwa dan masalah-masalah organisasi struktural. Juga ada antropolog lain Ray Birdwhistell dan Edward T. Hall menemukan dasar perilaku nonverbal komuikasi antarpribadi, seperti body movement, gestures, postures and the use of space. Psikiater lainnya juga pada akhir 1950-an menulis buku The Psychology of Interperonal Relations yang menjelaskan teori atribusi.

Pembahasan pada era-era di atas itu hanya merupakan kejadian terpisah, bukan karena ada kesepakatan bersama oleh para ilmuwan atau mayarakat. Lain halnya yang terjadi setelahnya, ada masa 1960-an sampai 1980-an media massa perkembang pesat namun sisi lainnya karena produksi berita pada masa itu yang kebanyakan tidak bisa dipercaya akibat pengaruh politik perang Vietnam dan Amerika maka banyak orang dari kalangan pemuda yang idealis melakukan kegiatan-kegiatan tatap muka untuk mengimbangi informasi yang mereka terima dari saluran resmi maupun media massa. Menanggapi fenomena ini, banyak ilmuwan yang sepakat bahwa ternyata komunikasi antarpribadi adalah sesuatu yang vital dalam komunikasi.

Delia (1987) mengatakan tahun 1960-an adalah "bidang inti area penelitian" komunikasi antarpribadi karena fenomena di atas. Selanjutnya komunikasi antarpribadi menemukan bentuknya karena semakin banyak buku dan mata kuliah di kampus-kampus masa itu yang mengkhususkan diri pada bidang komunikasi antarpribadi. Juga pembentukan organisasi keilmuan dan profesional yang memakai label interpersonal communication.

Catatan: disadur dari buku Prof. Dr. Muhamad Budyatna, M.A dan Dr. Leila Mona Ganiem, M.Si yang berjudul Teori Komunikasi Antarpribadi

Komunitas ini Membawa Ular Besar di Taman Rektorat

15 May 2017 04:50:19 Dibaca : 77

Sore tanggal 26 Februari lalu, taman rektorat Universitas Negeri Gorontalo dikejutkan oleh kehadiran ular piton yang berukuran sekitar 2 meter lebih. Ular ini dibawa oleh komunitas satwa liar Gorontalo atau Gorontalo Exotic Pets Community (GEPC). Ular ini dibiarkan begitu saja di lantai taman, beberapa pengunjung yang ingin mengambil foto bisa langsung mendekat, tidak ada pengawalan khusus.

Sesekali ular ini mencoba menerkam orang-orang yang berada di dekatnya, tapi gagal karena mulutnya diplester dengan selotip.

Pihak GEPC mengatakan jika agenda ini dimaksudkan sebagai ajang edukasi kepada masyarakat umum yang kurang mengenal satwa liar, "biasanya masyarakat kalau menemukan satwa liar seperti ular itu langsung dibunuh, masyarakat biasanya masih takut karena menganggap semua ular itu berbahaya, nah inilah yang coba kami luruskan," terang Supriyano salah satu anggota GEPC.

Menurutnya masih banyak salah kaprah atau ketidaktahuan masyarakat umum terhadap satwa liar, "contohnya ular, dapat ular langsung ditebas. Juga pendapat umum tentang ular yang berbisa dilihat dari bentuk kepalanya, padahal belum tentu bentuk kepala ular bisa menentukan ular itu berbisa atau tidak, dan masih banyak lagi yang harus diterangkan."

Sebelum di taman rektorat, mereka juga sudah keliling wilayah Kota Gorontalo sambil membawa satwa liar yang mereka punyai, "tadi kita di salah satu pemandian, Waterbom Tiara Park, sudah keliling ini. Sebenarnya tadi juga banyak satwa yang kami bawa, karena ular ini masih ingin dipakai main, yah hanya dia saja yang kami bawa," kata salah satu anggota GEPC, Malik Zulkarnain. Mereka mengusahakan setiap hari Minggu akan melakukan agenda serupa.

Namun menurutnya, antusias masyarakat masih kurang untuk menyambut kehadiran mereka, "tapi tidak ada protes dari masyarakat, kami menginginkan ada rasa ingin tahu dari masyarakat sehingga kami bisa lebih bersemangat".

Mengenai hukum, mereka mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan tidak melanggar hukum. Supri mengatakan bahwa khusus jenis ular, dia belum menemukan ular yang dilindungi di Sulawesi.

Mereka juga mempunyai aturan agar setiap jenis satwa liar yang mereka punya, akan dilepaskan kembali ke habitatnya, setelah melalui masa karantina dan proses meliarkan kembali perilaku satwa liar tersebut.

Berbagai satwa liar yang mereka punya, mulai dari reptil, mamalia hingga burung biasanya didapat dari masyarakat yang menemukannya di pemukiman. "Terlepas dari transaksi jual-beli, tujuan kami menampung hewan-hewan itu hanya ingin memberikan edukasi kepada masyarakat dan untuk penyelamatan satwa tersebut," kata Malik.

"Contohnya saja ular ini yang kami dapat tepat pada tanggal 24 Desember 2016. Kejadiannya di Pohon Cinta, Marisa, di sana sudah ada juga orang dari Minahasa yang akan mengambil ular tersebut untuk dikonsumsi, kami melakukan tawar-menawar dengan masyarakat, kami beri pengertian bahwa daripada ular ini dimakan mending diselamatkan oleh kami," kata Malik tentang bagaimana cerita ular itu mereka temukan.


Mereka bercerita saat dibawa dari Marisa, kondisi ular itu luka-luka karena dipukuli oleh masyarakat, lalu mereka obati.


Ular yang mereka bawa itu bernama python reticulatus celebensis, yang merupakan salah satu spesies endemik Sulawesi, artinya tidak ditemukan di tempat lain selain Sulawesi. Menurut mereka banyak sekali satwa endemik yang ada di Gorontalo ini yang masih belum diketahui, karena belum tersedianya data untuk diakses oleh masyarakat umum.

 

catatan: berita ini sebelumnya diunggah di merahmaron.com, namun saat ini kondisi web masih dalam perawatan, jadi belum bisa diakses.

Bahasa dan Komunikasi Efektif

19 March 2017 17:24:31 Dibaca : 41

Bahasa seringkali disamaratakan sebagai komunikasi. Hal ini disebabkan banyak yang menganggap komunikasi atau menyampaikan pesan itu adalah berbicara. Atau ada pendapat yang sedikit maju, bahwa bukan hanya berbicara saja, melainkan membaca simbol dan bahasa isyarat. Dan yang parah adalah kita sudah menganggap keduanya cukup untuk menjalin komunikasi yang efektif.

Kenapa tidak? Jawabannya karena bahasa mempunyai keterbatasan jika kita menganggapnya sebagai komunikasi. Sebaliknya bahasa hanyalah salah 'satu' alat. dalam berkomunikasi. Bukti kuat bahwa bahasa itu belum cukup adalah, cobalah menghubungi seseorang di malam hari saat waktu tidur, atau kita melamar pekerjaan dengan bau badan yang busuk, tentulah walaupun kita menggunakan bahasa yang paling baik pun, komunikasi yang terjalin berpotensi besar tidak efektif. Dalam llmu Komunikasi waktu dan bau termasuk dalam dimensi komunikasi. Hal inilah yang membuat bahasa mempunyai keterbatasan dalam menyampaikan pesan.

Ini bukan soal berkomunikasi antar individu dengan bahasa yang berbeda satu sama lain, seperti orang yang tidak tahu berbahasa Inggris dan bercakap-cakap dengan orang asing. Karena dalam hal ini bahasa masih mempunyai solusi, yakni menggunakan isyarat. Tapi lebih dari itu, seperti contoh di atas, bahasa masih mempunyai keterbatasan. Dan karena itu bahasa belum cukup untuk mendapatkan komunikasi efektif.

Gedung Rektorat Diminati Para Wisudawan

07 April 2016 05:34:55 Dibaca : 304

Foto: Nazarudin Syamsi, wisudawan Fakultas Olahraga dan Kesehatan berpose di depan tulisan "REKTORAT" bersama keluarganya. (Dok. VoC)

VoC-UNG. Kamis (4/1) kampus UNG akan mewisuda 1005 wisudawan yang terdiri dari Diploma, Sarjana, Pascasarjana dan Profesi Ners (sumber: ung.ac.id). Kebiasaan yang tak akan ketinggalan saat wisuda adalah mengambil foto-foto untuk mengabadikan momen berharga itu. Gedung Rektorat UNG menjadi salah satu objek yang diminati oleh para wisudawan.


Gedung Rektorat UNG masih terhitung baru dan masih dalam keadaan renovasi, namun kesan mencolok tidak bisa lepas dari gedung 3 lantai ini. Gedung ini terletak di tengah bekas lapangan Damhil yang sudah dijadikan taman. Di sisi kanan-kiri dan depan-belakangnya tidak ada gedung maupun pepohonan yang mengganggu pemandangan. Sekitar 50 meter depan Gedung di ujung taman, ada tulisan “REKTORAT” berwarna orange yang setinggi ukuran orang dewasa.


Tak heran beberapa wisudawan memilih berfoto ria bersama keluarga dan kerabatnya di depan gedung “mewah” ini. Contohnya Nazarudin Syamsi, wisudawan dari Fakultas Olahraga dan Kesehatan ini berinisiatif untuk berpose dengan menggunakan toga bersama keluarganya.


Beberapa menit dia berdiri di depan tulisan “REKTORAT” yang terik dengan panasnya sinar matahari di siang itu sambil menunggu keluarganya bergantian untuk berfoto dengannya.


Dia memilih tempat itu untuk mengambil latar belakang tulisan “REKTORAT”, “mungkin sebuah kebanggaan kalau diperlihatkan di kampung” aku Nazarudin. Wisudawan yang berasal dari Tapa itu berencana untuk memajang foto tersebut di rumahnya agar dilihat temannya “kan kalau ada teman-teman yang datang ke rumah bisa dilihat” katanya. #DF

Catatan:

- Tugas Berita 3 Jurnalistik Online

- Diambil dan diedit dari website Pers Mahasiswa bulletinvoc.wordpress.com

Diskusi Meja Bundar

07 April 2016 05:28:13 Dibaca : 81

Foto: diskusi baru akan dimulai. (Dok. VoC)

VoC-UNG. (6/10/2015) “mahasiswa co jangan cuma kuliah!” celetuk salah seorang diantara mereka. Perkataan ini yang membuka diskusi di gazebo cafe Humaniora, sudut lapangan basket Universitas Negeri Gorontalo, sore jam 3 lewat.


Cukup mengagetkan kesannya, jika yang duduk berdiskusi di tempat nongkrongnya mahasiswa ini adalah orang-orang “berpengaruh” di daerah Gorontalo. Orang-orang ini biasanya menghadiri kegiatan akan disambut dengan spanduk dan banner, justru hanya duduk di bawah payung bundar gazebo.


Mahasiswa pun melihatnya hanya melirik kemudian berlalu begitu saja. Entahlah, diskusi ini memang sengaja di-setting informal atau hanya agenda dadakan.


Ba’da Ashar menjelang Magrib tempat ini justru semakin didatangi oleh orang-orang bermobil. Setelah cukup ramai barulah diskusi diarahkan oleh seorang moderator pada pembahasan tentang listrik. Tentu pembahasan ini cukup mengundang perhatian orang-orang disekitar mereka.


Permasalahan listrik di Gorontalo dan kredibilitas orang-orang yang hadir saat itu layak disimak dan diketahui oleh semua masyarakat Gorontalo, khususnya mahasiswa.


Permasalahan listrik ini pastilah dialami oleh semua elemen masyarakat Gorontalo, sudah sekitar empat bulan pemadaman bergilir di Gorontalo dilakukan.


Mungkin dua faktor ini yang mengundang: Ketua KNPI DPD II Kota Gorontalo, Ketua KNPI DPD I Provinsi Gorontalo, Wakil Rektor 2 Universitas Negri Gorontalo, Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, aktivis Yayasan Lembaga Hukum Indonesia, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gorontalo, Badan Eksekutif Mahasiswa UNG, Femmy Udoki (Gorontalo Post), beberapa dosen, mahasiswa dan awak media lainnya.


Mereka diminta memberikan pendapat oleh moderator terkait pemadaman listrik di Gorontalo. “saya minta pendapat dengan waktu lima belas menit saja” kata Funco Tanipu selaku moderator, di sampingnya Wakil Rektor II UNG langsung meminta izin “UNG adalah salah satu pembayar listrik terbesar di Gorontalo, tapi sekarang kita justru rugi. Apakah kita harus membeli lagi genset untuk UNG? Lalu apa fungsinya PLN?” katanya dengan sedikit bergurau.


Kemudian disambung oleh ketua KNPI Provinsi “PLN kita masih cakupan dari wilayah Sulawesi Utara-Sulawesi Tengah-Gorontalo, jangan sampai kita (Gorontalo) hanya mendapat pasokan listrik terkecil”. Salah seorang dari mereka kemudian menerangkan “perlu diketahui bahwa listrik itu diporsikan berdasarkan tiga: untuk pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Kita harus mengidentifikasi mana yang mendapat porsi lebih banyak”.


Mereka juga berasumsi bahwa pemadaman listrik yang tidak wajar ini adalah pengaruh dari penimbunan bahan bakar solar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. “coba diaudit dulu ini PLN!” kata ini yang beberapa kali keluar.


Kesimpulannya ada dua jalur yang harus mereka tempuh: jalur hukum dan demonstrasi pendapat.


Mereka juga rencana akan merutinkan diskusi ini, tujuannya adalah mencari solusi terbaik “kita jangan hanya sekedar menggugat tapi kita hrus mencari solusi bersama. Yah, kalau jalan satu-satunya adalah membeli genset baru untuk PLN, kenapa tidak kita (masyarakat Gorontalo) kumpul uang untuk membelinya” pungkas Wakil Rektor II saat detik-detik terakhir diskusi. #DF

Catatan:

- Tugas Berita 2 Jurnalistik Online

- Diambil dan diedit dari Website Pers Mahasiswa bulletinvoc.wordpress.com