Etika & Filsafat Komunikasi -- Part 02

14 April 2015 20:45:24 Dibaca : 817

(lanjutan -- Part 02)

Konsep dan Teori

5. Tema pokok – MC – Simbolis

Dalam komunikasi dikenal sebuah teori tentang interaksi manusia, yaitu teori interaksi simbolik. Interaksi simbolik merupakan suatu aktivitas yang menjadi ciri khas manusia, yaitu komunikasi dan pertukaran simbol yang diberi makna.
Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini mengatakan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra mereka. Teori interaksi simbolik ini memiliki tujuh prinsip sebagai berikut:

1) Manusia, tidak seperti hewan lebih rendah,diberkahi dengan kemampuan berpikir. Manusia dan hewan adalah makhluk hidup, tetapi manusia diberkahi dengan kemampuan berpikir, sedangkan hewan tidak.

2) Kemampuan berpikir dibentuk oleh interaksi sosial. Manusia memiliki kemampuan berpikir yang memang sudah diberikan oleh sang pencipta,tetapi kemampuan berpikir manusia tersebut dapat terbentuk dan semakin berkembang melalui interaksi sosial.

3) Dalam interaksi sosial, manusia mempelajari makna dan simbol yang memungkinkan mereka menerapkan kemampuan khas mereka sebagai manusia, yaitu berpikir. Manusia berpikir untuk menginterpretasi makna dari simbol-simbol yang mereka temukan dalam kehidupan mereka.

4) Makna dan simbol memungkinkan manusia melanjutkan tindakan dan interaksi yang khas manusia. Makna dan simbol yang telah diinterpretasi melalui berpikir oleh manusia kemudian dilanjutkan dengan tindakan dan interaksi-interaksi selanjutnya yang kemudian menjadi kebiasaan manusia dalam sehari-harinya.

5) Manusia mampu memodifikasi atau mengubah makna dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan interpretasi mereka atas situasi. Dengan berpikir pula, manusia kemudian tidak hanya menginterpretasi makna dan simbol dalam kehidupan mereka, tetapi juga memodifikasi atau mengubah makna dan simbol tersebut, atau bahkan menciptakan simbol-simbol mengenai hal-hal yang ada di sekeliling mereka.

6) Manusia mampu melakukan modifikasi dan perubahan ini karena kemampuan mereka berinteraksi dengan diri sendiri, yang memungkinkan mereka memeriksa tahapan-tahapan tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatif, dan kemudian memilih salah satunya.

7) Pola-pola tindakan dan interaksi yang berkelanjutan ini membentuk kelompok dan masyarakat. Kelompok masyarakat ini lalu membuat kesepakatan atas hal-hal yang ada di sekeliling mereka mengenai simbol-simbol dan maknanya yang kemudian mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai makhluk simbolik.

Bagi Blumer keistimewaan pendekatan kaum interaksionisme simbolis ialah manusia dilihat saling menafsirkan atau membatasi masing-masing tindakan mereka dan bukan hanya saling bereaksi kepada setiap tindakan itu menurut mode stimulus-respon. Seseorang tidak langsung memberi respon pada tindakan orang lain, tetapi didasari oleh pengertian yang diberikan pada tindakan itu.

Pendekatan interaksionisme simbolik berkembang dari sebuah perhatian ke arah dengan bahasa; namun Mead mengembangkan hal itu dalam arah yang berbeda dan cukup unik. Pendekatan interaksionisme simbolik menganggap bahwa segala sesuatu tersebut adalah virtual.

Dari sini kita bisa membedakan teori interaksionisme simbolis dengan teori-teori lainnya, yakni secara jelas melihat arti dasar pemikiran kedua yang mengacu pada sumber dari arti tersebut.Teori interaksionisme simbolis memandang bahwa “arti” muncul dari proses interaksi sosial yang telah dilakukan. Arti dari sebuah benda untuk seseorang tumbuh dari cara-cara di mana orang lain bersikap terhadap orang tersebut. Sehingga interaksi simbolis memandang “arti” sebagai produk sosial; Sebagai kreasi-kreasi yang terbentuk melalui aktifitas yang terdefinisi dari individu saat mereka berinteraksi.
Pandangan ini meletakkan teori interaksionisme simbolis pada posisi yang sangat jelas, dengan implikasi yang cukup dalam.

Pendapat

Dari teori dan konsep diatas bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk simbolik karena dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering menggunakan simbol-simbol. Seperti salah satu contoh penggunaan simbol dalam kehidupan sehari-hari adalah simbol-simbol pada peraturan lalu lintas, misalnya lampu lalu lintas atau lebih sering disebut lampu merah oleh masyarakat luas yang terdiri dari tiga warna yaitu merah,kuning, dan hijau. Warna-warna tersebut masing-masing memiliki makna tersendiri yakni warna merah yang memerintahkan para pengguna jalan untuk berhenti, warna kuning yang memerintahkan untuk berhati-hati, dan lampu hijau yang memerintahkan untuk kendaraan jalan.

Simbolik merupakan hal-hal yang mengandung simbol-simbol. Jadi, dapat dikatakan bahwa makhluk simbolik merupakan makhluk yang menggunakan hal-hal yang simbolik atau mengandung simbol-simbol. Simbol-simbol yang dimaksud disini bukan sekedar simbol-simbol tak bermakna, tetapi hal-hal tersebut memiliki makna masing-masing dan tidak satupun simbol yang tercipta tanpa memiliki makna tersendiri. Misalnya, warna merah dan warna putih pada bendera Indonesia, warna merah pada bendera tersebut dianggap sebagai simbol keberanian dan warna putih dianggap sebagai simbol kesucian.

Simbol-simbol dalam kehidupan manusia juga erat kaitannya dengan budaya. Dalam suatu kebudayaan, masyarakat dalam kebudayaan tersebut sering menggunakan simbol-simbol dalam melambangkan sesuatu.
Berdasarkan beberapa pemaparan contoh di atas, dapat di katakan bahwa manusia dalam menggunakan atau menciptakan simbol-simbol yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka berasal dari pengalaman hidup mereka. Seperti yang menciptakan lampu lalu lintas setelah melihat kecelakaan lalu lintas. Maka dari itu, manusia dikatakan sebagai makhluk simbolik.

Oleh sebab itu, setiap manusia dapat berinteraksi dengan hal-hal di sekelilingnya dengan menggunakan aturan seperti saat seseorang melakukan kesalahan kepada orang lain, dia harus meminta maaf kepada orang tersebut. Akan tetapi berbeda dengan hewan, hewan tidak perlu meminta maaf kepada hewan lainnya ketika melakukan kesalahan, karena hewan tidak memiliki akal untuk berpikir bahwa mereka harus berinteraksi dengan hewan lainnya dengan menggunakan aturan.

Dalam berinteraksi, manusia menggunakan akal mereka untuk memahami hal-hal yang ada di sekeliling mereka dan melalui pemahaman tersebut kemampuan berpikir manusia terbentuk dan semakin berkembang menjadi luas.
Jadi, interaksi manusia di mediasi oleh penggunaan simbol-simbol, oleh interpretasi, atau oleh penetapan makna dari tindakan orang lain. Mediasi ini ekuivalen dengan pelibatan proses interpretasi antara stimulus dan respon dalam kasus perilaku manusia.
Pendekatan interaksionisme simbolik memberikan banyak penekanan pada individu yang aktif dan kreatif ketimbang pendekatan-pendekatan teoritis lainnya.

Dengan mengetahui interaksionisme simbolik sebagai teori maka kita akan bisa memahami fenomena sosial lebih luas melalui pencermatan individu. Manusia bertindak berdasarkan makna-makna; makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain; makna tersebut berkembang dan disempurnakan saat interaksi tersebut berlangsung (George Herbert Blumer).

Berdasarkan diagram diatas, sudah jelas bahwa interaksionalisme simbolik itu membantu manusia dalam berinteraksi dengan apapun. Oleh karenanya, manusia bertindak terhadap sesuatu berdasar makna-makna yang dimiliki benda itu bagi mereka. Asumsi ini menjelaskan prilaku sebagai suatu rangkaian pemikiran dan perilaku yang dilakukan secara sadar antara rangsangan dan respon orang berkaitan dengan rangsangan tersebut. Makna yang kita berikan pada simbol merupakan produk dari interaksi simbolik dan menggambarkan kesepakatan kita untuk menerapkan makna tertentu pada simbol tertentu pula.

Makna-makna itu pula merupakan hasil dari interaksi sosial dalam masyarakat manusia. Dalam sudut pandang ini, makna dijelaskan dengan mengisolasi elemen-elemen psikologis didalam seorang individu yang menghasilkan makna, melihat makna sebagai suatu yang terjadi di antara orang-orang. Makna adalah “produk sosial” atau “ciptaan” yang dibentuk dalam dan melalui pendefinisian aktivitas mausia ketika mereka berinteraksi.

Dan kemudian makna-makna seperti symbol dimodifikasikan dan ditangani melalui suatu proses penafsiran yang digunakan oleh setiap individu dalam keterlibatannya dengan tanda-tanda yang dihadapinya. Blumer menyatakan bahwa proses intepretatif ini memiliki dua langkah.

Dalam kehidupan sehari - hari kita sebagai manusia selalu berhubungan satu dengan yang lainnya agar tetap eksis di dunia. Dengan berhubungan tersebut kita menggunakan berbagai bentuk komunikasi baik verbal ataupun non verbal.

Dalam hal ini, manusia sebagai pelaku komunikasi secara sadar dalam interaksionalisme simbolik, karena manusia dalam berinteraksi meberikan tindakan. Oleh karena itu,jujur atau tidak jujur,sadar atau tidak di sadari. Dari kita bangun tidur; membuka mata,sampai kita tertidur lagi. Tak sedikit kita menemui,memakai dan memaknai begitu banyak jumlah “simbol-simbol” dan “tanda” entah itu dalam bentuk gambar,tulisan,ucapan,ungkapan ataupun perbuatan tingkah laku.

Contohnya, orang biasanya menyampaikan cinta dengan bunga, warna merah artinya marah, warna hitam bersedih dan masih banyak yang lainnya. Ada simbol yang ada semenjak kita lahira (simbol bawaan) ada; semisal kita menggelengkan kepala artinya tidak mau atau mengedipkan mata sebelah artinya oke tapi secara diam-diam saja. Juga ada simbol yang kita buat karena kebutuhan (simbol terapan). Seperti sandi dan lambang-lambang tertentu yang hanya di mengerti orang-orang tertentu saja.
Simbol bawaan, akan senantiasa melekat di ruang kesadaran dan dalam sekejap dengan mudah dapat ditangkap oleh lawan komunikasi kita.

Berkaitan dengan Tindakan maka manusia bisa menjadi manusia penuh, seperti tiap kita menyikapi permasalahan pasti orang lain akan dapat menyimpulkan siapa kita. Teori interaksionisme simbolis memandang manusia sebagai makhluk sosial dalam pengertian yang mendalam. Maksudnya ialah manusia merupakan makhluk yang ikut serta dalam interaksi sosial dengan dirinya sendiri dengan membuat sejumlah indikasi sendiri, serta memberikan respon pada indikasi. Manusia bukanlah makhluk yang sekedar berinteraksi lalu merespon, tetapi juga makhluk yang melakukan serangkaian aksi yang didasarkan pada perhitungan yang matang atau tindakan yang matang pula.

Interaksionisme Simbolik adalah suatu teori tentang pribadi atau individu, tindakan sosial, yang dalam bentuknya yang paling distingtif tidak berusaha untuk menjadi suatu teori makro dalam masyarkat.
Penjelasan-penjelasan mengenai tindakan–komponen teoritis–tetap sederhana, tetapi ini bisa dilihat sebagai suatu pilihan yang sadar dalam rangka menangkap beberapa kerumitan situasi nyata. Dan tugas teoritis yang ditunjukannya ialah pengembangan dari penjelasan teoritis canggih yang berlangsung lebih dalam pada aspek-aspek tindakan individu, tanpa kehilangan kerumitan dari dunia nyata.

Karena itu, bisa dikatakan tindakan dan tingkah laku itu adalah tanda. Yaitu tanda siapa dia yang bertindak dan yang berlaku. Jika dia begitu pasti dia orangnya begitu, adalah simbol.
Tapi saya tidak setuju jika bentuk tubuh adalah tanda, seperti umpamanya kulitnya agak merah orangnya suka marah dan lain sebagainya.

Terkadang dalam interksionalisme simbolik selalu ada yang namanya Dramaturgi yang merupakan pandangan tentang kehidupan sosial sebagai rentetan pertunjukan drama dalam sebuah pentas. Diri adalah pengaruh dramatis yang muncul dari suasana yang ditampilkan (interaksi dramatis), maka ia mudah mengalami gangguan.

Konsep dan Teori

6. MC sebagai Makhluk Sosial (Blumer dan Mead)

Manusia dikatakan mahluk sosial yaitu mahluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain. Manusia di katakan mahluk sosial, juga di karenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Ada kebutuhan sosial (social need) untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Kemampuan dan kebiasaan manusia berinteraksi antar individu maupun kelompok ini disebut juga dengan zoon politicon. Istilah manusia sebagai zoon politicon pertama kali di kemukakan oleh Aristoteles yang artinya manusia sebagai binatang politik. Manusia sebagai zoon politicon, mengandung makna bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup berkelompok dengan manusia yang lain dalam suatu organisasi yang teratur, sistematis dan memiliki tujuan yang jelas, seperti negara. Seringkali di dasari oleh kesamaan ciri atau kepentingan masing-masing. Misalnya, orang kaya cenderung berteman dengan orang kaya. Orang yang berprofesi sebagai artis, cenderung mencari teman sesama artis.

Aktualisasi manusia sebagai makluk sosial, tercermin dalam kehidupan berkelompok. Manusia selalu berkelompok dalam hidupnya. Berkelompok dalam kehidupan manusia adalah suatu kebutuhan, bahkan bertujuan. Tujuan manusia berkelompok adalah untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya. Apapun bentuk kelompoknya, di sadari atau tidak, manusia berkelompok mempunyai tujuan meningkatkan kebahagiaan hidupnya. Melalui kelompok manusia bisa memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya, bahkan bisa di katakana kebahagiaan dan keberdayaan hidup manusia hanya bisa dipenuhi
dengan cara berkelompok. Tanpa berkelompok tujuan hidup manusia yaitu mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan tidak akan bisa tercapai. Manusia merupakan makluk individu dan sekaligus sebagai makluk sosial. Sebagai makluk sosial manusia selalu hidup berkelompok dengan manusia yang lain.

Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:

a) Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.

b) Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.

c) Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain

d) Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

Dalam teori George Herbert Mead, dalam teorinya yang diuraikan dalam buku Mind, Self, and Society (1972), mead menguraikan tahap-tahap pengembangan secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain. Menurut mead pengembangan diri manusia ini berlangsung melalui beberapa tahap Play Stage, tahap Game Stage, dan tahap Generalized Other.

Sosialisasi merupakan proses yang berlangsung sepanjang hidup manusia. Dalam kaitan inilah para pakar berbicara mengenai bentuk-bentuk sosialisasi, Seperti sosialisasi setelah masa kanak-kanak, pendidikan sepanjang hidup, atau pendidikan berkesinambungan.

Sedangkan dalam teori George Herbert Blumer mengutarakan tentang tiga prinsip utama dalam interaksi manusia, yaitu tentang pemaknaan (meaning), bahasa (language), dan pikiran (thought). Premis ini nantinya mengantarkan kepada konsep ‘diri’ seseorang dan sosialisasinya kepada ‘komunitas’ yang lebih besar yakni masyarakat.

Dari teori Mead dan Blumer, pengertian Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial.

Esensi manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama, serta bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan.
Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa disamping manusia hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah,manusia juga hidup bersama dalam memenuhi kebutuhan rohani.

Pendapat

Dari penjelasan konsep di atas tentang manusia sebagai makhluk sosial, hal tersebut sudah menjadi kesepakatan masyarakat umum tentang definisi manusia. Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan sosialnya sebagai sarana untuk bersosialisasi.Bersosialisasi disini berarti membutuhkan lingkungan sosial sebagai salah satu habitatnya maksudnya tiap manusia saling membutuhkan satu sama lainnya untuk bersosialisasi dan berinteraksi.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Setiap manusia cenderung untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dapat dikatakan bahwa sejak lahir, dia sudah disebut sebagai makhluk sosial. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara.

Manusia pun berlaku sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan keterkaitannya dengan lingkungan dan tempat tinggalnya.Manusia bertindak sosial dengan cara memanfaatkan alam dan lingkungan untuk menyempurnakan serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya demi kelangsungan hidup sejenisnya. Namun potensi yang ada dalam diri manusia itu hanya mungkin berkembang bila ia hidup dan belajar di tengah-tengah manusia. Untuk bisa berjalan saja manusia harus belajar dari manusia lainnya.

Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.
Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosialadalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya.

Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kondisi yang interdependensi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Pada zaman modern seperti saat ini manusia memerlukan pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.

Manusia juga mempunyai perasaaan emosional yang ingin diungkapkan kepada orang lain dan mendapat tanggapan emosional dari orang lain pula. Manusia memerlukan pengertian, kasih sayang, harga diri pengakuan, dan berbagai rasa emosional lainnya. Tanggapan emosional tersebut hanya dapat diperoleh apabila manusia berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat.

Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kantmengatakan, “manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan”. Jadi jika manusia tidak dididik maka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil penelitian terhadap anak terlantar. Hal tersebut memberi penekanan.

Dalam pelaksanaannya interaksi sosial, manusia dihadapkan pada berbagai kondisi serta factor-faktor yang berpengaruh dalam perjalanan hidup manusia. Faktor-faktor ini didukung juga dengan keberadaan norma serta unsur interaksi sehingga pelaksanaanya bisa berjalan selaras dengan kelangsungan hidup manusia selama dibumi. Tidak mungkin ada orang yang bisa tidak melakukan interaksi sosial selama hidupnya bahkan orang-orang yang disebut “anti sosial” saja tidak akan tahan tidak melakukan interaksi sosial. Oleh karena itu, interaksi sosial sangatlah penting selama manusia hidup.

Dalam teori George Herbert Blumer, bahwa manusia disebut sebagai makhluk sosial, karena manusia bertindak atau bersikap terhadap manusia yang lainnya pada dasarnya dilandasi atas pemaknaan yang mereka kenakan kepada pihak lain tersebut, yang kemudian pemaknaan muncul dari interaksi sosial yang dipertukarkan di antara mereka. Makna bukan muncul atau melekat pada sesuatu atau suatu objek secara alamiah. Di sinilah, George Herbert Blumer menegaskan tentang pentingnya penamaan dalam proses pemaknaan.

Sementara itu George Herbert Mead juga meyakini bahwa penamaan simbolik ini adalah dasar bagi masyarakat manusiawi (human society). Konsep dari George Herbert Mead tentang ‘diri’ (self). Konsep diri menurut George Herbert Mead sebenarnya kita melihat diri kita lebih kepada bagaimana orang lain melihat diri kita. Konsep diri adalah fungsi secara bahasa. Tanpa pembicaraan maka tidak akan ada konsep diri. Nah, konsep diri ini sendiri pada nantinya terbentuk atau dikonstruksikan melalui konsep pembicaraan itu sendiri, melalui bahasa (language).

Sedangkan menurut teori George Herbert Mead yakni Mind, Self, and Society. Mind identik dengan simbol. Sesuatu akan dianggap sebagai simbol jika ada sesuatu yang lain yang terdapat di dalamnya. Sesuatu yang memiliki satu makna saja atau tanpa melalui proses interpretasi, maka belum bisa disebut dengan simbol, mind bukanlah suatu benda melainkan suatu proses sosial. Mind atau yang biasa dianggap sebagai akal budi identik dengan penggunaan simbol-simbol. Mind inilah yang membedakan antara manusia dengan hewan. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwamind itu merupakan penerapan atau identik dengan simbol-simbol di mana simbol sendiri ada dua jenis yaitu gerak-gerik dan bahasa.

Kemudian Self memiliki sifat dinamis. Self berada di luar diri individu namun tetap berinteraksi dengan dunia luar. Self sendiri dibagi menjadi tiga macam yaitu play stage (tahap bermain), game stage (tahap pertandingan) dan generalized other (harapan-harapan, standar umum, kebiasaan yang berlaku pada tempat tersebut).
Sedangkan Society, Mead melihat masyarakat secara kecil dan menganggap lembaga organisasi hanyalah merupakan respon yang biasa saja atas tingkah laku masyarakat. Mead hanya menyatakan bahwa masyarakat ada sebelum ada individu dan proses mental atau proses berfikir terbentuk dari masyarakat. Jadi, bagi Mead pola interaksi dan institusi sosial itu hanya merupakan respon yang biasa terjadi dalam masyarakat.

Jadi manusia adalah makhluk yang selalu menggunakan simbol dan simbol untuk menjaga eksistensinya, dari masa - ke masa siimbol selalu berubah sesuai budaya lingkungan dan daerah dimana simbol itu terdapat. Dalam artian lain Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/08/pengertian-filsafat/ (diakses, 08 Apr 2015)

http://filsafat-ilmu.blogspot.com (diakses, 08 Apr 2015)

http://inespratiwi.blogspot.com/2012/11/ilmu-teori-dan-filsafat-komunikasi.html (diakses, 08 Apr 2015)

http://etika-filsafat-komunikasi.blogspot.com/2007/11/pemikiran-pemikiran-filsafat-komunikasi.html (diakses, 09 Apr 2015)

http://van88.wordpress.com/teori-teori-kebenaran-filsafat/ (diakses, 09 Apr 2015)

http://anisfatayati.blogspot.com/2013/04/teori-teori-kebenaran-dalam-filsafat.html (diakses, 09 Apr 2015)

http://gowithdflo.blogspot.com/2012/03/pengertian-dan-hakikat-filsafat.html (diakses, 10 Apr 2015)

http://hendymanajaerpendidikan.blogspot.com/2013/05/hakikat-pengetahuan-filsafat.html (diakses, 10 Apr 2015)

http://sinaukomunikasi.wordpress.com/2011/08/20/interaksi-simbolik/ (diakses, 10 Apr 2015)

http://lauraerawardani.blogspot.com/2014/04/interaksionisme-simbolik.html (diakses, 09 Apr 2015)

http://azenismail.wordpress.com/2010/05/14/manusia-sebagai-makhluk-individu-dan-makhluk-sosial/ (diakses, 09 Apr 2015)

http://setya-wa2n.blogspot.com/2012/09/manusia-sebagai-mahluk-sosial.html (diakses, 10 Apr 2015)