MALAIKAT (CERPEN)

19 March 2013 22:43:03 Dibaca : 136 Kategori : Berbagi Cerita

CERPEN

“MALAIKAT”

KARYA: CANDRA DALILA

Matahari pagi serasa menjulurkan sinarnya dari ufuk timur. Sesekali ia mencoba untuk menggerakkan seluruh jiwa dan raganya, hendak menuju ke ufuk barat dan berharap digantikan oleh sang rembulan yang tengah berusaha menunggu dengan penuh kesabaran. Hari itu udara terasa sangat memekikkan hati menyentuh jiwa. Seakan-akan merambat keseluruh tubuh manusia.

Nampak dari ujung dusun terlihat sekumpulan Anjing yang biasanya melolong, namun kini bungkam bukan lantaran capek begadang hingga larut malam. Tapi bukan itu penyebabnya. Anjing-anjing itu melolong karena kegirangan menanti sesuatu yang ia ketahui.

Sementara dari alam lain terdengar suara canda tawa dari seorang bayi mungil. Bayi tersebut merupakan yang siapun tuk berhijrah kedunia dengan membawa sejuta harapan yang ia sendiri tidak mengetahuinya. Membawa sejuta kedamaian yang membuat hati semua orang akan terasa luluh.

Tiba-tiba terbesit dalam fikiran sang bayi sebuah keinginan besar. Keinginan yang tak mungkin bisa orang lain lakukan. Sang bayi tersebut hendak bertemu dengan Tuhan dan ingin mengajukan pertanyaan. Namun, ia terasa bimbang dan berat hati ingin bertemu dengan tuhannya. Tanpa berfikir panjang, ia pun bergegas melangkahkan kaki hendak bertemu Tuhannya. Seakan-akan rasa takut itu hilang bagai petir yang memuntahkan sinarnya.

***

“Wahai Tuhanku, Tuhan yang menciptakan segala yang ada di alam jagad raya ini. Hamba dating menghadap untuk menimba nasib dengan segala pertanyaan yang tak seorang pun mudah untuk menjawabnya”. Kata bayi tersebut seakan membuka pembicaraan ibarat sang moderator dalam sebuah diskusi yang hendak membuka jalannya diskusi.

“Wahai hambaku yang teramat mungil, gerangan apa yang hendak engkau tanyakan sampai mengganggu aktivitas Kudalam mengerjakan tugas untuk meninjau seluruh ciptaanKu di alam jagad raya ini”. Tuhan pun angkat bicara dengan perlahan tapi pasti.

Sang bayi mulai kebingungan darimana ia akan memulai pertanyaannya. Sesekali ia tertegun dan memandang wajah Tuhannya yang teramat sangat diagungkannya itu. Meskipun bibirnya terasa kaku Perlahan-lahan ia mulai angkat bicara.

“Wahai Tuhanku, tadi pagi sempat hamba mendengar dari suara para malaikat bahwa mulai besok Engkau akan mengirimku kedunia. Apakah benar adanya dengan apa yang mereka ucapkan tersebut? Jika hal tersebut benar adanya, bagaimana cara hamba untuk hidup di alam sana? Sementara raga saya begitu kecil dan teramat sangat lemah.”

Tuhan pun menjawabnya dengan penuh keseriusan.“Ya, apa yang kau dengar memang betul”. tanggasNya dengan berusaha untuk melanjutkan arah pembicaraan sang bayi. “Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akanmenjaga dan mengasihimu.”

“Tapi disini, di dalam surge ini hamba terasa sangat berkecukupan. Bernyanyi, tertawa, bersenda gurau bersama para malaikat, bahkan sesekali hamba sering menggelitik Dikau dikala Engkau sedang mengawasi ciptaanMu seperti para guru yang mengawasi murid-muridnya yang hendak mengikuti ujian nasional. ” ungkap sang bayi yang tak rela jika ia akan ditransmigrasikan kedunia.

“Malaikat mu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kau akan merasakan sebuah kehangatan cinta yang teramat besar dan mulia dan menjadi lebih berbahagia dibandingkan ketika kau berada di surga ini.” Ungkap Tuhan kepada sang bayi yang sedari tadi menunggu jawabanNya.

“Lalu bagaimana hamba bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku sementara hamba sendiri tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan?” Ungkapnya mengebu-gebu.

“Malaikat mu akan berbicara kepadamu dengan bahasa yang teramat sangat indah yang belum pernah engkau dengar dan dengan penuh kesabaran dan perhatian dia akan mengajarkanmu bagaimana cara berbicara dengan menggunakan bahasa malaikatmu.” UngkapNya.

Tampak sesekali sang bayi mengambil nafas secara perlahan-lahan. Tak mau menunda kesempatan yang ada, Ia pun melanjutkan pertanyannya.

“Apa yang akan hamba lakukan saat hamba ingin berbicara denganMu?” kata sang bayi dengan penuh harap.

Sesekali Tuhan mengambil nafas sambil menengok wajah sang bayi. Kemudian Tuhan pun menjawab pertanyaan dari sang bayi.

“malaikatmu akan mengajarkanmu bagaimana cara berdoa.” UngkapNya singkat. “Tapi hamba mendengar di bumi banyak di huni oleh orang-orang jahat, siapakah nanti yang akan melindungi hamba?” kata sang bayi harap-harap cemas.

“Malaikatmu akan melindungimu walaupun itu akan mengancam jiwanya.” Ungkap Tuhan yang berusaha untuk meyakinkan sang bayi.

“tapi hamba akan merasa sangat sedih karena tidak akan pernah melihat Mu lagi?” kata sang bayi kepada tuhannya.

“malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Ku dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada disisimu” tanggasNya.

***

Saat surga begitu tenangnya sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang bayi pun bertanya perlahan mengingat waktu untuk bertanya tinggal sedikit sebab ia akan segera dihijrahkan dari surge menuju ke bumi.

“Wahai Tuhanku, jika hamba harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahukan kepada hamba nama malaikat yang telah engkau janjikan.” Ungkapnya dengan penuh keseriusan.

Dengan perlahan tapi pasti Tuhan pun menjawab pertanyaan dari sang bayi sambil membisikkan ketelinga sang bayi

“kau akan memanggil malaikatmu itu dengan sebutan…IBU”.