KATEGORI : Kisah Inspiratif

Menemukan Kebaikan di Mana-Mana

08 November 2015 00:22:53 Dibaca : 60

Ada sebuah keluhan yang hampir selalu muncul di setiap pembicaran tentang stres. Tanpa mengenal kondisi dan situasi, ada banyak orang yang mengeluhkan peran orang lain. Dari tuduhan orang lain itu tidak mau mengerti, cenderung menipu, jahat, tidak mau membantu, bikin kesal, sampai dengan tuduhan orang lain sebagai biang stres. Ada bahkan yang menyebutkan bahwa dirinya jarang sekali bertemu orang baik.

Izinkan saya membagi eksperimen saya dalam kehidupan. Hampir setiap minggu saya terbang. Dan sekretaris saya hafal betul, kalau sebelum melakukan confirm terhadap tiket, ia harus menemukan tempat duduk agak di depan dan di lorong. Dulu, sering sekali setiap check in di bandara, saya menginformasikan bahwa sekretaris saya sudah book tempat duduk di depan dan lorong. Dan sering kali juga tidak kebagian tempat yang saya inginkan. Tidak jarang hati ini dibuat kesal. Sempat mengira kekeliruan ada di sekretaris. Namun, belakangan pendekatan saya dalam melakukan check in dirubah. Tidak lagi menyebutkan bahwa sekretaris sudah book tempat duduk, dengan ekspresi penuh senyuman saya katakan begini : 'saya akan senang sekali kalau dapat tempat duduk di depan dan di lorong'. Sebagai hasilnya, belum pernah sekalipun saya dikecewakan.

Apa yang mau diilustrasikan cerita ini sebenarnya sederhana, kalau kita mau merubah pendekatan kita pada orang lain, banyak orang dengan amat suka rela membagi kebaikan dengan kita. Modalnyapun tidak terlalu mahal : senyum, keyakinan bahwa orang lain baik, dan memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan orang. Dan saya memetik banyak sekali manfaat dari cara ini. Bahkan orang yang tadinya amat tidak bersahabatpun bisa berubah menjadi baik dengan pendekatan ini.

Ada harga yang harus dibayar tentunya. Gengsi dan harga diri hanya sebagian saja dari kekuatan yang mesti dikelola dalam hal ini. Belum lagi emosi, marah dan sejenisnya.

Seorang guru meditasi pernah bertutur sebuah cara yang berhasil menurunkan gengsi saya secara amat drastis. Di tempat Anda duduk sekarang ini, cobalah tutup mata sebentar. Ajaklah sang fikiran melompat ke belakang seratus tahun, enam ratus dan bahkan dua ribu tahun. Kemudian, lompatkan lagi fikiran ke seribu tahu ke depan. Gambarkan secara jelas, kehidupan di tempat ini pada tahun-tahun tadi. Dalam perjalanan waktu tadi, kemudian lihat diri Anda yang sedang duduk. Bukankah diri ini tidak lebih dari sebutir pasir di tengah samudera ? Setetes air di lautan yang amat luas ? Pertanyaannya kemudian, layakkah membesar-besarkan diri dengan gengsi dan harga diri di tengah-tengah kekerdilan macam ini ?

Lama sempat saya dibuat merenung oleh latihan kecil ini. Sempat juga tidak percaya. Namun, dalam pemahaman yang lebih dalam, dia banyak menyelamatkan diri ini dari perangkap gengsi dan harga diri. Dulu, ada perasaan kurang enak kalau naik pesawat kelas ekonomi. Sekarang, ia bukan lagi menjadi halangan berarti. Dulu, ada kebutuhan agar dikagumi orang lain setelah menulis. Sekarang, dia tidak lagi menjadi syarat dan motivasi menulis. Dulu, ada perasaan tersinggung kalau ada pertanyaan orang dalam seminar yang memojokkan. Sekarang, dia malah menjadi sahabat kedewasaan dan kesabaran.

Setelah gengsi dan harga diri, sarana berikutnya agar menemukan sebanyak mungkin kebaikan adalah senyum. Inilah sarana murah namun amat meriah hasilnya. Baik mencakup materi maupun non materi. Pariwisata Bali, Singapore Airline hanyalah sebagian kecil contoh, bagaimana senyum bisa menghasilkan sejumlah kedahsyatan. Di tingkatan individu, senyum tidak saja merubah wajah seseorang menjadi lebih menarik, tetapi juga menciptakan magnet yang bisa menarik kebaikan orang lain.

Saya punya seorang rekan yang memiliki mimik muka selalu senyum. Lebih-lebih ditambah dengan lesung pipit kecil di pipinya. Didorong oleh keingintahuan akan dampak senyum, saya bertanya tentang jumlah sahabat yang dia miliki. Ternyata dia memiliki sahabat di mana-mana. Dalam banyak kejadian, dia bahkan dibantu banyak orang secara amat suka rela.

Di Amerika sana ada seorang tua yang berhasil merubah tidak sedikit anak amat nakal menjadi manusia biasa dan sebagian lagi menjadi anak baik. Tidak sedikit anak-anak pembunuh yang berhasil dirubahnya. Ketika ditanya rahasianya, dia mengatakan tidak punya rahasia. Kalaupun ada rahasia, rahasia tadi ditulis besar-besar di gerbang depan rumahnya yang bertuliskan : there is no such thing as bad kids. Tidak ada anak yang pada dasarnya nakal.

Nah inilah sarana terakhir - setelah menundukkan gengsi dan menebar senyum - dalam usaha menemukan kebaikan di mana-mana : meyakini bahwa orang lain itu baik. Kalau pembunuh saja bisa dirubah dengan cara ini, apa lagi orang biasa.

Saya masih teringat betul komentar rekan-rekan ketika saya dan isteri menikah di umur muda. Tidak sedikit yang meramalkan kami akan cerai tiga bulan kemudian - terutama karena saya memiliki banyak kekurangan. Sekarang, setelah puteri kami yang tertua sebentar lagi berumur tujuh belas tahun, tidak jarang isteri saya menelpon dari tempat yang amat jauh hanya untuk berucap singkat : dad I love you !. Kalau Anda tanya rahasianya, tentu saja semuanya sudah saya ungkapkan dalam tulisan pendek ini.

Semuanya Berawal Dari Sini

08 November 2015 00:21:33 Dibaca : 81

Ada sebuah film yang sempat menarik perhatian saya. Ia berjudul Flat Liners. Di layar kaca HBO film ini sudah diputar lebih dari dua kali. Demikian tertariknya saya, sampai-sampai sempat menonton sampai dua kali. Film yang bertutur tentang eksperimen sejumlah mahasiswa kedokteran tentang kematian ini, cukup menggugah kesadaran saya akan makna hidup.

Betapa tidak menggugah, di gerbang kematian - sebagaimana dituturkan film ini - orang tidak membawa harta, nama besar, apa lagi pujian orang lain. Dan yang harus kita bawa adalah perbuatan-perbuatan kita selama hidup. Mengingat perbuatan setiap orang berbeda, maka dari lima mahasiswa kedokteran yang pernah mengalami kematian beberapa detik ini, pengalamannya amat berbeda.

Boleh saja sutradara film ini menyimpulkannya demikian. Namun, dari segi lain film ini menghadirkan makna berbeda bagi saya. Banyak orang sudah tahu, kalau gerakan alat pendeteksi jantung menunjukkan gerakan grafik yang berbeda, antara orang sehat dan sakit, apa lagi antara orang masih hidup dengan orang yang sudah meninggal. Yang jelas, orang masih hidup memiliki gerakan grafik naik turun. Sedangkan orang sudah meninggal, bergerak datar tanpa siklus naik turun.

Ini memang pekerjaan teknologi. Tapi bagi saya ia menghadirkan perlambang makna yang tidak dangkal. Sebagaimana kita rasakan sendiri, setiap manusia hidup yang manapun selalu - sekali lagi selalu - menjalani siklus. Setelah suka ada duka. Sehabis gelap ada terang. Siang berganti malam. Masa berkuasa berganti masa pensiun. Tidak ada yang bisa melawan hukum ini. Kahlil Gibran bahkan menulisnya secara amat indah : 'ketika kita bercengkerama di kamar tamu dengan kebahagiaan, kesedihan sedang menunggu di kamar tidur'. Ini berati, kita hidup serumah dengan kebahagiaan dan kesedihan. Bagaimana kita bisa menghindar dan buang muka dari orang yang hidup serumah dengan kita ?

Tidak ada orang yang mengenal secara eksak apa yang terjadi setelah kematian. Namun, melihat paralel antara siklus gerakan alat pendeteksi jantung, dengan siklus hidup manusia yang mengenal naik turun, jangan-jangan kematian adalah awal dari kehidupan tanpa siklus. Dia datar dalam semua cuaca. Ini memang hanya sebuah spekulasi yang perlu pendalaman-pendalaman, dan pembuktian-pembuktian.

Pada sejumlah agama dan keyakinan yang saya tahu, kematian adalah awal dari proses pemurnian dan pembersihan. Atau dalam bahasa sebuah pilosopi timur, kembali ke titik nol. Di titik nol memang tidak ada positif maupun negatif. Tidak ada naik dan turun. Tidak ada besar dan kecil. Mirip dengan garis yang mendatar. Entah benar entah salah, inilah yang disebut sejumlah orang dengan terminologi seperti kemurnian, pencerahan, pembersihan jiwa.

Dalam posisi seperti ini, manusia tidak lagi memerlukan atribut-atribut seperti harta, kekuasaan, dan pujian. Semua ini menjadi tidak relevan, karena baik harta, kekuasaan, maupun pujian adalah angka-angka absolut yang mengenal siklus naik-turun. Lebih dari sekadar tidak butuh atribut, kemurnian dan pencerahan pada titik nol ini, juga menghadirkan kekebalan-kekebalan. Stres, penyakit, gangguan orang lain dalam bentuk apapun, tidaklah banyak pengaruhnya terhadap badan dan jiwa yang sudah sampai titik nol.

Dalam kejernihan saya ingin bertutur ke Anda, semuanya berawal dan berakhir di sini (baca : titik nol). Mirip dengan cerita Miyamoto Musashi, ketika Musashi dalam kebingungan berat dan kemudian bertanya ke gurunya. Sang guru hanya menjawab dengan sebuah gambar lingkaran di tanah.

Saya pribadi memang kadang bertemu titik nol tadi, kadang juga tidak. Maklum, masih menyandang status manusia hidup yang biasa. Lebih-lebih dalam tekanan-tekanan pekerjaan dan tekanan hidup yang berat. Siklus naik turun bergerak dalam ritme yang lebih besar dari biasanya. Akan tetapi, pada saat kita bisa melampaui suka-duka, naik-turun, kaya-miskin (sampai di titik nol), maka badan dan jiwa ini terasa amat ringan tanpa beban sedikitpun.

Mungkin lebih ringan dari kapas dan udara. Tidak ada beban masa lalu yang berat. Tidak ada ketakutan hari ini yang mengganggu. Apa lagi kekhawatiran akan masa depan. Semuanya hilang dan lenyap ditelan kesadaran.

Tentu ada yang bertanya, mampukah setiap orang mencapai titik nol ? Beban dan bekal orang hidup memang berbeda-beda. Ibarat berjalan jauh, ada yang membawa tas gendong berat, ada juga yang ringan. Dan yang membuat semuanya jadi berat dan ringan hanyalah satu : kualitas rasa syukur kita pada sang hidup dan kehidupan. Dalam kualitas rasa syukur yang tinggi, kesadaran muncul seperti sayap yang membuat semuanya jadi ringan.

Boleh saja ada orang yang meragukan hubungan antara rasa syukur dengan kesadaran. Dan bagi saya, dua hal ini seperti hubungan ibu anak. Rasa syukur adalah ibunya kesadaran. Coba saja perhatikan sendiri di lingkungan masing-masing, bukankah orang-orang yang tidak puas dan tidak pernah bersyukur, kesadarannya terbungkus oleh banyak sekali hal ? Keserakahan akan harta, terlalu bernafsu pada kekuasaan, kecemburuan pada prestasi orang lain, ketakutan kehilangan kursi kekuasaan, terlalu bernafsu untuk segera duduk di kursi kekuasaan, hanyalah sebagian bungkus kesadaran, yang diakibatkan oleh keringnya rasa sykur. Titik nol - sebagai awal dari semua hal - tentu saja amat dan teramat sulit dicapai dalam kehidupan seperti ini.

Kalah Itu Indah

08 November 2015 00:19:33 Dibaca : 83

Entah dari mana asal usulnya, entah mulai dari wacana, entah dari masyarakat dengan ciri ego centered society, entah merupakan ekses negatif dari individualisme berlebihan, yang jelas wacana kita - di dunia politik, bisnis maupun dunia lainnya - sangat dominan diwarnai oleh kecenderungan hanya mau menang. Jarang sekali - kalau tidak mau dikatakan tidak ada - ada pihak-pihak yang secara ikhlas rela kalah.

Ibarat turnamen sepak bola, juara satunya selalu satu. Sedangkan yang bukan juara satu selalu jumlahnya lebih banyak dari satu. Sehingga kalau dilakukan adu jotos antara totalitas manusia yang kalah dengan mereka yang menang, maka juara satunya pasti babak belur.

Dalam perspektif seperti ini, apa yang terjadi di dunia politik khususnya di bulan-bulan terakhir ini sebenarnya mencerminkan tiga hal penting. Pertama, tidak ada pihak yang mau kalah. Seolah-olah kalah adalah barang haram dan hina dina. Kedua, siapa saja yang jadi pemenang hampir selalu berada pada posisi tersiksa diserang dari kiri-kanan. Ketiga, sebagai akibat dari point pertama dan kedua tadi, maka arena politik kita lebih mirip dengan arena kerusuhan, dibandingkan turnamen sepak bola plus nilai-nilai sportivitasnya.

Mari kita mulai dengan point pertama tentang tiadanya orang yang mau kalah. Dengan sedikit kejernihan saya ingin mengajak Anda bertutur, dalam turnamen olah raga umumnya, kalah disamping menjadi resiko bagi siapa saja yang mau ikut pertandingan, kalah sebenarnya bersifat mulia. Dikatakan mulia, karena di bahu pihak-pihak yang kalahlah nasib kemeriahan dan kedamaian pertandingan ditentukan. Untuk menang, Anda dan saya tidak memerlukan kearifan dan kebesaran jiwa. Semuanya serba menyenangkan, bermandikan tepuk tangan dan kekaguman orang, dan yang paling penting keluar dari lapangan berselimutkan pujian banyak orang. Namun untuk kalah, ceritanya jauh sekali berbeda. Ejekan dan makian orang memang kadang datang. Usaha kita memang terasa sia-sia. Banyak mata yang tadinya bersahabat jadi bermusuhan.

Akan tetapi, di balik semua ejekan dan hinaan tadi tersembunyi danau-danau kemuliaan yang amat luas. Fundamen dasar bangunan demokrasi masyarakat manapun, dibangun di atas jutaan bahu manusia-manusia yang kalah. Tidak ada satupun bangsa bisa membuat dirinya jadi demokratis tanpa fundamen terakhir. Dengan kata lain, keindahan demokrasi - kalau mau jujur - lebih banyak ditentukan oleh pihak yang kalah. Keindahan tadi berubah menjadi kemuliaan, karena sudah disebut kalah plus seluruh makian orang banyak, tetapi malah lebih menentukan nasib orang banyak.

Anda bisa bayangkan nasib Jepang yang berganti Perdana Menteri demikian sering, nasib Amerika yang telah berganti presiden puluhan kali, serta nasib bangsa-bangsa lain yang sudah berganti pemimpin demikian sering. Tanpa kebesaran jiwa pihak yang kalah, setiap pergantian pemimpin akan ditandai oleh kemunduran akibat kerusuhan-kerusuhan yang tidak perlu.

Ini dari segi pihak yang kalah. Dari segi pemenang, menang memang menghadirkan banyak kemewahan-kemewahan. Kekaguman, tepuk tangan, jumlah pengikut yang bertambah, sampai dengan kekuasaan yang menyilaukan. Semua ini memang buah hasil dari perjuangan panjang dan melelahkan. Bagi banyak pemenang, ini memang hadiah yang layak diterima. Hanya saja, sadar bahwa bangunan institusi demokrasi di manapun senantiasa dibangun di atas jutaan bahu-bahu manusia kalah, selayaknya pemenang sadar di atas bangunan apa mereka berdiri.

Dalam bangunan fisik yang sebenarnya, fundamennya adalah bata, pasir, semen dan barang-barang mati lainnya. Bangunan demokrasi berdiri di atas bahu-bahu manusia kalah yang hidup, dinamis, mengenal emosi dan kalkulasi-kalkulasi politik. Makanya, sungguh mengagumkan bagi saya, ketika George W. Bush memulai pidato pertamanya sebagai presiden AS dengan kalimat indah seperti ini : 'I was not elected as President to serve one party, but to serve one nation'.

Lepas dari keindahan-keindahan demokrasi negara lain, suka tidak suka kita sedang berhadapan dengan arena politik yang jauh dari indah. Entah mana yang benar, seorang sahabat menyebut kalau orang kalah yang tidak tahu dirilah yang menjadi biang dari kondisi kita. Ada juga yang berargumen, pemenang yang sombong dan angkuhlah yang menjadi awal semuanya. Dan bagi saya, semuanya sudah tercampur menjadi adonan-adonan kerusuhan yang mengerikan dan menakutkan.

Sebagaimana sulitnya memisahkan campuran bubur ayam yang sudah demikian menyatu, memisahkan kedua campuran adonan kerusuhan ini memang amat sulit - kalau tidak mau disebut niscaya. Apapun solusinya, kita semua memiliki kepentingan untuk mendidik generasi masa depan bahwa tidak hanya kemenangan yang menghasilkan keindahan, kalah juga bisa berakhir indah. Kemenangan memang menghasilkan banyak kegembiraan dan kebanggaan. Namun kekalahan adalah gurunya kesabaran, kearifan dan kebijaksanaan yang tidak ada tandingannya. Sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh kemenangan manapun. Dan yang paling penting, siapa saja yang kalah, kemudian bisa keluar dari ring pertandingan dengan tersenyum ikhlas dan menyalami pemenangnya, plus membantu pemenang dalam kenyataan sehari-hari demi kemajuan bersama, merekalah pemimpin kita yang sebenarnya. Kendati tanpa jabatan, pasukan, kekuasaan, tahta, pujian dan tepuk tangan orang lain, merekalah the true leaders. Punyakah kita the true leaders seperti itu ?.

Detik - Detik Wafat Rasulullah S.A.W

07 November 2015 23:58:56 Dibaca : 61

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kalaitu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya didunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

" Bolehkah saya masuk ? " tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu."Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" Dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Kirimkan kepada temen-temen muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Tentang Kebosanan

07 November 2015 23:49:37 Dibaca : 50

Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu :"Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"

Pak Tua :"Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, danmenginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."

Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"

Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua :"Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."

Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"

Pak Tua:"Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua :"Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."

Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua :"Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan
seterusnya." Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu :"Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"

Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."

Tamu :"Contohnya?"

Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu :"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"

Sambil tersenyum Pak Tua berkata:

"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan.

Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria.
Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan.

Segala sesuatu berasal dari pikiran.
Berpikir bosan menyebabkan kau bosan.
Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."