ARSIP BULANAN : February 2013

cerita cinta sejati

24 February 2013 11:18:02 Dibaca : 301

Harus! Titik! Nggak ada tapi-tapian lagi! Apapun yang terjadi dia harus bisa! Yap, apalagi kalo bukan harus langsing! Itu misi terpentingnya. Itu cita-citanya yang paling diimpikan siang malam, pagi sore, pokoknya segera. Darurat deh! Doo segitunya? Emang seh, cita-citanya nggak semulia orang lain malah kesannya malu-maluin, tapi Suci nggak peduli. Dia tetep keukeh pengen langsing mendadak, kalo bisa malah lebih instan daripada buat mie.

Sebenernya kalo dipikir-pikir Suci tuh nggak gendut amat cuma agak kelebihan berat badan doang (ye, itu sih sama aja!) dalam rangka merencanakan strategi pelangsingan yang oke punya, maka disinilah Suci berada. Di depan kaca besar dalam kamarnya yang serba pinky.

Tepatnya sudah satu jam lebih 34 menit plus 10 detik. Mungkin kalo kacanya bisa ngomong kayak di dongeng, doi bakalan misuh-misuh alias bete abis "Woiii, gue udah pegel nih diplototin mulu dari tadi! Berenti kenapa?" kurang lebih gitu kali.
Sayang aja, kacanya nggak bisa protes. Dan Suci masih aja puter-puter mirip gasing. Ih! kurang kerjaan banget sih? Akhirnya Suci berhenti juga muter-muter dan coba-coba jilbab yang super ribet (baginya), kepalanya mulai pening, nyut-nyutan gara-gara kebanyakan muter. Untung belum oleng, tapi Suci masih belum selesai juga.

Sekarang dipegangnya pipi yang lumayan gembil itu. Huh, apa tadi kata Dinda? Tembem? Masak sih? Tapi emang tembem, sampe matanya jadi keliatan lebih kecil ketutup dengan pipinya. Kebayang kan gimana betenya Suci? So, menimbang, memilih dan memutuskan (ceile, lagaknya kayak direktur aja) hari ini Suci menyatakan perang dengan segala makanan dan hal lain yang berkaitan erat dengan kegemukan termasuk sama coklat yang paling dia sukai. Motto Suci yang tadinya tiada hari tanpa ngemil, terpaksa harus disingkirkan. Tapi, apa sih sebenernya yang bikin Suci jadi mati-matian mau langsing gitu?

Sebelumnya Suci oke-oke aja dengan bodynya yang lebih berisi dibanding cewek seangkatannya. Tapi itu dulu! Waktu Suci masih wajib peke seragam putih biru. Sering sih, dia diledek oleh teman sekelasnya. Tapi sejak beberapa bulan lalu, pas Suci udah jadi siswa SMA, mulai deh uring-uringan. Tadinya dikit tapi tambah lama tambah berat. Terus, mendadak jadi hal yang prinsipil.

Kantin sekolah (jam istirahat)

"Din, Din!"

"Emangnya aku klakson?! Apaan sih! Gangguin kenikmatan orang lagi makan aja!"

"Liat deh, liat deh! Itu tuh, mas Yusuf ketua rohis sekolah kita lagi sama anak kelas satu yang baru masuk."

"Ada apa sama mereka?"

"Mesra amat, seh!"

"Yee...bolehnya cembokur."

"Ih, siapa yang cembuu? Heran aja. N’tu anak biasanya kan dingin banget sama cewek"

"Kulkas kali"

"Eh, Din, Din"

"Uh, Suci...kalo manggil nama aku sekali aja dong! Gak usah diulang-ulang, jadi kayak klakson kedaraan tau! Kenapa lagi?"

"Apa cewek kelas satu itu nggak risih duduk berduaan sama cowok? Mana rapeet benget. Padahal dia kan?"

"Pake jilbab?"

"Iya. Harusnya dia malu dong sama jilbabnya! Masa’ akh…akh…apa namanya, Din?"

"Akhwat."

"Iya. Akhwat, masa’ kelakuannya gawat gitu. Mana di tempat umum lagi…apa dia gak malu, diliatin sama anak-anak lain?"

"Tapi, Ci..."

"Ih, mending lepas aja jilbabnya!"

"Lho, kok?"

"Buat apa pakai jilbab kalo kelakuannya gak Islami gitu?"

"Tapi Annisa..."

"Ah, siapapun namanya, ketika seorang wanita telah memutuskan berjilbab, seharusnya dia bisa menyesuaikan kelakuan dengan pakaian yang dikenakannya. Tapi anak kelas satu itu..."

"Annisa?"

"Iya, iya... Annisa, kamu sendiri sebagai akh... akh"

"Akhwat."

"Iya itu, apa kamu nggak risih melihat mereka dua-duaan gitu? Aku aja belum pake jilbab gak gitu-gitu amat kalo sama cowok..."

"Ha ha ha... kamu pasti cemburu sama Annisa, kan?"

"Idiih... siapa yang cemburu?!"

"Gak cemburu tapi mukanya merah"

"Masak sih, Din?"

"Liat aja sendiri di kaca!"

***

Ruang kelas XI IPA 4, 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.

"Din, Din!"

"Suci...! Kali ini apa lagi? Cepetan kalo mau cerita, aku lagi sibuk ngerjain PR kimia!"

"Masih soal mas Yusuf sama anak kelas satu itu."

"Kenapa lagi mas Yusuf sama Annisa?"

"Kemarin aku liat mereka jalan berdua di Sriwedari! Mereka bener-bener udah jadian, ya?"

"Jadian?"

"Iya, pacaran!"

"Suci, mereka itu..."

"Pacaran, kan? Uh, sebel banget deh ngliat mereka jalan berduaan"

"Hayo! Kamu naksir kan sama ketua rohis sekolah kita itu?"

"Naksir? Aku? Sama mas Yusuf?"

"Iya, kalo gak naksir, kenapa harus sebel melihat mereka jalan berduaan?"

"Oh, eh, i...i...tu"

"Ngaku aja, deh! Naksir juga nggak apa-apa..."

"Ngg.. anu... hehe... iya sih, Din"

"Huh, ngomong gitu aja kok susah amat...Udah ah, lagi sibuk, nih.. masih banyak soal yang belum aku kerjakan."

"Eh Din... terus gimana, dong? Gimana caranya supaya mas Yusuf suka sama aku?"

"Lho! Bukannya selama ini mas Yusuf emang suka sama kamu?"

"Masa sih, Din? Kamu tau dari mana?"

"Yang aku liat begitu, Uci mas Yusuf itu suka ama kamu."

"Yang bener, Din?"

"Iya, suka... nyuekin kamu! Huahaha…hahaha"

"Dindaaaaaaaaaaa!!!...!"

***

Emang sih kalo mau dibandingin Suci sama Annisa itu jauh banget, Annisa itu cewek kalem, pintar, imut, n yang pasti nggak segendut Suci.

Teras depan rumah Dinda, siang menjelang sore.

"Gawat, Din! Gawat Din! Aku liat mas Yusuf boncengin Annisa pakai motor!"

"Dimana letak gawatnya?"

"Annisa duduknya rapeeeeet banget, pake meluk pinggangnya mas Yusuf segala!"

"Biarin aja, biar gak jatoh kali. Diakan kecil anaknya, nggak kaya kamu!"

"Emang kenapa sama aku?"

"Tapi apa Din...?"

"Jatoh juga sih!... kalo kamu yang bonceng, kamunya gede, mas Yusufnya kurus ya bakal..."

"Bakal apa?"

"Bakal... jungkir balik, alis ngejengkal... hihihi"

"Iiih... Dinda"

"Apa iya mas Yusuf milih cewek yang ramping?"

"Iya kali"

"Hemm... kalo gitu aku musti diet ketat nih!"

"Whats? Suci diet?! Apa nggak salah denger!"

***

Ini jamu apa comberan ya? Kok… baunya ngalahin got depan rumah? Suci gak abis pikir, begitu beratkah perjuangan yang harus dilaluinya demi pinggul yang seksi, perut yang rata dan ops, tentu aja, pipi yang nggak tembem kaya bakpao. Glek! Glek! Suci merem sempet megap-megap sebentar. Hihi... kayak ikan mas koki keabisan air. Perutnya seperti dikitik-kitik, kayak mau muntahin sesuatu. Jamu tadi, tapi Suci udah bertekad baja. Apapun yang terjadi, jamu itu harus ngendon di perutnya. Nggak boleh keluar lagi. Hhhh... Suci menderita sekali.

Seandainya mas Yusuf tau betapa besar pengorbanannya demi bisa diboncengin ketua rohis itu, biar gak ngejengkal, kan kasihan juga mas Yusufnya. Ini sudah merk jamu yang ketujuh, yang dicobanya. Dan tak sedikitpun perubahan terjadi pada bodynya. Lemak pipinya tak berkurang meski hanya satu milimeter. Padahal ia sudah memasuki babak kesepuluh hari sejak ia menyatakan perang terhadap kegendutan.

***

Jamu udah! Pil pelangsing udah! Teh hijau biar singset udah! Pake magnet di perut sampe sesak nafas udah! No coklat, no es krim, udah! Padahal itu makanan favoritnya lho. Berenang seminggu sekali (meski lebih banyak air kolam yang ketelen ketimbang berenang). Juga udah! Anti makan nasi udah! Puasa makan pas lewat dari jam enam sore, udah! Yang terakhir, seminggu belakangan ini, dia cuma makan apel doang. Beneran Cuma apel tok! Pagi, sarapan apel, siang, makan apel, malem, apel lagi. Muka Suci aja udah mirip apel, bulat kemerahan.

Sampe-sampe kemarin, pas upacara, dia hampir pingsan. Nyaris! Matanya kunang-kunang. Yang keliatan cuma bintik-bintik putih yang rada mengkilat, terang, kedip-kedip. Buru-buru dia pegangan di bahunya Dinda, kalo nggak, pasti deh dia udah gedubrak di lantai.Yang ada di kepala Suci, Cuma bayangan apel, apel dan yap apel again!

"Udah deh Suci jangan diterusin lagi"

"Ah, aku masih kuat kok..."

"Kamu udah gila? Nggak cukup tadi kamu mau pake acara pingsan segala?"

"Itu kan nyaris, belum pingsan beneran!"

"Oke! Gini aja, aku nggak mau ngurusin kamu lagi kalo besok kamu pingsan beneran!"

"Yah, kamu segitunya ama aku, siapa lagi yang mau nolongin aku kalo bukan kamu, pliss!"

"Salah kamu sendiri! Diet kok nggak kira-kira?"

"Abis gimana dong! Aku harus langsing, ini mutlak! Ini menyangkut mati hidupnya aku!"

"Suci...emang kalo kamu langsing, apa mas Yusuf pasti bakal mau jadi pacar kamu? Ini lagi, kamu jadi ikut-ikutan pake jilbab, mending kalo pake jilbabnya karena Allah ta’ala tapi ini malah melenceng, cuma demi merebut perhatian mas Yusuf dari Annisa!"

"Namanya juga usaha!"

"Usaha sih boleh, tapi apa usahamu, pengorbananmu setimpal harganya dengan seorang Yusuf?"

Suci diam, iya juga sih! Kenapa mas Yusuf harus menjadi begitu penting baginya? Mengalahkan rasa perih yang musti dideritanya saat menahan lapar. Mengalahkan lelahnya setiap kali ia jogging, berenang, sit up. Mengalahkan nasib lambungnya yang jadi bahan percobaan segala merek obat pelangsing. Mengalahkan kepalanya yang nyut-nyutan karena seminggu ini ia bela-belain hanya memakan apel. Mengalahkan rasa gerahnya pake jilbab karena buat nyaingin penampilan Annisa cewek kelas satu itu. Beginikah susahnya? Padahal ia hanya ingin merasa disayangi, dicintai? Hanya itu. Tidak lebih. Tidak berhakkah ia untuk merasakan semua itu?

***

"Kamu pengen dicintai, disayangi dengan keadaan kamu yang apa adanya ini kan?" Suci menggeleng, tak mengerti ke arah mana pembicaraan Dinda."

"Kamu pengen, ada yang menyayangimu, nggak peduli kamu gembrot, jerawatan, kulit bersisik, rambut pecah-pecah, idung bulu keriting..."

"Hei! Stop! Stop! Kok malah ngejekin aku?"

"Ups, sory! Aku terlalu bernafsul..."

"Emangnya ada?"

"Oh, jelas! Bahkan lebih hebat dari siapapun dan apapun di dunia ini. Maha segalanya. Gak ada tandingannya deh!"

"Kalo kamu misal suatu saat jadian sama mas Yusuf, pasti ada berantemnya. Pasti ada sedihnya, betenya, empetnya, marahnya, belum lagi kalo mas Yusuf misal suka sama cewek lain, wuih... kamu pasti sakit ati banget kan?"

"Kok doa kamu jelek banget sih?"

"Bukannya gitu. Ini kan fakta yang bakal kamu alamin kalo jadian sama dia… Nah kalo sama yang aku calonin tadi, kamu nggak bakal sakit ati. Never deh! Promise!" Dinda mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.

"Siapa sih?"

"Allah...!"

***

Kok semuanya serba putih? Dimana dia? Apa ini mimpi? Suci menatap nanar sekelilingnya. Ia mengangkat tangan kanannya hendak mencubit pipi, biar ia segera tahu ini mimpi atau bukan. Tapi, waa... kok ada selang infus di tangannya? Buat apa? Memangnya dia sakit? Kapan? Kok dia nggak ngeh? Diliriknya Dinda yang menelungkup di pinggir tempat tidur. Kayaknya sih tidur, kalo gitu, beneran dong ini rumah sakit! Pengen ngebangunin Dinda, mau nanya kenapa ia bisa ada di sini tapi kok ya... nggak tega. Liat aja muka Dinda, meski cuma separo pipinya yang keliatan, tapi jelas ada lingkaran hitam di sekeliling matanya. Pasti kurang tidur, ngapain dia begadang? Ye, tulalit amat! Begadang nungguin dia lah, siapa lagi? Suci berusaha mengingat hal terakhir yang dilakukannya.

Mmm... apaan ya? Kayaknya di sekolahan deh! Trus... apa ya? Suci berusaha keras mengingatnya. Kepalanya jadi cenut-cenut. Tapi Suci nggak berenti mikir. Ah, ya! Dia ingat sekarang! Waktu itu, perutnya perih banget, jalannya udah lemes, diseret-seret karena tenaganya udah drop. Dia telentang di Mushola SMA nungguin Dinda yang lagi sholat. Dia sendiri? Hihi... masih bolong-bolong sholatnya. Tergantung mood, meskipun dia udah berjilbab. Huss! Bukannya nyadar kok malah ngikik. Abis itu apa ya? Kayaknya sampe disitu deh! Seterusnya gelap, ya... gelap.

Kepala Dinda bergerak, tangannya menggeliat, air mukanya terkejut, campur bahagia melihat Suci yang udah bangun.

"Eh, kamu udah bangun ya?"

"Aku bego ya, Din?"

"Siapa yang bilang kayak gitu?"

"Aku bener-bener idiot, kan?"

"Ssshh... nggak bagus ngomong kayak gitu."

"Aku bego... mau-maunya kayak gini cuma gara-gara..." Air mata Suci mulai merembes.

"Kamu nggak bego cuma khilaf..."

"Udah deh, Din! Nggak usah ngehibur aku! Aku tau, aku ini bener-bener stupid!"

"Eh kamu tahu Annisa itu?"

"Udah deh Din! Aku nggak mau nginget-nginget tentang itu!"

"Mereka kakak beradik"

"Hah...! Yang bener kamu?"

"Ye, kamu nya sih kebiasaan, kalo orang ngomong itu dengerin dulu, jangan nyerocos terus!"

"Jadi! Bukannya karena mas Yusuf suka sama cewek yang langsing & pake jilbab kaya Annisa itu?"

"Wah, kalo itu mana aku tahu..."

"Uh, udah dibela-belain diet ketat plus pake jilbab sampe kepala aku rasanya gatel banget, lagi..."

"Terus, kamu mau lepas jilbab kamu?"

"Yah, ehm... gimana ya"

"Kamu nggak malu lepas jilbab? Jilbab itu bukan buat mainan tau!"

"Aku gak lepas jilbabku."

"Nah, gitu dong!"

"Tapi... aku masih bisa kan ngecengin mas Yusuf?"

"Suci, udah deh, aku gak mau nungguin kamu di rumah sakit lagi kalo kamu jatuh sakit lagi gara-gara pengen diet!"

"Ya, ya... aku bakal berenti diet!"

"Nah, itu baru Suci temanku"

"Aww, sakit tau pipiku dicubit!"

"Habis kamu ngegemesin sih!"

Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja, otak Suci memutar ulang memorinya tentang ucapan Dinda waktu itu. Tentang ada yang bisa menyayanginya bagaimanapun buruknya rupa dia. Ada yang bisa menyayanginya tanpa ia harus berkorban menjadi langsing.

Ada! Suci yakin sekali, dia memang selalu menyertai kita, memperhatikan kita, mengawasi kita, menyayangi kita lebih dari siapapun, dialah Allah swt. Hanya Allah-lah yang mengerti tentang diri kita. Dan hanya kepada Allah-lah kita patut mencurahkan cinta sejati.

gunung yang bergerak

24 February 2013 10:50:42 Dibaca : 126

Gunung yang Bergerak

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]

14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Ada lagi tafsir yang menyatakan bahwa bumi bergerak laksana awan itu adalah bumi kita bergerak. Tidak diam sebagaimana sangkaan orang dulu dan juga kita saat ini sebelum kita dapat pencerahan oleh guru-guru kita. Ternyata bumi bergerak. Baik karena berputar di porosnya (Rotasi) dan juga karena mengelilingi Matahari (Revolusi). Bersama-sama Matahari, bumi juga bergerak mengelilingi jagad raya ini.

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2007/11/07/keajaiban-al-quran-dan-ilmu-pengetahuan/

ilmu pengetahuan

24 February 2013 10:47:45 Dibaca : 160

Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern

Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.

Sebagai contoh ayat di bawah:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]

Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang dan teori ilmiyah lainnya menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.

Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.

Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

Langit yang mengembang (Expanding Universe)

Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)

Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.

Menurut Stephen Hawkings dengan teori Big Bang, sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Teori lain seperti Inflationary juga berpendapat jagad raya terus berkembang. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.

Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2007/11/07/keajaiban-al-quran-dan-ilmu-pengetahuan/

Seni

24 February 2013 08:57:38 Dibaca : 160

*Pengertian seni

seni merupakan hasil aktivitas batin yang direfleksikan dalam bentuk karya yang dapat membangkitkan perasaan oran lain. Dalam pengertian ini yang termasuk seni adalah kegiata yang menghasilkan karya indah. Definisi umum seni adalah segala macam keindahan yang diciptakan oleh manusia.

*Macam-macam seni yaitu :

Seni Rupa yaitu cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan.

Seni Musik yaitu seni menatabunyi menjadi suatu harmoniyang indah didengar

Seni Tari adalah ungkapan gagasan atau perasaa yang estetis dan bermakna yang diwujudkan melalui media gerak tubuh manusia yang ditata dengan prinsip-prinsip tertentu.

Seni teater (drama) adalah ungkapan, gagasan, atau perasaan yang estetis dan bermakna yang diwujudkan melalui media gerak, suara, dan rupa yang ditata dengan prinsip-prinsip tertentu.

*Tujuaan seni adalah sarana menyalurkan apresiasi,mengungkapkan perasaan, menuangkan segala yang ada di hati dan mungkin juga bisa menghilangkan kejenuhan atau stress.

*Manfaat seni yaitu Dapat mengimbangkan otak kita, agar kita tidak berbuat yang tidak mempunyai unsur keindahan dan seni, agar kita tidak menyalahgunakan kemampuan tanpa didasari seni. Seni merupakan hal yang sangat penting bagi kita, agar hidup ini tidak monoton.

aku tidak mau belajar lagi

24 February 2013 07:03:53 Dibaca : 148

“Aku tidak mau belajar lagi! Buku cuma membuatku bodoh!”

“karena tantangan Wijang pagi ini :

Miris juga aku mendengar penuturan Wijang dengan wajah serius penuh ke arahku.

“Aku tidak mau belajar lagi! Buku cuma membuatku bodoh!”
Dan dia menyodorkan buku pelajarannya kepadaku dengan kecewa yang mendalam. Wajah kesalnya tidak bisa disembunyikan. Lalu dia berlari meninggalkanku termangu. Aku diam. Mencoba berpikir apa yang harus aku lakukan untuk menenangkannya.

Ya, peristiwa itu terjadi semalam. Aku seperti biasa menemani Wijang belajar, karena pagi ini dia ujian kenaikan kelas Bahasa Inggris. Sekitar jam 20.30 aku mulai membuka buku pelajaran Bahasa Inggris dan membacakan untuk Wijang. Belum berlalu 15 menit, aku sudah mulai adu pendapat dengan Wijang, karena ketika aku menyodorkan pertanyaan apakah bahasa inggrisnya bibi, Wijang menjawab uncle, dan ketika aku tanya bahasa inggrisnya paman, Wijang menjawab aunt. Ya, sudah pasti itu salah. Dan aku mencoba memberikan pengertian pada Wijang bahwa jawaban itu salah. Tapi Wijang tidak terima, dia bersikukuh pada pendapatnya : UNCLE=BIBI dan AUNT=PAMAN.

Kekukuhan atau ke-”ngeyelan” Wijang membuatku mulai gemas. Karena sebelum-sebelumnya aku pernah menjelaskan hal itu, dan Wijang mengerti. Tapi sekarang kok jadi berubah seperti ini. Jujur, dalam hati aku penasaran, sebenarnya apa yang mendasari Wijang bisa sekukuh itu.

Setengah putus asa dan bernada meninggi aku coba jelaskan lagi kalau apa yang dikukuhinya itu salah.Dan aku terangkan lagi hal yang benar. Namun, ternyata susah. Wijang tidak mau kalah. Lalu sedikit kasar ia ambil buku pelajaran Bahasa Inggris yang aku pegang, dan membuka-bukanya, sampai dia menemukan halaman yang dicari, kemudian menyodorkannya padaku.

“Lihat! Ini lho Mah! Lihat! Baca!” tunjuk Wijang pada salah satu halaman.
“Betul kan apa yang aku bilang! Uncle adalah Bibi! Aunt adalah Paman!”

Astaga!
Benar saja! Buku pelajaran Bahasa Inggris yang Wijang pakai untuk belajar dengan jelas menunjukkan gambar seorang WANITA dan di bawahnya tertera tulisan UNCLE. sementara di sampingnya ada gambar seorang PRIA dan di bawahnya tertera tulisan AUNT. Dan judul Bab yang tertulis di buku adalah FAMILY.

Aku kaget. Aku diam. Aku pandang Wijang tajam.
Sejurus kemudian aku ambil buku di tangan Wijang. Aku buka satu-satu halamannya. Aku periksa satu-pelajarannya. Aku cermati satu-satu tulisannya. Dan aku menemukan 26 kesalahan di situ. Ya ampun.

Setelah bingung sejenak mencari cara terbaik untuk menjelaskan keadaan kesalahan buku itu pada Wijang, akhirnya aku dekati Wijang pelan. Aku tahu, dia pasti masih mengukuhi bahwa buku pelajarannya adalah benar. Dan aku bawakan buku-buku Bahasa Inggris lain sebagai pembanding, yang memuat penjelasan tentang konsep family. Dan aku jelaskan pula dengan hati-hati bahwa di buku pelajarannya banyak sekali terjadi kesalahan. Aku tunjukkan satu-satu kesalahan itu dan aku jelaskan.

Tidak butuh waktu lama, Wijang pun mengerti. Namun tanpa kuduga, tiba-tiba dia berkata :
“Aku tidak mau belajar lagi! Buku cuma membuatku bodoh!”

Ya, kepercayaan Wijang terhadap buku mulai rontok. Ya, karena kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Aku tidak bisa membayangkan ketika itu harus terjadi di sebagian besar anak-anak kita.