IDENTIFIKASI WILAYAH KEPESISIRAN

21 October 2014 11:29:04 Dibaca : 467 Kategori : praktikum geografi

ACARA I
IDENTIFIKASI WILAYAH KEPESISIRAN

I. TUJUAN
Tujuan praktikum ini agar mahasiswa mampu :
1. Mengidentifikasi keruangan wilayah kepesisiran
2. Mengenali bentang lahan di wilayah kepesisiran
3. Menentukan tipologi wilayah kepesisiran
II. ALAT DAN BAHAN
• Peta rupa bumi
• Spidol
• Plastik transparansi
• GPS
• Kertas
• Kompas
III. PROSEDUR KERJA
1. Identifikasi keruangan wilayah kepesisiran. Tentukan wilayah daratan, laut, pantai, pesisir, garis pantai, garis pesisir
2. Menentukan satuan bentuk lahan yang terdapat pada lokasi praktikum dan menidentifikasi bentuk lahan yang ada ( tombolo, spit, dll )
3. Menetukan tipologi pesisir dilokasi praktikum
Mengklasifikasi wilayah berdasarkan pesisir primer, pesisir sekunder, materi penyusun dan sudut lereng pantai
IV. KAJIAN TEORI
Wilayah kepesisiran merupakan suatu ruang dimana limgkungan terestrial mempengaruhi lingkungan marin atau lakustrin dan sebaliknya (Carter, 1988). Menurut Sugandhy (1966) wilayah kepesisiran merupakan wilayah peralihan antara daratan dan perairan laut yang secara fisiografis didefinisikan sebagai wilayah antara garis pantai hingga kedaerah daratan yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut serta dibentuk oleh endapan lempug hingga pasir yang bersifat lepas, dan kadang materinya berupa kerikil.
Termasuk wilayah kepesisiran adalah pantai (Shore) dan pesisir (Coast). Pantai merupakan suatu mintakat antara daratan dan laut yang dibatasi oleh rata-rata garis surut terendah, yang disebut dengan garis pantai (shoreline) dengan rata-rata garis pasang tertinggi air laut, yang disebut dengan garis pesisir (coast line).
Bentuk lahan yang mungkin dijumpai diwilayah yaitu satuan bentuk lahan asal proses gelombang (marine) dan satuan bentuk lahan asal proses angin. Gunawan (2005) merumuskan definisi wilayah kepesisiran berdasarkan sudut pandang geomorfologi. Menurutnya, kepesisiran (coastal area) adalah bentanglahan yang dimulai garis batas wilayah laut (sea) yang ditandai oleh terbentuknya zona pecah gelombang (breakers zone) dan ke arah darat hingga pada suatu bentanglahan yang secara genetik pembentukannya masih dipengaruhi oleh aktivitas marin, seperti dataran aluvial kepesisiran (coastal aluvial plain).
Definisi wilayah kepesisiran ditinjau dari sudut geomorfologi sangat tepat untuk menentukan batas yang jelas dari suatu wilayah kepesisiran khususnya untuk merencanakan suatu pengelolaan wilayah kepesisiran. Hal ini karena batasan ini lebih menekankan pada aspek genetis yang membentuk wilayah kepesisiran dalam waktu yang sangat lama. Aspek genetis ini tidak mudah berubah, sehingga batas wilayah kepesisiran yang sekaligus digunakan sebagai batas wilayah pengelolaan juga akan berubah dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, maka perencanaan wilayah kepesisiran dengan batas genetis akan sangat cocok untuk perencanaan pengelolaan jangka panjang.
Termasuk dalam wilayah kepesisiran adalah pantai (shore) dan pesisir (coast). Pantai merupakan suatu mintakat antara daratan dala laut yang dibatasi oleh rata-rata surut terendah yang disebut sebagai garis pantai (shoreline) dengan rata-rata garis pasang tertinggi air laut, yang disebut garis pesisir (coastline). (Gunawan, 2005). Pesisir merupakan suatu mintakat yang dimulai dari garis pesisir (coastline) yang menunjukkan rata-rata garis pasang tertinggi kea rah daratan sampai pada suatu mintakat yang, secara genetik pembentukkannya masih dipengaruhi oleh aktivitas marin , yang biasanya bentanglahan terakhir berupa dataran alluvial kepesisiran (coastal alluvial plain). (CERC, 1994 dalam Gunawan, 2005).
V. HASIL
VI. PEMBAHASAN
VII. KESIMPULAN