AKSIOLOGI

21 October 2014 11:31:42 Dibaca : 585

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aksiologi adalah teori tentang nilai merupakan suatu bahan kajian yang menarik untuk dibahas. Karena di dalamnya terkandung nilai-nilai sebagai dasar normative dalam penggunaan atau pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Tak dapat disangkal lagi kontribusi ilmu bagi kepentingan umat manusia. Ilmu telah banyak mengubah dunia dalam memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan, dan berbagai wajah kehidupan yang duka. Namun apakah hal itu selalu demikian: imu selalu merupakan berkat dan penyelamat bagi manusia?Memang dengan jalan mempelajari atom kita bias memanfaatkan wujud tersebut sebagai sumber energy bagi keselamatan manusia, tetapi dipihak lain ini bias juga berakibat sebaliknya, yakni membawa membawa manusia kepada penciptaan bom atom yang menimbulkan malapetaka.
Usaha memerangi kuman yang membunuh manusia sekaligus menghasilkan senjata kuman yang dipakai sebagai alat untuk membunuh sesame manusia pula. Sehingga timbul pertanyaan: apakah kehadiran ilmu itu sebuah berkah bagi kehidupan manusia ataukah malapetaka?
Dewasa ini, dalam perkembangannya ilmu sudah melenceng jauh dari hakikatnya, dimana ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Disinilah moral sangat berperan sebagai landasan normatif dalam penggunaan ilmu serta dituntut tanggungjawab sosial ilmu dengan kapasitas keilmuannya dalam menuntun pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tujuan hakiki dalam menuntun manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tujuan hakiki dalam kehidupan manusia tercapai.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan aksiologi ?
2. Bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara baik dan benar ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan aksiologi.
2. Untuk mengetahui cara menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara baik dan benar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. AKSIOLOGI
Secara etimologis, aksiologi berasal dari kata “axios” (Yunani) yang berarti nilai, dan “logos” yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. (Burhanuddin Salam, 1997)
Atau menurut Jujun S. Sumantri dalam filsafat Ilmu Suatu Pengantar, “aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh”. Sejalan dengan itu, Wibisono mengatakan aksiologi adalah nilai-nilai (value) sebagai tolak ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai dasar normatif dalam penelitian dan pengalian serta penerapan ilmu. Jadi, aksiologi adalah suatu teori tentang nilai yang berkaitan tentang bagaimana suatu ilmu digunakan.
B. PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah gejala tahunya secara bagian perbagian seseorang baik yang bersumber dari dirinya sendiri maupun dari orang lain mengenai sesuatu dan dasar sesuatu itu (Poedjawijatna, 2004). Segala sesuatu yang diketahui manusia disebut pengetahuan. Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk ke dalamnya adalah ilmu. Jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia disamping berbagai pengetahuan lain seperti seni dan agama.
Secara aksiologi pengetahuan yang dimiliki manusia yang berupa ilmu itu digunakan untuk kepentingan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia yang terus bertambah seiring dengan berkembangannya zaman.
C. ILMU
Ilmu adalah kumpulan dari pegetahuan yang sudah teruji kebenarannya secara ilmiah (Umar Solokhan, 2006)Menurut Endrotomo dalam ilmu danteknologi, ilmu merupakan suatu aktivitas tertentu yang menggunakan metode tertentu untuk menghasilkan pengetahuan tertentu.
Dari dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah kumpulan dari pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan penelitian ilmiah yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dalam pengertian lain, ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang diandalkan. Ilmu merupakan produk dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut berpikir ilmiah. (Burhanuddin Salam, 1997)
Berpikir ilmiah mrupakan kegiatan berpikir yang memenuhi persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut pada hakekatnya mencakup dua kriteria utama yaitu:
1. Mempunyai alur jalan pikiran yang logis
2. Didukung oleh fakta empiris
Persyaratan pertama mengharuskan alur pikiran kita konsisten dengan pengetahuan ilmiah yang tela ada, sedangkan persyaratan kedua mengharuskan kita untk menerima pernyataan yang didukung oleh fakta-fakta sebagai pernyataan yang benar secara ilmiah.
Kebenaran ilmiah ini tidaklah bersifat mutlak, sebab mungkin sajaperyataan yang sekarang logis kemudian akan bertentangan dengan pengetahuan ilmiah baru, atau peryataan yang sekarang didukung oleh fakta ternyata kemudian bertentangan dengan penemuan baru. Kebenaran ilmiah terbuka bagi koreksi dan penyempurnaan. Dari hakikat berpikir ilmiah tersebut maka dapat menyimpulkan beberapa karakteristik dari ilmu (Burhanudi Salam, 1997), sebagai berikut :
1. Ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.
2. Alur jalan pikiran yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang ada.
3. Pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif
4. Mekanisme yang terbuka terhadap koreksi
Dengan demikian maka manfaat nilai yang dapat ditarik dari karakteristik ilmu ialah sifat rasional, logis, objektif, dan terbuka. Disamping itu sifat kritis merupakan karakteristik yang melandasi keempat sifat tersebut.
Ilmu merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu dengan memperhatikan objek (ontologi), cara (epistemologi), dan kegunaannya (aksiologi). Berangkat dari 3 kerangka tersebut, dengan memanfaatkan kemampuan akal untuk memahami fenomena alam semesta (keseluruhan ciptaan atau makhluk Allah) sebagai objek pemahaman yang pada akhirnya hasil pemahaman tersebut dipergunakan untuk memberikan nilai manfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan. Adapun kegunaan ilmu itu adalah sebagai berikut :
1. Mencapai nilai kebenaran (ilmiah)
2. Memahami aneka kejadian
3. Meramalkan peristiwayang akan terjadi
Dalam perkembangan ilmu memahami dua tahap (Jujun S. Suriasumantri, 1996), sebagai berikut :
1. Tahap pengembangan konsep
2. tahap penerapan konsep
Dalam tahap pengembangan konsep, ilmu dipelajari secara metafisik, ilmuan melakukan penelitian-penelitian dalam rangka mempelajari alam sebagaimana adanya. Pada tahap ini ilmu bersifat kontenplatif, yaitu ilmu bertujuan mempelajari gajala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman.
Dalam tahap pengembagan konsep tujuan kegiatan keilmuan bukannya demi kamajuan ilmu itu sendiri, melainkan untk memecahkan masalah-masalah praktis dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi manusia. Atau dengan kata lain dalam tahap ini ilmu bersifat manipulatif, dimana faktor-faktor yang terkait dengan gejala-gejala alam tersebut dimanipulasi untuk dikontrol dan diarahkan proses yang terjadi demi pemecahan persoalan-persoalan praktis yang dihadapu manusia
Hasil-hasil kegiatan keilmuan dalam tahap ini dialih ragamkan (ditransformasikan) menjadi bahan, atau piranti, atau prosedur, atau teknik pelaksanaan sesuatu proses pengelolaan atau produksi yang nantinya akan menghasilkan sesuatu yang termasuk terknologi, jadi bisa dikatakan tekhnologi dikembangkan pada tahap ini. Kearaha mana dan terhadapa apa tekhnologi digunakan, amat tergantung pada kepentingan sipenguasa tekhnologi itu daan nilai-nlai moral etikanya.
C. TEKNOLOGI
Beberapa pengertian teknologi telah diberikan antara lain oleh David L. Goetch : “ People tools, resources, to solve problems ot to extend their capabilities”, sehingga teknologi dapat dipahami sebagai “upaya” untuk mendapatkan suatu “produk” yang dilakukan oleh manusia dengan memanfaatkan peralatan (tools), proses dan sumber daya (resources). Pengertian yang lain, telah diberikan oleh Arnold Pacey “ The application onscientific and other knowledge to practical task by ordered systems, that involve peopleand organizations, living things and machines ”.
Dari definisi ini nampak, bahwa teknologi tetap terkait pada pihak-pihak yang terlibat dalam perencanaannya, itulah teknologi tidak bebas organisasi, tidak bebas budaya dan sosial, ekonomi dan politik.Jujun S. Suriasumantri mendefinisikan teknologi adalah penerapan konsep ilmiahdalam memecahkan masalah-masalah praktis baik yang berupa perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Definisi teknologi yang lain diberikan oleh Rias Van Wyk “Technology is a “setof minds” created by people to facilitate human endeavor”. Dari definisi tersebut, adabeberapa esensi yang terkandung yaitu :
1. Teknologi terkait dengan ide atau pikiran yang tidak akan pernah berpikir,keberadaan teknologi bersama dengan keberadaan budaya umat manusia.
2. Teknologi merupakan kreasi dari manusia, sehingga tidak alami dan bersifatartificial.
3. Teknologi merupakan himpunan dari pikiran (set of minds), sehingga teknologidapat dibatasi atau bersifat universal, tergantung dari sudut pandang analisis.
4. Teknologi bertujuan untuk memfasilitasihuman endeavor(ikhtiar manusia),sehingga teknologi harus mampu meningkatkan performansi (kinerja) kemampuan manusia.
Dari definisi diatas, ada tiga entitas yang terkandung dalam teknologi, yaitu skill (keterampilan),algoritma(logika berpikir), danhardware(perangkat keras). DalampandanganManagement of Technology, teknologi dapat digambarkan dalam beragam cara :
a. Teknologi sebagai makna untuk memenuhi suatu maksud didalamnya terkandungapa saja yang dibutuhkan untuk merubah (mengkonversikan) sumber daya(resources) ke suatu produk atau jasa.
b. Teknologi tidak ubahnya sebagai pengetahuan, sumber daya yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan (objective).
c. Teknologi adalah suatu tubuh dari ilmu pengetahuan dan rekayasa (engineering)yang dapat diaplikasikan pada perancangan produk dan proses atau padapenelitian untuk mendapatkan pengetahuan baru.
Suatu teknologi biasanya dimulai dari imajinasi, baik secara individual ataukelompok dengan memanfaatkan sentuhan fenomena alam dan kebutuhan-kebutuhan praktis. Dari imajinasi tersebut seorang individu atau kelompok mengembangkan menjadi suatu temuan (invention). Untuk mengembangkan temuan itu menjadi suatu produk yang unggul. Parailmuwan melakukan penelitian-penelitian sehingga hasilnya nanti dapat dimanfaatkanoleh manusia.Teknologi yang telah dikembangkan dari hasil penelitian tersebut mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Sebagai sarana untuk memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia.
2. Meningkatkan performansi (kinerja) kemampuan manusia.
Dalam penggunaan teknologi yang merupakan produk dari ilmu pengetahuan sering kali terjadi penyalahgunaan. Teknologi yang semula digunakan untuk kemaslahatan manusia malah dapat memberikan kerugian yang besar bagi kehidupan. Teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia melainkan dia berada untuk tujuan eksistensinya sendiri. Sesuatu yang harus dibayar mahal oleh manusia yang kehilangan sebagian arti dari kemanusiaannya.

E. ILMU DAN MORAL
Sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah moral. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “ bumi yang berputar mengelilingi matahari “ dan bukan sebaliknya seperti yang dinyatakan dalam ajaran agama maka timbulah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik.
Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya (netralitas ilmu), sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan (nilai moral), seperti agama. Dari interaksi ilmu dan moral tersebut timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik yang berkulminasi pada pengadilan inkuisi Galileo pada tahun 1633. Galileo oleh pengadilan agama dipaksa untuk mencabut pernyataan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari (Sumantri, 1996).
Ketika ilmu dapat mengembangkan dirinya, yakni dari pengembangan konsepsional yang bersifat kontemplatif disusul penerapan –penerapan konsep ilmiah ke masalah-masalah praktis (bersifat manipulatif) atau dengan perkataan lain dari konsep ilmiah yang bersifat abstrak menjelma dalam bentuk kongkrit yang berupa teknologi, konflik antar ilmu dan moral berlanjut. Dalam tahap manipulasi masalah moral muncul kembali.
Kalau dalam kontemplasi masalah moral berkaitan dengan metafisika keilmuan maka dalam tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah. Atau secara filsafati dapat dikatakan bahwa dalam tahap pengembangan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi ontologis keilmuan, sedangkan dalam tahap penerapan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi aksiologi keilmuan (kegunaan ilmu). Tidak dapat dipungkiri peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu dan teknologi.
Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah disamping penciptaan berbagai kemudahan dalam bidang-bidang seperti kesehatan, pengangkutan, pemukiman, pendidikan dan komunikasi. Namun dalam kenyataannnya apakah ilmu selalu merupakan berkah, dan bukan musibah yang membawa manusia dalam malapetaka dan kesengsaraan. Sejak dalam tahap-tahap pertumbuhannya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang. Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi sesama manusia. Berbagai macam senjata pembunuh berhasil dikembangkan dan berbagai teknik penyiksaan diciptakan.
Dewasa ini ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. “ Bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust, “ meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal Carl Gustav Jung, “ melainkan Faust yang menciptakan Goethe.“ (Jujun.S.Sumantri,1996) Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmuwan abad 20 tidak boleh tinggal diam, si pemilik ilmu ini harus mempunyai sikap. Ilmuwan harus mampu menilai antara yang baik dan yang buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang kuat. Tanpa suatu landasan moral yang kuat.
a. Penggolongan ilmuwan
Berkaitan dengan masalah moral dalam menghadapi ekses ilmu dan teknologi yang bersif at merusak, ilmuwan terbagi dalam dua golongan pendapat (Jujun.S.Sumantri,1996), sebagai berikut :
1. Golongan I
Golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Dalam hal ini tugas ilmuwan adalahmenemukan pengatahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya ; apakah pengetahuan itu dipergunakan untuk tujuan yang baik, ataukah dipergunakan untuk tujuan yang buruk.
2. Golongan II
Ilmuwan golongan kedua berpendapat sebaliknya. Menurut mereka netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuwan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan objek penelitian, maka kegiatan keilmuwan harus berlandaskan asas-asas moral. Golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni:
a. Ilmu secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan teknologi-teknologi keilmuwan.
b. Ilmu telah berkembang dengan pesat dan makineksoterik sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang akibat-akibat yang mungkin terjadi bila terjadi salah penggunaan.
c. Ilmu telah berkembang sedemikian rupa sehingga terdapat kemungkinan bahwa ilmu
Dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti kasus revolusi genetika. Berdasarkan ketiga hal diatas maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmusecara moral harus ditujukan untuk kebaikan umat manusia tanpa merendahkanmartabat atau mengubah hakikat kemanusian.

b. Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan
Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Penciptaan ilmu bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu adalah bersifat sosial. Seorang Ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial, karena fungsinya selaku ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuwan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuwan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat demi kemaslahatan bersama. Menurut Jujun S.Sumantri dalam Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, tanggung jawab sosial ilmuwan meliputi antara lain :
a. Kepekaan/kepedulian terhadap masalah-masalah sosial di masyarakat.
b. Imperatf, memberikan perspektif yang benar terhadap sesuatu hal : untung dan ruginya, baik dan buruknya ; sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan.
c. Bertindak persuasif dan argumentatif (berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya).
d. Meramalkan apa yang akan terjadi ke depan.
e. Menemukan alternatif dari objek permasalahan yang sedang menjadi pusat perhatian.
f. Memberitahukan kekeliruan cara berfikir.
g. Menegakkan/menjunjung tinggi nilai kebenaran (universal)
h. menganalisis materi kebenaran (kegiatan intelektual).
i. prototype motorik yang baik (memberi contoh)
Dalam kenyataannya tidaklah mudah bagi ilmuwan untuk memikul tanggung jawab sosial dibahunya. Tetapi seorang ilmuwan yang dikaruniai kecerdasan intelektual dan memiliki nilai-nilai moral yang luhur akan dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik demi kelangsungan kehidupan manusia di dunia ini.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMULAN
Setelah mengkaji aksiologi ini maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
a. Aksiologi adalah cabang dari filsafat ilmu yang membahas mengenai nilai-nilai yang terkandung dari penggunaan ilmu.
b. Ilmu itu bersifat netral pada bagian ontologi dan epistemologinya saja, sedangkan pada bagian aksiologinya ilmu itu terikat dengan nilai-nilai, baik itu nilai etika ataupun moral.
c. Dalam memanfaatkan /menggunakan ilmu hendaknya kita berlandaskan kepada moral sebagai landasan normatifnya.
d. Teknologi sebagai produk dari ilmu hendaknya dipergunakan untuk membantu manusia memecahkan persoalan-persoalan praktis yang dihadapinya, bukan malah menciptakan persoalan baru bagi manusia.
e. Ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan untuk membantu manusia mencapai tujuan hidupnya tanpa harus menghilangkan hakikat kemanusiaannya.
f. Seorang ilmuwan secara aksiologi memiliki tanggung jawab sosial dipundaknya.

 

IDENTIFIKASI WILAYAH KEPESISIRAN

21 October 2014 11:29:04 Dibaca : 467

ACARA I
IDENTIFIKASI WILAYAH KEPESISIRAN

I. TUJUAN
Tujuan praktikum ini agar mahasiswa mampu :
1. Mengidentifikasi keruangan wilayah kepesisiran
2. Mengenali bentang lahan di wilayah kepesisiran
3. Menentukan tipologi wilayah kepesisiran
II. ALAT DAN BAHAN
• Peta rupa bumi
• Spidol
• Plastik transparansi
• GPS
• Kertas
• Kompas
III. PROSEDUR KERJA
1. Identifikasi keruangan wilayah kepesisiran. Tentukan wilayah daratan, laut, pantai, pesisir, garis pantai, garis pesisir
2. Menentukan satuan bentuk lahan yang terdapat pada lokasi praktikum dan menidentifikasi bentuk lahan yang ada ( tombolo, spit, dll )
3. Menetukan tipologi pesisir dilokasi praktikum
Mengklasifikasi wilayah berdasarkan pesisir primer, pesisir sekunder, materi penyusun dan sudut lereng pantai
IV. KAJIAN TEORI
Wilayah kepesisiran merupakan suatu ruang dimana limgkungan terestrial mempengaruhi lingkungan marin atau lakustrin dan sebaliknya (Carter, 1988). Menurut Sugandhy (1966) wilayah kepesisiran merupakan wilayah peralihan antara daratan dan perairan laut yang secara fisiografis didefinisikan sebagai wilayah antara garis pantai hingga kedaerah daratan yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut serta dibentuk oleh endapan lempug hingga pasir yang bersifat lepas, dan kadang materinya berupa kerikil.
Termasuk wilayah kepesisiran adalah pantai (Shore) dan pesisir (Coast). Pantai merupakan suatu mintakat antara daratan dan laut yang dibatasi oleh rata-rata garis surut terendah, yang disebut dengan garis pantai (shoreline) dengan rata-rata garis pasang tertinggi air laut, yang disebut dengan garis pesisir (coast line).
Bentuk lahan yang mungkin dijumpai diwilayah yaitu satuan bentuk lahan asal proses gelombang (marine) dan satuan bentuk lahan asal proses angin. Gunawan (2005) merumuskan definisi wilayah kepesisiran berdasarkan sudut pandang geomorfologi. Menurutnya, kepesisiran (coastal area) adalah bentanglahan yang dimulai garis batas wilayah laut (sea) yang ditandai oleh terbentuknya zona pecah gelombang (breakers zone) dan ke arah darat hingga pada suatu bentanglahan yang secara genetik pembentukannya masih dipengaruhi oleh aktivitas marin, seperti dataran aluvial kepesisiran (coastal aluvial plain).
Definisi wilayah kepesisiran ditinjau dari sudut geomorfologi sangat tepat untuk menentukan batas yang jelas dari suatu wilayah kepesisiran khususnya untuk merencanakan suatu pengelolaan wilayah kepesisiran. Hal ini karena batasan ini lebih menekankan pada aspek genetis yang membentuk wilayah kepesisiran dalam waktu yang sangat lama. Aspek genetis ini tidak mudah berubah, sehingga batas wilayah kepesisiran yang sekaligus digunakan sebagai batas wilayah pengelolaan juga akan berubah dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, maka perencanaan wilayah kepesisiran dengan batas genetis akan sangat cocok untuk perencanaan pengelolaan jangka panjang.
Termasuk dalam wilayah kepesisiran adalah pantai (shore) dan pesisir (coast). Pantai merupakan suatu mintakat antara daratan dala laut yang dibatasi oleh rata-rata surut terendah yang disebut sebagai garis pantai (shoreline) dengan rata-rata garis pasang tertinggi air laut, yang disebut garis pesisir (coastline). (Gunawan, 2005). Pesisir merupakan suatu mintakat yang dimulai dari garis pesisir (coastline) yang menunjukkan rata-rata garis pasang tertinggi kea rah daratan sampai pada suatu mintakat yang, secara genetik pembentukkannya masih dipengaruhi oleh aktivitas marin , yang biasanya bentanglahan terakhir berupa dataran alluvial kepesisiran (coastal alluvial plain). (CERC, 1994 dalam Gunawan, 2005).
V. HASIL
VI. PEMBAHASAN
VII. KESIMPULAN

KOMPONEN PETA

21 October 2014 11:27:57 Dibaca : 871

ACARA I
KOMPONEN PETA
(SKALA, SIMBOL, LEGENDA, KOMPOSISI, DAN LAYOUT)

I. Tujuan
a. Mahasiswa dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam membuat komponen peta (skala, simbol, legenda, komposisi, dan layout peta)
b. Memahami arti dari skala, simbol, legenda, dan mampu membuat layout peta sesuai dengan kaidah kartografis.
II. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Pensil
2. Pensil Warna
3. Mistar
4. Penghapus
5. Kertas Gambar
6. Kertas Grafik
b. Bahan
1. Peta Dasar atau Peta RBI
2. Peta tematik
III. Prosedur Kerja
a. Mengamati kedua peta (peta dasar dan peta tematik) yang tersedia
b. Menganalisis dan membandingkan komponen-komponen peta yang ada pada kedua buah peta
c. Skala:
1. Mengukur jarak antara dua buah objek pada peta dasar / peta tematik
2. Dengan menggunakan skala peta, kita menentukan jarak horizontal sesungguhnya (di permukaan bumi) kedua objek tersebut.
d. Membuat dan mengklasifikasikan simbol
1. Melihat kembali peta dasar dan peta tematik
2. Dengan menggunakan kaidah kartografis, kita mengklasifikasikan simbol berdasarkan:
Bentuk : titik, garis, dan area
Sifat : objektif, abstrak, dan huruf
3. Mendeskripsikan informasi dari masing-masing simbol tersebut berdasarkan legenda di peta
4. Membuat legenda ( sesuai dengan kaidah kartografis) dari simbol-simbol yang telah kita ambil
e. Membuat layout dari salah satu peta yang ada, berdasarkan kaidah kartografis.
IV. Kajian Teori
a. Skala Peta
Peta merupakan kenampakan permukaan bumi yang digambarkan pada bidang datar yang jauh lebih kecil dari kenyataannya. Perbandingan antara ukuran / besarnya kenampakan yang digambar dalam peta dengan kenampakan aslinya disebut skala peta. Skala peta adalah perbandingan antara jarak yang memisahkan kedua titik di peta dengan jarak sebenarnya antara dua titik yang sama di permukaan bumi. Atau skala adalah perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi, dengan satuan ukuran yang sama. Skala ini sangat erat kaitannya dengan data yang disajikan.
Dengan singkatnya dapat dinyatakan:
Angka perbandingan yang dinyatakan harus menggunakan satuan ukuran yang sama, misalnya cm, yard, inci, dan sebagainya. Jarak yang dimaksud di peta adalah jarak horizontal yaitu jarak yang diproyeksikan dari hasil pengukuran di lapangan.
Bila ingin menyajika data yang rinci, maka digunakan skala besar, misalnya 1 : 5000. Sebaliknya, apabila ingin ditunjukkan hubungan kenampakan secara keseluruhan, digunakan skala kecil, misalnya skala 1 : 1.000.000.
Contoh:
Skala 1 : 500.000 artinya 1 bagian di peta sma dengan 500.000 jarak yang sebenarnya, apabila dipakai satuan cm maka artinya 1 cm jarak di peta sama dengan 500.000 cm (5 km) jarak sebenarnya di permukaan bumi. Skala peta akan dibahas lebih rinci pada modul berikutnya nanti.
b. Simbol Peta
Pada peta, kita akan melihat simbol-simbol, gunanya agar informasi yang disampaikan tidak membingungkan. Simbol-simbol dalam peta harus memenuhi syarat, sehingga dapat menginformasikan hal-hal yang digambarkan dengan tepat.
Syarat-syarat peta adalah sebagai berikut:
1. Sederhana
2. Mudah Dimengerti
3. Bersifat Umum
Macam-macam simbol peta:
1. Macam-macam simbol peta berdasarkan bentuknya. Bentuk-bentuk simbol yang digunakan pada peta berbeda-beda tergantung dari jenis petanya.
a) Simbol titik, digunakan untuk menyajikan tempat atau data posisional, seperti simbol kota, pertambangan, titik trianggulasi (titik tertinggi) tempat dari permukaan laut dan sebagainya.
b) Simbol garis, digunakan untuk menyajikan data geografis misalnya sungai, batas wilayah, jalan, dan sebagainya.
c) Simbol luasa (area), digunakan untuk menyajikan kenampakan area misalnya rawa, hutan, padang pasir, dan sebagainya.
d) Simbol aliran, digunakan untuk menyatakan alur dan gerak.
e) Simbol batang, digunakan untuk menyatakan harga / dibandingkan harga lainnya / nilai lainnya.
f) Simbol lingkaran, digunakan untuk menyatakan kuantitas (jumlah) dalam bentuk persentase.
g) Simbol bola, digunakan untuk menyatakan isi (volume), makin besar simbol bola menunjukkan isi (volume) makin besar dan sebaliknya makin kecil bola berarti isi (volume) makin kecil.
2. Macam-macam simbol peta berdasarkan sifatnya. Simbol-simbol yang kita lihat pada peta, ada yang menyatakan jumlah dan ada yang hanya membedakan. Berdasarkan sifatnya, simbol dibedakan menjadi dua macam yaitu:
a) Simbol yang bersifat kualitatif
Simbol ini digunakan untuk membedakan persebaran benda yang digambarkan. Misalnya untuk menggambarkan daerah penyebaran hutan, jenis tanah, penduduk, dan lainnya.
b) Simbol yang bersifat kuantitatif
Simbol ini digunakan untuk membedakan atau menyatakan jumlah.
3. Macam-macam simbol berdasarkan fungsinya
Penggunaan simbol pada peta tergantung pada fungsinya. Untuk menggambarkan bentuk-bentuk muka bumi di daratan, di perairan, atau bentuk-bentuk budaya manusia. Berdasarkan fungsinya simbol peta dibedakan menjadi:
a) Simbol daratan digunakan untuk simbol-simbol permukaan bumi di daratan. Contoh: gunung, pegunungan, gunung api.
b) Simbol perairan digunakan untuk simbol-simbol bentuk perairan.
c) Simbol budaya digunakan untuk simbol-simbol bentuk hasil buadaya.
Nama Objek / Atribut Simbol
Pictorial Abstrak Huruf
Gedung Sekolah
S
Tegalan
TL

Bandar Udara
BU
Kantor Telepon
T
Table. 4.1
c. Legenda atau Keterangan
Legenda pada peta menerangkan arti dari simbol-simbol yang terdapat pada peta. Legenda itu harus dipahami oleh pembaca peta, agar tujuan pembuatan peta itu mencapai sasaran. Legenda biasanya diletakkan di pojok kiri bawah peta. Selain itu legenda peta dapat juga diletakkan pada bagian lain peta, sepanjang tidak mengganggu kenampakan peta secara keseluruhan.
d. Komposisi
Penentuan tata letak peta atau kombinasi peta harus mempertimbangkan cara-cara yang dapat menyentuh perasaan tertarik (sensible) dan juga unsur keindahan perlu dipertimbangkan. Tata letak yang betul akan menjadi penampilan peta secara keseluruhan menjadi lebih menarik.
Salah satu factor utama yang diperhatikan adalah adanya keseimbangan (balance) dalam tata letak informasi tepi. Ukuran hurus (text), tipe hurus (style), mempunyai peranan pula dalam komposisi tata letak informasi tepi ini oleh karena itu besar kecilnya huruf sangat rperlu dipertimbangkan secara tepat pula.
Dapat dikatakan bahwa suatu peta harus kaya dengan informasi yang dapat dievaluasi tanpa kesulitan dan dengan mudah dan cepat digunakan untuk mencapai tujuan pengguna peta. Tata letak peta dan desain peta yang dirancang baik, menambah kejelasan bagi uraian tertulis yang menyertainya.
e. Lay Out Peta
Semua informasi yang diletakkan pada peta harus diatur secara tepat diatas lembar peta sehingga dapat menjamin optimal dalam mudahnya dibaca dan kelihatan ekonomis. Lay Out peta berarti menyusun penempatan-penempatan dari pada peta judul, legenda, skala, sumber data, penerbit, no sheet, macam-macam proyeksi dan lain-lainnya.

Keterangan:
1. Judul peta
2. Petunjuk letak peta dan diagram lokasi
3. Informasi sistem referensi
4. Informasi pembuatan dan penerbit peta
5. Informasi nama dan nomor lembar peta
6. Legenda
7. Keterangan riwayat peta
8. Petunjuk pembacaan koordinat geografi
9. Petunjuk pembacaan koordinat utm
10. Pembagian daerah administrasi
11. Skala grafis
12. Singkatan dan kesamaan arti di peta
13. Diagram arah utara
14. Nomor lembar peta kiri bawah

Hal hal yang harus diperhatikan dalam lay out peta adalah
1. Penulisan Judul
Judul biasa ditulis disebelah kiri atau disebelah kanan atas tergantung komposisi dari peta. Ukuran huruf antara tema, daerah penelitian dan skala tidak sama. Ukuran huruf disesuaikan dengan ukuran besarnya peta. Untuk peta yang terbesar ukuran huruf maximum 1 cm. Di dalam judul ini termasuk skala, baik skala numeric (mis; 1 : 5.000) maupun skala grafis. Tulisan skala lebih kecil dari tema dan daerah penelitian.
2. Orientasi
Biasanya diletakkan di tempat yang kosong dan dibuat tegak lurus keatas tepat di bawah judul. Sebenarnya posisi dari orientasi ini tidaklah harus di bawah judul, tetapi tergantung dari posisi peta maupun ruang yang memungkinkan, sehingga memberi kesan menarikdan harmonis. Bila telah ada grid-gridnya maka panah utara itu tidak perlu.
3. Legenda
Legenda ini merupakan kunci dari pada peta. Jadi harus mengandung keterangan mengenai setiap simbol-simbol yang dipergunakan, baik simbol titik, garis, wilayah maupun simbol-simbol lain. Disamping itu arti singkatan yang dipakai didalam peta harus dicantumkan pula. Legenda diletakkan di dalam garis tepi dari peta dibagian pojok karena bagian bawah. Legenda simbol-simbol ditilis menurut kolom, dan legenda simbol wilayah dibuat dalam bentuk empat persegi panjang yang dibatasi oleh garis-garis. Simbol wilayah ditetapkan dalam ukuran yang teratas baru kemudian simbol-simbol lain termasuk simbol konvensional.

4. Letak Lintang dan Bujur
Letak lintang dan bujur ditulis di dalam garis tepi, antara garis tepi luas dengan garis tepi dalam. Penulisan letak lintang dan bujur dilakukan dengan tulisan tangan dan cukup kecil saja sesuai dengan ruangannya. Tanda-tanda koordinat lintang dan bujur ditambahkan dengan garis-garis pendek memotong peta inset. Peta inset diletakkan di bagian kanan bawah di sebelah kanan legenda. Di dalam peta inset pun terdapat informasi tepi terutama mengenai skala, nama daerah, letak lintang bujur, dan garis tepi.
5. Pencatatan Sumber
Catatan mengenai sumber data / informasi dibuat di dalam lingkungan kerangka bingkai dengan menyebutkan nama sumber dan diletakkan dibagian kiri bawah.
6. Garis Tepi / Kerangka Peta
Peta harus dibuat dengan kerangka yang tegas, garisnya jangan terlalu tipis, berbentuk empat persegi panjang yang terdiri dari dua garis sejajar lebarnya kurang lebih 7 inchi.
7. Penyusun / Penggambar Peta
Untuk menunjukkan siapa-siapa yang bertanggung jawab dalam pembuatan peta ditulis nama penyusun / penggambar peta berikut tahun penggambarannya. Penyusunan / penggambar peta ditulis disebelah bawah luar bingkai peta.

V. Hasil dan Pembahasan
5.1 Hasil
1. Perbandingan Komponen Peta
No Peta RBI Peta Tematik
1 Judul Judul
2 Petunjuk letak peta dan diagram lokasi Petunjuk letak peta dan diagram lokasi
3 Informasi sistem referensi Informasi sistem referensi
4 Informasi pembuatan dan penerbit peta Informasi pembuatan dan penerbit peta
5 Informasi nama dan nomor lembar peta Informasi nama dan nomor lembar peta
6 Legenda Legenda
7 Keterangan riwayat peta -
8 Petunjuk pembacaan koordinat geografis Petunjuk pembacaan koordinat geografis
9 Petunjuk pembacaan koordinat UTM Petunjuk pembacaan koordinat UTM
10 Pembagian daerah administrasi -
11 Skala grafis Skala grafis
12 Singkatan dan kesamaan arti di peta Singkatan dan kesamaan arti di peta
13 Diagram arah utara Diagram arah utara
14 Nomor lembar peta kiri bawah Nomor lembar peta kiri bawah
Table. 5.1
2. Menghitung Jarak Sebenarnya
Diketahui : jarak Huidu Tambo – Huidu Balobalonga di peta RBI = 20,5
Skala peta RBI = 1 : 50.00
Ditanya : jarak sebenarnya…. ?
Penyelesaian :

3. Mengklasifikasikan Simbol Berdasarkan Bentuk dan Sifat
a) Simbol Berdasarkan Bentuk
1) Peta RBI
Objek Titik Garis Area
Sawah

Hutan

Sungai

Air Terjun

Pusat Listrik

Tambang

Table. 5.2

2) Peta Tematik
Objek Titik Garis Area
Pemukiman

Batas Provinsi

Sungai dan Anak Sungai

Table. 5.3
c) Simbol Berdasarkan Sifat
1) Peta RBI
Atribut Objektif Abstrak Huruf

Sawah
SW

Hutan
H

Sungai
S

Pusat Listrik
PLN
Table. 5.4

2) Peta Tematik
Atribut Objektif Abstrak Huruf

Pemukiman
P

Batas Provinsi
BP

Sungai dan Anak Sungai
SAS
Table. 5.5

4. Layout Peta

Keterangan:
1. Judul peta
2. Skala
3. Informasi nama dan lembar peta
4. Petunjuk letak peta
5. Informasi sistem referensi
6. Legenda
7. Keterangan riwayat
8. Petunjuk pembacaan koordinat goegrafis
9. Petunjuk pembacaan koordinat UTM
10. Pembagian daerah administrasi
11. Skala grafis
12. Singkatan dan keterangan arti peta
13. Diagram arah utara
14. Nomor lembar peta kiri bawah
5.2 Pembahasan
Pada praktikum acara I kami melakukan pengamatan pada kedua peta yaitu peta RBI dan peta Tematik. Kami mengamati perbedaan komponen yang terdapat di kedua peta. Hasil pengamatan dapat di lihat pada table 5.2.
Langkah yang selanjutnya yaitu kami mengukur jarak objek yaitu daerah Huidu Tambo sampai Huidu Balobalonga. Kedua titik tersebut di ukur dengan menggunakan mistar yang dapat kami ketahui yaitu dengan panjang 20,5 cm dan dengan skala peta 1 : 50.000. setalah diketahui jarak kedua titik tersebut kami komplikasikan dengan skala peta yang digunakan untuk mencari jarak sebenarnya yaitu jarak yang di peta di bagi dengan skala dengan demikian jarak sebenarnya yaitu 10,25 km.

1. Mendeskripsikan Simbol Berdasarkan Bentuk
Berdasarkan bentuk simbol di klasifikasikan ke dalam 3 bagian yakni titik, garis, dan area. Misalnya sawah disimbolkan dengan area karena sawah mencakup beberapa meter luasan.
a) Peta RBI
1) Sawah disimbolkan area dengan bentuk kotak berpetak-petak karena pada bentuk aslinya sawah berbentuk kotak yang luas dan berpetakpetak
2) Hutan disimbolkan dengan area berbentuk kotak dan garis-garis yang menyerupai pohon. Hal itu di sebabkan karena untuk menyesuaikan bentuk aslinya di bumi dan garis-garis yang menyerupai pohon bertanda menunjukkan hutan.
3) Sungai disimbolkan dengan garis yang bercabang menyerupai ranting pohon. Hal ini disebabkan karena sungai mempunyai pola aliran yang berbeda-beda. Pola aliran sungai yang ada di bumi dipengaruhi oleh morfologi tempat sungai mengalir dan struktur geologinya.
4) Air terjun di beri simbol garis yang hamper sama denga sungai hanya saja pada garis sebelum cabang diberi garis melintang.
5) Pusat listrik diberi simbol titik karena pada legenda bentuk simbol ini kecil. Simbol ini berbentuk kotak dan di atasnya terdapat sebuah garis yang bergelombang.
6) Tambang juga diberi simbol titik karena ukurannya yang sama kecil dengan simbol pusat listrik. Simbol ini berbentuk palu yang menyilang.

b) Peta Tematik
1) Pemukiman disimbolkan dengan area yang berbentuk kotak berwarna orange. Kenapa pemukiman disimbolkan dengan area dan berbentuk kotak, karena pemukiman tersebut menyangkut luasan sama halnya dengan sawah hanya saja pada pemukiman terdapat warga-warga dan dengan desa-desa yang berbeda-beda
2) Batas Provinsi disimbolkan dengan titik.
3) Sungai dan Anak Sungai disimbolkan dengan garis yang bercabang-cabang tetapi pada tengah cabang berbentuk garis besar. Hal itu disebabkan pada garis yang tebal menunjukkan bahwa itu induk sungai atau sungai utama sedangkan garis cabang yang bergaris kecil-kecil menunjukkan bahwa itu anak sungai.
2. Mendeskripsikan Simbol Berdasarkan Sifat
a) Peta RBI
1) Sawah disimbolkan objektif yaitu dengan bentuk kotak berwarna hijau karena symbol tersebut sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan.
2) Hutan disimbolkan dengan huruf yaitu H
3) Sungai disimbolkan objektif dengan bentuk bercabang. Hal ini disesuaikan dengan bentuk kanyataan di lapangan bahwa sungai bercabang-cabang karena sungai sungai memiliki pola alur yang berbeda-beda.
4) Pusat Listrik disimbolkan dengan objektif yang berbentuk kotak dan di atasnya terdapat garis yang bergelombang.

b) Peta Tematik
1) Pemukiman disimbolkan abstrak karena tidak sesuai dengan kenyataan yang dilapangan.
2) Batas Provinsi juga disimbolkan abstrak karena tidak sesuai dengan yang dilapangan
3) Sungan dan Anak Sungai disimbolkan objektif karena pada kenyataan dilapangan sungai berbentuk ranting yang bercabang-cabang dan sungai mempunyai induk sungai atau sungai utama dan anak sungai.
3. Membuat Layout Peta Berdasarkan Kaidah Kartografis
Layout peta berarti menyusun penempatan-penempatan dari pada judul, legenda, skala, sumber data, penerbit, no sheet, macampmacam proyeksi dan lain-lainnya. Contoh membuat layout peta yaitu, gambar peta berada ditengah-tengah peta. Judul berada di pojok kanan atas. kemudian dibawahnya skala, disusul informasi nomor dan lembar peta, petunjuk letak peta, dan informasi sistem referensi. Sedangkan legenda berada di bawah informasi sistem referensi, kemudian di bawaj legenda terdapat keterangan riwayat, petunjuk pembacaan koordinat geografis, dan petunjuk pembacaan koordinat UTM. Sedangkan pembagian daerah administrasi, skala grafis, singkatan dan keterangan arti peta, diagram arah utara, dan nomor lembar peta pada kiri bawah terdapat tepat di bawah gambar peta.

VI. Kesimpulan
Dari pembahadan di atas kami dapat menari kesimpulan bahwa:
1. Peta RBI adalah peta yang menggambarkan kenampakan alamiah (natural freatures) dan kenampakan buatan manusia (man Made Freatures). Kanampakan alamiah adalah sungai, bukit, lembah, laut, danau, dan lain-lain. Sedangkan buatan manusia adalah jalan, kampong, permukiman, kantor, pasar, dan lain-lain.
2. Peta RBI bersifaf umum dan informasi-informasi yang disajikan mencakup keseluruhan dan merupakan peta topografi yang memperlihatkan posisi horisontal serta vertikal dari unsur alami dan unsur buatan manusia dalam bentuk tertentu, dengan mamperlihatkan sistem proyeksi peta yang digunakan serta skala peta.
3. Sedangkan peta tematik bersifat khusus, karena hanya menggambarkan informasi untuk tema tertentu yang terdapat di permukaan bumi.
4. Peta RBI antara lain berfungsi sebagai peta referensi atau acuan dan dasar dalam pembuatan peta tematik.
5. Simbol pada peta sangat berfungsi agar para pembaca tidak kebigungan dalam membaca peta.

VII. Daftar Pustaka
Anonim. 2012. ://Gudang Artikel. 2012/24/10. komponen-peta_16.html. Diakses hari Rabu, 24 September 2012.
Anonim://Prinsip-Prinsip Dasar Peta dan Pemetaan. Diakses hari Rabu, 24 September 2012
Sune, Nawir. 2012. Modul Praktikum Kartografi : Prodi Geografi. Jurusan Fisika. Universitas Negeri Gorontalo.

contoh kata pengantar

24 February 2013 11:46:28 Dibaca : 146

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah yang berjudul Ejaan Yang Disempurnakan ini membahas mengenai seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan huruf, kata dan tanda baca sebagai sarananya.

Dalam penulisan makalah ini saya banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini.

Saya sadar bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Hal itu di karenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan saya. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.

Akhir kata, saya memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan.

Gorontalo, 24 Januari 2013

contoh wawancara

24 February 2013 11:43:26 Dibaca : 562

Contoh Teks Wawancara dengan Pedagang

Pewawancara: Selamat pagi pak! Bagaimana dagangan hari ini ?

Pedagang: Alhamdulillah lancar

Pewawancara: Darimana bapak terinspirasi untuk berdagang bakso?

Pedagang: Saya terinspirasi dari kakak saya yang berdagang bakso di Semarang.Disana saya di ajarkan cara membuat bakso yang enak.

Pewawancara: Sejak kapan Bapak berjualan bakso disini?

Pedagang: Sekitar 1990

Pewawancara: Bahan apa saja yang di gunakan untuk membuat bakso?

Pedagang: Bahannya sangat banyak,yang paling utama adalah daging dantepungnya kalau bumbunya itu masalah gampang.

Pewawancara: Siapa yang membantu bapak membuat bakso?

Pedagang: Istri saya yang membuat bumbunya sedangkan anak saya yangmembantu saya membuat bulatan bakso

Pewawancara: Berapa keuntungan dari berjualan bakso perharinya pak?

Pedagang: Ya,hanya cukup untuk makan sehari-hari sekitar Rp.60.000,00

Pewawancara: Apakah bapak nyamanberjualan bakso di daerah ini?

Pedagang: Saya sangat nyaman kareba orang-orang disini tidak usil.

Pewawancara: Terimakasih pak atas informasi dari bapak.Saya permisi pulang.

Pedagang: Ya, sama-sama.

Contoh Wawancara Bahasa Jawa

Kula: Sugeng ndalu Bu Tutik?

Bu Tutik: Sugeng ndalu mas Adit. Dengaren mrene, ana kaperluan napa?

Kula: Kula badhe mewawancarai ibu. Angsal mboten Bu?

Bu Tutik: Oh, ya mboten napa-napa.

Kula: Kula nyuwun pangapunten amargi sampun ndalu kula malahan nganggu. Panjenengan kagungan usaha ternak menapa lan kados pundi mulabukanipun ngingah ternak menika?

Bu Tutik: Wekdal menika kula usaha ternak ayam potong ( broiler ) saking yahun 1990 kalih atus ekor, sakmenika tigang doso gangsal ewu ekor. Mulabukanipun, kula niti priksa bilih kabetahan daging ayam warga masyarakat saben tahunipun saya mindhak, awit saking menika kula nggadahi krentek nyobi ternak ayam broiler saking sekedik, lan Alhamdulillah ngantos wekdal menika saget ngrembaka lan lumampah kanthi lancar.

Kula: Kangge ngawekani lan nyegah penyakitipun, kados pundi bab tedanipun lan obat-obatanipun?
Bu Tutik: "Pangopenipun dipun paringaken kandang piyambak, kandang menika kedah dipun resiki pendak dintenipun lan dipun semprot ngagem desinfektan supados kandang wau steril. Masalah pakan, kedah dipun titi priksa lan dipun paring nutrisi ingkang sae. Babagan oabt-obatan kedah rutin, obat saha tedanipun mundut saking poutry saha saking pabrik.

Kula: Pikantuk pembinaan saking pundi?

Bu Tutik: Pembinaan sampun mlampah kanthi sae, saking Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Sragen, UPTD Peternakan Kecamatan Kedawung saha saking PPL.

Kula: Ngingah ternak menapa kemawon ingkang saget dipun pendet hasilipun?

Bu Tutik: Ingkang saget dipun pendet hasilipun : dagingipun kagem peningkatan gizi keluarga, limbahipun (kotoran ayam) inggih saget kagem pupuk organik.

Kula: Pemsaranipun dateng pundi ? Lan hasil ternak menika sisa hasilipun kados pundi ?

Bu Tutik: Pemasaranipun kajaba dateng pasar ( masyarakat lokal Sragen ), ayam kala wau dipun puruki pembeli saking Surabaya, Solo, ugi daerah-daerah sekitar Kabupaten Sragen. Hasilipun Alhamdulillah saget nyekapi kebutuhan kaluarga.

Kula: Menapa wonten kendala ? Kados pundi ingkang ngawekani?

Bu Tutik: Biasanipun bilih mangsa ketiga kenging penyakit ngorok utawi pilek, kagem ngawekani dipun paring obat.

Kula: Menapa mupangatipun dateng kaluarga lan taggi tepalih?

Bu Tutik: Dateng kaluarga antawisipun saget ningkataken perekonomian keluarga. Dateng tetanggi para tetanggi saget sinau kados pundi caranipun ngingah utawi usaha ayam broiler, sak menika para tetanggi katah ingkang ngingah ayam broiler.

Kula: Rancangan menapa ingkang badhe dipun tindakaken supados ternak panjenengan saya majeng malih?

Bu Tutik: Nambah ternak ingkang sampun wonten, dipun tambah ngingah ayam petelur. Menapa malih menika sae lan permintaan samsoyo katah.

Kula: Matur suwun sanget nggih Bu amargi angsal mewawancarai Ibu.

Bu Tutik: O ya, menawa kagungan pernu mrene maneh ya Mas!

Kula: Inggih Bu.Sugeng ndalu.

Contoh Teks Wawancara dengan Guru

Pewawancara: Sejak kapan Ibu mengajar BK di SMA Negeri 1 Purwokerto?

Guru: Saya mengajar BK sejak tahun 1986.

Pewawancara: Menurut Ibu, bagaimana cara belajar yang efektif?

Guru: Cara belajar jika usaha yang telah dilakukan dan hasil yang diperoleh seimbang.

Pewawancara: Bagaimana cara mengatur waktu yang baik antara belajar dan aktivitas lainnya?

Guru: Dengan membuat jadwal belajar yang baik.

Pewawancara: Menurut Ibu, apakah siswa – siswi SMA Negeri 1 Purwokerto sudah mencapai hasil yang maksimal dalam belajar?

Guru: Sebagian besar maksimal, tetapi ada juga yang belum maksimal. Rata – rata belum maksimal, masih perlu waktu untuk pengembangan diri.

Pewawancara : Apa upaya Ibu untuk memotivasi siswa – siswi di SMA Negeri 1 Purwokerto?

Guru: Upaya saya lebih mangarah pada saat pembagian jurusan. Agar dapat memasuki program jurusan sesuai potensi dan keinginan.

Pewawancara: Sejauh mana upaya Ibu itu berhasil diterapkan?

Guru: Memberi penyadaran dan pembelajaran. Belajar bukan untuk kepentingan orang lain tetapi untuk diri sendiri.

Pewawancara : Apakah ada perubahan dan kemajuan yang signifikan selama Ibu mengajar di SMA Negeri 1 Purwokerto?

Guru: Anak – anak lebih kreatif dan mempunyai motivasi tinggi serta lebih berkembang dari segi pengembangan diri.

Pewawancara: Apakah ada hal – hal yang berkesan selama Ibu berada di SMA Negeri 1 Purwokerto?

Guru: Ada, anak yang kalau sekolah bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan untuk kepentingan orang lain.

Pewawancara: Hambatan – hambatan apa yang pernah Ibu alami selama mengajar di SMA Negeri 1 Purwokerto?

Guru: Tidak ada hambatan yang berarti. Masih terjangkau dan bisa diatasi.

Pewawancara: Apa pesan Ibu untuk siswa – siswi SMA Negeri 1 Purwokerto?

Guru: Tetap mengembangkan prestasi akademik dan pribadi yang tanguh.

Contoh Teks Wawancara dengan Petani

Pewawancara: Mengapa Ibu gemar menekuni pekerjaan di bidang ini?

Petani Jamur: karena saya ingin menambah penghasilan yang cukup dan karena ini saya dapat memberikan lapangan kerja bagi orang lain

Pewawancara: Sudah berapa lama ibu bekerja menjadi petani jamur?

Petani Jamur: saya bekerja menjadi petani sejak 5 bulan yang lalu

Pewawancara: Berapa modal awal ibu untuk memulai menjadi petani jamur?

Petani Jamur: modal awal saya yaitu 3 juta untuk 1000 bibit dan tempat untuk mengembang biakkan jamur

Pewawancara: Berapa penghasilan ibu tiap bulan?

Petani Jamur: penghasilan saya tiap bulan biasanya lima ratus ribu itu sudah penghasilan bersih, tapi kadang-kadang penghasilan saya juga tidak menentu

Pewawancara: Siapa yang mempunyai ide awal untuk menjadi petani jamur?

Petani Jamur: yang mempunyai ide ini yaitu saya sendiri

Pewawancara: Kesulitan apa sajakah yang pernah anda alami selama menjadi petani jamur?

Petani Jamur: kesulitan yang saya alami adalah saat awal pemasaran dan saat perawatan

Pewawancara: Apakah bapak sempat pernah mengalami kerugian ? Jika pernah berapa total seluruh kerugian bapak?

Petani Jamur: alhamdulillah belum pernah.

Pewawancara: Apa saja hama yang telah menyerang hama ibu?

Petani Jamur: biasanya hama yang menyerang jamur ini yaitu tikus, kutu tanaman, dan semut

Pewawancara: Apa saja manfaat jamur?

Petani Jamur: manfaat kandungan protein tinggi, dapat diolah menjadi aneka masakan , dapat dijadikan sebagai pengganti daging untuk para vegetarian

Pewawancara: Bagaimanakah perkembang biakan jamur itu?

Petani Jamur: sejak bibit dimasukkan ke media, 2 bulan kemudian tunas muncul, 2 hari kemudian sudah dapat dipetik, dapat tumbuh lagi sampai dibibit di media habis

Pewawancara: Jenis jamur apa sajakah yang ibu kembang biak kan?

Petani Jamur: jamur yang saya kembangkan yaitu jamur tiram

Pewawancara: Lalu menurut anda bagaimanakah perkembangan jamur di Indonesia?

Petani Jamur: untuk saat ini banyak digemari masyarakat baik sebagai makanan maupun obat

Pewawancara: Dan apa yang anda harapkan dengan jamur yang anda kembangkan?

Petani Jamur: harapan saya ya, semoga pekerjaan saya ini bisa menjadi sumber penghasilan bagi keluarga saya dan memberikan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.