PERSAHABATAN DI MASA PUTIH ABU-ABU

30 January 2013 11:50:01 Dibaca : 309

Mungkin teman-teman pernah mendengar atau membaca kata-kata seperti ini “Tak ada persahabatan sejati yang hanya adalah kepentingan abadi”. Mungkin ketika pertama mendengar kalimat itu, kita akan berpikir bahwa semua itu kejam dan terlalu menusuk hati, karena sebagai manusia yang berjiwa social pastinya memiliki seseorang atau mungkin banyak sahabat. Tetapi setelah saya mendalami kata-kata itu, saya mulai menyadari bahwa kalimat itu ada benarnya juga, meskipun begitu saya percaya bahwa persahabatan sejati itu ada walaupun juga dibaluti oleh kepentingan pribadi karena tanpa sahabat hidupku tak berwarna dan tanpa kepentingan hidup ini mati. Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha dari pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya. Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung seperti yang dilakukan oleh lima orang lelaki pada saat memakai seragam putih abu-abu.

Saya Kamarudin Bilatula dan ada teman saya Ishack Goi, SulemanYusuf, Fandy Abd Azis, dan Imran Dunggio, kemudian kami membuat satu nama untuk persahabatan kami yaitu Lauka_GFB (Gank Five Boys), sebagian besar nama ini tidak diketahui oleh orang-orang bahkan tidak mengenalnya karena nama itu hanya sebagai symbol pada persahabatan kami. Kurang lebih dua tahun kami menjalani persahabatan itu dan sekarang kami sudah terpisah di berbagai tempat, tapi bukan berarti persahabatan itu telah berakhir. Semenjak kami menjalani persahabatan itu di SMA, kami mmpunyai kekompakkan dan kebersamaan yang erat susah dan senang di tanggung bersama, kami juga menganggap bahwa persahabatan itu sudah seperti persaudaraan.

Hal yang terkesan bagiku adalah ketika kami akan menghadapi Ujian Nasional, kami sering tidak masuk kelas bahkan pada waktu les tambahan juga tidak hadir, aku berpikir bahwa yang kami lakukan itu bukan berarti pandang enteng, saya justru menganggap bahwa itu sifat yang kami lakukan secara sengaja karena saya berprinsip bahwa “Jangan selalu terfokus pada belajar, tetapi permainan juga harus di jalankan”, kenapa saya berkata seperti itu? Karena ketika kita akan mengerjakan soal-soal pada Ujian nanti kita akan merasa tegang jadi kita harus menyeimbangkan hal itu dengan sebuah permainan agar kita tidak akan gagal nantinya. Kemudian tempat yang terkesan bagiku juga adalah perpustakaan yang selalu menjadi tempat hiburan, nongkrong, istrahat, bahkan menjadi tempat persembunyian ketika tidak ikut mata pelajaran di kelas, perpustakaan itu juga menjadi tempat tidur bagi kami baik itu siang hari maupun malam hari, dan ketika bepergian ke suatu tempat, kami selalu pergi bersama-sama baik itu ke suatu acara, ke tempat wisata, ke pantai maupun ke rumah teman-teman sekelas.

Pada saat makan di kantin, kami selalu pergi bersama-sama dan saling berbagi, di antara kami tidak ada yang kekurangan bahkan kelebihan semuannya sama, apabila di antara kami ada yang tidak punya uang saku, maka kami saling berbagi agar merasakan semuanya, yang lucunya lagi ketika kami tidak punya uang maka kami akan melakukan minta-minta kepada orang lain dengan cara baik-baik bukan dengan cara memaksa. Itulah kisahku yang pernah ku alami semasa putih abu-abu bersama teman-teman, kehidupan tak kan bisa dijalani sendiri, pribadi yang bijak melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.

Persahabatan rumah bujang akan selalu dikenang.

SEKIAN……..