ASAM SITRAT

11 October 2016 11:36:41 Dibaca : 79

Pembuatan Asam Sitrat
Dalam proses produksi asam sitrat yang sampai saat ini lazim digunakan, biakan kapang Aspergillus niger diberi sukrosa agar membentuk asam sitrat. Setelah kapang disaring dari larutan yang dihasilkan, asam sitrat diisolasi dengan cara mengendapkannya dengan kalsium hidroksida membentuk garam kalsium sitrat. Asam sitrat di-regenerasi-kan dari kalsium sitrat dengan penambahan asam sulfat.
Cara lain pengisolasian asam sitrat dari hasil fermentasi adalah dengan ekstraksi menggunakan larutan hidrokarbon senyawa basa organik trilaurilamina yang diikuti dengan re-ekstraksi dari larutan organik tersebut dengan air.
1. Kegunaan Asam Sitrat
Penggunaan utama asam sitrat saat ini adalah sebagai zat pemberi cita rasa dan pengawet makanan dan minuman, terutama minuman ringan. Kode asam sitrat sebagai zat aditif makanan (E number ) adalah E330. Garam sitrat dengan berbagai jenis logam digunakan untuk menyediakan logam tersebut (sebagai bentuk biologis) dalam banyak suplemen makanan. Sifat sitrat sebagai larutan penyangga digunakan sebagai pengendali pH dalam larutan pembersih dalam rumah tangga dan obat-obatan.
Kemampuan asam sitrat untuk meng-kelat logam menjadikannya berguna sebagai bahan sabun dan deterjen. Dengan meng-kelat logam pada air sadah, asam sitrat memungkinkan sabun dan deterjen membentuk busa dan berfungsi dengan baik tanpa penambahan zat penghilang kesadahan. Demikian pula, asam sitrat digunakan untuk memulihkan bahan penukar ion yang digunakan pada alat penghilang kesadahan dengan menghilangkan ion-ion logam yang terakumulasi pada bahan penukar ion tersebut sebagai kompleks sitrat.
Asam sitrat digunakan di dalam industri bioteknologi dan obat-obatan untuk melapisi (passivate) pipa mesin dalam proses kemurnian tinggi sebagai ganti asam nitrat, karena asam nitrat dapat menjadi zat berbahaya setelah digunakan untuk keperluan tersebut, sementara asam sitrat tidak.
Asam sitrat dapat pula ditambahkan pada es krim untuk menjaga terpisahnya gelembung-gelembung lemak. Dalam resep makanan, asam sitrat dapat digunakan sebagai pengganti sari jeruk.
2  Keamanan Asam Sitrat
Asam sitrat dikategorikan aman digunakan pada makanan oleh semua badan pengawasan makanan nasional dan internasional utama. Senyawa ini secara alami terdapat pada semua jenis makhluk hidup, dan kelebihan asam sitrat dengan mudah dimetabolisme dan dihilangkan dari tubuh.
Paparan terhadap asam sitrat kering ataupun larutan asam sitrat pekat dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata. Pengenaan alat protektif (seperti sarung tangan atau kaca mata pelindung) perlu dilakukan saat menangani bahan-bahan tersebut.

Sikus asam sitrat
Siklus asam sitrat (bahasa Inggris: citric acid cycle, tricarboxylic acid cycle, TCA cycle, Krebs cycle, Szent-Györgyi-Krebs cycle) adalah sederetan jenjang reaksi metabolisme pernafasan selular yang terpacu enzim yang terjadi setelah proses glikolisis, dan bersama-sama merupakan pusat dari sekitar 500 reaksi metabolisme yang terjadi di dalam sel. Lintasan katabolisme akan menuju pada lintasan ini dengan membawa molekul kecil untuk diiris guna menghasilkan energi, sedangkan lintasan anabolisme merupakan lintasan yang bercabang keluar dari lintasan ini dengan penyediaan substrat senyawa karbon untuk keperluan biosintesis. “Metabolom dan jenjang reaksi pada siklus ini merupakan hasil karya Albert Szent-Györgyi and Hans Krebs”.
Pada sel eukariota, siklus asam sitrat terjadi pada mitokondria, sedangkan pada organisme aerob, siklus ini merupakan bagian dari lintasan metabolisme yang berperan dalam konversi kimiawi terhadap karbohidrat, lemak dan protein - menjadi karbon dioksida, air, dalam rangka menghasilkan suatu bentuk energi yang dapat digunakan. Reaksi lain pada lintasan katabolisme yang sama, antara lain glikolisis, oksidasi asam piruvat dan fosforilasi oksidatif.
Produk dari siklus asam sitrat adalah prekursor bagi berbagai jenis senyawa organik. Asam sitrat merupakan prekursor dari kolesterol dan asam lemak, asam ketoglutarat-alfa merupakan prekursor dari asam glutamat, purina dan beberapa asam amino, suksinil-KoA merupakan prekursor dari heme dan klorofil, asam oksaloasetat merupakan prekursor dari asam aspartat, purina, pirimidina dan beberapa asam amino.

Proses Pembentukan Asam Sitrat
Siklus asam sitrat dimulai dengan satu molekul asetil-KoA bereaksi dengan satu molekul H2O, melepaskan gugus koenzim-A, dan mendonorkan dua atom karbon yang tersisa dalam bentuk gugus asetil kepada asam oksaloasetat yang memiliki molekul dengan empat atom karbon, hingga menghasilkan asam sitrat dengan enam atom karbon.

SOSIOLOGI PERTNATIAN (Kelompok Tani)

28 July 2016 10:38:52 Dibaca : 187

KELOMPOKTANI

Pengertian Kelompoktani
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No.273/Kpts/OT.160/4/2007, kelompoktani adalah kumpulan petani/peternak/ pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi, lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.
Menurut Purwanto (2007), kelompoktani adalah kumpulan petani-nelayan yang didasarkan atas kesamaan, keserasian satu lingkungan sosial budaya untuk mencapai tujuan yang sama, dengan demikian kelompoktani mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Beranggotakan petani-nelayan;
2) Hubungan antara anggota erat;
3) Mempunyai pandangan, kepentingan yang sama dalam mengelolah usahataninya;
4) Mempunyai kesamaan jenis komoditas usaha;
5) Usahatani yang diusahakan merupakan sebuah ikatan fungsional/bisnis;
6) Mempunyai tujuan yang sama.

Ciri-ciri Kelompoktani
Ciri-ciri kelompoktani yakni: a) saling mengenal, akrab dan saling percaya diantara sesama anggota; b) mempunyai pandangan dan kepentingan yang sama dalam usahatani; c) memiliki kesamaan dalam tradisi dan atau pemukiman, hamparan usaha, jenis usaha, status ekonomi maupun sosial, bahasa, pendidikan dan ekologi; dan d) ada pembagian tugas dan tanggung jawab sesama anggota berdasarkan kesepakatan bersama.
Adapun unsur pengikat kelompoktani adalah sebagai berikut:
1) Adanya kepentingan yang sama diantara para anggotanya;
2) Adanya kawasan usahatani yang menjadi tanggung jawab bersama diantara para anggotanya;
3) Adanya kader tani yang berdedikasi untuk menggerakkan para petani dan kepemimpinannya diterima oleh sesama petani lainnya;
4) Adanya kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh sekurang-kurangnya sebagian besar anggotanya; dan
5) Adanya dorongan atau motivasi dari tokoh masyarakat setempat untuk menunjang program yang telah ditentukan.

Fungsi Kelompoktani
Pembinaan kelompoktani-nelayan diarahkan untuk memberdayakan petani nelayan agar memiliki kekuatan mandiri, yang mampu menerapkan inovasi (teknis, sosial dan ekonomi), mampu memanfaatkan azas skala ekonomi dan mampu menghadapi resiko usaha, sehingga memperoleh tingkat pendapatan dan kesejahteraan yang layak, untuk itu pembinaan diarahkan agar kelompoktani dapat berfungsi sebagai kelas belajar mengajar, sebagai unit produksi, serta sebagai wahana kerjasama menuju kelompoktani sebagai kelompok usaha (Pusluhtan, 2002).
a. Kelas belajar: Kelompoktani merupakan wadah belajar mengajar bagi anggotanya guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap (PKS) serta tumbuh dan berkembangnya kemandirian dalam berusaha tani sehingga produktivitasnya meningkat, pendapatannya bertambah serta kehidupan yang lebih sejahtera.
b. Wahana kerjasama: Kelompoktani merupakan tempat untuk memperkuat kerjasama diantara sesama petani dalam kelompoktani dan antar kelompoktani serta dengan pihak lain. Melalui kerjasama ini diharapkan usaha lainnya akan lebih efisien serta lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.
c. Unit produksi: Usahatani yang dilakukan oleh masing-masing anggota kelompoktani, secara keseluruhan harus dipandang sebagai suatu kesatuan usaha yang dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi, baik dipandang dari segi kuantitas, kualitas maupun kontinuitas.

Klasifikasi Kelompoktani
Pusluhtan (1996), menjelaskan bahwa klasifikasi kelompoktani-nelayan ditetapkan berdasarkan nilai yang dicapai oleh masing-masing kelompok dari hasil evaluasi dengan menggunakan lima jurus kemampuan kelompok.
Menurut BPSDMP (1996), bahwa kelas kemampuan kelompoktani-nelayan ditetapkan berdasarkan nilai yang dicapai oleh masing-masing kelompok untuk lima tolak ukur/jurus kemampuan kelompok, yakni dengan kriteria nilai 0 sampai dengan 1000.
Berdasarkan nilai tingkat kemampuan tersebut, masing-masing kelompoktani-nelayan ditetapkan kelasnya dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Kelas Pemula, merupakan kelas terbawah dan terendah dengan mempunyai nilai 0 sampai dengan 250.
b. Kelas Lanjut, merupakan kelas yang lebih tinggi dari kelas pemula dimana kelompoktani-nelayan sudah melakukan kegiatan perencanaan meskipun masih terbatas, dengan mempunyai nilai 251 sampai dengan 500.
c. Kelas Madya, merupakan kelas berikutnya setelah kelas lanjut dimana kemampuan kelompoktani-nelayan lebih tingggi dari kelas lanjut yaitu dengan nilai 501 sampai dengan 750.
d. Kelas Utama, merupakan kelas kemampuan kelompok yang tertinggi, dimana kelompoktani-nelayan sudah berjalan dengan sendirinya atas dasar prakarsa dan swadaya sendiri. Nilai kemampuan diatas 750.
Berdasarkan SK Menteri Pertanian No.41/Kpts.OT.210/1/1992, tentang pedoman pembinaan kelompoktani-nelayan, maka pengakuan terhadap kemampuan kelompok diatur sebagai berikut:
a. Kelas Pemula, dengan piagam yang ditandatangani oleh Kepala Desa.
b. Kelas Lanjut, dengan piagam yang ditandatangani oleh Camat.
c. Kelas Madya, dengan piagam yang ditandatangani oleh Bupati/Walikota.
d. Kelas Utama, dengan piagam yang ditandatangani oleh Gubernur.

Pembinaan dan Pemberdayaan
Pembinaan kelompoktani diarahkan untuk memberdayakan petani agar memiliki kekuatan mandiri, yang mampu menerapkan inovasi (teknis, sosial dan ekonomi), mampu memanfaatkan azas skala ekonomi dan mampu menghadapi resiko usaha, sehingga mampu memperoleh tingkat pendapatan dan kesejahteraan yang layak.
Untuk mencapai hal tersebut, penyuluhan pertanian dilakukan melalui pendekatan kelompok, membina terjalinnya kerjasama individu petani dalam proses belajar-mengajar untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, proses produksi untuk mencapai skala ekonomi, serta proses kerjasama melalui pembinaan hubungan melembaga dengan Koperasi Unit Desa (KUD) dan kerjasama dengan pelaku ekonomi lainnya (swasta dan BUMN) untuk pengelolaan usahatani mulai dari pengadaan sarana, kegiatan budidaya, pengolahan dan pemasaran hasil, dan selanjutnya kelompok dapat meningkatkan kerajasama sebagai kelompok usaha sehingga akan meningkatkan kemampuan petani untuk meningkatkan produktivitas pendapatan dan kesejahteraannya (Pusluhtan, 1996).
Di samping itu, sesama petani yang sudah maju dapat membentuk asosiasi satu komoditas atau kombinasi komoditas pertanian dengan menciptakan kerjasama profesional dikalangan produsen komoditas pertanian dalam mencapai tujuan komersial.
Untuk meningkatkan peranan petani dalam pembangunan pertanian, khususnya dalam memecahkan berbagai masalah pembangunan di wilayahnya, menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah, maka dipilih kontaktani-nelayan yang handal di setiap desa sebagai Kontaktani-nelayan Andalan (KTNA), yang selanjutnya membentuk Kelompok KTNA pada tingkat kecamatan, kabupaten/ kota, provinsi dan nasional. Dengan demikian, petani-nelayan akan turut berperan dalam pembangunan di wilayahnya maupun pembangunan nasional, khususnya dalam sektor pertanian.
Pembinaan dan pengembangan kelembagaan petani-nelayan diharapkan semakin mengembangkan kemandirian dan kemampuan kelompok, sehingga para penyuluh pertanian dan instansi terkait dapat menyusun program pembinaan yang terarah dalam meningkatkan kemampuan kelompoktani di wilayah kerjanya.
Pusluhtan (1996), menjelaskan bahwa penilaian kelas kemampuan kelompoktani dilaksanakan berdasarkan lima jurus kemampuan kelompok, yang selanjutnya dinilai dengan menggunakan indikator-indikator tertentu, yaitu:
a. Kemampuan merencanakan kegiatan untuk meningkatkan produktivitas usahatani (termasuk pasca panen dan analisis usahatani) para anggotanya, dengan penerapan rekomendasi yang tepat dan memanfaatkan sumberdaya alam secara optimal, Indikator:
§ Kemampuan merencanakan pemanfaatan SDA yang tersedia;
§ Kemampuan merencanakan usaha kelompok guna mencapai skala usaha;
§ Kemampuan merencanakan pelaksanaan rekomendasi teknologi;
§ Kemampuan merencanakan pengadaan sarana produksi;
§ Kemampuan merencanakan pengadaan atau pengembalian kredit;
§ Kemampuan merencanakan pengolahan dan pemasaran hasil;
§ Kemampuan merencanakan kegiatan dalam meningkatkan PSK; dan
§ Kemampuan melakukan analisis usahatani.

b. Kemampuan melaksanakan dan mentaati perjanjian dengan pihak lain, Indikator :
§ Kemampuan memperoleh kemitraan usaha yang menguntungkan bagi usahatani kelompok;
§ Mampu membuat perjanjian kerjasama dengan mitra usaha/pihak lain;
§ Mampu memperoleh hak kelompok sesuai perjanjian dengan pihak lain;
§ Kemampuan melaksanakan kewajiban kelompok sesuai perjanjian dengan pihak lain;
§ Mampu saling memberi informasi dalam kerjasama dengan pihak lain;
§ Kemampuan menerapkan 5 tepat (kualitas, kuantitas, harga, waktu dan tempat) dalam kerjasama dengan pihak lain; dan
§ Kemampuan mentaati peraturan/perundangan yang berlaku.

c. Kemampuan pemupukan modal dan pemanfaatan pendapatan secara rasional, Indikator :
§ Kemampuan memupuk modal, baik dari tabungan anggota, penyisihan hasil usaha, simpan pinjam maupun pendapatan dari usaha kelompok;
§ Kemampuan mengembangkan modal usaha di bidang produksi, pengolahan hasil dan atau pemasaran untuk mencapai skala ekonomi;
§ Kemampuan memanfaatkan pendapatan secara produktif;
§ Kemampuan mengadakan dan mengembangkan fasilitas atau sarana kerja;
§ Kemampuan mendapatkan dan mengembalikan kredit dari Bank atau pihak lain.

d. Kemampuan meningkatkan hubungan yang melembaga antar kelompoktani-nelayan dengan KUD, Indikator:
§ Kemampuan mendorong anggotanya menjadi anggota koperasi/KUD;
§ Kemampuan meningkatkan pengetahuan perkoperasian bagi anggota;
§ Kemampuan memperjuangkan anggotanya menjadi pengurus koperasi;
§ Kemampuan memanfaatkan pelayanan yang disediakan koperasi/KUD;
§ Kemampuan meningkatkan kegiatan kelompok menjadi salah satu kegiatan utama koperasi/KUD;
§ Kemampuan menjadikan kelompok sebagai Tempat Pelayanan Koperasi (TPK) atau Unit Usaha Otonom (UUO) koperasi/KUD;
§ Kemampuan menjadikan koperasi/KUD sebagai penyedia sarana, pelaksana pengolahan atau pemasaran hasil;
§ Kemampuan untuk menabung dan memperoleh pinjaman/kredit dari koperasi/KUD; dan
§ Kemampuan untuk berperan serta memajukan koperasi/KUD.

e. Kemampuan menerapkan teknologi dan pemanfaatan informasi serta kerjasama kelompok yang dicerminkan oleh tingkat produktivitas dari usahatani para anggota kelompok, Indikator:
§ Kemampuan secara teratur dan terus menerus mencari, menyampaikan, meneruskan dan memanfaatkan informasi;
§ Kemampuan melaksanakan kerjasama antar anggota dalam pelaksanaan seluruh rencana kelompok;
§ Kemampuan melakukan pencatatan dan evaluasi untuk peningkatan usahatani;
§ Kemampuan meningkatkan kelestarian lingkungan;
§ Kemampuan mengembangkan kader kepemimpinan dan keahlian dari anggota kelompok;
§ Tingkat produktivitas usahatani seluruh anggota kelompok (dibandingkan dengan rata-rata produktivitas komoditas sejenis di daerah yang bersangkutan);
§ Tingkat pendapatan usahatani seluruh anggota kelompok (dibandingkan dengan rata-rata daerah yang bersangkutan untuk satuan tertentu); dan
§ Tingkat kesejahteraan petani seluruh anggota kelompok (komposisi jumlah keluarga prasejahtera, sejahtera I, II dan III dibandingkan dengan rata-rata daerah yang bersangkutan.

Dinamika Kelompoktani
Menurut Purwanto (2007), dinamika kelompoktani adalah seluruh aktivitas dari kekuatan interen dan eksteren secara interaktif dari seluruh anggota kelompok. Sedangkan kelompok dikatakan dinamis apabila semua unsur yang ada dalam kelompok berinteraksi dan berperan sesuai fungsinya,
Selanjutnya untuk mengukur kedinamisan dalam suatu kelompok dapat dilihat dari segi:
1) pertemuan kelompok;
2) produksi usahatani meningkat;
3) adanya rencana kerja;
4) pengurus aktif (berfungsi);
5) norma kelompok ditaati;
6) adanya tabungan;
7) pendapatan dan Kesejahteraan.

Tugas Sosper

28 July 2016 10:32:09 Dibaca : 88

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam memasuki era globalisasi belakangan ini, tantangan dan persaingan untuk maju dalam segala bidang sangat ketat, maka dibutuhkan peran aktif yang tulus dari segenap lapisan masyarakat untuk menumbuh kembangkan pembangunan yang merata.
Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau semi terbuka, dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Masyarakat mengandung aspek dinamis yang bertempat tinggal di wilayah. Aspek dinamis ini mencerminkan dalam pola hubungan, cara-cara bergaul, cara hidup, dan cara-cara bertindak orang-orang yang ada disuatu wilayah tersebut. Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana struktur sosial masyarakat di Desa Dunggala Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango?
2. Bagaimana struktur ekonomi masyarakat Di Desa Dunggala Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui struktur sosial masyarakat Di Desa Dunggala Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango?
2. Untuk mengetahui struktur ekonomi masyarakat Di Desa Dunggala Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Struktur Masyarakat Desa
Masyarakat desa sering diartikan sebagai masyarakat tradisional dari masyarakat primitif (sederhana). Namun pandangan tersebut sebetulnya kurang tepat, karena masyarakat desa adalah masyarakat yang tinggal di suatu kawasan, wilayah, teritorial tertentu yang disebut desa. Sedangkan masyarakat tradisional adalah masyarakat. yang menguasaan ipteknya rendah sehingga hidupnya masih sederhana dan belum kompleks. masyarakat desa dinegara sedang berkembang seperti Indonesia, ukurannya terdapat pada masyarakat desa yaitu bersifat tradisional dan hidupnya masih sederhana, karena desa-desa di Indonesia pada umumnya jauh dari pengaruh budaya asing/luar yang dapat mempengaruhi perubahan-perubahan pola hidupnya. (Saragi, et al 2004)
2.2 Struktur Sosial
Struktur sosial adalah susunan bagaimana masyarakat itu terbentuk dalam
suatu susunan baik secara vertikal maupun horizontal, selain itu struktur sosial dapat dilihat dari aktivitas masyarakatnya sehari-hari dalam suatu komunitas. Begitu pula dengan struktur sosial di pedesaan yang pada umumnya aktivitas penduduknya adalah homogen, mulai dari mata pencaharian, hubungan sosial yang masih bersifat intens dan stratifikasi sosial yang berdasarkan kepemilikan lahan atau kepemilikan hewan ternak.
Dalam struktur sosial pedesaan secara umum adalah struktur sosial yang sederhana dengan tingkat kompleksitasnya masih rendah bukan hanya persoalan struktur yang sederhana namun pada struktur sosial pedesaan terdapat pola hubungan sosial dalam hubungan produksi antar kalangan peternak yang pada akhirnya pola hubungan tersebut akan membentuk suatu aktivitas lokal dan menjadi karakteristik tersendiri dari sebuah struktur sosial masyarakat.
Menurut Soekanto (1990), beberapa sosiolog menganggap bahwa kerjasama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang per orangan, antara kelompok manusia, maupun orang per orangan dengan kelompok manusia. Pada struktur sosial pedesaan, pola hubungan sosialnya seperti yang dijelaskan diatas terbentuk karena intensitas interaksi pada masyarakat.
2.3 Struktur Ekonomi
Istilah struktur dipakai untuk menunjukkan susunan atau komposisi dari sesuatu. Struktur ekonomi dipergunakan untuk menunjukkan komposisi atau susunan sektor-sektor ekonomi dalam suatu perekonomian. Sektor yang dominan atau yang diandalkan mempunyai kedudukan paling atas dalam struktur tersebut dan menjadi ciri khas dari suatu perekonomian.
Dikenal dua macam struktur ekonomi, yaitu struktur ekonomi agraris, ialah struktur ekonomi yang didominasi oleh sektor pertanian. Sektor pertanian menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar penduduknya. Pada umumnya Negara-negara berkembang (developing countries) termasuk Indonesia disebut Negara agraris, dan Negara-negara yang termasuk Negara-negara belum berkembang (under developed countries) yang pertaniannya masih sangat tradisional dikategorikan sebagai Negara agraris tradisional. Struktur ekonomi yang kedua ialah struktur ekonomi Industri, dimana struktur ekonomi didominasi oleh sektor industri.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengamatan Struktur Sosial
3.1.1 Kelompok Masyarakat Petani
 Kelompok Tani
Kelompok Tani pada dasarnya adalah organisasi non formal di pedesaan yang ditumbuh kembangkan “dari, oleh dan untuk petani”. Berikut hasil wawancara salah satu anggota kelompok tani di Desa Dunggala, Kecamatan Tapa. Kabupaten Bone Bolango.
Nama : Kisman Huntoyungo
Umur : 50 Tahun
Kelompok tani : Brima Jaya
Tanaman yang di budidayakan : Tanaman Jagung dan Cabe rawit
Didesa Dunggala sudah terbentuk 4 kelompok tani yang terdiri dari:
1. Kelompok Tani Tekad Makmur
2. Kelompok Tani Brima Jaya
3. Kelompok Tani Biluanga Jaya
4. Kelompok Tani Biawu Jaya.
Kelompok Tani Brima Jaya memiliki anggota dengan jumlah 38 anggota. Berikut struktur kelompok tani Brima Jaya:
Ketua : Yakob Ibrahim
Sekretaris : Mustar Amu
Bendahara : Rustam Af’ali
3.1.2 Kelompok Pemuda Dan Keagamaan
 Karang Taruna
Karang Taruna adalah organisasi pemuda atau remaja Indonesia yang tersebar di wilayah desa/kelurahan. Sehingga karang taruna boleh dikatakan sebagai organisasi modern dan bukan organisai konvensional yang mengangkat pengurus dari kalangan keluarga, keturunan dan kerabat. Dikatakan organisasi modern adalah : “Organisasi dimana faktor-faktor yang bersifat pribadi tidak memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan. Organisai modern disebut juga sebagai organisai rasional dan legal, adalah organisasi yang dalam kegiatannya terdapat pemisahan yang tegas antara urusan pribadi dengan urusan organisasi”. (Saragi, 2004).
Adapun gambaran Kepengurusan Karang Taruna Desa Dunggala Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango adalah sebagai berikut:

 Kelompok Pemuda Keagamaan
Ketua : Bustamin Rauf
Sekretaris : Noviyanti Umar
Bendahara : Niken Ibrahim

3.1.3 Kelompok Organisasi Kewanitaan
Berikut struktur organisasi kewanitaan (PKK)

Adapun hasil wawancara mengenai Program Kerja PKK Desa Dunggala, Kec. Tapa, Kab. Bone Bolango:
• Bidang pangan : Membuat Kue
• Bidang Sandang : Kerajinan Tangan membuat anyaman
• Kelestarian Lingkungan : Menanam Pohon dan Kerja Bakti
• Bidang Lainnya : Lomba gerak Jalan dan lain-lain.
3.2 Pengamatan Struktur Ekonomi
3.2.1 Kepemilikan Lahan Pertanian
Berikut hasil wawancara salah satu anggota yang tergabung dalam kelompok tani Brima Jaya:
Nama : Kisman Huntoyungo
Umur : 50 Tahun
Luas Lahan : 1 ha
Lahan tersebut ditanaman tanaman jagung dan cabe rawit, hasil produksi dari kedua jenis tanaman tersebut sebagian di konsumsi sebagian lainnya di jual. Selama menunggu masa panen tiba, petani bekerja sampingan yaitu membantu keluargannya dengan pekerjaan sebagai buruh bangunan.
3.2.2 Kepemilikan Harta/Warisan
Nama : Kisman Huntoyungo
Umur : 50 Tahun
Harta : Tidak punya
3.2.3 Kepemilikan Usaha Dan Perekonomian
Nama : Samsia Bakari
Umur : 48 Tahun
Usaha : Kios
Untuk menghidupi keluarga beliau membuka usaha kios. Barang yang dijual berupa; beras, sabun, sampo, kopi, rokok dan minyak goreng. Barang tersebut dibutuhkan oleh penduduk disekitar tempat tersebut.
3.2.4 Luas Dan Produksi Pertanian
Nama : Kisman Huntoyungo
Luas Lahan : < 1 ha
Produksi Pertanian : Tanaman Pangan seperti Jagung dan Tanaman
Hortikultura seperti cabe rawit
3.2.5 Akses Pasar Dan Pemasaran Produksi
Untuk menjual produksi pertanian petani tersebut menjualnya melalui pengepul/tengkulak atau langsung dibawa ke pasar tradisional.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis struktur masyarakat di Desa Dunggala Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango, yang diamati kelompok struktur sosial yaitu kelompok masyarakat pertanian yaitu kelompok tani lahan kering. Kelompok ini membudidayakan tanaman pangan berupa jagung dan tanaman hortikultura seperti cabe rawit.
Serta mengamati struktur ekonomi masyarakat desa, yaitu kelompok kepemilikan lahan pertanian, lahan yang diolah yaitu lahan sendiri karena sebagaian besar mata pencaharian penduduk desa yaitu sebagai petani.

DAFTAR PUSTAKA
Saragi P, Tumpal. 2004 Mewujudkan Otonomi Masyarakat Desa, Alternative
Pemberdayaan Desa, pen. Cipruy, Yogyakarta,
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Press, Jakarta.

LAMPIRAN

Kepemilikan usaha Anggota kelompok tani

Kegiatan Keagamaan Desa Dunggala

laporan mikrobiologi 6

28 July 2016 10:29:42 Dibaca : 95

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Mikroba memerlukan nutrisi untuk pertumbuhan. Organisme ini sangat bergantung pada lingkungan sekitar. Mikroorganisme ini tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan, sehingga untuk hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan mikroorganisme meliputi faktor-faktor abiotik dan faktor biotik.
Pertumbuhan mikroba diartikan sebagai pembelahan sel atau semakin banyaknya organisme yang terbentuk. Pengetahuan akan nutrisi pertumbuhan ini akan membantu di dalam mengkultivasi, mengisolasi, dan mengidentifikasi mikroba. Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya. Ada mikroba yang bisa hidup hanya pada media yang mengandung sulfur dan ada pula yang tidak mampu hidup dan seterusnya. Karakteristik persyaratan pertumbuhan mikroba inilah yang menyebabkan bermacam-macamnya media penunjang pertumbuhan mikroba.
Mikroba akan semakin cepat pertumbuhannya apabila diinkubasi dalam suasana yang disukai oleh mikroba. Kondisi pertumbuhan suatu mikroba tidak akan lepas dari faktor fisika-kimia, seperti pH, suhu, tekanan, salinitas, kandungan nutrisi media, sterilitas media, kontaminan dan paparan radiasi yang bersifat inhibitor.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum adalah untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroba.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan mikroba pada umumnya tergantung pada faktor lingkungan. Perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi, fisologi pada mikroba. Hal ini dikarenakan mikroba, selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan mikroba yang optimum. Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi menunjukan respon yang berbeda-beda untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba diperlukan suatu kombinasi antara nutrien dan faktor lingkungan yang sesuai (Pelczar et al, 1986).
Kehidupan mikroba tidak hanya dipengaruhi faktor lingkungan akan tetapi juga keaadan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pH dari medium tempat ia hidup, perubahan ini disebut perubahan kimia. (Hadioetomo,1993)
Selain untuk menyediakan nutrien yang sesuai dengan kultivitas, mikroba juga perlu disediakan kondisi fisik yang memungkinkan pertumbuhan optimum mikroba khususnya bakteri yang sangat bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukkan respon yang berbeda-beda terhadap kondisi fisik di dalam lingkungannya. Untuk berhasilnya kultivitas berbagai variasi mikroorganisme, dibutuhkan suatu kombinasi nutrien serta lingkungan fisik yang sesuai. Selain itu suhu juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme.
Keragaman suhu dapat juga mempengaruhi atau merubah proses metabolik tertentu serta morfologi sel. Suhu inkubasi yang memungkinkan pertumbuhan tersepat selama periode waktu yang singkat (12sampai 24 jam) yang dikenal sebagai suhu pertumbuhan yang optimum. PH optimum pertumbuhan kebanyakan bakteri terletak 6,5 sampai 7,5. Namun, beberapa yang dapat tumbuh dalam keadaan yang sangat masam atau yang sangat alkalin. Kebanyakan yang mempunyai nilai PH minimum dan maksimum ialah 4 dan 9 (Pelczar, dkk., 1986).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroba dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 16 Mei 2016. Bertempat di Laboratorium kantor BPTPH Provinsi Gorontalo.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah Tabung reaksi, Gelas ukur, Pipet ukur, Kertas millimeter, Lampu spritus, Jarum ose, medium NA dan PDA, Alkohol, Aquades, detol dan soklin lantai.
3.3 Prosedur keja
1. Sterilkan tangan dengan cara menyemprotkan alkohol
2. Siapkan suspensi biakan miroba dengan kosentrasi 10 ml dan cawan petri sebanyak 4 buah
3. Ambil 0.1 ml suspensi untuk tiap-tiap pengenceran. Masukan pada cawan petri yang berbeda. Kemudian tambahkan 10 ml medium PDA kedalam masing-masing cawan.
4. Campur secara merata cara menggoyangkan cawan petri diatas meja diamkan sampai padat.
5. Ambil lembaran kertas cakram kemudian celupkan dalam alkohol, angkat, kemudian letakkan ditengah-tengah cawan petri yang telah berisi antiseptic (detol)
6. Inkubasikan pada suhu ruang selama 1-2 hari.
7. Amati pertumbuhan mikroba.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
PERLAKUAN PENGAMATAN
Suhu :
a) Kulkas
b) Ruang
c) Oven Kuantitas (banyak/sedang/sedikit)

Diameter zona hambat (mm)
Logam berat -
Antiseptic Detol (Tidak Berpengaruh )
Desinfektan Soklin lantai (Diameter 1,5 mm)

4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan pengaruh lingkungan terhadap mikroba di dapat hasil yaitu:
Pada percobaan menggunakan antiseptic (detol) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba. Karena detol merupakan antiseptic cair yang digunakan untuk mencuci atau mandi. Detol tersebut mengandung bahan kloroxilenol yang dapat merusak protein bakteri yang ada.
Pada desinfektan (soklin lantai) terlihat pertumbuhan mikroba. Pertumbuhan mikroba dapat dilihat dari diamterr zona hambat (lihat pada tabel pengamatan diatas).Zona hambat itu sendiri adalah daerah disekitar zat kimia yang tidak terdapat mikroba. Karena mikroba (bakteri) menjauhi daerah tersebut.
Desinfektan tidak memiliki daya penetrasi sehingga tidak mampu membunuh mikroorganisme yang terdapat di dalam celah atau cemaran mineral. Selain itu disinfektan tidak dapat membunuh spora bakteri sehingga dibutuhkan metode lain seperti sterilisasi dengan autoklaf.
Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan bakteri adalah umur bakteri. Bakteri yang muda daya tahannya terhadap desinfektan lebih kurang daripada bakteri tua. Pekat encernya konsentrasi, lamanya berada di bawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang diperhitungkan. Kenaikan temperatur menambah daya desinfektan.
Pertumbuhan Mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme yaitu faktor abiotik, meliputi pengaruh suhu, pH dan pengaruh daya desinfektan. Selain itu juga pengaruh biotik yaitu antibiose.
Adapun pengaruh pH pada pertumbuhan mikroorganisme yaitu suatu mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik pada pH yang tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa. Hanya beberapa jenis bakteri tertentu yang dapat bertahan dalam suasana asam ataupun basa. Suatu mikroorganisme memerlukan kondisi lingkungan yang cocok untuk melakukan metabolisme.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari uraian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Faktor lingkungan (abiotik) yang digunakan adalah antiseptic (detol) dan desinfektan (soklin lantai)
2. Antiseptic (detol) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba karena detol hanya digunakan untuk pencuci tangan atau untuk mandi
3. Soklin lantai mempengaruhi pertumbuhan mikroba, dilihat dari hasil pengamatannya memiliki zona hambat sebesar 1,5 mm.
5.2 Saran
Pada saat melakukan praktikum harus teliti dan steril karena mempengaruhi hasil praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Pleczar, M.J dan Chan, E.C.S. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi
Hadioetomo, R.S . 1993. Teknik Dan Prosedur Dasar Mikrobiologi. Gramedia. Jakarta

 

laporan mikrobiologi 5

28 July 2016 10:28:36 Dibaca : 80

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Setelah melakukan isolasi maka langkah selanjutnya yaitu melakukan penghitungan jumlah mikroba. Penghitungan mikroba merupakan tindak lanjut dari langkah sebelumnya. Penghitungan mikroba ini dipengaruhi juga oleh proses isolasi, jika dalam mengisolasi mikroba berhasil, atau melakukan dengan cara yang benar dan isolasi tersebut tidak terkontaminasi maka pada saat melakukan penghitungan jumlah mikroba kita tidak kesulitan, karena ada yang bisa kita amati atau dihitung. Sehingga langkah sebelumnya isolasi menentukan langkah selanjutnya yaitu penghitungan jumah mikroba.
Ada beberapa cara untuk mengukur atau menghitung mikroba yaitu dengan perhitungan jumlah sel, penghitungan massa sel secara langsung dan tidak langsung. Penghitungan jumlah sel dapat dilakukan dengan mikroskop, plate count atau hitung cawan.
Penghitungan jumlah mikroba dilakukan untuk melihat berapa banyak jumlah mikroba yang tumbuh pada medium yang di tanam. Penghitungan jumlah mikroba ini untuk menentukan mikroba yang sudah berkolonisasi sehingga dalam penghitungannya kita bisa menghitung langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. Namun jika jumlahnya sudah sangat banyak maka kita perlu menggunakan alat bantu atau yang biasa kita sebut dengan colonycounter.
Berikut akan diuraikan bagaimana cara melakukan penghitungan jumlah mikroba.

1.2 Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum penghitungan jumlah mikroba yaitu untuk mengetahui cara menghitung jumlah mikroba yang tumbuh pada medium yang dibuat pada teknik isolasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Perhitungan mikroba adalah suatu cara yang digunkan untuk menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada suatu media pembiakan. Secara mendasar ada dua cara penghitungan mikroba yaitu penghitungan secara langsung dengan cara membuat preparat yang diamati langsung menggunakan mikroskop di ruang hitung dan cara tidak langsung menggunakan cawan petri atau total plate count (Wheeler, 1993)
Dalam percobaan tentang perhitungan jumlah mikroba digunakan metode total plate count (TPC). metode ini merupakan analisis untuk menguji cemaran mikroba dengan menggunakan metode pengenceran dan metode cawan tuang. Metode cawan tuang adalah metode per plate. Metode ini dilakukan dengan mengencerkan sumber isolate yang telah diketahui beratnya ke dalam 9 ml larutan garam fisiologis, larutan yang digunakan sekitar 1 ml suspense ke dalam cawan petri steril, dilanjutkan dengan menuangkan media penyubur (nutrient agar), NA / media penyubur merupakan nutrisi untuk makanan mikroba (dwidjoseputro. 2005).
Pada tiap perhitungan bakteri ketepatan berkurang dengan meningkatnnya konsentrasi sel-sel. Begitu halnya bila jumlah yang dihitung terlalu kecil. Bahan yang mengandung sejumlah bakteri (kira-kira lebih dari 104 /ml) biasanya diencerkan dari 1 sampai 105 atau lebih tergantung pada bahan pemeriksaan atau metode hitung, sehingga hasil hitungan yang diperoleh dapat memudahkan perhitungan.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum penghitungan jumlah mikroba dilaksanakan pada hari senin,
tanggal 16 mei 2016, Bertempat di Laboratorium Terpadu Fakultas Ilmun Pertanian, Universitas Negri Gorontalo.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu: timbangan analitik, Labu erlenmayer, Tabung reaksi, Cawan petri, Spatula, Pipet ukur, Aquades, Tanah, Medium PDA dan Medium NA.
3.3 Prosedur Kerja
1) Siapkan aquades 250 ml dalam Erlenmeyer dan 5 tabung reaksi yang masing-masing berisi 10 ml aquades. Berikan label pada masing-masing 10⁻2,10⁻3,10⁻4,10⁻5,10⁻6.
2) Menimbang secara steril 1 gram tanah, masukan kedalam Erlenmeyer yang berisi 100 ml aquades steril, kocok sampai terbentuk suspensi (pengenceran konsentrasi 10⁻²).
3) Ambil 1 ml suspensi dari erlenmeyer tadi menggunakan pipet ukur, selanjutnya masukan kedalam tabung reaksi yang berisi 10 ml aquades dan berlabel 10⁻2.
4) Ulangi prosedur kedua dengan mengambil suspensi dari tabung reaksi 10⁻ᶾ begitu seterusnya sampai tabung reaksi 10-6.
5) Siapkan cawan petri 10 buah dan 10 ml medium PDA atau NA yang telah mencair. Ambil 0,1 ml suspensi untuk tiap-tiap pengenceran kemudian masukan pada cawan petri (sambil dekatkan pada lampu bunsen yang menyala) yang berbeda.

6) Medium dan larutan yang sudah diencerkan, kemudian di campur secara merata dengan cara mengoyangkan cawan petri diatas meja (membentuk angka 8).
7) Beri label masing-masing cawan petri dan bungkus kembali cawan petri dengan kertas.
8) Masukan kedalam inkubator untuk di inkubasikan pada suhu ruang selama 1-2 hari ( 2 X 24 jam).
9) Amati jumlah koloni yang tumbuh.

.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berikut hasil praktikum penghitungan jumlah mikroba pada konsentrasi larutan pengenceran yang berbeda terdapat pada tabel berikut.
Pengenceran Ulangan Jumlah koloni Rata-rata Keterangan
10⁻² I 267
183,5
1,8.105

4,2 101.103

4,2 101.103
1,8.102.103

4,2.104
1,8.104

2,3
II 100
10⁻ᶾ I 61
42
II 23
10⁻⁴ I 10
7,5
II 5
10⁻⁵ I 44
29,5
II 15
10⁻⁶ I 18
15,5
II 13

4.2 Pembahasan
Pada praktikum perhitungan mikroba pengenceran yang kami lakukan adalah pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, 10-6 . Dari hasil penghitungan jumlah mikroba yang medekati angka 30 sampai angka 300 jumlah koloninnya yaitu didapat dari pengenceran 10-2 dan 10-3. Karena hasil penghitungannya medekati angka 30 sampai 300 jumlah koloni.
Dalam perhitungannya menggunakan metode cawan hitung atau plate count. Hasil yang didapat pada pengenceran 10-4 lebih sedikit jumlah bakteri yang tumbuh. Hal yang menyebabkan jumlah bakteri tumbuh lebih sedikit yaitu pada saat melakukan pengenceran maupun penghomogenan suspensi dengan media di cawan petri yang tidak steril pada pengenceran 10-4 sehingga terjadi kontaminasi.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya maka dapat disimpulkan:
1. Penghitungan mikroba dilakukan dengan metode cawan hitung (plate count).
2. Tujuan penghitungan jumlah mikroba yaitu untuk melihat berapa banyak jumlah mikroba yang tumbuh pada medium yang di tanam.
3. Penghitungan jumlah mikroba ini untuk menentukan mikroba yang sudah berkolonisasi sehingga dalam penghitungannya kita bisa menghitung langsung dengan mata telanjang tanpa bantuan mikroskop.
5.2 Saran
Diharapkan alat-alat yang digunakan dapat dilengkapi agar tidak mengganggu jalannya kegiatan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.
Wheeler , 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1. Erlangga. Jakarta