Duka & Air Mata Istri Sholehah

08 September 2012 09:15:49 Dibaca : 155 Kategori : Suara Hati (Nyata)

 

 Dari Savitri di Sulawesi Tenggara

 

Asalamu ‘alaikum Wr. Wb
Pendengar Nurani yang budiman
Namaku Savitri, biasa dipanggil Vitri, aku bertutur dimalam lewat program ini, bukan karena sedang emosi atau sedang menyesali apa yg sedang terjadi menimpaku saat ini, apalagi sampai bermaksud mengumbar aib keluargaku sendiri, yah..,  aku hanya ingin agar masalahku ini bias menjadi pelajaran dan dapat menjadi ibroh bagi yang lainnya..
Pendengar Nurani yang baik
Setiap wanita pasti menginginkan agar mendapatkan seorang pendamping hidup yang dapat memahaminya, mengayominya dan dapat menjadi imam baginya dan anak-anaknya kelak, seperti itupula halnya denganku, setelah mengenal dakwah bermanhaj salaf 2,5 tahun lamanya, dan mengikuti halaqah tarbiyah dan majelis ilmu lainnya dioranisasi islam yang menaungiku saat itu, Alhamdulillah banyak hal yang aku fahami, dan banyak hal pula yang mulai aku mengerti, terutama hal2 yang sacral dalam agama, sebab pemahaman itu aku dapati melalui proses yang intens selama 2.5 tahun itu, dan dari situlah impianku untuk bersuamkan pria sholeh, taat dan bertanggung jawab mulai muncul menggangu hatiku, dalam impian dan harapan itu aku begitu mendamba seorang lelaki yang telah tertarbiyah, faham ttg islam, bahkan berharap mendapatkan pria berilmu atau setara dengan kualitas para asatidzah..dan aku rasa tak ada salahnya aku berharap demikian meskipun dalam hati kecilku, aku sendiri tak mesti mematok bersuamikan ustadz, yaa paling gak agama dan aqidahnya bagus, itu sudah lebih dari cukup buat ana, dari pada harus jadi perawan tua sebab saking selekstifnya dalam memilih pasangan hidup, apalagi, Alhamdulillah dakwah fardiyah  pada keluargaku telah kutanamkan sebelumnya, terutama ibu dan bapakku.., sehingga dukungan dari mereka begitu besarnya padaku, kadang malah mereka sesekali minta diadakan tarbiyah gabungan dirumah atau meminta agar tarbiyahku diadakan dirumah setiap pekannya, dan itu adalah hal sangat aku syukuri..
Pendengar Nurani yang budiman
Dalam organisasi dakwah itu pula aku termasuk dalam aktifis yang super sibuk, memegang sejumlah halaqah ta’rifiyah dan segudang aktifitas lainnya, aku sangat menikmati hal itu, dan Alhamdulillah tak sedikitpun aku merasakan ada keletihan dalam diriku dengan berjubelnya kegiatanku, aku selalu berusaha menjadi yang terbaik buat ummat, sehingga bila saja dating tawaran kegiatan atas nama ummat, maka aku tidak pernah menolaknya.., semua itu aku lakukan tentunya semata2 karena Allah, meskipun terselip sedikit harapan lain, bahwa aku akan dipertemukan dengan seorang pria yang baik, lebih2 baik agama dan akhlaknya.., bukankah wanita2 yg baik diperuntukkan untuk lelaki2 yg baik pula..?
Pendengar Nurani yang budiman
Waktu terus bergulir, dan akhirnya akupun telah menamatkan kuliahku dengan menggondol S1 Informatika, dan entah secara kebetulan atau tidak, tak lama bereslang setelah itu Akhirnya masa penantianku itu berujung juga, sebab aku dikabari oleh LEMBAGA PERNIKAHAN bahwa ada seorang ikhwah yang ingin menghitbah aku, ikhwah ini berasal dari jawa tengah, namun oleh LEMBAGA PERNIKAHANdisampaikan padaku bahwa ikhwah ini baru 3 bulan lamnya mengikuti tarbiyah, Mas Rommy namanya, beliau bekerja disalah satu perusahaan swasta didaerahnya, dan telah menyatakan keinginannya untuk menikah karena orang tuanya memaksanya untuk segera menikah, sebab mas rommy adalah anak sulung mereka dan saat itu telah berusia mapan untuk berkeluarga, dan LEMBAGA PERNIKAHAN memediasi keinginan mas rommy untuk mencarikan akhwat yang bersedia menerima mas rommy dengan kapasitas “ikhwah baru” saat itu, yang kudengar bahwa akhwat yg akan dicalonkan dengan ikhwah ini adalah akhwat yg sudah lama tarbiyah atau yang sudah menjadi murobbi, alasannya agar dapat mengimbangi sang suami, serta menjadi control baginya kelak, bila nanti sang ikhwah ini akan future dan kembali kemasa lalunya. Dan jujur, informasi ttg adanya seorang ikhwah yg sedang mencari pendamping ini sudah aku ketahui sebelumnya dari teman2 akhwatku, sebab telah ada beberapa akhwat yang dikhitbahnya tapi tak satupun yang menerima lamaran ikhwah ini dengan alasan yg variatif, ada yg menolak dengan alasan bahwa ortunya belum merestui, ada yg menolak dengan alasan tidak mau diboyong kedaerah sang ikhwah dijawa, ada yg menolak dengan alasan masih ingin melanjutkan kuliah, dan ada yg lebih ekstrim menolak ikhwah ini dengan alasan karena sang ikhwah baru 3 bulan ikut tarbiyah, hingga akhirnya pinangan itu tertuju padaku, saat pinangan itu dating aku tak lantas memberikan jawaban apapun pada ikhwah itu, kulalui berbagai proses untuk mendapatkan keputusan yang bulat dari pinangan tersebut, yaitu antara menerima atau menolak lamaran ikhwah ini, kucoba berkonsultasi kepada murobbiyahku, juga kumintai saran dari kedua orang tuaku, serta tak lupa mengadu dan curhat kepada allah lewat sholat lailku, dan hasil akhir dari semua itu ternyata dikembalikan padaku sebab mereka memberi alasan bahwa akulah yang akan menjalani biduk Rumah tangga itu.
Pendnegar Nurani yang budiman
Dengan memalui berbagai pertimbangan serta dengan memohon Ridho Ilahi, akhirnya lamaran mas rommy aku terima.., dan Alahmdulillah setelah melewati beberapa proses seperti mulai dari ta’aruf dan nadzor, acara walimah kami resmi digelar secara syar’I dirumahku sepekan setalah segala pengurusan berlangsung, dan seperti pasangan suami istri pada umumnya, kami melewati proses pacaran itu setelah menikah, segalanya begitu indahnya, mas rommy Alhamdulillah adalah ikhwah yang baik meskipun baru tertarbiyah selama 3 bulan, pakaiannya pun syar’I alias tidak isbal, dan seperti ikhwah pada umumnya mas rommy juga memelihara sunnah rosul dengan memanjangkan jenggotnya yang lebat, kadang aku sering tersenyum saat memandangnya, sebab bila dipandangi sepintas, penampilan mas rommy layaknya seorang ustd besar dengan kapasitas ilmu yang cukup tinggi, sebab dari caranya bersosialisasi serta caranya berpenampilan tak ubahnya seperti seorang ustadz, menyadari semua itu aku mulai berangan2 yang tak lupa kubarengi dengan doa semoga suamiku akan senantiasa istiqamah dan rajin mempelajari ilmu agama serta rajin ikut tarbiyah, sehingga pengetahuan agamanya kelak akan setara dengan penampilannya.
Pendengar Nurani yang budiman
Setelah pernikahan itu, kami masih tinggal dirumah orang tuaku, dan Alhamdulillah 2 pekan setelahnya telah tumbuh benih2 cinta kami berdua, kami sangat bahagia saat itu, dan kesyukuran pun tak pernah lepas kami lakukan, terutama meninghkatkan volume ibadah kami, mas rommy juga tak pernah meninggalkan solat lailnya, saat itu aku merasa sangat bahagia, hingga akhirnya masa cuti kerja mas rommy berakhir dan 3 hari sebelum masa cuti tugasnya berakhir, kami berangkat kejawa, kekampungnya mas rommy, sedih rasanya kirasakan, karena harus berpisah dengan akhwat2ku tercinta, meninggalkan jama’ah disana, meninggalkan kampong halaman, terutama meninggalkan orang tua tercinta, tapi itulah konsekuensi dari pernikahan, seorang istri yg taat harus rela kemana aja mengikuti dan mendampingi suami tercintanya bertugas, demikian pula dengan diriku, setelah tiba dikampungnya mas rommy, ternyata segalanya telah dipersiapkan, mas rommy ternyata memang pria mapan, sebab sebelum pernikahan tersebut, dia telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut keluarga barunya, mulai membeli rumah pribadi dan segala fasilitas didalamnya, jujur aku merasa bahagia dengan semua itu, bukan karena aku materialistis, tapi bukankah hidup sendiri dan mandiri jauh dari interfensi siapapun adalah dambaan setiap keluarga baru?, begitu pula denganku, hari-hari kami lalui dengan penuh bahagia, mas rommy adalah pria bertanggung jawab, dan taat dengan ibadahnya. waktu terus bergulir, hingga tiba juga puncak kebahagiaan kami, dimana jundi mungil.., calon mujahid sejati yang selama ini kami nantikan, lahir ditengah2 keluarga kami dan melengkapi kebahagiaan itu, terasa lengkap sudah kebahagiaan keluarga kami..
Pendnegar nurani yang budiman
Jujur.., semula kufikir keluarga kami akan bahagia selamanya layaknya impian dari setiap keluarga lainnya.., semula kufikir tidak akan ada kerikil tajam yang akan menghalau pernikahan kami, tapi ternyata aku salah.., ternyata aku yg berlebihan dalam berangan2, sebab kerikil itu justru lebih tajam dari yang aku duga sebelumnya, kuakui bahwa setiap keluarga pasti pernah bertengkar, namun pertengkaran itu pasti akan berujung..tapi dlam keluargaku..?, pertengkaran itu hamper tak pernah letih menghiasi biduk rumah  tangga kami, semuanya berawal ketika aku melihat ada perubahan besar dalam diri mas rommy, kadang kulihat dia kekantor  memakai celana yg isbal, padahal celana2nya itu telah disimpannya sejak dia mengenal dakwah ini, menyaksikan semua itu hatiku sedih..aku mencoba menasehati dia dengan hikmah, tapi tak pernah digubrisnya.., sebab mas rommy selalu menghindar dariku karena tidak ingin membahas masalah itu.., secara diam2 juga kuketahui mas rommy memotong jenggotnya meskipun tidak sampai gundul.., aku berusaha memahamkan padanya nilai2 agama yg mungkin dia telah melupakannya.., tentang hal2 yg terkait dengan apa yg sedang terjadi padanya, namun lagi-lagi hanya kebisuan yang aku dapat darinya.
Pendengar nurani yang budiman
Dadaku serasa sesak menyaksikan semua itu, apalagi mas rommy melakukannya seolah tanpa beban, dia bahkan menikmatinya, satu kali dia pernah memberikan alasan, dan alasan itu sangat tidak bias aku terima sama sekali, yah.., ternyata mas rommy melakukan inikarena mulai merasa malu dengan penampilannya setelah menjadi ikhwah, dan rasa malu itu katanya muncul setelah beberpa kali ditugaskan keberapa  perusahaan lainnya..semua relasinya berpenampilan elegan setara dengan jabatannya sementara dia layaknya seorang ustd yang salah mengambil profesi.., mendengar semua itu mataku berkaca2..astagfirullah..ternyata syetan sudah mulai membisikan rayuan buruk pada suamiku.., dengan tidak mengurangi rasa hormatku padanya sebagai kepala rumah tangga, aku berusaha menasehati dia dari kekeliruannya.., aku bahkan kembali merivew materi2 tarbiyah yg telah dia dapatkan dulu yang mungkin telah dia lupakan.., tapi apa yang terjadi.., mas rommy malah membentakku dengan suara kerasnya.., bahwa aku tak perlu menceramahinya.., bahwa dia melakukan semua ini untuk kelangsungan hidup keluarga kami.., air mataku menetes saat itu.., aku tidak menyangka sama skelai kalau mas rommy yang dulu kukenal sangat istiqamah meskipun baru megenal tarbiyah, namun kini berubah 99 derajat..aku bahkan hampir2 tak mengenalnya.., ya Allah ada apa dengan suamiku..
“aby..afwan sebelumnya..bukan ana bermaksud menggurui aby.., tapi ana hanya ingin mengingatkan aby agar jangan sampai aby akan semakin jauh dari Allah.., ana juga sedih karena tak lagi melihat mas sholat berjamaah dimesjid, padahal mesjid hanya 50 meter jaraknya dari rumah kita.., ada apa denganmu aby..ada apa..?, ana ini istrimu aby..tolong terbukalah pada ana. insya Allah kita akan hadapi segala masalah yang dating menghalau rumah tangga kita dengan bersama2, asalkan aby jangan berubah seperti ini..?. ujarku dalam linangan air mata..
“umy..syukran atas segala perhatiannya..tapi percuma ana menjelaskan semua ini pada ummy, karena ummy tak akan pernah memahaminya.., sebab ummy hanya tinggal dan berdiam diri dalam rumah, sementara aby..aby harus berhadapan dan bertemu dengan banyak orang, khususnya relasi aby..semua mereka selalu membicarakan penampilan aby.., aby capek jadi bahan omongan orang.., dan mengenai aby yg gak lagi sholat dimesjid jujur semua itu aby lakukan  karena aby sangat capek setiap pulang dari kerja.., tapi abykan tetap sholat ummy..” sela mas rommy dengan lantangnya
“astagfirullah.., kenapa aby berkata seperti itu?, mengapa aby jadikan pandangan manusia sebagai penghambat keistiqamahan aby, bukankah jauh lebih baik hina dalam pandangan manusia tetapi mulia dalam pandangan Allah, jujur umy sedih mendengar dan melihat kenyataan ini, padahal umy berharap apapun yang terjadi menimpa keluarga kita, kita akan bersama2 menghadapinya, tetapi mengapa semua harus terjadi seperti ini, bahkan umy hampir2 tak mengenal aby lagi, aby seperti orang asing dalam pandangan umy..” ujarku dalam tangis yang tak bias kubendung
“aaaakkkkkkkkkkkkkkkkhhh..sudahlah..gak usah dibahas lagi…pusing aby membahas semua ini, setiap hari ini saja topic yang selalu dibahas.., apakah tidak topic lainnya..?, apakah sikap aby seperti ini akan membuat aby keluar dari agama ini, gak kan..?, gak usah terlalu berlebihan memberi pandangan buruk terhadap aby, aby juga melakukan semua ini untuk kebahagiaan kita, mau makan apa kalau aby tidak melakukan semua ini..?, aby malu ummy..aby malu dengan teman2 kantornya aby” ujar mas rommy lagi padaku
Pendengar nurani yang baik
Hatiku miris mendengar semua itu, aku sangat kecewa, masih  kuingat betul masa2 kami menjalani semuanya dengan proses yg begitu indahnya, aku tahu suamiku tidak seperti ini, meskipun dia baru mengenal dakwah dan baru mengenal tarbiyah.., ya Allah ada apa dengan suamiku..?, aku bahkan beberapa kali mendapati suamiku makan dan minum dengan posisi berdiri..padahal didepannya tersedia meja dan kursi makan, dan aku melihat seperti tidak ada beban didalam dirinya, bahkan aku melihat mas rommy begitu sangat menikmatinya, bahkan yang lebih mengejutkanku dan tak bias kuterima…entah sakit hatinya padaku karena sering mengungkit2 masalah ini, atau sengaja ingin menyakiti perasaanku, mas rommy tak lagi pernah sholat berjama’ah dimesjid kecuali sholat jum’at, dia juga tak pernah terlihat ikut tarbiyah dengan alasan bahwa murobbinya tak lagi pernah dating2 lagi karena kesibukan dakwah ditempat lain, bahkan yang lebih menyakitkan perasaanku, jenggotnya yg dulu hanya dicukurnya separuh..tapi kini telah digundulinya hingga tidak ada yang tersisa, Ya Allah aku sedih menyaksikan semua itu..apa yang harus aku lakukan..?, aku fikir semua akan baik2 saja, aku fikir aku akan berguna baginya.., tapi ternyata tidak..aku tidak tahu apakah aku menyesal dengan semua ini atau tidak, tapi aku berharap ada perubahan positif dari semua ini
Pendnegar Nurani yang budiman

Hingga pertengkaran diantara kami kembali terjadi, mana kala aku memprotes semua itu, mana kala aku menagih janjinya dulu saat ta’aruf pertama kalinya, bahwa dia akan tetap istiqamah setelah dia menikah aku, tapi semua tak pernah digubrisnya, aku sedih..sangat kecewa..bahkan dengan lantangnya dia berteriak..kalau seandainya dengan semua ini aku menyesal menikah dengannya dia memberikan segala keputusan padaku, kalau aku ingin berpisah dengannya, dia akan menerima dengan ikhlas dan akan melakukan apapun yang menjadi keinginanku asalakan dia tidak merasa diinterfensi seperti yg aku lakukan selama ini padanya, jujur aku tidak bermaksud menginterfensi suamiku.., sebagai seorang istri aku hanya ingin mengingatkan dia akan kekhilafan dan kekeliruannya selama ini.., salahkah bila aku melakukan semua ini..?, apakah aku harus membiarkan semua ini terjadi didepan mataku dan hanya menunggu hingga suamiku benar2 futur lalu aku baru bertindak  mengingatkannya setelah segalanya terlambat..?, tidak..aku tidak ingin hal itu terjadi menimpa suamiku tercinta…, aku tidak ingin..
Pendegar nurani yang budiman
Menyaksikan semua itu, aku kembali teringat masa2 duluku bersama akhwat2ku tercinta dikampung.., aku terkenang akan ibu bapakku dan kampong halamanku..aku jadi merindukan mereka.., tetapi aku tidak dapat berbuat apa2, karena telah ada jundi mungil ditengah2 kami.., haruskah aku melepasakan suamiku sementara ada anakku yang masih sangat mengharapkan kasih sayangngnya..?, atau haruskah aku bertahan dengan segala sikap dan perubahannya selama ini.., hingga saat ini aku masih bingung dan tak tahu harus berbuat apa, aku berharap kebaikanlah yang akan menjadi akhir dari semua ini, dan aku berdoa kepada Allah Azza Wajallah..agar  dia mengembalikan suamiku seperti dulu, dan kembali memberikan hidayah buat suamiku, agar dia menyadari segala kekhilafan dan kekeliruannya selama ini..amin ya rabbal ‘alamin
Wassalam