EFEKTIVITAS PSIKOEDUKASI TERHADAP BEBAN KELUARGA SKIZOFRENIA DI KOMUNITAS

10 September 2021 07:00:34 Dibaca : 25 Kategori : Education

Gangguan jiwa (mental disorder) telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap negara saat ini, tidak hanya di Indonesia (Depkes RI, 2008). Gangguan skizofrenia adalah salah satu jenis gangguan jiwa berat yang bersifat kronis dengan ciri relaps dan remisi, membutuhkan penatalaksanaan jangka panjang, dan umumnya menyerang usia produktif yakni antara 15-44 tahun (Davison, 2006).

Keluarga merupakan unit yang paling dekat dan merupakan perawat utama (caregivers) bagi penderita skizofrenia. Keluarga mempunyai peranan yang penting di dalam pemeliharaan atau rehabilitasi anggota keluarga yang menderita gangguan skizofrenia (Keliat, 1996). Keluarga adalah perawat utama (caregiver). Sementara di sisi lain, merawat penderita Skizofrenia sering menjadi stresor bagi keluarga yang sering dikenal dengan beban keluarga (family burden). Beberapa faktor yang yang berperan adalah rasa malu akibat perilaku penderita, kronisitas penderita yang seringkali membutuhkan perawatan seumur hidup, ketidakmampuan klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, stigma di masyarakat menyebabkan penderita sulit mendapatkan jodoh, pekerjaan, diasingkan oleh lingkungan dan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit (Walton-Moss, 2005).

Beban yang dialami keluarga mulai dari beban fisik, mental, hingga ekonomi. Kelelahan fisik seringkali dirasakan keluarga dalam merawat penderita skizofrenia. Gejala-gejala yang dimunculkan penderita skizofrenia cukup mengganggu, apalagi penderita terkadang juga melakukan kekerasan. Keluarga juga sering mengalami stres dalam mengatasi perilaku penderita yang cenderung tidak realistik. Adanya anggapan bahwa bila memiliki anggota keluarga yang menderita skizofrenia adalah aib bagi keluarga juga menjadi beban pikiran keluarga. Selain itu, dampak ekonomi yang dialami keluarga yang merawat penderita skizofrenia berupa hilangnya hari produktif untuk mencari nafkah serta tingginya biaya perawatan yang harus ditanggung (Ingkiriwang, 2010). Jika beban keluarga tinggi maka akan mempengaruhi perawatan penderita skizofrenia karena keluarga adalah caregivers utama yang akan meningkatkan risiko kekambuhan dan menyebabkan prognosis yang lebih buruk (Taylor et al., 2005, Lauriello et al., 2001; Sadock and Sadock, 2010).

Pengetahuan keluarga tentang skizofrenia sangat membantu keluarga dalam memberikan perawatan yang benar bagi penderita dan akan membantu penderita menuju pemulihan. Dengan demikian maka beban keluarga akan berkurang. Untuk itu selalu dibutuhkan upaya-upaya untuk meningkatkan pengetahuan bagi keluarga (caregiver) tentang perawatan penderita. Pengetahuan yang benar tentang skizofrenia dapat ditingkatkan melalui psikoedukasi. Berdasarkan evidance ba sed practice, psikoedukasi keluarga adalah terapi yang digunakan untuk memberikan informasi pada keluarga sehingga peningkatan pengetahuan keluarga tercapai (Goldenberg, 2008). Psikoedukasi keluarga bukan hanya memulihkan keadaan penderita melainkan juga bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat penderita dan mengatasi masalah kesehatan jiwa dalam keluarga sehingga kemungkinan kambuh dapat dicegah

Walaupun medikasi antipsikotik adalah inti dari pengobatan skizofrenia, hasil penelitian telah menunjukkan bahwa intenvensi psikososial dapat memperkuat perbaikan klinis. Modalitas psikososial harus diintegrasikan secara cermat ke dalam regimen terapi obat dan harus mendukung regimen tersebut. Sebagian besar pasien skizofnenia mendapatkan manfaat dan pemakaian kombinasi pengobatan antipsikotik dan psikososial (Affrica and Schwartz, 1995; Sadock and Sadock, 2003).