PESONA BUNGA YANG SIRNA

21 February 2013 09:29:45 Dibaca : 179

PESONA BUNGA YANG SIRNA
Puisi Erick Hidayat

Tangisan dari harapan
dan goresan dari ingatan,
kini menjelma kembali di lubuk hati.
Ya...ketika pertama kali aku mengagumi
kepolosan dan kemurnian dari setangkai bunga yang wangi.

Dua musim kulalui bersamanya dalam ikatan janji
saling menyayangi. Siang dan malam pun kunikmati
seiring dengan warna-warni bumi.
Wanginya yang khas senantiasa hiasi
hari-hariku menjadi jauh lebih berarti.
Oh…betapa bahagianya hati ini.

Namun, seiring dengan waktu berlalu.
Rasa sayangku pada bunga itu perlahan-lahan memudar.
Segala corak dan warna yang dulu sempat kukagumi pun seketika sirna.
Karena dia. Ya...karena dia telah mengkhianati janji
dan kesetiaan yang selama ini kukemas rapi dalam hati.
Sunggguh aku tak mengerti. Betapa mudahnya ia melepas diri
setelah sekian lama aku merawat dan menjaganya sepenuh hati.

Aku tak mampu menahan pedihnya luka ini.
Hingga akhirnya aku pasrah diri. Dan berjanji
untuk meninggalkannya. Karena tak mungkin,
tak mungkin aku menghirup kembali
aroma bunga yang sudah tidak wangi lagi.
Tak mungkin aku bisa menjamah lagi
tangkai bunga yang sudah dipenuhi duri.

Mugkin suatu saat nanti dia akan mengerti,
dia akan menyesali atas durinya yang telah menyakiti.
Itupun jika ia masih memiliki hati nurani.
Dan, andai saja nanti
Aku menemukan kembali bunga yang wangi,
Kuharap corak dan warnanya jauh lebih berarti.
dan wanginya kan slalu abadi dalam hati.

Copyright © Erick Hidayat

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana

21 February 2013 09:25:42 Dibaca : 161

Kau ini bagaimana,
Kau bilang aku merdeka
Kau memilihkan untukku segalana
Kau suruh aku berifikir,
Aku berfikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah,
Aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah,
Aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana,
Kau suruh aku memegang Prinsip,
Aku memegang prinsip, kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran,
Aku toleran, kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Kau suruh aku maju,
Aku mau maju, kau selingkung kakiku
Kau suruh aku bekerja,
Aku bekerja, kau ganggu aku

Kau ini bagaimana,
Kau suruh aku taqwa,
Khotbah keagamaanmu membuat aku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu,
Langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana,
Aku, kau suruh menghormati hukum,
Kebijaksanaanmu menyepelekannya
Kau suruh aku berdisiplin,
Kau mencontohkan yang lain

Kau ini bagaimana,
Kau bilang Tuhan sangat dekat,
Kau sendiri memanggil-manggil-Nya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai,
Kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana,
Aku, ku suruh aku membangun,
Aku membangun kau merusaknya
Aku, kau suruh menabung,
Aku menabung, kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana,
Kau suruh aku menggarap sawah,
Sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah,
Aku punya rumah, kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana,
Aku, kau larang berjudi,
Permainan spekulasimu makin menjdi-jadi
Aku, kau suruh bertanggung-jawab,
Kau sendiri terus berucap wallahu waklam bissawab

Kau ini bagaimana,
Kau suruh aku jujur,
Aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar,
Aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana,
Aku, kau suruh memilihmu sebagai wakilku,
Sudah kupilih, kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang selalu memikirkanku,
Aku sama saja kau merasa terganggu,

Kau ini bagaimana,
Kau bilang bicaralah,
Aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara,
Aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana,
Kau bilang kritiklah,
Aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya,
Aku kasih alternatif, kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana,
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tidak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana,
Atau aku harus bagaimana

 

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll