Pro & Kontra Saat MOMB

05 September 2014 00:56:50 Dibaca : 65

    

   Saat MOMB banyak peristiwa yang terjadi. Dari yang Pro hingga yang Kontra. Namun kali ini saya akan memulainya dari yang kontra terlebih dahulu. Banyak yang menolak kegiatan MOMB ini karena mereka menganggap MOMB adalah ajang balas dendam para senior terhadap MABA, menguras isi dompet mereka karena pesanan makanan/bekal dari para senior terhadap mereka. Para orang tua yang sudah sering kali mengeluh karena keadaan anak mereka saat mengikuti MOMB. Namun bagi saya dan mungkin juga teman-teman yang lain yang sependapat alias pro terhadap MOMB menganggap bahwa MOMB adalah ajang pencarian jati diri yang sebenarnya dari MABA itu sendiri, ajang perkenalan dengan para senior, serta untuk melatih para MABA agar nantinya benar-benar siap dengan perkuliahan. Oleh karena itu saya sangat senang karena telah mengikuti MOMB yang hanya akan terjadi sekali dalam hidup saya.

 

~Terima Kasih Para Senior~

Pertanyaan Yang Belum Saya Dapat Jawabannya Hingga Sekarang

05 September 2014 00:31:48 Dibaca : 38

Mengapa semua angka yang di bahagi dengan 0 hasilnya jadi tak terhingga???

 

Mengapa juga semua bilangan yang di kali dengan 0 hasilnya 0???

 

Dan mengapa semua bilangan yang di jumlahkan dengan 0 hasilnya bilangan itu sendiri???

 

 

~Bingung 7 Keliling~

 

~SIGMA~

05 September 2014 00:06:14 Dibaca : 42

Ini adalah lagu ciptaan saya untuk jurusan tercinta, jurusan Pend. Matematika (SIGMA) :


Intro: C F G C Am Dm G C G

 

C         F                   G              C

Kami Mahasiswa di UN Gorontalo

Am      F             G                  C

Fakultas MIPA Jurusan Matematika

C          F                  G            C

Itulah Kami Sigma UN Gorontalo

Am            Dm              G                    C               G

Jujur Cerdas Profesional Juga Bermartabat

                             F             G           C                Am

 R.       Melangkah Bersama Wujudkan Semua Mimpi

                 F                  G                C

 E.       Raih Prestasi Untuk Sang Negri

                 F             G               C             Am

 E.       Satuan Insan Generasi Matematika

                  Dm         G                C

 F.       Ratu Dari Ilmu Pengetahuan

 

C                F                         G                   C

Kami Takkan Lelah Hadapi Semua Tantangan

Am       F               G              C

Semua Amarah Yang Ada Kini Tlah Musnah

C            F             G                 C

Itu Semua Karena Satu Tujuan

Am        F                   G                     C

Melangkah Pasti Tuk Raih Semua Impian

 

Back To Reff

Dm                         G                     C

We Are The Best Sigma Be The Best

 

 

~Terima Kasih~

 

 

PERKEMBANGAN SAINS BARAT DI PENGARUHI OLEH ILMUAN-ILMUAN MUSLIM

04 September 2014 10:47:37 Dibaca : 431

   Pemikir-pemikir muslim telah memberikan sumbangsih yang besar terhadap perkembangan sains modern baikm di bidang eksakta maupun di bidang sosial. Ibnu Al-Khaitami, Al-Khawarizmi, Ibnu Qhaib Al-jauziah adalah contoh ilmuan muslim di bidang eksakta. Sedangkan di bidang sosial terdapat nama Ibnu Khaldun dan Ibnu Rusyd.

Peradaban dan agama

Islam sebagai negara (kekhalifahan) telah bertempur dengan negara Byzantium atau kerajaan Romawi Timur di Syam, kemudian di Mesir dan seluruh Afrika Utara. Islam sempat melebar hingga ke Spanyol dan Prancis, tapi kemudian mengalami kekalahan sehingga peradaban Islam semakin surut.

Seiring pudarnya penguasaan umat Islam atas sains dan teknologi dan menanjaknya kemampuan sains Barat, lenyap pula kemampuan umat Islam untuk bertahan, sehingga kecenderungan menurunnya peran umat Islam di dunia tidak dapat dielakkan. Sebaliknya bangsa Eropa, setelah belajar dari umat Islam, lima abad kemudian ber­hasil melanjutkan pengembangan sains di tengah ma­syarakat mereka.

Dr. Adian Husaini dalam bukunya, Hegemoni Kristen-Barat Dalam Studi Islam di Perguruan tinggi (Gema Insani press, 2006) mengatakan bahwa agama Kristen mulai mendapat kebebasan setelah –beratus tahun- mengalami penindasan dibawah imperium Romawi. Namun orang Barat seperti mengalami kematian karena hidupnya berada dibawah cengkraman gereja yang mengklaim sebagai institusi resmi wakil tuhan di muka bumi, melakukan hegemoni terhadap kehidupan masyarakat dan berbagai tindakan brutal yang sangat tidak manusiawi. Kejahatan dan kekejaman institusi gereja ini kemudian dikenal sebagai “inquisisi”. Namun pada akhirnya gereja kehilangan kekuasannya, dan sekularisasi melanda dunia Barat. Agama dipisahkan dari politik, ekonomi dan sains. Selanjutnya dapat dilihat pertumbuhan sains dan teknologi yang pesat di Barat, disusul dengan penjajahan atas umat Islam.

Berawal dari perasaan trauma terhadap gereja itulah, umat Kristen mulai mempelajari dan mengadopsi peradaban Islam. Ibrahim Muhammad Salqini dalam Fiqh al-Islam: Ahkamus Shalat, mengatakan bahwa orang-orang Barat sebenarnya banyak belajar tentang kebersihan dan kesehatan dari orang-orang Islam di Andalusia. Hal itu terjadi karena problem agama Kristen berkaitan dengan hilangnya otentisitas teks Bibel dan makna yang terkandung di dalamnya.

Lee Phillips, Anggota Zubaida Foundation juga seorang mualaf, menceritakan pilihannya pada Islam mengatakan, “Menurut saya tidak terdapat banyak perbedaan antara agama Kristen dan Islam tersebut. Makanya saya tidak sulit mengikuti ajaran Islam,” katanya. Islam, kata Philips, mengajarkan orang untuk melakukan perbuatan baik, sering berdoa, selalu ingat Allah kapan pun dan dimanapun. Selain itu Islam juga mengajarkan untuk memberikan hal-hal yang kita sukai kepada orang lain. ”Hidup saya lebih kaya dan lebih damai dengan menjadi seorang Muslim,” tuturnya.

Sejarah pekembangan sains Barat

Dilihat dari sejarahnya, pada abad ke 6 sampai abad ke 13 Eropa masih dalam masa kegelapan (kemunduran), sedangkan Islam berada dalam masa keeemasan. Saat itu banyak orang Eropa seperti dari Prancis, Inggris, Italia dan lain-lain yang datang ke negeri Islam untuk belajar. Melalui merekalah, pemikiran rasional, ilmiah, dan filosofis Islam dibawa ke Eropa, serta sains. Dalam sejarah, Renaissense Eropa terjadi setelah mereka belajar pada ilmuan-ilmuan Islam. Namun sekarang kondisinya terbalik, sejak zaman itu Eropa bangkit hingga mengalami kemajuan sampai sekarang, sebaliknya umat Islam mengalami kemunduran.

Semenjak abad ke 15 bangsa-bangsa yang beragama Kristen menjajah dan menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam. Akhirnya, pada tahun 1918 hampir seluruh umat Islam di dunia menjadi jajahan Kolonial Kristen. Pada waktu itu seluruh kepulauan Indonesia dikuasai Belanda dan Malaysia dikuasai Inggris. Pada periode permulaan abad ke 20 itulah banyak sarjana-sarjana Barat yang mempelajari Islam. Belanda memunculkan Snouck Hurgronje (1857-1936), Perancis memunculkan Louis Massignon (1958), Inggris memunculkan Hamilton Gibb (1960), Jerman memunculkan Joseph Schacht, dan Canada memberikan Cantwell Wilfred Smith, dan lain sebagainya.

Selain itu banyak lagi orang Barat yang belajar pada cendekiawan muslim seperti Herman Si Pincang (1013-1054); biarawan Reichenan di Swiss yang menulis buku matematika; Adeland of Bath (1090-1150), orang Inggris yang menyamar sebagai orang Islam dan mengikuti kuliah-kuliah di Cordoba (Qurtubah) menulis kompendium untuk sains ilmuwan Muslim; Gerando de Cremona (1114-1187) yang menyalin sekitar 90 karya ilmuwan Muslim ke dalam bahasa latin. Sehubungan dengan ini Prof. Fuat Sezgin dari universitas Frankfurt, yang menulis buku Geschichte des Arabischen Schrifftums (20 jilid) menemukan bahwa tidak sedikit karya ilmuwan Muslim yang dibajak dengan jalan menyalinnya dalam bahasa latin dan kemudian dibubuhi nama penyalin itu sendiri sebagai ganti nama penulis aslinya.

Karen Amstrong dalam bukunya, Perang Suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk (Jakarta, Serambi) menjelaskan bahwa dalam bidang pengetahuan dan kesarjanaan, Eropa juga mulai mengadopsi sikap yang mengurangi rasa permusuhan terhadap dunia luar. Selama paruh abad ke 12, para sarjana Kristen berbondong-bondong ke Spanyol dan Sisilia. Di sana mereka menemukan pengetahuan yang melimpah di antara orang-orang Arab dan Yahudi bekas wilayah-wilayah Islam. Mereka mulai menerjemahkan berbagai teks dari bahasa Arab dan sekaligus menemukan karya-karya ilmiah Aristoteles, sebagaimana juga mereka menemukan ilmu-ilmu filosofis dan ilmiah di dunia Arab.

Karena itu dengan menerjemahkan teks-teks Arab, para sarjana Barat ini mengembalikan budaya yang telah hilang selama abad kegelapan di Eropa. Mereka menemukan bahwa mereka dapat banyak belajar dari para sarjana Arab seperti Abu Ali al-Husain ibn Abdullah Ibnu Sina (w. 1037) dan rekan Muslim sezaman mereka dari Cordoba, abu al-Walid Muhammad ibnu Ahmad ibn Rusyd. Nama-nama ini kemudian dipendekkan dan dibaratkan menjadi Avecienna dan Averroes yang menjadi orang bijak baru dan pemandu Barat yang sedang berjuang untuk maju.

Tidak hanya itu, masih banyak lagi ilmuan dan sarjana Islam yang menjadi inspirasi Barat untuk melakukan penelitian ilmiah. Misalnya Muhammad bin Musa al-Khawarizmi seorang tokoh matematika besar yang menemukan angka nol. Bukunya, Hisab al-Jabar wal Muqabalah dan Kitab al-Jama’ wat-Thariq sangat mempengaruhi ahli ilmu aljabar Leonardo Fibonacci dari Pisa di Italia. Bidang lain dalam matematika banyak ditemukan seperti istilah sinus, kosinus, tangen, kotangen atau ilmu astronomi seperti istilah azimut, zenith dan nadir. Semua itu diciptakan oleh sarjana Muslim yang bernama al-Battani, yang di Barat disebut Albategni atau Albategnius. Sedangkan dalam ilmu kimia modern, dirintis oleh Jabir bin Hayyan al-Kufi (738-813) dan Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria ar-Razi (865-925).

Dalam bidang filsafat ada ibnu Rusyd (1126-1198) yang dihormati Barat dengan nama Averroes. Dalam bidang sosial, politik dan budaya ada ibnu Khaldun (lahir 27 mei 1332) dan dalam bidang navigasi ada ibnu Battutah (1304-1377) yang menjelajah dunia dari Rusia hingga Samudra Pasai, dan Ibnu Majid yang menemukan kompas modern. Masih banyak lagi cendekiawan Muslim lainnya. Jadi, Banyak ilmuan Muslim yang menjadi sumber rujukan orang Barat sebelum terjadi kebangkitan ilmu pengetahuan.