Metode Pembelajaran Pendidikan Jasmani Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

21 May 2015 20:36:20 Dibaca : 79 Kategori : Pendidikan Umum

Untuk membantu para guru pendidikan jasmani mengembangkan strategi pembelajaran pada siswa berkebutuhan khusus diperlukan metode yang tepat sebagai cara dalam menyampaikan materi kepada siswa. Menurut Tarigan (2000:45) ada 3 macam metode pembelajaran pendidikan jasmani bagi siswa berkebutuhan khusus: 1. Metode bagian, 2. Metode keseluruhan, dan Metode gabungan.

a. Metode Bagian

Dalam metode bagian, tugas-tugas gerak dipelajari dan dilatih bagian demi bagian. Biasanya metode ini diterapkan apabila struktur gerak cukup kompleks sehingga diperkirakan dengan mempelajari bagian demi bagian akan memberikan hasil optimal.

Misalnya dalam pembelajaran mendribel, menembak dan mengoper dalam olahraga basket, dilakukan pendekatan bagian perbagian sebelum diberikan pengalaman bermain basket secara utuh. Artinya setelah siswa mempelajari dan menguasai bagian-bagian dari suatu aktivitas gerak dalam olahraga permainan, maka selanjutnya bagian-bagian tersebut digolongkan kembali menjadi aktivitas yang lengkap dan menyeluruh.

 

b. Metode Keseluruhan

Pembelajaran dengan metode keseluruhan merupakan aktivitas gerak yang dilakukan secara keseluruhan. Metode ini biasanya digunakan untuk melatih teknik dan gerakan yang sederhana, atau apabila keseluruhan serangkaian gerak dari satu teknik olahraga, tidak bisa dipecah menjadi bagian-bagian.

Metode keseluruhan cukup efektif digunakan untuk anak berkebutuhan khusus, namun tergantung dari berat ringannya tugas gerakan yang dilakukan dengan kondisi kecacatan anak. Semakin rendah tingkat kompleksitas tugas gerakan secara keseluruhan, dan semakin kecil taraf hambatan yang diderita anak, maka pendekatan ini akan berlangsung lebih baik.

Bagi anak yang terbelakang mental yang cukup berat, sebaiknya diberikan pelajaran atau latihan keterampilan gerak secara keseluruhan. Misalnya tugas gerak melempar dalam bola tangan atau bola basket. Pemecahan suatu struktur gerak atau pola gerak menjadi bagian-bagian, kurang bermanfaat bagi siswa yang kurang mampu memproses informasi dengan baik seperti anak yang mengalami keterbelakangan mental.

 

c. Metode Gabungan

Memodifikasi metode dengan cara mengubahnya menjadi kombinasi keseluruhan, bagian, keseluruhan, umumnya memberikan kemudahan dan keuntungan bagi siswa berkebutuhan khusus. Semakin simpel langkah-langkah pembelajaran yang diberikan kepada anak, semakin besar peluangnya untuk menguasai tugas-tugas gerak yang diajarkan. Kecepatan laju penyampaian instruksi dan jumlah pengulangan serta reinforcement yang diberikan dalam proses pembelajaran, berbanding terbalik antara satu dengan yang lainnya terhadap kemajuan dan keberhasilan yang dicapai siswa berkebutuhan khusus.

Hal ini berarti semakin lambat penyampaian instruksi yang dilakukan guru, dan semakin banyak frekuensi pengulangan oleh siswa, maka semakin baik kemajuan yang dicapai oleh siswa berkebutuhan khusus.

 

d. Penyampaian Penjelasan dan Peragaan

Metode ini sudah lazim dipergunakan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. Namun faktor penting dalam penerapannya adalah penekanan pada kombinasi penjelasan (baik secara verbal, tertulis maupun manual) yang dilanjutkan dengan peragaan atau demonstrasi tugas gerak yang sebenarnya.

Melalui penjelasan dan demonstrasi, para siswa berkebutuhan khusus lebih terdorong dan termotivasi untuk melakukan tugas gerak, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh hasil dalam setiap pembelajaran. Bagi sebagian anak, terutama yang memiliki hambatan bicara, hambatan pendengaran dan keterbelakangan mental, penjelasan-penjelasan yang diberikan secara sistematis dan runtut kelihatannya kurang bermanfaat. Namun demikian, peragaan dan demonstrasi yang dapat dilihat dan diamati dari berbagai arah, sangat membantu terhadap pemantapan persepsi tentang suatu tugas gerak yang tidak dapat mereka tangkap melalui penjelasan.

Sebaliknya, bagi anak-anak yang mengalami hambatan visual, akan lebih bermakna informasi melalui penjelasan dibanding melalui peragaan atau demonstrasi. Untuk menghadapi kasus lainnya, diperlukan kreativitas dan kejelian guru dalam memilih suatu metode yang cocok sesuai dengan jenis dan tingkat kecacatan siswa.