ASAL USUL DZAT ALLAH TERCIPTA

20 February 2013 19:49:56 Dibaca : 11

Allah itu memang terciptakan, jika Allah tidak terciptakan maka Allah tidak ada, bukankah Allah sendiri yg telah mengisyaratkan dalam Al _Quran bahwa segala sesuatu itu melalui proses. Disini termasuk Allah swt, jika kita kaji dengan segala logika akaliyah, logika nagliyah serta logika illahiyah, maka bukankah Allah bersifat Qiyamuhu Binafsi??. Adanya Allah dimulai dari tiadaNya Allah, jika sesuatu itu ada maka tidak mungkin sesuatu itu langsangu ada, ternyata Allah juga tidak demikian, tetapi Allah bersifat berdiri sendiri karena diriNya Allah sendiri, disinilah proses Allah terciptakan dan menciptaka.

Jika cikal bakal Dzat Allah swt atau JasadNya dimulai sifatNya yang dua puluh, disini penulis tidak membahas tentang Allah, karena sudah jelas bagi kita semua bahwa Allah itu bukanlah tuhan yang sesungguhNya karena dia masih nama dan nama itu adalah mahluk dan mahluk itu benda. Jika kita menyembah Allah maka kita masih menyembah benda. Maka jika ini terjadi sesungguhnya kita sama persis dengan para penyembah berhala klasik latta uzza dan manna. Dengan tegas serta kekuatan iman kita maka kita berikrar dan bersaksi bahwa kita menyembah DzatNya bukan namaNya. Tetapi untuk menyembah DzatNya masih diperlukan penyebutan namaNya yang dikenal oleh orang syaiat adalah terkenal dg nama Dzikir secara umum. Sedang Dzikir secara khusus adalah proses penyembahan DzatNya.

Dengan memahami sifat Allah swt yang dua puluh, maka dapat kita imani bahwa Allah pada titik kesimpulannya adalah punya Dzat, Dzat disinilah yang wajib kita sembah. Jika kita bicara Dzat maka sesunggguhnya Allah telah mengajarkan dengan sifat ilmuNya dengan jelas, bahwa adakah di dunia in ada Dzat yang tidak tercipta? Sungguh jawabannya adalah mustahil. Begitu juga dengan Dzat Allah yang bersifat wahdaniyah dalam segala arti ke esaanNya, ketunggalanNya yang telah dengan tegas difirmankanNya dalam Qs. Ikhlas bahwa Allah itu Esa, jika EsaNya Allah itu satu, maka Allah itu akan bermakna benda. Jika ini terjadi dengan sesungguhnya hal inilah yang menimbulkan habit habit pada jaman jahiliyah yaitu kebiasaan menyembah tuhan yang telah dibendakan.

Iman kita telah sepakat bahwa hakekatNya Allah itu pada DzatNya dan Allah bersifat wujud artinya Allah itu ada. AdaNya Allah pasti bukan dari bin salabin ada kedabra langsung ada. Tidak demikian adaNya. AdaNya Allah itu telah nyata karena tercipta, bukti Allah tercipta karena Allah punya Dzat. Secara teori kimia, semua dzat apapun akan memiliki molekul molekul hingga unsur terkecil yang kita sebut saat ini atom. Pada prosesi atom dalam partikel partikelnya membentuk sebuah dzat dalam perubahan dzat itu sendiri telah menghasilkan cahaya. Hingga pada akhirnya cahaya cahaya inilah secara prose salami mampu membentuk Dzat.

Dari logika kecil tersebut kita dapat memahami bahwa DzatNya Allah swt telah mampu menciptakan cahaya, dimana cahaya ini adalah sebagai unsur terkuat dalam proses pembentukan dzat. Cahaya inilah yang nantinya disebut sebagai NUR MUHAMMAD. Bagaimana mungkin kamu melakukah kesalahan?Karena kami berada dalam cahaya Ahmad! Cahaya Ahmad adalah cahaya Muhammad saw telah ada dan telah diciptakan oleh Allah dari DzatNya dan Dzat itu sendiri berdiri karena adanya cahaya cahaya yang telah membentuk Dzat menjadi Abadi selama lamanya alias kekal.

Partisipasinya Dzat dalam cahaya telah menenggelamkan diriNya ke dalam cahaya yang bersifat primordial, neraka akan berkata kepadanya: “cahayamu telah mematikan api ku”. Sebab api neraka, sebagai ciptaan, dapat dimatikan, sedangkan Cahaya Muhammad, yang telah ada dalam pra keabadian, tidak dapat diganggu gugat adanya. Pada tingkat yang berbeda konsep Muhammad sebagai nur al anwar, “cahaya dari segala cahaya” maka dapat dikaitkan bahwa dia tidak mempunyai bayangan. Sebagaimana dijelaskan oleh Najm Razi, dia, dari satu sudut pandang, adalah matahari,dan matahari tidak mempunyai bayangan bukan? Adakah siapakah diantara gerangan yang tahu akan bayangannya matahari?”.

Muhammad saw dalam sebuah riwayat pernah berkata, “Yang pertama tama diciptakan Allah adalah jiwaku;” tetapi orang mendapati pernyataan pernyataan yang bertentangan seperti “Yang pertama-tama diciptakan Allah adalah Pena” (yang ternyata “identik dengan Jiwa Muhammad”) atau“Akal.” Najm Razi dengan terampil menggabungkan ketiga hadis yang tampaknya saling bertentangan itu dengan menafsirkan ketiganya sebagai menyangkut Nabi: “Ketika Allah Yang Mahakuasa menciptakan jiwa Muhammad dan memandangnya dengan penuh kasih sayang, rasa malu menguasai jiwanya, dan mengakibatkannya jadi terbelah dua, separuh dari Pena Allah menjadi Jiwa Nabi, dan separuh yang lain menjadi Akal Nabi”.

Muhammad sang Nabi adalah perwujudan yang mencakup keseluruhan “dan sempurna dari cahaya primordial, dan bersamanya daur perwujudan itu berakhir, sebab dia adalah Penutup para Nabi. Dalam tradisi Arab, Ibn Al Farid (wafat 1235) ada di antara tokoh-tokoh pertama yang mengungkapkan pemikiran pemikiran semacam itu, dalam Ta’iyyah-nya yang besar: Dan tak satu pun dari mereka (para nabi sebelumnya) yang tidak menyeru umatnya Menuju Kebenaran dengan karunia Muhammad dan karena dia adalah pengikut Muhammad. Gagasan-gagasan ini selalu diulang ulang dalam puisi sesudahnya. Dalam tradisi Persia, Jami‘-lah yang terutama suka menyanyikan, dalam syair pembukaannya yang panjang dari karya karya epiknya, mengenai perkembangan yang menakjubkan ini. Menurut kata katanya, risalah setiap nabi yang pernah hidup tidak lain adalah bagian dari risalah Muhammad yang sangat luas:

Cahayanya muncul di dahi Adam Sehingga para malaihat menekurkan kepala mereka bersujud; Nuh, di tengah bahaya banjir, Menemukan pertolongan darinya dalam pelayarannya; Harum karunianya sampai kepada Ibrahim, ‘ Dan mawarnya bermekaran dari tumpukan kayu bakar Namruj. Yusuf mendukungnya, di istana kebaihan (Hanya) seharga seorang budak, tujuh belas dirham. Wajahnya menyalakan api Musa, Dan bibirnya mengajarkan kepada ‘Isa bagaikan menghiduphan orang yang mati.

Cahaya Muhammad saw yang telah diciptakan dari dzatNya Allah swt dalam prosesiNya DzatNya yang tercipta dari CahayaNya sendiri. Disinilah Allah swt dikatakan bersifat qiyamuhu binafsi yaitu berdiri dengan dirinya sendiri tanpa bantuan apapun dari yang lain, sehingga prosesi penciptaan DzatNya begitu kekal, begitu abadi begitu agung begitu suci begitu mulia. Sungguh DzatNya telah tercipta dari CahayaNya yang tersimpan dalam cahaya Muhammad saw

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong