BUDIDAYA LOBSTER AIR LAUT

24 October 2020 18:49:26 Dibaca : 20

MAKALAH

BUDIDAYA LOBSTER AIR LAUT

 

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fimage.psikolif.com%2Flogo-unima%2Flogo-ung-universitas-negeri-gorontalo-png%2F&psig=AOvVaw0iW8Z4FahAtb4WUhvfsD0F&ust=1603622750762000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCJDEiriGzewCFQAAAAAdAAAAABAI 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH

NAMA: SITI KHAIRUNNISA DJAINI

NIM: 1111420002

JURUSAN : BUDIDAYA PERAIRAN

 

 

 

 

 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS NEGRI GORONTALO

TAHUN 2020

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

1,1 Latar belakan

Lobster laut (Panulirus sp.) atau udang barong merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Komoditas ini tidak asing dikalangan masyarakat penggemar makanan laut (sea food). Lobster terkenal dengan dagingnya yang halus serta rasanya yang gurih dan lezat. Jika dibandingkan dengan udang jenis lainnya, lobster memang jauh lebih enak. Tidak salah jika makanan ini merupakan makanan yang bergengsi yang hanya disajikan di restoran-restoran besar dan hotel-hotel berbintang. Karena harganya yang mahal, lobster biasanya hanya dikonsumsi oleh kalangan ekonomi atas.

            Mangsa pasar lobster tidak hanya terbatas di dalam negeri, namun juga diluar negeri. Permintaan akan lobster selalu meningkat tajam setiap tahunnya. Pada tahun 1990, ekspor lobster ke Belanda, yang merupakan salah satu negara penggemar lobster di Eropa Barat, mencapai 745,132 ton atau 89,59% dari total ekspor lobster Indonesia (826 ton).

            Di Asia, Jepang dan Hongkong merupakan pengimpor lobster terbesar. Masyarakat di kedua negara ini  terkenel sebagai penggemar masakan laut, termasuk lobster. Di Jepang, lobster biasanya disajikan dalam bentuk lobster rebus, dan digunakan untuk menghormati tamu-tamu asing. Selain itu, lobster sering kali disajikan dalam acara pernikahan sebagai pengganti kado.

            Meskipun termasuk negara penghasil lobster, kebutuhan lobster Jepang belum terpenuhi sehingga harus mengimpor dari negera lain. Pada tahun 1990, ekspor lobster Indonesia ke Jepang mencapai 53.443 kg atau 6,43% dari total ekspor lobster Indonesia. Permintaan Hongkong akan lobster tidak jauh berbada dengan Jepang

.            Selain itu, tingginya harga lobster juga disebabkan oleh terbatasnya volume produksi. Penetapan harga lobster biasanya didasarkan pada jenis, ukuran, dan kondisi fisik lobster itu sendiri.

Harga lobster tergolong tinggi baik di pasar domestik maupun pasar ekspor.  Nilai lobster yang tinggi dan akses pasar yang lancar mendorong penangkapan lobster di alam dilakukan secara intensif. 

Volume permintaan dan harga lobster yang cenderung meningkat setiap tahun akan sangat menarik minat nelayan untuk mengadakan penangkapan secara lebih intensif. Demikian juga potensi perairan laut Indonesia baru dimanfaatkan sekitar 658.000 km2 (60%), yang berarti masih ada sekitar 438.800 km2 (40%) yang belum dimanfaatkan. Dari total luas perairan laut Indonesia (1.097.000 km2), 6.782,48 km2 (0,62) diantaranya merupakan habitat lobster. Pemanfaatan peluang tersebut dapat dilakukan dengan optimalisasi penangkapan di seluruh perairan Indonesia, dengan menggunakan alat tangkap tertentu yang tetap memperhatikan kelestarian habitat alami lobster. Selain dengan penangkapan, dapat juga dilakukan usaha budidaya lobster secara intensif (dalam bak secara terkontrol). Selain memenuhi permintaan pasar, usaha budidaya juga dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan produksinya. Dikhawatirkan suatu saat populasi lobster laut Indonesia akan berkurang dan bahkan mungkin punah sehingga perlu dilakukan upaya untuk melestarikannya.

 

1.2 Maksud dan tujuan

·        meningkat kan produksi lobster sehingga dapat memenusi perimintaan pasar

·        Meningkatka kesejahteraan nelayan pesisir pantai

·        Memberdayakan ekonomin pesisir pantai

 

BAB 2

RENCANA KEGIATAN

2.1 Lokasi

Pengembangan budidaya lobster ini akan di laksanakan di kabupaten gorontalo utara dengan maksud lebih mengintensifkan usaha ini. Untuk memenuhi permintaan pasar yang serta meningkatkan kwalitas lobster. Lokasi pengembangan di kacamatan ponelo kabupaten gorontalo utara Untuk memenuhi persyarataan lokasi budidaya, masih memerlukan penataan dan pengembangan sesuain persyaratan teknis agar dapat mendukung system yang akan di terapkan.

3.3 Rencana dan pengembangan usaha

Kegiatan persiapan sebagai berikut

1.     pembuatan  kerambah  7-12 meter di dasar laut

2.     pengadaan induk dan benih lobster

3.     pengadaan pakan

4.     pengadaan alat perikananan

5.     pengadaan pupuk dan obat obatan

kegiatan prodeksi:

Dalam usaha budidaya lobster terdapat dua kegiatan utama, yaitu pembenihan dan pembesaran. Berikut penjelasan proses dan langkah budidaya pada dua kegiatan utama tersebut

1.     pembenihan

kegiatan ini merupakan tahap awal dalam usaha budidaya lobster untuk memperoleh benih yang kemudian akan dibesarkan. Sesuai dengan PERMEN KP Nomor 56 tahun 2016 bahwa benih lobster dilarang dijualbelikan sehingga pengusaha budidaya lobster harus mampu memijahkan lobster yang kemudian dapat memproduksi benih lobster dalam usaha tersebut. Dalam tahap ini, perlu menyiapkan calon induk yang memiliki kualitas baik (tidak cacat). untuk waktu pembenihan mulai dari telur menutas hingga telur menutas membutuhkan waktu 4 hinggan 6 bulan

2.     pembesaran

usaha pembesaran lopster akan membutuhkan waktu sekitar 8 hingga 10 bulan memang cukup lama di banding usaha budidaya lainnya akan tetapi keuntungan yang di dapat dalam budidaya lopster ini juga tidak sedikit

3.     kegiatan pasca panen dan pemasaran

penanganan pascapanen sangat menentukan harga pasar karena kondisi ikan tetap segar sampai konsumen. Menangani penanganannya harus dilakukan secara hati-hati sesuai dengan aturan teknis pasca panen yang standar.

Untuk saat ini pemasarannya untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan kota-kota besar.

 

 

 

 

 

 

BAB 3

ANGGARAN BIAYA BUDIDAYA LOBSTER

1.     Biaya Investasi dan Penyusutan  Investasi awal merupakan modal yang harus disediakan sebelum melakukan kegiatan produksi atau usaha yaitu pada tahun ke-0 (tahun pendirian perusahaan) dengan asumsi dan persyaratan sebagai berikut : a) Dalam satu tahun dilakukan 2 kali siklus produksi, yaitu per siklus selama 6 bulan. b) Penebaran benih di keramba dengan berat 0,5 ons, asumsi harga benih Rp.30.000,- /kg. dengan tingkat kelangsungan hidup (SR) sampai panen sebesar 75 %. c) Pemanenan dilakukan ketika waktu pemeliharaan sudah mencapai 6 bulan (1 siklus) dan rata-rata bobot lobster 2 ons dengan jumlah total panen 800 ekor ( dalam 4 petak keramba ) dengan harga jual ( panen ) Rp. 380.000,- / Kg. d) Kelayakan usaha diperhitungkan berdasarkan Analisa laba rugi, B/C Ratio, Break Even Point (BEP), dan Pay Back Period (PBP). Unsur-unsur yang termasuk dalam biaya investasi yaitu : kontruksi, peralatan yang berhubungan dengan produksi dan harus disediakan sebelum proses produksi. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha budidaya lobster adalah Rp. 39.965.000,- dan penyusutannya adalah Rp. 2.049.400,- untuk lebih jelas rinciannya dapat dilihat daftar berikut ini : 1. Kontruksi KJA - Balok Kayu (34 Batang) Total harga : 2.210.000 - Papan Kayu (24 lembar) Total harga : 1.200.000 - Pelampung (15 buah) Total harga : 3.000.000 - Baut (90 pasang) Total harga : 180.000 - Paku (5 kg) Total harga : 75.000 - Tali PE (10 kg) Total harga : 150.000 - Jangkar (4 buah) Total harga : 4.000.000 - Tali jangkar (20 kg) Total harga : 400.000 - Jaring (6 buah) Total harga : 3.600.000 - Biaya lain-lain - Total harga : 200.000 - Upah sarana/prasarana - Total harga : 500.000 - Perahu motor (1 unit) Total harga : 6.500.000 - Freezer (1 unit) Total harga : 6.000.000 - Mesin semprot (1 unit) Total harga : 6.000.000 - Kompresor (1 unit) Total harga : 4.500.000 - Bak fiber (1 unit) Total harga : 500.000 - Selter (pipa) (1 unit) Total harga : 60.000 - Peralatan kerja (1 unit) Total harga : 1.000.000 Total Harga : Rp.39.965.000 Sedangkan biaya pennyusutan dari barang-barang tersebut adalah : Rp. 4.098.800/tahun Keterangan : a. Balok kayu ukuran 7 x 14 x 400 cm b. Papan kayu ukuran 3 x 25 x 400 cm c. Pelampung volume 200 lt d. Baut diameter 10 mm, panjang 250-260 mm e. Paku 7 inchi f. Tali PE untuk pelampung berukuran diameter 8 mm g. Jangkar dengan berat 75 kg h. Tali jangkar berdiameter 250 mm i. Jaring berukuran 3 x 3 x 3 m, mesh size 0,75 imchi, D 12 dengan diameter tali ris 6 mm j. Perahu motor temple 15 PK k. Freezer berukuran volume 600 lt l. Bak fiber ukuran 1 ton 2. Biaya Operasional Biaya operasional dibagi menjadi dua macam yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variabel cost). Biaya tetap yang dikeluarkan untuk menjalankan usaha pembesaran lobster tiap tahunnya adalah sebesar Rp.26.418.800 dan biaya tidak tetapnya adalah Rp. 68.088.800,-. Untuk perinciannya dapat dilihat tabel dibawah ini : a) Biaya tetap per tahun - Biaya Penyusutan = Rp. 4.098.800,- - Perawatan 5 % dari Investasi = Rp. 1.920.000,- - Gaji Karyawan @ Rp.900.000 x 12 bulan 2 orang = 21.600.000 - Listrik 12 bulan x Rp.40.000 = 480.000,- Jumlah = Rp.28.098.800 b) Biaya tidak tetap per tahun - Benih 1400 ekor x Rp.30.000 x 2 siklus ( 1 tahun) = Rp. 8.400.000,- - Pakan ikan rucah 900 kg x @ Rp.5.000 x 2 siklus = Rp. 9.000.000,- - Bahan bakar (solar) 6 liter/hari x @ 3500 = Rp. 7.560.000,- Jumlah = Rp.24.960.000,- Sedangkan untuk mengetahui besarnya biaya produksi per ekor lobster adalah : = Biaya Tetap : Jumlah lobster yang dipanen Rp.28.098.800 : 320 kg = Rp. 87.808,- Jadi, untuk menghasilkan lobster (dengan berat ikan rata-rata 200 gram, total panen 320 kg, diperlukan biaya tetap per kg adalah sebesar Rp. 87.808,-. Dari penjumlahan biaya tetap dan tidak tetap diatas, maka biaya operasional nya dapat dilihat pada perhitungan dibawah ini : Biaya operasional = Biaya tetap + Biaya tidak tetap = Rp.28.098.800 + Rp.24.960.000,- = Rp. 53.058.800,- Hasil produksi menghasilkan lobster (kepadatan rata-rata 200 ekor/lubang), jumlah total lubang sebanyak 4 lubang (jaring apung) sedangkan jumlah total panen per tahun sebanyak 1600 ekor (320 kg). Perhitungan penjualan adalah : Pendapatan = 1600 ekor (320 kg) x Rp. 380.000,- x 1 tahun = Rp. 121.600.000,- Jadi pendapatan yang diperoleh dalam 1 tahun sebesar Rp. 121.600.000,- sebelum dipotong pajak pendapatan sebesar 10 % dari pendapatan penjualan. Pendapatan = Pendapatan – ( 10 % x pendapatan) = Rp. 121.600.000,- (Rp. 12.160.000) = Rp. 109.440.000,- Jadi pendapatan yang diperoleh selama 1 tahun sebesar Rp. 109.440.000,- 3.Analisa Laba Rugi Analisa laba rugi = Pendapatan - Biaya total operasional = Rp. 109.440.000,- - Rp. 53.058.800,- = Rp. 56.381.200,- Budidaya pembesaran lobster mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp. 56.381.200,-/ tahun. 4.Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) Analisi B/C ratio dapat digunakan untuk menilai layak tidaknya suatu usaha untuk dijalankan. Bila nilai B/C yang diperoleh sama dengan 1 (satu), berarti titik impas (cash in flows sama dengan cash out flows), sehingga perlu pembenahan. Jika nilai B/C ratio lebih besar dari 1 (satu) berarti gagasan usaha/proyek tersebut layak untuk dikerjakan dan jika lebih kecil dari 1 (satu) berarti tidak layak untuk dikerjakan. Rumus B/C ratio adalah sebagai berikut : B/C ratio = Total Pendapatan : Total Biaya Operasional B/C ratio = Rp. 109.440.000,- : Rp. 53.058.800,- = 2,06 (Feasible) Dari perhitungan B/C ratio dapat diketahui bahwa nilai B/C ratio pada usaha produksi pembesaran lobster tersebut menguntungkan atau feasible (go) untuk dijalankan yaitu pada angka 2,06. Bila B/C ratio < 1 usaha tidak layak untuk dijalankan, B/C ratio > 1 usaha tersebut menguntungkan sehingga usaha dapat dilanjutkan. 5. Break Even Point (BEP) Perhitungan BEP digunakan untuk menentukan batas minimum volume penjualan dimana pada titik tersebut proyek tidak untung dan tidak rugi (total revenue = total cost). Selama proyek/perusahaan masih berada di bawah titik BEP, selama itu juga perusahaan tersebut masih mengalami kerugian. Untuk menghitung BEP dapat digunakan rumus dibawah ini : Break Even Point (produksi) : BEP (Produksi) = Total Biaya Operasional : Harga Penjualan BEP (Produksi) = Rp. 53.058.800,- : Rp. 380.000,- = 139 Kg /tahun Break Even Point (harga) : BEP (Harga) = Total Biaya Operasional : Total Produksi BEP (Harga) = Rp. 53.058.800,- : 320 kg = Rp.165.808,- / Kg Jadi usaha pembesaran lobster ini akan mengalami titik impas (BEP) pada saat menghasilkan lobster sebanyak 139 kg dengan harga per kg Rp.165.808,-. 6. Analisa Pay Back Period (PBP) Analisa Pay Back Period adalah waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk mengembalikan investasi. Suatu indikator yang dinyatakan dalam ukuran waktu yaitu berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal investasi yang dikeluarkan. Semakin cepat dalam pengembalian biaya investasi sebuah proyek, semakin baik proyek tersebut karena semakin lancar dalam perputaran modal. Analisa tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : PBP = Investasi : (Keuntungan + Penyusutan) x 1 tahun PBP = Rp. 39.965.000,- : (Rp. 56.381.200,- + Rp. 2.049.400,-) x 1 tahun PBP = 0,68 tahun (8 Bulan, 4 hari) Artinya modal investasi usaha yang digunakan akan kembali dalam jangka waktu 8 bulan 4 hari.

 

 BAB 4

PENUTUP

Usaha Pengembangan lopster ini ini yang berorietasi kepada ekonomi kerakyatan merupakan salah satu solusi mengatasi permasalahan ekonomi dan sosial di negara kita. Melalui usaha ini diharapkan dapat memanfaatkan ganda, berupa penyediaan lapangan kerja / kesempatan berusaha di daerah pedesaan, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

 

Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha baik pebenihan maupun pembesaran lobster sangat menguntungkan. Selain itu, usaha tersebut tidak memerlukan lahan yang luas.

 

Rencana pengembangan Ikan Gurame di Kota Banjar, proposal semoga dapat menjadi pertimbangan dan pada akhirnya terealisasi. Semoga Allah SWT meridhoi kita semua.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://nindiyanastiti.blogspot.com/2014/11/budidaya-lobster-laut.html?m=1

https://originalmutiara.com/page/92/analisis-finansial-usaha-budidaya-lobster-air-laut-skala-menengah

https://fdokumen.com/document/proposal-bisnis-lobster.html

 

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong