Usaha Pembenihan Ikan Patin

25 October 2020 23:57:31 Dibaca : 8

TUGAS MATAKULIAH SOSIAL EKONOMI PERIKANAN

PROPOSAL PEMBENIHAN IKAN PATIN

(Dosen : Lis M Yapanto S.Pi, MM)

 

  Nama    : Amelya Mustamu 

 NIM      : 1111420009

 

 

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2020

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR 

Puji dan  syukur  saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kasih dan rahmat-Nya sehingga saya dapat  menyelesaikan proposal mengenai pembenihan ikan patin”.

Proposal ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah sosial ekonomi perikanan dan juga merupakan rencana saya dalam melakukan pembenihan ikan patin ini.

Saya menyadari proposal ini masih memiliki banyak kekurangan, untuk itu saya mengharapkan kritikan dan saran yang dapat membangun agar proposal ini dapat berjalan dengan baik.

 

 Ambon, 22 Oktober 2020

 

 

       Amelya Mustamu

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................ii

BAB I . PENDAHULUAN...............................................1

A. Latar Belakang......................................................... 1

B. Rumusan Masalah................................................... 1

C. Tujuan...................................................................... 1

BAB II . TINJAUAN PUSTAKA..................................... 2

A. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Patin......................... 2

B. Habitat dan Penyebaran Ikan Patin......................... 3

C. Makanan Dan Kebiasaan Makan Ikan Patin........... 4

D. Pembesaran............................................................ 4

E. Keramba Jaring Apung.............................................5

BAB III . PELAKSANAAN............................................. 6

A. Pembenihan Skala Rumah Tangga......................... 6

1. Wadah...................................................................... 6

2. Peralatan Lain.......................................................... 8

3. Cara Pembenihan....................................................10

BAB IV . ANALISIS USAHA........................................ 14

A. Biaya operasional................................................... 14

B. Pendapatan............................................................ 14

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I . PENDAHULUAN 

A. Latar BelakangIkan patin (Pangasius hypopthalmus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, baik pada tahap pembenihan maupun pembesaran. Ikan ini memiliki kandungan protein yang cukup tinggi kadar kolesterol yang relatif rendah serta memiliki kandungan kalori sehingga ikan ini baik untuk dikonsumsi ( Khairuman, 2002).

Seiring dengan kemajuan  zaman yang terus berkembang membuat persaingan semakin ketat untuk sekedar bertahan hidup. Yang menjadi masalah utama dalam hal ini adalah masalah ekonomi. Dalam setiap aktivitas kehidupan kita tidak pernah terlepas dari masalah ekonomi. Hal inilah yang menyebabkan masalah perekonomian menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

  B. Rumusan MasalahAdapun nama usaha yang akan di buka adalah “Pembenihan Ikan Patin”. Jenis kegiatan  yang dilaksanakan berupa usaha pembenihan ikan patin .

·         Modal yang dibutuhkan untuk budidaya pembenihan ikan patin.

 

 C. TujuanTujuan dari pembenihan ikan patin :

1.      Untuk mempercepat proses pembudidayaan

2.      Siklus pembenihan relatif pendek

 

 

 

BAB II . TINJAUAN PUSTAKA 

A. Klasifikasi dan Morfologi Ikan PatinIkan patin mempunyai bentuk tubuh yang panjang. Mulutnya berada agak disebelah bawah (sub-terminal) dengan dua pasang kumis. Selain sirip ekor yang bentuknya seperti gunting, ikan ini juga memiliki sirip dada dan sirip punggung. Warna tubuhnya kelabu kehitaman, sedangkan warna perut dan sekitarnya putih Kepalanya lebar dan pipih, hampir mirip seperti ikan lele. Ikan ini sering juga disebut ikan jambal

Saanin (1984) mengklasifikasikan ikan patin, sebagai berikut.

Filum               : Chordata

Kelas               : Pisces

Sub-kelas         : Teleostei

Ordo                : Ostariophysi

Sub-ordo         : Siluroidea

Famili              : Pangasidae

Genus              : Pangasius

Ikan patin memiliki warna tubuh putih keperak-perakan dan punggung kebiru-biruan, bentuk tubuh memanjang, kepala relatif kecil. Ujung kepala terdapat mulut yang dilengkapi dua pasang sungut pendek. Susanto dan Amri (2002) menambahkan, pada sirip punggung memiliki sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi patil yang bergerigi dan besar di sebelah belakangnya. Sirip ekor membentuk cagak dan bentuknya simetris. Ikan patin tidak mempunyai sisik, sirip dubur relatif panjang yang terletak di atas lubang dubur terdiri dari 30-33 jari-jari lunak sedangkan sirip perutnya memiliki enam jari-jari lunak. Sirip dada mempunyaii 12-13 jari-jari lunak dan sebuah jarijari keras yang berubah menjadi senjata yang dikenal dengan patil. Di bagian permukaan punggung ikan patin terdapat sirip lemak yang berukuran kecil 7 Di Indonesia, ada dua macam ikan patin yang dikenal yaitu patin lokal (Pangasius pangasius) atau sering pula disebut jambal (Pangasius djambal) dan patin Bangkok atau patin Siam (Pangasius hypophtalamus sinonim P. sutchi). Saanin (1984) mengatakan, patin jambal memiliki sungut rahang atas jauh lebih panjang dari setengah panjang kepala dan hidung sedikit menonjol kemuka serta mata agak ke bawah. Sedangkan Hernowo (2005) menjelaskan, Patin siam merupakan ikan introduksi yang masuk ke Indonesia pada tahun 1972 dari Thailand. Menurut Agribisnis & Aquacultures (2009), jenis ikan patin yang benarbenar baru dan asli dari Indonesia adalah Patin pasupati. Patin jenis ini dihasilkan dari persilangan antara patin siam betina dan patin jambal jantan untuk pertama kalinya.

 Keunggulan dari patin ini adalah memiliki daging yang berwarna putih, kadar lemak yang relatif rendah, laju pertumbuhan badan yang relatif cepat dan jumlah telur yang relatif banyak. Daging yang berwarna putih dan bobot tubuh yang besar diturunkan dari patin jambal, sementara jumlah telur yang relatif banyak diturunkan dari patin siam. Menurut Warintek (2002), kerabat patin di Indonesia terdapat cukup banyak diantaranya Pangasius polyuranodo (ikan juaro), Pangasius macronema (ikan Rios, Riu, Lancang), Pangasius micronemus (ikan Wakal, Riuscaring), Pangasius nasutus (ikan Padado), Pangasius nieuwenhuisii (ikan Lawang).

B. Habitat dan Penyebaran Ikan PatinDi alam, penyebaran geografis ikan patin cukup luas, hampir di seluruh wilayah Indonesia. Secara alami ikan ini banyak ditemukan di sungai-sungai besar dan berair tenang di Sumatera, seperti Sungai Way Rarem, Musi, Batanghari dan Indragiri. Sungai-sungai besar lainnya di Jawa, seperti Sungai Brantas dan 8 Bengawan. Bahkan keluarga dekat lele ini juga dijumpai di sungai-sungai besar di Kalimantan, seperti Sungai Kayan, Berau, Mahakam, Barito, Kahayan dan Kapuas. Umumnya, ikan ini ditemukan di lokasi-lokasi tertentu di bagian sungai, seperti lubuk (lembah sungai) yang dalam (Agribisnis & Aquacultures, 2009). Susanto dan Amri (2002) mengatakan, ikan patin bersifat nocturnal atau melakukan aktivitas dimalam hari sebagaimana umumnya ikan catfish lainnya. Patin suka bersembunyi di dalam liang-liang di tepi sungai habitat hidupnya dan termasuk ikan dasar , hal ini bisa dilihat dari bentuk mulutnya yang agak ke bawah.

 Ikan ini mampu bertahan hidup pada perairan yang kondisinya sangat jelek dan akan tumbuh normal di perairan yang memenuhi persyaratan ideal sebagaimana habitat aslinya. Kandungan oksigen (O2) yang cukup baik untuk kehidupan ikan patin berkisar 2-5 ppm dengan kandungan karbondioksida (CO2) tidak lebih 12,0 ppm. Nilai pH atau derajat keasaman adalah 7,2-7,5, konsentrasi sulfida (H2S) dan ammonia (NH3) yang masih dapat ditoleransi oleh ikan patin yaitu 1 ppm. Keadaan suhu air yang optimal untuk kehidupan ikan patin antara 280 C-290 C. Ikan patin lebih menyukai perairan yang memiliki fluktuasi suhu rendah. Kehidupan ikan patin mulai terganggu apabila suhu perairan menurun sampai 140 C-150 C ataupun meningkat diatas 350 C. Aktivitas patin terhenti pada perairan yang suhunya dibawah 60 C atau diatas 420 C (Djariah, 2001).

C. Makanan Dan Kebiasaan Makan Ikan PatinMenurut Djariah (2001), Ikan patin memerlukan sumber energi yang berasal dari makanan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Patin merupakan ikan pemakan segala (omnivora), tetapi cenderung ke arah karnivora. 9 Susanto dan Amri (2002) menjelaskan, di alam makanan utama ikan patin berupa udang renik (crustacea), insekta dan moluska. Sementara makanan pelengkap ikan patin berupa rotifera, ikan kecil dan daun-daunan yang ada di perairan. Apabila dipelihara di jala apung, ikan patin ternyata tidak menolak diberi pakan, sesuai dengan penelitian Arifin (1993) dalam Cholik et al (2005) yang menyatakan bahwa ikan patin sangat tanggap terhadap pakan buatan.

D. PembesaranMenurut Jangkaru (2004), pembesaran ikan merupakan bagian dari usaha budi daya ikan. Pembesaran adalah suatu usaha pemeliharaan ikan yang dimulai dari ikan lepas dederan dan berakhir sampai mencapai ukuran kunsumsi atau ukuran untuk pasar. Sedangkan Susanto dan Amri (2002) mengartikan, pembesaran ikan merupakan kegiatan untuk menghasilkan ikan yang siap konsumsi. Produk akhirnya berupa ikan konsumsi, meskipun ukuran ikan yang dikonsumsi bisa saja berbeda sesuai dengan kebutuhan pasar.

E. Keramba Jaring ApungKeramba jaring apung (cage culture) adalah sistem budidaya dalam wadah berupa jaring yang mengapung dengan bantuan pelampung dan ditempatkan di perairan seperti danau, waduk, sungai, selat dan teluk. Sistem ini terdiri dari beberapa komponen seperti rangka, kantong jaring, pelampung, jalan inspeksi dan rumah jaga.

 Kantong jaring terbuat dari bahan polyethelene dan polyprophelene dengan berbagai ukuran mata jaring dan berbagai ukuran benang, berfungsi sebagai wadah untuk pemeliharaan dan treatment ikan. Pelampung terbuat dari drum plastik, drum besi bervolume 200 liter, styrofoam atau gabus yang dibungkus dengan kain terpal yang berfungai untuk mempertahankan kantong 10 jaring tetap mengapung di dekat permukaan air (Seputar Informasi Perikanan dan Kelautan, 2008). Rochdianto (2005) menambahkan, Keramba jaring apung ditempatkan dengan kedalaman perairan lebih dari 2 meter. Beberapa masyarakat ada yang menyebut kantong jaring apung, keramba kolam terapung dan jaring keramba terapung atau disingkat kajapung

 

 

 

  

BAB III . PELAKSANAAN 

A. Pembenihan Skala Rumah TanggaUsaha pembenihan ikan patin berskala rumah tangga biasanya berskala kecil sehingga kebutuhan akan peralatan kelengkapannya pun biasanya dipilih yang sederhana dan mudah diperoleh.

1. WadahWadah merupakan suatu tempat, baik untuk penetasan telur atau pemeliharaan ikan. Wadah yang digunakan ada beberapa macam, tergantung dari fungsinya.

a.       Akuarium

Akuarium ini berfungsi sebagai tempat penetasan telur dan pemeliharaan larva ikan patin. Akuarium yang dimaksud adalah akuarium beserta rak atau dudukannya. Rak tersebut dapat dibuat dari bahan besi yang dirangkai atau menggunakan besi “L”. Sebagai dasar atau bantalan akuarium di rak tersebut digunakanalas papan atau triplek. Agar lebih aman dan kebersihan dasar akuarium terlihat, sebaiknya di atas triplek dilapisi styrofoam atau busa putih. Ukuran triplek dan busa putih tersebut disesuaikan dengan ukuran akuarium dan ukuran raknya. Untuk memudahkan pengelolaan, sebaiknya ukuran akuarium tidak terlalu besar. Ukuran yang dianjurkan yaitu panjang 60 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 40 cm. Apabila akuarium sulit diperoleh, maka sebagai tempat penetasan telur ikan patin dapat menggunakan waskom bulat bergaris tengah 50 cm.

Adapun fungsi sebagai wadah pemeliharaan larva ikan patin dapat ditanggulangi dengan menggunakan bak semen berukuran panjang 200 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 40 cm atau membuat bak plastik sendiri. Caranya, buat rangka bak dari bahan kayu, kemudian sebagai dasar bak serta dinding sisi-sisinya digunakan plastik. Plastik yang biasa digunakan adalah plastik karpet atau plastik terpal.

b.      Botol Galon Air Mineral

Botol galon air mineral yang biasa dipasang di dispenser dapat digunakan sebagai wadah penetasan telur artemia. Apabila wadah ini sulit diperoleh, maka fungsi wadah penetasan telur artemia tersebut dapat digantikan stoples plastik (transparan) atau ember yang berwarna terang. Ukuran stoples yang dianjurkan adalah kapasitas volume minimal 5 liter, berbentuk kerucut, atau tabung yang bergaris tengah 20—30 cm.

c.       Bak atau Kolam Pemeliharaan induk

Sebagai tempat untuk memelihara induk (merawat dan mematangkan telur) dapat berupa bak atau kolam. Bak atau kolam induk ini sebaiknya memiliki sumber air yang baik. Luas atau ukuran kolam disesuaikan dengan jumlah induk yang akan dipelihara. Kepadatan yang dianjurkan adalah 0,25 kg per m2 Adapun kedalaman air disarankan 100 cm.

d.      Bak Pemberokan

Bak pemberokan digunakan untuk menyimpan atau menempatkan induk hasil seleksi dari kolam pemeliharaan induk. Sebaiknya kolam atau wadah ini tidak terlalu besar dan tidak terlalu dalam karena fungsinya hanya sebagai tempat penyimpanan sementara. Misalnya berukuran 2 m x 1 m x 1 m. Yang harus diperhatikan adalah sifat ikan patin yang suka menabrak dinding bak/kolam ketika terkejut. Untuk itu, dinding bak atau wadah pemberokan dibuat tidak kasar dan dianjurkan diberi styrofoam atau busa.

e.       Bak Inkubasi

Bak inkubasi merupakan bak untuk menyimpan induk ketika mau disuntik, sudah disuntik, dan menunggu waktu ovulasi (pengeluaran telur). Bak ini sebaiknya tidak terlalu luas agar memudahkan pengelolaan terhadap induk karena pada tahap ini induk akan sering ditangkap untuk disuntik maupun untuk diperiksa telurnya. Apabila areal sangat terbatas, bak inkubasi tidak perlu dibuat dan sebagai tempat untuk menyimpan induk dapat menggunakan bak pemberokan.

f.  Bak penampungan cacing

Bak ini berfungsi untuk menampung cacing rambut yang merupakan pakan alami bagi benih ikan patin. Bak ini tidak harus terlalu luas, yang penting air dipertahankan agar selalu mengalir dan memiliki kedalaman 10-25 cm.

2. Peralatan LainBeberapa peralatan penting lainnya yang harus ada dalam usaha pembenihan sebagai berikut.

a.       Aerator

Oksigen harus selalu ada di dalam media (air) penetasan telur maupun media pemeliharaan larva dan benih ikan patin. Seperti makhluk hidup lain, ikan pun memerlukan oksigen untuk bernapas. Ketersediaan oksigen dalam air pun akan semakin berkurang. Oleh karenanya, perlu dilakukan penambahan oksigen. Caranya dengan memasang aerator.

b.      Water Heater atau pemanas Air

Berfungsi untuk mengondisikan suhu air di dalam akuarium agar tetap stabil pada suhu optimal, yaitu 30° C, baik sebagai media penetasan telur maupun pemeliharaan larva dan benih ikan patin.

c.       Timbangan Gantung

Timbangan gantung berfungsi untuk menimbang induk yang akan dipijahkan (dikawinkan). Penimbangan ini harus dilakukan untuk menentukan jumlah hormon dan atau kelenjar hipofisa yang akan disuntikkan ke dalam tubuh ikan tersebut. Kapasitas timbangan yang dianjurkan 25 kg. Hal ini untuk memudahkan teknis penimbangan serta memudahkan kegiatan lainnya.

d.      Karung Terigu

Digunakan untuk wadah pengangkutan induk ikan dari kolam ke tempat pemijahan dan sekaligus dapat digunakan sebagai wadah untuk penimbangan induk Dipilihnya karung terigu sebagai wadah untuk mengurangi risiko lecet atau terluka akibat penanganan induk.

e.       Kain Lap

Kain atau kertas ini diperlukan untuk mengeringkan tubuh induk ikan patin yang akan diambil telur maupun spermanya.

f.       Spuit atau alat suntik

Alat suntik atau spuit digunakan untuk melakukan penyuntikan atau memasukkan hormon ke dalam tubuh ikan yang akan dipijahkan. Sebaiknya dipilih spuit plastik volume 2 cc, untuk mengurangi risiko pecah bila terjatuh. Spuit ini dapat diperoleh di apotek-apotek dengan rekomendasi dari dokter, dokter hewan, atau dinas perikanan setempat.

g.      Baki plastik

Baki plastik diperlukan untuk menampung telur hasil pengurutan dan sekaligus sebagai wadah saat melakukan pembuahan buatan (fertilisasi). Ukuran baki ini dianjurkan yang mempunyai panjang 30 cm, lebar 20 cm, dan tinggi 5 cm. Akan tetapi, ukuran baki plastik ini tidak baku, melainkan dapat bervariasi tergantung jumlah telur atau induk yang akan dikeluarkan telurnya. Semakin banyak telur yang akan diperoleh, dianjurkan semakin besar dan atau semakin banyak baki plastik yang disiapkan.

h.      Gelas

Gelas digunakan untuk menampung sekaligus mengencerkan sperma ikan patin. Gelas yang digunakan sebaiknya memiliki dasar yang agak lebar sehingga kecil kemungkinannya untuk terguling

atau tumpah.

i.        Bulu ayam

Bulu ayam digunakan untuk mengaduk telur pada proses pembuahan buatan.

j.        Serokan ikan (scope net)

Serokan digunakan untuk memanen atau menangkap larva dan atau benih ikan patin. Sebaiknya digunakan serokan yang ba- hannya halus agar tidak menimbulkan luka saat menangkap larva atau benih ikan yang berukuran kecil.

k.      Ember atau waskom

Wadah ini digunakan untuk membantu pemanenan dan pemindahan larva atau benih ikan patin dari satu wadah/akuarium.

j.  Selang plastik

Selang plastik berguna untuk membuang kotoran dan mengganti air pada media pemeliharaan. Di sini, diperlukan dua buah ukuran selang, Selang berukuran kecil (diameter 1 cm) untuk membersihkan kotoran di akuarium dan memanen larva. Selang berukuran lebih besar (diameter minimal 0,5 inci) untuk mengganti air media pemeliharaan.

l.  Pompa air

Pompa air digunakan untuk mempermudah pengelolaan air di dalam unit pembenihan ikan patin. Dianjurkan untuk memiliki dua buah model pompa. Model pertama pompa submersible, yaitu pompa celup atau pompa kedap air yang dapat digunakan untuk mengalirkan air dari bak penampungan air/sumur ke akuarium atau bak pemeliharaan. Model kedua adalah handy pump atau pompa tangan. Pompa model kedua ini sangat praktis, mudah dipindahtempatkan, dan sangat membantu saat kegiatan pengeluaran serta pemasukan air ke dalam bak atau wadah pemeliharaan

m.  Sumber listrik

Listrik merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi berjalannya usaha pembenihan ikan patin, khususnya untuk kegiatan penetasan telur dan pemeliharaan larva, maka dianjurkan memiliki cadangan pembangkit tenaga listrik yang dapat dioperasikan dengan menggunakan solar atau bensin. Cadangan sumber listrik ini sebagai langkah antisipasi apabila sumber listrik dari PLN padam.

3. Cara Pembenihana.    Merawat Induk

Merawat induk merupakan bagian yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan sebuah unit pembenihan ikan. Mutu atau kualitas induk merupakan modal dasar bagi sebuah unit usaha pembenihan Mutu induk yang baik dan ditunjang dengan perawatan yang baik diharapkan dapat menghasilkan telur dengan kualitas yang baik, yang pada akhirnya diharapkan menghasilkan larva ikan yang baik pula. Jadi, kualitas telur merupakan hal pokok yang sangat menentukan di dalam kegiatan usaha pembenihan ikan Kualitas telur sangat ditentukan oleh mutu induk dan bagaimana cara perawatannya.

Mutu induk, selain ditentukan dari sisi genetikanya, juga sangat ditentukan oleh cara perawatan induk tersebut. Paling tidak ada dua hal yang harus diperhatikan dalam memelihara induk, yaitu kolam pemeliharaan dan pakan.

b.      Penanganan Induk Menjelang Pembenihan

Di Indonesia, sampai saat ini ikan patin baru memijah pada musim penghujan. Pada musim kemarau, induk ikan patin harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Oleh karenanya, para pengelola unit pembenihan ikan patin harus paham betul serta melakukan persiapan-persiapan pembenihan ketika musim kemarau menjelang berakhir dan musim penghujan akan tiba. Pada awal musim penghujan, pengelola harus dengan sigap mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjalankan kegiatan pembenihan ikannya. Dalam hal ini penanganan induk yang tepat harus dilakukan, baik meliputi : pemilihan induk, pemberokan, penimbangan, penyuntikan, sampai pada pengeluaran telurnya.

c.       Penyuntikan

Penyuntikan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan kelenjar hipofisa atau dengan hormon buatan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada tahap penyuntikan yaitu pemilihan hormon dan dosis yang tepat bagi induk, waktu, letak dan frekuensi penyuntikan, serta penanganan induk (handling).  Penyuntikan dilakukan dengan memperhatikan :

1)      Hormon dan Dosisnya

2)      Waktu dan Letak penyuntikan

d.      Pengeluaran Telur dan Sperma, serta Pembuahan

Seperti telah dijelaskan di muka, bahwa setelah induk disuntik, langkah berikutnya adalah menunggu saat ovulasi yang selanjutnya dilakukan pengeluaran telur. Saat menunggu ovulasi biasanya disebut sebagai tahapan "inkubasi". Jadi, masa inkubasi ini selama + 24 jam, dihitung sejak penyuntikan pertama.

Pada masa inkubasi berlangsung, sebaiknya dilakukan persiapan peralatan untuk penanganan telur atau fertilisasi. Peralatan tersebut antara lain: kain lap atau kertas tisu; piring, mangkuk, atau baki plastik; gelas; bulu ayam atau bulu angsa; dan larutan sodium klorida. Tahapan :

1)      Pengeluaran Telur

2)      Pengeluaran Sperma

3)      Pembuahan Buatan

e.       Menetaskan Telur

Setelah pencucian telur selesai, telur kemudian diterbar ke wadah penetasan. Wadah tersebut harus benar benar siap sebelum telur disebar. Kesiapan wadah tersebut meliputi beberapa hal sebagai berikut Wadah harus benar-benar bersih atau steril. Media airnya juga harus baik. Sebaiknya air yang digunakan telah disiapkan (didiamkan) satu hari.

Wadah penetasan tersebut harus benar-benar terjamin keamanannya. Baik keamanan berupa gangguan kehilangan maupun gangguan yang bersifat teknis, misalnya terkena air hujan sehingga mempengaruhi DO (kandungan oksigen terlarutnya), pH, serta temperaturnya. Dengan kata lain, dianjurkan wadah penetasan diletakkan di dalam ruangan yang tertutup. Untuk mendapatkan oksigen yang cukup, perlu dipasang instalasi aerasi di dalam media penetasan telur. Untuk menjaga temperatur yang ideal (29-30° C) serta stabil, dapat dengan cara memasang alat pemanas air otomatis, mengurangi ventilasi udara ruangan penetasan, atau meningkatkan suhu ruangan dengan menggunakan tungku api dan atau listrik.

f.       Merawat Larva

Kegiatan selanjutnya adalah perawatan larva. Larva ikan patin, seperti larva' ikan pada umumnya, telah memiliki makanan cadangan sebagai sumber energi sebelum alat pencernaannya terbentuk sempurna. Makanan cadangan itu berupa kuning telur. Namun, begitu kuning telur hampir habis, biasanya alat pencernaannya telah terbentuk dan siap digunakan untuk mengonsumsi makanan dari luar, khususnya makanan alami. Ketika baru menetas sampai dengan alat pencernaannya belum terbentuk, larva ikan patin tidak perlu diberi makanan. Pada kondisi kandungan oksigen terlarut yang cukup dan temperatur air berkisar 29° C, kuning telur biasanya akan habis pada hari keempat atau kelima. Sejak hari keempat itulah, pakan harus sudah diberikan. Apabila perawatan larva dilakukan di dalam akuarium atau bak, biasanya pakan yang diberikan adalah pakan alami. berupa nauplius Artemia. Selain itu, perawatan juga dapat dilakukan dengan menggunakan kolam.

 

 

 

 

BAB IV . ANALISIS USAHA 

A. Biaya operasional

Pengeluaran biaya benih ikan patin Rp200 per ekor × 6000 = maka total sekitar Rp1.200.000Membutuhkan pakan agung dengan pf.1000 untuk benih ikan patin ( perlu mengeluarkan biaya, artinya 3 sak atau setara dengan 30 kg) Rp145.000 per sak × 3 = maka total Rp435.000

Membutuhkan lagi pakan agung 781-2 ( pengeluaran biaya hanya 2 sak atau setara 60kg) Rp290.000 per sak × 2 = total Rp580.000 Pengeluaran biaya lain-lain jika perlu = Rp500.000 Total pengeluaran uang biaya =

Rp1.200.000 + Rp580.000 + Rp435.000 + Rp500.000 = maka total keseluruhan Rp2.715.000

B. Pendapatan

Untuk harga ikan patin seperti tingkat tengkulak mempunyai kisaran harga sekitar Rp16.000 per kilogram

Jika asumsi hitungan saja untuk 1 kilogram memiliki 3 ekor ikan, maka hitungan keseluruhan hasil panen yang bisa anda dapatkan nantinya 6000 ekor sebanyak 2000kg

 

 

 

 

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong