Ketika secarik kertas dan pena menjadi saksi perjuanganku
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hello everyone, sebelum masuk ke dalam isi blogNya saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan Nama saya Wilia Tantiani, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial. Saya berasal dari Desa Bandung Rejo, Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo. Hobi saya adalah membaca dan menulis. Baik langsung saja ke topik pembahasan.
Penasaran??
Mari simak isi dari artikelku
Pena? Ada apa dengan pena?
Pena dan kertas bagi saya adalah bagian yang sangat bermanfaat dan sangat di perlukan dalam hidup ini. Tanpa adanya pena dan kertas apa jadinya dunia ini karena dari pena dan secarik kertas bisa menghasilkan tulisan yang di keluarkan dari ide pikiran manusia yang kemudian di tulis, di baca, di cermati dan bisa menciptakan sesuatu hal yang sangat luar biasa. Hasil tulisan dan hasil pikiran itulah yang bisa membawa diri ini melangkah jauh ke depan.
Saya sangat senang ketika pena dan kertas sudah berada di tangan saya. Ide, motivasi, karya selalu beradu dalam pikiran ini sehingga dapat mengubah hidup saya menjadi lebih baik. Mungkin menurut orang itu adalah hal yang aneh dari diri saya. Tapi menurut saya tidak, kertas dan pena berbaur menjadi satu sehingga menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat untuk diri sendiri dan semua orang. Kertas yang kosong harus disertai dengan pena, tangan yang menggenggam, dan pikiran yang terus mengalir untuk menghasilkan suatu karya dan motivasi dalam perjuangan.
Mengutip suatu Kalimat "kertas yang kosong bagaikan awal mula kehidupan kita di dunia dan pena adalah aksi kita mewarnai dunia ini". Saya sangat termotivasi dengan kalimat itu karena perubahan saya terletak pada pensil dan secarik kertas yang membawa saya semangat mengejar impian dan cita-cita di masa depan saya. Saya bukan orang yang terlahir sempurna, bukan orang yang sangat ambisius dan senang belajar, tapi saya adalah orang yang terus berusaha dalam kondisi apapun.
Ketika saya sudah duduk di bangku SMA di saat itulah diri ini harus memikirkan tentang masa depan, saat usia saya 17 tahun tepatnya duduk di kelas 12 SMA adalah langkah saya dalam memikirkan dengan serius (matang) bahwa siapa diri saya ke depannya. Saya bukan terlahir dari keluarga yang kaya, namun saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana.
Berbicara sedikit mengenai situasi saat itu.
Saat itu, pikiran saya sedang di usik oleh hal-hal yang luar biasa, terutama dalam masa depan. Seorang anak tentunya memiliki cita-cita dan masa depan, tapi tak semuanya berjalan sesuai dengan keinginan. Karena keinginan punya kenyataan. Di saat pikiran saya selalu risau mengenai masa depan, di saat itulah pena dan secarik kertas saya terus menemani saya, banyak segudang motivasi, impian yang saya tulis di buku tersebut.
"Ketika malam berganti pagi, ketika mimpi dibatasi realita, kini hujan tak turun lagi, ada paham yang sulit dipahami, tiada waktu untuk kembali putus asa, ku percaya ada rahasia dibalik kertas dan pena". Sulit sekali ketika kenyataan tidak sesuai dengan impian, tapi saya sangat yakin bahwa inilah takdir saya dan Allah akan berikan kepada saya sesuatu yang lebih daripada yang saya inginkan. Entah kenapa setiap kalimat yang saya tulis dengan pena dan secarik kertas itu seolah-olah menjadi kenyataan. Itu bukanlah hal yang ajaib, namun itu adalah hasil pikiran yang kemudian di tulis dan sangat menjadi harapan besar bagi saya. Suatu saat saya akan mengerti apa yang saya tulis sekarang.
Saya sangat terinspirasi oleh banyak penulis dan penerbit buku yang sangat hebat, walaupun saya tidak mengambil jurusan yang berkaitan dengan Sastra Bahasa Indonesia tapi saya harus bersyukur. Harus bisa menjalani dengan penuh kesabaran agar mendapatkan hasil yang memuaskan. In syaa Allah kalau kita berusaha, akan ada hasilnya.
Sedikit memperlihatkan perjuangan saya dalam meraih impian :
• 19 Desember 2020 adalah awal saya menginjakkan kaki di Universitas Negeri Gorontalo. Di saat itulah saya bangkit, sadar, semangat berusaha menggapai cita-cita dan impian saya. Setelah beberapa kali rasanya ingin menyerah.
• Tanggal 5 Januari adalah awal saya mendaftar di Universitas Negeri Gorontalo, kemudian tanggal 19 Februari saya mulai memilih jurusan. Sambil menunggu hasil, pikiran ini selalu risau tentang apa yang akan terjadi. Doa dan berusaha pun selalu di lakukan demi menghasilkan apa yang di inginkan. Tak lupa pula dengan pena dan secarik kertas yang terus menemani langkah saya.
• Serta pada akhirnya 22 maret 2021 saya lolos SNMPTN Jurusan SOSIOLOGI. Saya sangat bersyukur karena dengan impian, motivasi dan segala ide-ide yang muncul dari pikiran saya akhirnya terjawab setelah sekian lama perjuangan dan penantian. Akhirnya Universitas Negeri Gorontalo adalah saksi perjuangan saya melewati banyaknya badai dan drama.
"HARTA TAHTA LOLOS SNMPTN"
SEMANGAT WILIA TANTIANI
Itu adalah kalimat yang saya tulis ketika pikiran sangat berantakan, impian sedang menggebu-gebu. Namun ini bukanlah sesuatu yang ajaib ketika kalimat menjadi kenyataan, tapi itu semua bisa terjadi karena Allah yang telah mengatur segalanya dan usaha yang terus ada.
Quotes :
• "Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat"
• "Tetap kuat yaa, jalani hidup ini dengan penuh kesabaran. Mungkin dunia ini bisa di bilang cukup melelahkan. Namun tindakan yang harus kamu lakukan adalah terus bertahan dan bangkit".
Terimakasih untuk secarik kertas dan pena yang menemani perjuangan saya sampai detik ini hingga nanti. Dan Universitas Negeri Gorontalo yang sudah menerima saya untuk memberikan kesempatan melakukan perjuangan dan langkah selanjutnya. Dan juga Bapak Dosen yang pernah berkunjung ke rumah saya saat mensurvey rumah saya sekaligus mendengarkan sedikit harapan karena saya adalah pelamar KIP-K agar dapat meringankan beban kedua orangtua. Bantu doakan semoga saya dan kalian bisa membahagiakan kedua orang tua Aamiin Ya Rabbal Alamin
Itulah blog yang telah saya buat, mohon maaf jika masih banyak kekurangannya. Sekian dan Terima Kasih semuanya.