Tumbiotohe tradisi masyarakat gorontalo
‘Tumbilotohe tradisi masyarakat gorontalo’
Matahari mulai terbenam waktu menunjukan pukul 18:00 seketika langit mulai gelap suara kumandang adzan maghrib mengiringi tenggelamnya sang mentari suara beduk terdengar dari arah utara,barat,timur,selatan. waktu berbuka puasa telah tiba lapar dan dahaga akhirnya hilang seketika setelah menyantap menu buka puasa yang sudah tersedia di atas meja , qamat mulai terdengar akhirnya saya beserta keluarga bergegas untuk segera ke masjid yang tak jauh dari rumah saya dengan berjalan kaki untuk menjalankan perintah sang ilahi setibanya di masjid saya pun langsung melaksanakan sholat yang di pimpin oleh imam, imam mengucapkan salam tanda sholat telah selesai , selepas sholat saya bergegas untuk balik kerumah bersama keluarga saya , di tengah perjalanan saya merasa kebingungan melihat apa yang di lakukan sejumlah warga yang tengah sementara membuat sesuatu yang tak pernah saya lihat sebelumnya di kampung halaman saya , sejumlah warga itu tengah sedang mengerjakan sesuatu dengan memotong batang bambu lalu di patokan ke tanah, pemuda yang lainnya pun datang dengan membawah berupa botol tapi ada sumbunya mereka pun menggantungkan botol botol itu di setiap belahan bambu yang sudah di patokan sebelumnya. Rasa penasaran mulai timbul dari dalam diri saya sebenarnya apa yang hendak di lakukan sejumlah pemuda itu , sampailah saya di rumah dengan rasa penasaran begitu besar akhirnya saya langsung beranjak ke kamar nenek dan dengan rasa penasaran yang besar saya pun bertanya sebenarnya apa yang di lakukan sejumlah warga dengan maksud botol bersumbu di gantungkan di setiap belahan bambu, nenek pun tertawa dan menjelaskan bahwa yang di lakukan sejumlah warga itu yaitu dalam rangka menyambut malam tumbilotohe dimana malam tumbilotohe ini merupakan tradisi yang di lakukan masyarakat gorontalo pada tiga malam terakhir bulan puasa dan setelah mendengarkan penjelasan dari nenek saya saya pun dapat mengetahui apa tradisi tumbilotohe dan apa maksud dari tradisi ini dan keunikan unikan apa saja di malam tumbilotohe ini
Dan menurut yang saya dengar dari nenek saya bahwa Tumbilotohe merupakan arti dari bahasa gorontalo yakni tumbilo yakni pasang dan tohe yakni lampu , tradisi tumbilotohe merupakan tradisi menyalakan lampu , lampu yang di maksud yakni lampu botol, lampu ini biasanya berjejer di depan rumah atau di sepanjang jalan dan ada juga sawah sawah yang sengaja di pasangi dan di hiasi lampu botol ini , lampu ini terbuat dari botol minuman bekas lalu di pasang sumbu dan di dalamnya di masukan minyak tanah.
Tradisi ini merupakan tradisi masyarakat daerah gorontalo pada tiga malam terakhir bulan puasa ramadhan dan konon katanya menurut sebagian masyarakat gorontalo berpendapat bahwa tradisi yang satu ini sudah ada sejak nenek moyang mereka , dan ada juga yang berpendapat bahwa tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun sejak abad ke 15 dan tradisi ini turun menurun sampai pada saat ini.
Banyak masyarakat yang mempercayai bahwa tradisi tumbilotohe ini merupakan tradisi untuk menyambut malam laitul qadar dan ada juga yang berpendapat untuk menyambut hari nan fiitri yakni hari raya idul fitri,dan ada juga masyarakat yang berpendapat kalau di adakannya tradisi ini karena pada masa dulu gorontalo masih minimnya sumber penerangan sehingga di buatkan lampu lampu yang berjejer sepanjang jalan ini bertujuan untuk menerangi jalan buat masyarakat masyarakat yang nantinya akan keluar rumah.
Tradisi turun temurun ini menjadi ajang hiburan bagi masyarakat gorontalo. Malam tumbilotohe benar benar sangat ramai dan bisa di bilang festival paling ramai di gorontalo selain tradisi walima yang biasa di lakukan pada saat menyambut hari maulid nabi. Berbagai kreasi dan kreatifitas bisa di gambarkan melalui tradisi yang satu ini, banyak sawah atau lapangan yang sengaja di penuhi lampu botol di hias sekreatifitas mungkin, tentunya ini menjadi satu keunggulan dari tradisi yang satu ini, ada salah satu tempat yang menjadi favorit masyarakat ketika malam tumbilotohe tiba dimana tempat ini berada di JDS tepatnya di jalan bawah, hamparan sawah sengaja di penuhi dan di hiasi dengan lampu botol , ada ribuan lampu botol yang terpajang di sawah ini sehingga memberikan kesan tersendiri bagi masyarakat atau wisatawan yang megunjungi tempat ini di tambah lagi dengan berbagai perlombaan menambah kemeriaan malam tumbilotohe ini , suara bagaikan boom meledak terdengar begitu nyaring hingga membuat gendang telinga seakan mau robek , suara ini berasal dari sebuah bambu yang cukup besar yang salah satu bagiannya sengaja di lubang dan di isi dengan minyak tanah dan di mainkan anak anak dengan cara api yang di dekatkan ke lubang sehingga mampu mengeluarkan bunyi yang cukup keras yang bernama bunggo tentunya ini menjadi satu keunggulan lagi di malam tumbilotohe ini. Ada lagi hal yang unik dari tradisi ini dimana ada tradisi memberikan sedekah atau zakati bagi orang orang yang di lebihkan rezkinya, banyak masyarakat yang mendapat keuntungan pada tiga malam terakhir ini kebanyakan lebih dominan anak anak yang meminta zakati , anak anak ini mengiringi jalanan dengan menandungkan kalimat tumbilotohe ti ka ita bubohe,dulahu buka ti ka ita waupa dan anak anak ini tanpa rasa malu dan sungkan mendatangi setiap pintu rumah dan langsung berteriak sekencang mungkin dengan teriakan minta zakati dan pemilik rumahpun keluar dan meberikan uang seribuan atau duaribuan untuk anak anak ini dan mungkin ini merupakan berkah dari malam tumbilotohe ini malam dengan sejuta hidayah…
Namun beriringnya waktu banyak masyarakat yang dulunya menggunakan media lampu botol beralih ke lampu LED mungkin di karenakan harga bahan bakar minyak tanah yang harganya naik cukup siginifikan sehingga banyak masyarakat mulai beralih ke lampu LED dan ada juga masyarakat yang masih bertahan menggunakan lampu botol untuk menyambut malam tumbilotohe ini. Tetapi dengan berbagai kreasi tidak menghilangkan kesan sebagai rasa syukur rasa gembira setelah melewati bulan ramadhan bulan yang penuh berkah…