Biarkan Kami Tetap Di sini (sekilas kisah rumah berdarah)

14 December 2016 10:10:22 Dibaca : 48

     Rumah berdarah, yah itulah yang sedang nge-trend saat ini di kec. Suwawa, kab. Bone Bolango. Kejadian ini berlangsung sejak akhir bulan oktober sampai saat ini. Terkenalnya fenomena ini berawal dari postingan pemilik rumah yang sering meng-upload foto kejadian tersebut. Darah dimana-mana, bahkan kain kafan yang berisikan tanah kuburan, pisau menancap dilemari kain, gorden jendela yang terbakar, dan kabel televisi yang terlepas dengan sendirinya saat pemutaran ayat-ayat suci Al – Quran. Tentu ini sangat mengundang perhatian publik. Namun tak jarang juga orang-orang yang tidak percaya akan hal ini dan mengatakannyahanya mencari sensasi belaka. Yah seperti itulah, namanya juga sosmed. Dalam postingannya, nampaknya tujuan Yollanda Lapananda atau pemilik rumah ialah mencari orang yang bisa mengatasi hal tersebut. Bahkan ia bersedia untuk didatangi orang – orang yang tidak percaya akan hal itu.


     Sebenarnya kejadian ini pernah terjadi pada 3 tahun yang lalu. Adanya darah yang keluar dari organ tubuh sang anak. Ketika hal itu terjadi, tentu saja sebagai seorang ibu yang khawatir dengan keadaan anaknya tersebut segera merujuknya ke rumah sakit. Namun apa kata sang dokter? Anak ini baik-baik saja. Ia tidak menderita apapun. Organ tubuhnya baik – baik saja. Darahnya normal. Tentu saja ini menimbulkan tanda Tanya dipikiran seorang ibu. Karena khawatir akan dengan kejadian ini, Yollanda memutuskan untuk mengantarkan anak pertamanya ini pada suami pertamanya. Berpikir kejadian ini telah selesai tapi ternyata semua diluar dugaan. Bukannya telah jauh dari hal – hal aneh yang akan terjadi, malah menjadi – jadi. Sang anak bahkan sampai muntah darah. Tak tau apa yang harus dilakukan lagi, Yollanda pun memutuskan untuk memanggil orang pintar. sedikit demi sedikit kejadian ini pun mereda dan hilang.


     Pada tahun 2015, kejadian ini kembali beraksi. Namun tidak berlangsung lama. Yah, darah dimana – mana bahkan sampai ditubuh anak – anak. Waktu itu pernah saat suami dari pemilik rumah berdarah ini sedang menulis. Belum lama ia mengalihkan pandangannya, kertas itu sudah dipenuhi oleh bercak – bercak darah. Jika itu ulah manusia, apakah bisa secepat itu?


     Kini di tahun 2016 peristiwa itu terjadi kembali. Pada akhir bulan oktober tepatny pada tanggal 27 pukul 18.00 WITA. Kejadiannya diawali dengan adanya kain kafan berisikan tanah kuburan didalam lemari. Waktu itu, Yollanda hendak mengambil sesuatu didalam lemari. Tiba – tiba ia menjumapai tempat penyimpanan pakaian suaminya sudah dalam keadaan kosong. Hanya ada kain kafan putih dan bercak – bercak darah pada alas Koran tersebut. Siapa yang tidak akan terkejut dengan kejadian seperti ini? Dengan segera, Yollanda mencari orang yang biasanya menangani hal ini. Setelah dapat, ia kembali ke rumah.


     Kain kafan itupun dibuka oleh orang pintar tersebut. Ini lebih mengejutkan lagi. Ternyata isinya adalah tanah kuburan. Tentu perasaan mulai tidak menentu menghantui siapa pun yang melihatnya. Lantas kemana pakaian sang suami? Yollanda kembali menuju kamarnya. Pakaian berserakan dimana – mana. Bahkan ada yang menggantung di dekat jendela kamar. Ini ulah siapa? Pada kejadian pertama, Yollanda tidak melakukan apa – apa. Ia hanya memanggil orang pintar untuk membuka dan melihat isi kain kafan tersebut.


     Ke esokan harinya kejadian ini kembali terjadi. Darah segar menetes di kaca lemari. Pakaian anak – anak juga dilumuri oleh darah. Sepertinya kejadian tahun kemarin terulang kembali. Seketika kabel televisi yang sedang melantunkan ayat – ayat suci Al – Quran terlepas. Sementara Yollanda bersama keluarga kecilnya berkumpul diruangan televisi itu berada. Disusul dengan terbakarnya gorden pintu ruangan yang tidak jauh jaraknya dari letak televisi milik keluarga kecil itu. Siapa pun yang melihat ini tentu akan panik. Yollanda mengambil beberapa bukti gambar dari kejadian tersebut dan meng-uploadnya di sosial media dengan harapan ada yang bisa membantunya. Sedikit demi sedikit orang mulai menyempatkan untuk berkomentar pada postingan miliknya. Bermacam – macam komentar ada pada postingan tersebut. Ada yang bertanya, menawarkan untuk membantu, dan komentar negative dari orang – orang yang menganggap bahwa itu hanyalah mencari sensasi belaka.


     Kejadian ini berlangsung setiap hari dengan waktu tidak menentu. Tidak peduli, siang bahkan pagi. Tiap malam mulai terdengar kebisingan seperti aktivitas – aktivitas pada jaman dahulu. Langkah kaki mengenakan sepatu bot, mobil tang berlalu lalang, bel sepeda ontel dan nyanyian kuntilanak. Konon katanya, rumah yang ia tempati saat ini dulunya adalah tempat dimana tentara penjajah jaman dulu beraktivitas dan terdapat beberapa kuburan tua.Tidak tahan lagi dengan keadaan seperti ini, Yollanda pun memutuskan untuk melakukan rukiyah.

     Tepat di malam Jum’at setelah shalat isya pertama dilaksanakan ritual tersebut. Kenderaan pengunjung mulai memadati jalan menuju rumah pemilik rumah berdarah ini. Ketika ustadz yang akan melaksanakan prosesi rukiyah ini memasuki rumah, sebagaimana orang yang sudah bisa merasakan banyak hal beliau sudah merasakan hal tersebut bahkan melihat beberapa makhluk halus berada di tiap sudut rumah tersebut. Di kamar sang pemilik beliau menemukan sosok mengenakan kain putih menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian wajah dan terikat pada bagian kepala, antara perut dan dada, lutut, dan pergelangan kaki berdiri disamping lemari ditemukannya kain kafan kemarin.

      Sepertinya sedang terjadi perbincangan antara ustadz dan makhluk halus itu. Tidak begitu lama, ustadz itu mengatakan pada pemilik rumah bahwa makhluk tersebut bukanlah penghuni dari rumah ini. Ia hanya diperintah untuk melakukan hal ayang terjadi beberapa hari yang lalu. Ustadz pun meminta kepada makhluk tersebut untuk pergi dari tempat itu.


     Prosesi demi prosesi ritual itu dilaksanakan. Sampai ketika kedua anaknya dirasuki oleh makhluk – makhluk tersebut. Makhluk – makhluk ini ternyata tidak mau untuk melakukan transaksi seperti diajak masuk islam atau dipindahkan ke tempat lain. Dengan terpaksa, ustadz ini harus mengambil langkah terakhir yaitu digorok. Akibatnya, bukannya berkurang malah semakin banyak jumlah yang mulai berdatangan. Layaknya manusia yang tidak terima jika salah satu dari teman mereka disakiti. Sampai pada akhir ritual, makhluk – makhluk yang sudah menjadi penghuni tempat itu tidak berkurang sedikitpun. Karena sudah sangat larut, ritual ini segera diselesaikan.


     Mereka hanya ingin penghuni rumah ini pergi. Sampai penghuni rumah ini pergi, barulah mereka akan berhenti melakukannya. Itulah yang dikatakan pak ustadz diakhir ritual. Sekalipun melakukan ritual ini berulang kali, mereka akan datang silih berganti. Apa boleh buat, keluarga kecil ini sejak 6 tahun yang sudah mengukir banyak cerita dirumah ini. Dibangun dengan jerih payah sendiri dan hidup dalam suka duka bersama. Tentu ia harus berpikir kembali untuk meninggalkan tempat yang sudah lama menaungi hidup keluarganya.


     Setelah semua pengunjung pergi, Yollanda membereskan seluruh isi rumahnya. Mulai dari kamar hingga teras rumah. Dengan beralaskan karpet ia tidur diruang tamu bersama ketiga anaknya dan suaminya. Seperti biasa, suara – suara di malam hari terdengar kembali. Sebagai seorang ibu yang tidak ingin melihat anak – anakny takut, ia berusaha terlihat tegar meskipun sebenarnya tidak seperti itu.


     Hingga saat ini kejadian itu masih sering terjadi. Hari demi hari dilalui keluarga kecil tersebut dengan suasana yang mencekam di setiap saat. Pengunjung masih sering berdatangan dan ritual pun masih sering dilaksanakan. Sampai tak terasa 3 bulan lamanya kejadian ini berlangsung. Entah sampai kapan, Yollanda tidak akan mengubah keputusannya untuk tetap tinggal ditempat yang sudah menaungi hidup mereka selama 6 tahun.

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong