Hakikat Belajar dan Pembelajaran

17 June 2013 22:39:49 Dibaca : 1231

BAB I.

Pendahuluan

1.1.Latar Belakang

Menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Istilah belajar kiranya sudah lama dikenal diberbagai kalangan masyarakat. Hal itu dikarenakan sejak adanya atau lahirnya individu manusia secara tidak langsung hal pertama yang terjadi adalah belajar. Sehingga seorang ahli mengatakan bahwa manusia adalah makhluk belajar (Jumianto, 2011). Berdasarkan hal ini maka di dalam diri manusia terdapat potensi untuk diajarka sesuatu.

Bersesuaian dengan hal itu, Thomas B. Roberts (1975:1) mengemukakan bahwa terdapat 4 jenis teori yang banyak mempengaruhi pemikiran tentang proses pembelajaran dan pendidikan, yaitu teori belajar Behaviorisme, Kognitivisme, Konstruktivisme, dan Humanisme.

Maka begitu penting untuk mengetahui apa itu Belajar dan Pembelajaran serta teori-teori yang banyak mempengaruhi tentang prooses pembelajaran dan pendidikan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka kami selaku penulis mengangkat beberapa masalah, yakni sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan Belajar dan Pembelajaran?

2. Bagaimanakah teori belajar Konstruktivisme?

3. Bagaimanakah teori belajar Humanisme?

1.3. Tujuan

Dengan melihat rumusan masalah, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

Untuk memahami pengertian atau definisi dari Belajar dan Pembelajaran.Untuk memahami bagaimana teori belajar Konstruktivisme.Untuk memahami bagaimana teori belajar Hummanisme.

 

BAB II.

Isi

2.1. Belajar dan Pembelajaran

a. Pengetian Belajar

Menurut Slavin dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan proses perolehan kemampuan yang berasal dari pengalaman. Menurut Gagne dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku.

Sedangkan menurut Bell-Gredler dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat.

Sehingga dapat dikatakan bahwa Belajar adalah aktifitas mental atau (Psikhis) yang terjadi karena adanya interaksi aktif antara ndividu dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan yang bersifat relatif tetap dalam aspek-aspek: kognitif, psikomotor dan afektif. Perubahan tersebut dapat berubah sesuatu yang sama sekali baru atau penyempurnaan/penigkatan dari hasil belajar yang telah di peroleh sebelumnya.

b. Pengertian Pembelajaran

Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkingan belajar.

Menurut Gagne, Briggs, dan wagner dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.

Sehinggadapat dikatakan bahwa Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan , penguasaan kemahiran dan tabiat , serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.

2.2. Teori Belajar Konstruktivisme

Konsep dasar belajar menurut teori belajar konstruktivism adalah pengetahuan yang baru dikonstruksi sendiri oleh peserta didik secara aktif berdasarkan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Pendekatan konstruktivisme dalam proses pembelajaran didasari oleh kenyataan bahwa setiap individu memiliki kemampuan unutk mengonstruksi kembali pengalaman atau pengetahunan yang telah dimilikinya yang dengannya mereka mengaitkan antara materi yang satu dengan yang lain.

Pembelajaran konstruktivisme adalah salah satu teknik pembelajaran yang melibatkan peserta didik unutk membina sendiri secara aktif pengetahuan dengan menggunakan pengetahuan yang telah ada dalam diri mereka masing-masing. Nik Azis Nik Pa (1999) dalam Syarifah Maimunah (2008:1) menjelaskan tentang konstruktivisme dalam belajar, seperti kutipan dibawah ini,

“Kontruktivisme adalah tindakan yang lebih dari pada suatu komitmen terhadap pandangan bahwa manusia membina pengetahuna sendiri. Ini bermakna bahwa suatu pengetahuan yang dimiliki oleh individu adalah hasil dari upaya (aktivitas) yang telah dilakukan olehnya, dan bukan suatu pengajaran yang diterima secara pasifdari luar. …”

Pendapat Nik Azis Nik Pa menunjukkan bahwa keaktifan peserta didik menjadi syarat utama dalam pembelajaran konsrtuktivisme sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator. Perbandingan peranan peserta didik dan guru dalam pembelajaran konsrtuktivisme akan lebih jelas pada tabel di bawah ini,

Peranan Peserta Didik

Berinisiatif mengemukakan masalah dan pokok pikiran, kemudian menganalisis dan menjawabnya sendiri.

Bertanggungjawab sendiri terhadap kegiatan belajarnya atau menyelesaikan suatu masalah.

Secara aktif bersama teman sekelasnya mendiskusikan penyelesaian masalah atau pokok pikiran yang mereka munculkan, dan apabila dirasa perlu dapat menanyakannya kepada guru.

Atas inisiatif sendiri dan mandiri berupaya memperoleh pemahaman yang mendalam (deep understanding) terhadap suatu topic malasah belajar.

Secaara langsung belajar saling mengukuhkan pemikiran di antara mereka, sehingga jiwa sosialnya menjadi semakin dikembangkan.

Secara aktif mengajukan dan menggunakan berbagai hipotesis (kemungkinan jawaban) dalam memecahkan suatu masalah.

Secara aktif menggunakan berbagai data atau informasi pendukung dalam penyelesaian suatu masalah atau pokok pikiran yang dimunculkan oleh teman sekolah.

Peranan Guru

Mendorong peserta didik agar masalah atau pokok pikiran yang dikemukakannya sejelas mungkin dapat turut dianalisis dan dijawab oleh teman sekelasnya.

Merancang skenario pembelajaran agar peserta didik merasa bertanggjawab sendiri dalam kegiatan belajarnya.

Membantu peserta didik dalam menyelesaikan suatu masalah atau pokok pikiran apabila mereka mengalami jalan buntu.

Mendorong peserta didik agar mmengemukakan atau menemukan masalah atau pokok pikiran untuk diselesaikan dalam proses pembelajaran di kelas.

Mendorong peserta didik untuk belajar secara kooperatif dalam menyelesaikan suatu masalah atau pokok pikiran yang berkemmbang di kelas.

Mendorong pesrta didik agar secara aktif mengerjakan tugas-tugas yang menuntut proses analisis, sintesis dan simpulan penyelesaian.

Mengevaluasi hasil belajar peserta didik, baik dalam bentuk [enilaian proses maupun dalam bentuk penilaian produk.

         

         Dari pemaparan di atas maka dapat dikatakan terdapat kekhasan tersendiri dalam teori belajar konstruktivisme apabila dibandingkan dengan teori behaviorisme dan kognitivisme. Teori belajar behaviorisme lebih memperhatikan tingkah laku yang teramati, dan teori belajar kognitivisme lebih memperhatikan tingkah laku dalam proses informasi atau pengetahuan yang sedang dipelajari oleh peserta didik tanpa mempertimbangkan pengetahuan atau informasi yang telah dikuasai sebelumnya. Sedangkan teori konstruktivisme berangkat dari asumsi bahwa peserta didik mempunyai kemampuan untuk membangun pengetahuan yang baru berdasarkan apa yang telah ia kuasai sebelumnya.

Tasker (1992) mengemukakan 3 penekanan dalam teori belajar konstruktivisme:

1. Peran aktif peserta didik dalam mengonstruksi pengetahuan secara bermakna.Pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna.Mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.

2. Dalam upaya untuk mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996:20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, yaitu:

3. Memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri.Memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif.Member kesempatan kepada para peserta didik untuk mencoba gagasan yang baru.Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki oleh peserta didik.Mendoronng peserta didik untuk memikirkan perubahan gagasan mereka.Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Kita juga dapat melihat proses belajar konstruktivisme pada bagan di bawah ini,

(Briner, M:1990) mengemukakan hakikat konstruktivisme bahwa,

“They are constructing their own knowledge by testing ideas and approaches based on their prior knowledge and experience, applying these to a new situation and integrating the new knowledge gained with pre-existing intellectual constructs”.

" Mereka (siswa) membangun pengetahuan mereka sendiri dengan menguji ide-ide dan beberapa pendekatan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka, serta menerapkannya pada situasi atau kondisi yang baru dan mengintegrasikan pengetahuan baru yang diperoleh dengan pengetahuan yang sudah ada ".

2.3. Teori Belajar Humanisme

Konsep Belajar menurut teori belajar humanisme adalah belajar merupakan pemikiran kegiatan yang dilakukan seseorang dalam upayanya memenuhi kebutuhan hidupnya. Teori belajar Humanisme memandang kegiatan belajar merupakan kegiatan yang melibatkan potensi psikis yang bersifat konitif, afektif, dan konatif (psikomotor).

Kebutuhan (needs) yang dipoerkenalkan Abraham H. Maslow. Konsep teori kebutuhan Maslow dapat dilihat di bawah ini,

Gambar Susunan Kebutuhan Manusia

(Adaptasi Bourne Jr. dan Ekstrand, 1973:179)

Menurut teori kebutuhan Maslow, di dalam diri tiap individu terdapat sejumlah kebutuhan yang tersusun secara berjenjang, dimulai dari kebutuhan yang paling rendah tetapi mendasar (Physiological needs) sampai pada jenjang yang paling tinggi (self actualization). Setiap individu mempunyai keinginan untuk mengaktualisasi diri, yang oleh seorang tokoh psikologi humanis Carl R. Rogers disebut dorongan untuk menjadi dirinya sendiri (to becoming a person). Oleh Karena itu, dalam proses pembelajaran hendakya diciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik secara aktif mengaktualisasi dirinya.

Aktualisasi diri merupakan proses menjadi diri sendiri dan mengembangkkan sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis. Kaitannya dengan proses pendidikan formal (sekolah), Slavin (1994:70-110), mengelompokkan tahapan perkembangan perkembangan anak dalam beberapa tahapan, yaitu

Early childhood (awal masa kanak-kanak), Middle childhood (pertengahan masa kanak-kanak), dan  Adolescence (masa remaja)

Dengan diikuti oleh 3 dimensi utama perkembangan, yakni dimensi kognitif, dimensi fisik dan dimensi sosioemosi.

Early Childhood

Dimensi kognitif:

Lebih ditandai dengan penguasaan bahasa (language aquisitori).Sampai usia 2 tahun biasanya (bayi) memcoba memahami dunia sekitarnya melalui penggunaan rasa (sense). Kemampuan bahasa verbal dan non verbal pada usia 3-4 tahun.Memahami sejumlah kalimat sederhana pada saat akan memasuki usia Sekolah Dasar.

Dimensi fisik:

Perubahan penampilan tubuh dan penguasaan keterampilan gerak (motor skills). Contohnya: berlari, melompat, meluncur, dan berguling.Lebih pada perkembangan otot gerak besar, seperti otot kaki dan lengan sedangkan tidak begitu terlihat pada otot-otot gerak kecil seperti otot penglihatan dan pendengaran.

Dimensi Sosioemosi:

Mengalami kesulitan pada masa awal masuk sekolah karena hubungan sosial-emosional mereka hanya terbatas pada hubungan dekat (intimate relationship) seperti hubungan mereka dengan orang tua.

Middle Childhood

Dimensi kognitif:

Perkembangan proses berpikir yang dimulai dengan hal-hal konkrit oprasional (penggunaan hand phone) hingga hal-hal abstrak konseptual (aturan).Perkembangan dasar-dasar mengingat (memory skills). Perkembangan memikirkan apa yang dipikirkan (the ability to think about their own thinking).Perkembangan belajar tentang bagaimana cara belajar (the ability to learn how to learn).

Dimensi fisik:

Melambatnya perkembangan otot (≠ earlier childhood)Perkembangan tulang dan kerangkaKematangan seksual yang lebih cepat terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Dimensi sosioemosi:

Menonjolnya egosentrik pada tiap perilaku individu.Mulai berupaya menyusun dan menemukan kosep diri (self concept) dan jati diri (self identity atau self esteem) dengan standar yang dibuatnya sendiri.Tidak jarang terjadi pertentangan dengan orang tua yang dikarenakan point sebelumnya.

Adolescence

Dimensi kognitif:

Menonjolnya perkembangan fungsi otak (brain development).Perkembangan pola pikir penalaran (reasoning) baik secara induktif (khusus-umum) maupun deduktif (umum-khusus).Dapat memberikan atau mengajuka hipotesis atau jawaban sementara yang memnggunakan pola pikir deduktif ataupun sebaliknya pada hampir setiap kejadian.

Dimensi fisik:

Penyempurnaan fase pematangan seksual pada setiap indivudu baik laki-laki maupun perempuan (proses reproduksi).Terjadi perubahan postur tubuh yang terjadi karena perkembangan hormonal yang begitu menonjol pada bagian tubuh tertentu.

Dimensi Sosioemosi:

Individu mulai mengkaji keberadaan dirinya (tubuh, pikiran, perasaan, dan perilaku) yang berbeda dengan keberadaan diri orang lain.Terbentuknya identitas diri (self identity). Hal ini relatif, maksudnya tergantung pada individu sendiri yang akan membentuknya hingga sampai pada puncaknya yaitu “pengaktualisasi diri”.

             Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, siswa telah mampu mencapai aktualisasi diri secara optimal. Hal yang terpenting dalam perkembangan individu dalam teori belajar humanistik adalah kemapanan atau maksimal tidaknya perkembangan individu dalam setiap fase (earlier childhood, middle childhood dan adolescence) tentunya berdasarkan setiap perkembangan dimensinya (kognitif, fisik dan sosioemosi). Karena kesemuanya dapat saling mempengaruhi tumbuh kembangnya individu terkhusus dalam pembelajaran.

 

BAB III.

Penutup

3.1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang ada, maka kami menyimpulkan,

Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku mental karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari. Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik yang kesemuanya telah dirancang dalam sebuah sistem.

Pembelajaran yang mengacu pada teori belajar konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan peserta didik dalam mengorganisasikan pengalaman mereka (mengkonstruksikan sendiri) dengan menjadikan guru sebagai fasilitator atau mediator.Pembelajaran yang mengacu pada teori belajar humanisme didasarkan pada pemikiran bahwa belajar merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga individu memahami lingkungan dan mencapai aktualisasi dirinya.

3.2. Saran

Saran kami selaku penulis dan calon pendidik, dengan mengetahui dan memahami hakikat belajar dan pembelajaran termasuk ke 2 teori belajar yakni, konstruktivisme dan humanisme maka diharapkan kita dapat menjadi pribadi intelek yang baik dan bijak dalam membimbing peserta didik, kini dan nantinya.

 

Daftar Pustaka

Mamu, Rahmawaty. 2009. Bahan Ajar Belajar dan Pembelajaran. Gorontalo

 

Bourne, Lyle E. Jr & Ekstrand, Bruce R. 1973. Psychology: Its Principles and

 

Meaning. Hinsdale, Illinois: The Drryden Press

 

Gage, N. L. & Berliner, C. 1998. Educational Psychology. Boston: Houghton Miffin

 

Maslow, Abraham H. 1974. Some Educational Implications of Humanistic

 

Roberts, Thomas B. (ED.). 1975. Four psychologies applied to education: Freudian, Behavioral,

         Humanistic, Transpersonal. New York: Shenkman Publishing Co.

 

Slavn, Robert E. 1994. Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Allyn and Bacon

 

Hasanudin. 2012. Teori Belajar Humanistik dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Dari:

         http://hasanudin18.wordpress.com/2012/02/09/teori-belajar-humanistik-

         dan-penerapannya-dalam-pembelajaran/

 

Ramli, 2012. Hakekat Belajar dan Pembelajaran. Dari:

         http://ramliberbagiilmu.blogspot.com/2012/03/hakekat-belajar-dan-pembelajaran.html/

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong