pelapukan batuan

20 December 2014 09:40:38 Dibaca : 750

Apa yang dimaksud dengan Pelapukan ? Pelapukan adalah peristiwa penghancuran atau pengrusakan atau pelepasan bagian bagian batuan oleh zat zat penghancur. Proses pelapukan ini dimulai dari bagian yang paling luar, kemudian ke bagian yang lebih dalam. Pelaku proses pelapukan batuan terdiri atas benda mati dan makhluk hidup.

Pelaku proses pelapukan makhluk hidup adalah hewan dan tumbuhan bahkan manusia. Sedangkan pelaku proses pelapukan yang berupa benda mati meliputi : air mengalir, angin, sinar matahari, gletser, dan lain sebagainya.

Dalam proses pelapukan terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi yaitu batuan yang akan lapuk dan tenaga pelapukan. Berdasarkan batuan atau daerah yang akan lapuk, kecepatan proses pelapukan ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut:

TIngkat kekuatan atau kekompakan batuan.Kemiringan lereng atau topografiKeadaan vegetasi atau tumbuhan yang adaUnsur kimia yang terkandung dalam batuan, dan lain-lain.

Sedangkan jika ditinjau dari tenaga yang menyebabkan terjadinya pelapukan, kecepatan proses pelapukan ditentukan oleh faktor faktor sebagai berikut:

Tempratur, jika tenaga pelapuknya cahaya matahari.Unsur kimia yang terkandung, jika tenaga pelapuknya zat kimia.Kekuatan tenaga pelapuk, misal kekuatan aliran air, kecepatan angin, dan aliran gletser.Organisme yang merusak atau melakukan pelapukan, dan lain lain

Macam Macam Pelapukan

Telah dijelaskan di atas bahwa yang dimaksud dengan pelapukan adalah proses hancur atau lepasnya batuan oleh zat pelapuk. Pelapukan ada bermacam macam, jika ditinjau berdasarkan prosesnya dibedakkan menjadi tiga yaitu:

Pelapukan Kimia
Pelapukan Kimia adalah proses penghancuran batuan dengan mengubah susunan kimia batuan

yang terlapukkan. Pelapukan kimia juga dikenal dengan istilah dekomposisi pelapukan kimia berdasarkan zat pelapuknya dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

Besi yang bereaksi dengan oksigen
akan mengalami karatan

Proses oksidasi
Proses oksidasiyaitu Proses pelapukan kimia olehzat oksigen. Contoh proses oksidasi yaitu besi yang bereaksi dengan oksigen akan mengalami karatan atau lapuk.Proses hidrolis

Proses hidrolisa yaitu proses pelapukan kimia oleh air. Proses hidrolisa ini banyak terjadi di daerah kapur, batu kapur bereaksi dengan air akan hancur atau leleh membentuk endapan kalsium karbonat seperti terjadinya stalagmit dan stalagtit, goa goa kapur, doline, dan lain lain.

Pelapukan Fisik (Mekanik)
Pelapukan mekanik atau fisik adalah penghancuran masa batuan yang disebabkan oleh tenaga fisik, sedang susunan kimanya tetap. Pelapukan fisik juga disebut dengan isitilah pelapukan mekanik. pelapukan fisik atau mekanik ini terutama disebabkan oleh perbedaan tempratur, arus air, kekuatan angin, ombak, dan lain sebagainya. Berikut adalah Beberapa contoh pelapukan fisik atau mekanik antara lain:

Pelapukan fisik dengan ombak laut

Pelapukan Fisik oleh Temperatur
Suhu yang sangat tinggi pada siang dan suhu dingin di malam hari, dapat menghancurkan batuan. Pada daerah gurun waktu siang hari udara sangat panas, sehingga batuan mengalami pemuaian yang sangat besar. Sedangkan pada waktu malam hari udara sangat dingin, sehingga batuan mengalami penyusutan yang sangat besar. Setiap hari terjadi muai susut terus menerus akhirnya batuan tersebut pecah menjadi pasir (lapuk). Pelapukan fisik oleh temperatur ini cepat terjadi terutama pada daerah yang amplitudo harinya besar. Amplitudo harian artinya perbedaan suhu pada siang hari dan malam hari.Pelapukan Fisik oleh Air
Air baru bisa menjadi tenaga pelapuk batuan setelah mengalami gerakan atau pemuaian contohnya seperti : membeku, mengalir, berbentuk gelombang. dan lain sebagainya.Gelombang atau ombak laut menghancurkan batuan di pantai terjal, sehingga batuan hancur menjadi pasir. Proses pelapukan oleh ombak laut ini juga disebut dengan istilah abrasi.Aliran air sungai yang mengikis permukaan tanah, menyebabkan tanah lepas-lepas dan kemudian terbawa aliran air. Proses pelapukan fisik yang dilakukan oleh air mengalir ini disebut dengan nama Erosi.Gletser atau gumpalan es yang menuruni lereng akan mengikis daerah yang dilalui, sehingga tanah atau batuan kepas kepas dan terbawa aliran gletser.

Pelapukan Organik
Apa yang dimaksud dengan pelapukan organik ? Pelapukan organik adalah pelapukan batuan yang disebabkan oleh makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Contoh pelapukan organik yaitu akar tumbuhan yang menghunjam ke tanah mengangkat batuan, lalu batuan tersebut pecah. Hewan hewan kecil yang membuat lubang lubang di batuan juga bisa menyebabkan hancurnya batuan. Dan selain contoh tersebut masih banyak contoh lainya.

 

 

Pelapukan adalah hancurnya batuan yang berasal dari gumpalan atau ukuran besar menjadi butiran yang kecil, sampai menjadi butiran yang sangat halus seperti tanah. Pelapukan pada tanah terjadi karena adanya tenaga eksogen. Pelapukan dapat terjadi melalui tiga cara yaitu pelapukan mekanik, pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologi.

1. Pelapukan mekanik

Pelapukan mekanik merupakan proses pelapukan yang terjadi secara mekanik atau melalui proses fisika. Pelapukan mekanik hanya mengubah bentuk atau wujud bendanya saja, sedangkan susunan kimia batuan tersebut tidak berubah. Proses pelapukan disebabkan oleh perubahan suhu yang terus menerus. Setiap batuan tersusun atas mineral atau unsure-unsur yang berbeda. Oleh karena itu setiap batuan mengalami pelapukan yang berbeda-beda.

2. pelapukan kimiawi

Pelapukan kimiawi adalah pelapukan yang terjadi akibat peristiwa kimia. Biasanya yang menjadi perantara air, terutama air hujan. Tentunya Anda masih ingat bahwa air hujan atau air tanah selain senyawa H2O, juga mengandung CO2 dari udara. Oleh karena itu mengandung tenaga untuk melarutkan yang besar, apalagi jika air itu mengenai batuan kapur atau karst,

3. pelapukan biologis

Pelapukan biologis atau disebut juga pelapukan organis terjadi akibat proses organis. Pelakunya adalah mahluk hidup, bisa oleh tumbuh-tumbuhan, hewan, atau manusia. Akar tumbuh-tumbuhan bertambah panjang dapat menembus dan menghancurkan batuan, karena akar mampu mencengkeram batuan. Bakteri merupakan media penghancur batuan yang ampuh. Cendawan dan lumut yang menutupi permukaan batuan dan menghisap makanan dari batu bisa menghancurkan batuan tersebut.

 

 

 

sistem reproduksi pada hewan

10 December 2014 08:57:04 Dibaca : 810

Reproduksi pada Invertebrata

1. Perkembangbiakan aseksual

Perkembangbiakan secara aseksual pada hewan invertebrata terjadi dengan cara:

Membelah diri (pembelahan biner), yaitu pembelahan diri dari satu sel menjadi dua sel baru. Misalnya, terjadi pada Protozoa.Fragmentasi, yaitu pemisahan sebagian sel dari suatu koloni dan selanjutnya membentuk koloni sel baru. Misalnya, terjadi pada Volvox.Sporulasi atau pembentukan spora, misalnya Plasmodium (penyebab malaria) pada fase oosit. Oosit akan membelah dan selanjutnya akan menghasilkan sporozoit.Pembentuhan tunas, misalnya pada hewan Hydra dan PoriferaDengan regenerasi, yaitu sebagian tubuh terpisah dan selanjutnya bagian tadi dapat tumbuh menjadi individu baru yang lengkap. Misalnya pada Planaria dan Bintang Laut

Amoeba, membelah diri
Volvox, berbiak dengan fragmentasi

Plasmodium, melakukan sporulasi
Hydra, hewan bertunas

Planaria, melakukan regenerasi
Bintang Laut, melakukan regenerasi

2. Perkembangbiakan seksual

Pada reproduksi seksual tidak selalu terjadi pembuahan, namun kadang-kadang dapat terbentuk individu baru tanpa adanya pembuahan, sehingga reproduksi secara kawin pada hewan invertebrata dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

Tanpa pembuahan, yaitu pada peristiwa partenogenesis, sel telur tanpa dibuahi dapat tumbuh menjadi individu baru. Misalnya pada lebah jantan dan semut jantan.Dengan pembuahan, dapat dibedakan atas konjugasi dan anisogami.

Konjugasi, ini terjadi pada invertebrata yang belum jelas alat reproduksinya misalnya Paramecium.Anisogami, yaitu peleburan dua asel kelamin yang tidak sama besarnya, misalnya peleburan mikrogamet dan makrogamet pada Plasmodium, dan peleburan sperma dengan ovum di dalam rahim.

Pembiakan seksual lainnya dapat kita temukan pada:

Hydra

Selain berkembang biak secara aseksual (bertunas) Hydra juga dapat berkembang biak secara seksual. Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan pembentukan testis dan ovarium, yang terdapat pada satu tubuh (hermafrodit). Alat tersebut masing-masing menghasilkan spermatozoid dun ovum. Hasil pembuahannya adalah zigot yang selanjutnya akan berkembang menjadi hewan baru.

Cacing pita

Tubuh cacing pita terdiri atas segmen-segmen yang disebut proglotid. Pada setiap proglotid terdapat ovarium yang menghasilkan ovum dan testis yang menghasilkan sel sperma. Bila sel telur dan sel sperma sudah masak, maka terjadilah pembuahan didalam proglotid yang menghasilkan zigot.

Cacing tanah

Dalam tubuh cacing tanah terdapat beberapa segmen yang kulitnya menebal disebut klitelum. Dalam segmen tersebut terdapat testis yang membentuk spermatozoid, dan ovarium yang membentuk ovum. Walaupun ovum dan spermatozoid terdapat dalam satu tubuh, cacing tanah tidak pernah mengadakan pembuahan sendiri, tetapi melakukan perkawinan dengan mempertukarkan spermatozoid (perkawinan silang).

Serangga

Pada beberapa jenis serangga, misalnya lebah madu (Apis indica), terdapat koloni yang terdiri atas ratu yang fertil, pejantan fertil dan mati setelah kawin, dan pekerja yang mandul (steril). Pada waktu kawin, sperma dari jantan disimpan dalam kantung sperma di induk betina. Sperma ini merupakan cadangan sperma selama ratu hidup. Bila telur yang telah matang dibuahi oleh sperma, telur tersebut akan berkembang menjadi calon ratu, calon pekerja atau prajurit, sedangkan yang tidak dibuahi (partenogenesis) akan berkembang menjadi pejantan. Lebah pekerja dan prajurit menjadi mandul (streril) karena pengaruh lingkungan, yaitu kurang makan.

Reproduksi pada Vertebrata

Vertebrata hanya dapat berkembang biak secara kawin (seksual), yaitu melalui peleburan antara ovum dan spermatozoid. Pembuahan pada vertebrata dapat terjadi di luar tubuh maupun di dalam tubuh. Bila terjadi di luar tubuh disebut fertilisasi eksterna, misalnya pada ikan dan katak. Bila pembuahannya terjadi di dalam tubuh disebut fertilisasi interna. Misalnya pada reptilia, burung, dan hewan menyusui.

Perkembangbiakan pada vertebrata dapat dibedakan atas:

Ovipar (bertelur), ialah hewan yang meletakkan telur di luar tubuhnya. Embrio berkembang di dalam telur dan memperoleh sumber makanan dari cadangan makanan dalam telur. Misalnya ikan, burung, amfibia, dan sebagian reptilia.Ovovivipar (bertelur-beranak), ialah hewan yang menghasilkan telur, dan embrio berkembang dalam telur. Pembeda dengan ovipar adalah kelompok hewan ovovivipar tidak mengeluarkan telurnya dari dalam tubuh. Jadi embrio tetap tumbuh di dalam telur tetapi tetap berada di dalam tubuh induk. Saat menetas dan keluar dari tubuh induknya tampak seperti melahirkan. Misalnya, ikan Hiu, kadal, dan beberapa jenis ular.Vivipar (beranak), ialah hewan yang melahirkan anaknya. Embrio berkembang di dalam tubuh induknya dan mendapatkan makanan dari induknya dengan perantaraan plasenta (ari-ari). Misalnya, manusia dan hewan menyusui lainnya.

Ikan

Ikan termasuk hewan yang bersifat ovipar. Ikan tidak mempunyai organ perkawinan. Pembuahan terjadi diluar tubuh, yaitu di dalam air. Sekali bertelur ikan mampu menghasilkan ribuan telur yang tidak dilindungi oleh cangkang. Telur yang telah dibuahi selanjutnya ada yang dibiarkan terapung-apung dalam air, ada yang ditempatkan dalam sarang dan dijaga oleh induknya, ada yang ditempelkan pada tanaman dalam air, serta ada pula yang disimpan di dalam rongga mulut induk betinanya seperti pada mujaer.

Amfibi

Seperti pada ikan, katak juga bertelur dengan fertilisasi eksternal. Telur yang telah dibuahi akan bergerombol dipermukaan air. Setelah enam hari telur akan menetas menghasilkan berudu atau kecebong. Berudu hidup di dalam air dan bernafas dengan insang. Setelah mengalami metamorfosis selama 1- 3 bulan, ia akan berubah bentuk menjadi katak. Pada umur satu tahun katak telah menjadi dewasa.

Reptilia

Ada yang meletakkan telur (ovipar) dan ada pula yang bersifat ovovivipar. Pembuahan terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Telur dilindungi oleh cangkang. Telur yang dikeluarkan ada yang disembunyikan didalam pasir, di dalam lumpur, ada yang dierami. Pada kadal telurnya menetas di dalam tubuh (ovovivipar).

Aves

Fertilisasi internal dengan kloaka. Semua jenis burung bereproduksi dengan cara bertelur (ovipar). Ada burung yang mengerami telurnya, ada yang menyimpannya dalam lubang-lubang yang ditutupi daun, ada pula yang menyimpan telurnya didalam pasir. Seekor burung sekali musim hanya mampu bertelur beberapa butir saja. Pada burung merpati, sekali musim bertelur mengeluarkan 2 butir telur yang akan menetas menghasilkan burung jantan dan betina. Embrio yang berkembang dalam cangkang mendapat makanan dari cadangan makanan yang tersimpan dalam telur tersebut.

Mamalia

Fertilisasi intemal, karena telah memiliki organ reproduksi sempurna. Kecuali golongan hewan berparuh bebek (Platypus), semua hewan menyusui selalu melahirkan (vivipar). Telur mamalia kecil dan mengandung sedikit cadangan makanan. Embrio mendapat makan dari rahim induknya melalui plasenta.

 

sistem reproduksi

10 December 2014 08:43:59 Dibaca : 59

Sistem reproduksi adalah suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat dalam organisme yang dipergunakan untuk berkembang biak. Sistem reproduksi pada suatu organisme berbeda antara jantan dan betina. Sistem reproduksi pada perempuan berpusat di ovarium.

Alat reproduksi pada pria a. Sepasang testis, yang terbungkus dalam kantong skrotum, testis berfungsi sebagai penghasil sperma dan hormon testosteron b. Sepasang epididimis, saluran panjang berkelok-kelok terdapat di dalam skrotum

pada wanita ovarium berfungsi menghasilkan ovum dan hormon (estrogen dan progestron) jika sel telur pada ovarium telah masak, akan dilepaskan dari ovarium, pelepasan telur dari ovarium disebut ovulasi

tugas geologi tentang batuan

09 December 2014 22:45:30 Dibaca : 537

Log InSign Up

Laporan Makalah Batuan - Johan Edwart

Uploaded by
J. Hutabarat

top 0.5%2,610

MAKALAH BATUAN

- IGNEOUS, SEDIMENTATION, METAMORPHISME ROCK

PAGE| 29

SMK DHARMA BAHKTI 1 KOTA JAMBI MAKALAH BATUAN BATUAN BEKU, SEDIMEN, METAMORF Ada beberapa endapan sangat tebal yang berkaitan dengan kerangka tektonik yang spesifik, misalnya dimana benua terpisah pada pusat pemekaran, perlahan-lahan terakumulasi sedimen tebal sepan-jang tepi benua sebagai endapan yang terbawa arus mengisi cekungan laut yang berkembang, seperti yang terjadi di Atlantik, Amerika Utara. Dibawah paparan benua dijumpai tumpukan tebal batuan sedimen laut dangkal, gambar. 2.5-A. Hal ini dapat terjadi karena pada saat akumulasi cekungannya perlahan-lahan menurun. Pada zona tumbukan (

collission

) benua gambar. 2.5-B, dijumpai akumulasi sedimen kasar yang tebal hasil rombakan pegunungan yang terangkat. Diendapkan sebagai endapan aliran sungai berupa konglomerat dan batu pasir kasar, seperti yang dijumpai pada bagian-batu pasir kasar, seperti yang dijumpai pada bagian selatan pegunungan Himalaya. Sedimen halusnya terendapkan di laut, di teluk Benggala, sejak pengangkatan mulai. Sepanjang zona penunjaman aktif dekat batas benua seperti di Barat Amerika Selatan, sedimen terseret ke palung yang dalam dan terakumulasi menjadi endapan Ada beberapa endapan sangat tebal yang berkaitan dengan kerangka tektonik yang spesifik, misalnya dimana benua terpisah pada pusat pemekaran, perlahan-lahan terakumulasi sedimen tebal sepan-jang tepi benua sebagai endapan yang terbawa arus mengisi cekungan laut yang berkembang, seperti yang terjadi di Atlantik, Amerika Utara. Dibawah paparan benua dijumpai tumpukan tebal batuan sedimen laut dangkal, gambar. 2.5-A. Hal ini dapat terjadi karena pada saat akumulasi cekungannya perlahan-lahan menurun. Pada zona tumbukan (

collission

) benua gambar. 2.5-B yang sangat tebal, gambar 2.5-C. Oleh karena pada umumnya pada jalur tektonik sema-cam ini disertai aktivitas gunung api, maka akumulasi sedimen disini mengandung sangat banyak material gunung api. Akibat lempeng bergerak perlahan-

lahan, tumpukan sedimen tertekan dan ‘menempel’ ke benua dan menjadi bagian dari

benua. Demikian, terjadilah siklus sedimen, dari benua ke laut dan kembali ke benua, mengalami pengangkatan dan prosesnya mulai lagi.

MAKALAH BATUAN

- IGNEOUS, SEDIMENTATION, METAMORPHISME ROCK

PAGE| 30

SMK DHARMA BAHKTI 1 KOTA JAMBI MAKALAH BATUAN BATUAN BEKU, SEDIMEN, METAMORF

2.10 LAMPIRAN GAMBAR BATUAN SEDIMEN

B L A C K - L I M E S T O N E C O A L - L I G N I T E B L A C K - L I M E S T O N E S A N D S T O N E B R E C C I A C O N G L O M E R A T E H A L I T E H E M A T I T E

MAKALAH BATUAN

- IGNEOUS, SEDIMENTATION, METAMORPHISME ROCK

PAGE| 31

SMK DHARMA BAHKTI 1 KOTA JAMBI MAKALAH BATUAN BATUAN BEKU, SEDIMEN, METAMORF

BAB III BATUAN METAMORF

Batuan metamorfosa juga disebut sebagai batuan malihan, demikian pula dengan prosesnya, proses malihan. Proses metamorfisme atau malihan merupakan perubahan himpunan mineral dan tekstur batuan, namun dibedakan dengan proses diagenesa dan proses pelapukan yang juga merupakan proses dimana terjadi perubahan. Proses metamorfosa berlangsung akibat perubahan suhu dan tekanan yang tinggi, diatas 200

0

C dan 300 Mpa (mega pascal), dan dalam keadaan padat. Sedangkan proses diagenesa berlangsung pada suhu dibawah 200

0

C dan proses pelapukan pada suhu dan tekanan normal, jauh dibawahnya, dalam lingkungan atmosfir. Proses metamorfosa dapat didefinisikan sebagai :

Perubahan himpunan mineral dan tekstur batuan dalam keadaan (fasa) padat (

solid state

) pada suhu diatas 200

0

C dan tekanan 300 Mpa.

Batuan metamorf memerlukan perhatian tersendiri, karena perubahannya berlangsung dalam keadaan padat. Saat lempeng-lempeng tektonik bergerak dan fragmen kerak bertabrakan, batuan terkoyak, tertarik (

extended

), terlipat, terpanaskan dan berubah dengan cara yang kompleks. Tetapi meskipun batuan sudah mengalami pengubahan dua kali atau lebih, biasanya bekas atau bentuk batuan semula masih tersimpan, karena perubahannya terjadi dalam keadaan padat. Padat, tidak seperti cair atau gas, cenderung untuk menyimpan peristiwa-peristiwa (

events

) pengubahan-nya. Diantara kelompok batuan, batuan metamorf merupakan yang paling kompleks, tetapi juga paling menarik karena didalamnya tersimpan semua cerita yang telah terjadi pada kerak bumi. Saat lempeng-lempeng tektonik bertumbukan, terben-tuklah batuan metamorf tertentu disepanjang batas lempeng yang bertumbukan tersebut. Dengan mempelajari batuan metamorf di daerah ini, dapat diketahui dimana batas benua sebelumnya, serta telah berapa lama tektonik berlangsung di bumi.

3.1 BATAS METAMORFISME

Sudah dibahas sebelumnya bahwa metamorfisme tidak sama dengan diagenesa atau pelapukan, karena kedua-nya pada kondisi dibawah metamorfisme. Namun bagaimana dengan batas atasnya, sebab pada suhu tinggi tertentu batuan akan meleleh, sedangkan metamorfisme berlangsung dalam keadaan padat. Tidak berubah melalui lelehan seperti halnya batuan beku. Meskipun sedikit, umumnya dalam batuan di kerak bumi mengandung H

2

O, dalam pori-pori atau sebagai film tipis sekitar butiran. Batas atas metamorfisme pada kerak ditentukan oleh batas lelehan parsial basah (

onset of wet partial melting

), seperti tertera dalam gambar 3.1. H

2

O yang ada mengontrol suhu dimana lelehan parsial basah mulai dan berapa banyak magma terbentuk dari batuan metamorf. Batas atas metamorfisme adalah kisaran suhu yang bergantung pada banyaknya H

2

O yang ada. Gambar. 3.1 memperlihatkan bahwa batas atas metamorfisme tumpang tindih dengan daerah suhu dan tekanan dimana magmatisme mulai. Bila terdapat sejumlah kecil H

2

O maka lelehan yang terjadipun sedikit dan hasilnya tetap terperangkap sebagai kantong (

pocket

) dalam batuan metamorf. Sekelompok batuan gabungan, sedikit komponen batuan beku akibat lelehan dan batuan metamorf dinamakan

migmatit

. Bila terjadi sejumlah besar magma karena lelehan parsial basah,

MAKALAH BATUAN

- IGNEOUS, SEDIMENTATION, METAMORPHISME ROCK

PAGE| 32

SMK DHARMA BAHKTI 1 KOTA JAMBI MAKALAH BATUAN BATUAN BEKU, SEDIMEN, METAMORF akan naik dan menerobos batuan metamorf diatasnya. Magma yang naik akan membeku sebagai batuan intrusi, umumnya membentuk batolit granit, berasosiasi dengan batuan metamorf. Asosiasi batuan ini terbentuk pada sepanjang jalur penunjaman atau tumbukan lempeng.

3.2 FAKTOR YG MEMPENGARUHI PROSES METAMORFISME

Proses ini dapat dibayangkan sebagai orang memasak. Hasil masakannya sesuai dengan bahan yang dimasak dan cara memasaknya. Demikian juga dengan proses metamorfosa, hasilnya tergantung dari komposisi batuan asal dan kondisi metamorfosis. Komposisi kimia batuan asal sangat mempengaruhi pembentukan himpunan mineral baru, demikian pula dengan suhu dan tekanan. Suhu dan tekanan tidaklah berperan langsung, akan tetapi juga ada atau tidaknya cairan serta lamanya mengalami panas dan tekanan yang tinggi, dan bagaimana tekanannya, searah, terpuntir dsb. Bila diperhatikan tekstur khas batuan metamorf, tidak memperlihatkan urutan pembentukan masing-masing mineral seperti halnya pada batuan beku. Semua butiran dalam batuan metamorf dapat dikatakan merekristalisasi pada saat bersamaan. Dan masing-

masing harus “berebut” ruang

dalam tubuh batuan yang sudah ada. Hasilnya adalah mineral-mineral baru yang tumbuh berkembang searah dengan tegasan terkecil, gambar 3.2. Kebanyakan batuan metamorf memperlihatkan struktur berlapis atau planar, hasil rekristalisasi.

3.2.1 PENGARUH CAIRAN TERHADAP REAKSI KIMIA

Pori-pori pada batuan sedimen atau batuan beku terisi oleh cairan, yang merupakan larutan dari gas-gas, garam dan mineral yang terdapat pada batuan yang bersangkutan. Pada suhu tinggi cairan intergranular ini lebih bersifat uap dari pada cair, dan mempunyai peran penting dalam metamorfisme. Dibawah suhu dan tekanan yang tinggi terjadi pertukaran unsur dari larutan ke mineral-mineral dan sebaliknya. Fungsi cairan ini merupakan media transport dari larutan ke mineral dan sebaliknya, sehingga mempercepat proses metamorfisme. Dan jika tidak ada larutan atau sadikit sekali, maka metamorfisme berlangsung lambat, karena perpindahannya melalui diffusi antar mineral yang padat.

Daerah suhu dan tekanan (sesuai dengan kedalaman) dimana metamorfisme berlangsung pada kerak Pada suhu dan tekanan rendah, berlangsung diagenesa dan pelapukan (suhu dan tekanan normal). Pada suhu tertinggi , magmatisme dan metamorfisme bersamaan, tergantung kandungan H

2

O yang ada.

G a b a r 3 . 1

MAKALAH BATUAN

- IGNEOUS, SEDIMENTATION, METAMORPHISME ROCK

PAGE| 33

SMK DHARMA BAHKTI 1 KOTA JAMBI MAKALAH BATUAN BATUAN BEKU, SEDIMEN, METAMORF

3.2.2 SUHU DAN TEKANAN

Batuan apabila dipanaskan, pada suhu tertentu akan membentuk mineral mineral baru, yang hasil akhirnya adalah batuan metamorf. Sumber panasnya berasal dari panas dalam bumi. Batuan dapat terpanaskan oleh timbunan (

burial

) atau oleh terobosan batuan beku. Tetapi timbunan atau terobosan dapat menimbulkan perubahan tekanan, sehingga sukar dikatakan bahwa metamorfisme hanya disebabkan oleh kenaikan suhu saja. Tekanan dalam proses metamorfisme bersifat sebagai stress, mempunyai besaran serta arah. Tekstur batuan metamorf memperlihatkan bahwa batuan ini terbentuk dibawah

differensial stress

, atau tekanannya tidak sama besar dari segala arah, gambar 3.2. Berberda dengan batuan beku yang terbentuk melalui lelehan dan dibawah pengaruh

uniform stress

, atau mempunyai besaran yang sama dari semua arah. Oleh karena itu batuan beku memperlihatkan orientasi mineral yang tidak beraturan. Gambar 3.2 memperlihatkan perbedaan tekstur yang diakibatkan oleh stress yang berbeda. Letak mineral biotit dalam granit misalnya, tidak beraturan (A), sedangkan dalam batuan metamorf memperlihatkan kesejajaran yang tegak lurus arah stress utama, terbesar (B). Pertumbuhan rekristalisasi mineral baru mengikuti arah tegasan yang terkecil, tegak lurus tegasan utama.

3.2.3 WAKTU

Untuk mengetahui berapa lama berlangsungnya metamorfisme tidak mudah dan sampai saat ini masih belum diketahui bagaimana caranya. Dalam percobaan di laboratorium memperlihatkan bahwa dibawah tekanan dan suhu tinggi serta waktu reaksi yang lama menghasilan kristal yang besar. Dan dalam kondisi sebaliknya dihasilkan kristal yang kecil. Dengan demikian untuk sementara ini disimpulkan bahwa batuan berbutir kasar merupakan hasil metamorfisme dalam waktu yang panjang serta suhu dan tekanan tinggi. Sebaliknya yang berbutir halus, waktunya pendek serta suhu dan tekanan rendah.

3.2.4 PENGARUH TERHADAP TEKSTUR

Pada umumnya metamorfisme berlangsung dibawah differential stress dan hasilnya adalah tekstur yang sejajar. Apabila prosesnya terus berlangsung, mineral-mineral pipih misalnya mika dan khlorit mulai berkembang dan tumbuh berorientasi, yang lembaran-lembarannya berarah tegak lurus stress maksimum. Lembaran-lembaran mika baru yang sejajar ini membentuk tekstur planar yang disebut

foliasi

(

foliation

), berasal kata

folium

(bahasa Latin) yang berarti daun. Batuan yang berfoliasi cenderung mudah pecah sebagai lembaran.

MAKALAH BATUAN

- IGNEOUS, SEDIMENTATION, METAMORPHISME ROCK

PAGE| 34

SMK DHARMA BAHKTI 1 KOTA JAMBI MAKALAH BATUAN BATUAN BEKU, SEDIMEN, METAMORF

3.2.5 SLATY CLEAVAGE

Pada tahap awal metamorfisme derajat rendah, stress cenderung disebabkan oleh beban lapisan batuan diatasnya. Mineral-mineral baru yang berstruktur berlembar, foliasi, cenderung sejajar dengan bidang-bidang perlapisan dari batuan sedimen yang termetamorf. Pada penimbunan lebih dalam atau adanya kompresi dari tumbukan lempeng terjadi deformasi, perlapisan sedimen yang semula datar, terlipat, dan lembaran-lembaran mineral pipih dan foliasi tidak lagi sejajar dengan bidang perlapisan, gambar 3.2. Batuan metamorf derajat rendah umumnya mempunyai besar butir sangat halus, sehingga mineral-mineral baru yang pipih hanya dapat dilihat dibawah mikroskop. Dan foliasinya disebut

slaty cleavage

, yang dapat diartikan belahan-belahan tipis. Batuan metamorf derajat rendah cenderung untuk pecah-pecah menurut belahan-belahan ini.

3.2.6 SKISTOSITAS (SCHISTOSITY)

Pada metamorfisme derajat menengah dan derajat tinggi, besar butir mineral-mineralnya berkembang sehingga butirannya dapat dilihat tanpa alat. Foliasi batuan metamorf berbutir kasar disebut skistositas (

schistosity

), yang berasal dari bahasa Latin

schistos

yang berarti mudah terkelupas menurut lembaran-lembaran (

cleave

). Tekstur ini terbentuk akibat kesejajaran butiran mineral-mineral besar serta pipih dan yang permukaannya tidak perlu planar. Skistositas dibedakan dengan slaty cleavage terutama dari besar butirnya. Batuan yang bertekstur schistos cenderung akan belah-belah menurut bidang yang permukaannya bergelombang atau agak meliuk-liuk (

distorted

) yang mencerminkan keberadaan dan orientasi butiran kuarsa, felspar dan mineral lainnya.

Perbedaan tekstur pada batuan yang berkomposisi sama.

A

granit berkomposisi kuarsa, felspar dan biotit, terbentuk dibawah uniform stress.

B

batuan metamorf derajat tinggi dengan komposisi yang sama, terbentuk dibawah pengaruh differensial stress (arah panah). Arah stress terkecil tegak lurus yang utama, (dalam gambar atas-bawah)

G a b a r 3 . 2

 

UTS Kimia

09 December 2014 22:12:31 Dibaca : 48

Semoga UTS kimia pada hari selasa 9/12/2014 kelas geografi A mendapatkan hasil yang memuaskan amiiin,,,,,???

 

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong