Soe Hok Gie ; Dalam Sebuah Surat

01 February 2013 11:10:43 Dibaca : 945

 

Dhan, apa kabar Indonesia kini? Ramai kukira, kudengar sedang ramai bicara kerbau. Kenapa memangnya? Sudah lama aku tidak mendengar tanah kelahiran aku. Ah ya, kemarin aku bertemu dengan Gus Dur, orang baik, ia menyenangkan, aku dan Ahmad Wahib ketawa terpingkal dibuatnya. Ah jika aku bertemu dengannya sejak lama mungkin aku tobat jadi atheis. Hehehehe tapi aku tau kau takan percaya. Gus ini anak kyai rupanya, banyak ia bercerita tentang islam dan yang bukan islam. Rupa-rupanya ia tahu aku gak percaya tuhan barangkali. Aku sebenarnya iri melihat dia. Dia telah tenang dalam Tuhannya. Dia sudah bersatu dengan Tuhannya. Katanya ia pernah jadi presiden, 2 tahun lantas ia bosan lalu diberhentikan. Oleh DPR katanya, yang ia tuduh mirip Taman Kanak-Kanak. Aku dan Wahib sekali lagi keras tertawa.

Siapa presiden kita kali ini Dhan? Militer lagi ataukah sudah teknokrat? Aku ingin suatu saat Indonesia dipimpin oleh Filsuf atau Budayawan. Biar ia bijak, atau setidaknya ia mungkin bisa berpikir secara lebih baik, bukan lagi tentang untung rugi, tapi baik buruk. Jangan lagi presiden dari golongan kyai atau pastur, mereka suruh perbaiki umat saja, jangan ikut berpolitik. Dulu ada Buya H.A.M.K.A, orang hebat dan baik ia Dhan. Berani ia kritik Soekarno, kudengar ia sahabat Hatta.

Dhani masihkah kau suka membaca? Aku ada buku bagus, buku lama tapi semoga kau suka. Dr. Zhivago judulnya, Pasternak yang menulis. Boris Pasternak, ah si manusia itu yang sampai akhir hayatnya menolak berkompromi dengan sesama manusia, sampai saat ini tak sempat aku menulis tentangnya Dhan. Kapan-kapan kau tulis tentangnya, nanti kubaca. Jangan pacaran terus, ya aku tahu, kau sedang dekat dengan seorang gadis padang. Kawanmu Rasul bercerita, ia tiba lebih dahulu sebelum Gus Dur. Aktifis ia Dhan? Katanya dari LPM Keadilan. UII Jogja, anak sebaik dan secemerlang itu. Sayang sekali, kenapa pemuda hebat selalu cepat kesini. Sedangkan para pemabuk dan penggila pesta selalu berhayat panjang. Tapi yah, beruntunglah mereka yang mati muda, dan yang tak pernah dilahirkan.

Masih kau jadi anggota Tegalboto? Nama yang aneh brick field? Hahaha jangan marah Dhan, apapun namanya jika ia berguna tak apalah. What is a name kata Shakespeare. Sebagai wartawan kau musti tau tugas pers. Jangan kau ikuti kata presiden Soekarno dulu saat ia buka jurusan jurnalistik di pada masaku. Ia bilang tugas pers adalah menggambarkan cita-cita muluk kepada rakyat supaya nafsu yang baik dari rakyat berkobar kembali. Seolah hendak dikatakan presiden, tugas pers ialah meninabobokan rakyat. Bukan inilah tugas pers melainkan menggambarkan kebenaran pada pembaca. kalau pemberitaan itu merugikan kelompok tertentu maka berita itu harus disiarkan. Kita sering dininabobokan bahwa produksi padi naik, produksi kain maju, gerombolan dikalahkan dan seterusnya beginilah kemerdekaan pers di indonesia potonglah kaki tangan seseorang lalu masukan ditempat 2x3 meter dan berilah kebebasan padanya. inilah kebebabasan pers di indonesia.

Akhir-akhir ini aku selalu berpikir, apa gunanya semua yang Aku lakukan ini. Aku menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang Aku anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh Aku dan makin sedikit orang yang mengerti Aku. Dan kritik-kritik Aku tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang Aku lakukan? Aku ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik Aku? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang Aku merasa sungguh-sungguh kesepian.

Aku bukan Ubermensh Dhan, kadang Aku lelah bergulat dengan pemikiran Aku sendiri. Memikirkan tentang rakyat, bangsa dan kemanusiaan. Tapi apapun yang terjadi Aku menolak untuk berkompromi dengan penindasan. Lebih baik mati diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dan sekarang makin Aku geli melihat kawan-kawanmu, generasi mahasiswa kala ini sedang galau. Sibuk mencari eksistensinya sendiri. Kulihat kau pun demikian, lebih sering update status Facebook daripada ibadahmu. Generasi Facebook, menyedihkan dan jika kau kemudian ikut arus di dalamnya. Dan kupikir kamu akan terjebak dalam identitasnya.

Aku ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun. Kau tak percaya? Lihat saja demonstrasi mahasiswa saat ini, norak, kampungan! Dulu aku benci sekali dengan mahasiswa oportunis yang sok-sokan menjadi bagian dari sebuah sistem parlemen. Sistem itu busuk Dhan, tapi melihat mahasiswa demonstrasi dengan membawa batu, parang, kayu dan bensin. Mereka mau menjalankan demokrasi atau sekedar sok jagoan?

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik Aku dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. Busuk bukan? Ya, yah aku ingat kau dulu pernah bercerita tentang kawan-kawan ekstramu yang kau bilang busuk itu. Tapi kita harus adil Dhan, Seorang intelektual harus adil sejak dalam pikiran dan perbuatan. Pram bilang begitu, oh ya dia titip salam. Lama ia tak baca lagi tulisanmu, mandul kau katanya? Ayo menulis Dhan, ajak teman-temanmu sekalian. Jangan mau jadi renik dalam sejarah yang hanya numpang kuliah tanpa bisa memberi jejak dalam sejarah.

Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?. Karena kau tau Dhan? Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis. Aku muak dengan FPI Dhan, memangnya agamamu memerintahkan umatnya membawa parang kemana-mana lalu menghancurkan tempat yang dituduh maksiat? Beruntunglah aku yang tak beragama ini jika demikian. Agama harusnya membawa kedamaian Dhan, jika pun Tuhan memang ada tak mungkin ia menyuruh umatnya membacok sesamanya hanya karena berebut lahan parkir atau karena tak dapat jatah uang keamanan.

Sudahkah kau lulus Dhan? Jangan lulus dulu, tuntaskan dulu tanggung jawabmu sebagai intelektuil, bukan aku menyuruhmu malas. Tapi sesuaikan dengan tanggung jawabmu sebagai Agent of enlighment. Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas disegala arus-arus masyarakat yag kacau, seharusnya mereka bisa berpikir tenang karena predikat kesarjanannya. Lalu hiduplah dengan keyakinan teguh. Karena kau tau, Aku tak mau jadi pohon bambu, Aku mau jadi pohon oak yang berani menentang angin. Karena Aku tak mau diam melihat penindasan. Dan Aku lebih tak suka melihat orang-orang munafik Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.

Kau tentu ingat puisiku Dhan, Puisi yang kubuat saat sedang galau. Yah pasti kau lupa, tak suka aku dengan tabiatmu ini. Baiklah kutulis ulang untukmu Dhan.

Saya mimpi tentang sebuah dunia, Di mana ulama - buruh dan pemuda,

Bangkit dan berkata - Stop semua kemunafikan, Stop semua pembunuhan atas nama apa pun.

Dan para politisi di PBB,Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras,

Buat anak-anak yang lapar di tiga benua,Dan lupa akan diplomasi.

Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, Agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun,

Dan melupakan perang dan kebencian, Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Tuhan - Saya mimpi tentang dunia tadi, Yang tak pernah akan datang.

Hadapilah cita-cita ini Dhan, karena buat apa menghindar? Cepat atau lambat, suka atau tidak, perubahan hanya soal waktu. Semua boleh berubah, semua boleh baru, tapi satu yang harus dipegang; kepercayaan. Karena kehidupan sekarang benar-benar membosankan Aku. Aku merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Aku ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur. Bergeraklah Dhan, tubuhmu terlalu gemuk, terlalu banyak makan junkfood. Jangan kau bilang peduli rakyat, jika makanmu masih seperti priyayi. Bergeraklah Dhan, ayo didik masyarakatmu dengan kata-kata dan buku. Karena kau tahu, percuma hidup jika kau tak dapat berkarya.

Suatu gerakan hanya mungkin berhasil bila dasar-dasar dari gerakan tersebut mempunyai akar-akarnya di bumi tempat ia tumbuh. Ide yang jatuh dari langit tidak mungkin subur tumbuhnya, hanya ide yang berakar ke bumi yang mungkin tumbuh dengan baik. Berakar menghujam seperti beringin. Maka jika kau lihat mengapa Orde Baru kuat mengakar, ya mungkin karena lambang partainya adalah beringin. Akan lain cerita jika lambangnya adalah pohon toge.

Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak dipuncak bukit, Jadilah saja belukan. Tapi belukan terbaik yang tumbuh ditepi danau. Kalau kau tak sanggup menjadi belukan, jadilah saja rumput. Tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Tidak semua jadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya. Karena bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Tetapi jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri.

Dhan, aku mau kau dan generasimu mengerti. Bahwa pendidikan adalah satu-satunya alat menuju kondisi yang lebih baik. Ayo bangkit Dhan, jangan malas, jangan hanya bisa nonton sinetron. Tak malu kau pada kami? Aku dan Ahmad Wahib, Munir, kau tau Munir kan? Orang cemerlang itu, yang selalu datang dengan sepeda motor tuanya? Ia hebat karena mau belajar, sekolah dan membaca, pejuang ia Dhan. Tak mau kau seperti ia? Bukan sebagai superhero macam Superman, itu Cuma dagelan. Jadilah hebat karena kau peduli dan jujur. Atau seperti Marsinah, ya Marsinah wanita besi itu datang dengan berbagai persoalannya, tapi ia lega Dhan, selama hidup ia sudah jujur, jujur untuk melawan kesewenangan, ayo lah Dhan. Tak perlu dengan agitasi turun ke Jalan, bisa kau bikin macam Si Rendra, berpuisi. Jangan diam Dhan, diam hanya macam orang kejam. Karena diam dan kasihan adalah laknat kutukan pada hati manusia. Ingatlah Dhan, apatisme lahir karena dua hal, kau terlalu bodoh untuk berpikir atau terlalu egois untuk perduli.

Sahabatmu, Gie.

N.B : aku baca tulisanmu, jelek! Macam tukang kutip saja, perbaiki Dhan. Kutunggu kau untuk jadi Martir.

*Ditulis ulang untuk mengenang Soe Hok Gie, ditulis dengan campuran berbagai kutipan catatannya.

Diposkan oleh Arman Dhani Bustomi di 15.40

Label: profil, refleksi, surat, tokoh

Hidup Untuk Memilih

31 January 2013 11:18:10 Dibaca : 1986

Terkadang hidup kita sering berubah tak sesuai rencana di karenakan hidup yang kita jalani belum tentu sama persis dengan apa yang kita harapkan,pernahkah kita berencana melakukan suatu hal dengan penuh perhitungan namun semua itu sia sia hanya dengan suatu hal yang kecil.coba kita lihat apa yang terjadi terhadap burung yang sering terbang namun terkadang burung itu sering terhempas oleh angin,begitulah hidup ini,untuk mencapai suatu pencapaian hidup bukanlah hal yang mudah melainkan butuh perjuangan yang extra dan penuh perhitungan dalam menjalaninya,lalu apakah kita hanya dapat hidup dengan tanpa ada sama sekali rencana dalam benak kita,sedangkan orang yang menjalani hidup dengan menyusun rencana hidupnya saja susah tuk mencapainya apa lagi hidup yang sama sekali tak terencana.

Marilah kita berpikir sudah sampai dimana hasil pencapaian hidup kita menuju pada hal yang kita inginkan,hidup adalah pilihan dengan tanpa memilih hidup kita akan bisa jadi berantakan,jika kita tak berani memilih maka kita takan pernah sukses dalam menjalani hidup,maka dari itu marilah kita memilih dengan bijak kemana arah hidup ini karna hidup kita bukan hanya untuk sementara,hidup ini bersifat continue dan sering berputar tanpa kita ketahui perputaran hidup kita sampai dimna,

“JANGAN PERNAH MENJALANI HIDUP JIKA KITA TAK BERANI MENENTUKAN PILIHAN,KARNA PILIHANLAH YANG AKAN MENENTUKAN HIDUP KITA”

Pakaian ala PAPUA

30 January 2013 16:31:38 Dibaca : 2405

Di hari senin ,tanggalnya aku sudah tak ingat ada kejadian yang sangat membuatku tersenuyum sendiri di dalam kamrku,mengingat kembali kejadian yang kemarin itu membuat aku tak bisa melupakan kejadian itu,coba ku ceritakan kembali kisah yang sulit tuk ku lupakan,

Kejadian itu berawal dari aku yang pergi memancing ikan di sungai,sesampainya di sungai aku langsung duduk memasang umpan di mata kailku lalu aku langsung menaru umpanku di air sungai yang agak tenang,sudah lima menit berlalu,umpan ku tak juga ada tanda tanda kalau di makan ikan,aku langsung terdiam sejenak melihat sesosok pria yang datang menceburkan dirinya ke dalam sungai,bebrapa saat kemudian datang seekor anjing yang membawa lari pakaian pria yang mandi tadi,setelah pria itu selesai mandi dia baru sadar kalau pakaiannya di bawa lari oleh seekor anjing dan pakaian yang di bawanya itu bagian bawah pakaianya dan anehnya dia pulang dan menutup anunya dengan daun pisan melewati jalan he he he he betapa lucunya kejadian itu

Hantu Got

30 January 2013 16:21:13 Dibaca : 1045

Suatu hari di pagi yang cerah aku berjalan melewati dinginya malam bersama kawan2q,pada malam itu tepatnya malam senin kami berjalan dengan suara yang sangat ricuh namun,ketika kami berteriak,ada sesuatu hal yang ganjil di antara kami,dan ternyata kaganjilan itu berasal dari jumlah kami yang berjumlah 6 orang kini hanay tinggal 5 orang,kami pun terdiam sejenak tertegun melihat kebelakang,ketika kami berlima menengok kebelakang ternyata dia tidak ada di belakang kami,dan ternyata dia trjatuh masuk kedalam got yang kami lewati tadi,tadinya suasana yang menegangkan kini menjadi sangat ricuh dengan tawa kami yang begitu keras,itulah masa masa indah bersama kawan kawanq,

Upss Salah Paham

30 January 2013 16:11:19 Dibaca : 758

Hari: senin 27 januari 2013

Pada hari senin saya datang ke kampus untuk mengantar absen lab computer yang akan di kumpul pada hari senin pukul 09:00,setibanya saya di kampus,saya melihat berbagai macam aktivitas mahasiswa maupun dosen yang berada di lingkungan kampus,saya pun langsung menuju tempat tujuan saya yakni mengantar absen di puskom,sesampainya saya disana saya berpapasan dengan antrian mahasiswa yang begitu panjang namun saya langsung menerobos antrian itu,di benak saya terlintas kalau saya akan di halangi mereka dan ternyata dugaan saya itu benar,ketika mereka menghalau saya,saya mengatakan kalau tujuan saya kemari bukan untuk login password melainkan hanya untuk mengantar absen lab computer saya yang belum sempat saya antar,setelah saya menjelaskan semua mereka mngerti dan langsung memberikan jalan untuk saya masik ke dalam puskom dan sayapun bergegas masuk ke dalam kantor puskom untuk menemui dosen yang mengumpul absen lab yang saya pegang,

Setelah semuanya selesai sayapun kembali ke rumah saya dan mengingat kembali kejadian tadi dengan senyum kecil di bibir saya,sungguh hari yang panjang yang harus di lalui namun semuanya berlalu dengan begitu mudah mskipun ada sedikit rintangan.

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong