Harapan & Air Mata

08 September 2012 09:22:52 Dibaca : 1084 Kategori : Suara Hati (Nyata)
Dari Nabila di Sul-Sel
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb
Pendengar Nurani yang budiman
Namaku Nabila, aku terlahir dari sebuah keluarga yang cukup mapan dari sisi ekonominya, yaa, kalau dilihat dari silsilah keluarga katanya masih keturunan keluarga kerajaan, tapi itu tidak penting bagiku…tahun 1999 aku pertama kali mengenal dakwah yang bermanhaz salaf, dan setelah mengikuti berbgaia kajian islamiyah, aku mulai menanggalkan satu persatu adat istiadat dan kebiasaan2 yang ada dalam keluarga besarku,
hal-hal yg secara turun temurun menjadi kepercayaan dalam keluargaku sudah mulai aku tinggalkan, meskipun sering mendapat tantangan dari orang tua, tapi aku tidak perduli, yang ada dalam benakku adalah “bahwa kewajibanku hanya mempergauli kedua orang tuaku dengan baik sesuai tuntunan syariat islam, selebihnya tidak ada ketaatan pada mereka ketika mereka menyeru pada kemungkaran, apalagi kepada hal-hal yang bertentangan dengan syariat agama ini” itulah prinsip hidup yang terapkan setelah mengenal dakwah, sebagai anak yg terlahir dari keluarga berada, aku diberikan usaha kecil oleh orang tuaku hingga usaha itu menjadi besar dan berangsur2 sukses dengan izin Allah melalui jerih payahku, dan diam-diam kelebihan materi yg aku miliki itu aku selalu salurkan untuk dakwah, karena aku yakin harta yang aku miliki saat ini hanyalah titpan Allah yang suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah ta’alaa nanti.
Pendengar Nurani yg insya Allah dirahmati Allah ta’alaa
Selain aku, ada 2 orang saudaraku, amira 10 Tahun lebih tua dariku dan Zahra 2 tahun lebih muda dariku, sejujurnya kami hidup digelimangi harta benda dan kemewahan, aku dan 2 saudaraku Alhamdulillah sampai mengenyam pendidikan tingkat perguruan tinggi dan sukses merai gelar Sarjana, dan Alhamdulillah kakakku amirah juga telah mendapat hidayah Allah sehingga sama-sama aktifnya denganku dalam dakwah islamiyah meskipun hanya sebatas tarbiyah..berbagai kondisi seperti yang dialamai oleh akhwat2 lainnya juga tak anyal menimpa kami berdua, karena orang tua kami sangat menentang keputusan kami untuk berhijab dengan menggunakan niqab, ya alasannya klasik, khwatir jauh dari jodoh..tapi alas an itu tak membuat kami lantas menyerah..kami beruda berusaha untuk selalu saling menguatkan, seperti aku, kkku amira juga memiliki usaha pemberian ortu kami, sebuah took kecil yang menjual berbagai kebutuhan harian dan Alhamdulillah juga ia selalu tak tanggung-tanggung mengucurkan harta miliknya dijalan Allah, kkku bahkan lebih derwan dari aku, seba secara diam-diam, dia membiayai 2 orang anak yatim yang tinggal tak jauh dari rumahnya, salsa dan maryam namanya, subhanallah..aku kagum dengannya..tetapi sayang, limpahan materi itu tak lantas mengantarkan aku dan kkku pada kebahagiaan hidup, ada selaksa beban yang tak diketahui oleh orang-orang, juga yg tidak difahami oleh keluarga kami..betapa tidak, dengan Alasan status social dan status keturunan, kedua orangtua kami telah beberapa kali menelok lamaran sejumlah pria termasuk para ikhwah yang berniat tulus ingin menghitbah kami dan menjadikan kami sebagai pelengkap dari ½ agama ini..aku sedih sekali dengan semua ini, papa dan mama seolah tak mau memahami keadaan kami.., sehingga dengan begitu sombongnya selalu  menolak lamaran-lamaran tulus dari para ikhwah yang datang pada kami, katanya penolakan itu juga untuk menjaga nama baik keluarga besar dan demi kebahagiaan kami, tapi apa..?, entah keluarga besar yg mana yg begitu dijaganya sehingga harus mengorbankan kebahagiaan anak2 kandungnya sendiri, beberapa kali aku melakukan pendekatan-pendekatan pada papa dan mama agar mau menerima salah satu dari mereka-mereka yang datang untuk menghitbah kami, tapi keangkuhan yg telah mendarah daging itu begitu sulit untuk ditaklukan, sehingga hanya air mata dalam kepasrahan yang bias aku dan kkku lakukan menghadapi semua itu, aku sendiri pernah memprotes dgn linangan air mata dihadapan papa dan mamaku, memprotes mengapa kami yg harus jadi korban dari keangkuhan keluarga ini.., tapi apa yg kudapat, tidak ada yg kudapati.., kecuali tamparan dan omelan yg begitu menyakitkan. Dengan lantangnya papa meneriakiku, katanya bahwa masih lebih baik aku dan kakakku tua dan mati dalam keadaan tidak menikah, daripada keluarga ini harus menanggung malu bermenantukan pria-pria yang tidak sederajat dengan keluarga kami, aku hanya bias menangis saat itu, dan aku juga yakin bahwa kakakku merasakan hal yang sama denganku, Cuma bedanya kkku memiliki saldo kesabaran yang besar sehingga dia hanya mampu menangis dalam diamnya.., aku juga pernah memelas dengan berlutut dihadapan papa, agar kk saja yg dinikahkan dengan salah satu pria2 yg datang itu meskipun aku nanti taruhannya, ya, taruhan untuk tidak memprotes lagi dengan keadaan itu.., tapi tangisanku tidak pernah ada artinya buat papa. Ya Allah.., apa kesalahan kami sehingga kami harus menanggung semua ini, aku tahu ya Allah bahwa jodoh ada ditanganmu.., tapi salahkah kami bila kami berikhtiar untuk memudahkan lelaki-lelaki pilihanmu itu datang menghitbah kami…salahkah ya Allah…, Astagfirullah..astagfirullah..ampuni aku ya Allah..ampuni aku karena tidak sabar menghadapi semua ini.., ampuni aku…dan ampuni juga kedua orang tuaku dari khilaf dan salah mereka.., ampuni mereka Ya Allah…
Pendengar Nurani yang baik
Jujur..bukan hanya sekali para ikhwah datang kerumah bermaksud menghitbahku dan kakaku, tapi berkali-kali dengan orang yang berbeda2, tapi tak satupun diantara mereka yang berkenan dihati kedua orang tuaku, entahlah…, hati mereka seolah menjadi keras sekeras batu..sehingga begitu angkuhnya menolak pria-pria itu yg datang itu, padahal mungkin saja mereka-mereka itu jauh lebih baik dari pada pria-pria berhata yg setara status sosialnya sama dengan keluarga kami. Aku juga terkadang merasa iba dengan para ikhwah yg datang kerumah dengan membawa niat tulusnya untuk mempersunting kami.., sudah ditolak..dihina pula..karena nominal uang nikah yg mereka bawa kehadapan orang tuaku, jauh dari harapan papa dan mama, kasian mereka…dan kini..waktu telah membawa kami pada sebuah kenyataan yg sangat pahit..kedua orang tuaku telah berusia lanjut dengan segala keangkuhannya, dan waktu pula telah membawa aku dan kakaku pada usia yg tidak muda lagi..sebab saat ini usiaku telah memasuki separuh abad, dan kkku amira telah berusia 65 tahun, ya..usia yg tak muda lagi..tapi tanpa ada pendamping hidup dan bisingnya suara anak-anak ditengah-tengah kehidupan kami, buat apa harta..buat apa materi kalau akhirnya tak ada sedikitpun kebaghagiaan yg bias kami rasakan, layaknya wanita-wanita normal lainnya, usia kami harus lapuk bersama keangkuhan orang tua kami…dan yang terjadi adalah..diusia senja mereka..tak pernah sedikitpun mereka merasakan bahagianya menimang cucu, sementara hidup mungkin tak akan panjang lagi..sungguh malang nasib kami…kami harus menjadi korban dari keangkuhan orang tua-orangtua kami..aku sangat kasiaan melihat kkku, diusianya yg sudah mulai senja dan mulai sakit-sakitan..tak ada satupun yg bias merawatnya…takada suara anak kecil yg memanggilanya ummi…terkadang aku merasa iri melihat teman-temanku yang lain, betapa tidak, mereka saat ini tidak hanya punya anak-anak saja yang begitu indahnya terdengar setiap hari memanggilnya ummi, bahkan diantara mereka telah ada anak-anak kecil yang memanggil mereka nenek.., sedangkan aku..?, jangan nenek.., ummi saja tidak ada sedikitpun aku mendengar hal itu, bahkan anak-anak gadis tetangga yg dulu kugendong di masa kecilnya, kini mereka telah bersuami-suami dan memilki anak..oh..alangkah bahagianya hidup mereka…tidak seperti aku dan kakakku…
Pendengar Nurani yang Budiman
Beberapa bulan kemarin..ada seorang ikhwah yang datang bermaksud baik padaku..usia kami terpaut sangat jauh..ikhwah itu masih berusia 23 tahun, dan dengan keikhlasannya dia mau menerimaku meski sudah memasuki separuh abad, allahu a’lam apa motifasinya..tapi itu tak menjadi penghalang buatku..kedua orang tuaku telah memberikan sinyal lampu hijau pada ikhwah itu…tapi..tapi alangkah hancurnya hatiku…mana kala kudengar kabar bahwa orang tua ikhwah itu yg menentang perjodohan tersebut…aku sangat kecewa…meskipun aku sadari bahwa memang aku tak pantas untuknya..aku kecewa karena terlanjur menaruh harapan besar untuk bersuami…tapi tiba-tiba harapan itu berubah menjadi luka..tapi aku pasrah..aku pasrah dengan semua itu..karena penentangan orang tua ikhwah itu sangat wajar…, mana mungkin ada orang tua-2 yg mau menikahkan anak lajangnya untuk perempuan tua seperti aku..mana ada..?, dan akhirnya aku harus mengiiklaskan hati untuk menelan pahitnya luka dihatiku..
Papa..mama.. aku ucapkan selamat karena selama ini kalian selalu menolak pinangan pria-pria sholeh itu untuk kami anak-anakmu hanya karena mereka orang biasa yg menurut papa dan mama tidak setara status sosialnya  dengan keluarga kita, kini aku telah berusia separuh abad dan kkku telah berusia 65 tahun, sementara tak ada lagi lelaki yang sudi menikahi kami.., apa status social itu mampu mengembalikan masa muda kami hingga ada lagi lelaki-lelaki yg mau menikahi kami, tidak..tidak pak…itu semua tidak mungkin.., dan untuk semua itu aku ucapkan selamat pada papa dan mama…kini..coba kalian saksikan diluar sana..bukan lagi papa dan mama yg menolak mereka tapi mereka yg tidak akan mau pada kami anak-anakmu ini.., mereka tidak akan mau pa..meskipun papa dan mama akan memberikan kami gratis pada mereka…karena kami tak memeiliki arti apa-apa lagi dimata mereka…., kami bukanlah sapi perah yg semakin tua usianya maka semakin mahal pula harganya, kami ini manusia pa..wanita lagi…yang justru semakin tua semakin tidak ada harganya sama sekali…, tetapi sudahlah..percuma aku menyesali semua ini..percuma aku meratapi semua ini..karena kau yakin..semua tidak ada gunanya..sebab nasi telah menjadi bubur…
Wahai para orang tua-orang tua yg memiliki anak gadis..aku nasehatkan pada kalian…jangan korbankan anak-anak kalian hanya demi sebuah kehormatan dan harga diri keluarga…janganlah memandang lelaki-lekai yg akan datang pada mereka dari sisi materinya saja…sebab materi bias didapat dimana saja dan kapan saja selama kita mau berikhtiar..tetapi masa muda mereka tidak akan bias kita kembalikan dengan banyaknya materi yg kita miliki..sebab jangan sampai tangisan kami anak-anak malang ini..akan sama dirasakan oleh putrid-putri kalian dihari esok, hanya karena keangkuhan kalian..bukankah agama kita lebih menganjurkan kita mengutamakan akhlak dan agama dari para pria yg datang melamar putrid-2 kita?, tanpa harus mengesampingkan harta dan silsilah keturunan..?, tapi sekalilagi agamlah yg harus kalian utamakan…hanya Allahyg tahu bahwa aku menulis kisahku ini dengan air mata yg mengalir tiada henti…meskipun aku tahu air mata itu adalah air mata yg sia-sia…wahai para akhwat-akhwatku sayang….mulailah kalian masukan dakwah kalian pada para orang tua kalian, agar mereka akan mendapatkan hidayah Allah dan akan mendukung setiap langkah kalian dalam dakwah ini, termasuk masalah pendamping hidup..jangan sampai penyesalan yang aku rasakan saat ini..akan menjadi penyesalan kalian dimasa depan nanti..jangan samapai itu terjadi wahai akhwat-akhwatku sayang..
Wassalam