KATEGORI : Suara Hati (Nyata)

Aku Rindu Padamu

08 September 2012 09:21:02 Dibaca : 478

 

 
 
 
Pendengar nurani yang di Rahmati Allah..
Namaku Ana, sejujurnya sangat sulit bagiku menceritakan kisah hidupku, namun ku merasa akan banyak manfaat yang dapat kalian petik, Insyaallah.. aku hanya ingin menceritakan lika-liku perjalananku keimanan dalam hidupku. Semoga setelah mendengarnya kalian tidak salah kaprah terhadap organisasi islam disekitar kalian.
Aku terlahir dari keluarga yang mempunyai latar belakang agama yang baik. Ayahku seorang pegawai yang sukses dalam karirnya di usia muda dia telah mencapai pangkat yang tinggi di tempat ia bekerja, ayahku juga seorang Da’i kadang dia dipanggil ustadz karena kebiasaannya mengisi ceramah dan khutbah dimana-mana. Ibuku hanya seorang Ibu Rumah Tangga biasa yang melimpahkan kasih sayangnya pada kami semua. Hidupku begitu sempurna, seakan kebahagian hanya ada dalam keluarga kami, dari sisi materi dan pendidikan aku dan kakakku tak pernah kekurangan, walau begitu, ayah dan ibu selalu mengajar kami hidup sederhana, dan dari segi ruhiyah, kasih sayang begitu malimpah dari mereka, pendidikan agamapun bagitu tercukupi. Allah begitu melimpahkan RahmatNya dalam keluargaku..
Namun ketika Ayah meninggal dunia, meninggalkan kami semua yang masih dalam masa mencari jati diri, ada sedikit perubahan dalam hidup kami, yang dulunya Ayah sebagai tempat kami menanyakan segala sesuatu telah tiada, kondisi ekonomipun mulai goyah, namun ternyata Allah tak pernah meninggalkan kami. Kembali Dia tetap menjaga kami agar tetap terjaga dalam kehidupan yang Dia Ridhoi. Yah, kakak-kakakku mulai mengenal islam lebih dalam dengan mengikuti berbagai kegiatan islami di sekolah dan kampusnya, mereka mulai sedikit demi sedikit merubah penampilannya, jilbabnya makin lebar, dan mulai sibuk dengan kegiatan yang mereka sebut Tarbiyah. Waktu itu aku masih kecil jadi belum mengerti, dan tak begitu ambil pusing, namun ketika aku masuk SMU, awalanya aku adalah gadis yang tomboy dan cuek, namun berkat kegigihan seorang seniorku dia selalu mengajakku mengikuti ta’lim dan kajian-kajian di sekolah, hingga akhirnya akupun bergabung dengan mereka, kalompok kajian yang bermanhaj salaf.
Sungguh saat itu, ghirohku untuk mengenal islam begitu besar, semua majelis ilmu ku datangi, SMU ku dulu yang begitu ketat terhadap organisasi-organisasi islam bahkan melarang siswanya membentuk organisasi islam di sekolah, namun bagiku itulah tantangannya, dan berkat Rahmat Allah dan atas izinNya, Aku dan beberapa teman akhwat dan ikhwan berhasil mendirikan ROHIS (Rohani Islam) di dalamnya, dengan aku sebagai ketua keputriannya. Dalam sekejap, ROHIS mempunyai peminat yang begitu banyak, bahkan guru-gurupun mulai mendukung kami. Dan Cintaku pada jalan Dakwah semakin besar..
Beberapa tahun  kemudian aku tamat, dan mulai kuliah, Alhamdulillah Allah selalu menjagaku, di dunia kuliah yang begitu sibuk kembali Allah mempertemukanku dengan Akhwat-akhwat semanhaj, akupun kembali bergabung dengan mereka, sungguh dakwah telah menjadi pilihan hidupku saat itu, kembali dalam Lemabaga dakwah kampusku aku begitu bersemangat melakukan tugas-tugas dakwah, menjalankan amanah-amanahku, bahkan tak sedikit kagiatan-kegiatan besar kuketuai, dan atas izin Allah kemudian Dia menempatkanku pada posisi puncak diLembaga Dakwah Kampusku sebagai ketua.. Alhamdulillah..
Namun ternyata Allah Maha Benar, Keimanan Manusia akan ada kalanya turun. Aku bukan manusia yang sempurna, dengan kadar keimanan yang selalu tinggi. Aku sampai pada kondisi jenuh, lelah, aku di hadapkan pada sebuah kondisi dimana amanah dakwah yang semakin menumpuk dan mebutuhkan perhatian besar dariku, disisi lain tugas kuliah yang semakin menggila, dan lebih-lebih orang tua yang menuntutku segera menyelesaikan kuliahku. Aku sampai pada titik lelah yang amat sangat, aku bosan dengan semua rutinitasku, walau begitu aku tetap menjalaninya meski tak seghiroh yang dulu, namun semua amanahku kuselesaikan dengan baik, setidaknya itu menurutku. Jujur waktu itu aku begitu bingung, kesibukanku di kampus dan forum terlebih aku kuliah di fakultas tersibuk karena tugas praktikum yang luar biasa, membuatku tak punya waktu dirumah, amanah dirumah tak mampu kuselesaikan, semua terbengkalai sehingga tak jarang ibu dan kakakku jengkel melihatku yang sama sekali tak ada waktu dirumah, bahkan aku jarang pulang karena lebih banyak menghabiskan waktu di sekertariat forum.
Hingga sampai pada akhir kepengurusanku. LPJ mulai di adakan, namun ada hal dalam LPJ yang membuat hatiku begitu sakit, selama LPJ aku merasa tak ada satupun salam kepengurusanku yang kulakukan dengan benar, ada saja keritik pedas dari Pembina dan bawahanku, bahkan tak sedikit yang menganggap kepengurusanku paling kacau dari semua forum, Allah.. benarkah semua amanahku telah kutelantarkan? Benarkah bawahanku tak ada yang kuperhatikan? Sungguhkah semua pengorbananku selama ini yang kuanggap telah sampai pada puncak usahaku tak sedikitpun berarti di hadapan mereka? Lalu apa gunanya semua yang kulakukan jika ternyata hasilnya hanya rasa terdzolimi dari bawahan-bawahanku karena merasa kepemimpinanku yang tak becus. Lalu apa gunanya kukorbankan kuliahku yang sengaja kutunda selesainya karena harus menunggu berakhirnya amanahku di forum. Namun saat itu, semua ku terima dengan hati lapang. Bagiku apapun yang ku lakukan sama sekali bukan untuk mengharap pujian dari manusia, yang ku inginkan adalah Ridho Allah, bukankah Allah tak melihat hasil? Namun yang Dia lihat adalah proses dan usahaku selama ini.
Namun, sakit hati pada akhwat yang sedang berusaha ku tepis kembali ku rasakan, mereka lagi-lagi menyakitiku, dengan kalimat-kalimat kasar yang mungkin bagi mereka adalah tegas, tapi tidak bagiku. Membuat aturan-aturan yang menghendaki semua perhatianku tercurah pada forum dengan alasan, inilah jalan dakwah yang jalannya penuh terjal dan berliku. Kuakui itu benar, namun mudah baginya mengatakan jika kalian jauh dari orang tua, sedangkan aku tak sama, birulwalidainku tetap harus kujalankan pada ibuku yang merupakan orang tuaku satu-satunya, yang saat ini telah renta dan sakit-sakitan, aku harus membantu pekerjaannya, menjaganya ketika sakit, dan semua hal yang mereka tak mampu mengerti. Betapa sulitnya aku meminta izin untuk tak menghadiri rapat ketika aku harus menjaga ibu yang sakit, atau ketika ku harus menggantikan ibu ke pasar sehingga aku terlambat ke rapat, namun ketika ku katakana alasanku sama sekali tak ada wajah simpati atau mendoakan ibuku yang ku dapatkan adalah wajah kesal karena keterlambatanku. Dan yang paling menyedihkan ketika ibuku sakit, sakit rematiknya membuatnya tak mampu bergerak, aku sama sekali tak bisa meninggalkannya karena harus di bopong ke mana-mana, sehingga amanahku hari itu tak dapat ku jalankan, akhirnya aku menghubungi beberapa akhwat untuk menggantikanku. Namun apa yang ku dapat? Tak ada satupun yang mau membantuku. Hatiku hancur kala itu. Di mana ukhuwah yang kau gembar-gemborkan? Dan aku mulai ragu dengan jalan yang ku ambil. Benarkah forum yang kuperjuangkan selama ini? Adakah dalam ajaran Rosul yang mereka lakukan itu? Sungguhkan aturan dan amanah membuat mereka jadi sekaku itu? Benarkah jalanku selama ini?
Aku kecewa, hingga kuputuskan untuk keluar dari jalan dakwah ini. Kutolak semua amanah yang diberikan padaku,ku hindari semua pertemuan dengan akhwat, tak peduli apapun yang mereka katakan, aku hanya ingin menjadi anak yang tak durhaka pada orang tuaku, ku curahkan semua perhatianku pada keluargaku yang selama ini telah ku abaikan, dan betapa bahagia ibuku ketika ia mulai mendapatkanku lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Ibuku semakin sehat, wajahnya kembali bersemangat. Dan akupun mulai fokus pada kuliahku hingga dalam waktu singkat dapat kuselesaikan dan mencapai gelar sarjana.
Namun tetap ada yang hilang dalam hidupku, aku merindukan jalan dakwah itu, namun juga hatiku menolak dengan sangat untuk kembali, trauma pada semua perlakuan mereka padaku, aku takut dengan segala aturan yang mereka buat yang membuatku merasa seakan tercekik dan tak ada kehidupan dengan keluargaku, bahkan aku sampai pada rasa trauma dan takut bertemu dengan akhwat, tiap berpapasan atau melihat mereka dari jauh, aku sangat takut dan ingin lari. Dan kuputuskan untuk betul-betul lari dari mereka, aku melanjutkan pendidikanku ke pulau jawa.
Disini, di tempat yang baru ini, ku rasakan kebebasan yang amat sangat, aku kini bebas dari semuanya, bebas dari segala aturan yang seolah mencekikku, bebas dari semua tekanan dan tatapan sinis mereka karena sedikit saja kesalahanku, bebas dari amanah-amanah yang membelitku… dan ku berjanji pada diriku untuk lebih fokus pada kuliahku, pada semua tugas-tugas kampusku.. target selesai dengan presdikat cumlaude harus aku pegang. Den benar saja, semua kuliah dengan mudah ku ikuti, pelajaran yang bagi sebagian temanku sulit dapat ku selesaikan dengan mudah, sehingga tak jarang mereka berkumpul di kos ku untuk memintaku mengajarkan kembali pada mereka. Alhamdulillah, aku senang sekali, mata kuliah yang hampir 80% mahasiswanya tak lulus dapat dengan mudah ku lalui. Namun, ada yang hilang dalam diriku,  selalu ada yang kurang yang ku rasa, tiap kali ku tebangun di pagi hari, aku merasa mendapati diriku bukan diriku seutuhnya… ada sesuatu yang kosong dan hampa di balik semua prestai yang ku raih, sikap dan pergaulanku kadang tak terkontrol, bercanda dengan akrab dengan lawan jenis, walau tetap ada jarak yang ku pasang karena masih melekat dengan erat di otakku konsep pergaulan dalam islam, tapi tetap saja banyak batasan yang telah di langgar, semua karena siri ini telah merasa tak ada lagi akhwat yang dapat menegurku, tak ada lagi mereka yang dapat menjagaku, yah, aku merindukan sosok-sosok itu, sangat rindu, saudari-saudariku di sana, rindu pada semua kesibukan kami ketika mengerjakan semua amanah dakwah itu. Walau kadang begitu lelah yang kami rasa, tapi tetap saja tiap tetes keringat yang dulu ku keluarkan bagaikan sebutir berlian di akhirat kelak, walau dengan kantuk yang amat sangat kami tetap harus memaksakan mata terbuka ketika harus mabit dan musyawarah hingga dini hari, namun semua ku lalu dengan semangat yang begitu berbeda, ada tujuan yang begitu besar di sana. Dan ghiroh itu yang begitu kurindukan. Namun sekarang tak lagi kurasakan, aku rindu pada lingkaran majelis dzikir itu, dalam naungan para malaikat, walau panas membakar, namun di sisni di hati begitu sejuk mendengarkan untaian kalimat suci yang mebakar semanagat ibadah kami. Aku sangat merindukan itu semua, pada suara lembut murabbiyahku, pada kalimat-kalimat teduh ustazd-uztadzku, pada salam hangat dan pelukan cinta sudari-saudariku.
Aku rindu, dan kuputuskan mencari  tempat tarbiyah di sini dipulau jawa ini. Dan Alhamdulillah aku menemukannya, walau harus memulai dari awal tapi tak mengapa, kembali ku rasakan indahnya majelis-majelis itu lagi. Namun itupun tak dapat ku jalani dengan baik karena jadwal yang selalu bertabrakan dengan jadwal kuliahku. Berada di tengah akhwat-akhwat baru serasa aku begitu terasing, namun tetap saja keramahan mereka tetap sama bahkan mereka jauh lebih lembut mungkin kerena suku mereka yang memeng terkenal berperangai lembut, namun entah tetap jasa rasa rinduku pada akwat-akhwatku yang dulu belum terobati, terlebih selama kepergianku ke jawa tak satu pun dari mereka yang menghubungiku, termasuk murabbiyahku dan Pembina forumku, tak satupun yang menanyakan kabarku, padahal hati ini begitu merindukan mereka, akupun malu untuk menyapa mereka lebih dahulu, mengingat aku yang tiba-tiba menghilang dari mereka, aku malu karean aku tau aku yang salah, dan aku piker mereka pun sedang marah padaku, aku takut namun juga sangat rindu.
Akhirnya aku berhasil menyelesaikan kuliahku kurang dari 1 tahun, Alhamdulillah targetku lulus dengan predikat cumlaude dapat terwujud, aku mendapatkan nilai yang sangat memuaskan, Segala puji bagi Allah yang memudahkan jalanku. Dan ini berarti pula waktuku kembali, yah kembali pada bagian hidup yang kemarin aku lari darinya, dan aku harus siap untuk menghadapinya. Aku pulang, namun diluar dugaanku, awalnya ku menyangka mereka pun merasakan rindu padaku seperti yang kurasakan, ku pikir mereka akan segera menenmuiku atau paling tidak menghubungiku ketika tahu aku telah kembali, namun ternyata tidak, tak ada yang menemuiku kacuali akhwat-akhwat yang merupakan sahabat dekatku. Hal ini membuatku enggan untuk kembali berkumpul dengan mereka, entah ada rasa sedih tiap kali melihat mereka dari jauh, bahkan aku takut untuk menyapa mereka, aku takut mereka memperlakukanku dengan dingin, terlebih pada akhwat-akhwat yang mengenalku di forum dan Pembina-pembinaku, apa kata mereka bila bertemu denganku? Akankah mereka marah padaku atau menyindirku dengan kalimat yang pedas kerena amanah-amanah yang telah ku terlantarkan? Aku tetap saja menghindari mereka, bahkan aku tak berani mengikuti tarbiyah lagi, aku tak mau kecewa lagi..
Namun Allah tetap selalu menjagaku, tetap menjaga hatiku dalam dien ini. Rasa rindu pada tarbiyah tak dapat lagi ku bending, kadang aku menangis sendiri di kamar, melihat diriku ini, dengan busana syar’I namun ternyata ilmuku begitu dangkalnya, akankah imanku mampu bertahan bila ku tak segera mengikat diriku kembali dalam lingkar majeliz dsikir itu? Aku tahu syaitan begitu pandai mejerumuskanku, begitu halus bisikannya, menelusup ke hatiku dan mengadu domba ku dengan saudari-saudariku, ku muhasabah semua yang telah ku lewati dalam linangan air mata yang tak terbendung, dan ku menemukan. Sungguh tak ada yang salah dengan saudariku, aku tahu aku yang begitu lemah yang seharusnya mampu bijaksana dengan semua sikap apapun dari mereka, karena betapapun mereka menyakitiku, aku sangat yakin, tak sedikitpun dari mereka yang ingin menjerumuskanku, namun syaitan begitu pandai menjerumuskanku dalam jurang prasangka. Sungguh aku sangat merindukan kalian, dank u meminta maaf pada kalian, terhadap segala prasangka, amarah, dan kekecewaan yang tak pantas ku lakukan pada kalian.. aku menyadari kalian bukanlah malaikat yang suci, kalian manusia yang tetap saja akan mempunyai kesalahan. Begitu pula diriku.. dan satu hal yang ku yakin dari kalian, hati mu, hati ku, hati kita telah Allah ikat dalam sebuah ikatan yang begitu indah, begitu erat, yaitu persaudaraan dalam islam.. Sudariku aku akan kembali, berjuang bersama kalian, mengukir nama-nama kita dalam barisan penegak dien ini. Tanpa prasangka, tanpa dendam,hanya cinta pada Allah dan Menghgarapkan Ridho Allah..
Pendengar nurani yang DiRahmati Allah, hari ini aku telah kembali seutuhnya dalam barisan dakwah ini, sungguh nikmat apa lagi yang lebih indah dari pada nikmat iman dan islam, dan ikatan apa yang lebih indah selain ikatan yang diikat oleh Allah yaitu mencintai kerenaNya. Dan kembali kini ku temukan diriku yang utuh dalam lingkaran majelis dzikir yang diliputi para malaikat, dengan semangat seperti dulu.. Allahu Akbar.. Labbaikallah..
Untuk sudari-sudariku yang telah memilih menjauh dari kami, aku pun pernah kecewa seperti kalian, tapi ketehuilah kita hanya manusia, lapangkan hatimu dan sungguh, tangan-tangan kami tatap terbentang menyambut kalian, bagaimanapun rupa kalian saat ini, kami juga rindu.. Sungguh semua amarah adalah tipu daya syaitan, kembalilah, kami tetep disini menunggumu, tak aka nada yang berubah..
 

Duka & Air Mata Istri Sholehah

08 September 2012 09:15:49 Dibaca : 428

 

 Dari Savitri di Sulawesi Tenggara

 

Asalamu ‘alaikum Wr. Wb
Pendengar Nurani yang budiman
Namaku Savitri, biasa dipanggil Vitri, aku bertutur dimalam lewat program ini, bukan karena sedang emosi atau sedang menyesali apa yg sedang terjadi menimpaku saat ini, apalagi sampai bermaksud mengumbar aib keluargaku sendiri, yah..,  aku hanya ingin agar masalahku ini bias menjadi pelajaran dan dapat menjadi ibroh bagi yang lainnya..
Pendengar Nurani yang baik
Setiap wanita pasti menginginkan agar mendapatkan seorang pendamping hidup yang dapat memahaminya, mengayominya dan dapat menjadi imam baginya dan anak-anaknya kelak, seperti itupula halnya denganku, setelah mengenal dakwah bermanhaj salaf 2,5 tahun lamanya, dan mengikuti halaqah tarbiyah dan majelis ilmu lainnya dioranisasi islam yang menaungiku saat itu, Alhamdulillah banyak hal yang aku fahami, dan banyak hal pula yang mulai aku mengerti, terutama hal2 yang sacral dalam agama, sebab pemahaman itu aku dapati melalui proses yang intens selama 2.5 tahun itu, dan dari situlah impianku untuk bersuamkan pria sholeh, taat dan bertanggung jawab mulai muncul menggangu hatiku, dalam impian dan harapan itu aku begitu mendamba seorang lelaki yang telah tertarbiyah, faham ttg islam, bahkan berharap mendapatkan pria berilmu atau setara dengan kualitas para asatidzah..dan aku rasa tak ada salahnya aku berharap demikian meskipun dalam hati kecilku, aku sendiri tak mesti mematok bersuamikan ustadz, yaa paling gak agama dan aqidahnya bagus, itu sudah lebih dari cukup buat ana, dari pada harus jadi perawan tua sebab saking selekstifnya dalam memilih pasangan hidup, apalagi, Alhamdulillah dakwah fardiyah  pada keluargaku telah kutanamkan sebelumnya, terutama ibu dan bapakku.., sehingga dukungan dari mereka begitu besarnya padaku, kadang malah mereka sesekali minta diadakan tarbiyah gabungan dirumah atau meminta agar tarbiyahku diadakan dirumah setiap pekannya, dan itu adalah hal sangat aku syukuri..
Pendengar Nurani yang budiman
Dalam organisasi dakwah itu pula aku termasuk dalam aktifis yang super sibuk, memegang sejumlah halaqah ta’rifiyah dan segudang aktifitas lainnya, aku sangat menikmati hal itu, dan Alhamdulillah tak sedikitpun aku merasakan ada keletihan dalam diriku dengan berjubelnya kegiatanku, aku selalu berusaha menjadi yang terbaik buat ummat, sehingga bila saja dating tawaran kegiatan atas nama ummat, maka aku tidak pernah menolaknya.., semua itu aku lakukan tentunya semata2 karena Allah, meskipun terselip sedikit harapan lain, bahwa aku akan dipertemukan dengan seorang pria yang baik, lebih2 baik agama dan akhlaknya.., bukankah wanita2 yg baik diperuntukkan untuk lelaki2 yg baik pula..?
Pendengar Nurani yang budiman
Waktu terus bergulir, dan akhirnya akupun telah menamatkan kuliahku dengan menggondol S1 Informatika, dan entah secara kebetulan atau tidak, tak lama bereslang setelah itu Akhirnya masa penantianku itu berujung juga, sebab aku dikabari oleh LEMBAGA PERNIKAHAN bahwa ada seorang ikhwah yang ingin menghitbah aku, ikhwah ini berasal dari jawa tengah, namun oleh LEMBAGA PERNIKAHANdisampaikan padaku bahwa ikhwah ini baru 3 bulan lamnya mengikuti tarbiyah, Mas Rommy namanya, beliau bekerja disalah satu perusahaan swasta didaerahnya, dan telah menyatakan keinginannya untuk menikah karena orang tuanya memaksanya untuk segera menikah, sebab mas rommy adalah anak sulung mereka dan saat itu telah berusia mapan untuk berkeluarga, dan LEMBAGA PERNIKAHAN memediasi keinginan mas rommy untuk mencarikan akhwat yang bersedia menerima mas rommy dengan kapasitas “ikhwah baru” saat itu, yang kudengar bahwa akhwat yg akan dicalonkan dengan ikhwah ini adalah akhwat yg sudah lama tarbiyah atau yang sudah menjadi murobbi, alasannya agar dapat mengimbangi sang suami, serta menjadi control baginya kelak, bila nanti sang ikhwah ini akan future dan kembali kemasa lalunya. Dan jujur, informasi ttg adanya seorang ikhwah yg sedang mencari pendamping ini sudah aku ketahui sebelumnya dari teman2 akhwatku, sebab telah ada beberapa akhwat yang dikhitbahnya tapi tak satupun yang menerima lamaran ikhwah ini dengan alasan yg variatif, ada yg menolak dengan alasan bahwa ortunya belum merestui, ada yg menolak dengan alasan tidak mau diboyong kedaerah sang ikhwah dijawa, ada yg menolak dengan alasan masih ingin melanjutkan kuliah, dan ada yg lebih ekstrim menolak ikhwah ini dengan alasan karena sang ikhwah baru 3 bulan ikut tarbiyah, hingga akhirnya pinangan itu tertuju padaku, saat pinangan itu dating aku tak lantas memberikan jawaban apapun pada ikhwah itu, kulalui berbagai proses untuk mendapatkan keputusan yang bulat dari pinangan tersebut, yaitu antara menerima atau menolak lamaran ikhwah ini, kucoba berkonsultasi kepada murobbiyahku, juga kumintai saran dari kedua orang tuaku, serta tak lupa mengadu dan curhat kepada allah lewat sholat lailku, dan hasil akhir dari semua itu ternyata dikembalikan padaku sebab mereka memberi alasan bahwa akulah yang akan menjalani biduk Rumah tangga itu.
Pendnegar Nurani yang budiman
Dengan memalui berbagai pertimbangan serta dengan memohon Ridho Ilahi, akhirnya lamaran mas rommy aku terima.., dan Alahmdulillah setelah melewati beberapa proses seperti mulai dari ta’aruf dan nadzor, acara walimah kami resmi digelar secara syar’I dirumahku sepekan setalah segala pengurusan berlangsung, dan seperti pasangan suami istri pada umumnya, kami melewati proses pacaran itu setelah menikah, segalanya begitu indahnya, mas rommy Alhamdulillah adalah ikhwah yang baik meskipun baru tertarbiyah selama 3 bulan, pakaiannya pun syar’I alias tidak isbal, dan seperti ikhwah pada umumnya mas rommy juga memelihara sunnah rosul dengan memanjangkan jenggotnya yang lebat, kadang aku sering tersenyum saat memandangnya, sebab bila dipandangi sepintas, penampilan mas rommy layaknya seorang ustd besar dengan kapasitas ilmu yang cukup tinggi, sebab dari caranya bersosialisasi serta caranya berpenampilan tak ubahnya seperti seorang ustadz, menyadari semua itu aku mulai berangan2 yang tak lupa kubarengi dengan doa semoga suamiku akan senantiasa istiqamah dan rajin mempelajari ilmu agama serta rajin ikut tarbiyah, sehingga pengetahuan agamanya kelak akan setara dengan penampilannya.
Pendengar Nurani yang budiman
Setelah pernikahan itu, kami masih tinggal dirumah orang tuaku, dan Alhamdulillah 2 pekan setelahnya telah tumbuh benih2 cinta kami berdua, kami sangat bahagia saat itu, dan kesyukuran pun tak pernah lepas kami lakukan, terutama meninghkatkan volume ibadah kami, mas rommy juga tak pernah meninggalkan solat lailnya, saat itu aku merasa sangat bahagia, hingga akhirnya masa cuti kerja mas rommy berakhir dan 3 hari sebelum masa cuti tugasnya berakhir, kami berangkat kejawa, kekampungnya mas rommy, sedih rasanya kirasakan, karena harus berpisah dengan akhwat2ku tercinta, meninggalkan jama’ah disana, meninggalkan kampong halaman, terutama meninggalkan orang tua tercinta, tapi itulah konsekuensi dari pernikahan, seorang istri yg taat harus rela kemana aja mengikuti dan mendampingi suami tercintanya bertugas, demikian pula dengan diriku, setelah tiba dikampungnya mas rommy, ternyata segalanya telah dipersiapkan, mas rommy ternyata memang pria mapan, sebab sebelum pernikahan tersebut, dia telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut keluarga barunya, mulai membeli rumah pribadi dan segala fasilitas didalamnya, jujur aku merasa bahagia dengan semua itu, bukan karena aku materialistis, tapi bukankah hidup sendiri dan mandiri jauh dari interfensi siapapun adalah dambaan setiap keluarga baru?, begitu pula denganku, hari-hari kami lalui dengan penuh bahagia, mas rommy adalah pria bertanggung jawab, dan taat dengan ibadahnya. waktu terus bergulir, hingga tiba juga puncak kebahagiaan kami, dimana jundi mungil.., calon mujahid sejati yang selama ini kami nantikan, lahir ditengah2 keluarga kami dan melengkapi kebahagiaan itu, terasa lengkap sudah kebahagiaan keluarga kami..
Pendnegar nurani yang budiman
Jujur.., semula kufikir keluarga kami akan bahagia selamanya layaknya impian dari setiap keluarga lainnya.., semula kufikir tidak akan ada kerikil tajam yang akan menghalau pernikahan kami, tapi ternyata aku salah.., ternyata aku yg berlebihan dalam berangan2, sebab kerikil itu justru lebih tajam dari yang aku duga sebelumnya, kuakui bahwa setiap keluarga pasti pernah bertengkar, namun pertengkaran itu pasti akan berujung..tapi dlam keluargaku..?, pertengkaran itu hamper tak pernah letih menghiasi biduk rumah  tangga kami, semuanya berawal ketika aku melihat ada perubahan besar dalam diri mas rommy, kadang kulihat dia kekantor  memakai celana yg isbal, padahal celana2nya itu telah disimpannya sejak dia mengenal dakwah ini, menyaksikan semua itu hatiku sedih..aku mencoba menasehati dia dengan hikmah, tapi tak pernah digubrisnya.., sebab mas rommy selalu menghindar dariku karena tidak ingin membahas masalah itu.., secara diam2 juga kuketahui mas rommy memotong jenggotnya meskipun tidak sampai gundul.., aku berusaha memahamkan padanya nilai2 agama yg mungkin dia telah melupakannya.., tentang hal2 yg terkait dengan apa yg sedang terjadi padanya, namun lagi-lagi hanya kebisuan yang aku dapat darinya.
Pendengar nurani yang budiman
Dadaku serasa sesak menyaksikan semua itu, apalagi mas rommy melakukannya seolah tanpa beban, dia bahkan menikmatinya, satu kali dia pernah memberikan alasan, dan alasan itu sangat tidak bias aku terima sama sekali, yah.., ternyata mas rommy melakukan inikarena mulai merasa malu dengan penampilannya setelah menjadi ikhwah, dan rasa malu itu katanya muncul setelah beberpa kali ditugaskan keberapa  perusahaan lainnya..semua relasinya berpenampilan elegan setara dengan jabatannya sementara dia layaknya seorang ustd yang salah mengambil profesi.., mendengar semua itu mataku berkaca2..astagfirullah..ternyata syetan sudah mulai membisikan rayuan buruk pada suamiku.., dengan tidak mengurangi rasa hormatku padanya sebagai kepala rumah tangga, aku berusaha menasehati dia dari kekeliruannya.., aku bahkan kembali merivew materi2 tarbiyah yg telah dia dapatkan dulu yang mungkin telah dia lupakan.., tapi apa yang terjadi.., mas rommy malah membentakku dengan suara kerasnya.., bahwa aku tak perlu menceramahinya.., bahwa dia melakukan semua ini untuk kelangsungan hidup keluarga kami.., air mataku menetes saat itu.., aku tidak menyangka sama skelai kalau mas rommy yang dulu kukenal sangat istiqamah meskipun baru megenal tarbiyah, namun kini berubah 99 derajat..aku bahkan hampir2 tak mengenalnya.., ya Allah ada apa dengan suamiku..
“aby..afwan sebelumnya..bukan ana bermaksud menggurui aby.., tapi ana hanya ingin mengingatkan aby agar jangan sampai aby akan semakin jauh dari Allah.., ana juga sedih karena tak lagi melihat mas sholat berjamaah dimesjid, padahal mesjid hanya 50 meter jaraknya dari rumah kita.., ada apa denganmu aby..ada apa..?, ana ini istrimu aby..tolong terbukalah pada ana. insya Allah kita akan hadapi segala masalah yang dating menghalau rumah tangga kita dengan bersama2, asalkan aby jangan berubah seperti ini..?. ujarku dalam linangan air mata..
“umy..syukran atas segala perhatiannya..tapi percuma ana menjelaskan semua ini pada ummy, karena ummy tak akan pernah memahaminya.., sebab ummy hanya tinggal dan berdiam diri dalam rumah, sementara aby..aby harus berhadapan dan bertemu dengan banyak orang, khususnya relasi aby..semua mereka selalu membicarakan penampilan aby.., aby capek jadi bahan omongan orang.., dan mengenai aby yg gak lagi sholat dimesjid jujur semua itu aby lakukan  karena aby sangat capek setiap pulang dari kerja.., tapi abykan tetap sholat ummy..” sela mas rommy dengan lantangnya
“astagfirullah.., kenapa aby berkata seperti itu?, mengapa aby jadikan pandangan manusia sebagai penghambat keistiqamahan aby, bukankah jauh lebih baik hina dalam pandangan manusia tetapi mulia dalam pandangan Allah, jujur umy sedih mendengar dan melihat kenyataan ini, padahal umy berharap apapun yang terjadi menimpa keluarga kita, kita akan bersama2 menghadapinya, tetapi mengapa semua harus terjadi seperti ini, bahkan umy hampir2 tak mengenal aby lagi, aby seperti orang asing dalam pandangan umy..” ujarku dalam tangis yang tak bias kubendung
“aaaakkkkkkkkkkkkkkkkhhh..sudahlah..gak usah dibahas lagi…pusing aby membahas semua ini, setiap hari ini saja topic yang selalu dibahas.., apakah tidak topic lainnya..?, apakah sikap aby seperti ini akan membuat aby keluar dari agama ini, gak kan..?, gak usah terlalu berlebihan memberi pandangan buruk terhadap aby, aby juga melakukan semua ini untuk kebahagiaan kita, mau makan apa kalau aby tidak melakukan semua ini..?, aby malu ummy..aby malu dengan teman2 kantornya aby” ujar mas rommy lagi padaku
Pendengar nurani yang baik
Hatiku miris mendengar semua itu, aku sangat kecewa, masih  kuingat betul masa2 kami menjalani semuanya dengan proses yg begitu indahnya, aku tahu suamiku tidak seperti ini, meskipun dia baru mengenal dakwah dan baru mengenal tarbiyah.., ya Allah ada apa dengan suamiku..?, aku bahkan beberapa kali mendapati suamiku makan dan minum dengan posisi berdiri..padahal didepannya tersedia meja dan kursi makan, dan aku melihat seperti tidak ada beban didalam dirinya, bahkan aku melihat mas rommy begitu sangat menikmatinya, bahkan yang lebih mengejutkanku dan tak bias kuterima…entah sakit hatinya padaku karena sering mengungkit2 masalah ini, atau sengaja ingin menyakiti perasaanku, mas rommy tak lagi pernah sholat berjama’ah dimesjid kecuali sholat jum’at, dia juga tak pernah terlihat ikut tarbiyah dengan alasan bahwa murobbinya tak lagi pernah dating2 lagi karena kesibukan dakwah ditempat lain, bahkan yang lebih menyakitkan perasaanku, jenggotnya yg dulu hanya dicukurnya separuh..tapi kini telah digundulinya hingga tidak ada yang tersisa, Ya Allah aku sedih menyaksikan semua itu..apa yang harus aku lakukan..?, aku fikir semua akan baik2 saja, aku fikir aku akan berguna baginya.., tapi ternyata tidak..aku tidak tahu apakah aku menyesal dengan semua ini atau tidak, tapi aku berharap ada perubahan positif dari semua ini
Pendnegar Nurani yang budiman

Hingga pertengkaran diantara kami kembali terjadi, mana kala aku memprotes semua itu, mana kala aku menagih janjinya dulu saat ta’aruf pertama kalinya, bahwa dia akan tetap istiqamah setelah dia menikah aku, tapi semua tak pernah digubrisnya, aku sedih..sangat kecewa..bahkan dengan lantangnya dia berteriak..kalau seandainya dengan semua ini aku menyesal menikah dengannya dia memberikan segala keputusan padaku, kalau aku ingin berpisah dengannya, dia akan menerima dengan ikhlas dan akan melakukan apapun yang menjadi keinginanku asalakan dia tidak merasa diinterfensi seperti yg aku lakukan selama ini padanya, jujur aku tidak bermaksud menginterfensi suamiku.., sebagai seorang istri aku hanya ingin mengingatkan dia akan kekhilafan dan kekeliruannya selama ini.., salahkah bila aku melakukan semua ini..?, apakah aku harus membiarkan semua ini terjadi didepan mataku dan hanya menunggu hingga suamiku benar2 futur lalu aku baru bertindak  mengingatkannya setelah segalanya terlambat..?, tidak..aku tidak ingin hal itu terjadi menimpa suamiku tercinta…, aku tidak ingin..
Pendegar nurani yang budiman
Menyaksikan semua itu, aku kembali teringat masa2 duluku bersama akhwat2ku tercinta dikampung.., aku terkenang akan ibu bapakku dan kampong halamanku..aku jadi merindukan mereka.., tetapi aku tidak dapat berbuat apa2, karena telah ada jundi mungil ditengah2 kami.., haruskah aku melepasakan suamiku sementara ada anakku yang masih sangat mengharapkan kasih sayangngnya..?, atau haruskah aku bertahan dengan segala sikap dan perubahannya selama ini.., hingga saat ini aku masih bingung dan tak tahu harus berbuat apa, aku berharap kebaikanlah yang akan menjadi akhir dari semua ini, dan aku berdoa kepada Allah Azza Wajallah..agar  dia mengembalikan suamiku seperti dulu, dan kembali memberikan hidayah buat suamiku, agar dia menyadari segala kekhilafan dan kekeliruannya selama ini..amin ya rabbal ‘alamin
Wassalam

Antara Dakwah Dan Keluarga

08 September 2012 09:14:13 Dibaca : 514

 

 

 

Dari slamet di Kota Sigibiomaru Kab Sigi Sul-Teng

Assalamu ‘alaikum wr. Wb
Pendengar nurani yang baik
Ini adalah sekelumit kisahku, yang dengan ini semua aku sangat berharap dapat menggugagh hati-hati kita yang hingga hari ini tak mampu membagi waktu dengan baik, sehingga banyak hal yang kita abaikan yang konesuensinya besar akibat dari ketidak mampuan kita maemanaj waktu kita, aku adalah seorang suami dari seorang istri yg bernama salma, kami menikah 5 tahun silam, tepatnya pada tahun 2005..
Pendnegar nurani yang baik

Pernikahan kami seperti pada umumnya melalui proses yang syar’i sebagaimana anjuran islam, karena alhamdulillah kami berdua terlahir dari sebuah organisasi islam yang terkenal sangat eksis dengan dakwahnya, meskipun secara dzohirnya keterlibatanku dalam dakwah ini belum seberapa. Dalam keseharianku, aku menjalani rutinitas sebagai seorang pedagang kecil-kecilan, namun Alhamdulillah usaha itu sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan keluargaku dan sedikitnya dapat memberi kontribusi pada dakwah dinullah.., sementara istriku “salma”, beliau dikenal sebagai aktifis tulen yang sejak masa gadisnya dia persembahkan hidupnya untuk dakwah ini, salma dalam tataran organisasi adalah seorang pengurus aktif organisasi sehingga seperti aktifis pada umumnya banyak kegiatan yg beliau ikuti, mulai dari mengisi liqo’, mengajar, dll yang seolah bila kita menyaksikannya mungkin kita akan merasa “mampukah aku seperti dia?, subhanallah”, seolah memiliki seribu nyawa yg tak pernah kenal letih mengusung dakwah ini.  Bahkan banyak orang yg bangga pada kegigihan beliau. Itulah sosok istriku dimasa gadisnya
Pendengar nurani yang budiman
Semula aku mengira bahwa padatnya aktifitas salma akan berkurang setelah menikah denganku, apalagi setelah 3 pekan pasca walimah kami Alhamdulillah salma dinyatakan oleh dokter positif hamil, meskipun sebagai suami aku memberikan kebebasan sepenuhnya pada istriku untuk berkreasi apalagi untuk urusan ummat, Demi Allah aku selalu mendukungnya, bahkan tak jarang aku turut membiayai gerak langkahnya dalam dakwah bilkhusus pada kegiatan2 positif yg bersumber dari ide2nya. hidup sebagai sepasang suami – istri dengan kesibukan yg padat begitu sangat kami nikmati, volume berjumpa dan berkomunikasi antara kamipun terjadi hanya bias dihitung dengan jari, yaitu hanya pada pagi sebelum berangkat ketempat kerja masing2, kemudian menjemputnya lagii untuk selanjutnya mengantarnya ketempat yg lain dengan agenda yg lain dan begitu seterusnya hingga kujemput malam hari lagi setelah tuntas segala rutinitasnya, kami menikmati semua itu, hingga akhirnya ketika memasuki 3 bulan pasca penikahan kami,  waktu jualah  yg mengantarkan aku pada sebuah kenyataan, bahwa sebenarnya aku merindukan kebersamaan dengan istriku,  makan bersamanya, ngobrol bersamanya dan menjalani kehidupan normal dimana meskipun ditengah kesibukkan yg padat tetapi masing2 masih dapat menyisihkan waktu untuk menjalani kebersamaan itu , walau hanya sebatas makan siang atau apa saja, dan untuk mewujudkan semua itu, aku mulai mengurangi aktifitas bisnisku dan mengamanahkan kepada orang lain yg tentunya orang kepercayaanku untuk mengelola bisnis kecil2an itu, dengan harapan agar salma juga dapat sedikit saja mengurangi aktifitasnya dan menyisihkan waktu untukku, tetapi kenyataan itu tak kunjung dating, diberbagai situasi khususnya pada saat ada waktu luang untuk bersamanya, aku selalu mengangkat masalah ini dengan gaya bahasa mesra dan romantis, hmmmm (sambil menarik nafas) tapi salma ternyata selalu punya alasan untuk berkilah yg membuat aku akhirnya hanya bias terpaku dalam diam, alasan2 yg cukup kuat dan masuk akal, yg isinya kurang lebih mengandung nilai2 motofasi untuk selalu giat berdakwah dan berjuang untuk agama ini, tapi meski demikian aku selalu tak bosan2nya untuk mengingatkan dia akan keinginaku tersebut. Jujur tidakada sedikitpun niatku untuk membatasi ruang lingkup salam dalam dakwah ini, aku bahkan bangga padanya karena memiliki ghirah yg besar untuk perjuangan ini.., tapi salahkah juga aku bila sebagai suami  menginginkan sedikit waktu darinya untuk sekedar berbagi atau makan siang sekali aja.., sebab menanti waktu datangnya malampun salma sepertinya tak maksimal memberi waktu untukku, dan aku tak dapat memprotes hal itu sebab memang jelas Nampak keletihan diwajahnya bila sudah kembali kerumah pada malam hari, aku bahkan kadang merasa kasihan melihat istriku selalu pulang dalam keadaan letih, selain dirinya aku juga menghawatirkan janin yg ada dalam kandungannya yg baru memasuki usia 3 bulanan, janin yg kelahirnya sangat kami harapkan.
Pendengar nurani yang budiman
Jujur kadang aku merasa sedih sendiri bila menyadari kenyataan ini, bahkan aku merasa bahwa “Apakah perasaanku ini akibat dari tidak adanya kesibukanku dalam dakwah ini sehingga aku tidak bias merasai apa yg istriku rasakan..?”, Ya Allah ampuni aku bila sikapku ini berlebihan, aku hanya ingin merasai manisnya diperhatikan oleh istri tercinta, saat dimana sarapan pagi, siang dan malamku disiapkan, ketika aku membutuhkannya dia selau ada, tapi apa yg aku rasakan saat ini, setiap hari semenjak 2 pekan setelah menikah dan dia kembali terjun dalam aktifitasnya, kebiasaan2 itu tak pernah lagi aku rasakan, dimana sarapan pagiku harus kusiapkan sendiri bahkan kadang terpaksa sarapan pagi diluar sehabis mengantarnya ketempat aktifitasnya, begitu juga dengan makan siang dan malamku, aku sebetulnya berusaha untuk tidak memprotes akan semua ini, tapi hatiku merasa sangat hambar sekali, aku merasa seolah belum menikah dengan siapapun, aku juga merasa sepertinya aku tidak beristri, dan paling parah yg aku rasakan sepertinya aku hanyalah tukang ojek yg selalu siap siaga mengantarnya kemana saja yg dia mau, Oh..apakah ini sudah meruakan keluhan dan protes..?, ampuni aku ya allah bila tidak sabar menghadapi situasi ini.
Pendengar nurani yg budiman
Akhirnya disuatu sore yg cukup mendung, sebuah kejadian naas yg tak pernah aku harapkan menimpa istriku, tak kala aku sedang membenahi atap rumah bagian belakang yg sering bocor bila hujan tiba, aku tersentak dan sangat kaget saat mendapatkan kabar via telepon dari seorang akhwat teman istriku, yg mengabari bahwa istriku sedang dirawat di RS karena mengalami pendarahan hebat.., dan dokter tidak dapat menyelamatkan kandungannya, saat mendengar kabar itu aku sangat shock..tulang2ku kurasakan seolah tak nyambung lagi, meskipun belum lama hidup bersamaku sebagai seorang istri, meskipun waktunya hampir2 tak ada buatku setiap harinya tapi hatiku begitu sangat mencintainya.., dengan perasaan tak menentu aku berusaha menguatkan hatiku dan segera bergegas ke RS dimana istriku dirawat.., aku berusaha membuang jauh2 kesedihanku agar pada saat didepan istriku nanti, dia tidak akan bertambah sedih saat melihatku bersedih karena kejadian ini, Ya Allah aku tahu ini adalah ujian buat kami.., sabarkanlah kami ya Allah..
Pendengar Nurani yang baik
Dengan perasaan sedih yg aku sembunyikan dari wajahku, akhirnya aku tiba di RS dimana istriku dirawat, dokter melarangku untuk mengajaknya ngobrol banyak karena kondisinya masih lemah, namun saat itu istriku dalam keadaan sadar, perlahan kubuka pintu kamar dimana istriku diinapkan dan dirawat..kulihat ada ketegaran dimatanya meskipun dengan penuh tatapan sayu akibat kehilangan banyak darah..,saat itu niat hatiku ingin men”taziyah”inya agar tidak terbawah sedih dengan peristiwa itu, tapi belum sempat sekata aku ucapakan kalimat2ku untuk menghiburnya tiba2 suaranya dengan pelan justru mendahuluiku..
”Qadarullah kak.., insya Allah ia akan menjadi tabungan bagi kita diakhirat kelak, insya Allah, dan akan digantikan dengan yang lebih baik lagi.., sungguh saat ini Allah sedang menguji kita, dan insya Allah ini akan menjadi penyemangat buat ana untuk lebih giat lagi dalam menolong agama Allah..” ujarnya dalam kelemahannya
“Na’am dek.., kita harus pasrahkan segalanya kepada Allah, kk gak apa2 koq, insya Allah, Allah akan memberi kita lagi penggantinya dihari esok..”selaku mengomentari ungkapan istriku “tapi kk harap adek mengambil pelajaran dari perisitiwa ini.., agama memang membutuhkan orang2 sepertimu dek.., tapi.., afwan..kita juga harus memberi waktu buat diri kita sendiri, paling gak..pada saat-saat dalam kondisi kita yg tidak memungkinkan, sehingga kejadian ini tidak perlu terjadi, bu..bukan kk menyesali ini semua, tapi kk harap bila Allah memberi kita penggantinya, adek bias sediiiikiit saja mengurangi kegiatan adek, agar amanah yg diberikan pada kita kelak juga bias terjaga dengan baik insya Allah..” tambahku lagi.
“jadi kk menyalahkan ana dalam hal ini..?, kakak harus ingat bahwa segala sesuatu yg terjadi didunia ini sudah diatur oleh Allah azza wajallah, jadi kita tidak perlu menyalahkan keadaan, lagi pula kita sudah cukup berusaha untuk menjaga amanah ini.., tetapi ternyata Allah berkehendak lain yang tidak pernah kita harapakan kan?, jadi ana harap kita bias dengan lapang pula menerima semua ini..” tegas istriku dengan nada agak sedikit bergetar, dan aku tahu argument itu keluar bersama luapan emosinya, entahlah mungkin dia tersinggung dengan perkataanku, mendengar semua itu aku hanya bias mengangguk saja, agar masalahnya tidak panjang lagi, akupun tahu tabiat istriku yg tidak bias ditentang kalau urusan dakwah, aku berusaha menekan perasaanku, akupun menyadari bahwah kapasitas ilmu syar’I yang aku miliki tidak sebanding dengan istriku, sehingga kalau bicara soal agama, aku masih selalu kalah argument dengannya bila pada kondisi2 tertentu aku menasehatinya atas sesuatu yg aku rasakan mengganjal dihatiku.
Pendengar nurani yang baik
Waktu terus bergulir tanpa kompromi, dan perisitiwa yang menimpa keluargaku tersebut seolah tak memberi bekas pada istriku, semangatnya untuk berdakwah begitu gigihnya, semua berjalan seperti biasanya tanpa ada perbuahan sedikitpun, kesibukannya tetap masih sama begitu juga dengan volume perhatiannya padaku, semua masih sama, yang berubah hanyalah hari, bulan dan tahun terus berganti, aku sendiri mulai merasa jenuh dengan semua ini, apalagi berbagai argumenku, berbagai permintaanku tak satupun dipenuhi oleh istriku, bahkan yang membuat aku sangat kecewa, saking sibuknya dia dalam mengurus masalah ummat, 3x akhirnya kami harus kehilangan kesempatan untuk mendapatkan momongan, cabang bayi hasil cinta kami yang begitu aku harapakan, hanya bias bertahan seumur jagung dalam rahimnya, meskipun aku tahu ini adalah qadarullah, tapi aku sangat kecewa.., aku sangat kecewa..karena istriku tak pernah mau mengerti dengan segala harapan yang ada dalam hatiku, mungkin bila ia tak memasak dan menyiapkan makan untukku tak jadi soal bagiku, mungkin dia tidak pernah punya sedikit waktu untukku juga tidak masalah, tapi bila ia juga seolah tak menghiraukan kesehatannya dan cabang bayinya, inilah yg membuat aku sangat kecewa.., apalagi usia pernikahan kami telah memasuki tahun ke 5 dan tak ada sedikitpun perubahan yg aku lihat darinya, tangisan bayi mungil yg begitu aku sangat inginkan hadir meramaikan suasana keluarga kamipun hanya tinggal khayalan semata, sebab gugurnya janin ke tiga kalinya yang ada dirahimnya akhirnya  membuat dokter memvonis bahwa istriku hanya memiliki kemungkinan kecil untuk hamil lagi, rasanya aku ingin menangis saat itu, tapi aku berusaha menguatkkan hatiku, sebab aku adalah lelaki, aku malu terlihat cengeng dihadapan istriku, tapi untuk menasehati dan mengingatkannya rasanya aku telah letih, sebab aku tahu persis istriku memiliki tabiatnya keras, aku juga jenuh beradu argument dengannya.
Pendengar Nurani yang baik
Hingga suatu hari tepatnya bulan januari 2010 kemarin, saat aku melebarkan sayap bisnisku kesebuah kota kecil dipalopo Sulawesi selatan, akhirnya kuputuskan untuk menikah lagi disana. Dengan tidak menyembunyikan identitas dan statusku yg masih beristri, dan dengan menyampaikan alasan2ku untuk menikah lagi, akhirnya ada seorang temanku dipalopo mencarikan aku seorang wanita yg bersedia menerimaku apa adanya, menerimaku dengan segala kekurangan yg aku miliki, Alhamdulillah gadis ini termasuk salah seorang kader sebuah organisasi islam juga yg ada didaerahnya, namun sebelum aku menghitbah gdis tersebut, aku menyurati istriku dan menyampaikan niatku untuk menikah lagi, surat itu kukirimkan melalui jasa pengiriman kilat, hingga hanya dalam hitungan hari saja, Alhamdulillah surat itu telah sampai pada istriku, dan inilah isi suratku itu :
Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Buatmu wahai aktifis dakwah sejati
Sebelumnya kk minta maaf dek.., apabila isi surat ini mengejutkanmu, tapi kk yakin bahwa kau adalah wanita tegar yang mampu menepis apapun dan pantang bersedih apalagi sampai mengeluarkan air mata, seperti ketegaranmu yang begitu tabah kehilangan 3x calon bayi kita, kk juga yakin bahwa isi surat ini tidak terlalu penting bagimu seperti halnya tidak pentingnya kehadiran kk dalam hidupmu, tapi satu hal yang ingin kk sampaikan padamu dek, bahwa semua ini berarti buat kk, dan bahwa semua ini teramat sangaat penting buat kk..karena isi surat ini menyangkut kebahagiaan kk, jujur, kk tidak mengkalim bahwa kk tidak bahagia denganmu dek, tapi kk hanya merasa bahwa kk tidak bias membahagiakanmu, sebab setiap hari kk selalu memportes aktifitasmu, kk selalu mempersoalkan perhatianmu yang kurang buat kk, dan kau tahu dek, jujur sedih rasanya hati ini saat harus selalu bertengkar denganmu, sebab saat tu terjadi kk merasa seolah seperti lelaki jahat yg selalu mengekang kebebasanmu.., olehnya.., untuk menghindari semua ini, kk hanya ingin menyampaikan padamu dek, bahwa insya Allah pada hari ahad 24 januari nanti, kk akan menikah lagi  dek, Alhamdulillah ada seorang wanita yg juga seorang akhwat yg mau menerima kk apa adanya, insya Allah setelah ini semua kk tidak akan meminta apa2 lagi darimu dek, kk tidak akan mempersoalkan perhatianmu lagi..kk juga tidak akanmempersoalkan waktumu lagi..dan paling penting sudah ada seorang wanita yg mau memahami kk, yang mau menyiapkan sarapan pagikk, makan siang dan malam kk, dan mau memperhatikan keluarganya tanpa mengenyampingkan urusan ummat, insya Allah meskipun kk tidak mampu menyamai adilnya Rasulullah dalam memperlakukan istri2nya, tapi kk akan selalu berusaha untuk bersikap adil pada kalian berdua, kk yakin sebagai aktifis dakwah sejati kau memahami semua ini, bahkan semua ini insya Allah akan membantumu dek untuk lebih focus pada kegiatan2mu dan juga urusan2 dakwahmu..
Sekian dulu surat dari kk, semoga adek saying mau memahaminya dan bisa bijaksana dalam menyikapinya.

Wassalam
Suamimu
Slamet

Pendengar nurani yang budiman
Aku tak tahu bagaimana perasaannya saat itu, sebab sesampainya surat itu hingga hari H pernikahanku, salma tak menghubungiku sama sekali, dan mengenai hal pernikahanku yg kedua itupun kedua orang tuaku dan keluarga salma kukabari, kusampaikan dengan bijak segala penyebab dan alasan2ku, aku sampaikan pula pada mereka bahwa aku tidak berniat menceraikan salma, dan mereka memahaminya, dan Alhamdulillah saat ini dalam rahim istriku telah tumbuh benih2 cinta kami yang saat ini berusia 8 bulan, sebab 4 bulan setelah pernikahan kami itu, Allah mengaruniakan pada kami amanah besar yakni buah cinta kami berdua, sementara untuk urusan nafkah aku berusaha selalu memenuhi  kebutuhan keduanya, baik nafkah lahir maupun bathinnya..

Wassalamu ‘alaikum wr wb

Astagfirullah.., Surat Cinta Untuk Ikhwah

08 September 2012 09:10:48 Dibaca : 138

 

 
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh …..
Ikhwati fillah…. dalam sebuah jejaring ana dapatin ni note. Insyaallah bermanfaat jika ada yg mau baca… silahkan di baca n direnungkan… sebab hanya org yg mau merenung n berfikirlah yang akan mendpatkan pelajaran…
Malam telah larut terbentang. Sunyi. Dan aku masih berfikir tentang dirimu, akhi. Jangan salah sangka ataupun menaruh prasangka. Semua semata-mata hanya untuk muhasabah terutama bagi diriku, makhluk yang Rasulullah SAW sinyalirkan sebagai pembawa fitnah terbesar.—Suratmu sudah kubaca dan disimpan. Surat yang membuatku gementar. Tentunya kau sudah tahu apa yang membuatku nyaris tidak boleh tidur kebelakangan ini.

“Ukhti, saya sering memperhatikan anti. Kalau sekiranya tidak dianggap lancang, saya berniat berta’aruf dengan anti.” Jujur kukatakan bahwa itu bukan perkataan pertama yang dilontarkan ikhwan kepadaku. Kau orang yang kesekian. Tetap saja yang ‘kesekian’ itu yang membuatku diamuk perasaan tidak menentu. Astaghfirullahaladzim. Bukan, bukan perasaan melambung kerana merasakan diriku begitu mendapat perhatian. Tetapi kerana sikapmu itu mencampak ke arah jurang kepedihan dan kehinaan. ‘Afwan kalau yang terfikir pertama kali di benak bukannya sikap memeriksa, tapi malah sebuah tuduhan: ke mana ghaddhul bashar-mu?
Akhifillah, Alhamdulillah Allah mengaruniakan dzahir yang jaamilah. Dulu, di masa jahiliyah, karunia itu sentiasa membawa fitnah. Setelah hijrah, kufikir semua hal itu tidak akan berulang lagi. Dugaanku ternyata salah. Mengapa fitnah ini justeru menimpa orang-orang yang ku hormati sebagai pengemban risalah da’wah ? Siapakah di antara kita yang salah? *********** “Adakah saya kurang menjaga hijab, ukh?” tanyaku kepada Aida, teman sebilikku yang sedang mengamati diriku. Lama. Kemudian, dia menggeleng. “Atau baju saya? Sikap saya?”—“Tidak, tidak,” sergahnya menenangkanku yang mulai berurai air mata. “Memang ada perubahan sikap di kampus ini.” “Termasuk diri saya?” “Jangan menyalahkan diri sendiri meskipun itu bagus, senantiasa merasa kurang iman. Tapi tidak dalam hal ini. Saya cukup lama mengenali anti dan di antara kita telah terjalin komitmen untuk saling memberi tausiyah jika ada yang lemah iman atau salah. Ingat?” Aku mengangguk. Aida menghela nafas panjang. “Saya rasa ikhwan itu perlu diberi tausiyah. Hal ini bukan perkara baru kan ? Maksud saya dalam meng-cam akhwat di kampus.” Sepi mengembang di antara kami. Sibuk dengan fikiran masing-masing… . “Apa yang diungkapkan dalam surat itu?” “Ia ingin berta’aruf. Katanya dia sering melihat saya memakai jilbab putih. Anti tahu bila dia bertekad untuk menulis surat ini? Ketika saya sedang menjemur pakaian di depan rumah ! Masya Allah…. dia melihat sedetail itu.” “Ya.. di samping itu tempoh masa anti keluar juga tinggi.” “Ukhti…,” sanggahku, “Anti percaya kan kalau saya keluar rumah pasti untuk tujuan syar’ie?” “InsyaAllah saya percaya. Tapi bagi anggapan orang luar, itu masalah yang lain.”
Aku hanya mampu terdiam. Masalah ini senantiasa hadir tanpa ada suatu penyelesaian. Jauh dalam hati selalu tercetus keinginan, keinginan yang hadir semenjak aku hijrah bahwa jika suatu saat ada orang yang memintaku untuk mendampingi hidupnya, maka hal itu hanya dia lakukan untuk mencari keridhaan Rabb-nya dan dien-ku sebagai tolok ukur, bukan wajahku. Kini aku mulai risau mungkinkah harapanku akan tercapai? ************ Akhifillah, Maaf kalau saya menimbulkan fitnah dalam hidupmu. Namun semua bukan keinginanku untuk beroleh wajah seperti ini. Seharusnya di antara kita ada tabir yang akan membersihkan hati dari penyakitnya. Telah ku coba dengan segenap kemampuan untuk menghindarkan mata dari bahaya maksiat. Alhamdulillah hingga kini belum hadir sosok putera impian yang hadir dalam angan-angan. Semua ku serahkan kepada Allah ta’ala semata.
Akhi, Tentunya antum pernah mendengar hadits yang tersohor ini. Bahwa wanita dinikahi kerana empat perkara: kecantikannya, hartanya, keturunannya, atau diennya. Maka pilihlah yang terakhir kerana ia akan membawa lelaki kepada kebahagiaan yang hakiki.
Kalaulah ada yang mendapat keempat-empatnya, ibarat ia mendapat syurga dunia. Sekarang, apakah yang antum inginkan? Wanita shalihah pembawa kedamaian atau yang cantik tapi membawa kesialan? Maaf kalau di sini saya terpaksa berburuk sangka bahwa antum menilai saya cuma sekadar fisik belaka. Bila masanya antum tahu bahwa dien saya memenuhi kriteria yang bagus? Apakah dengan melihat frekuensi kesibukan saya? Frekuensi di luar rumah yang tinggi?
Tidak. Antum tidak akan pernah tahu bila masanya saya berbuat ikhlas lillahi ta’ala dan bila masanya saya berbuat kerana riya’. Atau adakah antum ingin mendapatkan isteri wanita cantik yang memiliki segudang prestasi tetapi akhlaknya masih menjadi persoalan? Saya yakin sekiranya antum diberikan pertanyaan demikian, niscaya tekad antum akan berubah.
Akhifillah, Tanyakan pada setiap akhwat kalau antum mampu. Yang tercantik sekalipun, maukah ia diperisterikan seseorang kerana dzahirnya belaka? Jawabannya, insya Allah tidak. Tahukah antum bahwa kecantikan zahir itu adalah mutlak pemberian Allah; Insya Allah antum tahu. Ia satu anugerah yang mutlak yang tidak boleh ditawar-tawar jika diberikan kepada seseorang atau dihindarkan dari seseorang. Jadi, manusia tidak mendapatkannya melalui pengorbanan. Lain halnya dengan kecantikan bathiniyyah. Ia melewati proses yang panjang. Berliku. Melalui pengorbanan dan segala macam pengalaman pahit. Ia adalah intisari dari manisnya kata, sikap, tindak tanduk dan perbuatan. Apabila seorang lelaki menikah wanita kerana kecantikan batinnya, maka ia telah amat sangat menghargai perjuangan seorang manusia dalam mencapai kemuliaan jati dirinya. Faham?
Akhifillah, Tubuh ini hanya pinjaman yang terpulang pada-Nya bila-bila masa mengambilnya. Tapi ruh, kecantikannya menjadi milik kita yang abadi. Kerananya, manusia diperintahkan untuk merawat ruhiyahnya bukan hanya jasmaninya yang boleh usang dan koyak sampai waktunya.
Akhifillah, Kalau antum ingin mencari akhwat yang cantik, antum juga seharusnya menilai pihak yang lain. Mungkin antum tidak memerhatikannya dengan teliti. (Alhamdulillah, tercapai maksudnya untuk keluar rumah tanpa menimbulkan perhatian orang). Pakaiannya sederhana, ia hanya memiliki beberapa helai. Dalam waktu seminggu antum akan menjumpainya dalam jubah-jubah yang tidak banyak koleksinya. Tempoh masanya untuk keluar rumah tidak lama. Ia lebih suka memasak dan mengurus rumah demi membantu kepentingan saudari-saudarinya yang sibuk da’wah di luar. Ia nyaris tidak mempunyai keistimewaan apa-apa kecuali kalau antum sudah melihat shalatnya. Ia begitu khusyu’. Malam-malamnya dihiasi tahajjud dengan uraian air mata. Dibaca Qur’an dengan terisak. Ia begitu tawadhu’ dan zuhud. Ah, saya iri akan kedekatan dirinya dengan Allah. Benar, ia mengenal Rabbnya lebih dari saya. Dalam ketenangannya, ia tampak begitu cantik di mata saya. Beruntung ikhwan yang kelak memperisterikannya… (saya tidak perlu menyebut namanya.) ********** Malam semakin beranjak. Kantuk yang menghantar ke alam tidur tidak menyerang saat surat panjang ini belum usai. Tapi, sudah menjadi kebiasaanku tidak boleh tidur tenang bila saudaraku tercinta tidak hadir menemani. Aku tergugat apabila merasakan bantal dan guling di samping kanan telah kehilangan pemilik. Rasa penat yang belum ternetral menyebabkan tubuhku terhempas di sofa.
Aida sedang diam dalam kekhusyu’kan. Wajahnya begitu syahdu, tertutup oleh deraian air mata. Entah apa yang terlintas dalam qalbunya. Sudah pasti ia merasakan aku tidak heran saat menyaksikannya. Tegak dalam rakaatnya atau lama dalam sujudnya. “Ukhti, tidak solat malam? “ tanyanya lembut seusai melirik mata. “Ya, sekejap,” kupandang wajahnya. Ia menatap jauh keluar jendela ruang tamu yang dibiarkan terbuka. “Dzikrul maut lagi?” “Khusnudzan anti terlalu tinggi.”
Aku tersenyum. Sikap tawadhu’mu, Aida, menyebabkan bertambah rasa rendah diriku. Angin malam berhembus dingin. Aku belum mau beranjak dari tempat duduk. Aida pun nampaknya tidak meneruskan shalat. Ia kelihatan seperti termenung menekuri kegelapan malam yang kelam.
“Saya malu kepada Allah,” ujarnya lirih. “Saya malu meminta sesuatu yang sebenarnya tidak patut tapi rasanya keinginan itu begitu mendesak dada. Siapa lagi tempat kita meminta kalau bukan diri-Nya?” “Apa keinginan anti, Aida?” Aida menghela nafas panjang. “Saya membaca buku Syeikh Abdullah Azzam pagi tadi,” lanjutnya seolah tidak menghiraukan. “Entahlah, tapi setiap kali membaca hasil karyanya, selalu hadir simpati tersendiri. Hal yang sama saya rasakan tiap kali mendengar nama Hasan al-Banna, Sayyid Quthb atau mujahid lain saat nama mereka disebut. Ah, wanita macam mana yang dipilihkan Allah untuk mereka? Tiap kali nama Imaad Aql disebut, saya bertanya dalam hati: Wanita macam mana yang telah Allah pilih untuk melahirkannya?” Aku tertunduk dalam-dalam.
“Anti tahu,” sambungnya lagi, “Saya ingin sekiranya boleh mendampingi orang-orang sekaliber mereka. Seorang yang hidupnya semata-mata untuk Allah. Mereka tak tergoda rayuan harta dan benda apalagi wanita. Saya ingin sekiranya boleh menjadi seorang ibu bagi mujahid-mujahid semacam Immad Aql…” Air mataku menitis perlahan. Itu adalah impianku juga, impian yang kini mulai kuragui kenyataannya. Aida tak tahu berapa jumlah ikhwan yang telah menaruh hati padaku. Dan rasanya hal itu tak berguna diketahui. Dulu, ada sebongkah harapan kalau kelak lelaki yang mendampingiku adalah seorang mujahid yang hidupnya ikhlas kerana Allah. Aku tak menyalahkan mereka yang menginginkan isteri yang cantik. Tidak. Hanya setiap kali bercermin, ku tatap wajah di sana dengan perasaan duka. Serendah inikah nilaiku di mata mereka? Tidakkah mereka ingin menilaiku dari sudut kebagusan dien-ku? “Ukhti, masih tersisakah ikhwah seperti yang kita impikan bersama?” desisku. Aida meramas tanganku. “Saya tidak tahu. Meskipun saya sentiasa berharap demikian. Bukankah wanita baik untuk lelaki baik dan yang buruk untuk yang buruk juga?” “Anti tak tahu,” air mata mengalir tiba-tiba. “Anti tak tahu apa-apa tentang mereka.” “Mereka?” “Ya, mereka,” ujarku dengan kemarahan terpendam. “Orang-orang yang saya kagumi selama ini banyak yang jatuh berguguran. Mereka menyatakan ingin ta’aruf. Anti tak tahu betapa hancur hati saya menyaksikan ikhwan yang qowiy seperti mereka takluk di bawah fitnah wanita.” “Ukhti!” “Sungguh, saya terfikir bahwa mereka yang aktif da’wah di kampus adalah mereka yang benar-benar mencintai Allah dan Rasulnya semata. Ternyata mereka mempunyai sekelumit niat lain.” “Ukhti, jangan su’udzan dulu. Setiap manusia punya kelemahan dan saat-saat penurunan iman. Begitu juga mereka yang menyatakan perasaan kepada anti. Siapa yang tidak ingin punya isteri cantik dan shalihah?” “Tapi, kita tahukan bagaimana prosedurnya?” “Ya, memang…” “Saya merasa tidak dihargai. Saya berasa seolah-olah dilecehkan. Kalau ada pelecehan seksual, maka itu wajar kerana wanita tidak menjaga diri. Tapi saya…. Samakah saya seperti mereka?” “Anti berprasangka terlalu jauh.” “Tidak,” aku menggelengkan kepala. “Tiap kali saya keluar rumah, ada sepasang mata yang mengawasi dan siap menilai saya mulai dari ujung rambut -maksud saya ujung jilbab- hingga ujung sepatu. Apakah dia fikir saya boleh dinilai melalui nilaian fisik belaka..” “Kita berharap agar ia bukan jenis ikhwan seperti yang kita maksudkan.” “Ia orang yang aktif berda’wah di kampus ini, ukh.” Aida memejamkan mata. Bisa kulihat ujung matanya basah. Kurebahkan kepala ke bahunya. Ada suara lirih yang terucap, “Kasihan risalah Islam. Ia diemban oleh orang-orang seperti kita. Sedang kita tahu betapa berat perjuangan pendahulu kita dalam menegakkannya. Kita disibukkan oleh hal-hal sampingan yang sebenarnya telah diatur Allah dalam kitab-Nya. Kita tidak menyibukkan diri dalam mencari hidayah. Kasihan bocah-bocah Palestin itu. Kasihan saudara-saudara kita di Bosnia . Adakah kita boleh menolong mereka kalau kualitas diri masih seperti ini? Bahkan cinta yang seharusnya milik Allah masih berpecah-pecah. Maka, kekuatan apa yang masih ada pada diri kita?”
Kami saling bertatapan kemudian. Melangkau seribu makna yang tidak mampu dikatakan oleh kosa kata. Ada janji. Ada mimpi. Aku mempunyai impian yang sama seperti Aida: mendukung Islam di jalan kami. Aku ingin mempunyai anak-anak seperti Asma punyai. Anak-anak seperti Immad Aql. Aku tahu kualiti diri masih sangat jauh dari sempurna. Tapi seperti kata Aida; Meskipun aku lebih malu lagi untuk meminta ini kepada-Nya. Aku ingin menjadi pendamping seorang mujahid ulung seperti Izzuddin al-Qassam.
Akhifillah, Mungkin antum tertawa membaca surat ini. Ah akhwat, berapa nilaimu sehingga mengimpikan mendapat mujahid seperti mereka? Boleh jadi tuntutanku terlalu besar. Tapi tidakkah antum ingin mendapat jodoh yang setimpal? Afwan kalau surat antum tidak saya layani. Saya tidak ingin masalah hati ini berlarutan. Satu saja yang saya minta agar kita saling menjaga sebagai saudara. Menjaga saudaranya agar tetap di jalan yang diridhai-Nya. Tahukah antum bahwa tindakan antum telah menyebabkan saya tidak lagi berada di jalan-Nya? Ada riya’, ada su’udzhan, ada takabur, ada kemarahan, ada kebencian, itukah jalan yang antum bukakan untuk saya, jalan neraka? –‘Afwan.
Akhifillah, Surat ini seolah menempatkan antum sebagai tertuduh. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Kalau antum mahu cara seperti itu, silakan. Afwan, tapi bukan saya orangnya. Jangan antum kira kecantikan lahir telah menjadikan saya merasa memiliki segalanya. Jesteru, kini saya merasa iri pada saudari saya. Ia begitu sederhana. Tapi akhlaknya bak lantera yang menerangi langkah-langkahnya. Ia jauh dari fitnah. Sementara itu, apa yang saya punyai sangat jauh nilainya. Saya bimbang apabila suatu saat ia berhasil mendapatkan Abdullah Azzam impiannya, sedangkan saya tidak.
Akhifillah, ‘Afwan kalau saya menimbulkan fitnah bagi antum. Insya Allah saya akan lebih memperbaiki diri. Mungkin semua ini sebagai peringatan Allah bahwa masih banyak amalan saya yang riya’ maupun tidak ikhlas. Wallahua’lam. Simpan saja cinta antum untuk isteri yang telah dipilihkan Allah. Penuhilah impian ratusan akhwat, ribuan ummat yang mendambakan Abdullah Azzam dan Izzuddin al-Qassam yang lain. Penuhilah harapan Islam yang ingin generasi tangguh seperti Imaad Aql. Insya Allah antum akan mendapat pasangan yang bakal membawa hingga ke pintu jannah.
Akhifillah, Malam bertambah-dan bertambah larut. Mari kita shalat malam dan memandikan wajah serta mata kita dengan air mata. Mari kita sucikan hati dengan taubat nasuha. Pesan saya, siapkan diri antum menjadi mujahid. Insya Allah, akan ada ratusan Asma dan Aisyah yang akan menyambut uluran tangan antum untuk berjihad bersama-sama. Salam dari ukhtukum fillah.

Sengsara Membawa Nikmat..!!

07 September 2012 22:14:54 Dibaca : 132

 

 
DARI MARIAH/MARYAM DI MANADO
ASS. AL. WR. WB
PENDENGAR NURANI YANG BAIK 
sungguh hidup ini telah memberiku banyak arti.., hari-hari yang kulalui sejak kecil hingga saat ini, telah membuatku semakin sadar bahwa aku hanyalah mahluk kecil yang tidak ada apa-apanya dihadapan allah, sebenarnya aku berkisah malam ini dengan tidak ada tendensi apapun selain berharap bahwa imanku semakin dikuatkan oleh allah dalam melewati hari esok yang masih rahasi bagiku..
 
 

100000074610748.2975.1322192095.png

 

 

Pendengar nurani yang baik, aku terlahir dari keluarga yang sangat berkecukupan, ayah dan ibuku memiliki usaha textil didaerahku dimanado, seluruh keluargaku berketurununan tionghoa dan memeluk agama non muslim, aku adalah putri pertama dari 2 bersaudara, yang sangat diharapkan menjadi penerus bisnis dan usaha orang tuaku, maklum selain aku anak tertua, aku tidak memiliki saudara laki-laki, harapan orang tuaku itupun mulai diperlihatkan sejak aku kecil, betapa tidak, aku selalu dimanja, disayang, dan dipenuhi seluruh kebutuhanku tanpa memandang jumlah dan nominal dari harta yang keluar untuk memenuhi seluruh kebutuhanku, aku bahkan disekolahkan disekolah-sekolah bonafit dan berkelas, agar kualitas pendidikanku terjamin dan bisa diandalkan untuk kelangsungan bisnis perusahaan keluargaku, pergi kesekolah diantar dan dijemput dengan mobil pribadi keluargaku, dan tepat dihari ultahku yang ke 16, ayahku memberiku hadiah sebuah mobil mewah untuk aktifitasku diluar, saat itu serasa lengkaplah seluruh hidupku, aku selalu diperlakukan bak seorang putri mahkota yang akan mewarisi tahta kerajaan keluargaku..hingga akhirnya memasuki semester tujuh, aku terpesona pada kakak seniorku yang begitu bersahaja dalam pandanganku dan sempurna untuk dijadikan calon pendampingku, dan akhirnya perasaanku bersambut darinya dan tidak bertepuk sebelah tangan, kami menjalin hubungan asmara layaknya pasangan muda-mudi lainnya hingga hubungan itu sampai ketelinga orang tuaku, jujur, mendengar kabar itu alangkah marahnya ayah dan ibuku serta seluruh keluarga besarku, karena tradisi pada keluargaku, kami harus dinikahkan dengan orang yang berdarah sama dan dari kalangan yang setingkat level ekonominya dengan keluargaku, sedangkan kekasihku (ahmad) namanya, hanyalah pemuda desa biasa yang tidak memeiliki kelebihan apappun selain kecerdasaan dan sopan santunnya, kemarahan itupun semakin bertambah kala mengetahui bahwa kak ahmad adalah pemuda muslim, begitu murkanya kedua orang tuaku hingga mereka mencekal seluruh aktifitasku diluar termasuk bertemu dengan kak ahmad, hatiku sedih saat itu karena kekayaan yang kumiliki tidak dapat memberiku kebahagiaan sedikitpun, hari-hari aku lalui dengan deraian air mata, aku jadi benci dengan keluargaku sendiri, bahkan ketika ada kesempatan, aku memilih kabur dari rumah dan meninggalkan seluruh kekayaan yang akan diwariskan padaku, saat itu kutemui kak ahmad dan aku memelas dihadapannya untuk segera menjadikan aku sebagai mahromnya, bahkan untuk itu semua aku rela meninggalkan agamaku dan memeluk agamanya mas ahmad yakni agama islam, tak ada yang aku fikirkan selain hidup bahagia bersama lelaki pilihan hatiku, meskipun harus mengorbankan kebahagiaan yang melimpah dan agama yang aku anut sejak kecil, dengan melalui banyak pertimbangan dari berbagai pihak termasuk keluarga bersarnya kak ahmad, akhirnya aku dibaiat menjadi seorang muslimah dengan melafazkan 2 kalimah syahadat dan namaku yang semula mariah diganti menjadi mariam, alangkah bahagianya aku saat itu tak kala melewati proses keislamanku dan akhirnya diperistri oleh kekasih pujaan hatiku, untuk menghindari keluargaku, aku memilih berhenti kuliah dan kak ahmad alhamdulillah meneruskan kuliahnya sampai tamat meskipun sering tidak tenang karena selalu berhadapan dengan keluargaku, anehnya keluarga tidak membencinya…dan memperlakukannya kasar, semula kufikir mereka akan menerima keberadaan kami saat ini, menerima aku yang telah menjadi muslim dan bersuamikan pemuda muslim, tapi ternyata dugaanku salah, karena 2 bulan setelah minggatnya aku dari rumah, aku menerima sepucuk surat dari pos yang dialamtkan kerumah kak ahmad, sebuah surat yang ternyata berisi sesuatu yang sangat mencengangkan aku..surat pemutusan darah dan pernyataan pengalihan harta warisan pada adikku, mataku sempat menetes saat itu, ya..sempat menetes, bukan karena tak dapat warisan lagi, tapi karena diputiskan pertalian darah dan tidak diakui lagi sebagai anak mereka, membaca surat itu, aku mencoba menarik nafasku dan menyunggingkan bibirku berusaha tersenyum meski dalam kepiluan, aku berusaha sekuat tenagaku menerima kenyataan itu, dan dari kak ahmad aku berusaha sembunyikan surat itu, aku tidak ingin dia sedih dengan semuanya.. Pendnegar nurani yang baik.. Waktu terus bergulir hingga membawa usia pernikahan kami memasuki tahun kedua, alhamdulillah dari pernikaah tersebut, kami telah dikaruniai seorang putri yang cantik yang akhirnya kami beri nama jamilah, bersuamikan kak ahmad dan dikaruniai jamilah membuatku sangat bahagia, sangat bahagia melebihi bahagiaku naik mobil mercy hadiah pemberian dari ayah dulu, dan melebihi kebahagiaan-2ku lainnya..subhanallah, aku selalu memanjatkan rasa syukur kepada allah dengan selalu menajdi muslimah yang taat, aku mengaktifkan diriku dimajlis-majlis taklim dan pengajian ibu-ibu…aku berusaha mengahpus dari benakku bahwa aku dulu dibesarkan dilingkungan non muslim dan dari keturunan tionghoa, yang aku berusaha wujudkan adalah bagaimana aku bisa menjadi muslimah yang taat dan merealisasikan isi al-qur’an dalam keseharianku…namun..malang sungguh malang..ditengah-tengah rasa bahagiaku dan ikhtiarku menjadi seorang muslimah yang taat, allah mengujiku dengan cobaan yang dahsyat, betapa tidak, entah syetan apa yang telah merasuki suamiku, hingga dia terelena dengan wanita lain yang kabarnya merupakan mantan kekasihnya sejak sma dulu, wanita itu ternyata telah masuk dalam kehidupan rumah tanggaku semenjak jamilah berusia 8 bulan dalam kandunganku dan aku tidak menyadarinya karena kak ahmad pandai menyembunyikannya dariku dan aku teramat sanagat percaya padanya, aku tidak menyangka sama sekali kalau kak ahmad akan melakukan ini padaku, meskipun hatiku telah hancur dengan apa yang telah diperlakukan kak ahmad padaku, aku berusaha bersabar dengan semuanya, dan berusaha menerima semua kenyataan pahit itu meskipun dihatiku tersimpan selaksa tangis dan air mata, wanita mana yang rela diduakan dan dimadu, tapi apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur, kak arman telah berlaku kotor pada kekasih gelapnya tersebut dan mau tidak mau harus mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri dengan menikahi gadis tersebut, dalam kehampaan dan tetesan air mata yang tak bisa dibendung, aku berusaha merelakan kak ahamad menduakan aku dengan menikahi gadis pujaan hatinya tersebut, tapi, yang sangat membuat aku sangat terperenjat dan bertambah sedih, ternyata ditengah keikhlasanku menerima kehadiran istri kedunya menjadi maduku, justru istri keduanya yang tidak ingin ada cinta yang terbagi diantara kami dan dia meminta kak ahmad untuk menceraikan aku, pilu dan hancur hatiku mendengar kabar tersebut, aku tak menyangka sama sekali kalau akhirnya aku harus menerima pil pahit dari apa yang telah aku korbankan selama ini, demi kehormatanku dan masa depan anakku, aku berusaha memelas dihadapan kak ahmad untuk tidak menceraikan aku, dan mempertimbangkan lagi keputusannya untuk menceraikan aku, tapi tangisanku tak dihiraukannya, sebab saking cintanya pada istri barunya, aku akhirnya diceraikannya secara resmi dihadapan pengadilan agama, dan menceraikan aku beberapa kali dengan lisannya, air mataku tak terbendung saat itu..sulit kuliskan hancurnya perasaanku saat itu, sebab aku telah rela meninggalkan orang tua, kekayaan bahkan agamaku sendiri untuk dirinya, namun akhirnya aku menerima kenyataan pahit setelah menyadari bahwa statusku berubah menjadi mantan istrinya,ya allah..apa dosaku selama ini..apakah aku tidak taat padamu, apakah aku bersalah padamu.., sehingga ujian ini terlalu berat kau timpakan padaku…, hari itu, tepatnya tanggal 28 desember 2009, aku mengemasi pakaianku dan pakaian jamilah, sebab aku didateline oleh kak ahmad dan istri barunya untuk segera meninggalkan rumah sehari setelah pengadilan resmi memutuskan cerai atas pernikahan kami, dengan sejuta kepedihan dihati dan linangan air mata, aku dan putri kecilku jamilah yang saat itu baru berusia 3 tahun 2 bulan menapakkan kaki keluar dari rumah kecil tempat aku dulu melewatkan hari-hari indah bersama kak ahmad hingga jamilah lahir melengkapi kebahagiaan tersebut, untuk yang kesekian kalinya kutatap rumah yang telah memberiku banyak kenangan didalamnya..kulangkahkan kakiku dengan tanpa arah tujuan, aku tak tahu harus pergi kemana karena seluruh keluargaku telah membuangku dan tak mengakui aku lagi sebagai anak mereka, semuanya seolah serak kurasa, bahkan air mata seolah mengering membasahi kelopak mataku, kucium dan kutatap lekat-lekat wajah putriku yang tertidur pulas dalam dekapan gendonganku, aku telah hancur..semuanya telah sirnah..?Haruskah aku kembali pada orang tuaku lalu memohon dan menghiba dikaki mereka untuk diampuni dan dimaafkan?, haruskah aku kembali kemereka dan kembali pada agamaku yang dulu..berbagai perasaan bercampur dan berkecamuk didalam dadaku..sesak nafas ini..hingga tak ada lagi yang bisa kuungkapkan selain air mata yag terus berderai…hingga akhirnya tak kala aku berhenti berteduh disebuah mesjid tak jauh dari kampungku, ada seorang wanita muslimah bercadar datang menghampiriku dan prihatin dengan keadaanku yang membawa banyak barang dan ada anak kecil dalam gendonganku…, ternyata sejak tadi wanita bercadar itu memperhatikan aku hingga tak tahan dengan kondisi yang dilihatnya wanita itu penasaran dan menghapiriku, disapanya aku dengan ucapan salamnya yang lembut, dirangkulnya aku dengan penuh cinta, dan dilepaskannya aku dari beban yang beratku saat itu…dengan lembut dan santunnya sang wanita muslimah bercadar itu mengajakku keruangan tertutup dimana hanya aku dan dia juga jamilah didalam ruangan itu, dan dibukannya kain hitam penutup cadarnya, dengan lembutnya diperkenalkan namanya yang anggun…khumairoh, nama yang cantik secantik wajahnya, dengan seksamanya dia menyimak kisah kehidupan yang kututrkan padanya, berderai air matanya mendengarkan kisah yang mengalir dari bibirku, didekapnya aku dengan eratnya dan dinasehatinya aku dengan kalimat-kalimat yang teduh yang keluar dari bibirnya..kalimat-kalimat yang cukup membuatku kembali tegar dengan niatku sebelumnya. Menjadi muslimah yang taat dan sholehah.., kubuang jauh-jauh niat rencana dan bujukan syetan yang menghasut fikiranku untuk kembali pada keluarga dan agamaku dulu…biarlah..aku akan melanjutkan hidupku dengan segenap doa dan ikhtiarku untuk senantiasa istiqamah dalam agama allah.., pendengar nurani yang baik.. Ternyata khumairoh tidak meninggalkan aku begitu saja..diajaknya aku kerumahnya di daerah tomohon, khumairoh adalah nama kuniahnya, kuketahui ternyata dia pernah menimba ilmu di sebuah perguruan tinggi islam dimakassar dan saat ini sedang bersilaturahim kekampungnya ditomohon, selang 2 bula setelahnya aku dan jamilah diajaknya hijrah ke sulawesi selatan tepata di endrekang..subhanallah, kini aku menajlani hari-hariku dengan senyuman meski kenangan pahit belum hilang dari benakku, tapi aku yakin, inilah cobaan bagiku…khumairoh selalu menguatkan aku dengan segudang nasehatnya, diantaranya yang tidak kulupa adalah “bahwa allah lebih mengetahui apa-apa yang dalam diri kita dan yang akan terjadi menimpa kita dihari esok, maka senantisa dekatkanlah diri kita padanya, dan senantiasa meluruskan niat kita, dan insya allah dia akan menggantikan sesuatu yang lebih baik dari apa-apa yang telah pergi atau hilang dari diri kita”. Kini aku menjalani hari-hariku bersama putriku di kampung kecil disini, alhamdulillah bahagia..kubulatkan tekadku untuk menajadi wanita sholehah meskipun aku seorang mu’alaf..aku mengikuti pengajian rutin di halaqahnya khumairoh…ya allah..terima kasih karena kau masih mengizinkan aku tersenyum setelah air mataku hampir mengering..beri aku kekuatan ya allah..untuk menghadapi hari-hari selanjutnya…. Istiqamahkan aku senantiasa hingga akhir hayatku
wassalam..
 

100000074610748.2975.1322192095.png

 

 

UMMU JAMILAH