Beradab vs Berilmu
Pada tulisan saya yang berjudul ‘Sejarah Dibalik Kesuksesan Sebuah Kampus’, saya sempat mengetikkan kalimat; “Universitas Negeri Gorontalo yang kita lihat saat ini, sering kali mendapat pujian dari masyakat dalam maupun luar daerah, karena berhasil menciptakan mahasiswa yang unggul dari segi moral dan ilmu..”. Hal tersebut tidak saya tuliskan sebagai bualan saja, tapi berasal dari fakta yang benar demikian adanya.
Salah satu bukti yang saya dapatkan adalah berita digital dari blog ANTARA GORONTALO (Jumat, 18 September 2020) berjudul; “Mahasiswa UNG Belajar Mengenali Perilaku Hidup Sehat” yang diikuti oleh sejumlah mahasiswa yang bergabung dalam Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) Sysyifa. Menurut saya yang masih berstatus maba, kegiatan positif ini bahasa gaulnya, sangat keren.
Perkataan pemateri, Irwan, yang meresap di pikiran saya adalah, "Jangan pernah merubah perilaku orang lain di saat kita pun masih tidak konsisten dengan perilaku buruk yang masih kita lakukan, contohnya saat kita ingin mengarahkan orang lain untuk tidak merokok atau melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tetapi kita sendiri masih belum mengamalkannya dalam diri,". Saya bisa menangkap pandangan bahwa jika ingin menasihati atau mengajak orang tentang sesuatu, terlebih dahulu lihatlah diri kita. Menurut saya ini pandangan yang secara halus mengatakan, orang-orang lebih tertarik mengikuti suatu kebaikan asal mereka bisa melihat satu orang saja diantara mereka, berani melangkah duluan untuk melakukan kebaikan tersebut. Ada sedikit ‘adab klasik’ berupa perilaku menjaga diri dari hal-hal kotor yang bisa menarik orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Tapi bagaimana jika ia sudah beradab baik, sayangnya ilmu yang ia kuasai tidak sebanding dengan adabnya? Misalnya ada siswa yang sangat baik dan sopan kepada gurunya, tapi karena suatu hal nilai pelajarannya selalu dibawah standar. Bahkan Imam Syafii pernah berkata; “Aku lebih menghargai orang yang beradab daripada berilmu. Kalau hanya berilmu, iblis pun lebih tinggi ilmunya dari pada manusia.” Itu benar, tapi beradab tapi isi pikirannya nol, maka perlu dipertanyakan kembali bagaimana adabnya kepada buku dan ilmu pengetahuan. Siapa yang berkata bahwa adab baik hanya untuk sesama manusia? Salah besar jika kita berpikir seperti itu. Adab baik bukan hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada Allah, binatang, dan ilmu pengetahuan. Memiliki adab yang baik adalah point 10, tapi diselingi bersama ilmu dunia dan akhirat bukankah itu masuk dalam point 10000000?. Maka sebagai calon khalifah di muka bumi ini, sebaiknya kita menyeimbang kedua hal penting tersebut agar terciptanya generasi Indonesia yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan tapi juga unggul dalam adab dan akhlak.
https://gorontalo.antaranews.com/berita/70997/mahasiswa-ung-belajar-mengenali-perilaku-hidup-sehat