PERJALANAN MENJADI MAHASISWA
Tahun 2020 adalah hari yang menjadi hari terakhir saya bersama teman-teman di sekolah SMA NEGERI I BONEPANTAI. Meskipun ada banyak kebahagiaan dan haru karena kelulusan telah menghampiri kami, ada juga kesedihan karena perpisahan itu kepastiannya terjadi. Waktu mulai berlalu ribuan bahkan jutaan dari lulusan tahun itu mulai mengatur dan menata jalan kemana mereka akan bermimpi untuk masa depan selanjutnya dan diantara ribuan orang itu saya adalah salah satunya.
Awalnya saya memiliki cita-cita yang teramat besar yang kata orang itu mustahil yaitu "Dokter" karena saya lulusan dari SMA jurusan IPS. Namun saya tidak patah semangat saya tetap terbesit ingin menjadi Dokter karena wanita hebat yang tak lain adalah ibu saya sangat mendukung saya dan dia berkata akan dia usahakan memperoleh uang sebanyak apapun agar saya bisa memenuhi impian saya yang teramat besar ini. Namun, akhirnya kalimat "Mustahil" yang di lontarkan orang-orang benar terjadi. Saya memutuskan menyerah dari impian besar saya itu karena Wanita terbaik yang saya cintai dan selalu mendukung saya telah jatuh sakit. Banyak waktu dan banyak uang di gunakan untuk membayar keperluan beliau di rumah sakit. Hampir saja patah semangat saya, setiap hari saya merawat dan menyaksikan bagaimana beliau berusaha melawan penderitaan yang teramat sakit menggerogoti tubuhnya. Bahkan saya yang kata orang adalah pemuda kasar, sombong diam-diam menangis sendiri karena sakit di hati saya melihat wanita hebat itu menahan sakitnya sendirian.
Beberapa bulan kemudian beliau mulai berangsur pulih meski tidak dapat di katakan total. Beliau pekerja keras meski sakit masih menyiksa beliau tetap bekerja. Akhirnya saya memutuskan mengejar impian kedua saya yaitu ingin menjadi "Tentara" saya ingin menjadi seorang abdi negara. Setiap hari berlatih dan melakukan apapun agar saya bisa di terima sebagai bagian dari mereka. Namun tepat pada hari pegumuman kelulusan saya gagal karena berat badan saya tidak mencukupi berat badan ideal sebagimana tinggi badan saya yang 172 cm. Selain sedih perasaan saya sangat hancur, sempat terbersit untuk menyerah "Ah sudahlah tidak ada gunanya mengejar impian selalu tidak ada jalan." Namun tidak, saya masih terus lanjut dan berusaha agar 2021 saya bisa menjadi Abdi Negara. Namun sekali lagi tamparan keras benar-benar meruntuhkan semangat saya Wanita terbaik dan terhebat yaitu ibu saya di ambil tuhan secepat itu. Sakit sekali rasanya, Dunia saya tiba-tiba di runtuhkan tanpa seijin saya. Kejam sekali fikirku.
Hari-hari semakin sulit rasanya saya menjadi sosok yang benar-benar tidak berguna, menghabiskan waktu sepanjang hari untuk bermain game. Sepatah itu semangat saya sampai terbesit untuk menjadi abdi negara pun tidak ada lagi. Saya kubur impian saya dalam-dalam.
Sampai satu tahunpun tiba. Anak-anak lulusan tahun 2021 mulai mengatur kemana mereka akan mengejar impian mereka. Saya yang tidak ingin menghabiskan waktu menjadi pengangguran bodoh yang tak berguna mencoba untuk mendaftar di kampus Universitas negeri Gorontalo (UNG) Jurusan manajemen melalui jalur SBMPTN. Meski begitu saya tidak benar-benar berharap untuk di terima sebab saya takut gagal lagi. Tapi sepertinya tuhan memang menghendaki saya untuk di terima di Kampus ini, Saya Bahagia benar-benar bahagia setidaknya saya tidak merasakan pahitnya kegagalan lagi. Semoga di kampus ini saya bisa mewujudkan impian saya.
Seperti itulah kiranya perjalanan saya menjadi seorang mahasiswa. Saya bangga karena bisa di terima menjadi salah satu bagian anak manajemen di kampus terbaik di Gorontalo.
Terimakasih.