LAPORAN TITRASI ASAM BASA

12 August 2016 10:29:52 Dibaca : 899

LAPORAN PRAKTIKUM
MODUL III
JUDUL :
Titrasi Asam Basa

TUJUAN
Melakukan titrasi asam basa untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam

DASAR TEORI
Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat yang diketahui konsentrasinya secara tepat. Prinsip dasar titrasi asam basa didasarkan pada reaksi netralisasi asam basa.
Titik ekuivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asam dinetralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. Pada titik ekuivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisasi asam basa. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik ekuivalen berada. Pada umumnya titik ekuivalen tersebut sulit diamati, yang mudah diamati adalah titik akhir yang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik ekuivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir titrasi dicapai yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekuivalen . Dengan pemilihan indikator yang tepat, kita dapat memperkecil kesalahan titrasi.
Pada titrasi asam kuat dan basa kuat, asam kuat dan basa kuat dalam air terurai dengan sempurna. Oleh karena itu, ion hidrogen dan ion hidroksida selama titrasi dapat langsung dihitung dari jumlah asam atau basa yang ditambahkan. Pada titik ekuivalen dari titrasi asam kuat dan basa kuat, pH larutan pada temperatur 25ËšC sama dengan pH air yaitu sama dengan 7.
( Penuntun Praktikum Kimia Dasar II, UNG 2012 : 05 )
Seorang analisis mengambil faedah dari perubahan besar dari pH yang terjadi dalam titrasi agar dapat menentukan kapan titik ekivalennya akan tercapai. Ada banyak asam dan basa organik dan basa organik lemah yang bentuk-bentuk tak berdisosiasi dan ionnya menunjukka wrana yang berbeda warna. Molekul-molekul demikian dapat digunakan untuk menentukan kapan cukup titran telah ditambahkan dan disebut indikator visual. Suatu contoh yang sederhana adalah para-nitrofenol, yang merupakan suatu asam lemah da berdisosiasi.
Bentuk tak terdisosiasi adalah tak berwarna, tetapi anionnya, yang mempunyai sistem ikatan tunggal dan ikatan rangkap dua yang berganti-ganti (suatu system terkonjugasikan), berwarna kuning. Molekul-molekul atau ion-ion yang mempunyai system terkonjugasikan, menyerap cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang dibandingkan dengan molekul-molekul sebanding tetapi yang tanpa system terkonjugasikan. Cahaya yang diserap sering ada pada bagian spectrum yang tampak, dan dengan demikian molekul atau ionnya berwarna.
Indikator terkenal phenoftalein merupakan asam diprotik dan tak berwarna. Ia mula-mula berdisosiasi menjadi suatu bentuk tak berwarna dan kemudian, dengan kehilangan hidrogen ke dua, menjadi ion dengan system terkonjugasikan, maka dihasilakanlah wrana merah. Metal oranye, indikator lain yang secara luas digunakan, merupakan basa dan berwarna kuning dalam bentuk molekular. Penambahan ion hidrogen menghasilkan suatu kation yang berwarna merah muda.
Perubahan minimum dalam pH yang diperlukan untuk suatu perubahan warna disebut “jangkau indicator”. Pada harga pH antara,warna yang ditunjukkan bukan warna merah atau kuning, tetapi sedikit agak kuning. Pada pH 5,pKa dari HIn, kedua bentuk berwarna sama konsentrasinya, yaitu HIn separuh tenetralisasikan. Seringkali kita mendengar terminology seperti suatu indikator yang berubah warna pada pH 5 telah digunakan ini berarti bahwa pKa indicator sebesar 5 dan jangkauannya sebesar pH 4 sampai 6.
Pada titrasi asam lemah, pemilihan indikator jauh lebih terbatas untuk suatu asam dengan pKa 5 kira-kira kepunnyaan asma asetat, pH lebih tinggi dari 7 pada titik ekivalen, dan perubahan dalam pH relatif kecil. Phenoftalein berubah warna pada kira-kira titik ekivalen dan merupakan indicator yang cocok. Dalam hal asam yang sangat lemah, misalnya pKa = 9, tidak ada perubahan dalam pH yang besar terjadi sekitar titik ekivalen. Jadi volume basa yang lebih besar akan diperlukan untuk merubah warna suatu indikator dan titik ekivalen tidak akan di deteksi dengan ketepatan yang biasa diharapkan.
Kelarutan garam dari asam lemah tergantung pada pH larutan. Beberapa contoh yang lebih penting dari garam-garam demikian dalam kimia analitik adalah oksilat sulfida, hidrogsida, karbonat dan fosfat. Ion hidroksida bereaksi dengan anion garam untuk membentuk asam lemah, dengan demikian meningkatkan kelarutan garam.
( R.A. Day, Jr. Analisa Kimia Kuantitatif : 141-145)
Titrasi merupakan metode analisa kimia secara kuantitatif yang biasa digunakan dalam laboratorium untuk menentukan konsentrasi dari reaktan. Karena pengukuran volum memainkan peranan penting dalam titrasi, maka teknik ini juga dikenali dengan analisa volumetrik. Analisis titrimetri merupakan satu dari bagian utama dari kimia analitik dan perhitungannya berdasarkan hubungan stoikhiometri dari reaksi-reaksi kimia. Analisis cara titrimetri berdasarkan reaksi kimia seperti:
aA + tT → hasil
Dengan keterangan (a) molekul analit A bereaksi dengan (t) molekul pereaksi T. Pereaksi T, disebut titran, ditambahkan secara sedikit-sedikit, biasanya dari sebuah buret, dalam bentuk larutan dengan konsentrasi yang diketahui. Larutan yang disebut belakangan disebut larutan standar dan konsentrasinya ditentukan dengan suatu proses standardisasi. Penambahan titran dilanjutkan hingga sejumlah T yang ekivalen dengan A telah ditambahkan. Maka dikatakan baha titik ekivalen titran telah tercapai. Agar mengetahui bila penambahan titran berhenti, kimiawan dapat menggunakan sebuah zat kimia, yang disebut indikator, yang bertanggap terhadap adanya titran berlebih dengan perubahan warna. Perubahan warna ini dapat atau tidak dapat trejadi tepat pada titik ekivalen. Titik titrasi pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. Tentunya merupakan suatu harapan, bahwa titik akhir ada sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Memilih indikator untuk membuat kedua titik berimpitan (atau mengadakan koreksi untuk selisih keduanya) merupakan salah satu aspek penting dari analisa titrimetri. Istilah titrasi menyangkut proses ntuk mengukur volum titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Selama bertahun-tahun istilah analisa volumetrik sering digunakan daripada titrimetrik. Akan tetapi dilihat dari segi yang ketat, istilah titrimetrik lebih baik, karena pengukuran-pengukuran volum tidak perlu dibatasi oleh titrasi. Pada analisa tertentu misalnya, orang dapat mengukur volum gas.
Sebuah reagen yang disebut sebagai peniter, yang diketahui konsentrasi (larutan standar) dan volumnya digunakan untuk mereaksikan larutan yang dititer yang konsentrasinya tidak diketahui. Dengan menggunakan buret terkalibrasi untuk menambahkan peniter, sangat mungkin untuk menentukan jumlah pasti larutan yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir. Titik akhir adalah titik di mana titrasi selesai, yang ditentukan dengan indikator. Idealnya indikator akan berubah warna pada saat titik ekivalensi—di mana volum dari peniter yang ditambahkan dengan mol tertentu sama dengan nilai dari mol larutan yang dititer. Dalam titrasi asam-basa kuat, titik akhir dari titrasi adalah titik pada saat pH reaktan hampir mencapai 7, dan biasanya ketika larutan berubah warna menjadi merah muda karena adanya indikator pH fenolftalein. Selain titrasi asam-basa, terdapat pula jenis titrasi lainnya.
Banyak metode yang dapat digunakan untuk mengindikasikan titik akhir dalam reaksi; titrasi biasanya menggunakan indikator visual (larutan reaktan yang berubah warna). Dalam titrasi asam-basa sederhana, indikator pH dapat digunakan, sebagai contoh adalah fenolftalein, di mana fenolftalein akan berubah warna menjadi merah muda ketika larutan mencapai pH sekitar 8.2 atau melewatinya. Contoh lainnya dari indikator pH yang dapat digunakan adalah metil jingga, yang berubah warna menjadi merah dalam asam serta menjadi kuning dalam larutan alkali.
Tidak semua titrasi membutuhkan indikator. Dalam beberapa kasus, baik reaktan maupun produk telah memiliki warna yang kontras dan dapat digunakan sebagai "indikator". Sebagai contoh, titrasi redoks menggunakan potasium permanganat (merah muda/ungu) sebagai peniter tidak membutuhkan indikator. Ketika peniter dikurangi, larutan akan menjadi tidak berwarna. Setelah mencapai titik ekivalensi, terdapat sisa peniter yang berlebih dalam larutan. Titik ekivalensi diidentifikasikan pada saat munculnya warna merah muda yang pertama (akibat kelebihan permanganat) dalam larutan yang sedang dititer.
Akibat adanya sifat logaritma dalam kurva pH, membuat transisi warna yang sangat tajam; sehingga, satu tetes peniter pada saat hampir mencapai titik akhir dapat mengubah nilai pH secara signifikan—sehingga terjadilah perubahan warna dalam indikator secara langsung. Terdapat sedikit perbedaan antara perubahan warna indikator dan titik ekivalensi yang sebenarnya dalam titrasi. Kesalahan ini diacu sebagai kesalahan indikator, dan besar kesalahannya tidak dapat ditentukan.
(Http://belajarkimia.com/2008/04/titrasi-asam-basa)

ALAT DAN BAHAN
Alat
Buret 1 buah

Fungsinya untuk meneteskan reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan presesi seperti titrasi.

Statif dan klem

Fungsi untuk menegakkan buret, corong, corong pisah dan peralatan gelas lainnya pada saat digunakan dan juga untuk memegang buret yang digunakan untuk titrasi.

Botol semprot 1 buah

Fungsinya sebagai wadah untuk menyimpan aquadest.

Corong 1 buah

Fungsinya untuk menyaring campuran kimia/ suatu larutan.

Gelas Erlenmeyer 250 ml 2 buah

Fungsinya untuk wadah titran (larutan yang dititrasi) pada proses titrasi.

Gelas kimia 250 ml 1 buah

Fungsinya untuk mengukur volume larutan atau sebagai wadah/ tempat untuk larutan.

Pipet tetes 1 buah

Fungsinya untuk mengambil cairan yang masih terdapat dalam wadahnya

Bahan
NaOH 0,05 M
Sifat fisik : Cairan higroskopis tak berwarna, rapuh (mudah hancur), asin,
larut dalam air.
Sifat kimia : Sangat mudah menyerap gas CO2, pH-nya netral, dan ikatan
ionik kuat.
Phenoftalein
Sifat fisik : Berbentuk larutan dan merupakan asam lemah.
Sifat kimia : Tidak dapat bereaksi dengan larutan yang direaksikan hanya
sebagai indikator.
HCl
Sifat fisik : Berbentuk gas yang tak berwarna dan berbau tajam, elektrolit
kuat, asam kuat.
Sifat kimia : Akan berasap tebal di udara lembab, dan titik didih, titik
leleh, massa jenis, pH, tergantung pada konsentrasi HCl .
Aquadest
Sifat fisik : Cairan tak berwarna dan tak berbau.
Sifat kimia : Pelarut yang baik, memiliki pH 7 (netral).
Kertas saring/ Tissue
Digunakan untuk menyaring.

PROSEDUR KERJA

Memasukkan ke dalam buret Memasukkan ke dalam labu
yang telah dibasuh dengan NaOH, Erlenmeyer 250 ml dengan
yang akan dipakai sebanyak 3 kali menggunakan pipet gondok
dengan menggunakan corong Menambahkan aquadest ± 5
sampai volumenya mencapai skala ml, untuk membilas larutan
nol pada buret yang menempel pada dinding
labu erlenmeyer.
Menambahkan 3 tetes phenoftalein

Meneteskan larutan NaOH secara perlahan lahan
Mengamati perubahan warna
Mencatat keadaan akhir buret
Mengulangi percobaan sebnyak dua kali (duplo)
Menghitung konsentrasi

HASIL PENGAMATAN
Perlakuan Hasil pengamatan

Membersihkan buret dan membilas dengan NaOH sebanyak 3 kali (± 5 ml)

Buret menjadi bersih

Mengukur 10 ml HCl ke dalam labu Erlenmeyer

Pada saat dicampurkan ketiga larutan belum terjadi perubahan warna hanya larutannya saja yang bercampur

Menambahkan 5 ml NaOH membilas larutan yang menempel pada dinding labu Erlenmeyer

Menambahkan 3 tetes indikator phenoftalein

Melakukan titrasi dengan cara meneteskan larutan NaOH dan memutar buret secara perlahan-lahan

Terjadi perubahan warna yakni warna merah muda, dan volume 6,4 ml

Perlakuan duplo
Terjadi perubahan warna yakni warna merah muda dengan volume 6,9 ml

PERHITUNGAN
Diketahui : V1 = 8 ml
V2 = 9 ml
Jadi VolumeNaOH adalah
VNaOH = (V1 + V2)/2
= (6,4+6,9)/2
= 6,65 ml
MNaOH = 0,1 M
V1 = 10 ml
V2 = 10 ml
Jadi VolumeHCl adalah
VHCl = (V1 + V2)/2
= (10+10)/2
= 10 ml
Ditanyakan : MHCL = …?
Penyelesaian :
VNaOH x MNaOH = VHCl x MHCl
6,65 ml x 0,1 M = 10 ml x MHCl
0,665 mlM = 10 ml x MHCl
MHCl = (0,665 mlM)/(10 ml)
= 0,0665 M
Jadi konsentrasi HCl (MHCl) adalah 0,0665 M

PEMBAHASAN
Titrasi merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran.
Pada eksperimen ini langkah kerja yang dilakukan yaitu, membersihkan buret dengan berhati-hati untuk terjaminnya suatu pengeringan larutan yang merata di dalam permukaan dalamnya dan membilasnya dengan larutan NaOH yang akan dipakai sebanyak 3 kali (± 5 ml). Kemudian larutan NaOH dimasukkan ke dalam buret dengan menggunakan corong sampai volumenya melebihi skala nol pada buret, setelah itu volume NaOH diturunkan kembali sampai tepat pada skala nol.
Langkah selanjutnya yaitu memasukkan 10 ml larutan asam dalam hal ini yaitu larutan HCl, ke dalam labu erlenmeyer 250 ml. Kemudian ditambahkan 5 ml aquadest untuk membilas larutan yang menempel pada dinding labu erlenmeyer. Lalu ditambahkan 3 tetes phenoftalein ke dalam labu erlenmeyer tersebut. Selanjutnya melakukan titrasi dengan cara meneteskan NaOH yang berada di dalam buret secara perlahan tetes demi tetes ke dalam labu erlenmeyer. Hentikan titrasi pada saat warna larutan yang berada dalam labu erlenmeyer telah mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi adalah dari warna bening menjadi warna merah muda.
Langkah awal dilakukan kembali tetapi NaOH tidak dikeluarkan atau ditambahkan untuk mencapai titik pada skala nol. Labu erlenmeyer yang pertama digunakan sebagai standar untuk menentukan perubahan warna pada labu erlenmeyer yang kedua.
Mencatat volume NaOH yang diperlukan untuk mentitrasi larutan. Titrasi yang awal dilakukan volume NaOH yang diperlukan adalah 6.4 ml sedangkan pada titrasi yang kedua volume NaOH yang diperlukan adalah 6.9 ml. Untuk mengetahui besarnya konsentrasi larutan asam (HCl) dalam percobaan, maka langkah awal yang dilakukan adalah menjumlahkan kedua volume NaOH yang terpakai pada percobaan ini (pertama dan kedua) itu dibagi dua sehingga akan diperoleh volume rata-rata yang terpakai dalam percobaan. Hasil-hasil ini kemudian dimasukkan ke dalam rumus pengenceran yaitu:
VNaOH x MNaOH = VHCl x MHCl
Dimana VNaOH adalah volume NaOH rata-rata yang digunakan, MNaOH adalah konsentrasi yang digunakan yaitu 0,05 M, dan VHCl adalah volume HCl yang digunakan dalam percobaan yaitu sebesar 10 ml. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa besarnya konsentrasi HCl yang digunakan adalah sebesar 0,0665 M

TUGAS PASCA PRAKTIKUM
Dapatkah suatu indikator tertentu (Mis : Brom timol biru) digunakan untuk menentukan pH semua jenis larutan? Jelaskan aasannya
Hitung konsentrasi larutan HCL dan larutan NaOH dalam satuan :
Normalitas (N)
Molartitas (M)
Gram/liter
Jawaban :
Indikator Brom timol biru dapat digunakan untuk menentukan pH semua jenis larutan. Brom timol biru adalah asam dipotrik lemah dan mengalami perubahan warna dalam dua selang pH salah satu selang pH ialah dari 1,2 ke 2,8 dan perubahan warna dari merah menjadi kuning, selang lain ialah dari pH 8,0 ke 9,6 dengan perubahan warna kuning menjadi biru.
Dik : [ NaOH ] = 0,05 M, V = 15,3 mL , Mr = 40
[ HCl ] = 0,1 M , V = 10 mL , Mr = 36,5
Dit : a. Normalitas ( N ) ..........?
b. Molaritas (M)...............?
c. Gr / L...........?
peny :
a) N. NaOH = m.ekivalen
= 0,05 N
N.HCl = m ekivalen
= 0,1 N
c) Gr/L NaOH = 2000 Gr/L
Gr/L HCl = 3650 Gr/L

KESIMPULAN
Titrasi merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran.
Jika asam ditetesi basa, maka pH larutan naik, sebaliknya jika larutan basa ditetesi asam maka pH larutan akan turun.
Larutan standar adalah larutan yang disiapkan dengan cara menimbang secara akurat suatu zat yang memiliki kemurnian tinggi dan melarutkannya dengan sejumlah tertentu pelarut dalam labu ukur. Larutan standar yang dipersiapkan dengan cara seperti ini disebut sebagai larutan standart primer, sedangkan larutan standar yang kemolarannya ditetapkan dengan larutan standar primer disebut sebagai larutan standar sekunder. Sebelum digunakan dalam percobaan, buret harus dibilas dengan larutan yang akan dimasukkan agar tidak terdapat cairan/ zat-zat lain yang masih tersisa di dalam buret, sehingga buret bersifat netral.
Titik ekivalen merupakan keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa.
Titik akhir titrasi adalah titik dalam titrasi yang ditandai dengan perubahan warna indikator.
Perubahan pH dalam titrasi asam basa disebut kurva titrasi.

KEMUNGKINAN KESALAHAN
Kemungkinan kesalahan yang terjadi :
Kurang telitinya dalam melakukan proses titrasi.
Kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indikator.

DAFTAR PUSTAKA
Belajarkimia. 2008. Titrasi Asam Basa. (On-Line) http://belajarkima.com/2008/4/titrasi-asam-basa diakses pada tanggal 27 Mei 2012
Day, R. A. 1990. Analisis Kimia Kuantitatif edisi keempat. Jakarta : Erlangga
Team Teaching. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Dasar II. Gorontalo: UNG

 

LAPORAN LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

12 August 2016 10:28:27 Dibaca : 115

MODUL II

A. Judul :
Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

B. Tujuan :
- Mengelompokan beberapa macam larutan kedalam larutan elektrolit dan elektrolit.

C. Dasar Teori
Berdasarkan daya hantar listrik, larutan dapat digolongkan kedalam larutan elektrolit kuat, elektrolit lemah dan larutan non elektrolit. Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan kuat, ditandai oleh lampu listrik yang menyalah dengan terang dan memiliki gelembung yang banyak. Hal ini akibat dari zat terlarut terurai sempurna menjadi ion-ionnya. Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang menghantarkan arus listrik tetapi agak lemah, ditandai dengan nyala lampu listrik yang redup. Hal ini dari zat yang dilarutkan hanya terurai sebagian didalam pelarut. Sedangkan dalm larutan non elektrolit tidak dapat menghanantarkan arus listrik, sebagai akibat zat terlarut tidak terurai menjadi ion-ionnya, melainkan hanya menjadi molekul-molekulnya.
Telah disebutkan bahwa dalam kelompok elektrolit termasuk zat-zat yang disebut asam, basa dan garam.
1. Asam
Asam adalah elektrolit larutan yang dalam larutannya rasanya masam. Ada suatu cara untuk mengenal asam yaitu denghan menggunakan kertas lakmus. Jika kertas lakmus biru dikenakan pada zat asam, maka warnanya akan berubah warna menjadi merah. Cirri khas asam adalah larutan zat itu mengion menjadi ion hydrogen yang bermuatan positif (H+) dan ion lain bermuatan negative. Ion H+ inilah yang sebenarnya membawah sifat asam dan menyebabkan warna lakmus biru menjadi merah. Jadi, asam adalah senyawa hydrogen yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion H+. asam yang dalam larutan banyak menghasilkan H+ disebut asam kuat, sedangka asam yang sedikit ion H+ disebut asam lemah.
2. Basa
Basa adalah senyawa yang dalam larutan rasanya agak pahit dan kalau kena larut terjadi sesuatu seperti lendir. Cirri khas dari basa adalah dalam rumus kimianya terdapat gugus hidroksil (-OH) yang dalam larutannya dapat dilepaskan sebagai ion hidroksida yang bermuatan negative (OH). Ion hidroksida inilah yang sebenarnya pembawa sifat basa.
3. Garam
Jika larutan asam dan basa dicampur dalam perbandingan yang tepat sifat asam dan sifat basa, dua macam larutan itu dapat saling meniadakan. Reaksi yang terjadi pad pencampuran larutan HCl dan larutan NaOH adalah jika larutan itu airnya diuapkan sampai kering maka sisanya ialah suatu zat padat yang disebut Natrium Klorida (NaCl). Natrium Klorida ialah suatu garam.

D. Alat dan Bahan
• Alat
1. Alat uji elektrolit

Alat uji elektrolit berfungsi untuk menguji apakah larutan tersebut terdapat elektrolit.
2. Gelas Kimia 200 mL 2 buah

Gelas kimia berfungsi sebagai wadah untuk melarutkan larutan dalam air.
3. Botol semprot 1 buah
• Bahan
1. Garam Dapur
a. Sifat fisik : mudah hancur, larut dalam air dan tidak bisa melewati selaput semipermeabel
b. Sifat kimia : pH-nya netral dan merupakan elektron kuat karena terionisasi pada air.
2. Air Gula
a. Sifat fisik : berbentuk butiran kasar dan berbentuk Kristal putih.
b. Sifat kimia : bersifat manis
3. Air Ledeng
a. Sifat fisik : tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau
b. Sifat kimia : tidak mengandung logam berat, mempunyai pH = 7
4. Air Mineral
a. Sifat Fisik : zat cair bening, tidak berbau, tidak berwarna, titik didih 100ï‚°C, titik beku 0ï‚°C, indeks bias = 1,332.
b. Sifat Kimia : bersifat polar, pelarut yang baik untuk berbagai macam zat.
5. Air Teh
a. Sifat fisik : berbentuk daun-daun kecil
b. Sifat kimia : tidak dapat te rlarut dalam air
6. Cuka
a. Sifat Fisik : cairan kental jernih, berbau menyengat, Densitas = 1,049 , titik leleh 16,7ï‚°C , titik didih 118,5ï‚°C
b. Sifat Kimia : asam lemah, dihasilkan melalui fermentasi alkohol oleh bakteri acetobakter

E. Prosedur Kerja
 Larutan Garam

 Air Gula

 Air Ledeng

 Air Mineral

 Air Teh

 Cuka

F. Hasil Pengamatan

No
Bahan
Perlakuan
Hasil Uji
1 Larutan Garam • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik

• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warnanya menjadi biru muda dan mengkeruh
• Warnanya menjadi kuning dan terdapat gelembung
• Warnanya menjadi orange dan terdapat banyak gelembung pada elektroda negatif
• Nyala lampunya terang dan mempunyai gelembung yang sangat banyak dan termasuk dalam elektrolit kuat
2 Cuka • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik

• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warna larutannya bening

• Warna larutannya tetap bening

• Terdapat sedikit gelembung pada elektroda negatif, dan tidak ada nyala lampu
• Lampu tidak menyala dan mempunyai sedikit gelembung serta termasuk pada elektrolit lemah
3 Air ledeng • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik

• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warna larutannya bening

• Warnanya tetap bening

• Sedikit gelembung pada ekektroda negatif dan lebih sedikit dari gelembung cuka
• Tidak ada nyala lampu dan gelembungnya lebih sedikit dari cuka, termasuk elektrolit lemah
4 Air mineral • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik
• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warnanya bening

• Warnanya tetap bening

• Sedikit gelembung dibandingkan dari cuka dan air ledeng
• Tidak ada nyala lampu dan sedikit gelembung dibandingkan dari cuka dan air ledeng serta termasuk pada elektrolit lemah
5 Air Gula • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik

• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warna larutannya agak kekuning-kuningan
• Warnanya tetap kekuning-kuningan
• Sedikit gelembung pada elektrolit negatif dibandingkan dengan cuka, air ledeng, dan air mineral
• Tidak ada nyala lampu dan sedikit gelembung dibandingkan dengan cuka, air ledeng dan air mineral serta termasuk pada elektrolit lemah
6 Air teh • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik

• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warna larutannya merah kecoklatan
• Warna larutannya tetap merah kecoklatan
• Sedikit gelembung pada elektroda negatif dibandingkan dengan cuka, air ledeng, air mineral dan air gula
• Tidak ada nyala lampu dan sedikit gelembung dibandingkan dengan cuka, air ledeng, air mineral, dan air gula serta termasuk pada elektrolit lemah

G. Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan yaitu dengan masing-masing larutan uji dengan alat uji elektrolit dan mengamati ada/ tidaknya nyala lampu dan gelembung-gelembung, maka beberapa larutan uji tersebut digolongkan kedalam dua golongan yaitu, larutan elektrolit kuat, larutan elektrolit lemah.
Dalam percobaan ini kita menggunakan enam sampel/ bahan yaitu, larutan garam, air gula, air ledeng, air mineral, air teh dan cuka. Keenam sampel ini akan diuji berdasarkan sifat larutannya, apakah bisa menghantarkan listrik atau justru sebaliknya.
 Larutan elektrolit kuat
Elektrolit kuat yaitu zat-zat yang seluruhnya dapat terurai dalam air menjadi ion-ion (terionisasi sempurna). Jadi, larutan elektrolir kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Dalam pengujian elektrolit ini, yang terbukti bersifat elektrolit kuat yaitu sampel larutan garam yang dilakukan pada percobaan pertama. Reaksi ionisasi elektrolit kuat merupakan reaksi berkesudahan. Dalam larutan tidak ada lagi molekul elektrolit yang netral. Semuanya telah diubah menjadi ion-ion.
NaCl  Na+ + Cl-
Dari beberapa macam sampel yang akan diuji pada percobaan ini, hanya larutan garam pekat yang merupakan larutan elektrolit kuat yang ditandai dengan nyala lampu terang dan mempunyai gelembung pada katoda. Hal ini disebabkan karena zat terlarut NaCl memang merupakan senyawa ion. NaCl yang dilarutkan dalam air akan membentuk ikatan antara ion positif dan ion negatif terputus dan ion-ion akan tersebar dan bergerak bebas didalam larutan :
Na+ + Cl-(s)+ air  Na+(aq)+ Cl-(aq)
 Larutan elektrolit lemah
Elektrolit lemah yaitu zat-zat yang seluruhnya tidak dapat terurai dalam air dan menjadi ion-ion. Jadi larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik tetapi agak lemah karena zat-zat yang terlarut hanya terurai sebagian menjadi ion-ion.
Pada percobaan kedua air cuka, didapatkan bahwa dari hasil percobaan air cuka yang dicelupkan elektroda ke dalamnya dan dihubungkan dengan sumber arus searah, ternyata bola lampu tidak menyala. Hal ini karena zat (cuka) tidak mempunyai kecenderungan untuk mengalami perionan, apabila dilarutkan dalam air. Molekul-molekul cuka hanya bercampur dengan molekul-molekul air dan menghasilkan larutan yang tidak mengandung ion sehingga bola lampu tidak menyala karena cuka tidak bereaksi dengan air. Maka larutan air cuka merupakan golongan larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik dan hanya mempunyai gelembung yang sedikit pada elektroda negatif serta air cuka termasuk pada larutan elektrolit lemah.
Pada percobaan selanjutnya atau percobaan yang ketiga, yaitu air ledeng yang dihubungkan dengan sumber arus searah dimana harus dicelupkan terlebih dahulu elektroda ke dalam larutan-larutan tersebut dan didapatkan bahwa bola lampu tidak menyala. Ini berarti air ledeng merupakan larutan elektrolit lemah karena tidak dapat menghantarkan arus listrik dengan sempurna yang ditandai dengan bola lampu yang tidak menyala pada saat elektroda dicelupkan dan dihubungkan dengan sumber arus searah (baterai) dan hanya menghasilkan sedikit gelembung pada elektroda negatif dan pada elektroda positif tidak ada gelembung dibandingkan dengan cuka.
Pada percobaan selanjutnya yakni percobaan air mineral, dimana kedua elektroda dicelupkan ke dalam larutan (air mineral) dan dihubungkan dengan sumber arus searah (baterai) bola lampu tidak menyala dan hanya sedikit gelembung gas yang nampak dibandingkan dengan cuka dan air ledeng, hal ini disebabkan karena air merupakan penghantar listrik yang sangat jelek, sehingga air mineral tidak dapat menghantarkan aliran listrik (hanya terdiri dari molekul-molekul air dan tidak terdapat atau tidak menghasilkan ion-ion) dengan demikian air mineral dimasukkan dalam kategori larutan elektrolit lemah.
Selanjutnya percobaan pada air gula, didapatkan hasil yang sama, dimana ketika dua buah elektroda dicelupkan ke dalam larutan air gula dan dihubungkan dengan sumber arus searah (baterai) ternyata bola lampunya juga tidak menyala dan sedikit gelembung pada elektroda negatif dibandingkan dengan cuka, air ledeng, dan air mineral. Hal ini dikarenakan molekul-molekul gula hanya bercampur dengan molekul-molekul air dan menghasilkan larutan yang tidak mengandung ion sehingga bola lampu tidak menyala karena gula tidak bereaksi dengan air dengan demikian air gula dikategorikan dalam larutan elektrolit lemah.
Selanjutnya pada percobaan yang terkahir yakni air teh, didapatkan bahwa dari hasil percobaan air teh yang dicelupkan dengan elektroda ke dalamnya dan dihubungkan dengan sumber arus searah, ternyata bola lampu tidak menyala dan terdapat sedikit gelembung pada elektroda negatif dibandingkan cuka, air ledeng, air mineral, air gula. Hal ini dikarenakan, larutan ini tidak mempunyai kecenderungan untuk mengalami pengionan, apabila dilarutkan dalam air. Molekul-molekul teh hanyalah bercampur dengan molekul-molekul air yang menghasilkan larutan, akan tetapi larutan tersebut tidak mengandung ion apapun karena zat terlarutnya (teh) tidak bereaksi dengan air. Karena itu larutan air teh tidak menghasilkan atau tidak menghantarkan arus listrik karenanya larutan air teh ini termasuk dalam larutan non elektrolit.
Dari percobaan-percobaan berbagai larutan, selain mengamati nyala lampu juga mengamati gelembung-gelembung gas yang terjadi, gelembung-gelembung gas ini merupakan gelembung gas O2 (oksigen) yang dilepaskan. Apabila gelembung-gelembung gas yang dihasilkan disekitar elektroda sangat banyak berarti larutan yang sedang diuji merupakan larutan elektrolit kuat yang dapat menyalakan bola lampu, seperti yang terjadi pada larutan NaCL dalam air. Akan tetapi, untuk jenis larutan lain seperti cuka, air ledeng dan sebagainya, gelembung gas yang dihasilkannya hanya sedikit yang terdapat pada elektroda negatif. Sehingga yang berarti terjadi reaksi akan tetapi reaksi tersebut tidak dapat menyalakan lampu dikarenakan dalam larutan tersebut hanya ada molekul-molekul air, dan molekul-molekul zat terlarut yang tidak terurai menjadi ion-ion atau tidak mengalami proses ionisasi atau pengionan.
H. Tugas Pasca Praktikum
1. Sebutkan masing-masing 3 contoh elektrolit yang berikatan secara kovalen dan ion!
Jawaban :
1. 3 contoh elektrolit yang berikatan secara kovalen yaitu : dimana senyawa kovalen terbagi menjadi senyawa kovalen non polar misalnya : Cl2, Br2, CH4 dan kovalen polar misalnya : HCl, HBr, NH3, sedangkan 3 contoh elektrolit yang berikatan secara ion yaitu : NaCl, KCl dan NaOH.

I. Kesimpulan
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa :
- Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan listrik. Dalam percobaan ini untuk menguji elektrolit dan non elektrolit menggunakan sampel larutan garam, air gula, air ledeng, air mineral, air teh dan cuka.
- Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan kuat. Contohnya larutan garam.
- Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik tetapi agak lemah. Contohnya cuka, air ledeng, air mineral, air gula, dan air teh.

J. Kemungkinan Kesalahan
- Kurang telitinya praktikan dalam membandingkan reaksi yang terjadi pada setiap sampel.
- Kurang telitinya praktikan dalam mengamati apa yang terjadi.

K. Daftar Pustaka
Achmad, Hiska. 1996. Kimia Larutan. Bandung : Citra Aditya Bakti
Anshory, Irfan. 1999. Penuntun Pelajaran Kimia. Bandung : ganeca Exact
Pietersz, A.T. 2000. Ilmu Kimia 2. Jakarta : Depdikbud

 

LAPORAN PENURUNAN TITIK BEKU LARUTAN

12 August 2016 09:55:23 Dibaca : 226

MODUL I
JUDUL
“Penurunan Titik Beku Larutan”
TUJUAN
Menentukan konsentrasi suatu larutan berdasarkan titik beku dari percobaan.
Memahami pengaruh konsentrasi terhadap penurunan titik beku larutan
DASAR TEORI
Titik beku larutan ialah temperatur pada saat larutan setimbang dengan pelarut padatnya. Larutan akan membeku pada temperatur lebih rendah dari pelarutnya. Rumus-rumus penemtuan titik beku hanya berlaku apabila pada pembekuan yang memisah pelarut padat.
∆Tf=Kf.(1-k)m
Bila zat padatnya murni, berarti k = 0 sehingga
∆Tf=Kf.m
Bila zat padatnya tak murni, ada dua kemungkinan
Kalau zat padatnya lebih mudah larut dalam pelarut cair, k < 1, jadi 1 - k positif disini terjadi penurunan titik beku.
Kalau zat padatnya lebih mudah larut dalam pelarut padat, k > 1, jadi 1 – k negatif disini terjadi kenaikan titik beku.
(Sukardjo. 2004. Kimia Fisika. Jakarta : Rineka Cipta)
Solut yang tak menguap akan merendahkan tekanan uap larutan. Fenomena ini juga mempengaruhi sifat fisika lain dari larutan, terutama titik beku dan titik didihnya. Titik didih normal adalah suhu di mana tekanan uap dari cairan sama dengan 1 atm. Sedanngkan titik beku normal adalah suhu di mana garis kesetimbangan padat-cair akan berpotongan garis tekanan 1 atm
(Hiskia, Ahmad. 2005. Kimia Larutan. Jakarta : Bumi Aksara.)
Bila suatu zat terlarut yang tidak menguap dilarutkan dalam suatu pelarut, titik beku pelarut berkurang. Berkurangnya ∆Tf ditentukan sebagai :
∆Tf = (RTf2 ln⁡X2)/(∆H peleburan)
Jika ∆Tf tidak besar sekali dan larutan tersebut ideal.
∆H peleburan adalah panas peleburan molar dari pelarut, X2 adalah fraksi mol zat terlarut dan Tf adalah titik beku sebenarnya. Untuk larutan sangat encer dan yang bersifat ideal. Persamaan di atas menjadi lebih sederhana, yaitu :
∆Tf = Kf .m
Keterangan :
∆Tf = penurunan titik beku
Kf = tetapan penurunan titik beku molal atau tetapan krioskopik
m = kemolalan
Di mana Kf adalah konstanta penurunan titik beku dan dinyatakan sebagai :
Kf = (MRT^2)/(∆H lebur 1000)
Di mana M adalah bobot molekul pelarut, dan m adalah molalitas zat terlarut. Dengan bantuan penurunan titik beku, kuantitas seperti bobot molekul zat terlarut, aktivitas dan koefisien Aktivitas, konstanta disosiasi dari elektrolit lemah dan faktor vant hoff dapat ditentukan.
(Dogra, S.K. 2008. Kimia Fisik dan Soal-soal. Jakarta : UI Press).

Jadi dapat disimpulkan bahwa :
Pada tekanan tetap, kenaikan titik didih dan penurunan titik beku suatu larutan encer berbanding lurus dengan konsentrasi massa.
Larutan encer semua zat terlarut yang tidak mengion, dalam pelarut yang sama, dengan konsentrasi molal yang sama, mempunyai titik didih atau titik beku yang sama, pada tekanan yang sama.
Kf dapat diperoleh dari:
Penurunan data termodinamika
Eksperimen
Dari data termodinamika
K = (RT^2)/1000L
Dengan R adalah tetapan Gas, T adalah titik beku atau titik didih pelarut dalam skala Kelvin, dan L adalah kalor perubahan atau kalor penguapan per gram pelarut(Hiskia, Ahmad. 2005. Kimia Larutan. Jakarta : Bumi Aksara)

ALAT DAN BAHAN
Alat
No Alat Gambar Kategori Fungsi
1 Tabung reaksi 1 Untuk mereaksikan zat-zat kimia dalam bentuk larutan
2 Sendok makan 1 Untuk mengambil zat kimia dalam bentuk padatan
3 Gelas kimia
Plastik erlenmeyer 1 Sebagai wadah suatu larutan
4 Batang pengaduk 1 Untuk mengaduk bahan campuran
5 Piet tetes 1 Untuk mengambil larutan dalam jumlah seddikit
6 Gelas ukur 1 Untuk mengukur volume larutan
7 Termometer 1 Untuk mengukur suhu

Bahan
No Bahan Kategori Sifat fisik Sifat kimia
1 Aquadest Umum Tidak berwarna, tidak berbau, dan merupakan pelarut yang baik. Ph netral
2 Larutan NaCl Umum Larut dalam air, rasa asin, warna putih keruh dan bentuk larutan Ph netral, merupakan elektrolit kuat karena terionisasi sempurna
3 Garm dapur Umum Mudah larut, rasa asin, larut dalam air Ph netral, elektrolit kuat
4 Larutan urea Umum Titik lebur 1330 – 1360 , panas pembakaran 91,02 105 j/kg Dapat bereaksi dengan formalhidrat
5 Es batu Umum Berupa bongkahan dan mudah cair Tidak berbahaya

PROSEDUR KERJA


HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Hasil pengamatan
No Perlakuan Hasil pengamatan
1

2
3

4

5

6

7 Memasukkan butiran-butiran es batu kedalam labu erlenmeyer
Menambahkan 4 sendok makan garam dapur
Menambahkan larutan NaCl (B) sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi
Memasukkan tabung reaksi kedalam campuran pendingin
Mengaduk campuran pendingin sampai larutan dalam tabung reaksi mulai membeku
Mengeluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin
Mengukur suhu larutan NaCl B dalam tabung reaksi dengan menggunakan termometer

Campuran es mencair

Tf = -60C
1

2

3

4

5
Menambahkan larutan urea (B) sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi
Memasukkan tabung reaksi kedalam campuran pendingin
Mengaduk campuran pendingin sampai larutan dalam tabung reaksi mulai membeku
Mengeluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin
Mengukur suhu larutan urea B dalam tabung reaksi dengan menggunakan termometer

Tf = -40C
1

2

3

4

5 Menambahkan larutan NaCl (A) sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi
Memasukkan tabung reaksi kedalam campuran pendingin
Mengaduk campuran pendingin sampai larutan dalam tabung reaksi mulai membeku
Mengeluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin
Mengukur suhu larutan NaCl A dalam tabung reaksi dengan menggunakan termometer

Tf = -20C
1

2

3

4

5

Menambahkan larutan urea (A) sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi
Memasukkan tabung reaksi kedalam campuran pendingin
Mengaduk campuran pendingin sampai larutan dalam tabung reaksi mulai membeku
Mengeluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin
Mengukur suhu larutan urea A dalam tabung reaksi dengan menggunakan termometer

Tf = -10C
1

2

3

4

5 Menambahkan larutan aquadest sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi
Memasukkan tabung reaksi kedalam campuran pendingin
Mengaduk campuran pendingin sampai larutan dalam tabung reaksi mulai membeku
Mengeluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin
Mengukur suhu larutan aquadest dalam tabung reaksi dengan menggunakan termometer

Tf = 00C

Tf H2O = 00C
No Sampel Tf ∆Tf
NaCl Urea NaCl Urea
1 A -20C -10C 20C 10C
2 B -60C -40C 60C 40C

∆Tf NaCl A = Tf H2O – Tf NaCl A
= 00C – (-20C)
= 20C
∆Tf NaCl B = Tf H2O – Tf NaCl B
= 00C – (-60C)
= 60C
∆Tf urea A = Tf H2O – Tf urea A
= 00C – (-10C)
= 10C
∆Tf urea A = Tf H2O – Tf urea A
= 00C – (-40C)
= 40C
Perhitungan
Tf NaCl A = -20C – (-10C)
= 10C
Tf NaCl B = -60C – (-40C)
= 20C

Tf urea A = 20C - 10C
= 10C
Tf urea B = 60C - 40C
= 100C
∆Tf :
NaCl A
M = (∆Tf )/(kf.i)
M = (2^0 C)/(1,86 .i)
M = (2^0 C)/(1,86 )
M = 1,075
NaCl B
M = (∆Tf )/kf
M = (6^0 C)/1,86
M = 3,2
Urea A
M = (∆Tf )/kf
M = (1^0 C)/1,86
M = 0,54
Urea B
M = (∆Tf )/kf
M = (4^0 C)/(1,86 )
M = 2,2
MNaCl A = α . 1,075
= 1 . 1,075
= 1,1
MNaCl B = β . 3,2
=

Grafik

NaCl

Urea

Hubungan
Ion-ion dalam larutan elektrolit dapat dihasilkan dengan cara
Zat terlarut yang senyawa ion yang misalnya NaCl, kristal NaCl terdiri atas ion Na+ dan Ce-. Jika kristal dilarutkan dalam air maka ikatan antara ion positif dan ion negatif terputus dan on-ion itu akan tersebar dan bergerak bebas didalam larutan
Non elektrolit
Larutan ini tidak dapat menghantarkan listrik dengan baik karena larutan ini tidak terionisassio sempurna. Hal ini sebagai akibat zat terlarut tidak terurai menjadi ion-ion melainkan membentuk molekul-molekul hal ini menentukan bahwa urea merupakan larutan yang tidak terurai merata dan hanya membentuk molekul.

PEMBAHASAN
Keadaan dimana suhu pada p tertentu terjadi perubahabn wujud dari cair ke bentuk padat inilah yang disebut dengan titik beku. Penurunan titik beku larutan tergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam larutan. Oleh karena itu penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.
Pada percobaan pertama menentukan penurunan titik beku pelarut dalm NaCl. Pada saat butiran es batu dicampur dengan 4 sendok garam dapur maka es mulai mencair hal ini dikarenakan garam mempunyai sifat menurunkan titik leleh dari es batu. Kemudian pada larutan campuran ini dimasukkan tabung reaksi yang berisi sejumlah larutan yang berbeda jenis dan konsentrasi. Hal ini untuk membedakan penurunan titik bekunya. Yang pertama larutan NaCl dengan 2 konsentrasi bebeda dan menghasilkan pada larutan NaCl A -20C dan titik beku NaCl B adalah -60 C. Titik beku ini bebeda karena adanya perbedaan kobsentrasi dari kedua larutan ini, hal ini juga terjadi pada dua larutan urea yang memiliki konsentrasi yang berbeda titik beku untuk urea A adalah -20C urea B -40C. Dan untuk aquadest adalah nol derajat karena titik beku air menurut teori adalah nol drajat celcius. Untuk peredaan titik dari ketiga larutan dipengaruhi oleh jenis zat yang tergolong zat elektrolit dan yang non elektrolit.
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa penuruna titik beku dipengaruhi oleh konsentrasi larutan dan sifat dari larutan tersebut

Daftar Pustaka
Belajarkimia. 2012. Penyebab titik beku larutan. (On-Line) dapat di akses di http://belajarkimia.com/penyebab-titik-beku-larutan
Dogra, S.K. 2008. Kimia Fisik dan Soal-soal. Jakarta : UI Press
Hiskia, Ahmad. 2005. Kimia Larutan. Jakarta : Bumi Aksara.
Kimia.com. 2012. Penurunan titik beku larutan (On-Line) dapat diakses di http: //Kimia.com/penurunan-titik-beku-larutan
Sukardjo. 2004. Kimia Fisika. Jakarta : Rineka Cipta


Tugas pasca praktikum
Bagaimana titik beku masing-masing larutan, dibandingkan titik beku pelarut
Bagaimana pengaruh molalitas urea dan NaCl terhadap :
Titik beku larutan
Penurunan titik beku larutan
Pada molalitas yang sama, bagaimana pengaruh NaCl (zat elektrolit) dibandingkan dengan urea(zat non elektrolit) terhadap penurunan titik beku larutan
Bagaimana hubungan penurunan ttitik beku larutan dengan konsentrasi

ELEKTROMAGNETIC

12 August 2016 09:45:34 Dibaca : 143

BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang

Di bumi ini tentunya kita tidak asing dengan benda yang bernama magnet. Benda yang memiliki medan magnet dan dua kutub ini dapat menarik benda-benda yang mengandung unsur logam. Kita dapat menemukan magnet dimana saja, misalnya di toko mainan, toko bangunan, bahkan di bumi yang kita pijak ini terdapat sumber medan magnet yang sangat banyak. Pada magnet terdapat dua kutub, yaitu kutub utara yang selalu mengarah ke utara dan kutub selatan yang selalu mengarah ke selatan. Dan tak jarang kita juga bisa menemukan magnet di dalam alat-alat elektronik. Biasanya kita melihat magnet dalam berbagai bentuk, contohnya magnet U (sepatu kuda), magnet batang, magnet lingkaran, magnet jarum (kompas), dll. Namun sebenarnya magnet yang ada sekarang ini, hampir semuanya adalah magnet buatan.
Magnet sebenarnya tidak hanya berupa magnet batang, jarum, lingkaran, dll yang biasa kita lihat pada umumnya. Tetapi magnet juga bisa dibuat dengan cara sederhana dan tidak membutuhkan bahan-naha tertentu yang rumit seperti pada pembuatan magnet buatan. Kita hanya membutuhkan bahan-bahan sederhana yang ada di sekitar kita, dan cara pembuatannya pun tak serumit magnet buatan pabrik.
Selain itu magnet juga sangat berguna bagi manusia. Misalnya saat kita tersesat di hutan kita dapat menggunakan kompas sebagai penunjuk jalan, dalam hal ini magnet juga ikut berperan penting. Magnet kulkas digunakan untuk menyimpan catatan di pintu kulkas. Tidak hanya itu, magnet juga sangat berguna dalam dunia kesehatan. Sejak dulu magnet sudah digunakan dalam dunia pengobatan, terutama dalam pengobatan alami (Naturopathy). Selain karena murah, hanya dengan satu set magnetic terbukti sangat bermanfaat bagi seluruh anggota keluarga (tidak hanya untuk pengobatan, tapi juga untuk hidup sehat alami).

Perumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam makalah ini yaitu :
a. Bagaimana pengertian magnet?
b. Bagaimana hubungan hukum amper dan coulomb?
c. Bagaimana penerapan torsi pada loop arus dan momen magnet?
d. Bagaimana aplikasi galvanometer, motor, dan pengeras suara?

3. Tujuan
a. untuk mengetahui pengertian magnet
b. untuk mengetahui hubungan hukum amper dan coulomb
c. untuk mengetahui penerapan torsi pada loop arus dan momen magnet
d. untuk mengetahui aplikasi galvonometer, motor, dan pengeras suara

BAB II
Pembahasan
Pengertian Magnet

Magnet atau magnit adalah suatu obyek yang mempunyai suatu medan magnet. Magnet adalah suatu materi yang mempunyai suatu medan magnet. Medan magnet ini tidak terlihat tetapi bertanggung jawab untuk properti yang paling menonjol dari magnet, yaitu kekuatan yang menarik pada bahan feromagnetik, seperti zat besi, dan menarik atau mengusir magnet lainnya. Magnet bisa dalam wujud magnet tetap atau magnet tidak tetap. Magnet yang ada sekarang ini, hampir semuanya adalah magnet buatan. Magnet selalu memiliki dua kutub yaitu: kutub utara (north/ N) dan kutub selatan (south/ S). Walaupun magnet itu dipotong-potong, potongan magnet kecil tersebut akan tetap memiliki dua kutub.
Magnet dapat menarik benda lain. Beberapa benda bahkan tertarik lebih kuat dari yang lain, yaitu bahan logam. Namun tidak semua logam mempunyai daya tarik yang sama terhadap magnet. Besi dan baja adalah dua contoh materi yang mempunyai daya tarik yang tinggi oleh magnet. Sedangkan oksigen cair adalah contoh materi yang mempunyai daya tarik yang rendah oleh magnet. Satuan intensitas magnet menurut system metrik pada satuan internasional (SI) adalah tesla dan SI unit untuk total fluks magnetik adalah weber 1 weber/m^2 = 1 tesla, yang memengaruhi satu meter persegi.
Definisi Ampere dan Coulomb
Jika I1 + I2 = IA tepat, kedua kawat tepat berjarak 1 m, maka :
â–¡(F/I) =((4πX〖10〗^(-7) T.m⁄(A)))/((2π))∙((IA)(IA))/((1 m))= 2 x 〖10〗^(-7) N/m
Dengan demikian satu ampere didefinisikan sebagai arus yang mengalir pada setiap konduktor dari dua kawat panjang parallel yang berjarak 1 m satu sama lain, yang menghasilkan gaya sebesar tepat 2 x 〖10〗^(-7) N/m sepanjang setiap konduktor. Ini merupakan definisi dari ampere. Sedangkan coulomb didefinisikan sebagai tepat satu ampere – detik:
1 C = 1A . detik.
Hukum Ampere
“ GGL induksi yang timbul antara ujung-ujung loop suatu penghantar berbanding lurus dengan laju perubahan fluks magnetic yang dilingkupi oleh loop penghantar tersebut”
Pertama, kita ambil hasil kali panjang setiap segmen dengan komponen B yang parallel terhadap segmen tersebut. Jika sekarang kita jumlahkan semua suku, menurut Ampere, hasilnya akan sama dengan μ0 dikalikan arus total I yang melewati permukaan yang dilingkupi oleh lintasan tersebut. Secara matematis:
∑â–’BII ∆l =μ0I.
Symbol ∑ berarti jumlah dari dan BII berarti komponen B yang parallel terhadap ∆l tersebut dan I merupakan arus total yang melewati permukaan yang dibatasi oleh lintasan tertutup.
Banyak eksperimen yang mengindikasikan bahwa hukum Ampere berlaku umum. Bagaimanapun juga, hukum ini dapat digunakan untuk menghitung medan magnet khususnya kasus-kasus sederhana. Kegunannya adalah bahwa hukum ini menghubungkan medan magnet dengan arus secara langsung dan elegan secara matematis. Hukum Ampere dengan demikian dianggap sebagai satu dari hukum-hukum dasarlistrik dan magnet. Hukum ini berlaku untuk situasi apapun dimana arus dan medan tidak berubah terhadap waktu.

Torsi pada Loop Arus ; Momen Magnet
Saat arus listrik mengalir dalam loop kawat tertutup yang diletakkan pada medan magnet, gaya magnet pada arus dapat menghasilkan torsi. Ini merupakan prinsip dasar dibalik sejumlah alat praktis yang penting, termasuk meteran dan motor.
Torsi total merupakan jumlah torsi yang disebabkan oleh masing masing gaya sehingga
τ=laBb/2 + laB b/(2 ) = labB = IAB dimana A = ab adalah luas kumparan. Jika kumparan terdiri dari N loop kawat, berarti arus adalah NI, sehingga torsi menjadi
τ = NIAB

Aplikasi Galvanometer, Motor, Pengeras Suara
Komponen dasar kebanyakan alat ukur, termasuk ammeter,voltmeter,dan ohmmeter, adalah Galvanometer.
Galvanometer terdiri dari satu kumparan kawat (dengan jarum penunjuk yang terpasang) yang digantung pada medan magnet permanen. Bila arus mengalir melaui loop kawat, yang biasanya berbentuk persegi panjang, medan magnet memberikan torsi pada loop seperti persamaan τ=NIAB sin θ.
Sebuah motor listrik mengubah energy listrik menjadi energy mekanik. Motor bekerja dengan prinsip yang sama dengan galvanometer, kecuali tidak adanya pegas, sehingga kumparan dapat berotasi kontinu dalam satu arah.
Pengeras suara juga bekerja dengan prinsip bahwa magnet memberikan gaya pada kawat pembawa arus. Ketika arus bolak balik sinyal audio mengalir melalui kumparan kawat, kumparan dan corong speaker mengalami gaya yang disebabkan oleh medan magnet dari magnet.
Efek hall
Ketika konduktor pembawa arus tertahan pada medan magnet, medan memberikan gaya menyamping pada muatan-muatan yang mengalir pada konduktor. Sebagai contoh jika elektron-elektron bergerak kekanan konduktor persegi panjang , medan magnet dalam akan memberikan gaya kebawah pada elektron-elektron F = evd B, dimana vd adalah kecepatan alir elektron. Jadi elektron-elektron akan cenderung bergerak lebih dekat kepermukaan S daripada R.
Beda potensial naik terus sehingga medan listrik EII yang dihasilkannya memberikan gaya cEH, pada muatan muatan yang bergerak yang sama dan berlawanan dengan gaya magnet, efek ini disebut efek hall. Efek hall dapat digunakan untuk mengukur kecepatan alir pembawa muatan.
Spectrometer massa
Salah satu cara yang paling akurat untuk mengukur massa atom adalah spectrometer massa. Spectrometer massa dapat digunakan juga untuk memisahkan tidak hanya elemen dan isotop yang berbeda, tetapi juga molekul yang berbeda.
Feromagnetisme domain
Sebuah magnet batang dengan kedua kutubnya yang berlawanan, menyamai dipol listrik(muatan positif dan negative yang besarnya sama dan dipisahkan oleh jarak tertentu).
Penelitian mikroskopis menunjukan bahwa magnet sebenarnya terbuat dari daerah daerah kecil yang disebut domain,yang paling besar memiliki panjang atau lebar 1 mm.
Electromagnet dan Selonoida
Sebuah kumparan kawat panjang yang terdiri dari banyak loop, dinamakan Selonoida.
Electromagnetisme digunakan pada banyak aplikasi praktis dari motor dan generator sampai smenghasilkan medan magnet besar untuk riset. Satu penggunaan yang sederhana dari solenoida adalah bel pintu. Ketika rangkaian ditutup dengan menekan tombol, kumoaran secara efektif menjadi magnet dan memberikan gaya pada batang besi. Batang tersebut ditarik kedalam kumparan dan mengenai bel. Solenoida yang lebih besar digunakan pada starter mobil.
Medan magnet pada bahan magnet histeresis
Medan B0 didalam selonoida dinyatakan dengan :
B0 =μ0 nI
Ini berlaku jika hanya ada udara didalam kumparan. Jika kita masukan sebatang besi atau bahan feromagnet lainnya kedalam selonoida, medan akan meningkat sangat besar, seeringkali ratusan atau ribuan kali.
Magnet tetap
Magnet tetap (permanen) tidak memerlukan tenaga atau bantuan dari luar untuk menghasilkan daya magnet (berelektromagnetik).
Jenis magnet tetap selama ini yang diketahui terdapat pada:
a. Magnet neodymium, merupakan magnet tetap yang paling kuat. Magnet neodymium (juga dikenal sebagai NdFeB, NIB, atau magnet Neo), merupakan sejenis magnet tanah jarang, terbuat dari campuran logam neodymium,
b. Magnet Samarium-Cobalt: salah satu dari dua jenis magnet bumi yang langka, merupakan magnet permanen yang kuat yang terbuat dari paduan samarium dan kobalt.
c. Ceramic magnetik
d. Plastic Magnets
e. Alnico Magnets
2. Magnet tidak tetap
Magnet tidak tetap (remanen) tergantung pada medan listrik untuk menghasilkan medan magnet. Contoh magnet tidak tetap adalah elektromagnet.
3. Magnet buatan
Magnet buatan meliputi hampir seluruh magnet yang ada sekarang ini.
Bentuk magnet buatan antara lain:
a. Magnet U
b. Magnet batang
c. Magnet lingkaran
d. Magnet jarum (kompas

Medan Magnet
Arus mengalir melalui sepotong kawat membentuk suatu medan magnet (M) disekeliling kawat. Medan tersebut terorientasi menurut aturan tangan kanan. Dalam ilmu Fisika, medan magnet adalah suatu medan yang dibentuk dengan menggerakan muatan listrik (arus listrik) yang menyebabkan munculnya gaya di muatan listrik yang bergerak lainnya. (Putaran mekanika kuantum dari satu partikel membentuk medan magnet dan putaran itu dipengaruhi oleh dirinya sendiri seperti arus listrik. Inilah yang menyebabkan medan magnet dari ferromagnet “permanen”). Sebuah medan magnet adalah medan vector, yaitu berhubungan dengan setiap titik dalam ruang vektor yang dapat berubah menurut waktu. Arah dari medan ini adalah seimbang dengan arah jarum kompas yang diletakkan di dalam medan tersebut.

Sifat-Sifatnya
Hasil kerja Maxwell telah banyak menyatukan listrik statis dengan magnetisme, yang menghasilkan sekumpulan dari empat persamaan mengenai kedua medan tersebut. Namun, di bawah formula Maxwell, masih ada dua medan yang berbeda yang menjelaskan fenomena berbeda. Einstein lah yang berhasil menunjukan, dengan relativitas khusus, bahwa medan listrik dan medan magnet adalah dua aspek dari hal yang sama (tensor tingkat 2), dan seorang pengamat bisa merasakan gaya magnet di mana seorang pengamat bergerak hanya merasakan gaya elektrostatik.
Dengan demikian, menggunakan spesial relativitas, gaya magnet adalah manifestasi dari gaya elektrostatik dari muatan listrik yang bergerak, dan bisa diperkirakan dari pengetahuan tentang gaya elektrostatik dan gerakan muatan tersebut (relatif terhadap seorang pengamat)

BAB III
Penutup
KESIMPULAN
Arus listrik menghasilkan medan magnet. Sebagai contoh garis garis medan magnet yang disebabkan oleh arus pada kawat lurus membentuk lingkaran disekeliling kawat dan medan memberikan gaya pada magnet. Besar medan magnet pada jarak r dari kawat lurus panjang yang membawa arus I di nyatakan dengan
B = μ0/2π I/r
Gaya yang diberikan pada kawat pembawa arus oleh medan magnet merupakan dasar untuk operasi banyak peralatan, seperti meteran, motor dan pengeras suara.

MAKALAH MAGNET

12 August 2016 09:43:05 Dibaca : 380

BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang

Di bumi ini tentunya kita tidak asing dengan benda yang bernama magnet. Benda yang memiliki medan magnet dan dua kutub ini dapat menarik benda-benda yang mengandung unsur logam. Kita dapat menemukan magnet dimana saja, misalnya di toko mainan, toko bangunan, bahkan di bumi yang kita pijak ini terdapat sumber medan magnet yang sangat banyak. Pada magnet terdapat dua kutub, yaitu kutub utara yang selalu mengarah ke utara dan kutub selatan yang selalu mengarah ke selatan. Dan tak jarang kita juga bisa menemukan magnet di dalam alat-alat elektronik. Biasanya kita melihat magnet dalam berbagai bentuk, contohnya magnet U (sepatu kuda), magnet batang, magnet lingkaran, magnet jarum (kompas), dll. Namun sebenarnya magnet yang ada sekarang ini, hampir semuanya adalah magnet buatan.
Magnet sebenarnya tidak hanya berupa magnet batang, jarum, lingkaran, dll yang biasa kita lihat pada umumnya. Tetapi magnet juga bisa dibuat dengan cara sederhana dan tidak membutuhkan bahan-naha tertentu yang rumit seperti pada pembuatan magnet buatan. Kita hanya membutuhkan bahan-bahan sederhana yang ada di sekitar kita, dan cara pembuatannya pun tak serumit magnet buatan pabrik.
Selain itu magnet juga sangat berguna bagi manusia. Misalnya saat kita tersesat di hutan kita dapat menggunakan kompas sebagai penunjuk jalan, dalam hal ini magnet juga ikut berperan penting. Magnet kulkas digunakan untuk menyimpan catatan di pintu kulkas. Tidak hanya itu, magnet juga sangat berguna dalam dunia kesehatan. Sejak dulu magnet sudah digunakan dalam dunia pengobatan, terutama dalam pengobatan alami (Naturopathy). Selain karena murah, hanya dengan satu set magnetic terbukti sangat bermanfaat bagi seluruh anggota keluarga (tidak hanya untuk pengobatan, tapi juga untuk hidup sehat alami).

Perumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam makalah ini yaitu :
a. Bagaimana pengertian magnet?
b. Bagaimana hubungan hukum amper dan coulomb?
c. Bagaimana penerapan torsi pada loop arus dan momen magnet?
d. Bagaimana aplikasi galvanometer, motor, dan pengeras suara?

3. Tujuan
a. untuk mengetahui pengertian magnet
b. untuk mengetahui hubungan hukum amper dan coulomb
c. untuk mengetahui penerapan torsi pada loop arus dan momen magnet
d. untuk mengetahui aplikasi galvonometer, motor, dan pengeras suara

BAB II
Pembahasan
Pengertian Magnet

Magnet atau magnit adalah suatu obyek yang mempunyai suatu medan magnet. Magnet adalah suatu materi yang mempunyai suatu medan magnet. Medan magnet ini tidak terlihat tetapi bertanggung jawab untuk properti yang paling menonjol dari magnet, yaitu kekuatan yang menarik pada bahan feromagnetik, seperti zat besi, dan menarik atau mengusir magnet lainnya. Magnet bisa dalam wujud magnet tetap atau magnet tidak tetap. Magnet yang ada sekarang ini, hampir semuanya adalah magnet buatan. Magnet selalu memiliki dua kutub yaitu: kutub utara (north/ N) dan kutub selatan (south/ S). Walaupun magnet itu dipotong-potong, potongan magnet kecil tersebut akan tetap memiliki dua kutub.
Magnet dapat menarik benda lain. Beberapa benda bahkan tertarik lebih kuat dari yang lain, yaitu bahan logam. Namun tidak semua logam mempunyai daya tarik yang sama terhadap magnet. Besi dan baja adalah dua contoh materi yang mempunyai daya tarik yang tinggi oleh magnet. Sedangkan oksigen cair adalah contoh materi yang mempunyai daya tarik yang rendah oleh magnet. Satuan intensitas magnet menurut system metrik pada satuan internasional (SI) adalah tesla dan SI unit untuk total fluks magnetik adalah weber 1 weber/m^2 = 1 tesla, yang memengaruhi satu meter persegi.
Definisi Ampere dan Coulomb
Jika I1 + I2 = IA tepat, kedua kawat tepat berjarak 1 m, maka :
â–¡(F/I) =((4πX〖10〗^(-7) T.m⁄(A)))/((2π))∙((IA)(IA))/((1 m))= 2 x 〖10〗^(-7) N/m
Dengan demikian satu ampere didefinisikan sebagai arus yang mengalir pada setiap konduktor dari dua kawat panjang parallel yang berjarak 1 m satu sama lain, yang menghasilkan gaya sebesar tepat 2 x 〖10〗^(-7) N/m sepanjang setiap konduktor. Ini merupakan definisi dari ampere. Sedangkan coulomb didefinisikan sebagai tepat satu ampere – detik:
1 C = 1A . detik.
Hukum Ampere
“ GGL induksi yang timbul antara ujung-ujung loop suatu penghantar berbanding lurus dengan laju perubahan fluks magnetic yang dilingkupi oleh loop penghantar tersebut”
Pertama, kita ambil hasil kali panjang setiap segmen dengan komponen B yang parallel terhadap segmen tersebut. Jika sekarang kita jumlahkan semua suku, menurut Ampere, hasilnya akan sama dengan μ0 dikalikan arus total I yang melewati permukaan yang dilingkupi oleh lintasan tersebut. Secara matematis:
∑â–’BII ∆l =μ0I.
Symbol ∑ berarti jumlah dari dan BII berarti komponen B yang parallel terhadap ∆l tersebut dan I merupakan arus total yang melewati permukaan yang dibatasi oleh lintasan tertutup.
Banyak eksperimen yang mengindikasikan bahwa hukum Ampere berlaku umum. Bagaimanapun juga, hukum ini dapat digunakan untuk menghitung medan magnet khususnya kasus-kasus sederhana. Kegunannya adalah bahwa hukum ini menghubungkan medan magnet dengan arus secara langsung dan elegan secara matematis. Hukum Ampere dengan demikian dianggap sebagai satu dari hukum-hukum dasarlistrik dan magnet. Hukum ini berlaku untuk situasi apapun dimana arus dan medan tidak berubah terhadap waktu.

Torsi pada Loop Arus ; Momen Magnet
Saat arus listrik mengalir dalam loop kawat tertutup yang diletakkan pada medan magnet, gaya magnet pada arus dapat menghasilkan torsi. Ini merupakan prinsip dasar dibalik sejumlah alat praktis yang penting, termasuk meteran dan motor.
Torsi total merupakan jumlah torsi yang disebabkan oleh masing masing gaya sehingga
τ=laBb/2 + laB b/(2 ) = labB = IAB dimana A = ab adalah luas kumparan. Jika kumparan terdiri dari N loop kawat, berarti arus adalah NI, sehingga torsi menjadi
τ = NIAB

Aplikasi Galvanometer, Motor, Pengeras Suara
Komponen dasar kebanyakan alat ukur, termasuk ammeter,voltmeter,dan ohmmeter, adalah Galvanometer.
Galvanometer terdiri dari satu kumparan kawat (dengan jarum penunjuk yang terpasang) yang digantung pada medan magnet permanen. Bila arus mengalir melaui loop kawat, yang biasanya berbentuk persegi panjang, medan magnet memberikan torsi pada loop seperti persamaan τ=NIAB sin θ.
Sebuah motor listrik mengubah energy listrik menjadi energy mekanik. Motor bekerja dengan prinsip yang sama dengan galvanometer, kecuali tidak adanya pegas, sehingga kumparan dapat berotasi kontinu dalam satu arah.
Pengeras suara juga bekerja dengan prinsip bahwa magnet memberikan gaya pada kawat pembawa arus. Ketika arus bolak balik sinyal audio mengalir melalui kumparan kawat, kumparan dan corong speaker mengalami gaya yang disebabkan oleh medan magnet dari magnet.
Efek hall
Ketika konduktor pembawa arus tertahan pada medan magnet, medan memberikan gaya menyamping pada muatan-muatan yang mengalir pada konduktor. Sebagai contoh jika elektron-elektron bergerak kekanan konduktor persegi panjang , medan magnet dalam akan memberikan gaya kebawah pada elektron-elektron F = evd B, dimana vd adalah kecepatan alir elektron. Jadi elektron-elektron akan cenderung bergerak lebih dekat kepermukaan S daripada R.
Beda potensial naik terus sehingga medan listrik EII yang dihasilkannya memberikan gaya cEH, pada muatan muatan yang bergerak yang sama dan berlawanan dengan gaya magnet, efek ini disebut efek hall. Efek hall dapat digunakan untuk mengukur kecepatan alir pembawa muatan.
Spectrometer massa
Salah satu cara yang paling akurat untuk mengukur massa atom adalah spectrometer massa. Spectrometer massa dapat digunakan juga untuk memisahkan tidak hanya elemen dan isotop yang berbeda, tetapi juga molekul yang berbeda.
Feromagnetisme domain
Sebuah magnet batang dengan kedua kutubnya yang berlawanan, menyamai dipol listrik(muatan positif dan negative yang besarnya sama dan dipisahkan oleh jarak tertentu).
Penelitian mikroskopis menunjukan bahwa magnet sebenarnya terbuat dari daerah daerah kecil yang disebut domain,yang paling besar memiliki panjang atau lebar 1 mm.
Electromagnet dan Selonoida
Sebuah kumparan kawat panjang yang terdiri dari banyak loop, dinamakan Selonoida.
Electromagnetisme digunakan pada banyak aplikasi praktis dari motor dan generator sampai smenghasilkan medan magnet besar untuk riset. Satu penggunaan yang sederhana dari solenoida adalah bel pintu. Ketika rangkaian ditutup dengan menekan tombol, kumoaran secara efektif menjadi magnet dan memberikan gaya pada batang besi. Batang tersebut ditarik kedalam kumparan dan mengenai bel. Solenoida yang lebih besar digunakan pada starter mobil.
Medan magnet pada bahan magnet histeresis
Medan B0 didalam selonoida dinyatakan dengan :
B0 =μ0 nI
Ini berlaku jika hanya ada udara didalam kumparan. Jika kita masukan sebatang besi atau bahan feromagnet lainnya kedalam selonoida, medan akan meningkat sangat besar, seeringkali ratusan atau ribuan kali.
Magnet tetap
Magnet tetap (permanen) tidak memerlukan tenaga atau bantuan dari luar untuk menghasilkan daya magnet (berelektromagnetik).
Jenis magnet tetap selama ini yang diketahui terdapat pada:
a. Magnet neodymium, merupakan magnet tetap yang paling kuat. Magnet neodymium (juga dikenal sebagai NdFeB, NIB, atau magnet Neo), merupakan sejenis magnet tanah jarang, terbuat dari campuran logam neodymium,
b. Magnet Samarium-Cobalt: salah satu dari dua jenis magnet bumi yang langka, merupakan magnet permanen yang kuat yang terbuat dari paduan samarium dan kobalt.
c. Ceramic magnetik
d. Plastic Magnets
e. Alnico Magnets
2. Magnet tidak tetap
Magnet tidak tetap (remanen) tergantung pada medan listrik untuk menghasilkan medan magnet. Contoh magnet tidak tetap adalah elektromagnet.
3. Magnet buatan
Magnet buatan meliputi hampir seluruh magnet yang ada sekarang ini.
Bentuk magnet buatan antara lain:
a. Magnet U
b. Magnet batang
c. Magnet lingkaran
d. Magnet jarum (kompas

Medan Magnet
Arus mengalir melalui sepotong kawat membentuk suatu medan magnet (M) disekeliling kawat. Medan tersebut terorientasi menurut aturan tangan kanan. Dalam ilmu Fisika, medan magnet adalah suatu medan yang dibentuk dengan menggerakan muatan listrik (arus listrik) yang menyebabkan munculnya gaya di muatan listrik yang bergerak lainnya. (Putaran mekanika kuantum dari satu partikel membentuk medan magnet dan putaran itu dipengaruhi oleh dirinya sendiri seperti arus listrik. Inilah yang menyebabkan medan magnet dari ferromagnet “permanen”). Sebuah medan magnet adalah medan vector, yaitu berhubungan dengan setiap titik dalam ruang vektor yang dapat berubah menurut waktu. Arah dari medan ini adalah seimbang dengan arah jarum kompas yang diletakkan di dalam medan tersebut.

Sifat-Sifatnya
Hasil kerja Maxwell telah banyak menyatukan listrik statis dengan magnetisme, yang menghasilkan sekumpulan dari empat persamaan mengenai kedua medan tersebut. Namun, di bawah formula Maxwell, masih ada dua medan yang berbeda yang menjelaskan fenomena berbeda. Einstein lah yang berhasil menunjukan, dengan relativitas khusus, bahwa medan listrik dan medan magnet adalah dua aspek dari hal yang sama (tensor tingkat 2), dan seorang pengamat bisa merasakan gaya magnet di mana seorang pengamat bergerak hanya merasakan gaya elektrostatik.
Dengan demikian, menggunakan spesial relativitas, gaya magnet adalah manifestasi dari gaya elektrostatik dari muatan listrik yang bergerak, dan bisa diperkirakan dari pengetahuan tentang gaya elektrostatik dan gerakan muatan tersebut (relatif terhadap seorang pengamat)

BAB III
Penutup
KESIMPULAN
Arus listrik menghasilkan medan magnet. Sebagai contoh garis garis medan magnet yang disebabkan oleh arus pada kawat lurus membentuk lingkaran disekeliling kawat dan medan memberikan gaya pada magnet. Besar medan magnet pada jarak r dari kawat lurus panjang yang membawa arus I di nyatakan dengan
B = μ0/2π I/r
Gaya yang diberikan pada kawat pembawa arus oleh medan magnet merupakan dasar untuk operasi banyak peralatan, seperti meteran, motor dan pengeras suara.