KATEGORI : TUGAS KIMIA DASAR

SENYAWA KARBON DAN GUGUS FUNGSI

12 August 2016 10:38:28 Dibaca : 749

LAPORAN PRAKTIKUM
MODUL V

A. Judul
“Senyawa Karbon dan Gugus Fungsi”

B. Tujuan
1. Menentukan unsur-unsur yang terdapat pada senyawa karbon melalui analisis kualitatif.
2. Mengidentifikasi gugus fungsi yang terdapat pada senyawa karbon.

C. Dasar Teori
Gugus fungsional pada senyawa hidrokarbon berperan penting dalam kereaktifannya terhadap senyawa atau atom lain. Oleh karena itu, para Kimiawan banyak mensintesis senyawa hidrokarbon yang mengandung gugus fungsi berbeda-beda untuk dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi. Kosmetik untuk wanita, cuka yang digunakan pada makanan, dan pengawet bahan biologis merupakan contoh aplikasi zat yang mengandung senyawa hidrokarbon dengan gugus fungsi yang berbeda.
Berbagai reaksi kimia senyawa karbon ditentukan oleh gugus fungsi. Sebagian besar reaksi senyawa karbon merupakan perubahan gugus fungsi menjadi gugus fungsi lain. Dengan demikian, gugus fungsi memiliki peran penting dalam mempelajari senyawa karbon dan reaksi senyawa karbon. Alkohol adalah senyawa karbon yang memiliki gugus hidroksil (–OH). Haloalkana adalah senyawa karbon yang mengikat atom halogen. Atom halogen ini menggantikan posisi atom hidrogen.
 Referensi : rahmadonna.tripod.com/link2.html.
Atom karbon, di samping memiliki kemampuan berikatan dengan atom karbon lain, juga dapat berikatan dengan atom unsur-unsur lain. Dalam hidrokarbon, atom karbon dapat berikatan dengan atom hidrogen membentuk senyawa hidrokarbon. Selain itu, atom karbon dapat juga berikatan dengan atom-atom lain, seperti oksigen, nitrogen, fosfor, belerang, dan halogen. Atom atau gugus atom yang terikat pada senyawa hidrokarbon dapat menentukan sifat-sifat senyawa karbon. Atom atau gugus karbon tersebut lebih reaktif dari yang lainnya, dinamakan gugus fungsi. Dengan kata lain, gugus fungsi adalah bagian reaktif dari senya a karbon yang menentukan sifat fisika dan kimia senyawa karbon. Jika atom halogen (F, Cl, Br, I) terikat pada senyawa hidrokarbon maka senyawa yang terbentuk akan memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang ditentukan oleh gugus tersebut.
 Referensi : id.scribd.com/doc/52236745/6/Gugus-Fungsi-Senyawa-Karbon.
Senyawa karbon terbentuk dari beberapa unsur saja seperti C, H, O, N, S, P dan halogen. Tetapi macam senyawa karbon dapat begitu banyak. Untuk mempelajari senyawa karbon yang begitu banyak, maka senyawa karbon dikelompokan dan di klasifikasikan berdasarkan macam rantai karbonnya dan berdasarkan gugus fungsi yang di kandungnya. Seperti halnya pada senyawa lain, analisa senyawa karbon juga terdiri dari analisa kualitatif dan analisa kuantitatif. Analisa kualitatif pada senyawa karbon bertujuan untuk menentukan macam senyawa karbon, unsur-unsur dan gugus fungsi yang di kandung senyawa karbon. Analisa kuantitatif senyawa karbon meliputi penentuan sifat fisis, tes kualitatif unsur, tes kelarutan, tes identifikasi gugus fungsi dan openentuan derivate.
 Referensi : penuntun praktikum kimia dasar II.2012.halaman :10.
Titik didih dan titik leleh dari senyawa karbon, boron dan silicon sangat tinggi. Hal ini membedakan ketiga unsur ini dari unsur nonlogam lainnya. Tiga unsur tersebut merupakan padatan yang dapat di anggap sebagai molekul-molekul raksasa yang terdiri dari banyak atom. Bentuk kristalin dari unsur karbon terkenal karena perbedaan fisiknya. Yang satu grafit yang merupakan zat yang sangat berminyak, dan sebagai bubuk kering. Karbon terdapat dalam kerak bumi baik dalam keadaan bebas maupun dalam keadaan tergabung. Karbon dari unsur golongan II A dikenal dengan mineral. Senyawa karbon yang utama adalah zat-zat organic yang berasal dari makhluk hidup.
 Referensi : Kimia untuk Universitas,jilid II.1984.halaman : 318 dan 327
Peranan nitrogen dan belerang dalam senyawa karbon. Semua protein mengandung karbon, hydrogen,oksigen dan nitrogen. Dan ada sejumlah protein yang mengandung belerang. Semua protein mempunyai struktur yg rumit dan masa molekulx besar. Dalam asam protein mengalami hidrolisis dan pecah menjadi satuan struktur dasar yaiut asam amino. Asam amino adalah molekul yg mengandung gugus amino NH2 dan gugus karboksilat COOH. Asam amino yg paling sederana adalah glisin,NH2CH2COOH. Dalam protein asam amino di sambung dengan gugus amida. Ikatan amida dlm protein di sebut ikatan peptidaa.struktur protein yg sangat sulit.
 Kimia unsur dan radiokimia. Hiskia Achmad.2001. halaman : 46

D. Alat dan Bahan
1. Alat
Nama Alat Gambar Fungsi

Tabung
Reaksi

Sebagai wadah larutan

Rak tabung reaksi

Untuk menyimapan tabung reaksi

Penjepit tabung

Untuk menjepit tabung reaksi

Pipa pengalir

Untuk megalirkan larutan dari tabung reaksi satu ke tabung reaksi yang lain.

Sumbat tabung reaksi

Untuk menyumbat tabung reaksi

Kaki tiga

Sebagai penyangga kasa

Pembakar

Untuk memanaskan/membakar senyawa/larutan

Gelas kimia

Sebagai wadah larutan

Pipet tetes

Untuk memindahakan larutan ke tempat yang memiliki leher tabung kecil

Kasa

Sebagai penyangga dalam pemabakaran

2. Bahan
 Urea
- Sifat fisik : Densitas padat pada suhu 20°C, berupa Kristal, berwarna putih.
- Sifat kimia : Titik lebur 132,6°C, berat molekul 60,05 gram, berbau spesifik.
 Serbuk CuO
- Sifat kimia : Titik leleh 1,083°C, titik didih 2,301°C, berat jenis 8,92 gram.
- Sifat fisik : Berwarna cokelat tua, oksida kuat.
 KMnO4 0,01 M
- Sifat kimia : Oksidator kuat, kaustik, titik cair 240°C.
- Sifat fisik : Tidak berbau, berwarna violet
 Etanol
- Sifat fisik : Larut dalam air, ikatan hydrogen, berantai pendek.
- Sifat kimia : Esterfikasi, bereaksi dengan natrium, oksidasi primer.
 H2SO4 pekat
- Sifat fisik : Larut dala air, higroskopis, cairan kental, berbau.
- Sifat kimia : Korosif, ksotermis, tidak mudah terbakar.
 CH3COOH glacial
- Sifat fisik : Zat cair, cairan higroskopis, tidak berwarna, titik beku 16,7°C.
- Sifat kimia : Asam lemah, terdisosiasi.
 Minyak kelapa
- Sifat fisik : Cairan kental, berwarna emas.
- Sifat kimia : Memiliki ikatan tak jenuh.
 Ba(OH)2 0,1 M
- Sifat fisik : Berbentuk kristal, berwarna putih, titik Lebur 78°C, tidak berbau, densitas pada suhu 20°C 2,13 kg/L.
- Sifat kimia : Merupakan larutan basa, merupakan larutan anorganik, sebagai pereaksi analitik, sebagai pereaksi dalam pemurnian gula, tidak beracun.
 Tertier Butanol
- Sifat Kimia: Kerapatan 0,7887, titik leleh 25,5 ℃, titik didih dari 82,5 ℃,
- Sifat fisik : Berwarna bening, mudah terbakar.
E. Prosedur Kerja
1. Analisi kualitatif unsur C dan H

Mencampurkan keduanya, dan memasukkan dalam tabung reaksi pyrex yang dilengkapi sumbat dan pipa pengalir
Memasang tabung reaksi lain yang berisi larutan Ba(OH)2 0,1 M sehingga ujung pipa pengalir sedikit tercelup ke dalam larutan Ba(OH)2
Memanaskan campuran senyawa CuO, mengamati apa yang terjadi pada tabung reaksi yang berisi larutan Ba(OH)2

Mengamati juga bagian atap tabung reaksi tempat campuran yang dipanaskan.

]

2. Reaksi Identifikasi Gugus Fungsi
 Ikatan Tak Jenuh

Melarutkan ke dalam 10 tetes tertier butanol
Menambahkan larutan KMnO4 0,01 M tetes demi tetes
Mengocok setiap kali penambahan
Mengamati perubahan yang terjadi

 Esterifikasi

Memasukkan kedalam tabung reaksi
Menambahkan 1 mL CH3COOH glacial dan 2 tetes H2SO¬4 pekat
Mengamati perubahannya

F. Hasil Pengamatan
No Perlakuan Hasil Pengamatan
1 Analisa kualitatif unsur C dan H
- Menimbang urea dam serbuk CuO
- Memasukkan kedalam tabung reaksi
- Memasangkan tabung reaksi larutan Ba(OH)2 sehingga ujung pipa pengalir tercelup di dalam larutan Ba(OH)2
- Memanaskan campuran CuO dan urea dan mengamati tabung reaksi Ba(OH)2

- Mengamati bagian atas tabung reaksi campuran yang dipanaskan
- Masing-masing 0,1 gram
- Campuran urea dan CuO

- Tabung reaksi larutan Ba(OH)2 terhubung dengan tabung reaksi campuran senyawa urea 0,1 gr + CuO
- Saat campuran dipanaskan, campurannya mendidih dan berubah warna dari warna hitam menjadi hijau kehitaman dan pada tabung reaksi Ba(OH)2 terjadi penguapan.
- Pada bagian atas tabung terdapat uap dan campuran CuO dan urea menghasilkan CO2 dan (BaOH)2 menghasilkan H2O
2 Reaksi identifikasi gugus fungsi
a. Ikatan tak jenuh
- Melarutkan 20 tetes minyak kelapa dalam 10 tetes tertier butanol
- Ditambahkan tetes demi tetes larutan KMnO4 pada campuran minyak kelapa dan tertier butanol
- Dikocok setiap kali penambahan
- Diamati perubahan yang terjadi

b. Esterfikasi
- Memasukan 2 ml etanol kedalam tabung reaksi
- Menambahkan 1 ml CH3COOH dan 2 tetes H2SO4
- Campuan di panaskan

- Larutan minyak kelapa tidak tercampur dengan butanol dan warnanya kuning pekat.
- Warna berubah menjadi cokelat

- Setelah ditambahkan larutan KMnO4 warna tetap warna coklat dan terjadi endapan pada larutan

- Terdapat dalam tabung reaksi

- Warna larutan tetap bening

- Warna larutan tetap bening, campuran mendidih, menghasilkan gelembung, baunya dominan etanol

G. Pembahasan
1. Analisa kualitatif unsur C dan H
Senyawa karbon adalah suatu senyawa yang struktur molekulnya hanya terdiri dari karbon (C) dan hidrogen (H). Pada percobaan ini, akan dibuktikkan apakah suatu senyawa termasuk dalam senyawa karbon. Hal yang dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan ini.
Kemudian, menimbang serbuk CuO dan urea sebanyak 0,1 gr. Lalu memasukkannya dalam sebuah tabung reaksi. Setelah itu, memasukkan Ba(OH)2 dalam tabung reaksi yang lain. Pada kedua tabung reaksi tersebut dipasangkan pipa pengalir dan salah satu ujung pipa sedikit tercelup dalam larutan Ba(OH)2 dan rangkaian tersebut dipasangkan pada statif dan klem. Setelah itu, tabung yang berisi serbuk CuO dan urea dipanaskan dengan menggunakan spritus sampai campuran tersebut mendidih dan terjadi penguapan.
Ketika tabung reaksi yang berisi serbuk CuO dan urea ini dipanaskan hingga mendidih, terjadi penguapan dan pada pipa pengalir terdapat molekul-molekul cairan dan akhirnya masuk ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan Ba(OH)2. Pemanasan yang dilakukan pada tabung pyrex yang berisi pencampuran urea dan serbuk CuO kering menyebabkan tekanan udara pada tabung ini semakin tinggi.
Tekanan udara yang semakin tinggi ini bergerak ke tabung berisi larutan Ba(OH)2 0,1 M sehingga menyebabkan larutan ini bergelembung dan terjadi endapan. Pada percobaan ini campuran antara urea dan CuO menghasilkan karbon dan uap air. Dan pada perlakuan ini, perubahan yang dari serbuk menjadi cair pada campuran urea dan CuO di sebabkan oleh Karen terdapatnya senyawa karbon didalamnya, pembakaran tersebut menghasilkan CO2. Dan pada larutan Ba(OH)2 terjadi penguapan dan mendidih karena larutan tersebut mengandung hydrogen (H2O).
Pada percobaan ini, CuO berfungsi untuk mengetahui suatu bahan yang mengandung senyawa karbon, dengan membakar senyawa tersebut. Reaksi yang terjadi pada proses ini yaitu:
Cu(NH2)2 + CuO + Ba(OH)2 CuO + Ba(OH2)2 + C(OH)2

2. Reaksi identifikasi gugus fungsi
a. Ikatan tak jenuh
Pada senyawa tak jenuh terjadi reaksi adisi. Reaksi adisi yaitu pemutusan ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal. Molekul tak jenuh dapat menerima tambahan atom atau gugus pereaksi tanpa melebihi angka koordinasi maksimum dari atomnya sendiri. Ikatan rangkap dua dan ragkap tiga karbon-karbon dan rangkap dua karbon-oksigen merupakan jenis struktur yang paling umum mengalami reaksi adisi.
Pada percobaan ini bahan yang digunakan adalah tertier butanol, minyak kelapa, dan KMnO4. Ketika 10 tetes tertier butanol dicampurkan dengan 20 tetes minyak kelapa, kedua campuran tersebut larut, tapi tidak terlarut secara sempurna. Hal ini disebabkan karena minyak kelapa yang bersifat non polar direksikan dengan tertier butanol yang bersifat semi polar. Dan juga terjadi perubahan warna yaitu berwarna cokelat tua. Hal ini menandakan adanya ikatan tak jenuh yang terkandung dalam minyak kelapa. Dikatakan ikatan tak jenuh jika terdapat unsur karbon yang mengandung ikatan rangkap dua (-C = C - ) maupun rangkap tiga (- C = C - ) pada ikatannya. Karena ikatan rangkap dua dan rangkap tiga masih dapat mengalami pemutusan ikatan, sehingga disebut dengan ikatan tak jenuh.
Ketika campuran tersebut dicampurkan dengan KMnO4, senyawa tersebut berubah warna tetapi tidak bercampur. Dalam hal ini, KMnO4 berfungsi untuk memutuskan ikatan tak jenuh pada minyak kelapa.
b. Esterfikasi
Reaksi Esterifikasi adalah reaksi pembentukan ester. Esterifikasi adalah salah satu reaksi untuk mengidentifikasi gugus karboksilat. Esterifikasi termasuk dalam jenis reaksi kondensasi yaitu penggabungan 2 molekul dengan melepas molekul kecil lain.
Reaksi esterifikasi :

Pada percobaan ini, 2 mL etanol dicampurkan dengan 1 mL CH3COOH glacial dan 2 tetes H2SO4 dalam sebuah tabung reaksi. Ketika dicampurkan, senyawa tersebut dapat larut. Hal ini disebabkan karena sifat kimia dari ketiga senyawa tersebut dapat larut dalam air. Namun campuran itu menghasilkan bau yang menyengat, karena sifat fisika yang dimiliki oleh CH3COOH yaitu memiliki bau yang khas dan asam..
Setelah campuran tersebut dipanaskan dengan menggunakan spritus, campuran itu tidak lagi berbau menyengat (bau harum). Bau harum yang dihasilkan setelah proses pembakaran tersebut menandakan bahwa senyawa tersebut adalah senyawa ester. Ester merupakan sebuah hidrokarbon yang diturunkan dari asam karboksilat. Sebuah asam karboksilat mengandung gugus -COOH, dan pada sebuah ester hidrogen di gugus ini digantikan oleh sebuah gugus hidrokarbon dari beberapa jenis. Reaksi esterfikasi berjalan lambat dan dapat balik (refersibel). Senyawa ester memiliki ciri yang khas, yaitu berbau harum. Reaksi yang terjadi yaitu:
O
ll
CH3COOH + C2H5OH CH3 CO C2H5 + H2O

H. Tugas Pasca Praktikum
Soal
1. Mengapa CuO yang digunakan pada analisis kualitatif unsur C dan H harus kering betul ?
2. Jelaskan analisa kualitatif unsur N dan S?
3. Bagaimana menjelaskan bahwa minyak kelapa yang di analisis dengan KMnO4 memiliki ikatan rangkap, berdasarkan perubahannya ?
4. Apakah adanya air dapat mengganggu reaksi identifikasi alkohol dengan logam natrium? Jelaskan!

Jawaban
1. Karena serbuk CuO yang digunakan jika tidak kering, maka serbuk CuO tersebut tidak dapat mengoksida C menjadi CO2 dan H menjadi H2O.
2. Analisa kualitatif senyawa karbon hamper selalu berdasarkan pada reaksi oksidasi dan reduksi. N selalu mengalami reduksi menjadi sianida dan begitu juga S menjadi H2S atau di oksidasikan menjadi H2SO4.
3. Minyak kelapa ditambahkan KMnO4 karena KMnO4 dapat memutuskan ikatan rangkap yang ad pada minyak kelapa.
4. Ya,karena logam natrium sangat reaktif terhadap air, karena adanya air dapat mengganggu reaksi identifikasi alcohol dengan logam natrium, reaksi air dan logam natrium menghasilkan panas dan uap air.

I. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengujian kualitatif unsur C dan H terbukti karena pada saat eksperimen halis pemanasan campuran urea dan CuO menghasilkan CO2 yang berarti terdapat senyawa karbon didalamnya dan (BaOH)2 menghasilkan H2O yang berarti mengandung unsur hydrogen.
2. Pada minyak kelapa mengandung ikatan tak jenuh, Karena minyak kelapa larut dalam tertier butanol, dan ketika campuran terrier butanol, minyak kelapa dan KMnO4 dipanaskan warnanya berubah yang membuktikan semakin kuat bahwa minyak kelapa mengandung ikatan tak jenuh.
3. Pada pengujian esterfikasi, campuran etanol, CH3COOH dan H2SO4 setelah di panaskan memiliki bau yang dominan etanol yang berarti bahwa senyawa etanol merupakan senyawa yang memiliki tingakat kuat.

J. Kemungkinan Kesalahan
1. Adanya factor lingkungan yang dapat mempengaruhi proses berjalannya praktikum.
2. Kurangnya pemahaman praktikan terhadap prosedur kerja. 
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia. 2001. Kumia unsur dan radio kimia. Bandung : Citra Aditya Bakti.
Indianty. 2012. Gugus fungsi senyawa karbon (On-Line) dapat diakses di Indianty.id.scribd.com/doc/52236745/6/Gugus-Fungsi-SenyawaKarbon. (diakses tanggal 6 Juni 2012)
Keenan, Charles.W.1984. ilmu kimia untuk universitas jilid II. Jakarta : Erlangga.
Rahmadonna. 2012. Senyawa karbon. (On-Line) dapat diakses di Rahmadonna.tripod.com/link2.Senyawa-karbon.html. (diakses tanggal 6 Juni 2012. Pukul : 09 15 WITA)
Team teaching.2012.penuntun praktikum kimia dasar II. Gorontalo : LAB Kimia.

 

LAPORAN PRAKTIKUM
MODUL IV

A. Judul :
“Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi”

B. Tujuan
• Membuktikan pengaruh suhu, luas permukaan dan katalis sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.

C. Dasar Teori
Ada dua hal dalam mempelajari suatu reaksi. Pertama, apakah reaksi tersebut dapat berlangsung atau tidak. Jawaban ini dapat diperoleh secara termodinamika kimia. Namun demikian, termodinamika tidak membahas bagaimana laju reaksi itu berlangsung, faktor-faktor apa yang dapat mempengaruhi laju reaksi dan bagaimana reaksinya. Masalah-masalah tersebut dipelajari melalui kajian lain yang disebut kinetika kimia.
Reaksi-reaksi kimia berlangsung dengan kecepatan yang beragam. Ada reaksi yang berlangsung sangat cepat seperti reaksi-reaksi ion, ledakan dinamit dll. Ada pula reaksi yang berlangsung lambat bahkan sangat lambat seperti perkaratan besi. Pada percobaan berikut, yang akan dilakukan adalah reaksi yang dapat diukur pada waktu percobaan, seperti reaksi sistem H2C2O4 dan MnO4.
Pada umumnya laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti luas permukaan sentuhan dari zat-zat pereaksi, konsentrasi pereaksi, suhu sistem reaksi, dan katalis. Selain itu, keadaan fisis dan radiasi cahaya dapat juga mempengaruhi laju suatu reaksi.
Meningkatnya luas permukaan sentuhan suatu zat-zat yang bereaksi cenderung akan mempercepat laju reaksi. Ditinjau dari teori tumbukan, semakin luas permukaan zat-zat yang bereaksi semakin besar kecenderungan tumbukan sehingga laju reaksinyapun cenderung meningkat. Demikian pula halnya dengan suhu sistem reaksi, makin tinggi derajat suhu cenderung mempercepat laju reaksinya. Kenaikan suhu akan meningkatkan jumlah fraksi molekul-molekul yang mempunyai energi lebih besar daripada energi aktivasi, akibatnya laju reaksi cenderung meningkat.
Disamping itu, laju reaksi dapat juga dipercepat atau diperlambat dengan cara menambahkan zat lain sebagai media reaksi, yang dapat membantu mempercepat atau memperlambat suatu reaksi, zat tersebut dinamakan katalis. Dalam pelaksanaannya, katalis turut serta bereaksi dengan zat-zat pereaksi, tetapi pada akhirnya katalis tersebut dapat diperoleh kembali.
(Penuntun Praktikum Kimia Dasar II, UNG 2012 : 07)
Faktor-faktor yang mempenguruhi laju reaksi yang dikenal adalah sebagai berikut :
1. Sifat pereaksi
Salah satu faktor penentu laju reaksi adalah sifat pereaksi, ada yang reaktif dan ada juga yang kurang reaktif, misalnya bensin lebih cepat terbakar daripada minyak tanah. Demikian juga logam natrium bereaksi cepat dengan air, sedangkan logam magnesium lambat.
2. Konsentrasi pereaksi
Dua molekul yang akan bereaksi harus bertabrakan langsung. Jika konsentrasi pereaksi diperbesar, berarti kerapatannya bertambah dan memperbanyak kemungkinan tabrakan sehingga akan mempercepat reksi. Akan tetapi harus diingat bahwa tidak selalu pertambahan konsentrasi pereaksi meningkatkan laju reaksi, karena laju reaksi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
3. Suhu
Hampir semua reaksi menjadi lebih cepat bila suhu dinaikkan, karena kalor yang diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi. Akibatnya, jumlah dan energi tabrakan bertambah besar.
4. Katalis
Laju suatu reaksi dapat diubah (umunya dipercepat) dengan menambahkan zat yang disebut katalis. Katalis sangat diperlukan dalam reaksi zat organik termasuk dalam organisme. Katalis dalam organisme disebut enzim dan dapat mempercepat reaksi ratusan sampai puluhan ribu kali.
(Ahmad, Hiskia . 2001. ELEKTROKIMIA dan KINETIKA KIMIA )
Berdasarkan wujudnya, katalis dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu katalis homogen dan katalis heterogen.
a. Katalis homogen
Katalis homogen adalah katalis yang berada dalam fasa yang sama dengan molekul pereaksi. Banyak contoh dari katalis jenis ini baik dalam fasa gas maupun dalam fasa cair atau larutan.
b. Katalis heterogen
Katalis heterogen berada dalam fasa yang berbeda dengan pereaksi; biasanya ada dalam bentuk padatan. Katalis heterogen biasanya melibatkan pereaksi fasa gas yang terserap pada permukaan katalis padat. Terdapat dua jenis proses penyerapan gas pada permukaan padat, yaitu adsorpsi (penyerapan zat pada permukaan benda) dan absorpsi (penyerapan zat ke seluruh bagian benda).
c. Autokatalis
Autokatalis adalah zat hasil reaksi yang dapat berperan sebagai katalis.
Disamping itu, ada beberapa zat yang dapat memperlambat suatu reaksi. Zat tersebut dinamakan antikatalis, karena sifatnya berlawanan dengan katalis.
(http://datachem.blogspot.com/2011/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-laju.html)

D. Alat dan Bahan
1. Alat
 Tabung Reaksi

 Rak tabung reaksi

 Penjepit Tabung

 Gelas Kimia 400 mL

 Pipet Tetes

2. Bahan
 CaCO3 serbuk dan butiran
• Sifat fisik : berbentuk kristal, berwarna putih atau abu-abu, tidak berbau, tidak memiliki rasa, titik lebur 1517- 2441°F.
• Sifat kimia : penguapan 0,0 %, hampir tidak larut dalam air, larut dalam asetat, asam hidrokolik, asam nitrat, asam lainnya, larutan ammonium klorida, tidak larut dalam alkohol.
 HCl 0,5 M
• Sifat fisik : cairan kental, bening kekuningan, titik leleh 10°C dan titik didih 330°C, tekanan uap 1 mmHg (146°C), berat jenis 1,84 (100%), larut dalam air.
• Sifat kimia : mempunyai massa jenis, pH tergantung pada konsentrasi, molaritas HCl dalam larutan sama.
 H2C2O4 0,05 M
• Sifat fisik : berat molekul 126,7 gr/mol dalam bentuk kristal, massa jenis 1,653 g/cm3, titik lebur 101,5°C, bersifat beracun, larut dalam air, tidak berwarna.
• Sifat kimia : dapat digunakan sebagai pembersih logam, memiliki afinitas yang besar terhadap air, dapat menggantikan hydrogen dalam reaksinya dan logam aktif dan membentuk garam sulfat.
 KMnO4 0,01 M
• Sifat fisik
- Berat molekul 126,07 g/mol
- Titik didih 32,35°C
- Titik beku 2,83°C
- Bentuk kristal berwarna ungu kehitaman
- Denitas 2,7 kg/L pada 20°C
• Sifat kimia
- Larut dalam methanol
- Mudah terurai oleh sinar
- Dalam suasana netral dan basah akan teroduksi menjadi MnO2
- Merupakan zat pengoksidasi yang kuat
 H2O2 3%
• Sifat fisik
- Tidak berwarna
- Berbau khas agak keasaman dan menyengat
• Sifat kimia
- Larut dengan baik dalam air
- Dalam kondisi normal (kondisi ambient), hidrogen peroksida sangat stabil dengan laju dekomposisi kira-kira kurang dari 1% per tahun.
 H2S04 2M
• Sifat fisik
- Berat molekul 98 gr/mol
- Titik didih 315-338°C
- Titik lebur 10°C
- Berbentuk cairan kental tak berwarna
- Denitas 1,8 kg/L pada 4°C
• Sifat kimia
- Merupakan asam kuat
- Bersifat korosif
- Memiliki afinitas yang sangat besar terhadap air
- Bersifat sangat reaktif
- Meruapakan asam berolensi dua
- Diperoleh dari reaksi SO3 dengan air
 Cairan sabun
• Sifat fisik
- Berupa cairan dan bergelembung
• Sifat Kimia
- Merupakan garam alkali yang bersifat basa
 MnO2
• Sifat fisik
- Padat kehitaman dan kecoklatan
• Sifat Kimia
- Tidak berbau dan tidak larut dalam air

E. Prosedur Kerja
1. Luas Permukaan

- Menimbang sebanyak 1 gr - Menimbang sebanyak 1 gr

- Menyediakan tabung - Menyediakan tabung

- Memasukkan 3 mL HCl 0,5 M - Memasukkan 3 mL HCl 0,5 M

- Memasukkan CaCO3 serbuk ke - Memasukkan CaCO3 butiran ke
dalam tabung dalam tabung

- Mengocok dan mengamati yang - Mengocok dan mengamati yang
terjadi terjadi

2. Suhu Sistem

- Memasukkan ke dalam tabung - Memasukkan ke dalam tabung reaksi pertama reaksi kedua

- Menambah 5 tetes KMnO4 0,01 M - Merendam dalam air panas

- Mencatat waktu sejak penambahan - Menambahkan 5 tetes KMnO4
KMnO4 sampai warnanya tidak
nampak lagi - Mencatat waktu

- Membandingkan reaksi dari kedua tabung

3. Katalis

- Memasukkan kedalam tabung - Memasukkan ke dalam tabung
reaksi pertama reaksi kedua

- Mengocok dan mengamati - Mengocok dan mengamati
gelembung gas yang terjadi gelembung gas yang terjadi

- Menyimpan tabung pertama - Menambahkan seujung sendok
sebagai pembanding kecil ke dalam larutan MnO2

- Mengamati perubahan gelembung
gas yang terjadi

F. Hasil Pengamatan
1. Luas Permukaan
Perlakuan Hasil Pengamatan
Menimbang CaCO3 serbuk dan butiran Memiliki berat yang sama yakni berat 1 gram.
Menyiapkan 2 tabung dan memasukkan cairan 3 ml HCl 0,5 M ke dalam masing-masing tabung secara bersamaan
Memasukkan CaCO3 serbuk pada tabung 1 dan CaCO3 butiran pada tabung 2
Mengocok dan mengamati yang terjadi Tabung 1 yang dimasukkan CaCO3 serbuk lebih cepat larut/ bereaksi dibandingkan tabung 2 yang dimasukkan CaCO3 butiran. Hal ini disebabkan karena luas permukaan CaCO3 serbuk lebih besar dibandingkan CaCO3 butiran. Jadi CaCO3 sebuk laju reaksinya lebih cepat reaksinya daripada CaCO3 butiran.

2. Suhu Sistem
Perlakuan Hasil Pengamatan
Mengisi tabung pertama dan kedua dengan 2 mL H2C2O4 0,05 M dan 1 mL H2SO4 2 M
Tabung terisi.
Meneteskan KMnO4 0,01 M pada tabung pertama.
Larutan berubah warna.
Meneteskan KmnO4 0,01 M pada tabung kedua yang sebelumnya telah dipanaskan.
Larutan berubah warna.
Mengamati perbandingan kecepatan kedua tabung untuk menghasilkan larutan bening dan waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi Tabung pertama lebih lambat bereaksi dan membutuhkan waktu 09 : 37 menit dibandingkan dengan tabung kedua yang hanya membutuhkan waktu 01 : 00 menit. Jadi semakin tinggi suhu maka semakin cepat laju reaksinya.

3. Katalis
Perlakuan Hasil Pengamatan
Mengisi tabung pertama dan kedua dengan 2 mL H2O2 3 % dan 1 mL cairan sabun
Tabung berisi campuran larutan.
Mengocok tabung pertama dan kedua Pada kedua tabung terdapat sedikit gelembung.
Menambahkan seujung sendok kecil serbuk MnO4 pada tabung kedua Larutan menghasilkan banyak gelembung dan terjadi perubahan warna dari warna kekuning-kuningan menjadi warna putih.
Mengamati perubahan gelembung yang terjadi pada kedua tabung Tabung kedua lebih cepat bereaksi dibandingkan dengan tabung pertama karena tabung ini mengandung MnO2 yang bersifat katalis.

G. Pembahasan
Reaksi reaksi kimia berlangsung dengan kecepatan yang beragam. Ada reaksi yang berlangsung sangat cepat seperti reasi ion, ledakan dinamit dan lain lain.
Laju reaksi daapat ditentukan dengan cara mengikuti peruubahan sifat selama terjadi reaksi. Dengan menganalisis campuran reaksi dalam selang waktu tertentu, maka konsentrasi pereaksi dan produk reaksi dapat diukur. Dari data yang dihasilkan dapat ditentukan laju reaksi.
Pada percobaan ini pembuktian faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dilakukan dengan cara membandingkan antara percobaan yang dikondisikan (terhadap luas permukaan, suhu sistem dan katalis) dengan yang tidak.
a) Luas permukaan
Pada percobaan pertama, akan dibuktikan bahwa luas permukaan merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju reaksi. Dimana untuk membuktikannya di perlukan 2 tabung reaksi, serbuk dan butiran CaCO3 dan HCl 0,5 M.
Pertama yang dilakukan adalah menimbang serbuk dan butiran CaCO3 sampai 1 gram kemudian menyiapkan 2 tabung yang masing-masing diberikan label. Tabung pertama untuk CaCO3 serbuk sedangkan tabung kedua untuk CaCO3 butiran. Kemudian memasukkan 3 mL HCl 0,5 M ke dalam masing-masing tabung reaksi tersebut secara bersamaan. Setelah itu masukkan CaCO3 serbuk dan butiran ke dalam masing-masing tabung reaksi dan dikocok.
Setelah diamati dan diperhatikan reaksi HCl di dalam masing-masing tabung, ternyata CaCO3 serbuk lebih cepat bereaksi dibandingkan dengan CaCO3 butiran. Ini dikarenakan luas gerak dari serbuk CaCO3 besar, sehingga kemungkinan untuk terbentuk hasil atau produk akan semakin besar pula. Sehingga laju reaksinya pun meningkat atau semakin besar laju reaksinya dibandingkan dengan CaCO3 butiran. Ditinjau dari teori tumbukan juga memperjelas bahwa, semakin luas permukaan zat-zat yang bereaksi semakin besar kecenderungan tumbukan sehingga laju reaksinya cenderung meningkat.
Sehingga didapat reaksinya :
CaCO3 + 2 HCl CaCl2 + H2O + CO2
b) Suhu
Pada percobaan kedua yaitu pembuktian suhu sistem terhadap laju reaksi, dimana untuk pembuktiannya disediakan 2 buah tabung reaksi, H2C2O4 0,05 M, H2SO4 2,0 M, serta KMnO4 0,01 M.
Pertama-tama yang dilakukan adalah memasukkan 2 ml H2C2O4 0,05 M serta H2SO4 2,0 M ke dalam dua tabung reaksi. Nampak larutannya masih dalam keadaan bening. Kemudian pada tabung 1 menambahkan 5 tetes KMnO4 0,01 M. Sejak penambahan KMnO4 tersebut, menghitung waktunya hingga larutan menjadi jernih. Dan berdasarkan percobaan yang dilakukan, waktu yang di butuhkan yaitu sebanyak 9 menit 37 detik.
Kemudian untuk tabung 2, tabung direndam ke dalam air yang telah dipanaskan ± 50°C selama 1 menit. Setelah itu di tambahkan 5 tetes KMnO4, dan menghitung waktu yang dibutuhkan untuk menjadi jernih. Dan berdasarkan percobaan yang dilakukan, waktu yang dibutuhkan oleh tabung 2 untuk menjadi jernih kembali yaitu sebanyak 1 menit.
Dari hasil percobaan ini, reaksi berjalan cepat apabila suhut tinggi, artinya waktu yang diperlukan untuk membentuk produk sedikit, sebaliknya percobaan yang berlangsung pada suhu rendah, memerlukan waktu lebih lama untuk membentuk energi kinetik yang cukup untuk membentuk produk yang lebih banyak.
Reaksinya adalah sebagai berikut:
H2C2O4 + H2SO4 + 4 KMnO4 K2C2O4 + K2SO4 + 4 KMnO4
c) Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri.
Pada percobaan ini, digunakan katalis heterogen. Disediakan 2 tabung reaksi yang masing-masing dimasukkan 3 ml H2O2 dan cairan sabung sebanyak 1 mL. pada salah satu tabung reaksi dimasukkan sedikit MnO2 dan tabung yang satunya sebagai pembanding. Setelah dikocok, ternyata pada tabung yang ditambahkan MnO2 lebih banyak menghasilkan gelembung daripada tabung pembanding yang tidak ditambahkan MnO2, Hal ini disebabkan karena adanya katalis yang terdapat pada tabung kedua.

H. Tugas Pasca Praktikum
1. Pada percobaan A.Banyaknya gas terbentuk tiap satuan waktu menjadi petunjuk untuk menentukan laju reaksinya. Hasil pengamatan menunjukan bahwa dengan bertambahnya waktu kelajuan reaksinya menurun. Jelaskan mengapa muncul gejala seperti ini?
2. Jelaskan mengapa pada percobaan B, warna larutan KMnO4 tidak nampak lagisejalan dengan bertambahnya waktu?

Jawaban
1. Hal tersebut dikarenakan oleh adanya katalis yang ikut bereaksi dimana akan semakin katalis itu sendiri berfungsi untuk mempercepat laju reaksi, sehingga semakin lama laju kelajuan reaksinya akan semakin lambat. Maka otomatis laju reaksi pada larutan tersebut juga lambat.
2. Warna larutan KMnO4 tidak tampak lagisejalan dengan bertambahnya waktu. Hal ini dikarenakan larutan KMnO4 habis bereaksi dengan larutan H2C2O4 dan H2SO4 yang telah ada dalam tabung reaksi, sehingga warna larutan KMnO4 yang tadinya ungu tidak nampak lagi pada waktu tertentu. Dan tidak nampaknya warna larutan KMnO4 menandakan cepat lambatnya laju reaksi yang terjadi pada larutan tersebut.

I. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah kami lakukan, kami dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Serbuk CaCO3 lebih cepat bereaksi dari pada CaCO3 butiran. Semakin kecil partikel pereaksi, makin besar permukaan pereaksi yang bersentuhan dalam reaksi, sehingga reaksinya makin cepat.
2. Larutan yang dipanaskan akan lebih cepat bereaksi daripada yang tidak dipanaskan. Makin tinggi derajat suhu cenderung mempercepat laju reaksinya. Kenaikan suhu akan menaikkan jumlah fraksi molekul-molekul yang mempunyai energi lebih besar daripada energi aktivasi, akibatnya laju reaksi cenderung meningkat.
3. Katalis mempercepat dan memperlambat reaksi tetapi tidak mengalami perubahan kimia secara kekal atau permanen.

J. Kemungkinan Kesalahan
1. Kesalahan praktikan dalam mencampurkan 2 larutan
2. Kesalahan praktikan dalam membuat diagram alir/ prosedur kerja pada jurnal praktikum.

Daftar Pustaka
Ahmad, Hiskia . 2001. Elektrokimia dan Kinetika Kimia. Bandung : Citra Aditya bakti
Datachem. 2011. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Dapat diakses di http://datachem.blogspot.com/2011/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-laju-reaksi.html (diakses pada tanggal 31 Mei 2012)
Team Teaching Kimia Dasar 2. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Dasar 2. Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo

 

LAPORAN TITRASI ASAM BASA

12 August 2016 10:29:52 Dibaca : 809

LAPORAN PRAKTIKUM
MODUL III
JUDUL :
Titrasi Asam Basa

TUJUAN
Melakukan titrasi asam basa untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam

DASAR TEORI
Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat yang diketahui konsentrasinya secara tepat. Prinsip dasar titrasi asam basa didasarkan pada reaksi netralisasi asam basa.
Titik ekuivalen pada titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asam dinetralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. Pada titik ekuivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisasi asam basa. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik ekuivalen berada. Pada umumnya titik ekuivalen tersebut sulit diamati, yang mudah diamati adalah titik akhir yang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik ekuivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir titrasi dicapai yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekuivalen . Dengan pemilihan indikator yang tepat, kita dapat memperkecil kesalahan titrasi.
Pada titrasi asam kuat dan basa kuat, asam kuat dan basa kuat dalam air terurai dengan sempurna. Oleh karena itu, ion hidrogen dan ion hidroksida selama titrasi dapat langsung dihitung dari jumlah asam atau basa yang ditambahkan. Pada titik ekuivalen dari titrasi asam kuat dan basa kuat, pH larutan pada temperatur 25ËšC sama dengan pH air yaitu sama dengan 7.
( Penuntun Praktikum Kimia Dasar II, UNG 2012 : 05 )
Seorang analisis mengambil faedah dari perubahan besar dari pH yang terjadi dalam titrasi agar dapat menentukan kapan titik ekivalennya akan tercapai. Ada banyak asam dan basa organik dan basa organik lemah yang bentuk-bentuk tak berdisosiasi dan ionnya menunjukka wrana yang berbeda warna. Molekul-molekul demikian dapat digunakan untuk menentukan kapan cukup titran telah ditambahkan dan disebut indikator visual. Suatu contoh yang sederhana adalah para-nitrofenol, yang merupakan suatu asam lemah da berdisosiasi.
Bentuk tak terdisosiasi adalah tak berwarna, tetapi anionnya, yang mempunyai sistem ikatan tunggal dan ikatan rangkap dua yang berganti-ganti (suatu system terkonjugasikan), berwarna kuning. Molekul-molekul atau ion-ion yang mempunyai system terkonjugasikan, menyerap cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang dibandingkan dengan molekul-molekul sebanding tetapi yang tanpa system terkonjugasikan. Cahaya yang diserap sering ada pada bagian spectrum yang tampak, dan dengan demikian molekul atau ionnya berwarna.
Indikator terkenal phenoftalein merupakan asam diprotik dan tak berwarna. Ia mula-mula berdisosiasi menjadi suatu bentuk tak berwarna dan kemudian, dengan kehilangan hidrogen ke dua, menjadi ion dengan system terkonjugasikan, maka dihasilakanlah wrana merah. Metal oranye, indikator lain yang secara luas digunakan, merupakan basa dan berwarna kuning dalam bentuk molekular. Penambahan ion hidrogen menghasilkan suatu kation yang berwarna merah muda.
Perubahan minimum dalam pH yang diperlukan untuk suatu perubahan warna disebut “jangkau indicator”. Pada harga pH antara,warna yang ditunjukkan bukan warna merah atau kuning, tetapi sedikit agak kuning. Pada pH 5,pKa dari HIn, kedua bentuk berwarna sama konsentrasinya, yaitu HIn separuh tenetralisasikan. Seringkali kita mendengar terminology seperti suatu indikator yang berubah warna pada pH 5 telah digunakan ini berarti bahwa pKa indicator sebesar 5 dan jangkauannya sebesar pH 4 sampai 6.
Pada titrasi asam lemah, pemilihan indikator jauh lebih terbatas untuk suatu asam dengan pKa 5 kira-kira kepunnyaan asma asetat, pH lebih tinggi dari 7 pada titik ekivalen, dan perubahan dalam pH relatif kecil. Phenoftalein berubah warna pada kira-kira titik ekivalen dan merupakan indicator yang cocok. Dalam hal asam yang sangat lemah, misalnya pKa = 9, tidak ada perubahan dalam pH yang besar terjadi sekitar titik ekivalen. Jadi volume basa yang lebih besar akan diperlukan untuk merubah warna suatu indikator dan titik ekivalen tidak akan di deteksi dengan ketepatan yang biasa diharapkan.
Kelarutan garam dari asam lemah tergantung pada pH larutan. Beberapa contoh yang lebih penting dari garam-garam demikian dalam kimia analitik adalah oksilat sulfida, hidrogsida, karbonat dan fosfat. Ion hidroksida bereaksi dengan anion garam untuk membentuk asam lemah, dengan demikian meningkatkan kelarutan garam.
( R.A. Day, Jr. Analisa Kimia Kuantitatif : 141-145)
Titrasi merupakan metode analisa kimia secara kuantitatif yang biasa digunakan dalam laboratorium untuk menentukan konsentrasi dari reaktan. Karena pengukuran volum memainkan peranan penting dalam titrasi, maka teknik ini juga dikenali dengan analisa volumetrik. Analisis titrimetri merupakan satu dari bagian utama dari kimia analitik dan perhitungannya berdasarkan hubungan stoikhiometri dari reaksi-reaksi kimia. Analisis cara titrimetri berdasarkan reaksi kimia seperti:
aA + tT → hasil
Dengan keterangan (a) molekul analit A bereaksi dengan (t) molekul pereaksi T. Pereaksi T, disebut titran, ditambahkan secara sedikit-sedikit, biasanya dari sebuah buret, dalam bentuk larutan dengan konsentrasi yang diketahui. Larutan yang disebut belakangan disebut larutan standar dan konsentrasinya ditentukan dengan suatu proses standardisasi. Penambahan titran dilanjutkan hingga sejumlah T yang ekivalen dengan A telah ditambahkan. Maka dikatakan baha titik ekivalen titran telah tercapai. Agar mengetahui bila penambahan titran berhenti, kimiawan dapat menggunakan sebuah zat kimia, yang disebut indikator, yang bertanggap terhadap adanya titran berlebih dengan perubahan warna. Perubahan warna ini dapat atau tidak dapat trejadi tepat pada titik ekivalen. Titik titrasi pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. Tentunya merupakan suatu harapan, bahwa titik akhir ada sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Memilih indikator untuk membuat kedua titik berimpitan (atau mengadakan koreksi untuk selisih keduanya) merupakan salah satu aspek penting dari analisa titrimetri. Istilah titrasi menyangkut proses ntuk mengukur volum titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Selama bertahun-tahun istilah analisa volumetrik sering digunakan daripada titrimetrik. Akan tetapi dilihat dari segi yang ketat, istilah titrimetrik lebih baik, karena pengukuran-pengukuran volum tidak perlu dibatasi oleh titrasi. Pada analisa tertentu misalnya, orang dapat mengukur volum gas.
Sebuah reagen yang disebut sebagai peniter, yang diketahui konsentrasi (larutan standar) dan volumnya digunakan untuk mereaksikan larutan yang dititer yang konsentrasinya tidak diketahui. Dengan menggunakan buret terkalibrasi untuk menambahkan peniter, sangat mungkin untuk menentukan jumlah pasti larutan yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir. Titik akhir adalah titik di mana titrasi selesai, yang ditentukan dengan indikator. Idealnya indikator akan berubah warna pada saat titik ekivalensi—di mana volum dari peniter yang ditambahkan dengan mol tertentu sama dengan nilai dari mol larutan yang dititer. Dalam titrasi asam-basa kuat, titik akhir dari titrasi adalah titik pada saat pH reaktan hampir mencapai 7, dan biasanya ketika larutan berubah warna menjadi merah muda karena adanya indikator pH fenolftalein. Selain titrasi asam-basa, terdapat pula jenis titrasi lainnya.
Banyak metode yang dapat digunakan untuk mengindikasikan titik akhir dalam reaksi; titrasi biasanya menggunakan indikator visual (larutan reaktan yang berubah warna). Dalam titrasi asam-basa sederhana, indikator pH dapat digunakan, sebagai contoh adalah fenolftalein, di mana fenolftalein akan berubah warna menjadi merah muda ketika larutan mencapai pH sekitar 8.2 atau melewatinya. Contoh lainnya dari indikator pH yang dapat digunakan adalah metil jingga, yang berubah warna menjadi merah dalam asam serta menjadi kuning dalam larutan alkali.
Tidak semua titrasi membutuhkan indikator. Dalam beberapa kasus, baik reaktan maupun produk telah memiliki warna yang kontras dan dapat digunakan sebagai "indikator". Sebagai contoh, titrasi redoks menggunakan potasium permanganat (merah muda/ungu) sebagai peniter tidak membutuhkan indikator. Ketika peniter dikurangi, larutan akan menjadi tidak berwarna. Setelah mencapai titik ekivalensi, terdapat sisa peniter yang berlebih dalam larutan. Titik ekivalensi diidentifikasikan pada saat munculnya warna merah muda yang pertama (akibat kelebihan permanganat) dalam larutan yang sedang dititer.
Akibat adanya sifat logaritma dalam kurva pH, membuat transisi warna yang sangat tajam; sehingga, satu tetes peniter pada saat hampir mencapai titik akhir dapat mengubah nilai pH secara signifikan—sehingga terjadilah perubahan warna dalam indikator secara langsung. Terdapat sedikit perbedaan antara perubahan warna indikator dan titik ekivalensi yang sebenarnya dalam titrasi. Kesalahan ini diacu sebagai kesalahan indikator, dan besar kesalahannya tidak dapat ditentukan.
(Http://belajarkimia.com/2008/04/titrasi-asam-basa)

ALAT DAN BAHAN
Alat
Buret 1 buah

Fungsinya untuk meneteskan reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan presesi seperti titrasi.

Statif dan klem

Fungsi untuk menegakkan buret, corong, corong pisah dan peralatan gelas lainnya pada saat digunakan dan juga untuk memegang buret yang digunakan untuk titrasi.

Botol semprot 1 buah

Fungsinya sebagai wadah untuk menyimpan aquadest.

Corong 1 buah

Fungsinya untuk menyaring campuran kimia/ suatu larutan.

Gelas Erlenmeyer 250 ml 2 buah

Fungsinya untuk wadah titran (larutan yang dititrasi) pada proses titrasi.

Gelas kimia 250 ml 1 buah

Fungsinya untuk mengukur volume larutan atau sebagai wadah/ tempat untuk larutan.

Pipet tetes 1 buah

Fungsinya untuk mengambil cairan yang masih terdapat dalam wadahnya

Bahan
NaOH 0,05 M
Sifat fisik : Cairan higroskopis tak berwarna, rapuh (mudah hancur), asin,
larut dalam air.
Sifat kimia : Sangat mudah menyerap gas CO2, pH-nya netral, dan ikatan
ionik kuat.
Phenoftalein
Sifat fisik : Berbentuk larutan dan merupakan asam lemah.
Sifat kimia : Tidak dapat bereaksi dengan larutan yang direaksikan hanya
sebagai indikator.
HCl
Sifat fisik : Berbentuk gas yang tak berwarna dan berbau tajam, elektrolit
kuat, asam kuat.
Sifat kimia : Akan berasap tebal di udara lembab, dan titik didih, titik
leleh, massa jenis, pH, tergantung pada konsentrasi HCl .
Aquadest
Sifat fisik : Cairan tak berwarna dan tak berbau.
Sifat kimia : Pelarut yang baik, memiliki pH 7 (netral).
Kertas saring/ Tissue
Digunakan untuk menyaring.

PROSEDUR KERJA

Memasukkan ke dalam buret Memasukkan ke dalam labu
yang telah dibasuh dengan NaOH, Erlenmeyer 250 ml dengan
yang akan dipakai sebanyak 3 kali menggunakan pipet gondok
dengan menggunakan corong Menambahkan aquadest ± 5
sampai volumenya mencapai skala ml, untuk membilas larutan
nol pada buret yang menempel pada dinding
labu erlenmeyer.
Menambahkan 3 tetes phenoftalein

Meneteskan larutan NaOH secara perlahan lahan
Mengamati perubahan warna
Mencatat keadaan akhir buret
Mengulangi percobaan sebnyak dua kali (duplo)
Menghitung konsentrasi

HASIL PENGAMATAN
Perlakuan Hasil pengamatan

Membersihkan buret dan membilas dengan NaOH sebanyak 3 kali (± 5 ml)

Buret menjadi bersih

Mengukur 10 ml HCl ke dalam labu Erlenmeyer

Pada saat dicampurkan ketiga larutan belum terjadi perubahan warna hanya larutannya saja yang bercampur

Menambahkan 5 ml NaOH membilas larutan yang menempel pada dinding labu Erlenmeyer

Menambahkan 3 tetes indikator phenoftalein

Melakukan titrasi dengan cara meneteskan larutan NaOH dan memutar buret secara perlahan-lahan

Terjadi perubahan warna yakni warna merah muda, dan volume 6,4 ml

Perlakuan duplo
Terjadi perubahan warna yakni warna merah muda dengan volume 6,9 ml

PERHITUNGAN
Diketahui : V1 = 8 ml
V2 = 9 ml
Jadi VolumeNaOH adalah
VNaOH = (V1 + V2)/2
= (6,4+6,9)/2
= 6,65 ml
MNaOH = 0,1 M
V1 = 10 ml
V2 = 10 ml
Jadi VolumeHCl adalah
VHCl = (V1 + V2)/2
= (10+10)/2
= 10 ml
Ditanyakan : MHCL = …?
Penyelesaian :
VNaOH x MNaOH = VHCl x MHCl
6,65 ml x 0,1 M = 10 ml x MHCl
0,665 mlM = 10 ml x MHCl
MHCl = (0,665 mlM)/(10 ml)
= 0,0665 M
Jadi konsentrasi HCl (MHCl) adalah 0,0665 M

PEMBAHASAN
Titrasi merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran.
Pada eksperimen ini langkah kerja yang dilakukan yaitu, membersihkan buret dengan berhati-hati untuk terjaminnya suatu pengeringan larutan yang merata di dalam permukaan dalamnya dan membilasnya dengan larutan NaOH yang akan dipakai sebanyak 3 kali (± 5 ml). Kemudian larutan NaOH dimasukkan ke dalam buret dengan menggunakan corong sampai volumenya melebihi skala nol pada buret, setelah itu volume NaOH diturunkan kembali sampai tepat pada skala nol.
Langkah selanjutnya yaitu memasukkan 10 ml larutan asam dalam hal ini yaitu larutan HCl, ke dalam labu erlenmeyer 250 ml. Kemudian ditambahkan 5 ml aquadest untuk membilas larutan yang menempel pada dinding labu erlenmeyer. Lalu ditambahkan 3 tetes phenoftalein ke dalam labu erlenmeyer tersebut. Selanjutnya melakukan titrasi dengan cara meneteskan NaOH yang berada di dalam buret secara perlahan tetes demi tetes ke dalam labu erlenmeyer. Hentikan titrasi pada saat warna larutan yang berada dalam labu erlenmeyer telah mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi adalah dari warna bening menjadi warna merah muda.
Langkah awal dilakukan kembali tetapi NaOH tidak dikeluarkan atau ditambahkan untuk mencapai titik pada skala nol. Labu erlenmeyer yang pertama digunakan sebagai standar untuk menentukan perubahan warna pada labu erlenmeyer yang kedua.
Mencatat volume NaOH yang diperlukan untuk mentitrasi larutan. Titrasi yang awal dilakukan volume NaOH yang diperlukan adalah 6.4 ml sedangkan pada titrasi yang kedua volume NaOH yang diperlukan adalah 6.9 ml. Untuk mengetahui besarnya konsentrasi larutan asam (HCl) dalam percobaan, maka langkah awal yang dilakukan adalah menjumlahkan kedua volume NaOH yang terpakai pada percobaan ini (pertama dan kedua) itu dibagi dua sehingga akan diperoleh volume rata-rata yang terpakai dalam percobaan. Hasil-hasil ini kemudian dimasukkan ke dalam rumus pengenceran yaitu:
VNaOH x MNaOH = VHCl x MHCl
Dimana VNaOH adalah volume NaOH rata-rata yang digunakan, MNaOH adalah konsentrasi yang digunakan yaitu 0,05 M, dan VHCl adalah volume HCl yang digunakan dalam percobaan yaitu sebesar 10 ml. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa besarnya konsentrasi HCl yang digunakan adalah sebesar 0,0665 M

TUGAS PASCA PRAKTIKUM
Dapatkah suatu indikator tertentu (Mis : Brom timol biru) digunakan untuk menentukan pH semua jenis larutan? Jelaskan aasannya
Hitung konsentrasi larutan HCL dan larutan NaOH dalam satuan :
Normalitas (N)
Molartitas (M)
Gram/liter
Jawaban :
Indikator Brom timol biru dapat digunakan untuk menentukan pH semua jenis larutan. Brom timol biru adalah asam dipotrik lemah dan mengalami perubahan warna dalam dua selang pH salah satu selang pH ialah dari 1,2 ke 2,8 dan perubahan warna dari merah menjadi kuning, selang lain ialah dari pH 8,0 ke 9,6 dengan perubahan warna kuning menjadi biru.
Dik : [ NaOH ] = 0,05 M, V = 15,3 mL , Mr = 40
[ HCl ] = 0,1 M , V = 10 mL , Mr = 36,5
Dit : a. Normalitas ( N ) ..........?
b. Molaritas (M)...............?
c. Gr / L...........?
peny :
a) N. NaOH = m.ekivalen
= 0,05 N
N.HCl = m ekivalen
= 0,1 N
c) Gr/L NaOH = 2000 Gr/L
Gr/L HCl = 3650 Gr/L

KESIMPULAN
Titrasi merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran.
Jika asam ditetesi basa, maka pH larutan naik, sebaliknya jika larutan basa ditetesi asam maka pH larutan akan turun.
Larutan standar adalah larutan yang disiapkan dengan cara menimbang secara akurat suatu zat yang memiliki kemurnian tinggi dan melarutkannya dengan sejumlah tertentu pelarut dalam labu ukur. Larutan standar yang dipersiapkan dengan cara seperti ini disebut sebagai larutan standart primer, sedangkan larutan standar yang kemolarannya ditetapkan dengan larutan standar primer disebut sebagai larutan standar sekunder. Sebelum digunakan dalam percobaan, buret harus dibilas dengan larutan yang akan dimasukkan agar tidak terdapat cairan/ zat-zat lain yang masih tersisa di dalam buret, sehingga buret bersifat netral.
Titik ekivalen merupakan keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa.
Titik akhir titrasi adalah titik dalam titrasi yang ditandai dengan perubahan warna indikator.
Perubahan pH dalam titrasi asam basa disebut kurva titrasi.

KEMUNGKINAN KESALAHAN
Kemungkinan kesalahan yang terjadi :
Kurang telitinya dalam melakukan proses titrasi.
Kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indikator.

DAFTAR PUSTAKA
Belajarkimia. 2008. Titrasi Asam Basa. (On-Line) http://belajarkima.com/2008/4/titrasi-asam-basa diakses pada tanggal 27 Mei 2012
Day, R. A. 1990. Analisis Kimia Kuantitatif edisi keempat. Jakarta : Erlangga
Team Teaching. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Dasar II. Gorontalo: UNG

 

LAPORAN LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

12 August 2016 10:28:27 Dibaca : 112

MODUL II

A. Judul :
Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

B. Tujuan :
- Mengelompokan beberapa macam larutan kedalam larutan elektrolit dan elektrolit.

C. Dasar Teori
Berdasarkan daya hantar listrik, larutan dapat digolongkan kedalam larutan elektrolit kuat, elektrolit lemah dan larutan non elektrolit. Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan kuat, ditandai oleh lampu listrik yang menyalah dengan terang dan memiliki gelembung yang banyak. Hal ini akibat dari zat terlarut terurai sempurna menjadi ion-ionnya. Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang menghantarkan arus listrik tetapi agak lemah, ditandai dengan nyala lampu listrik yang redup. Hal ini dari zat yang dilarutkan hanya terurai sebagian didalam pelarut. Sedangkan dalm larutan non elektrolit tidak dapat menghanantarkan arus listrik, sebagai akibat zat terlarut tidak terurai menjadi ion-ionnya, melainkan hanya menjadi molekul-molekulnya.
Telah disebutkan bahwa dalam kelompok elektrolit termasuk zat-zat yang disebut asam, basa dan garam.
1. Asam
Asam adalah elektrolit larutan yang dalam larutannya rasanya masam. Ada suatu cara untuk mengenal asam yaitu denghan menggunakan kertas lakmus. Jika kertas lakmus biru dikenakan pada zat asam, maka warnanya akan berubah warna menjadi merah. Cirri khas asam adalah larutan zat itu mengion menjadi ion hydrogen yang bermuatan positif (H+) dan ion lain bermuatan negative. Ion H+ inilah yang sebenarnya membawah sifat asam dan menyebabkan warna lakmus biru menjadi merah. Jadi, asam adalah senyawa hydrogen yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion H+. asam yang dalam larutan banyak menghasilkan H+ disebut asam kuat, sedangka asam yang sedikit ion H+ disebut asam lemah.
2. Basa
Basa adalah senyawa yang dalam larutan rasanya agak pahit dan kalau kena larut terjadi sesuatu seperti lendir. Cirri khas dari basa adalah dalam rumus kimianya terdapat gugus hidroksil (-OH) yang dalam larutannya dapat dilepaskan sebagai ion hidroksida yang bermuatan negative (OH). Ion hidroksida inilah yang sebenarnya pembawa sifat basa.
3. Garam
Jika larutan asam dan basa dicampur dalam perbandingan yang tepat sifat asam dan sifat basa, dua macam larutan itu dapat saling meniadakan. Reaksi yang terjadi pad pencampuran larutan HCl dan larutan NaOH adalah jika larutan itu airnya diuapkan sampai kering maka sisanya ialah suatu zat padat yang disebut Natrium Klorida (NaCl). Natrium Klorida ialah suatu garam.

D. Alat dan Bahan
• Alat
1. Alat uji elektrolit

Alat uji elektrolit berfungsi untuk menguji apakah larutan tersebut terdapat elektrolit.
2. Gelas Kimia 200 mL 2 buah

Gelas kimia berfungsi sebagai wadah untuk melarutkan larutan dalam air.
3. Botol semprot 1 buah
• Bahan
1. Garam Dapur
a. Sifat fisik : mudah hancur, larut dalam air dan tidak bisa melewati selaput semipermeabel
b. Sifat kimia : pH-nya netral dan merupakan elektron kuat karena terionisasi pada air.
2. Air Gula
a. Sifat fisik : berbentuk butiran kasar dan berbentuk Kristal putih.
b. Sifat kimia : bersifat manis
3. Air Ledeng
a. Sifat fisik : tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau
b. Sifat kimia : tidak mengandung logam berat, mempunyai pH = 7
4. Air Mineral
a. Sifat Fisik : zat cair bening, tidak berbau, tidak berwarna, titik didih 100ï‚°C, titik beku 0ï‚°C, indeks bias = 1,332.
b. Sifat Kimia : bersifat polar, pelarut yang baik untuk berbagai macam zat.
5. Air Teh
a. Sifat fisik : berbentuk daun-daun kecil
b. Sifat kimia : tidak dapat te rlarut dalam air
6. Cuka
a. Sifat Fisik : cairan kental jernih, berbau menyengat, Densitas = 1,049 , titik leleh 16,7ï‚°C , titik didih 118,5ï‚°C
b. Sifat Kimia : asam lemah, dihasilkan melalui fermentasi alkohol oleh bakteri acetobakter

E. Prosedur Kerja
 Larutan Garam

 Air Gula

 Air Ledeng

 Air Mineral

 Air Teh

 Cuka

F. Hasil Pengamatan

No
Bahan
Perlakuan
Hasil Uji
1 Larutan Garam • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik

• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warnanya menjadi biru muda dan mengkeruh
• Warnanya menjadi kuning dan terdapat gelembung
• Warnanya menjadi orange dan terdapat banyak gelembung pada elektroda negatif
• Nyala lampunya terang dan mempunyai gelembung yang sangat banyak dan termasuk dalam elektrolit kuat
2 Cuka • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik

• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warna larutannya bening

• Warna larutannya tetap bening

• Terdapat sedikit gelembung pada elektroda negatif, dan tidak ada nyala lampu
• Lampu tidak menyala dan mempunyai sedikit gelembung serta termasuk pada elektrolit lemah
3 Air ledeng • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik

• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warna larutannya bening

• Warnanya tetap bening

• Sedikit gelembung pada ekektroda negatif dan lebih sedikit dari gelembung cuka
• Tidak ada nyala lampu dan gelembungnya lebih sedikit dari cuka, termasuk elektrolit lemah
4 Air mineral • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik
• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warnanya bening

• Warnanya tetap bening

• Sedikit gelembung dibandingkan dari cuka dan air ledeng
• Tidak ada nyala lampu dan sedikit gelembung dibandingkan dari cuka dan air ledeng serta termasuk pada elektrolit lemah
5 Air Gula • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik

• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warna larutannya agak kekuning-kuningan
• Warnanya tetap kekuning-kuningan
• Sedikit gelembung pada elektrolit negatif dibandingkan dengan cuka, air ledeng, dan air mineral
• Tidak ada nyala lampu dan sedikit gelembung dibandingkan dengan cuka, air ledeng dan air mineral serta termasuk pada elektrolit lemah
6 Air teh • Memasukan ke dalam gelas kimia
• Mencelupkan elektroda
• Menghubungkan arus listrik

• Mengamati nyala lampu dan gelembung • Warna larutannya merah kecoklatan
• Warna larutannya tetap merah kecoklatan
• Sedikit gelembung pada elektroda negatif dibandingkan dengan cuka, air ledeng, air mineral dan air gula
• Tidak ada nyala lampu dan sedikit gelembung dibandingkan dengan cuka, air ledeng, air mineral, dan air gula serta termasuk pada elektrolit lemah

G. Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan yaitu dengan masing-masing larutan uji dengan alat uji elektrolit dan mengamati ada/ tidaknya nyala lampu dan gelembung-gelembung, maka beberapa larutan uji tersebut digolongkan kedalam dua golongan yaitu, larutan elektrolit kuat, larutan elektrolit lemah.
Dalam percobaan ini kita menggunakan enam sampel/ bahan yaitu, larutan garam, air gula, air ledeng, air mineral, air teh dan cuka. Keenam sampel ini akan diuji berdasarkan sifat larutannya, apakah bisa menghantarkan listrik atau justru sebaliknya.
 Larutan elektrolit kuat
Elektrolit kuat yaitu zat-zat yang seluruhnya dapat terurai dalam air menjadi ion-ion (terionisasi sempurna). Jadi, larutan elektrolir kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Dalam pengujian elektrolit ini, yang terbukti bersifat elektrolit kuat yaitu sampel larutan garam yang dilakukan pada percobaan pertama. Reaksi ionisasi elektrolit kuat merupakan reaksi berkesudahan. Dalam larutan tidak ada lagi molekul elektrolit yang netral. Semuanya telah diubah menjadi ion-ion.
NaCl  Na+ + Cl-
Dari beberapa macam sampel yang akan diuji pada percobaan ini, hanya larutan garam pekat yang merupakan larutan elektrolit kuat yang ditandai dengan nyala lampu terang dan mempunyai gelembung pada katoda. Hal ini disebabkan karena zat terlarut NaCl memang merupakan senyawa ion. NaCl yang dilarutkan dalam air akan membentuk ikatan antara ion positif dan ion negatif terputus dan ion-ion akan tersebar dan bergerak bebas didalam larutan :
Na+ + Cl-(s)+ air  Na+(aq)+ Cl-(aq)
 Larutan elektrolit lemah
Elektrolit lemah yaitu zat-zat yang seluruhnya tidak dapat terurai dalam air dan menjadi ion-ion. Jadi larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik tetapi agak lemah karena zat-zat yang terlarut hanya terurai sebagian menjadi ion-ion.
Pada percobaan kedua air cuka, didapatkan bahwa dari hasil percobaan air cuka yang dicelupkan elektroda ke dalamnya dan dihubungkan dengan sumber arus searah, ternyata bola lampu tidak menyala. Hal ini karena zat (cuka) tidak mempunyai kecenderungan untuk mengalami perionan, apabila dilarutkan dalam air. Molekul-molekul cuka hanya bercampur dengan molekul-molekul air dan menghasilkan larutan yang tidak mengandung ion sehingga bola lampu tidak menyala karena cuka tidak bereaksi dengan air. Maka larutan air cuka merupakan golongan larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik dan hanya mempunyai gelembung yang sedikit pada elektroda negatif serta air cuka termasuk pada larutan elektrolit lemah.
Pada percobaan selanjutnya atau percobaan yang ketiga, yaitu air ledeng yang dihubungkan dengan sumber arus searah dimana harus dicelupkan terlebih dahulu elektroda ke dalam larutan-larutan tersebut dan didapatkan bahwa bola lampu tidak menyala. Ini berarti air ledeng merupakan larutan elektrolit lemah karena tidak dapat menghantarkan arus listrik dengan sempurna yang ditandai dengan bola lampu yang tidak menyala pada saat elektroda dicelupkan dan dihubungkan dengan sumber arus searah (baterai) dan hanya menghasilkan sedikit gelembung pada elektroda negatif dan pada elektroda positif tidak ada gelembung dibandingkan dengan cuka.
Pada percobaan selanjutnya yakni percobaan air mineral, dimana kedua elektroda dicelupkan ke dalam larutan (air mineral) dan dihubungkan dengan sumber arus searah (baterai) bola lampu tidak menyala dan hanya sedikit gelembung gas yang nampak dibandingkan dengan cuka dan air ledeng, hal ini disebabkan karena air merupakan penghantar listrik yang sangat jelek, sehingga air mineral tidak dapat menghantarkan aliran listrik (hanya terdiri dari molekul-molekul air dan tidak terdapat atau tidak menghasilkan ion-ion) dengan demikian air mineral dimasukkan dalam kategori larutan elektrolit lemah.
Selanjutnya percobaan pada air gula, didapatkan hasil yang sama, dimana ketika dua buah elektroda dicelupkan ke dalam larutan air gula dan dihubungkan dengan sumber arus searah (baterai) ternyata bola lampunya juga tidak menyala dan sedikit gelembung pada elektroda negatif dibandingkan dengan cuka, air ledeng, dan air mineral. Hal ini dikarenakan molekul-molekul gula hanya bercampur dengan molekul-molekul air dan menghasilkan larutan yang tidak mengandung ion sehingga bola lampu tidak menyala karena gula tidak bereaksi dengan air dengan demikian air gula dikategorikan dalam larutan elektrolit lemah.
Selanjutnya pada percobaan yang terkahir yakni air teh, didapatkan bahwa dari hasil percobaan air teh yang dicelupkan dengan elektroda ke dalamnya dan dihubungkan dengan sumber arus searah, ternyata bola lampu tidak menyala dan terdapat sedikit gelembung pada elektroda negatif dibandingkan cuka, air ledeng, air mineral, air gula. Hal ini dikarenakan, larutan ini tidak mempunyai kecenderungan untuk mengalami pengionan, apabila dilarutkan dalam air. Molekul-molekul teh hanyalah bercampur dengan molekul-molekul air yang menghasilkan larutan, akan tetapi larutan tersebut tidak mengandung ion apapun karena zat terlarutnya (teh) tidak bereaksi dengan air. Karena itu larutan air teh tidak menghasilkan atau tidak menghantarkan arus listrik karenanya larutan air teh ini termasuk dalam larutan non elektrolit.
Dari percobaan-percobaan berbagai larutan, selain mengamati nyala lampu juga mengamati gelembung-gelembung gas yang terjadi, gelembung-gelembung gas ini merupakan gelembung gas O2 (oksigen) yang dilepaskan. Apabila gelembung-gelembung gas yang dihasilkan disekitar elektroda sangat banyak berarti larutan yang sedang diuji merupakan larutan elektrolit kuat yang dapat menyalakan bola lampu, seperti yang terjadi pada larutan NaCL dalam air. Akan tetapi, untuk jenis larutan lain seperti cuka, air ledeng dan sebagainya, gelembung gas yang dihasilkannya hanya sedikit yang terdapat pada elektroda negatif. Sehingga yang berarti terjadi reaksi akan tetapi reaksi tersebut tidak dapat menyalakan lampu dikarenakan dalam larutan tersebut hanya ada molekul-molekul air, dan molekul-molekul zat terlarut yang tidak terurai menjadi ion-ion atau tidak mengalami proses ionisasi atau pengionan.
H. Tugas Pasca Praktikum
1. Sebutkan masing-masing 3 contoh elektrolit yang berikatan secara kovalen dan ion!
Jawaban :
1. 3 contoh elektrolit yang berikatan secara kovalen yaitu : dimana senyawa kovalen terbagi menjadi senyawa kovalen non polar misalnya : Cl2, Br2, CH4 dan kovalen polar misalnya : HCl, HBr, NH3, sedangkan 3 contoh elektrolit yang berikatan secara ion yaitu : NaCl, KCl dan NaOH.

I. Kesimpulan
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa :
- Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan listrik. Dalam percobaan ini untuk menguji elektrolit dan non elektrolit menggunakan sampel larutan garam, air gula, air ledeng, air mineral, air teh dan cuka.
- Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan kuat. Contohnya larutan garam.
- Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik tetapi agak lemah. Contohnya cuka, air ledeng, air mineral, air gula, dan air teh.

J. Kemungkinan Kesalahan
- Kurang telitinya praktikan dalam membandingkan reaksi yang terjadi pada setiap sampel.
- Kurang telitinya praktikan dalam mengamati apa yang terjadi.

K. Daftar Pustaka
Achmad, Hiska. 1996. Kimia Larutan. Bandung : Citra Aditya Bakti
Anshory, Irfan. 1999. Penuntun Pelajaran Kimia. Bandung : ganeca Exact
Pietersz, A.T. 2000. Ilmu Kimia 2. Jakarta : Depdikbud

 

LAPORAN PENURUNAN TITIK BEKU LARUTAN

12 August 2016 09:55:23 Dibaca : 217

MODUL I
JUDUL
“Penurunan Titik Beku Larutan”
TUJUAN
Menentukan konsentrasi suatu larutan berdasarkan titik beku dari percobaan.
Memahami pengaruh konsentrasi terhadap penurunan titik beku larutan
DASAR TEORI
Titik beku larutan ialah temperatur pada saat larutan setimbang dengan pelarut padatnya. Larutan akan membeku pada temperatur lebih rendah dari pelarutnya. Rumus-rumus penemtuan titik beku hanya berlaku apabila pada pembekuan yang memisah pelarut padat.
∆Tf=Kf.(1-k)m
Bila zat padatnya murni, berarti k = 0 sehingga
∆Tf=Kf.m
Bila zat padatnya tak murni, ada dua kemungkinan
Kalau zat padatnya lebih mudah larut dalam pelarut cair, k < 1, jadi 1 - k positif disini terjadi penurunan titik beku.
Kalau zat padatnya lebih mudah larut dalam pelarut padat, k > 1, jadi 1 – k negatif disini terjadi kenaikan titik beku.
(Sukardjo. 2004. Kimia Fisika. Jakarta : Rineka Cipta)
Solut yang tak menguap akan merendahkan tekanan uap larutan. Fenomena ini juga mempengaruhi sifat fisika lain dari larutan, terutama titik beku dan titik didihnya. Titik didih normal adalah suhu di mana tekanan uap dari cairan sama dengan 1 atm. Sedanngkan titik beku normal adalah suhu di mana garis kesetimbangan padat-cair akan berpotongan garis tekanan 1 atm
(Hiskia, Ahmad. 2005. Kimia Larutan. Jakarta : Bumi Aksara.)
Bila suatu zat terlarut yang tidak menguap dilarutkan dalam suatu pelarut, titik beku pelarut berkurang. Berkurangnya ∆Tf ditentukan sebagai :
∆Tf = (RTf2 ln⁡X2)/(∆H peleburan)
Jika ∆Tf tidak besar sekali dan larutan tersebut ideal.
∆H peleburan adalah panas peleburan molar dari pelarut, X2 adalah fraksi mol zat terlarut dan Tf adalah titik beku sebenarnya. Untuk larutan sangat encer dan yang bersifat ideal. Persamaan di atas menjadi lebih sederhana, yaitu :
∆Tf = Kf .m
Keterangan :
∆Tf = penurunan titik beku
Kf = tetapan penurunan titik beku molal atau tetapan krioskopik
m = kemolalan
Di mana Kf adalah konstanta penurunan titik beku dan dinyatakan sebagai :
Kf = (MRT^2)/(∆H lebur 1000)
Di mana M adalah bobot molekul pelarut, dan m adalah molalitas zat terlarut. Dengan bantuan penurunan titik beku, kuantitas seperti bobot molekul zat terlarut, aktivitas dan koefisien Aktivitas, konstanta disosiasi dari elektrolit lemah dan faktor vant hoff dapat ditentukan.
(Dogra, S.K. 2008. Kimia Fisik dan Soal-soal. Jakarta : UI Press).

Jadi dapat disimpulkan bahwa :
Pada tekanan tetap, kenaikan titik didih dan penurunan titik beku suatu larutan encer berbanding lurus dengan konsentrasi massa.
Larutan encer semua zat terlarut yang tidak mengion, dalam pelarut yang sama, dengan konsentrasi molal yang sama, mempunyai titik didih atau titik beku yang sama, pada tekanan yang sama.
Kf dapat diperoleh dari:
Penurunan data termodinamika
Eksperimen
Dari data termodinamika
K = (RT^2)/1000L
Dengan R adalah tetapan Gas, T adalah titik beku atau titik didih pelarut dalam skala Kelvin, dan L adalah kalor perubahan atau kalor penguapan per gram pelarut(Hiskia, Ahmad. 2005. Kimia Larutan. Jakarta : Bumi Aksara)

ALAT DAN BAHAN
Alat
No Alat Gambar Kategori Fungsi
1 Tabung reaksi 1 Untuk mereaksikan zat-zat kimia dalam bentuk larutan
2 Sendok makan 1 Untuk mengambil zat kimia dalam bentuk padatan
3 Gelas kimia
Plastik erlenmeyer 1 Sebagai wadah suatu larutan
4 Batang pengaduk 1 Untuk mengaduk bahan campuran
5 Piet tetes 1 Untuk mengambil larutan dalam jumlah seddikit
6 Gelas ukur 1 Untuk mengukur volume larutan
7 Termometer 1 Untuk mengukur suhu

Bahan
No Bahan Kategori Sifat fisik Sifat kimia
1 Aquadest Umum Tidak berwarna, tidak berbau, dan merupakan pelarut yang baik. Ph netral
2 Larutan NaCl Umum Larut dalam air, rasa asin, warna putih keruh dan bentuk larutan Ph netral, merupakan elektrolit kuat karena terionisasi sempurna
3 Garm dapur Umum Mudah larut, rasa asin, larut dalam air Ph netral, elektrolit kuat
4 Larutan urea Umum Titik lebur 1330 – 1360 , panas pembakaran 91,02 105 j/kg Dapat bereaksi dengan formalhidrat
5 Es batu Umum Berupa bongkahan dan mudah cair Tidak berbahaya

PROSEDUR KERJA


HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Hasil pengamatan
No Perlakuan Hasil pengamatan
1

2
3

4

5

6

7 Memasukkan butiran-butiran es batu kedalam labu erlenmeyer
Menambahkan 4 sendok makan garam dapur
Menambahkan larutan NaCl (B) sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi
Memasukkan tabung reaksi kedalam campuran pendingin
Mengaduk campuran pendingin sampai larutan dalam tabung reaksi mulai membeku
Mengeluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin
Mengukur suhu larutan NaCl B dalam tabung reaksi dengan menggunakan termometer

Campuran es mencair

Tf = -60C
1

2

3

4

5
Menambahkan larutan urea (B) sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi
Memasukkan tabung reaksi kedalam campuran pendingin
Mengaduk campuran pendingin sampai larutan dalam tabung reaksi mulai membeku
Mengeluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin
Mengukur suhu larutan urea B dalam tabung reaksi dengan menggunakan termometer

Tf = -40C
1

2

3

4

5 Menambahkan larutan NaCl (A) sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi
Memasukkan tabung reaksi kedalam campuran pendingin
Mengaduk campuran pendingin sampai larutan dalam tabung reaksi mulai membeku
Mengeluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin
Mengukur suhu larutan NaCl A dalam tabung reaksi dengan menggunakan termometer

Tf = -20C
1

2

3

4

5

Menambahkan larutan urea (A) sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi
Memasukkan tabung reaksi kedalam campuran pendingin
Mengaduk campuran pendingin sampai larutan dalam tabung reaksi mulai membeku
Mengeluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin
Mengukur suhu larutan urea A dalam tabung reaksi dengan menggunakan termometer

Tf = -10C
1

2

3

4

5 Menambahkan larutan aquadest sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi
Memasukkan tabung reaksi kedalam campuran pendingin
Mengaduk campuran pendingin sampai larutan dalam tabung reaksi mulai membeku
Mengeluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin
Mengukur suhu larutan aquadest dalam tabung reaksi dengan menggunakan termometer

Tf = 00C

Tf H2O = 00C
No Sampel Tf ∆Tf
NaCl Urea NaCl Urea
1 A -20C -10C 20C 10C
2 B -60C -40C 60C 40C

∆Tf NaCl A = Tf H2O – Tf NaCl A
= 00C – (-20C)
= 20C
∆Tf NaCl B = Tf H2O – Tf NaCl B
= 00C – (-60C)
= 60C
∆Tf urea A = Tf H2O – Tf urea A
= 00C – (-10C)
= 10C
∆Tf urea A = Tf H2O – Tf urea A
= 00C – (-40C)
= 40C
Perhitungan
Tf NaCl A = -20C – (-10C)
= 10C
Tf NaCl B = -60C – (-40C)
= 20C

Tf urea A = 20C - 10C
= 10C
Tf urea B = 60C - 40C
= 100C
∆Tf :
NaCl A
M = (∆Tf )/(kf.i)
M = (2^0 C)/(1,86 .i)
M = (2^0 C)/(1,86 )
M = 1,075
NaCl B
M = (∆Tf )/kf
M = (6^0 C)/1,86
M = 3,2
Urea A
M = (∆Tf )/kf
M = (1^0 C)/1,86
M = 0,54
Urea B
M = (∆Tf )/kf
M = (4^0 C)/(1,86 )
M = 2,2
MNaCl A = α . 1,075
= 1 . 1,075
= 1,1
MNaCl B = β . 3,2
=

Grafik

NaCl

Urea

Hubungan
Ion-ion dalam larutan elektrolit dapat dihasilkan dengan cara
Zat terlarut yang senyawa ion yang misalnya NaCl, kristal NaCl terdiri atas ion Na+ dan Ce-. Jika kristal dilarutkan dalam air maka ikatan antara ion positif dan ion negatif terputus dan on-ion itu akan tersebar dan bergerak bebas didalam larutan
Non elektrolit
Larutan ini tidak dapat menghantarkan listrik dengan baik karena larutan ini tidak terionisassio sempurna. Hal ini sebagai akibat zat terlarut tidak terurai menjadi ion-ion melainkan membentuk molekul-molekul hal ini menentukan bahwa urea merupakan larutan yang tidak terurai merata dan hanya membentuk molekul.

PEMBAHASAN
Keadaan dimana suhu pada p tertentu terjadi perubahabn wujud dari cair ke bentuk padat inilah yang disebut dengan titik beku. Penurunan titik beku larutan tergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam larutan. Oleh karena itu penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.
Pada percobaan pertama menentukan penurunan titik beku pelarut dalm NaCl. Pada saat butiran es batu dicampur dengan 4 sendok garam dapur maka es mulai mencair hal ini dikarenakan garam mempunyai sifat menurunkan titik leleh dari es batu. Kemudian pada larutan campuran ini dimasukkan tabung reaksi yang berisi sejumlah larutan yang berbeda jenis dan konsentrasi. Hal ini untuk membedakan penurunan titik bekunya. Yang pertama larutan NaCl dengan 2 konsentrasi bebeda dan menghasilkan pada larutan NaCl A -20C dan titik beku NaCl B adalah -60 C. Titik beku ini bebeda karena adanya perbedaan kobsentrasi dari kedua larutan ini, hal ini juga terjadi pada dua larutan urea yang memiliki konsentrasi yang berbeda titik beku untuk urea A adalah -20C urea B -40C. Dan untuk aquadest adalah nol derajat karena titik beku air menurut teori adalah nol drajat celcius. Untuk peredaan titik dari ketiga larutan dipengaruhi oleh jenis zat yang tergolong zat elektrolit dan yang non elektrolit.
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa penuruna titik beku dipengaruhi oleh konsentrasi larutan dan sifat dari larutan tersebut

Daftar Pustaka
Belajarkimia. 2012. Penyebab titik beku larutan. (On-Line) dapat di akses di http://belajarkimia.com/penyebab-titik-beku-larutan
Dogra, S.K. 2008. Kimia Fisik dan Soal-soal. Jakarta : UI Press
Hiskia, Ahmad. 2005. Kimia Larutan. Jakarta : Bumi Aksara.
Kimia.com. 2012. Penurunan titik beku larutan (On-Line) dapat diakses di http: //Kimia.com/penurunan-titik-beku-larutan
Sukardjo. 2004. Kimia Fisika. Jakarta : Rineka Cipta


Tugas pasca praktikum
Bagaimana titik beku masing-masing larutan, dibandingkan titik beku pelarut
Bagaimana pengaruh molalitas urea dan NaCl terhadap :
Titik beku larutan
Penurunan titik beku larutan
Pada molalitas yang sama, bagaimana pengaruh NaCl (zat elektrolit) dibandingkan dengan urea(zat non elektrolit) terhadap penurunan titik beku larutan
Bagaimana hubungan penurunan ttitik beku larutan dengan konsentrasi