AGROHIDROLOGI

02 February 2015 11:49:34 Dibaca : 1992

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR - DASAR AGRONOMI
“PEMUPUKAN PADA TANAMAN JAGUNG MANIS”
OLEH:
KELOMPOK 1

SARTIN LADIKU
613 413 012

 

PRODI S1 AGROTEKNOLOGI
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS ILMU-ILMU PERTANIAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan izin dan kuasa-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas Laporan Praktikum Dasar - Dasar Agronomi yang berjudul “Pemupukan Pada Tanaman Jagung Manis” sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Dalam penyusunan makalah ini, ada sedikit kendala yang penulis hadapi. Namun berkat kesabaran dan semangat, serta ridho dari Allah SWT, sehinggah tersusunlah makalah yang sederhana ini.
Penulis menyadari sesungguhnya dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah.

Gorontalo, Januari 2014

Kelompok 1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Tujuan .................................................................................................... 1
BAB II DASAR TEORI................................................................................... 2
2.1 Definisi jagung....................................................................................... 2
2.2 Bagian-Bagian Tanaman Jagung........................................................... 2
BAB III METODE PELAKSANAAN........................................................... 7
3.1 Waktu Dan Tempat................................................................................ 7
3.2 Alat Dan Bahan ..................................................................................... 7
3.3 Prosedur Kerja........................................................................................ 7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................... 8
4.1 Hasil....................................................................................................... 8
4.2 Pembahasan........................................................................................... 8
BAB V PENUTUP............................................................................................ 10
3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 10
3.2 Saran ..................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 11

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jagung merupakan tanaman semusim.Tanaman ini dapat tumbuh baik bila kebutuhan tanaman terpenuhi.Tanaman dalam kehidupannya memerlukan unsur hara agar dapat tumbuh lebih baik.Unusr hara dapat diperoleh dari dalam tanah yang berasal dari mineralisasi batuan induk maupun pelapukan bahan organik.Jumlah hara yang terkandung dalam tanah menunjukkan tingkat kesuburannya.Makin banyak jumlah unsur hara yang dibutuhkan tanaman, maka semakin subur tanah tersebut.
Didaerah yang memiliki kandungan hara sedikit, sehingga tidak tersedia bagi tanaman diusahakan agar unsur hara ditambah melalaui pemupukan.Pemupukan dilakukan dengan memberikan unsur hara kedalam tanah sehingga unsur hara tersebut tersedia bagi tanaman.
Pemberian pupuk sangat berpengaruh terhadap tanaman, terutama cara pemberiannya. Dalam praktik dilapangan pemberian pupuk dapat dilakukan dengan menugal, menyebar dan membuatnya dalam paritan. Ketiga cara pemberian ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu perlu dilakukan percobaan agar dapat dimengerti kekurangan dan kelebihan masing-masing cara tersebut.
Penanaman tanaman jagung dilapangan harus memperhatikan jarak tanaman.Jarak tanam maksimum akan berpengaruh negatif kepada tanaman, sedangkan jarak tanam minimum, akan akan berpengaruh negatif. Jarak tanam yang baik adalah jarak tanam optimum.
Penerapan jarak tanam, selain berpengaruh terhadap penyerapan unsur hara dan ketersediaannya,juga berpengaruh terhadap populasi tanaman. Jarak tanam yang berbeda akan berpengaruh terhadap populasi tanaman. Oleh karena itu dalam praktik ini diharapkan mahasiswa dapat menghitung atau memperkirakan populasi tanaman yang ada.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung yang menggunakan pupuk dengan tanaman jagung yang tidak menggunakan pupuk.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Definisi Jagung(zea mays)
Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan munculnya cabang anakan pada beberapa genotipe dan lingkungan tertentu.Siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari.Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.Batang jagung terdiri atas buku dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan satu sama lain. Bunga jantan terletak pada bagian terpisah pada satu tanaman sehingga lazim terjadi penyerbukan silang.Jagung merupakan tanaman hari pendek, jumlah daunnya ditentukan pada saat inisiasi bunga jantan, dan dikendalikan oleh genotipe, lama penyinaran, dan suhu.
Pemahaman morfologi dan fase pertumbuhan jagung sangat membantu dalam mengidentifikasi pertumbuhan tanaman, terkait dengan optimasi perlakukan agronomis. Cekaman air (kelebihan dan kekurangan), cekaman hara (defisiensi dan keracunan), terkena herbisida atau serangan hama dan penyakit akan menyebabkan tanaman tumbuh tidak normal, atau tidak sesuai dengan morfologi tanaman. Hasil dan bobot biomas jagung yang tinggi akan diperoleh jika pertumbuhan tanaman optimal. Untuk itu diperlukan pengelolaan hara, air, dan tanaman dengan tepat.Pengelolaan hara dan tanaman yang mencakup pemupukan (waktu dan takaran), pengairan, dan pengendalian gulma harus sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman.
2.2 Bagian – Bagian Dari Tanaman Jagung
a) Akar
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.

b) Batang
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum.Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset.Batang beruas-ruas.Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku.Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.

c) Daun
Daun jagung adalah daun sempurna.Bentuknya memanjang.Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula.Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun.Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut.Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae.Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas.Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.

d) Bunga
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious).Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebutfloret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence).Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas.Bunga betina tersusun dalam tongkol.Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun.Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina.Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik.Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).

2.2.1 Pertumbuhan Dan Perkecambahan
Secara umum jagung mempunyai pola pertumbuhan yang sama, namun interval waktu antartahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda. Pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu (1) fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai dengan pembengkakan biji sampai dengan sebelum munculnya daun pertama; (2) fase pertumbuhan vegetatif, yaitu fase mulai munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnya bunga betina (silking), fase ini diidentifiksi dengan jumlah daun yang terbentuk; dan (3) fase reproduktif, yaitu fase pertumbuhan setelah silking sampai masak fisiologis. Perkecambahan benih jagung terjadi ketika radikula muncul dari kulit biji. Benih jagung akan berkecambah jika kadar air benih pada saat di dalam tanah meningkat >30% (McWilliams et al. 1999). Proses perkecambahan benih jagung, mula-mula benih menyerap air melalui proses imbibisi dan benih membengkak yang diikuti oleh kenaikan aktivitas enzim dan respirasi yang tinggi. Perubahan awal sebagian besar adalah katabolisme pati, lemak, dan protein yang tersimpan dihidrolisis menjadi zat-zat yang mobil, gula, asam-asam lemak, dan asam amino yang dapat diangkut ke bagian embrio yang tumbuh aktif.Pada awal perkecambahan, koleoriza memanjang menembus pericarp, kemudian radikel menembus koleoriza.Setelah radikel muncul, kemudian empat akar seminal lateral juga muncul. Pada waktu yang sama atau sesaat kemudian plumule tertutupi oleh koleoptil. Koleoptil terdorong ke atas oleh pemanjangan mesokotil, yang mendorong koleoptil ke permukaan tanah.Mesokotil berperan penting dalam pemunculan kecambah ke atas tanah.
Ketika ujung koleoptil muncul ke luar permukaan tanah, pemanjangan mesokotil terhenti dan plumula muncul dari koleoptil dan menembus permukaan tanah.Benih jagung umumnya ditanam pada kedalaman 5-8 cm. Bila kelembaban tepat, pemunculan kecambah seragam dalam 4-5 hari setelah tanam.Semakin dalam lubang tanam semakin lama pemunculan kecambah ke atas permukaan tanah. Pada kondisi lingkungan yang lembab, tahap pemunculan berlangsung 4-5 hari setelah tanam, namun pada kondisi yang dingin atau kering, pemunculan tanaman dapat berlangsung hingga dua minggu setelah tanam atau lebih. Keseragaman perkecambahan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang tinggi.Perkecambahan tidak seragam jika daya tumbuh benih rendah. Tanaman yang terlambat tumbuh akan ternaungi dan gulma lebih bersaing dengan tanaman, akibatnya tanaman yang terlambat tumbuh tidak normal dan tongkolnya relatif lebih kecil dibanding tanaman yang tumbuh lebih awal dan seragam.

2.2.2 Syarat Tumbuh
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata.Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air.Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8%. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8%, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu.Ketinggian antara 1000-1800 mdpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 mdpl.
2.2.3 Teknik Budidaya Tanaman Jagung
1. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan alat tugal. Kedalaman lubang perlu di perhatikan agar benih tidak terhambat pertumbuhannya. Kedalaman lubang tanam antara: 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya, tanaman akan semakin tinggi dan memerlukan tempat yang lebih luas. Jagung 100 hari sejakberumur dalam/panjang dengan waktu panen ≥ penanaman, jarak tanamnya dibuat 40x100 cm (2 tanaman /lubang).

2. Pemeliharaan
1) Penjarangan dan Penyulaman
Dengan penjarangan maka dapat ditentukan jumlah tanaman per lubang sesuai dengan yang dikehendaki. Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman, sedangkan yang dikehendaki hanya 2 atau 1, maka tanaman tersebut harus dikurangi. Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting yang tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati.

2) Penyiangan
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu (gulma). Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda biasanya dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dan sebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah. Hal ini biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

3) Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan bertujuan untuk memperkokoh posisi batang, sehingga tanaman tidak mudah rebah. Selain itu juga untuk menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Caranya, tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang. Untuk efisiensi tenaga biasanya pembubunan dilakukan bersama dengan penyiangan kedua yaitu setelah tanaman berumur 1 bulan.

4) Pemupukan
Dosis pemupukan jagung untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea sebanyak 200-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCl sebanyak 50- 100 kg. Pemupukan dapat dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan dengan waktu tanam. Pada tahap kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 3-4 minggu setelah tanam. Pada tahap ketiga (pupuk susulan II), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 8 minggu atau setelah malai keluar.

5) Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab. Pengairan berikutnya diberikan secukupnya dengan tujuan menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

6) Waktu Penyemprotan Pestisida
Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang dapat membahayakan proses produksi jagung. Adapun pestisida yang digunakan yaitu pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat. Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh alami dan tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih efisien.

2.2.5 Panen
Hasil panen jagung tidak semua berupa jagung tua/matang fisiologis, tergantung dari tujuan panen. Seperti pada tanaman padi, tingkat kemasakan buah jagung juga dapat dibedakan dalam 4 tingkat: masak susu, masak lunak, masak tua dan masak kering/masak
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum dilakukan pada tanggal 24 November 2013, adapun tempat pelaksanaan di Kecamatan Tilongkabila.
3.2 Alat Dan Bahan
a. Alat
1. Cangkul
2. Tugalan
3. Ember
4. Parang
b.Bahan
 Benih jagung
 Pupuk urea
3.3 Prosedur Kerja
1. Pembersihan lahan
Pembersihan lahan dilakukan dengan cara manual yaitu mencabut gulma menggunakan tangan.
2. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah dilakukan dengan cara mencangkul tanah.
3. Setelah tanah diolah dan sudah terbentuk bedengan kemudian dilakukan penanaman.
4. Jarak tanam yang digunakan yaitu 50 cm X 50 cm.
5. Setelah tanaman jagung tumbuh kemudian dilakukan pangamatan yaitu mengukur tanaman jagung yang diberi pupuk dan tidak diberi pupuk.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Adapun hasil dari praktikum yaitu:

4.2 Pembahasan
Dari pengamatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung dibedakan dua fase yaitu: fase vegetatif dan fase generatif. Fase vegetatif dimulai dari fase kecambah dilanjutkan dengan fase vegetatif, akar batang daun yang cepat pada akhirnya pertumbuhan vegetatif menjadi lambat sehingga dinamai fase generatif, dalam fase vegatatif ini tanaman jagung membutuhkan banyak air. Fase generatif dinamai dengan pembentukan primordia.
Proses pembungaan yang mencakup pristiwa penyerbukan dan pembuahan. Penyerbukan yang terjadi pada tanaman jagung biasannya di bantu dengan angin, yaitu dengan cara menebarkan tepung sari kemudian menjatuhkan pada tangkai. Letak bunga jantan dan bunga betina tidak berada disatu tempat, bunga jantan pada ujung batang yang sedang berbunga, sedangkan bunga betina berada dipertengahan batang atau tongkol.
Variabel yang diamati yaitu:

1. Tinggi tanaman

Perlakuan dalam pemberian pupuk pada tanaman jagung dan tanpa pupuk pada tanaman jagung dapat menyebabkan terjadinnya perbedaan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini dapat terlihat pada tanaman jagung pada petak pertama tumbuh lebih tinggi dan subur dibandingkan dengan tanaman jagung pada petak kedua, itu terjadi karena pada petakan kedua terjadi persaingan dalam memenuhi kebutuhan akan unsur hara, air, cahaya, dan unsur hara lainnya.
Tanaman cenderung lebih tinggi pada petakan pertama karena persaingan yang terjadi tidak begitu besar, namun ada juga tanaman pada petak kedua yang kurang subur dibanding dengan tanaman pada petak pertama. Ini terjadi karena faktor –faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung seperti ketidakrataan dalam pemberian pupuk, ataupun kandungan unsur hara yang berbeda.

2. Jumlah Daun
Dari hasil pengamatan yang kami lakukan ternyata terdapat perbedaan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung, perbedaannya yaitu tanaman jagung yang diberi pupuk memiliki jumlah daun 10 helai dan yang tidak diberi pupuk memiliki jumlah daun 7 helai.
3. Panjang Tongkol
Dari hasil pengamatan ternyata memiliki perbedaan yaitu Pada tanaman jagung yang diberi pupuk memiliki satu buah tongkol dengan panjang 20 cm dan pada tanaman jagung yang tidak diberi pupuk tidak memilki buah.

BAB V
PENUTUP
5.1 simpulan
Tanaman jagung adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan munculnya cabang anakan pada beberapa genotipe dan lingkungan tertentu, bahwa tanaman jagung selain sebagai pengganti padi dan sagu yang digunakan untuk makanan pokok, tanaman jagung juga mengandung banyak manfaat, tanaman jagung juga dapat dimanfaatkan bagian-bagiannya dari akar sampai buahnya juga.
Dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan ternyata ada perbedaan pada pertumbuhan
dan perkembangan tanaman jagung yang diberi pupuk dan tanaman jagung yang tidak diberikan pupuk. Perbedaannya yaitu pada tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang tongkol.

5.2 Saran
Saran penulis yaitu sebaiknya lahan praktikum diberi pelindung agar hewan – hewan tidak bisa masuk pada lahan tersebut agar tidak merusak tanaman yang akan kami amati.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim a, 2012. Deskripsi Jagung. http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung#Klasifikasi. Diakses 13 november 2013
Rochani Siti, 2007. Bercocok Tanam Jagung. Penebar swadaya.
Afriani, Kartika, 2005, Tinjauan Budidaya, Panen dan Pasca Panen Tanaman Jagung.