Sistem Activity-Based Costing

25 September 2013 13:40:51 Dibaca : 75

Sistem Activity-Based Costing

Konsep Dasar

Manajer Keuangan disetiap UKM memanfaatkan informasi berdasar aktivitas untuk pembuatan keputusan bisnis, memiliki pengetahuan dan data yang diperlukan untuk mendukung pengembangan dari informasi berdasar aktivitas, menimbang dan memutuskan apakah informasi berdasar aktivitas selalu lebih baik daripada informasi biaya rata-rata.

Analisa Kompetensi

Manajer Keuangan disetiap UKM berkompeten dalam menguraikan bagaimana penetapan biaya tradisional bisa mendorong kearah produk undercosting atau produk overcosting, mendiskusikan empat cara dalam sistem activity-based costing ((a) mengidentifikasi tingkat perbedaan sumber daya dan aktivitas yang digunakan dalam proses produksi. (b). menaksir biaya aktivitas dan mengkalkulasi suatu tingkat tarip cost driver.(c) membebankan biaya-biaya aktivitas pada jasa dan barang-barang.(d). menganalisa profitabilitas pelanggan dan produk.).Menerapkan activity-based costing untuk jasa dan perdagangan. Membedakan antara activity-based costing, unit level costing, dan ABC full costing untuk jasa dan barang..

Kontribusi terhadap Ketahanan Ekonomi Desa

A.Activity-based costing (ABC) adalah suatu sistem penetapan biaya yang membebankan biaya-biaya berdasar pada bagaimana pekerjaan dilakukan dalam suatu UKM dan didasarkan pada kebutuhan secara terus-menerus ketersediaan perangsang untuk peningkatan. Menggunakan rantai nilai untuk mengikuti aliran biaya-biaya dan aktivitas sehingga menyediakan suatu landasan yang bermanfaat dimana biaya-biaya dapat dikenali, digolongkan, dan dilacak. Secara khas, rantai nilai adalah satu kumpulan proses yang berhubungan yang mengalir didalam suatu urutan logis. Hal ini bermanfaat, didalam suatu sistem ABC untuk mebedakan proses ini ke dalam dua kategori- proses produksi dan proses bisnis.

B.Proses yang berbeda didalam suatu UKM dengan menggunakan sumber daya dengan cara yang berbeda.

C.Satu cara yang sangat bermanfaat untuk menilai kebutuhan akan sumber daya dan mengevaluasi penggunaan sumber daya adalah untuk menggolongkannya berdasar pada hirarki. Ada lima hirarki sumber daya.

D.Pengarah biaya dapat menjadi baikpengarah biaya struktural maupunexecutional cost drivers.

E.Aktivitas yang berhubungan dengan masing-masing dari lima jenis sumber daya diuraikan berikutnya. Satu catatan tentang aktivitas ini – sumber daya tingkat yang lebih tinggi mungkin digunakan untuk melaksanakan aktivitas tingkat yang lebih rendah. Sebagai contoh, sumber daya facilities-level mungkin digunakan untuk melaksanakan aktivitas customer-level.

F.Pelacakan sumber daya menjadi aktivitas dapat dipecah menjadi dua langkah. Langkah 1 adalah pengusutan penggunaan sumber daya pada biaya-biaya aktivitas. Langkah 2 membebankan biaya-biaya pada produk dan jasa.

G.Langkah 1 dapat dibagi menjadi empat langkah. Yaitu ( 1) mengidentifikasi dan menggolongkan aktivitas; ( 2) memilih basis cost-driver; ( 3) mengukur biaya aktivitas per unit dari cost-driver base; dan ( 4) melacak biaya-biaya pada aktivitas.

H.Langkah kedua dalam proses pembebanan biaya-biayaadalah dengan menggunakan daftar aktivitas dan penggolongan aktivitas yang diperoleh didalam Langkah 1 untuk mengembangkan cost-driver rate. Seperti kasus dengan Langkah 1, langkah ini dapat diterobos dalam beberapa langkah. ( 1) Meringkas daftar aktivitas yang dikembangkan didalam Langkah 1. Daftar perlu diuraikan kedalam kategori yang lebih luas. ( 2) Memilih basis cost-driver yang sesuai untuk digunakan didalam pembebanan biaya-biaya yang dari aktivitas yang dipadatkan. ( 3) Mengidentifikasi biaya-biayaaktivitas yang diidentifikasi dari daftar yang dipadatkan. ( 4) Menghitung tingkat tarip untuk masing-masing dasar cost-driver yang diidentifikasi.

I.Menggunakan pendekatan activities-based mengakibatkan pembebanan biaya yang mencerminkan biaya-biaya produk yang benar. Hal ini berlawanan dengan pendekatan penetapan biaya yang lebih tradisional yang menerapkan biaya-biaya yang lebih umum pada berbagai produk.

J.Pelacakan biaya-biaya aktivitas ke produk dan jasa. Sekali ketika tingkat tarip cost-driver dikembangkan, biaya-biaya dapat dibebankan ke produk dan jasa. Sebelum biaya-biaya dapat dibebankan, seorang Manajer Keuangan UKM harus memutuskan apakah untuk membebankan menggunakan unit-level ( throughput) pendekatan ABC atau pendekatan ABC full-costing.

K.Analisa profitabilitas produk dan pelanggan adalah penting sebab mengijinkan para Manajer Keuangan untuk memutuskan produk dan pelanggan yang mana yang menguntungkan. Jenis analisa ini menunjuk ke pertanyaan mengenai produk yang mana yang harus dibatalkan ( atau ditambahkan) dan pelanggan yang mana yang menciptakan boros biaya? Apakah beberapa pelanggan menimbulkan biaya-biaya ekstra?

KONSEP DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAJEMEN

25 September 2013 13:38:39 Dibaca : 126

KONSEP DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAJEMEN

Manajemen membutuhkan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan mereka. Sistem informasi mempunyai peranan yang penting dalam menyediakan inf untuk manajemen setiap tingkatan. Tiap2 kegiatan dan keputusan manajemen yg berbeda membutuhkan informasi yang berbeda. Oleh karena itu untuk dpt menyediakan informasi yg relevan dan berguna bagi manajemen, maka pengembang system informasi hrs memahami terlebih dahulu kegiatan yang dilakukan oleh manajemen dan tipe keputusannya.

TIPE KEGIATAN MANAJEMEN

Kegiatan manajemen dihubungkan dengan tingkatannya didalam organisasi dibagi menjadi 3 bagian :

Perencanaan strategic : merupakan kegiatan manajemen tingkat atas, sebagai proses evaluasi lingkungan luar organisasi, penerapan tujuan organisasi, dan penentuan strategi-strategi.

= Proses evaluasi lingkungan luar organisasi : Lingkungan luar dapat mempengaruhi jalannya organisasi, oleh karena itu manajemen tingkat atas hrs pandai mengevaluasinya, hrs dpt bereaksi thd kesempatan2 yg diberikan oleh lingkungan luar, misal produk baru, pasar baru. Selain itu manajemen tingkat atas hrs tanggap terhadap tekanan2 dari lingkungan luar yg merugikan organisasi dan sedapat mungkin mengubah tekanan menjadi kesempatan.

= Penetapan tujuan adalah apa yg igin dicapai oleh organisasi berdasarkan visi yg dimiliki oleh manajemen. Misalnya tujuan perusahaan adalah dlm waktu 5 thn menjadi penjual terbesar didalam industri dgn menguasai 60% pasar.

= Penentuan strategi : Manajemen tkt atas menentukan tindakan2 yg hrs dilakukan oleh organisasi dengan maksud untk mencapai tujuan2nya. Dengan strategi semua kemampuan yg berupa sumberdaya2 dikerahkan supaya tujuan organisasi dapat diraih.

Pengendalian manajemen : system untuk meyakinkan bahwa organisasi telah menjalankan strategi yg sudah ditetapkan secara efektif dan efisien. Ini merupakan tingkatan taktik(tactical Level), yaitu bagaimana manajemen tingkat menengah menjalankan taktik supaya perencanaan strategi dapat dilakukan dengan berhasil. Taktik yg dijalankan biasanya bersifat jangka pendek ± 1 thn.

Proses pengendalian manajemen terdiri dari : pembuatan program kerja, penyusunan anggaran, pelaksanaan dan pengukuran, pelaporan dan analisis.

Pengendalian operasi : Sistem untuk meyakinkan bahwa tiap-tiap tugas tertentu telah dilaksanakan secara efektif dan efisien. Ini merupakan penerapan program yang telah ditetapkan di pengendalian manajemen.Pengendalian operasi dilakukan dibawah pedoman proses pengendalian manajemen dan difokuskan pada tugas2 tingkat bawah.

TIPE KEPUTUSAN MANAJEMEN

Pengambilan keputusan ( Decision making) : adalah tindakan manajemen dalam pemilihan alternative untuk mencapai sasaran.

Keputusan dibagi dalam 3 tipe :

Keputusan terprogram/keputusan terstruktur : keputusan yg berulang2 dan rutin, sehingga dapt diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pd manjemen tkt bawah. Co:/ keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang,dll.

Keputusan setengah terprogram / setengah terstruktur : keputusan yg sebagian dpt diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tdk terstruktur. Keputusan ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan2 serta analisis yg terperinci. Co:/ Keputusan membeli sistem komputer yg lebih canggih, keputusan alokasi dana promosi.

Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : keputusan yg tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tdk terstruktur tdk mudah untuk didapatkan dan tdk mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yg sangat penting didalam pengambilan keputusan tdk terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain adalah contoh keputusan tdk terstruktur yg jarang terjadi.

TIPE INFORMASI

Sistem informasi sekarang peranannya tdk hanya sebagai pengumpul data dan mengolahnya menjadi informasi berupa laporan2 keuangan saja, tetapi mempunyai peranan yg lebih penting di dalam menyediakan informasi bagi manajemen untuk fungsi2 perencanaan, alokasi2 sumber daya, pengukuran dan pengendalian. Laporan2 dari sistem informasi memberikan informasi kepada manajemen mengenai permasalahan2 yg terjadi didalam organisasi untuk menjadi bukti yg berguna didalam menentukan tindakan yg diambil. Sistem informasi menyediakan 3 macam tipe informasi :

Informasi pengumpulan data (Scorekeeping information) : informasi yang berupa akumulasi atau pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan. Berguna bagi manajer bawah untuk mengevaluasi kinerja personil-personilnya.Informasi Pengarahan perhatian (attention directing information) : membantu manajemen memusatkan perhatian pada masalah-masalah yg menyimpang, ketidakberesan. Informasi ini membantu manajemen menengah untuk melihat penyimpangan2 yg terjadi.Informasi Pemecahan masalah (Problem Solving information) : informasi untuk membantu para manajer atas mengambil keputusan memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Problem solving biasanya dihubungkan dgn keputusan yg tidak berulang-ulang serta situasi yg membutuhkan analisis yg dilakukan oleh manajemen tingkat atas.

KARAKTERISTIK INFORMASI

Untuk mendukung keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen, maka manajemen membutuhkan informasi yg berguna. Untuk tiap2 tingkatan manajemen dengan kegiatan yg berbeda-beda, dibutuhkan informasi yg berbeda-beda pula, karakteristik informasi ini antara lain :

Kepadatan Informasi : untuk manajemen tingkat bawah, karakteristik informasinya adalah terperinci(detail) dan kurang padat, krn terutama digunakan untuk pengendalian operasi. Sedang untuk manajemen yg lebih tinggi tingkatannya, mempunyai karakteristik informasi yg semakin tersaring(terfilter), lebih ringkas dan padat.

Luas Informasi : manjemen bawah karakteristik inf. Adalah terfokus pada suatu masalah tertentu, krn digunakan oleh manajer bawah yg mempunyai tugas yg khusus. Untuk manajer tingkat tinggi, karakteristik inf yg semakin luas, karena manajemen atas berhubungan dengan masalah yg luas.

Frekuensi informasi : Manajemen tingkat bawah frekuensi inf yg diterimanya adalah rutin, krn digunakan oleh manajer bawah yg mempunyai tugas yg terstruktur dgn pola yg berulang2 dari waktu ke waktu. Manajem tingkat tinggi, frekuensi informasinya adalah tidak rutin atau adhoc (mendadak), krn manajemen atas berhubungan dengan pengambilan keputusan tdk terstruktur yg pola dan waktunya tdk jelas.Waktu Informasi : Manajemen tingkat bawah, inf yg dibutuhkan adalah if historis, krn digunakan oleh manajer bawah di dalam pengendalian operasi yg memeriksa tugas2 rutin yg sudah terjadi. Untuk manajemen tingkat tinggi, waktu inf lebih ke masa depan berupa inf prediksi krn digunakan untuk pengambilan keputusan strategik yg menyangkut nilai masa depan.

Akses Informasi : Level bawah membutuhkan inf yg periodenya berulang2, sehingga dapat disediakan oleh bagian sistem inf yg memberikan dalam bentuk laporan periodik. Dengan demikian akses inf tdk dapat secara on line, tetapi dapat secara off line. Sebaliknya untuk level lebib tinggi, periode inf yg dibutuhkan tdk jelas, sehingga manajer2 tingkat atas perlu disediakan akses on line untuk mengambil inf kapan pun mereka membutuhkan.

Sumber Informasi : Karena manajemen tingkat bawah lebih berfokus pd pengendalian internal perusahaan, maka manajer2 tingkat bawah lebih membutuhkan inf dgn data yg bersumber dari internal perusahaan sendiri, tetapi manajer tingkat atas lebih berorientasi pada masalah perencanaan strategik yg berhubungan dengan lingkungan luar perusahaan, shg membutuhkan inf dgn data yg bersumber pd eksternal perusahaan.

PERAN MANAJEMEN, menurut Henry MintzbergPeran Interpersonal : peran hubungan personal dapat terdiri dari : = figur kepala (figur head) : manajer mewakili organisasi

untuk kegiatan2 diluar organisasi.

=pemimpin(leader) : manajer mengkoordinasi, mengendalikan, memotivasi, dan mendukung bawahan-

bawahannya.

= penghubung (liaison) : manajer menghubungkan

personal2 di semua tingkatan manajemen.

Peran Informational : peran dari manajer sebagai pusat syaraf (nerve center) organisasi untuk menerima informasi yg paling mutakhir dan sebagai penyebar ( disseminator) informasi keseluruh personal di organisasi. Peran informasi lainnya adalah manajer sebagai juru bicara (spokesman) untuk menjawab pertanyaan2 tentang informasi yg dimilikinya.

Peran decisional : yang dilakukan oleh manajer adalah sebagai entreprenuer, sebagai orang yg menangani gangguan, sebagai orang yg mengalokasikan sumber2 dayaorganisasi, dan sebagai negosiator jika terjadi konflik di dalam organisasi.

TAHAPAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Simon (1960) memperkenalkan empat aktivitas dalam proses pengambilan keputusan :

Intelligence : Pengumpulan informasi untuk mengidentifikasikan permasalahan.Design : Tahap perancangan solusi dalam bentuk alternatif2 pemecahan masalah.Choice : Tahap memilih dari solusi dari alternatif2 yg disediakan.Implementation : Tahap melaksanakan keputusan dan melaporkan hasilnya.

Rumus Rasio Keuangan

25 September 2013 13:38:04 Dibaca : 216

Rumus Rasio Keuangan

Analisis laporan keuangan memerlukan ukuran yang biasa disebut dengan istilah rasio. Rasio memiliki pengertian alat yang dinyatakan dalam arithmetical terms yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan dua macam data fincancial. Terdapat banyak rasio analisis yang dapat dibuat menurut kebutuhan penganalisa, namun secara umum dalam beberapa literatur dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu :

1. RASIO LIKUIDITAS

Rasio likuiditas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban financial jangka pendek. Rasio likuiditas dapat dihitung berdasarkan informasi modal kerja pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar. Beberapa jenis rasio likuiditas dan rumus perhitungannya dapat dilihat sebagai berikut :

Current Ratio

Current ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Rumus untuk menghitung current rasio adalah sebagai berikut :

Current Ratio = Aktiva Lancar / Kewajiban Lancar

Cash Ratio atau Ratio of Immediate Solvency

Cash Ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih liquid (liquid assets). Rumusannya adalah sebagai berikut :

Cash Ratio = (Kas + Efek )/Kewajiban Lancar

Quick Ratio atau Acid Test Ratio

Quick Ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih liquid (liquid assets), rumus quick ratio adalah sebagai berikut :

Quick Ratio = (Kas + Efek + Piutang)/Kewajiban Lancar

Working Capital to Total Assets Ratio

Working Capital to Total Assets Ratio dipergunakan untuk mengukur likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja (netto). Rumusnya sebagai berikut :

Working Capital Ratio = (Aktiva Lancar + Kewajiban Lancar)/Jumlah Aktiva

2. RASIO LEVERAGE

Rasio Leverage (Rasio Hutang), rasio ini digunakan untuk untuk “>mengukur seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang atau dibiayai oleh pihak luar. Data yang dipergunakan untuk analisis leverage adalah Neraca dan Laporan Laba Rugi. Rasio Leverage diantaranya adalah :

Total Debt to Equity Ratio

Ratio ini digunakan untuk mengukur bagian modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan kewajiban atau hutang. Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut :

TD Equity = (Hut. Lancar + Hut. Jangka Panjang)/Jumlah Modal Sendiri

Total Debt To Total Capital Assets

Ratio ini digunakan untuk mengukur bagian aktiva yang digunakan untuk menjamin keseluruhan kewajiban atau hutang. Rumusnya sebagai berikut :

TD Capital Assets = (Aktiva Lancar + Hutang Jangka Panjang) / Jml Aktiva

Long Term Debt to Equity Ratio

Ratio ini digunakan untuk mengukur bagian dari modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk hutang jangka panjang. Rumusnya adalah sebagai berikut :

LTD Equity Ratio = Hutang Jangka Panjang / Modal Sendiri

Tangible Assets Debt Coverage

Rasio ini digunakan untuk mengukur besar aktiva tetap tangible yang digunakan untuk menjamin hutang jangka panjang, rumusnya adalah sebagai berikut :

TAD Coverage =( Jml Aktiva + Tangible + Hutang Lancar)/Hutang Jangka Panjang

Times Interest Earned Ratio

Rasio ini digunakan untuk mengukur besar jaminan keuntungan yang digunakan untuk membayar bunga hutang jangka panjang. Rumusnya adalah sebagai berikut :

Times Interest Earned Ratio = EBIT /Bunga Hutang Jangka Panjang

3. RASIO AKTIVITAS

Rasio Efetivitas digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumberdaya yang dimiliki. Rasio Aktivitas diantaranya adalah :

Total Assets Turnover

Total Assets Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva yang berputar pada suatu periode atau kemampuan modal yang diinvesasikan untuk menghasilkan “revenue”. Rumusnya sebagai berikut :

Total Assets Turnover = Penjualan Bersih/Total Aktiva

Receivable Turnover

Receivable Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola dana yang tertanam dalam piutang yang berputar pada suatu periode tertentu. Rumusnya sebagai berikut :

Receivable Turnover = Penjualan Kredit / Piutang Rata-rata

Average Collection Period

Average Collection Period digunakan untuk mengukur periode rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang (dalam satuan hari). Jika menghasilkan angka yang semakin kecil menunjukan hasil yang semakin baik. Rumusnya adalah sebagai berikut :

Average Collection Period = (Piutang Rata-rata x 360)/Penjualan Kredit

Inventory Turnover

Inventory Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam dalam persediaan yang berputar pada suatu periode tertentu, atau likuiditas dari persediaan dan tendensi adanya “overstock”. Rumusnya sebagai berikut :

Inventory Turnover = Harga Pokok Penjualan / Persediaan Rata-rata

Average Day’s Inventory

Average Day’s Inventory digunakan untuk mengukur periode (hari) rata-rata persediaan barang dagangan berada di gudang perusahaan. Rumusnya sebagai berikut :

Average Day’s Inventory = (Persediaan Rata-rata x 360 )/Harga Pokok Penjualan

Working Capital Turnover

Working Capital Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan modal kerja (netto) yang berputar pada suatu periode siklus kas (cash cycle) yang terdapat diperusahaan, dihitung dengan rumus berikut :

Working Capital Turnover = Penjualan Bersih / (Aktiva Lancar – Kewajiban Lancar)

4. RASIO PROFITABILITAS

Rasio Profitabilitas atau Rasio Keuntungan mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, aktiva maupun laba dan modal sendiri. Rasio Profitabilitas atau disebut juga dengan istilah Rentabilitas diantaranya adalah :

Gross Profit Margin

Gross Profit Margin digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan mendapatkan laba bruto per rupiah penjualan, dihitung dengan rumus berikut :

Gross Profit Margin = (Penjualan Bersih – HPP) / Penjualan Bersih

Operating Income Ratio atau Operating Profit Margin

Dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasi sebelum bunga dan pajak yang dihasilkan oleh setiap rupiah penjualan. Rumusnya adalah sebagai berikut :

OIR = (Penjualan Bersih – HPP – Biaya2)/Penjualan Bersih

Operating Ratio

Operating Ratio digunakan untuk mengukur biaya operasi per rupiah penjualan, semakin kecil angka rasio menunjukan kinerja yang semakin baik. Rumusnya sebagai berikut :

Operating Ratio = (HPP + By Adm.Penjualan & Umum)/Penjualan Bersih

Net Profit Margin atau Sales Margin

Net Profit Margin atau Sales Margin digunakan untuk mengukur keuntungan netto atau laba bersih per rupiah penjualan. Semakin besar angka yang dihasilkan, menunjukan kinerja yang semakin baik, rumusnya sebagai berikut :

Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak (EAT)/Penjualan Bersih

Earning Power Of Total Investment

Digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen perusahaan dalam mengelola modal perusahaan yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi semua investor (pemegang obligasi + saham). Rumusnya sebagai berikut :

Earning Power Of Total Investment = EBIT / Jumlah Aktiva

Net Earning Power Ratio atau Rate Of Return On Investment (ROI)

ROI digunakan untuk mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bersih. Rumusnya sbb :

ROI = Laba Bersih Setelah Pajak / Jumlah Aktiva

Rate Of Return for Owners atau Rate of Return on Net Worth

Digunakan untuk mengukur kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferen dan saham biasa. Rumusnya adalah :

Rate of Return For Owners = Laba Bersih Setelah Pajak / Jumlah Modal Sendiri

Definition of 'Return On Equity - ROE'

The amount of net income returned as a percentage of shareholders equity. Return on equity measures a corporation's profitability by revealing how much profit a company generates with the money shareholders have invested.

ROE is expressed as a percentage and calculated as:

Return on Equity = Net Income/Shareholder's Equity

Net income is for the full fiscal year (before dividends paid to common stock holders but after dividends to preferred stock.) Shareholder's equity does not include preferred shares.

Also known as "return on net worth" (RONW).

Read more: http://www.investopedia.com/terms/r/returnonequity.asp#ixzz1rFcuy5AU

d. Return on Equity (Pengembalian atas Ekuitas)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Return on Equity = Laba Setelah Pajak
Ekuitas Pemegang Saham

Cash turn over

Menurut James O. Gill, rasio ini berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupanmodal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayaipenjualan. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas untukmembayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan.

Hasil perhitungan rasio perputaran kas dapat diartikan sebagai berikut ;

1.apabila rasio perputaran kas tinggi, ini berarti, ketidakmampuan perusahaan dalammembayar tagihan.

2.sebaliknya apabila rasio perputaran kas rendah, dapat diartikan kas yang tertanampada aktiva yang sulit dicairkan dalam waktu singkat sehingga perusahaan harusbekerja keras dengan kas yang lebih sedikit.

Rasio perputaran kas = penjualan bersih : modal kerja bersih

Working Capital Turnover

Working Capital Turnover digunakan untuk mengukur kemampuan modal kerja (netto) yang berputar pada suatu periode siklus kas (cash cycle) yang terdapat diperusahaan, dihitung dengan rumus berikut :

Working Capital Turnover = Penjualan Bersih / (Aktiva Lancar – Kewajiban Lancar)

Formula of Fixed Assets Turnover Ratio:

Fixed assets turnover ratio turnover ratio is calculated by the following formula:

Fixed Assets Turnover Ratio = Cost of Sales / Net Fixed Assets

 

Makalah Konsep Dasar Sistem Informasi

25 September 2013 13:37:24 Dibaca : 86

Makalah Konsep Dasar Sistem Informasi

BAB I

PENDAHULUAN

Sistem informasi dan teknologi telah menjadi komponen yang sangat penting bagi keberhasilan bisnis dan organisasi. Teknologi informasi, termasuk sistem informasi berbasis Internet, memainkan peranan penting dan makin luas dalam bisnis. Teknologi informasi dapat membantu segala jenis bisnis meningkatakan efisiensi dan efektivitas proses bisnis mereka, pengambilan keputusan manajerial, dan kerja sama kelompok kerja, hingga dapat memperkuat posisi kompetitif mereka dalam pasar yang cepat sekali berubah. Hal ini berlaku ketika teknologi informasi digunakan untuk mendukung tim pengembangan produk, proses dukungan untuk pelanggan, transaksie- commerce, atau dalam aktivitas bisnis lainnya.teknologi dan sistem informasi berbasis Internet dalam waktu singkat menjadi bahan yang dibutuhkan untuk keberhasilan bisnis di lingkungan global yang dinamis saat ini.

Sistem informasi adalah sekumpulan hardware, software, brainware, prosedur dan atau aturan yang diorganisasikan secara integral untuk mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat guna memecahkan masalah dan pengambilan keputusan. Sistem Informasi adalah satu kesatuan data olahan yang terintegrasi dan saling melengkapi yang menghasilkan output baik dalam bentuk gambar, suara maupun tulisan.
Sistem informasi adalah sekumpulan komponen pembentuk sistem yang mempunyai keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya yang bertujuan menghasilkan suatu informasi dalam suatu bidang tertentu.

Suatu sistem informasi (SI) atau information system (IS) merupakan aransemen dari orang, data, proses-proses, dan antar-muka yang berinteraksi mendukung dan memperbaiki beberapa operasi sehari-hari dalam suatu bisnis termasuk mendukung memecahkan soal dan kebutuhan pembuat-keputusan manejemen dan para pengguna. Di dalam suatu organisasi, informasi merupakan sesuatu yang penting didalam mendukung proses pengambilan keputusan oleh pihak manajemen.

BAB 11

PEMBAHASAN

1. Pengertian Sistem

Suatu sistem pada dasarnya adalah sekolompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.Secara sederhana, suatu sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen, atau variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain, dan terpadu. Dari defenisi ini dapat dirinci lebih lanjut pengertian sistem secara umu, yaitu :

Setiap system terdiri dari unsur-unsur.Unsur-unsur tersebut merupakan bagian terpadu sistem yang bersangkutan.Unsur sistem tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem.Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar.

Menurut Etimologi istilah sistem berasal dari bahasa Yunani, System yang artinya himpunan bagian atau unsur yang saling berhubungan secara teratur untuk mencapai tujuan bersama

Pengertian sistem menurut sejumlah para ahli:

1. L. James Havery

Menurutnya sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai satu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

2. John Mc Manama

Menurutnya sistem adalah sebuah stuktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efisien.

3. C.W. Churchman

Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang dikoordinasikan untuk melaksanakan seperangkat tujuan.

4. J.C Hinggins

Sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang saling berhubungan.

5. Edgar F Huse dan James L. Bowdict

Menurutnya sistem adalah suatu seri atau rangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan dan bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi dan saling pengaruh dari satu bagian akan mempengaruhi keseluruhan.

Dari pengertian diatas dapat kami simpulkan bahwa pengertian sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas beberapa komponen atau elemen yang saling berhubungan atau saling terikat satu sama lain yang secara bersama mencapai tujuan-tujuan yang sama.

2. Ruang Lingkup Sistem Informasi

Ruang lingkup sistem informasi yaitu ruang lingkup yang ditentukan dari awal pembuatan yang merupakan garis batas lingkup kerja sistem tersebut, sehingga sistem informasi tersebut tidak bersinggungan dengan sistem informasi lainnya.

Ruang lingkup SIM sebenarnya tertuang pada tiga kata pembentuknya, yaitu “sistem”, “informasi”, dan “manajemen”. Sistem merupakan kumpulan elemen yang saling berhubungan satu sama lain yang membentuk satu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan. Di dalam perusahaan, yang dimaksud elemen dari sistem adalah departemen-departemen internal, seperti persediaan barang mentah, produksi, persediaan barang jadi, promosi, penjualan, keuangan, personalia; serta pihak eksternal seperti supplier dan konsumen yang saling terkait satu sama lain dan membentuk satu kesatuan usaha.

Informasi adalah hasil pemrosesan data yang diperoleh dari setiap elemen sistem tersebut menjadi bentuk yang mudah dipahami dan merupakan pengetahuan yang relevan yang dibutuhkan oleh orang untu menambah pemahamannya terhadap fakta-fakta yang ada. Informasi bagi setiap elemen akan berbeda satu sama lain sesuai dengan kebutuhannya masing-masing

Dari ruang lingkup di atas, beberapa ahli telah memberikan rumusan tentang sistem informasi manajemen, antara lain :

SIM adalah pengembagan dan penggunaan sistem-sistem informasi yang efektif dalam organisasi-organisasi (Kroenke, David, 1989). SIM didefinisikan sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai yang mempunyai kebutuhan yang serupa. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang telah terjadi di masa lalu, apa yang sedang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan output dari simulasi matematika. Informasi digunakan oleh pengelola maupun staf lainnya pada saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah (Mc. Leod, 1995). SIM merupakan metode formal yang menyediakan informasi yag akurat dan tepat waktu kepada manajemen untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dan membuat organisasi dapat melakukan fungsi perencanaan , operasi secara efektif dan pengendalian (Stoner, 1996)

Dari definisi-definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa SIM adalah suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan manajemen dalam suatu organisasi.

3. Tipe Sistem

Ada berbagai tipe sistem berdasarkan kategori:

Atas dasar keterbukaan:

1. Sistem terbuka, dimana pihak luar dapat mempengaruhinya. Lebih spesifik dikenal juga yang disebut dengan sistem terotomasi ;yang merupakan bagian dari sistem buatan manusia dan berinteraksi dengan kontrol olehsatu atau lebih komputer sebagai bagian dari sistem yang digunakan dalam masyarakatn modern.

2. sistem tertutup, sistem yang tidak berhubungan dan tidak terpengaruh dengan sistem luarnya. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa adanya turut campur tangan dari pihak luarnya. Secara teoritis sistem tersebut ada, tetapi kenyataannya tidak ada sistem yang benar-benar tertutup, yang ada hanyalah relatively closed system (secara relatif tertutup, tidak benar-benar tertutup).

Atas dasar komponen:

1. Sistem fisik, dengan komponen materi dan energi. merupakan sistem yang ada secara fisik, sehingga setiap makhluk dapat melihatnya (Sistem Komputer, Sistem Akuntansi, Sistem Produksi dll.)

2. Sistem non-fisik atau konsep, sistem yang berupa pemikiran atau ide- ide yang tidak tampak secara fisik (Sistem Teologia yang merupakan suatu sistem yang menggambarkan hubungan Tuhan dengan Manusia)

4. Sub Sistem

Ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem, yaitu: tujuan, masukan, proses, keluaran, batas, mekanisme pengendalian dan umpan balik serta lingkungan. Berikut elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem.

a. Tujuan

Setiap sistem memiliki tujuan (goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Yanpa tujuan, sistem menjadi tidak terarah dan tidak terkendali. Tentu saja tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda.

b. Masukan

Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selajutnya menjadi bahan yang diperoses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya: permintaan jasa pelanggan).

c. Proses

Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.

d. Keluaran

Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya.

e. Batas

Yang disebut batasan (boundary) sistem adalah pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem (lingkungan). Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang lingkup atau kemampuan sistem . sebagai contoh, tim sepakbola mempunyai aturan permainan dan keterbatasan kemampuan pemain. Pertumbuhan sebuah took kelontong dipengaruhi oleh pembelian pelanggan, gerakan pesaing dan keterbatasan dana dari bank. Tentu saja batas sebuah sistem dapat dikurangi atau dimodifikasi sehingga akan mengubah perilaku sistem. Sebagai contoh: dengan menjual saham ke publik, sebuah perusahaan dapat mengurangi keterbatasan dana.

f. Mekanisme Pengendalian dan Umpan Balik

Mekanisme pengendalian (control mechanism) diwujudkan dengan menggunakan umpan balik (feedback), yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.

g. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar sistem. Lingkungan bias berpengaruh terhadap operasi sistem dalam arti bisa merugikan atau merugikan sistem itu sendiri. Lingkungan yang merugikan tentu saja harus ditahan dan dikendalikan supaya tidak mengganggu kelangsungan operasi sistem, sedangkan yang menguntungkan tetap harus terus dijaga, karena akan memacu terhadap kelangsungan hidup sistem.

5. Sistem dan Organisasi

Organisasi adalah struktur sosial resmi stabil yang memiliki sumber-sumber berasal dari lingkungan dan memproses sumber-sumber itu agar menghasilkan output.
Definisi behavioral organisasi adalah kumpulan hak, hak khusus, kewajiban, dan tanggung jawab yang harus dengan cermat diseimbangkan selama periode waktu tertentu melalui konflik dan resolusi konflik.

Ada beberapa peranan penting sistem informasi dalam organisasi, antara lain:

meningkatkan kinerja organisasi melalui:peningkatan produktivitaspengurangan biayapeningkatan pengambilan keputusanpeningkatan layanan ke pelangganpengembangan aplikasi-aplikasi strategis

mengaitkan perencanaan, pengerjaan, dan pengendalian dalam organisasimengkoordinasikan subsistem-subsistem dalam organisasimeng-integrasikan subsistem-subsistem

System Informasi dapat Mempengaruhi Organisasi

Teori ekonomi.

IT mengganti biaya modal dan biaya informasiTeknologi system informasi merupakan factor produksi seperti halnya modal dan tenaga kerjaTeori biaya transaksi menyatakan bahwa perusahaan berusaha mengurangi biaya transaksi.IT membantu perusahaan menekan biaya transaksi. Jika biaya transaksi menurun, jumlah karyawan juga mengecil karena semakin murah dan mudah bagi perusahaan untuk membuat kontrak pembelian barang-barang dan jasa di pasar disbanding membuat sendiri produk dan jasanya.Teori agensi mengatakan perusahaan memiliki ikatan kontrak di antara bagian-bagian yang harus diawasi dan dikelola.IT bias mengurangi biaya agensi, memungkinkan perusahaan untuk tumbuh tanpa menambah biaya pengawasan, dan tanpa menambah tenaga kerja.

Teori Behavioral

IT membuat organisasi lebih ramping.IT mampu mengubah hierarki pengambilan keputusan dengan menekan biaya informasimemperluas distribusi informasimempercepat proses pengambilan keputusanmemfasilitasi pekerja tingkat-bawah untuk membuat keputusan tanpa pengawasan dan meningkatkan efisiensi manajemenRentang pengendalian perusahaan juga akan meningkat

Pada organisasi postindustri, otoritas meningkat bergantung pada pengetahuan dan kompetensi. Jadi, bentuk menjadi ramping karena para pekerja professional cenderung berciri self-managing; dan pengambilan keputusan menjadi lebih terdessentralisasi sementara pengetahuan dan informasi semakin tersebar secara luas.

Teknologi informasi mendorong jaringan task force organisasi dimana kelompok-kelompok professional bertemu baik langsung maupun melalui media elektronik untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Hal ini mengarah pada organisasi virtual, yaitu organisasi yang memanfaatkan jaringan untuk menghubungkan orang, asset, dan gagasan dalam menciptakan dan mendistribusikan produk dan layanan tanpa terbatasi oleh batasan-batsan tradisional organisasi atau lokasi fisik.

System informasi terkait dengan politik organisasi karena mempengaruhi akses ke sumber utama, yaitu informasi. System informasi berpotensi mengubah struktur, budaya, politik, dan kerja organisasi. Alasan paling umum dari kegagalan proyek-proyek besar mengarah kepada hambatan perubahan politikal dan organisasional.

 

Komunikasi Bisnis

25 September 2013 13:36:50 Dibaca : 208

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi merupakan hal yang sangat fundamental dalam kehidupan. sebagai makhluk social, manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Seperti yang kita ketahui manusia hidup saling bergantungan dan saling membutuhkan, maka dari itu komunikasi yang baik dapat mengakibatkan dampak yang baik pula bagi hubungan antar manusia.

Dalam organisasi atau perusahaan kita juga membutuhkan komunikasi yang baik antara atasan bawahan antara karyawan dan antara perusahaan dengan masyarakat umum.

Hubungan baik antara manajemen dengan karyawan akan berdampak baik pula bagi perusahaan. Ide-ide baru dari karyawan bisa menyelesaikan masalah yang terdapat dalam perusahaan tersebut. Produktivitas pun juga meningkat karena karyawan dengan suka rela memberikan tenaga dan pikiran pada perusahaan.

Sehubungan dengan masalah diatas maka penulis tertari untuk menulis mengenai topic “KOMUNIKASI DALAM BISNIS.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat ditarik suatu rumusan masalah yaitu “ Bagaimana cirri-ciri organisasi, tipe organisasi, fungsi komunikasi, peranan komunikasi serta apa saja etika yang berlaku dalam Komunikasi Bisnis”

1.3 Tujuan Rumusan Masalah

Tujuan dari rumusan masalah diatas yaitu untuk menjelaskan sedit banyak tentang tipe-tipe organisasi, fungsi komunikasi dalam organisasi, peranan komunikasi hingga menerangkan mengenai etika yang ada didalam komunikasi bisnis.

1.4 Manfaat Rumusan Masalah

Manfaat dari rumusan diatas yaitu dapat menjelaskan beberapa mengenai bagaimana berkomunikasi yang baik dalam dunia perbisnisan dengan meperhatikan beberapa aspek yang nantinya akan dijelaskan dalam makalah ini.

BAB 2

KAJIAN TEORI

Bisnis dapat diartikan sebagai kegiatan system ekonomi yang diarahkan pada manajemen dan distribusi hasil industry dan jasa professional, yang mendatangkan keuntungan. Sedangkan komunikasi sering diartikan sebagai transfer informasi atau pesan-pesan dari pengirim pesan (komunikator) kepada penerima (komunikan).

Berikut ini merupakan beberapa beberapa pengetian komunikasi dalam bisnis menurut para ahli:

Menurut Djoko purwanto, MBA dituliskan dalam bukunya komunikasi bisnis adisi ketiga mengemukakan bahwa komunikasi bisnis adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis yang mencakup berbagai macam bentuk komunikasi, baik itu komunikasi verbal maupun komunikasi nonverbal untuk mencapai tujuan tertentu. (purwanto, 2006 : 4)

Menurut katz (1994 : 4). Komunikasi bisnis adalah adanya pertukaran ide, pesan, dan konsep yang berkaitan dengan pencapaian serangkaian komersil. Komunikasi bisnis diartikan sebagai komunikasi yang terjadi dalam dua bisnis dalam rangka mencapai tujuan dari bisnis itu (katz, 1994). Istilah bisnis dalam konteks ini diterjemahkan sebagai suatu organisasi perusahaan. (http://rhestisyahdunia.blogspot.com)

Pengertian komunikasi bisnis menurut Curtis (1992 : 6) komunikasi dalam organisasi bisnis ditunjukan untuk menyelesaikan masalah dan membuat keputusan. Selanjutnya dikatakan bahwa pendapatan tersebut tidak dapat dibantah karena semakin bergantung kepada keahlian seseorang dalam membuat keputusan dan memecahkan masalah untuk suatu keberhasilan. (http://mbegedut.blogspot.com)

BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Pengertian, Ciri-Ciri, dan Tipe Organisasi

Pada umumnya, manusia akan mengikuti atau masuk sebagai anggota suatu organisasi tertentu, seperti organisasi bisnis, organisasi nirlaba, organisasi politik organisasi pekerja, organisasi keagamaan, dan lain sebagainya. Organisasi merupakan suatu unit social yang dikoordinasikan secara sengaja, yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang didirikan untuk jangka waktu yang lama (Haryani, 2001:36).

Secara umum, organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Adanya pembagian tugas dan tanggungjawab.

Pembagian tugas dan tanggung jawab dimaksudkan untuk mempermudah pencapaian tujuan. Organisasi dibagi atas beberapa divisi, departemen, atau bagian yang masing-masing memiliki tugas dan tanggungjawab.

Adanya pusat kekuasaan.

Pimpinan atau atasan merupakan pusat kekuasaan dalam suatu organisasi. Sebagian kekuasaan akan dibagikan kepada bawahan. Sebagai pusat kekuasaan, pimpinan akan menentukan pengawasan dan kepemimpinan.

Adanya subtitusi sumber daya menusia.

Dalam organisasi sering terjadi subtitusi (pergantian) sumber daya manusia. Subtitusi bias terjadi karena mutasi, promosi, atau keluarnya anggota organisasi karena pension, meninggal dunia, atau berhenti menjadi anggota organisasi tersebut.

Adanya ketergantungan antaranggota.

sebagai suatu system, organisasi terbagi atas berbagai subsistem yang saling berhubungan. Aktivitas seseorang atau suatu bagian dalam organisasi tidak bisa lepas dari seseorang atau bagian lain dlam organisasi tersebut.

Adanya koordinasi antarkomponen.

Antarkomponen dalam organisasi selalu melakukan koordinassi, baik secara lisan maupun tertulis.

Adanya Interaksi yang berulang-ulang.

Organisasi melakukan kegiatan yang berulang-ulang (kontinu) dan permanen. Oleh karena itu, interaksi juga terjadi berulang-ulang dan hanya akan berhenti apabila organisasi tersebut bubar.

Jika dilihat dari orientasi terhadap laba, organisasi dapat dibagi atas dua tipe, yakni :

Organisasi yang berorientasi laba (profit oriented organization)

Organisasi tipe ini bertujuan memperoleh laba. Laba dipergunakan untuk membiayai operasi dan pengembangan organisasi. Organisasi tipe ini sering juga disebut organisasi bisnis atau perusahaan. Dalam organisasi bisnis, pemilik menerima keuntungan ekonomi terbesar. Contohnya, hotel, restoran, bank, perusahaan asuransi, took, dan lain sebagainya.

Organisasi nirlaba (non-profit oriented organization)

Organisasi nirlaba merupakan organisasi yang tidak berorientasi pada laba atu kegiatan yang dilakukan tidak semata-mata untuk memperoleh laba. Dalam organisasi ini, pelanggan atau klien menerima keuntungan terbesar. Contohnya, rumah sakit, lembaga pendidikan, panti asuhan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan lain sebagainya.

3.2 Fungsi Komunikasi dalam Organisasi.

Apapun bentuk organisasinya, komunikasi akan berfungsi:

Informatif

Pimpinan dan anggota organisasi membutuhkan banyak sekali informasi untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka. Informasi tersebut berkaitan dengan upaya organisasi untuk mencapai tujuannya.

Pengendalian (Regulatory)

Komunikasi berfungsi sebagai pengatur dan pengendali organisasi. Komunikasi dalam hal ini berupa peraturan, prosedur, perintah, dan laporan.

Persuasif

Komunikasi berfungsi mengajak orang lain mengikuti atau menjalankan ide/gagasan uatu tugas.

Integratif

Dengan adanya komunikasi, organisasi yang terbagi menjadi beberapa bagian atau departemen akan tetap merupakan satu kesatuan yang utuh dan terpadu.

3.3 Saluran Komunikasi dalam Organisasi

Orang-orang di dalam organisai akan saling melakukan komunikasi. Komunikasi terjadi diantara orang-orang di dalam organisasi disebut komunikasi internal. Di samping itu, organisasi juga perlu melakukan komunikasi dengan pihak luar, seperti pemasok, pelanggan, kreditur, dan lain sebagainya. Komunikasi yang terjadi antara organisasi dengan pihak luar disebut komunikasi eksternal. Masing-masing organisasi akan memilih caranya sendiri untuk menyampaikan informasi. Pemilihan cara berkomunikasi akan berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi.

Jika ditinjau dari sudut formalitas, saluran komunikasi terdiri atas saluran formal dan informal.

ü Saluran Komunikasi Formal.

Saluran formal merupakan saluran komunikasi resmi yang mengikuti rantai komando dalam struktur organisasi. Saluran itu pada umumnya bisa diketahui dari struktur organisasi suatu perusahaan. Komunikasi formal bisa terjadi secara vertical maupun horizontal, komunikasi vertical merupakan komunikasi yang terjadi diantara atasan dengan bawahan. Komunikasi yang mengalir dari atasan kapada bawahan biasanya berbebtuk perintah, pengarahan, dan pelatihan. Sementara itu, komunikasi dari bawahan kepada atasan bisa berupa laporan, pengaduan, dan usulan.

Komunikasi horizontal merupakan komunikasi yang terjadi di antara rekan sekerja dengan tingkat hirearki yang sama. Komunikasi tersebut mampu meningkatkan koordinasi antarbagian, meningkatkan kekompakan, dan meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Komunikasi horizontal juga sering disebut komunikasi lateral.

Peluang terjadinya kesalahan pada setiap mata rantai komunikasi cukuplah besar. Tingkat paling bawah mungkin hanya menerima sebagian informasi atau bahkan menerima informasi yang salah. Apabila perusahaan bergantung pada informasi formal saja, mak kemungkinan besar akan terjadi salah pengertian (distorsi). Disamping itu, komunikasi formal dapat menyebabkan organisasi atau perusahaan terkotak-kotak dan selanjutnya menghambat kelancaran komunikasi lintas bagian dalam perusahaan.

ü Saluran Komunikasi Informal.

Komunikasi informal mengabaikan hierarki organisasi. Komunikasi informal itu sering disebut desas-desus, rumor, atau seletingan. Percakapan antar individu dalam organisasi tidak bisa dihindari. Percakapan tersebut biasanya menyangkut masalah pribadi, misalnya keadaan keluarga, kegemaran, keluhan, kekhawatiran, dan lain sebagainya. Namun demikian, dari hasil survey diperoleh bahwa 80% darri informasi informal yang mengalir adalah informasi yang menyangkut masalah bisnis (Boove dan Thill, 2003:11). Misalnya, perubahan-perubahan dalam kebijaksanaan perusahaan, potensi dipromosikan, pemutusan hubungan kerja (PHK), kompensasi, dan lain sebagainya. Desas-desus biasanya berkembang aktif salama periode-periode perubahan atau ketika orang-orang mengalami ketakutan.

Seperti halnya komunikasi formal, komunikasi informal juga bisa mengalir ke atas, ke bawah, dan ke samping. Para eksekutif biasanya waspada terhadap saluran komunikasi informal karena hal ini bisa mengancam kekuatan mereka saat mengendalikan informasi. Akan tetapi, ada pula yang justru memanfaatkan saluran komunikasi informal untuk menyebarkan dan menerima pesan informal. Oleh karena itu, saluran komunikasi informal atau desas-desus atau rumor bisa berdampak negative dan bisa juga positif.

3.4 Komunikasi Dalam Bisnis

Perusahaan sebagai organisasi bisnis juga melakukan komunikasi. Komunikasi yang terjadi dalam perusahaan disebut komunikasi bisnis. Jika dibandingkan dengan komunikasi individu, komunikasi bisnis lebih rumit dan kompleks. Komunikasi yang terjadi dalam bisnis bisa berupa komunikasi internal, komunikasi eksternal, bersifat formal maupun informal, dan dapat berbentuk verbal maupun nonverbal.

Dalam organisasi bisnis, komunikasi pada umunya bersifat resmi. Oleh karena itu, komunikasi bisnis ditekan pada komunikasi verbal, yaitu berbicara, mendengarkan, menulis, dan membaca. Dalam bisnis komunikasi dilakukan oleh tenaga penjual, teknisi, operator telepon atau dengan surat-surat resmi. Keterampilan pimpinan dan pegawai untuk bekomunikasi dalm berbagai bentuk akan menetukan keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan bisnis. Komunikasi yang buruk dalam perusahaan bisa merusak hubungan perusahaan dengan berbagai pihak, baik internal maupun eksternal. Rusaknya hubungan dengan berbagai pihak akan merugikan perusahaan. Misalnya, para pegawai sering melakukan kesalahan, pemasok tidak bersedia melakukan pembelian ulang, kreditur tidak bersedia meningkatkan plafon kredit, dan lain sebagainya. Sebaliknya, komunikasi yang efektif akan meningkatkan hubungan baik dengan berbagai pihak yang pada akhirnya akan mendatangkan laba bagi perusahaan. Misalnya, peningkatan hubungan baik dengan pelanggan akan memberikan kemungkinan yang lebih besar bagi pelanggan untuk melakukan apa yang diinginkan dan disarankan oleh perusahaan. Semakin banyak pelanggan yang loyal, semakin tinggi laba yang dapat dicapai oleh perusahaan.

Komunikasi Bisnis, baik secara lisan maupun tertulis, memiliki karateristik sebagai berikut ;

1. Pesan disusun untuk para audiens yang membutuhkan informasi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap audiens sangatlah penting.

2. Pesan bisnis disusun dengan mempertimbangkan waktu dan biaya. Pesan bisnnis disampaikan berdasarkan tingkat kepentingannya. Informasi sangat penting biasanya memerlukan waktu yang singkat dan biaya yang mahal. Demikian sebaliknya, pesan yang kurang penting disampaikan dalam waktu yang lebih lama dan diaya yang relatif murah.

3. Pesan bisnis disusun untuk lebih dari satu tujuan.

4. Walaupun terjadi hal-hal yang mengecewakan, pesan bisnis tetap disusun dengan baik untuk menjaga hubungan kerja sama dengan semua pihak, terutama para pelanggan.

5. Pesan bisnis memperhatikan nada dan pengaruhnya terhadap audiens. Pilihan kata dan nada dalam pesan bisnis diperhatikan sedemikian rupa untuk menghindari adanya pengaruh negatif terhadap audiens yang pada akhirnya merugikan perusahaan.

Dalam kehidupan bisnis dalam era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini, informasi mengalir dari dalam dan ke luar perusahaan melampaui batas-batas wilayah berbagai negar dan budaya. Perusahaan nasional (national company) telah berkembang menjadi perusahaan public (public company). Perkembangan teknologi tinggi informasi yang sangat pesat juga memaksa perusahaan untuk selalu bersikap adaptif dan responsive. Perusahaan tidak dapat memilih untuk tidak menggunakan teknologi tinggi perusahaan dituntut mampu menyediakan dan mengkomunikasikan informasi yang relevan, tepat waktu, dan akurat yang diperlukan oleh berbagai pihak dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi pimpinan dan pegawai perusahaan untuk selalu meningkatkan keterampilan lainnya dalam berkomunikasi.

3.5 Etika Komunikasi Bisnis

Konsep etika berasal dari kata yunani, yang dalam bentuk tunggal adalah ethos, dan dalam bentuk jamak ta etha. Ethos dapat diartikan sebagai kebiasaan, akhlak, moral, karakter, atau watak yang mengacu pada nilai-nilai atau perilaku kelompok atau individu. Sementara ta etha berarti adat-istiadat, yaitu norma-norma yang dianut oleh kelompok, golongan, atau masyarakat tertentu mengenai perbuatan baik dan buruk (barrens dalam ketut rinjin, 2004:4). Organisasi biasanya memiliki kode etik untuk mengatur dan menjaga hubungan antar anggotanya. Misalnya, kode etik akuntan, dokter, pengacara, assosiasi dagang dan lain-lain.

Etika bisnis mencakup semua informasi yang relevan, benar menurut semua sense, dan informasi yang tidak memperdaya (Boove and Thill, 2003 : 24). Etika bisnis adalah kiat dan disiplin untuk menerapkan prinsip-prinsip etika dalam mengkaji dan mengatasi masalah-masalah yang rumit dalam dunia bisnis (rinjin 2004 : 5) kegiatan bisnis tidak selalu bersih dari unsure kejahatan. Situasi persaingan yang semakin ketat atau dalam keadaan tetekan mampu memicu munculnya perilaku tidak etis. Perilaku tidak etis bisa terrjadi pada individu atau perusahaan.

Contoh masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku etis yang sering muncul dalam kegiatan bisnis adalah ;

ü Menerima atau menawarkan komisi.

ü Mencuri dari perusahaan.

ü Memberhentikan karyawan tanpa pemberitahuan.

ü Membocorkan informasi atau rahasia perusahaan.

ü Memakai barang-barang perusahaan untuk kepentingan pribadi.

ü Membangun perusahaan dalam perusahaan.

ü Melakukan penipuan dan pemalsuan.

ü Memperdagangkan barang haram.

Etika bisnis membantu pengusahaan untuk menyalesaikan masalah bisnis dengan sentuhan moral. Jadi, tujuan etika bisnis adalah menggugah kesadaran perilaku bisnis untuk menjalankan bisnis dangan baik demi menjaga reputasi perusahaan.

BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Peran komunikasi dalam suatu organisasi sangatlah penting tidak ada seorangpun dalam keseharian tugasnnya tanpa komunikasi. Baik itu masalah pekerjaan maupun masalah diluar pekerjaan, seperti masalah keluarga, politik social, bahkan ekonomi nasional. Semua ini pasti dilakukan lewat komunikasi. Juga baik itu melalui jalur vertical maupun jalur horizontal.

Seberapa jauh proses bekomunikasi itu berhasil dengan baik sangat ditentukan oleh kondisi perilaku manajer sebagai pengirim gagasan atau pesan, penerima pesan, media yang dipakai, teknologi informasi yang ada, isi pesan dan cara pesan disampaikan serta suasana komunikasi itu sendiri. Keberhasilan itu akan dicerminkan oleh tidak adanya kesenjangan pemahaman anatara para relasi bisnis.

4.2 Saran

saran saya kepada para pembaca adalah agar hendakny pandai-pandai memilih cara bekomunikasi yang baik jika sedang melakukan kegiatan bisnis atau ekonomi. Baiknya memperhatikan siapa yang akan kita ajak berbisnis sehingga kita dapat menentukan metode berkomunikasi yang mana yang nentinya dapat berdampak baik bagi bisnis kita. Karena cara berkomunikasi kita dalam bisnis berpengaruh pada bisnis yang kita jalankan.

Kategori

Blogroll

  • Masih Kosong