ARSIP BULANAN : December 2016

Penjual Kacang Singaroh

14 December 2016 20:40:37 Dibaca : 92

Nama : Desriyanti Bakari
Nim : 291416062
Tugas Dasar-Dasar Jurnalistik
Kelas C

Penjual Kacang Singaroh
Bapak Ismail Yahya yang sehari-harinya adalah tukang penjual kacang Singaroh ini selalu terlihat bersemangat menjalani hidup. Istrinya seorang URT dan hanya bisa berada dirumah saja.
Bapak ismail yang saat ini berusia 55 tahun dan ibu werni gunibala yang saat ini berusia 53 tahun memiliki dua anak, yaitu sela dan usi. Mereka masih tinggal bersama bapak ismail dan ibu werni. Sela dan usi masih duduk dibangku sekolah. Sela duduk dibangku sekolah kelas 3 SMK sedangkan usi duduk dibangku kelas 5 SD. Ke dua anak tersebut sehari-harinya membantu ibu nya membereskan rumah.
Rumah mereka hanyalah sebuah gubuk kecil dan hanya terbuat dari dinding tripleks yang berada didaerah Heledula’a jln glatik ,Kec.Kota Timur. Tidak ada televisi. Di dalam rumah tersebut hanya 2 buah kasur dan tempat duduk yang sudah rusak. Kamar mandinya terletak diluar. Itupun tidak senyaman kamar mandi yang ada di rumah kita. Listrik pun tidak ada.
Setiap pagi bapak ismal pergi ke pasar untuk membeli kacang yang akan dijual. Itupun tidak setiap hari dia ke pasar untuk membeli kacang tersebut. Apabila mendapatkan kacang , kacang-kacang tersebut lalu dijual keliling kampung. Ditawarkan kepada orang-orang dari rumah ke rumah. Terkadang menitipkan juga diwarung. Dan saya bertanya kepada bapak imail ,dalam menjual kacang singaroh tersebut berapakah penghasilan bapak ismai dalam menjual kacang singaroh? Dan bapak ismail menjawab ,bapak menjual kacang singaroh dalam 1 hari bapak cuman mendapatkan uang seharga Rp. 50.000 itupun tidak setiap hari bapak menjual kacang singaroh.
Selain berjualan kacang singaroh bapak ismail juga bekerja sebagai pemahat batako. 1 pahatan batako hanya Rp 2500. Biasanya bapak ismail memahat batako sebanyak 50 pahatan, jadi uang yang didapatkan 125.000. Itupun tidak setiap hari ia memahat batako.
Dahulunya ibu werni bekerja dipabrik padi ia bekerja sebagai penggiling padi. Namun dalam kondisi tidak memungkinkan (Sakit) ia terpaksa berhenti bekerja. Jadi sekarang ibu werni hanya diam dirumah saja.
Selain memahat batako, pak ismail juga mencari siput yang ada disekitar persawahan yang tidak jauh dari rumahnya. Dia rela berlumuran lumpur dan basah demi mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Ia tak kenal kata lelah dan ia tak pernah mengeluh.
Sehari-harinya kelurga pak ismail hanya makan dengan seadanya. Apabila tidak mampu membeli beras. Dan bapak ismail juga harus membiyayai ke dua anak mereka yang masih duduk dibangku sekolah. Namun mereka tidak pernah mengeluh dan selalu sabar dalam menjalani hidup.
Lain halnya dengan sela, anak pak ismail, dia sangat ingin sekali dapat melanjutkan studi. Dia bercita-cita ingin menjadi perawat. Dia sangat ingin bisa menikmati bangku kuliah. Dia ingin menjadi orang sukses agar dapat mengubah nasib dan membahagiakan kedua orang tuanya yaitu bapak ismail dan ibu werni.

 

Kategori

  • Masih Kosong