Kasus perpeloncoan di kalangan mahasiswa baru
Kampus sebagai lingkungan pendidikan, mempunyai peran penting dalam pembinaan karakter siswa menjadi seorang mahasiswa, menjaga nilai-nilai yang sudah berakar pada suatu pedoman penting bernama Tri dharma perguruan tinggi.
Dalam upaya pencapaiannya, berbagai program dan kegiatan mahasiswa diciptakan untuk mendukung adaptasi dan pembinaan karakter mahasiswa tersebut.
Salah satu rangkaian dalam proses adaptasi siswa menjadi mahasiswa adalah kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus (Ospek).
Kegiatan ini pertama kali dipraktekan pada masa penjajahan Belanda disekolah kedokteran Stovia, berlanjut pada masa penjajahan Jepang, dan muncul istilah perpeloncoan karena mahasiswa baru digunduli seperti serdadu Jepang, plonco sendiri artinya anak gundul.
Pada era selanjutnya, kegiatan ospek tersebut bukan dilaksanakan untuk tujuan iseng belaka, namun terdapat nilai-nilai pembinaan karakter dan sarana pengenalan kampus, dan ternyata ada beberapa manfaat ospek yang seharusnya didapatkan mahasiswa, bukan malah trauma dan ketegangan semata, hingga muncul korban perasaan bahkan korban jiwa.
Baru-baru ini kita di hebohkan dengan video viral seorang mahasiswa baru yang di marahi dan di bentak-bentak oleh seniornya karna tidak memakai ikat pinggang. Boleh saja para senior beralasan ingin menjaga wibawanga, menanamkan nilai-disiplin dan sebagainya. Tapi tidak sepantasnya untuk mempermalukan orang seperti itu. Bukan hanya itu pada tahun 2019 kemarin di salah satu universitas di Ternate terjadi kasus dimana si peserta didik si suruh jongkok naik tangga dan minum air yang telah di ludahi.
Disiplin itu hadir bukan karna kekerasan melainkan karena adanya kesadaran dalam diri masing-masing dan semoga kasus perpeloncoan di kalangan mahasiswa baru akan segera berakhir.