GORONTALO - Perayaan Dies Natalis ke-57 menjadi momen spesiap bagi seluruh Civitas Akademika UNG. Pada momen spesial ini, Eduart Wolok menegaskan arah baru Universitas yang ia pimpin dengan mendeklarasikan Kampus Merah Meron UNG sebagai Kampus Kerakyatan.

 

Bagi Eduart, UNG mesti menjadi Kampus Kerakyatan, sebab dengan begitu kampus tidak berada di menara gading ilmu pengetahuan.

 

"Kenapa kampus kerakyatan? Sebab fokus UNG kedepan adalah membangun ekosistem akademik yang berbasis pada kawasan perdesaan, khususnya di kawasan Teluk Tomini dan Utara Indonesia. Menyebut desa berarti sangat dekat dengan rakyat. Maka kampus kerakyatan bukan saja jargon, tapi juga pilar penting bagi UNG di masa akan datang", tutur Eduart.

 

Momentum Dies ini bagi Rektor UNG ini adalah refleksi sejauhmana kiprah UNG hari ini, apakah terasa di rakyat atau tidak, apakah hasil riset dan pengabdian masyarakat bisa bermanfaat atau tidak.

 

"Kita tak bisa lagi berumah diatas awan, kita harus "turun ke bumi", ke realitas masyarakat. Kita harus dekat dengan rakyat, jangan lagi ada jarak dengan masyarakat. Kita harus hadir di tengah-tengah masyarakat". terang Eduart.

 

Melalui cara tersebut kata Rektor, kontribusi UNG terhadap kawasan teluk tomini akan menjadi luar biasa. "Apalagi bisa kita jaga dan wujudkan bersama maka insyaallah UNG yang unggul dan berdaya saing bisa kita wujudkan bersama," pungkas Rektor. (**)

UNG Luncurkan 2 Buku Tentang Covid-19

16 September 2020 16:53:53 Dibaca : 33

GORONTALO - Kondisi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh Dunia menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat. Seperti halnya Universitas Negeri Gorontalo yang menaruh perhatian besar dalam upaya penanganan pandemi tersebut, dengan meluncurkan Buku yang memuat rekomendasi, gagasan dan kontribusi dalam penanganan pandemi Covid-19.

 

Kedua buku yang diluncurkan pada Momen Dies Natalis UNG ke-57 yakni berjudul UNG Merespon Pandemi, serta buku berjudul Membangun Dari Bawah (kontribusi UNG dalam penanganan pandemi di Indonesia). Kedua karya tulis yang diluncurkan merupakan buku yang memuat kontribusi dan upaya UNG dalam penanganan Covid-19 di Provinsi Gorontalo.

 

Buku UNG Merespon Pandemi merupakan karya yang berisikan gagasan, rekomendasi dan argumentasi dari UNG untuk merespon pandemi Covid-19. Untuk buku berjudul Membantu Dari Bawah memuat kontribusi UNG dalam penanganan pandemi di Indonesia khususnya di Provinsi Gorontalo, melalui perumusan model penanganan berbasis partisipasi masyarakat yang disebut model Desa Tangguh Covid-19.

 

Rektor UNG Dr. Eduart Wolok, S.T, M.T, mengapresiasi buku yang diluncurkan terkait pandemi Covid-19. Hasil yang dituangkan dalam buku merupakan bukti kerja nyata UNG dalam merespon pandemi melalui kerja Crisis Center Covid-19 UNG.

 

“Semoga buku ini dapat memberikan pencerahan bagi pembaca, sekaligus dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat dalam menghadapi pandemic Covid-19,” harapnya. (wahid)

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo bersama Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) memiliki komitmen besar dalam mensukseskan Kampus Merdeka, Merdeka Belajar yang diprogramkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

 

Wujud komitmen dari Perguruan Tinggi di Gorontalo ditunjukkan melalui penandatanganan piagam kerjasama program kampus merdeka, merdeka belajar oleh Pimpinan 4 PTN dan 12 PTS se-Provinsi Gorontalo, Selasa (15/9), di Aula Rektorat UNG.

 

Rektor UNG Dr. Eduart Wolok, S.T, M.T, menyambut baik kerjasama lintas Perguruan Tinggi se Prov. Gorontalo dalam implementasi program Kampus Merdeka, Merdeka Belajar, sebagai upaya langkah dapat terus meningkatkan kolaborasi.

 

“Tujuan dari kolaborasi kita ini apa? Agar supaya lulusan yang dihasilkan dari Lembaga Pendidikan Tinggi di Gorontalo kualitasnya tidak terlalu jauh dengan Kampus ternama lain,” ungkap Rektor.

 

Menurut Rektor, jika berbicara program Kampus Merdeka Merdeka Belajar saat ini sudah berjalan, dimana untuk sementara ini UNG bermitra dengan Perguruan Tinggi Negeri lainnya.

 

“Salah satu contohnya yakni program Permata yang sejak 5 tahun lalu sudah diikuti oleh UNG dengan melakukan pertukaran mahasiswa selama 1 tahun. Akan tetapi dalam konsep Kampus Merdeka kita harus melakukan sedikit penyesuaian,” terangnya.

 

Terkait program Kampus Merdeka, Merdeka Belajar di Gorontalo, Rektor mengaku berkomitmen penuh dalam menyukseskan program tersebut melalui kolaborasi antar Perguruan Tinggi se Prov. Gorontalo.

 

“Saya berharap kerjasama program Kampus Merdeka, Merdeka Belajar tidak hanya penandatanganan kerjasama, namun dapat ditindak lanjuti hingga tingkat Fakultas maupun Program Studi,” harap Rektor. (wahid)

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong