Menemukan Kebaikan di Mana-Mana

08 November 2015 00:22:53 Dibaca : 60 Kategori : Kisah Inspiratif

Ada sebuah keluhan yang hampir selalu muncul di setiap pembicaran tentang stres. Tanpa mengenal kondisi dan situasi, ada banyak orang yang mengeluhkan peran orang lain. Dari tuduhan orang lain itu tidak mau mengerti, cenderung menipu, jahat, tidak mau membantu, bikin kesal, sampai dengan tuduhan orang lain sebagai biang stres. Ada bahkan yang menyebutkan bahwa dirinya jarang sekali bertemu orang baik.

Izinkan saya membagi eksperimen saya dalam kehidupan. Hampir setiap minggu saya terbang. Dan sekretaris saya hafal betul, kalau sebelum melakukan confirm terhadap tiket, ia harus menemukan tempat duduk agak di depan dan di lorong. Dulu, sering sekali setiap check in di bandara, saya menginformasikan bahwa sekretaris saya sudah book tempat duduk di depan dan lorong. Dan sering kali juga tidak kebagian tempat yang saya inginkan. Tidak jarang hati ini dibuat kesal. Sempat mengira kekeliruan ada di sekretaris. Namun, belakangan pendekatan saya dalam melakukan check in dirubah. Tidak lagi menyebutkan bahwa sekretaris sudah book tempat duduk, dengan ekspresi penuh senyuman saya katakan begini : 'saya akan senang sekali kalau dapat tempat duduk di depan dan di lorong'. Sebagai hasilnya, belum pernah sekalipun saya dikecewakan.

Apa yang mau diilustrasikan cerita ini sebenarnya sederhana, kalau kita mau merubah pendekatan kita pada orang lain, banyak orang dengan amat suka rela membagi kebaikan dengan kita. Modalnyapun tidak terlalu mahal : senyum, keyakinan bahwa orang lain baik, dan memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan orang. Dan saya memetik banyak sekali manfaat dari cara ini. Bahkan orang yang tadinya amat tidak bersahabatpun bisa berubah menjadi baik dengan pendekatan ini.

Ada harga yang harus dibayar tentunya. Gengsi dan harga diri hanya sebagian saja dari kekuatan yang mesti dikelola dalam hal ini. Belum lagi emosi, marah dan sejenisnya.

Seorang guru meditasi pernah bertutur sebuah cara yang berhasil menurunkan gengsi saya secara amat drastis. Di tempat Anda duduk sekarang ini, cobalah tutup mata sebentar. Ajaklah sang fikiran melompat ke belakang seratus tahun, enam ratus dan bahkan dua ribu tahun. Kemudian, lompatkan lagi fikiran ke seribu tahu ke depan. Gambarkan secara jelas, kehidupan di tempat ini pada tahun-tahun tadi. Dalam perjalanan waktu tadi, kemudian lihat diri Anda yang sedang duduk. Bukankah diri ini tidak lebih dari sebutir pasir di tengah samudera ? Setetes air di lautan yang amat luas ? Pertanyaannya kemudian, layakkah membesar-besarkan diri dengan gengsi dan harga diri di tengah-tengah kekerdilan macam ini ?

Lama sempat saya dibuat merenung oleh latihan kecil ini. Sempat juga tidak percaya. Namun, dalam pemahaman yang lebih dalam, dia banyak menyelamatkan diri ini dari perangkap gengsi dan harga diri. Dulu, ada perasaan kurang enak kalau naik pesawat kelas ekonomi. Sekarang, ia bukan lagi menjadi halangan berarti. Dulu, ada kebutuhan agar dikagumi orang lain setelah menulis. Sekarang, dia tidak lagi menjadi syarat dan motivasi menulis. Dulu, ada perasaan tersinggung kalau ada pertanyaan orang dalam seminar yang memojokkan. Sekarang, dia malah menjadi sahabat kedewasaan dan kesabaran.

Setelah gengsi dan harga diri, sarana berikutnya agar menemukan sebanyak mungkin kebaikan adalah senyum. Inilah sarana murah namun amat meriah hasilnya. Baik mencakup materi maupun non materi. Pariwisata Bali, Singapore Airline hanyalah sebagian kecil contoh, bagaimana senyum bisa menghasilkan sejumlah kedahsyatan. Di tingkatan individu, senyum tidak saja merubah wajah seseorang menjadi lebih menarik, tetapi juga menciptakan magnet yang bisa menarik kebaikan orang lain.

Saya punya seorang rekan yang memiliki mimik muka selalu senyum. Lebih-lebih ditambah dengan lesung pipit kecil di pipinya. Didorong oleh keingintahuan akan dampak senyum, saya bertanya tentang jumlah sahabat yang dia miliki. Ternyata dia memiliki sahabat di mana-mana. Dalam banyak kejadian, dia bahkan dibantu banyak orang secara amat suka rela.

Di Amerika sana ada seorang tua yang berhasil merubah tidak sedikit anak amat nakal menjadi manusia biasa dan sebagian lagi menjadi anak baik. Tidak sedikit anak-anak pembunuh yang berhasil dirubahnya. Ketika ditanya rahasianya, dia mengatakan tidak punya rahasia. Kalaupun ada rahasia, rahasia tadi ditulis besar-besar di gerbang depan rumahnya yang bertuliskan : there is no such thing as bad kids. Tidak ada anak yang pada dasarnya nakal.

Nah inilah sarana terakhir - setelah menundukkan gengsi dan menebar senyum - dalam usaha menemukan kebaikan di mana-mana : meyakini bahwa orang lain itu baik. Kalau pembunuh saja bisa dirubah dengan cara ini, apa lagi orang biasa.

Saya masih teringat betul komentar rekan-rekan ketika saya dan isteri menikah di umur muda. Tidak sedikit yang meramalkan kami akan cerai tiga bulan kemudian - terutama karena saya memiliki banyak kekurangan. Sekarang, setelah puteri kami yang tertua sebentar lagi berumur tujuh belas tahun, tidak jarang isteri saya menelpon dari tempat yang amat jauh hanya untuk berucap singkat : dad I love you !. Kalau Anda tanya rahasianya, tentu saja semuanya sudah saya ungkapkan dalam tulisan pendek ini.