Presesi

21 September 2018 14:28:22 Dibaca : 109

Dandi Saputra Halidi


442417041

 

JUDUL

 

MENGIDENTIFIKASI LAJU SUATU BENDA BERPRESESI

 


RUMUSAN MASALAH


Bagaimana laju presesi dari sebuah giroskop ?


Bagaimana arah presesi jika arah spin piringan dibalik ?


Bagaimana perubahan laju presesi ?

 

TUJUAN


Mahasiswa dapat mengukur laju presesi dari sebuah giroskop.
Mahasiswa dapat menentukan arah presesi jika arah spin piringan dibalik.
Mahasiswa dapat mengidentifikasi perubahan laju presesi.

DASAR TEORI
Sebuah torka dapat dikerjakan pada sebuah giroskop dengan menggantungkan sebuah massa pada ujung lengannya. Torka ini menyebabkan giroskop melakukan gerak presesi dengan kecepatan anguler tertentu, Ω.
Asumsikan giroskop pada awalnya setimbang dalam posisi horizontal, θ = 90°, piringan (disk) melakukan gerak spin dengan kecepatan angular ω dan kemudian sebuah massa, m, digantungkan pada ujung dari lengan giroskop pada jarak d, dari sumbu rotasi. Hal ini menyebabkan sebuah torka, τ = mgd. Tetapi torka juga sama.
Subtitusikan dL kedalam persamaan torka memberikan
τ = mgd = dL/dt = LdÏ•/dt
karena kecepatan presesi,
mgd = LΩ
Dan laju presesi diberikan oleh,
Ω = mgd/I ω
dimana I adalah momen inersia dari piringan dan ω adalah kecepatan angular dari piringan.
Untuk menentukan momen inersia dari piringan secara eksperimen, sebuah torka dikerjakan pada pringan dan menghasilkan percepatan angular yang dapat diukur, karena
τ = l α
l = τ / α
Dimana α adalah percepatan angular yang sama dengan a / r dan τ adalah torka yang ditimbulkan oleh pemberat yang digantungkan pada benang yang dililitkan dikatrol yang terdapat pada piringan.
τ = rF
dimana r adalah jari-jari katrol yang dililiti benang dan F adalah gaya tegang tali (benang) ketika piringan berotasi.
Dengan menggunakan hukum Newton untuk massa m memberikan (Lihat gambar 4.2 pada penuntun)
ΣF = mg – F = ma
Dengan menyelesaikan persamaan diatas gaya tegang tali pada benang diberikan oleh.
F = m (g – a)
Sehingga, sekali percepatan linier dari massa m diperoleh, torka dan percepatan anguler dapat digunakan untuk menghitung momen inersia. Percepatan dapat diperoleh dengan menghitung waktu yang diperlukan oleh massa untuk jatuh dari keadaan diam dari ketinggian tertentu (y) sehingga percepatan diberikan oleh :
a = 2y / t2
Sumbu putar bisa jadi tetap ditempat atau senantiasa bergerak dan mempertahankan arah yang saja (seperti misalnya gerakan menggelinding tanpa slip). Namun berbagai fenomena fisika baru, beberapa diantaranya sangat tak terduga, dapat saja terjadi ketika sumbu putar berubah arahnya. Contohnya, bayangkan sebuah mainan giroskop yang ditumpu pada salah satu ujungnya. ujung sumbu yang bebas akan jatuh begitu saja karena gravitasi, jika roda gila tidak terputar. Namun jika roda gila berputar (mengalami spin), apa yang terjadi sangatlah berbeda. Salah satu gerak yang mungkin adalah gerak melingkar sumbu yang tunak pada bidan horizontal, dipadukan dengan gerak rotasi dari roda gila mengelilingi sumbu. Gerak ini mengejutkan, nonintuitif dari sumbu ini disebut presesi. Presesi dapat ditemukan di alam, juga pada mesin berputar semacam giroskop.
Untuk mempelajari fenomena aneh presesi ini, kita harus ingat bahwa kecepatan sudut, momentum sudut dan torsi, semuanya adalah besaran vector. Secara khusus, kita membutuhkan hubungan umum antara torsi total Στ ⃗ yang bekerja pada benda dan laju perubahan momentum sudut benda L ⃗ yang diberikan oleh persamaan Στ ⃗ = dL ⃗/dt.

Gerak gelombang ini disebut gerak nutasi. Gerak nutasi terjadi akibat pengaruh bulan yang berusaha menarik bumi ke bidang orbit bulan. Bidang orbit bulan miring 5,12° terhadap ekliptika. Gerak presesi bumi disebut juga gerak gasing bumi, maksudnya adalah perputaran sumbu rotasi bumi mengedari sumbu bidang ekliptika.
Pada pertengahan abad ke 19, telah diketahui bahwa ekliptika beringsut sedikit demi sedikit fenomena ini disebut dengan presesi planet. Komponen dominan dinamai presesi lunisolar. Kombinasi dari kedua presesi tersebut dinamai presesi umum. Disebut juga dengan presesi equinox. Presesi lunisolar disebabkan oleh gaya gravitasi bulan dan matahari pada ekuator bumi, yang menyebabkan sumbu rotasi Bumi bergerak dengan arah yang bergantung pada kerangka inersia yang dipilih.
Referensi :
Team Penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Fisika Dasar 1. Gorontalo : Laboratorium Fisika UNG.
Tippler. 2001. Fisika Untuk Sains dan Teknik Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
http://shobru.files.wordpress.com/2011/01/gerak-presesi.pdf. Diakses pada tanggal 8 November 2013.
VARIABEL-VARIABEL
Bagian I : Mengukur Laju Presesi.
Variabel bebas : Massa pemberat.
Variabel terikat : Kecepatan angular, waktu.
Variabel kontrol : Jarak.
Bagian II : Mengukur Kuantitas-kuantitas Untuk Nilai Teoritik.
Variabel bebas : Massa gesekan & massa beban.
Variabel terikat : Radius katrol, waktu.
Variabel kontrol : Ketinggian.
ALAT DAN BAHAN
Set Giroskop (ME-8960).
Stopwatch (SE-8702).
Mass and Hanger Set (ME-9348).
Neraca mekanik.
Mistar.
Table clamp for pulley.
Benang 1,5 meter.

PROSEDUR KERJA
Bagian I : Mengukur Laju Presesi.
Mengukur massa dari massa tambahan dan mencatat massanya pada tabel 4.1. Menggantung massa tambahan tersebut pada ujung lengan. Mengukur jarak antara sumbu rotasi kepusat massa tambahan. Mencatat jarak ini pada tabel 4.1.
Memegang giroskop sehingga giroskop tersebut tidak dapat berpresesi, memutar piringan sehingga dapat berputar dengan kelajuan kira-kira dua puluh putaran perdetik. Mengukur waktu yang diperlukan oleh 10 kali putaran dan dicatat pada tabel 4.1.
Membiarkan giroskop berpresesi dan mengukur waktu nyang diperlukan untuk melakukan dua gerak revolusi. Mencatat waktu tersebut pada tabel 4.1.
Secepatnya mengulangi pengukuran waktu yang diperlukan piringan untuk melakukan gerak revolusi sebanyak 10 putaran. Data sebelum dan sesudah akan digunakan untuk menentukan kecepatan angular rata-rata dari pirinagn selama piringan tersebut melakukan gerak presesi.

Tabel 4.1 Pengukuran Kecepatan Angular
Massa Tambahan.
Jarak (d).
Waktu yang diperlukan untuk 10 putaran (awal).
Waktu yang diperlukan untuk gerak presesi.
Waktu yang diperlukan untuk 10 putaran (akhir).

Bagian II : Mengukur Kuantitas-kuantitas Untuk Nilai Teoritik.
Memperhitungkan Gesekan.
Karena gesekan tidak termasuk dalam teori, maka akan dikompensasikan dalam eksperimen ini dengan menemukan berapa besarnya massa yang dibebankan pada katrol yang menyebabkan katrol tersebut mengalami gesekan kinetis. Pada saat massa jatuh dengan kecepatan tetap, berat massa tersebut sama dengan gesekan kinetis. Sehingga “ massa gesekan ” (“ friction mass”) ini akan dikurangi dari massa yang digunakan untuk membuat gerak katrol dipercepat. Untuk menentukan massa yang diperlukan oleh katrol mencapai gesekan kinetis, letakkan massa secukupnya pada gantungan massa yang berhubungan dengan katrol sehingga katrol berputar dengan kecepatan tetap. Mencatat massa gesekan ini pada tabel 4.2.
Menentukan Percepatan Piringan.
Untuk menentukan percepatan, letakkan kira-kira 30 gram (mencatat massa yang tepat pada tabel 4.2) pada katrol. Melilitkan benang dan membiarkan massa jatuh dari meja ke lantai, mengukur waktu jatuhnya.
Mengulangi langkah pertama sebanyak 5 kali, usahakan jatuhkan massa dari posisi yang sama.
Mengukur ketinggian posisi awal massa dan mencatat kedalam tabel 4.2.
Mengukur Radius.
Menggunakan jamgka sorong untuk mengukur diameter dari katrol kira-kira dengan benang yang terlilit dan menghitung radiusnya. Mencatat radius ini pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Data Momen Inersia
Massa Gesekan
Massa Beban
Ketinggian Jatuhnya Massa
Radius Katrol

Waktu

Rata-rata


HASIL PENGAMATAN
Tabel 4.1 Pengukuran Kecepatan Angular
Massa Tambahan.
Jarak (d).
Waktu yang diperlukan untuk 10 putaran (awal).
Waktu yang diperlukan untuk gerak presesi.
Waktu yang diperlukan untuk 10 putaran (akhir).

Tabel 4.2 Data Momen Inersia
Massa Gesekan
Massa Beban
Ketinggian Jatuhnya Massa
Radius Katrol

Waktu

Rata-rata


Pengolahan Data
Menghitung Waktu Rata-Rata (tavg)

t (satuan) t2(satuan)
15,58 s
15,72 s
15,78 s
15,82 s 242,73 s
247,11 s
249,008 s
250,27 s
∑t = 15,725 s ∑t2 = 989,118 s
( ∑t )2 =247,27 s

tavg = (∑t)/n = 15,725/4 = 3,93 s
∆tavg =√((n〖.∑t〗^2-(〖 ∑t )〗^2 )/(〖n 〗^2 (n-1)))
= √((4(989,118)- (247,27))/(4^2 (4-1))) = √(( 3,956-247,27)/48) = √5,0690 = 2,25 s

KR = ∆tavg/tavg x 100%
= 2,25/3,93 x 100%
= 57 % (2 AP)
(tavg ± ∆tavg ) = (3,9 ± 0,2).10 sekon

Menghitung Percepatan

h = 46 cm = 0,46 m
∆h = 1/2 x Nst Mistar
= 1/2 x 0,1 cm

= 0,05 cm = 0,0005 m

a = 2y/(tavg)^2 = (2(0,46))/15,725 = 0,003 meter

∆a = √( 2/3 |∆h/h|^2+|∆tavg/tavg|^2 ) x a

= √( 2/3 |0,0005/0,46|^2+|0,051/15,725|^2 ) x 0,003

= √( 2/3 |0,00000108|^2+|0,003|^2 ) x 0,003

= 0,00015 m/s2

KR = ∆a/a x 100 %

= 0,00015/0,0003 x 100 %

= 50 % (2 AP)
(a ± ∆a) = (3,0 ± 0,1) 10-2 m
Menghitung Momen Inersia
Langkah-langkah untuk memperoleh momen inersia
Menghitung Massa
Mb = 0,1 kg

mg = 0,1 kg

m = mb – mg
= 0 kg

∆m = 1/2 x Nst Neraca Mekanik Berdiri

= 1/2 x 0,1 gr = 0,05 gr

= 0,00005 kg

KR = ∆m/m x 100 %

= 0,00005/0 x 100 %

= 0,0005 % (7 AP)
(m ± ∆m) = (0 ± 0,005).10 kg

Menghitung Gaya
F = m (g – a)

= 0,004 (0,003 – 0,003)

= 0,000009 N

∆F = √(|∆M/M|^2+|∆a/a|^2 ) x F

= √(|0,00005/0,04|^2+|0,00015/0,0003|^2 ) x 0,000009

= 0,0000045 N

KR = ∆F/F x 100%

= 0,0000045/0,000009 x 100 %

= 50 % (2 AP)

(F ± ∆F) = (9,0 ± 0,4) 10-5 N

Menghitung Torsi
r = 14 cm = 0,14 m

∆r = 1/2 x Jangka sorong
= 1/2 x 0,05 mm
= 0,025 mm = 0,00025 m

∆τ = √(|∆r/r|^2+|∆F/F|^2 ) x τ

= √(|0,00025/0,14|^2+|0,0000045/0,000009|^2 ) x 0,00025

= 0,000125 N/m

KR = ∆τ/τ x 100%
= 0,000125/0,00025 x 100 %
= 50 % (2 AP)

(τ ± ∆τ) = (2,5 ± 0,1) 10-3 N/m

Menghitung Percepatan Anguler
α = a/r = 0,14/0,003 = 46,6 m/s2

∆α = √(|∆a/a|^2+|∆r/r|^2 ) x α

= √(|0,00015/0,0003 |^2+|0,00025/4,6|^2 ) x 46,6

= 11,6 m/s2

KR = ∆α/α x 100%
= 11,6/46,6 x 100 %
= 24,89 % (2 AP)

(α ±âˆ†α) = (4,6 ± 0,1).10 m/s2

Menghitung Momen Inersia
I = τ/α = 0,00025/46,6 =0,00000531 kg/m2

∆I = √(|∆τ/τ|^2+|〖∆α/α〗^2 | ) x I
= √(|0,000125/0,00025|^2+|〖11,6/46,6〗^2 | ) x 0,00000136
= 0,00000375 kg/m2

KR = ∆I/I x 100%
= 0,0000375/0,00000136 x 100%
= 7 % (2 AP)

(I ± ∆I) = (1,3 ± 0,3) 10-6 kg/m2

Menghitung Kecepatan Anguler
T = (((〖t 〗_awal+ t_akhir)/10))/2
= (((1,79 + 2,74)/10))/2
= 0,22 sekon

∆T = 1/2 x nst Stopwatch
= 1/2 x 0,1 s
= 0,05 s

ω = 2π/T
= (2(3,14))/0,22 = 28,54 rpm

∆ω = |∆T/T| x ω

= |0,05/0,22| x 28,54

Laju Presesi Eksperimen
T presesi = (T presesi)/2
= 4,35/2 = 2,175 s
∆Tpresesi = 1/2 x nst Stopwatch
= 1/2 x 0,1 s
= 0,05 s
Ω eks = 2π/(T presesi)
= (2(3,14))/2,175
= 2,88 rpm

âˆ†Ω eks = |∆Tpresesi/(T preesi)| x Ω eks
= |0,05/2,175| x 2,88
= 0,0659 rpm

KR = (ΔΩ_eks)/Ω_eks x 100%
= 0,0659/2,88 x 100%
= 2,288 % (2 AP)

(Ω_eks ± ΔΩ_eks) = (2,8± 0,2).10 rpm

Laju Presesi Teoritik
Ω teori = m . g . d
= 0,05003 x 0,28
= 0,00084 rpm

âˆ†Ω teori = √(|∆M/M|^2+|∆d/d|^2+|∆I/I|^2+|∆ω/ω|^2 ) x Ω teori
= √(|0,00005/0|^2+|0,0005/0,28|^2+|0,00000375/0,00000536|^2+|28,54/6,478|^2 ) x 1
= 0,003 m/s2
KR = (âˆ†Ω teori )/(Ω teori ) x 100%
= (0,003 )/0,00084 x 100%
= 357,14 % (1 AP)
(Ω teori ± âˆ†Ω teori) = (8 ± 3).10 m/s2

Menghitung % Beda
LPE = LPE/(LPE+LPT ) = 2,28/(2,28 + 0,00084 )
= 1 m/s2

LPT = LPT/(LPT+LPE )
= 0,000084/(2,00084+2,88 )
= 0,0002 m/s2

% Beda = |(LPE-LPT)/LPE x 100%|
= 177,8 %

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa semakin besar angka penting yang di dapat maka semakin kecil kemungkinan kesalahan yang terjadi.
Tugas Akhir
Faktor-faktor tersebut berpengaruh pada laju presesi teoritik
Jika arah spin piringan dibalik maka arah gerak presesi juga akan berbalik. Misalnya arah grak presesi ke kanan, jika arah gerak spin dibalik maka gerak presesi akan bergerak ke kiri.
Jika kecepatan angular di perbesar maka kecepatan presesi akan membesar
Kemungkinan Kesalahan
Kesalahan pada alat ukur
Kesalahan pada pengukuran

 

Hukum ll Newton

21 September 2018 14:20:10 Dibaca : 4

Dandi Saputra Halidi

442417041

 

Judul :

HUBUNGAN GAYA DAN PERCEPATAN DALAM KEHIDUPAN
SEHARI HARI


Rumusan masalah


Bagaimana grafik yang menunjukkan hubunan percepatan rata-rata sebagai fungsi dari gaya yang dikerahkan (Fa) ?


Bagaimana grafik yang menunjukkan hubungan percepatan rata-rata sebaga fungsi dari massa balok beroda menggunakan grafik untuk menentukkan antara gaya yang diterapkan, massa, dan percepatan rata-rata balok ?


Bagaimana interpretasi grafik ?


Bagaimana eksperimen dapat membantu memperluas hasil-hasil untuk mengikutkan percepatan sesaat ?

 


Tujuan


Mahasiswa dapat mengetahui grafik yang menunjukkan hubunan percepatan rata-rata sebagai fungsi dari gaya yang dikerahkan (Fa).


Mahasiswa dapat mengetahui grafik yang menunjukkan hubungan percepatan rata-rata sebaga fungsi dari massa balok beroda menggunakan grafik untuk menentukkan antara gaya yang diterapkan, massa, dan percepatan rata-rata balok.


Mahasiswa dapat menginterpretasi grafik.


Mahasiswa dapat menegtahui eksperimen apa yang dapat membantu memperluas hasil-hasil untuk mengikutkan percepatan sesaat.

 

 

Dasar teori


Gaya adalah suatu pengaruh yang dapat mengubah kecepatan suatu benda. Gravitasi merupakan gaya interaksi fundamental yang ada di alam. Newton menemukan pada abad ke-17 bahwa interaksi yang terjadi pada buah apel yang jatuh dari pohonnya dan kmampuan planet mengorbit pada matahari mempunyai sifat yang sama.
Tidak ada suatu kejelasan mengenai hubungan yang mempengaruhi gerakan sebuah objek. Fakta menunjukkan hubungan itu diperoleh 4000 tahun setelah peradaban dan kejeniusan Isaac Newton dalam menyatakan hukum-hukum dasar tersebut. Untungnya, bagi kita hukum-hukum dasar itu merupakan alat penelitian yang sangat berguna. Dalam eksperimen ini akan ditentukan eksperimental hukum ke-2 newton dengan mempelajari kereta pada Valma ramp dibawah pengaruh gaya tetap. Gaya yang tetap ini diperoleh dengan menggantungkan sebuah massa pemberat yang akan digunakan untuk menarik kereta. Dengan mengubah-ubah berat kereta dan mengukur percepatan suatu kereta, akan dapat ditentukan hukum ke-2 newton. Suatu gaya total yang diberikan pada sebuah benda mungkin menyebabkan lajunya bertambah atau jika gaya total itu mempunyai arah yang berlawanan dengan gerak, gaya tersebut akan memperkecil laju benda itu. Jika arah gaya total yang bekerja berbeda dengan arah sebuah benda yang bergerak, maka arah kecepatannya akan berubah (dan mungkin besarnya juga) karena perubahan laju atau kecepatan merupakan percepatan. Hukum II Newton menyatakan “percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya”.
secara matematis Hukum II Newton dapat ditulis :
a= (∑F)/m
Dengan :
a adalah percepatan satuannya m/s2
m adalah massa benda satuannya kg
∑F adalah gaya total satuannya Newton (N)
Newton berpendapat bahwa kecepatan akan berubah. Suatu gaya total yang diberikan pada sebuah benda mungkin menyebabkan lajunya bertambah atau jika gaya total itu mempunyai arah yang berlawanan dengan gerak, gaya tersebut akan memperkecil laju benda itu. Jika arah gaya total yang bekerja berbeda dengan arah sebuah benda yang bergerak, maka arah kecepatannya akan berubah (dan mungkin besarnya juga).
Karena perubahan laju atau kecepatan merupakan percepatan dapat kita katakana bahwa gaya total menyebabkan percepatan. Bayangkan gaya yang diperlukan untuk mendorong sebuah gerobak yang gesekannya minimal. (jika ada gesekan, bayangkanlah gaya total, yang merupakan gaya yang anda berikan dikurangi gaya gesekan). Sekarang jika anda mendorong dengan pelan tetapi dengan gaya yang konstan selama selang waktu tertentu, anda akan mempercepat gerobak tersebut dari keadaan diam sampai laju tertentu, katakanlah 3 km/jam. Jika anda mendorong dengan gaya dua kali lipat, anda akan mendapatkan bahwa gerobak tersebut mencapai 3 km/jam dalam waktu setengah kali sebelumnya. Berarti, percepatan akan dua kali lipat lebihbesar. Jika anda menggandakan gaya, percepatan akan menjadi dua kali lipat pula. Jika anda melipattigakan gaya, percepatan juga menjadi tiga kali lipat., dan seterusnya. Dengan demikian, percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang diberikan. Tetapi percepatan juga bergantung pada massa benda. Jika anda mendorong gerobak yang kosong dengan gaya yang sama seperti ketika anda mendorong gerobak yang penuh, anda akan menemukan bahwa gerobak yang penuh mempunyai percepatan yang lebih lambat. Makin besar massa makin kecil percepatan, walaupun gayanya sama. Hubungan matematisnya, seperti dikemukakan newton, adalah percepatan sebuah benda berbanding terbalik dengan massanya. Hubungan ini ternyata berlaku secara umum dan dapat dirangkum sebagai berikut: Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya.
Hukum pertama Newton menyatakan bahwa jika ada gaya total yang bekerja pada sebuah benda, benda tersebut akan tetap diam , atau jika sedang bergerak, akan tetap bergerak dengan laju konstan dalam garis lurus. Newton berpendapat bahwa kecepatan akan berubah.
Suatu gaya total yang diberikan pada sebuah benda mungkin menyebabkan lajunya bertambah. Karena perubahan laju atau kecepatan merupakan percepatan, dapat dikatakan bahwa gaya total menyebabkan percepatan.
Hubungan antara percepatan dan gaya dapat kita lihat di kehidupan sehari-hari. Bayangkan gaya yang diperlukan untuk mendorong sebuah gerobak yang gesekannya minimal. Jika anda mendorong gerobak tersebut dengan pelan tetapi dengan gaya yang konstan selama selang waktu tertentu.
Gaya dan massa mempunyai akibat yang berbeda terhadap percepatan. Semakin besar massa benda, semakin kecil percepatannya. Sebagai contoh, jika kita pasangkan sebuah mesin yang sama pada sebuah sedan dan sebuah truk, kita akan memperoleh percepatan yang berbeda antara sedan dan truk itu meskipun mesin yang dipakai sama sehingga gaya yang dihasilkan sama.
Truk yang mempunyai massa lebih besar, memiliki kelembaman yang lebih besar terhadap perubahan kecepatan daripada sedan. Sehingga truk membutuhkan mesin yang lebih kuat untuk menyamai percepatan sedan. Untuk percepatan yang sama, massa yang lebih besar membutuhkan gaya yang lebih besar. Kita katakan percepatan benda berbanding terbalik dengan massa. Maka percepatan suatu benda, bergantung pada gaya total yang bekerja pada benda dan massa benda.
Referensi :
Team teaching. 2017. Penuntun Praktikum Fisika Dasar 1. Gorontalo : Laboratorium Fisika UNG.
Giancoli, Douglas C.2001. FISIKA Edisi kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga
http://27/11/2014.penjelasan-hukum-ii-newton.html.
SILABAN.*ANTER dan SUCIPTO ERWIN 2001.fisika jilid 1 edisi ketiga JAKARTA : ERLANGGA

Variable
Variabel Bebas : Massa
Variabel Terikat : Waktu
Variabel Kontrol : Posisi awal kereta meluncur

Alat dan Bahan
Satu set valma ramp
Photogate timer dan accessoriesnya
Berbagai beban tambahan dengan massa
Pengait dan benang

Prosedur kerja
Menyusun valma ramp seperti pada gambar 3.1 yang ada pada penuntun. Mengusahakan posisi valma ramp mendatar. Memperhatikan terdapat kereta.
Mengangkat dan menimbang kereta tersebut dengan massa tambahan sebesar 40-50 gram. Menghitung massa total kereta beserta massa tambahan dan mencata pada tabel 3.1 sebagai m.
Mengukur lebar efektif plat (kuning) yang ada pada kereta. Plat inilah yang akan ditringer oleh photogate timer, mencatat lebarnya sebagai L pada tabel 3.1.
Menempatkan massa 5-10 gram pada hanger. Menimbang massa totalnya sebagai ma, mencatat dalam tabel 3.1.
Menghubungkan ma yang digantung pada ujung valma ramp menggunakan benang pada ujung kereta (diusahakan horizontal).
Kemudian mengatur photogate ke mode GATE. Lalu menekan tombol RESET.
Melepaskan balok beroda dari ujung kiri. Memberikan gaya tolakan sekecil mungkin jika kereta tidak bergerak.
Mencatat t1 yaitu waktu yang diperlukan oleh plat melewati photogate pertama dan t2 untuk photogate kedua.mengulangi pengukuran ini minimal sebanyak 3 kali. Mengambil rata-rata dari pengukuran t1 dan t2. Mencatat hasilnya sebagai t1 rata-rata dan t¬2 rata-rata dalam tabel 3.1.
Mengatur mode photogate ke mode PULSE. Menekan tombol RESET.
Sekali lagi melepaskan kereta. Mencatat waktu yang ditunjukkan oleh photogate sebagai t3, yakni waktu yang diperlukan oleh plat untuk melewati kedua photogate timer. Mengulangi pengukuran ini minimal sebanyak 3 kali dan mencatat rata-ratanya ke dalam tabel 3.1.
Mengubah ma dengan memindahkan massa tambahan pada kereta ke hanger yang tergantung (usahakan m = ma tetap). Mencatat kembali m dan ma, lalu mengulangi langkah 6-11 untuk variasi m dan ma minimal sebanyak 4 kali.
Tabel 3.1 Hasil Pengamatan
L =………… satuan
M (satuan) Ma (satuan) t1 (satuan) t1 + t2 (satuan) t3 (satuan)


Tabel 3.1 Hasil Pengamatan
L = 2,5 cm
M (gr) Ma (gr) t1 (s) t2 (s)
363,5 14,8 0,4162 0,4062
0,4440 0,4383
0,4662 0,4757
353,5 15,8 0,4588 0,4106
0,4629 0,4321
0,4971 0,4509

NST neraca mekanik duduk : 0,1 gr
NST Mistar : 0,1 cm

PENGOLAHAN DATA PF-3
HUKUM II NEWTON
Mencari Nilai (M) dan (Ma) yang berubah-ubah
Untuk M₁
M₁ = 363,5 gr = 0,3635 kg
∆M₁ = ½ nst neraca mekanik duduk
= ½ x 0,1 gr = 0,05 gr = 0,00005 kg
KR = (∆M₁)/(M₁) x 100%
= 0,00005/0,3635 x 100% = 0,013 % = 5 AP
(M₁±âˆ†M₁) = ( 3,6350 ±0,0005) 10-1 kg
Untuk M2
M2 = 353,5 gr = 0,3535 kg
∆Mâ‚‚ = ½ nst alat ukur
= ½ x 0,1 gr = 0,05 gr = 0,00005 kg
KR = (∆M₂)/(M₂) x 100%
= 0,00005/0,3535 x 100% = 0,014 % = 5 AP
(Mâ‚‚±âˆ†Mâ‚‚) = ( 3,5350 ±0,0005) 10-1 kg

Untuk Ma₁
Ma₁ = 14,8 gr = 0,0148 kg
∆Ma₁ = ½ nst alat ukur
= ½ x 0,1 gr = 0,05 gr = 0,00005 kg
KR = (∆Ma₁)/(Ma₁) x 100%
= 0,00005/0,0148 x 100 % = 0,33 % = 4 AP
(Ma₁±âˆ†Ma₁) = (1,480±0,005) 10-2 kg

Untuk Ma2
Ma2 = 15,8 gr = 0,0158 kg
∆Maâ‚‚ = ½ nst alat ukur
= ½ x 0,1 gr = 0,05 gr = 0,00005 kg
KR = (∆Ma₂)/(Ma₂) x 100%
= 0,00005/0,0158 x 100 % = 0,31 % = 4 AP
(Maâ‚‚±âˆ†Maâ‚‚) = (1,580±0,005) 10-2 kg

Mencari Nilai t (waktu), v (kecepatan), a (percepatan), dan F (gaya)
Menghitung t (waktu)
Untuk data M₁ dan Ma₁
Untuk t1
t₁ (s) t₁² (s)
0,4162 s
0,4440 s
0,4662 s 0,1732 s
0,1971 s
0,2173 s
∑t₁ = 1,3264 s ∑t₁² = 0,5876 s
(∑t₁)²= 1,75933 s

t₁ = (∑t₁)/n = 1,3264/3 = 0,44 s
∆t₁ = = √((n .Σt^2-(Σ〖t)〗^2)/(n^2 (n-1))) = √((3 . 0,5876-1,75933)/(3² (3-1)))
= √((1,7628-1,75933)/18) = √(0,00347/18)= √0,000192 = 0,013 s

Kr = (∆t₁)/(t₁) x 100%
= 0,013/0,44 x 100% = 2,95 % 3 A.P
(t₁ ± ∆t₁ )= (4,40±0,01) 10-1 s.
Untuk t2
t2 (s) t2² (s)
0,4067 s
0,4383 s
0,4757 s 0,1654 s
0,1921 s
0,2262 s
∑t2 = 1,3207 s ∑t2² = 0,5837 s
(∑t2)²= 1,74424 s

t₁ = (∑t₁)/n = 1,3207/3 = 0,44 s
∆t₁ = = √((n .Σt^2-(Σ〖t)〗^2)/(n^2 (n-1))) = √((3 . 0,5837-1,74424)/(3² (3-1)))
= √((1,7511-1,74424)/18) = √(0,00686/18)= √0,00038 = 0,019 s

Kr = (∆t₁)/(t₁) x 100%
= 0,019/0,44 x 100% = 4,31 % 3 A.P
(t₁ ± ∆t₁ )= (4,40±0,01) 10-1 s.

Untuk t3
t3 (s) t3² (s)
0,5501 s
0,5659 s
0,5425 s 0,30261 s
0,32024 s
0,29430 s
∑t3 = 1,6585 s ∑t3² = 0,91715 s
(∑t3)²= 2,75062 s

t3 = (∑t₃)/n = 1,6585/3 = 0,55 s
∆t₃ = = √((n .Σt^2-(Σ〖t)〗^2)/(n^2 (n-1))) = √((3 . 0,91715-2,75062)/(3² (3-1)))
= √((2,75145-2,75062)/18) = √0,000046 = 0,006 s
Kr = (∆t₃)/(t₃) x 100%
= 0,006/0,55 x 100% = 1,09 % = 3 AP
(t₃ ± ∆t₃ )= (5,50±0,06) 10-1 s.

Untuk data Mâ‚‚ dan Maâ‚‚
Untuk t1
t₁ (s) t₁² (s)
0,4321 s
0,4487 s
0,4300 s 0,18671 s
0,20133 s
0,1849 s
∑t₁ = 1,3108 s ∑t₁² = 0,57294 s
(∑t₁)²= 1,718196 s

t₁ = (∑t₁)/n = 1,3108/3 = 0,43 s
∆t₁ = √((n .Σt^2-(Σ〖t)〗^2)/(n^2 (n-1))) = √((3 . 0,57294-1,718196)/(3² (3-1)))
= √((1,71882-1,718196)/18) = √0,0000347 = 0,005 s
Kr = (∆t₁)/(t₁) x 100%
= 0,005/0,43 x 100% = 1,16 % = 3 AP
(t₁ ± ∆t₁ )= (4,30±0,05) 10-1 s.
Untuk t2
t2 (s) t2² (s)
-0,0716 s
-0,0279 s
0,0757 s 0,005126 s
0,000778 s
0,005730 s
∑t2 = -0,0238 s ∑t2² = 0,0116 s
(∑t2)²= 0,00056 s

t2 = (∑tâ‚‚)/n = (-0,0238)/3 = -0,0079 s
∆tâ‚‚ = √((n .Σt^2-(Σ〖t)〗^2)/(n^2 (n-1))) = √((3 . 0,0116-0,00056)/(3² (3-1)))
= √((0,0348-0,00056)/18) = √0,0019 = 0,04 s
Kr = (∆t₂)/(t₂) x 100%
= 0,04/0,42 x 100% = 9,5 % = 2 AP
(t¬2 ± ∆tâ‚‚ )= (4,2±0,4) 10-1 s.
Untuk data M2 dan Ma2
Untuk t1
t1 (s) t1² (s)
0,4588 s
0,4629 s
0,4971 s 0,2104 s
0,2142 s
0,2471 s
∑t1 = 1,4188 s ∑t1² = 0,6717 s
(∑t1)²= 2,01299 s

t₁ = (∑t₁)/n = 1,4188/3 = 0,47 s
∆t₁ = = √((n .Σt^2-(Σ〖t)〗^2)/(n^2 (n-1))) = √((3 . 0,6717-2,01299)/(3² (3-1)))
= √((2,0151-2,01299)/18) = √(0,00211/18)= √0,00017 = 0,010 s

Kr = (∆t₁)/(t₁) x 100%
= 0,010/0,47 x 100% = 2,12 % 3 A.P
(t₁ ± ∆t₁ )= (4,70±0,01) 10-1 s
Untuk t2
t2 (s) t2² (s)
0,4106 s
0,4321 s
0,4509 s 0,1685 s
0,1867 s
0,2033 s
∑t1 = 1,2936 s ∑t1² = 0,5585 s
(∑t1)²= 1,67340 s

t₁ = (∑t₁)/n = 1,2936/3 = 0,43 s
∆t₁ = = √((n .Σt^2-(Σ〖t)〗^2)/(n^2 (n-1))) = √((3 . 0,5585-1,67340)/(3² (3-1)))
= √((1,6755-1,67340)/18) = √(0,0021/18)= √0,00011 = 0,010 s

Kr = (∆t₁)/(t₁) x 100%
= 0,010/0,43 x 100% = 2,32 % 3 A.P
(t₁ ± ∆t₁ )= (4,30±0,01) 10-1 s
Menghitung v (kecepatan)
Untuk menghitung V1
Untuk M1 dan Ma1
Menghitung V1
V1 = L/t_1 = 0,025/0,44 = 0,056 m/s
∆V₁=|∆L/L|+|(∆t_1)/t_1 | × V_1
= |0,00005/0,025|+|0,013/0,44| x 0,056 = 0,002 + 0,029 x 0,056
= 0,0017 m/s
KR=〖∆V〗_1/V_1 ×100%
= 0,0017/0,056 x 100% = 3,03 % = 3 AP
( V_1± ∆V_1 ) = (5,60 ± 0,01) 10-2 m/s

Untuk menghitung Vâ‚‚
Vâ‚‚ = L/t_â‚‚ = 0,025/0,44 = 0,056 m/s
∆Vâ‚‚=|∆L/L|+|(∆tâ‚‚)/t_â‚‚ | × V_1
= |0,00005/0,025|+|0,019/0,44| x 0,056 = 0,002 + 0,043 x 0,056
= 0,0025 m/s
KR=〖∆V〗_â‚‚/(Vâ‚‚)×100%
= 0,0025/0,056 x 100% = 4,46 % = 3 AP
( V_â‚‚± ∆V_â‚‚ ) = (5,60 ± 0,02) 10-2 m/s
Untuk M2 dan Ma2
Menghitung V1
V1 = L/t_1 = 0,025/0,47 = 0,053 m/s
∆V₁=|∆L/L|+|(∆t_1)/t_1 | × V_1
= |0,00005/0,025|+|0,010/0,47| x 0,053 = 0,002 + 0,021 x 0,053
= 0,0012 m/s
KR=〖∆V〗_1/V_1 ×100%
= 0,0012/0,053 x 100% = 2,26 % = 3 AP
( V_1± ∆V_1 ) = (5,30 ± 0,01) 10-2 m/s

Untuk menghitung Vâ‚‚
Vâ‚‚ = L/t_â‚‚ = 0,025/0,43 = 0,058 m/s
∆Vâ‚‚=|∆L/L|+|(∆tâ‚‚)/t_â‚‚ | × V_1
= |0,00005/0,025|+|0,010/0,43| x 0,058 = 0,002 + 0,023 x 0,058
= 0,0014 m/s
KR=〖∆V〗_â‚‚/(Vâ‚‚)×100%
= 0,0014/0,058 x 100% = 2,41 % = 3 AP
( V_â‚‚± ∆V_â‚‚ ) = (5,80 ± 0,01) 10-2 m/s

Menghitung a percepatan
Untuk a1
a_1= ((V_2-V_1 ))/t_1 = ((0,056-0,053))/0,44 = 0,003/0,44 = 0,006 m/s
∆a_1= |(∆V_2)/V_2 |+|(∆V_1)/V_1 |+|(∆t_1)/t_1 | ×a_1
= |0,0025/0,056|+|0,0012/0,053|+|0,013/0,44| x 0,006
= 0,044 + 0,022 + 0,029 x 0,006
= 0,095 x 0,006 = 0,00057 m/s.
KR=〖∆a〗_1/a_1 ×100%
= 0,00057/0,006 x 100% = 9,5 % = 3 AP
( a_1± ∆a_1 ) = (6,0±0,5) 10-3 m/s2.

Untuk a2
a_2= ((V_2-V_1 ))/(tâ‚‚) = ((0,058-0,056))/0,43 = 0,002/0,43 = 0,004 m/s
∆a_2= |(∆V_2)/V_2 |+|(∆V_1)/V_1 |+|(∆t_2)/(tâ‚‚)| ×a_2
= |0,0014/0,058|+|0,0017/0,056|+|0,010/0,43| x 0,004
= 0,024 + 0,030 + 0,023 x 0,004
= 0,077 x 0,004 = 0,0003 m/s.
KR=〖∆a〗_2/(aâ‚‚)×100%
= 0,0003/0,004 x 100% = 7,5 % = 2 AP
( a_2± ∆aâ‚‚ ) = (4,0±0,3) 10-3 m/s2.

Menghitung Gaya (F)
Untuk Ma1
Ma1 = 14,8 gr = 0,0148 kg
Fa1 = Ma1 × g = 0,0148 x 9,8 = 0,14504 N
∆〖Fa〗_1= |(∆〖Ma〗_1)/〖Ma〗_1 | × ã€–Fa〗_1
= |0,00005/0,0148| x 0,14504 = 0,00049 N
KR=〖∆Fa〗_1/(Fa_1 )×100%
= 0,00049/0,14504 x 100% = 0,33 % = 4 AP
( 〖Fa〗_1± ∆Fa_1 ) = (1,450± 0,004) 10 N
Untuk Ma2
Ma2 = 15,8 gr = 0,0158 kg
Fa2 = Ma2 × g = 0,0158 x 9,8 = 0,15484 N
∆〖Fa〗_2= |(∆〖Ma〗_2)/(Maâ‚‚)| × ã€–Fa〗_2
= |0,00005/0,0158| x 0,1548 = 0,00049 N
KR=〖∆Fa〗_2/(Fa_2 )×100%
= 0,00049/0,15484 x 100% = 0,31 % = 4 AP
( 〖Fa〗_2± ∆Fa_2 ) = (1,548± 0,004) 10 N

Tabel-tabel Hubungan Hasil Pengamatan

Tabel hubungan antara a dengan Fa

No a (a ± ∆a) m/s2 Fa (Fa ± ∆Fa) N
1.
2. (6,0±0,5) 10-3 m/s2
(4,0±0,3) 10-3 m/s2 (1,450± 0,004) 10 N
(1,548± 0,004) 10 N

Tabel hubungan antara a dengan Ma

No a (a ± ∆a) m/s2 Ma (Ma ± ∆Ma) kg
1.
2. (6,0±0,5) 10-2 m/s2
(4,0±0,3) 10-2 m/s2 (1,480±0,005) 10-2 kg
(1,580±0,005) 10-2 kg

Membuat grafik hubungan antara a dengan Fa

Interpretasi grafik
Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara percepatan (a) dengan gaya (F) berbanding terbalik. Karena gaya pada saat bekerja mengalami pengurangan sebaliknya percepatan pada saat bekerja mengalami pertambahan.

Menghitung Kemiringan Grafik
∆Fa=Fa_2-Fa_1
= 0,15484 – 0,14504 = 0,0098 N
∆a= a_2-a_1
= 0,004 – 0,006 = 0,002 m/s2.
∂(∆Fa)=1/2 nst grafik
= ½ x 0,1 mm = 0,05 mm = 0,00005 m
∂(∆a)=1/2 nst grafik
= ½ x 0,1 mm = 0,05 mm = 0,00005 m
M = ∆Fa/∆a = 0,098/0,002 = 49 kg
∆M= |∂(∆Fa)/∆Fa|+ |∂(∆a)/∆a| ×M
= |0,00005/0,0098|+ |0,00005/0,002| x 49

= 0,0051 + 0,0025 x 4,9 = 0,14 kg
KR= ∆M/M ×100 %
= 0,14/4,9 x 100% = 2,85 % = 3 AP
( M± ∆M)= (4,90± 0,01)10 kg

Membuat grafik hubungan antara a dengan Ma

Interpretasi grafik
Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara percepatan (a) dengan massa benda (Ma) berbanding terbalik. Karena massa dberkurang. sebaliknya percepatannya bertambah.

Menghitung kemiringan grafik

∆Ma=〖Ma〗_(2 )- 〖Ma〗_(1 )
= 0,0158 – 0,0148 = 0.001 kg
∆a=a_(2 )- a_(1 )
= 0,004 – 0,006 = 0,002 m/s2
∂(∆Ma)=1/2 nst grafik
= ½ x 0,1 mm = 0,05 mm = 0,00005 m
∂(∆a)=1/2 nst grafik
= ½ x 0,1 mm = 0,05 mm = 0,00005 m
M = ∆Ma/∆a = 0,001/0,002 = 0,5 kg
∆M= |∂(∆Ma)/∆Ma|+ |∂(∆a)/∆a| ×M
= |0,00005/0,001|+ |0,00005/0,002| x 5
= 0,05 + 0,025 x 0,5 = 0,0375 kg
KR= ∆M/M ×100 %
= 0,0375/0,5 x 100% = 7,5 % = 2 AP
( M± ∆M)= (5,0± 0,3). 10 kg

Kesimpulan
Bunyi Hukum II Newton yaitu : Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya.

Kemungkinan kesalahan
Kurangnya keterampilan praktikan menggunakan alat.
Kesalahan dalam pencatatan waktu menggunakan photogate timer.

 

EksperimenKU

21 September 2018 05:38:35 Dibaca : 16

Dandi Saputra Halidi

442 417 041

Kimia A

Pengantar Rekayasa dan Desain

Bahan

1. CaCO3 ( dari cangkang telur )

2. Titan Dioksida

3. Propylene Venyl Acrilic

4. Pigmen Color

5. Kaolin

6. Pine Oil

7. Essens buah atau semacamnya.

Alat

1. Mixer

2. Wadah untuk mencampur bahan bahan

3. Pengaduk

4. Mortar

5. Penyaring

Langkah – langkah Pembuatan

1. Bersihkan limbah cangkang telur dan pisahkan selaput putih dari cangkang telur hingga yang diambil benar-benar cangkang telur murni.

2. Cangkang telur tadi kemudian dihaluskan hingga menjadi bubuk.

3. Larutkan bubuk cangkang telur dengan air dan tambahkan Propylene Vinyl Acrylic kemudian aduk sampai larut dengan menggunakan mixer. (larutan a)

4. Titan Dioksida dilarutkan pada larutan a, aduk sampai menjadi senyawa/larut. (larutan b)

5. Kaolin dilarutkan lagi pada larutan b hingga membentuk senyawa lagi. (larutan c)

6. Masukan Pigmen colour kedalam larutan c, aduk hingga benar – benar tercampur rata. Jangan lupa tambahkan esens buah sebagai penambah aroma ruangan. pada tahap ini cat masih dalam keadaan mentah.

7. Pine Oil yang berguna untuk memperkuat warna meski ditambahkan dengan air.

8. Setelah tercampur rata semua bahan, cat siap digunakan.

Catatan:

Untuk warna dan aroma disesuaikan sesuai selera dari konsumen.

KECEPATAN RATA-RATA DAN KECEPATAN SESAAT

21 September 2018 05:36:26 Dibaca : 7

LAPORAN PENDAHULUAN


PERCOBAAN FISIKA 2 ( PF 2 ) KECEPATAN RATA-RATA DAN KECEPATAN SESAAT

 


A. JUDUL


KECEPATAN RATA RATA ANTARA DUA TITIK SEMBARANG
(BAIK ARAH MAUPUN BESARNYA )

 


B. RUMUSAN MASALAH


Bagaimana nilai kecepatan rata-rata melalui eksperimen ?


Bagaimana nilai kecepatan sesaat melalui eksperimen ?

 


C. TUJUAN


Mahasiswa dapat mengetahui nilai kecepatan rata-rata melalui eksperimen.


Mahasiswa dapat mengetahui nilai kecepatan sesaat melalui eksperimen.

 


D. DASAR TEORI


Pada saat bergerak, suatu benda tidak selalu mempunyai nilai kecepatan yang tetap tetapi dapat berubah-ubah. Untuk itu didefinisikan tentang kecepatan. Kecepatan merupakan besaran vektor yang menyatakan laju perubahan posisi (perpindahan) terhadap waktu. Selama benda bergerak mungkin saja kecepatannya berubah, baik besar maupun arahnya. Akan tetapi, kita dapat menyatakan kecepatan benda dalam interval waktu tertentu sebagai kecepatan rata-rata dan kecepatan benda pad a satu titik tertentu selama geraknya sebagai kecepatan sesaat.
Kecepatan didefinisikan sebagai hasil bagi antara perpindahan dan waktu, sehingga kecepatan merupakan besaran vektor. Kecepatan rata-rata didefinisikan sebagai perubahan kedudukan atau perpindahan dibagi selang waktu. Sedangkan kecepatan sesaat menunjukkan kecepatan benda pada saat tertentu.
Kecepatan rata-rata suatu obyek perlu untuk diketahui. Jika anda tahu kecepatan kenderaan yang anda tumpangi dari Gorontalo ke Manado misalnya (± 400 km) rata-rata 50 km/jam, maka dengan mudah anda dapat menentukan kapan anda bisa sampai di Manado. Tetapi polisi patroli yang mengikuti kendaraan anda tidak peduli terhadap kecepatan rata-rata anda ke Manado. Mereka ingin tahu seberapa cepat anda mengemudi pada saat radar mereka mengenai mobil anda, sehingga mereka bisa menentukan anda terkena tilang atau tidak. Mereka ingin mengetahui kecepatan sesaat anda. Dalam eksperimen ini anda akan menyelidiki hubungan antara kecepatan rata-rata, dan melihat bagaimana sejumlah data kecepatan rata-rata dapat digunakan untuk menentukan kecepatan sesaat.
Kecepatan sesaat pada waktu t diperoleh dari kecepatan rata-rata dalam selang waktu ∆t disekitar saat t, dimana ∆t →0. Kecepatan sesaat adalah limit rasio ∆x/ ∆t jika ∆t mendekati nol. Limit ini dinamakan turunan x terhadap t. dalam notasi dapat ditulis :
lim┬(∆t→0)⁡〖∆x/∆t〗=dx/dy
Kecepatan partikel adalah laju (rute) perubahan posisi terhadap waktu. Letak sebuah partikel dalam suatu kerangka acuan tertentu dinyatakan dengan sebuah vector posisi yang digambarkan dari titik asal kerangka ke partikel tersebut. Vektor pergeseran yang menyatakan perubahan posisi partikel ketika berpindah dari A ke B adalah ∆r(= r2 - r1) dan selang waktu untuk gerak diantara kedua titik ini adalah ∆t(= t2 - t1). Kecepatan rata-rata partikel dalam selang waktu ini didefinisikan sebagai

ῡ= ∆x/∆t=(pergeseran (vektor))/(selangwaktu (skalar))
Tanda garis diatas lambang besaran menyatakan harga rata-rata besaran tersebut.
Besaran ῡ adalah vektor dan diperoleh dengan membagi vektor ∆roleh skalar ∆t. Karena itu pengertian kecepatan mencakup baik besar maupun arah. Arahnya sama dengan arah ∆r dan besarnya | ∆r/∆t |. Besarnya ini dinyatakan dalam satuan jarak dibagi oleh satuan waktu., misalnya meter per-detik atau mil- per jam.
Kecepatan yang didefinisikan dalam persamaan disebut kecepatan rata-rata, karena pengukuran pergeseran dan selang waktu tersebut tidak menceritakan apa-apa tentang gerak diantara A dan B. Lintasannya mungkin lurus atau melengkung, geraknya mungkin teratur atau tak menentu. Kecepatan rata-rata hanya menyangkut pergeseran total dan selang waktu total saja. Sebagai contoh, misalkan seseorang bepergian dengan mobil meninggalkan rumahnya, kemudian setelah selang waktu ∆t tertentu (katakanlah lima jam), ia kembali kerumahnya. Kecepatan rata-rata untuk seluruh perjalanan ini adalah nol, karena pergeseran selama selang waktu ∆t tersebut nol.
Jika kita mengukur juga saat tibanya partikel dibeberapa titik pada lintasan yang sesungguhnya antara A dan B, kit a dapat menggambarkan keadaan geraknya secara lebih terperinci. Jika ternyata kecepatan rata-rata antara dua titik sembarang pada lintasan sama (baik arah maupun besarnya), maka dapat disimpulkan bahwa partikel tersebut bergerak dengan kecepatan konstan, yaitu sepanjang garis lurus (arahnya tetap) dengan laju yang seragam (besarnya tetap).
Misalkan sebuah partikel bergerak sedemikian rupa sehingga kecepatan rata-ratanya yang diukur dalam bebagai selang waktu yang berbeda, ternyata tidak konstan maka dikatakan bahwa partikel tersebut bergerak dengan kecepatan yang berubah-ubah. Karena itu kita harus dapat menentukan kecepatan partikel pada suatu saat sembarang, yang disebut sebagai kecepatan sesaat.
Perubahan kecepatan dapat ditimbulkan oleh perubahan besarnya atau perubahan arahnya, atau kedua-duanya. Unt uk gerak kecepatan rata-rata dalam selang waktu t2 -t1 mungkin berbeda baik besar maupun arahnya dengan kecepatan rata-rata dalam selang yang lain t2’-t1. Hal ini diperlihatkan dengan memilih titik B berturut-turut semakin dekat ketitik A Titik B’ dan B” menunjukkan dua keadaan antara pada saat t2’ dan t2” yang masing-masing dinyatakan oleh vektor posisi r2’ dan r2”. Vektor pergeseran ∆r , ∆r’ dan ∆r” arahnya berbeda dan semakin pendek, demikian pula selang waktunya ∆t (= t2 - t1), ∆t’ (=t2’- t1), dan ∆t” = (t2”- t1) menjadi semakin kecil.
Jika proses ini kita lanjutkan, dengan membuat B semakin dekat ke A, kita peroleh bahwa perbandingan antara pergeseran dengan selang waktu mendekati suatu harga limit tertentu. Meskipun pergeseran dalam proses ini sangatlah kecil, selang waktu pembagiannya pun menjadi sangat kecil juga, sehingga hasil bagi keduanya belum tentu kecil. Demikian pula arahnya, sambil panjangnya mengecil vektor pergeseranmendekati suatu arah limit tertentu, yaitu garis singgung lintasan partikel di A. Harga limit ∆r/∆t ini disebut sebagai kecepatan sesaat dititik A, atau kecepatan partikel pada saat t1.
Jika ∆r adalah pergeseran dalam selang waktu ∆t setelah t, maka kecepatan pada saat t adalah harga limit yang didekati oleh ∆r/∆t jika ∆r dan ∆t keduanya menuju nol. Jadi jika v menyatakan kecepatan sesaat, kita tuliskan
v= lim┬(∆t→0)⁡〖∆r/∆t〗
Arahnya dari v adalah arah limit yang didekati oleh ∆r jika B mendekati A atau jika ∆t menuju nol. Seperti telah kita lihat, arah limit ini menyinggung lintasan partikel dititik A.
Dalam notasi kalkulus, harga limit ∆r/∆t jika ∆t menuju nol dituliskan sebagai dx/dt dan disebut sebagai turunan r terhadap t. dengan demikian kita peroleh
v= lim┬(∆t→0)⁡〖∆r/∆t〗= dx/dy
Besar kecepatan sesaat v disebut sebagai laju (speet) dan secara sederhana diartikan sebagai harga mutlak dari v, yaitu
v= |v|= |dx⁄dt|
Laju, yang adalah besar suatu vector, jelas berharga positif. Seperti halnya partikel, yaitu konsep fisis yang memanfaatkan konsep matematis tentang titik, demikian pula kecepatan merupakan konsep fisis yang menggunakan konsep matematis tentang diferensiasi. Sesungguhnya kalkulus ditemukan dalam rangka mencari alat matematis yang memadai untuk menangani masalah dasar mekanika.
Kecepatan rata-rata didefinisikan sebagai perpindahan yang ditempuh terhadap waktu. Jika suatu benda bergerak sepanjang sumbu-x dan posisinya dinyatakan dengan koordinat-x, secara matematis persamaan kecepatan rata-rata dapat ditulis sebagai berikut
v=∆x/∆t
dengan, v: kecepatan rata-rata (ms-1 )
∆x: x awal – x akhir = perpindahan (m)
∆t : Perubahan waktu (sekon)
Kecepatan sesaat merupakan kecepatan pada suatu waktu tertentu dari lintasanya. Berbeda dengan kelajuan sesaat. Kecepatan sesaat harus disertai dengan arah gerak benda. Kecepatan sesaat dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
v_t=∆x/∆t
dengan : vt = Kecepatan sesaat
∆x= perpindahan
∆t = selang waktu yang sangat kecil (∆t→0)
Referensi :
Buku penuntun.2014.Penuntun Fisika Dasar 1.Gorontalo:UNG
Silaban, Pantur dan Sucipto Erwin.2001.Fisika Jjilid 1 Edisi Ketiga.Jakarta:ERLANGGA
Mazdarwan66.files.wordpress.com|2009|10|kecepatanrata-rata-kecepatan sesaat.pdf.Diakses pada tanggal 26 oktober 2013.
NURZATI.fisika dasar,Jakarta : ERLANGGA

E. VARIABEL-VARIABEL
Variabel Bebas : Jarak antara kedua photogate sebagai D
Variabel Terikat : Waktu
Variabel Kontrol : titik start x0 pada valma ramp
F. ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang akan digunakan pada saat praktikum :
Photogate timer dengan accessory photogate
Valma ramp dengan accessory
Balok pengganjal/keping Aluminium
G. PROSEDUR KERJA
Menyusun peralatan seperti yang tampak pada gambar 2.1 yang berada pada penuntun, membuat salah satu ujung dari Valma ramp lebih tinggi dari yang lain, dan mengganjalnya dengan balok pengganjal ( tebal = 7-8 cm).
Memilih sebuah titik x1 dekat dengan pusat valma ramp. Mengukur posisi titik x1 dengan menggunakan skala metrik yang tertera pada valma rampdan mencatat nilainya.
Memilih salah satu titik start x0 untuk kereta, dengan ujung tertinggi dari valma ramp. Memberi tanda dengan pensil titik ini sehingga kita dapat melepaskan kereta dari tempat yang sama.
Mencatat jarak antara kedua photogate sebagai D pada tabel 2.1
( Catatan : Untuk memperoleh posisi D yang tepat, meletakkan balok Aluminium yang tersedia tepat pada skala yang diinginkan. Setelah itu, menggeser perlahan accessories photogate pada balok tersebut, menghentikan jika lampu photogate menyala untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan bahwa photogate dan accessoriesnya sudah berada pada D yang diinginkan).
Menggeser tombol saklar photogate timer ke posisi pulse.
Menekan tombol riset.
Menahan kereta supaya tetap berada pada posisi X0, kemudian melepaskannya. Mencatat nilai t1, yaitu waktu yang tampak pada layar setelah kereta melewati kedua photogate.
Mengulangi langkah ke-6 dan ke-7 paling kurang 4 kali, dan mencatat sebagai t2, t3, t4, dan t5.
Mengulangi langkah ke-4 sampai ke-8 untuk nilai D yang dikurangi 6 cm (untuk 5 nilai D yang berbeda).

Tabel 2.1 Hasil Pengamatan

D (cm) t1 t2 t3 t4 t5 tavg
46
40
34
28 1.1349
0.9790
0.8887
0.6785
1.1358
0.9744
0.8970
0.6656 1.1322
0.9617
0.8902
0.6624 1.1403
0.9741
0.8942
0.6789


(4,600 ± 0,005) 10ˉ1
(4,000 ± 0,005) 10ˉ1
(3,400 ± 0,005) 10ˉ1
(2,800 ± 0,005) 10ˉ1 (4,800 ± 0,096) 10ˉ1
(8,310 ± 0,024) 10ˉ1
(6,910 ± 0,018) 10ˉ1
(5,640 ± 0,012) 10ˉ1 (4,69 ± 0,04) 10ˉ1
(4,813 ± 0,026) 10ˉ1
(4,920 ± 0,027) 10ˉ1
(4,965 ± 0,029) 10ˉ1

Grafikhubunganantaratavgterhadapvavg.
Tavg (s) Vavg (m/s)
5,6 s
6,8 s
7,8 s 5,4 m/s
5,2 m/s
5,1 m/s

Interprestasigrafik
Berdasarkan grafik di atas, semakin besar kecepatan sebuah benda maka selang waktu yang di tempuh akan semakin kecil.
Menghitungkemiringangrafik
M =∆vavg/∆tavg=(v1-v2)/(t1-t2)
=(5,4-5,2)/(5,6-6,8)
=-0,17
∆m/m=√(|(∂(∆vavg))/∆vavg|+|(∂(∆tavg))/∆tavg| )
= √(|(3(0,2))/0,2|+|(3(-1,2))/(-1,2)| )
=√6
=2,44
∆m= ∆m/m×M
=2,44 x (- 0,17)
= -0,41
KR = ∆m/m×100%
= (-0,41)/(-0,17)×100%
= 2,41% (1 AP)
(M ± ∆M) = (- 1,7±- 4,1)

Kesimpulan


Berdasarkan grafik hubungan tavg terhadap vavg dapat simpulkan bahwa semakin besar kecepatan yang diperoleh sebuah benda untuk menempuh jarak tertentu, maka selang waktu yang dibutuhkan semakin kecil.
Kemungkinankesalahan


Keliru dalam menggunakan valma ramp.
Keliru dalam menentukan angka penting.

 

Pengukuran Dasar

21 September 2018 05:28:08 Dibaca : 5

A.JUDUL


“SUHU DAN PENGUKURAN DASAR DALAM ALAT UKUR”


B.RUMUSAN MASALAH


1.Apasajabagian-bagianalatukur?


2.Bagaimanaalat-alatukur?


3.Bagaimanaketidakpastianhasilpengukuran?


4.Bagaimanahasilpengukuran?

 


C.TUJUAN


1.Mahasiswadapatmengidentifikasikanbagian-bagianalatukur.


2,Mahasiswadapatmengoprasikanalatukur.


3.Mahasiswadapatmenentukanketidakpastianpengukuran.


4.Mahasiswadapatmengungkapkanhasilpemgukuran.

 


D.DASAR TEORI


Pengamatan suatu gejala pada umumnya belumlah lengkap jika belum memberikan informasi yang kuantitatif. Proses memperoleh informasi yang sedemikian itu memerlukan pengukuran suatu sifat fisis. Lord Kelvin mengatakan bahwa pengetahuan kita barulah memuaskan jika kita dapat megatakannya dalam bilangan.
Pengukuran adalah suatu teknik untuk menyatakan suatu sifat fisis dalam bilangan sebagai hasil membandingkannya dengan suatu besaran baku yang diterima sebagai satuan. Sedangkan membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang telah ditetapkan sebagai standar pengukuran disebut mengukur.
Untuk melakukan pengukuran suatu besaran Fisika, dibutuhkan alat ukur untuk membantu mendapatkan data hasil pengukuran. Untuk mengukur panjang suatu benda, dapat menggunakan mistar, jangka sorong, atau micrometer ulir (sekrup). Untuk mengukur massa suatu benda dapat menggunakan timbangan atau neraca. Adapun untuk mengukur waktu, dapat menggunakan jam atau stopwatch.

Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan hanya satu kali saja,adapun ketidakpastian dalam pengukuran tunggal di tetapkan sama dengan setengah skalater kecil (Δx=1/2x).
Dalam pengukuran tunggal,penentuaN hasil ukurannya tidak ada aturan tertentu (tidak harus1/2 nilai skala terkecil) dan hasil ukurannya di tentukan oleh kopresionalitassi pengukur itu sendiri yang di lakukan secara logis dan rasional berdasarkan instusi dan pemahaman yang kuasainya,didalam fisika terdapat dua jenis pengukuran tunggal seperti di jelaskan di atas masih ada pula pengukuran berulang.
Pengukuran tunggal dan pengukuran berulang hasil ukurnya di tulis kedalam bentuk (x±âˆ†)di mana pada pengukurannya tunggal nilai x merupakan angka pasti sebuah pengukuran dan ∆x merupakan nilai ketidakpastian atau ralat.sedangkan pengukuran nilai x merupakan nilai rata-rata perkiraan terbaik dari setiap pengulangan dari setiap pengulangan pengukuran dan ∆x merupakan nilai ralat yang di peroleh dari nilai sebaran sekitar rata-rata atau standar deviasi.
Pengukuran berulang adalah pengukuran berulang yang di lakukan berulang pada pengukuran berulang nilai x di tentukan dari nilai rata-rata sampel.misalnya besaran suatu fisis yang di ukur N kali padakondisi yang sama dan di peroleh hasil pengukuran x_1,x_2,x_3….x_N maka nilai rata-rata di cari dengan persamaan berikut :X:Σx1/N=(x1,x2,+x5+xN)/N
Ada beberapa sebab mengapa pengukuran di lakukan secara berulang-ulang antara lain:
1.adanya kesulitan eksperimen dalam pengulangan pengukuran
2.Besaran yang di ukur bersifat fluktuatif (berubah-rubah)
3.adanya verian dari medium pada saat eksperimen di lakukan kita dapat menentukan angka pastinya dengan cara mengambil data kemudian di ambil nilai rata-ratanya.sedangkan nilai ketidakpastian dapat di ambil dari nilai deviasinya.
Pengukuran berulang di lakukan untuk besaran yang sulit di ukur hanya satu kali,misalnya kecepatan suatu benda dan sebagainya.contoh kasus pengukuran berulang adalah suhu benda pada detik dengan massa tertentu dalam kasus ini jika di lakukan pengukuran hanya sekali,tentu ketentuannya di pengaruhi oleh suhu ruangan berubah angina dan sebagainya.karena itulah di lakukan pengukuran berulang.pengambilan data pengukuran berulang sangatlah mudah,kita anggap jumah pengukuran adalah N X dan besaran yang di ukur di anggapXn(x_1+x_2+X.N)/n.
Referensi:
YOUNG,FREEDMAN.1999 pengukuran dasar JAKARTA : ERLANGGA.
Http://www.mediabali.net./fisikahypermed.com
PERMANA,LOVAN 2007.suhu temperature.BANDUNG : PENERBIT INTAN PARIWARA
TEGUHSSMITOS dp 1.files.pdf.com


E.VARIABEL KERJA
1.VariabelBebas
2.VariabelTerikat
3.VariabelKontrol

F.ALAT DAN BAHAN
1.Mistar
2.Jangkasorong
3.Mikrometersekrup
4.Sferometer
5.Termometer
6.Stopwatch
7.Neracamekanik
8.Neracapegas
9.Barometerdan Hygrometer
10.Slinder
11.Lensakonvergen (cembung),lensadivergen(cekung) dankacapranparel.
12.kontainer
13.Bandul
14.Balok-balok danmassapemberat

G.PROSEDUR KERJA
1.Tentukanlah nilaiskalaterkecildari (a) Mistar,(b) jangkasorong,(c) micrometer sekrup,(d)sferometer,(e) thermometer.(f) stopwatch,(g) neracapegas,(h) neracamekanik,(i)barometer,(j) hygrometer.
2.mengukurpanjangdanlebarmejapratikumandadenganmenggunakanmistar.
3.mengukur diameter dalam.diameterluar,dankedalamandaqrislinder yang di berikanasistendenganmenggunakanjangkasorong.
4.mengukurtebaldanmassapemberat yang di berikanasistendenganmenggunakan micrometer sekrup.
5.mengukurjari-jarikelungkunganlensa-lensa yang di berikanolehasistendenganmenggunakansferometer.
6.mengukurmassadaribalok-balok/massapemberat yang di berikanasistendenganmenggunakanneracamekanik.
7.mengukurberatdaribalok-balok/massapemberat yang di berikanasistendenganmenggunakanneracapegas.
8.mengukursuhu air yang di berikanasistendenganmenggunakan thermometer.
9.mengukurwaktutiga kali ayananbanduldenganmenggunakan stopwatch sebanyak lima kali.
10.mengukurwaktu yang di butuhkanolehsebuahbenda yang di jatuhkandariketinggiantertentu.
11.mengukursuhuruangan (dalamsatuan Fahrenheit).
Tekanandankelembapanudaradalamlaboratoriumfisika.

Pengolahan Data
MenghitungHasilPengukuranDalamAngkaPenting
MenghitungPanjang Dan LebarMejaPraktikum
Panjang (P)
P = 120 cm = 1,2 m
∆P = ½ nstmistar
= ½ x 0,1 cm= 0,05 cm = 0,0005 m
KR=∆P/P x 100 %
KR = (0,0005 m)/(1,2 m) x 100 % = 0,041 % (5 AP)
(P ± ∆P) = (1,2000 ± 0,0005) m
Lebar (L)
L = 90 cm = 0,9 m
∆L = ½ nstmistar
= ½ x 0,1 cm = 0,05 cm = 0,0005 m
KR=∆L/L x 100 %
KR = (0,0005 m)/(0,9 m) x 100 % = 0,055 % (4 AP)
(L ± ∆L) = (9,000 ± 0,005) x 10-1 m
Menghitung diameter dalam, diameter luar, dankedalamansilinder
Diameter dalam (D1)
D1 = 7,835 cm = 0,07835 m
∆ D1 = ½ nstjangkasorong
= ½ x 0,05 mm = 0,025 mm = 0,000025 m
KR=(∆D_1)/D_1 x 100 %
KR = (0,000025 m)/(0,07835 m) x 100 % = 0,03190 % (5 AP)
(D1 ± ∆D1) = (7,8350 ± 0,0025) x 10-2 m
Diameter luar (D2)
D2 = 7,93 cm = 0,0793 m
∆ D2 = ½ nstjangkasorong
= ½ x 0,05 mm mm= 0,025 = 0,000025 m
KR=(∆D_2)/D_2 x 100 %
KR = (0,000025 m)/(0,0793 m) x 100 % = 0,0315 % (5 AP)
(D2 ± ∆D2) = (7,93000 ± 0,0025) x 10-2 m
Kedalaman (h)
h = 11,16 cm = 0,1116 m
∆h = ½ nstjangka
= ½ x 0,05 m = 0,025 mm = 0,000025 m
KR=∆h/h x 100 %
KR = (0,000025 m)/(0,1116 m) x 100 % = 0,022 % (5 AP)
(h ± ∆h) = (1,1160 ± 0,0002) x 10-1 m

Menghitungtebalmassapemberat
Tebalmassapemberat (d)
d = 4,035 mm = 0,004035 m
∆d = ½ nstmikrometersekrup
= ½ x 0,01 mm = 0,005 mm = 0,000005 m
KR=∆d/d x 100 %
KR = (0,000005 m)/(0,004035 m) x 100 % = 0,123% (4 AP)
(d ± ∆d) = (4,035 ± 0,005) x 10-3 m

Menghitungjari-jarikelengkunganlensa
LensaCembung
h1 = 1,96 mm= 1,96 × ã€–10〗^(-3) m
∆h1 = ½ x 0,01 mm= 0,000005= 5x〖10〗^(-6)m
a = 3 cm= 0,03 m = 3 × ã€–10〗^(-2)m
∆a = ½ x 0,1 cm= 0,0005=5x〖10〗^(-4) m
r=a/√3= 〖3x10〗^(-2)/√3 = 0,02 m
R1 = (r^2+h_1^( 2))/2 = ((0,02)^2+(1,36 x〖10〗^(-3) )^2)/2
=(4 x〖10〗^(-4)+0,018496x〖10〗^(-4))/2
= 1,,96 x 10-6 m
∆R1/R1= √((∆a^2+∆〖h1〗^2)/(a^2+〖h1〗^2 ))= √(((5x〖10〗^(-4) )^2+(5x〖10〗^(-6) )^2)/((〖3x〖10〗^(-2))〗^2+(1,96x〖10〗^(-3) )^2 ))
= √((25x〖10〗^(-8)+0,0025x〖10〗^(-8))/(〖9x10〗^(-4)+0,0384x〖10〗^(-4) ))
= √((25,0025x〖10〗^(-8))/(9,03x〖10〗^(-4) ))
= √(2,76 x〖10〗^(-4) )
= 1,66 x〖10〗^(-2) m
∆R1 = ∆R1/R1x R1 =1,66 x 〖10〗^(-2) x 1,96 x 10-6
= 3,52 x 〖10〗^(-8) m
KR = ∆R1/R1 x 100 % = 1,66 x〖 10〗^(-2)× 100 % = 1,66 % (3 AP)
(R1±âˆ†R1) = ( 1,96± 0,33 ) x〖10〗^(-6) m
LensaCekung
h2 = 1,85 mm = 1,85 x 〖10〗^(-3) m
a = 3 cm = 3x 〖10〗^(-2) m
∆h2= ½ x 0,01 mm= 0,000005 = 5 x 〖10〗^(-6)m
∆a = ½ x 0,1 cm= 0,0005 = 5 x 〖10〗^(-4) m
r = a/√3 = 〖3x10〗^(-2)/√3= 0,02 m

R2= (r^2+h_2^( 2))/(2h_2^ ) = ((0,02)^2+(1,85 x〖10〗^(-4) )^2)/2
=(4x〖10〗^(-4)+0,0185 x〖10〗^(-4))/2
= 1,5 x 〖10〗^(-4)m
(∆R_2)/R_2 =√((∆a^2+∆h_2^( 2))/(a^2+h_2^( 2) ))= √(((5x〖10〗^(-4) )^2+(5x〖10〗^(-6) )^2)/((〖3x〖10〗^(-2))〗^2+(1,85x〖10〗^(-3) )^2 ))
= √((25x〖10〗^(-12)+0,0025x〖10〗^(-12))/(〖9x10〗^(-4)+1,85x〖10〗^(-6) ))
=2,35 x〖10〗^(-4) m
∆R2 = (∆R_2)/R_2 x R_2 = 2,35 x〖10〗^(-4) x 1,5 x 〖10〗^(-4)
= 3,33 〖x10〗^(-6) m
KR = (∆R_2)/R_2 x 100 % = 2,35 x〖10〗^(-4) 100 % = 0,0235 % (5 AP)
(R2±âˆ†R2) = (1,5,000±0,0003) x〖10〗^(-4) m
Menghitung Massa Pemberat
Diukurdenganneracaduduk
m = 278,6 gram = 0,278 kg
∆m = ½ nstneracamekanikduduk
= ½ x 0,1 g = 0,05 g = 0,00005 kg
KR=∆m/m x 100 %
KR = (0,00005 kg)/(0,2786 kg) x 100 % = 0,017 % (5 AP)
(m ± ∆m) = (2,7860 ± 0,0005) x 10-1 kg
DiukurdenganNeracamekanikberdiri
m = 95,2 gram = 0,0952 kg
∆m = ½ nstneracamekanikberdiri
= ½ x 0,01 g = 0,005 g = 0,000005 kg
KR=∆m/m x 100 %
KR = (0,000005 kg)/(0,0952 kg) x 100 % = 0,0052% (5 AP)
(m ± ∆m) = (9,5200 ± 0,0005) x 10-2 kg
MenghitungBerat
Berat (W)
W = 0,5 N
∆W = ½ nstneracapegas
= ½ x 0,1 N = 0,05 N
KR=∆W/W x 100 %
KR = (0,05 N)/(0,5 N) x 100 % = 10 % (2 AP)
(W ± ∆W) = (5,0 ± 0,5)10-1 N

Menghitungsuhu air
Suhu air (T)
T = 26 oC
∆T = ½ nsttermometer
= ½ x 1℃ = 0,5℃
KR=∆T/T x 100 %
KR = (0,5 ℃)/(26℃) x 100 % = 1,92 % (3 AP)
(T ± ∆T) = (2,60 ± 0,05) x 10 m

Menghitungayunanbanduldalam 3 kali ayunan
t (satuan) t2 (satuan)
3,1 s
3,0 s
3,0 s 9,61
9
9
Σt = 9,1 s (Σt2)= 27,61 s
(Σt)2 = 82,81 s
t =(∑t)/n = 9,1/3 = 3,033s
∆t = √((n(∑t^2)- (∑t)^2)/(n^2 (n-1)))= √((3(27.61)-(9,1))/(3^2 ( 3-1)))
= √((72,83-82,81)/(9 (3-1)))
= √(9,98/18)
= √0,5544
= 0,7445 s
KR = (∆t )/t x 100 % =0,7445/3,033 x 100 %
= 24,54 % (2 AP)
(t±âˆ†t)=( 3,0 ± 0,7 ) s

Menghitungwaktu yang dibutuhkanolehbenda yang dijatuhkandariketinggiantertentu
t (satuan) t2 (satuan)
0,4 s
0,5 s
0,4 s
0,5 s
0,4 s 0,16
0,25
0,16
0,25
0,16
Σt = 2,2 s (Σt2)= 0,98 s
(Σt)2 = 4,84 s
t = = (∑t)/n = 2.2/5 = 0,44 s
∆t = √((n(∑t^2)- (∑t)^2)/(n^2 (n-1)))= √((5 ( 0,98)- (2,2))/(5^2 (5-1)))
=√((4,9-2,2)/(25 (5-1)))
= √(2,7/100)
= √0,027
= 0.16 s
KR = (∆t )/t x 100 % =(0,16 )/0,44 x 100 %
= 36,36 % (2 AP)
(t±âˆ†t)= ( 4,4± 0,1 ) x〖 10〗^(-1)s

Menghitungsuhuruangan (T) Tekanan (P) danKelembabanUdara (H)
Suhuruangan (T)
T = 88oF
∆T = ½ nsttermometer
= ½ x 2oF = 1oF
KR=∆T/T x 100 %
KR=1/88 x 100 %= 1,1 % (2 AP)
(T ± ∆T) = (88 ± 1,0) oF
Tekanan (P)
TekananLuar
P = 1002 mbar
∆P = ½ nst barometer
= ½ x 1 mbar = 0,5 mbar
KR=∆P/P x 100 %
KR = (0,5 mbar)/(1002 mbar) x 100 % = 0,05 % (5 AP)
(P ± ∆P) = (1,0020 ± 0,0005) x 103satuan
Tekanandalam
P = 729 mmHg
∆P = ½ nst barometer
= ½ x 1 mmHg = 0,5 mmHg
KR=∆P/P x 100 %
KR = (0,5 mmHg)/(729 mmHg) x 100 % = 0,07 % (4 AP)
(P ± ∆P) = (7,290 ± 0,005) x 102 mmHg
Kelembaban (H)
Skaladalam
H = 50 %
∆H = ½ nst hygrometer
= ½ x 5 % = 2,5 %
KR=∆H/H x 100 %
KR=2,5/50 x 100 % = 5% (2 AP)
(H ± ∆H) = ( 5,0 ± 0,2) x 101 %
SkalaLuar
H = 6℃
∆H = ½ x 2 = 1 ℃
KR = ∆H/H x 100 % = (1 ℃)/(6 ℃)x 100 %= 16,7 % (2 AP)
(H±âˆ†H) = (6,0±0,1) ℃

Menghitungluasmejapraktikum
P= 120 cm = 1,2 m
L = 90 cm = 0,9 m
A = PxL = 1,2 x 0,9 = 1,08
∆P = ½ X 0,1 cm = 0,05 cm = 0,0005 m
∆L = ½ X 0,1 cm = 0,05 cm = 0,0005 m
∆A/A= √((∆P/P )^2+(∆L/L )^2 ) = √(((5X〖10〗^(-4))/1,2 )^2+((5X〖10〗^(-4))/0,9 )^2 )
= √(((25X〖10〗^(-8))/1,44 )^ +((25X〖10〗^(-8))/0,81 )^ )
= √(4,81〖x10〗^(-7) )
= 6,9 x〖10〗^(-4) m
∆A = ∆A/AX A= 6,9x 〖10〗^(-4) x 1,08= 7,4 x〖10〗^(-4 )m
KR= ∆A/A X 100 %= 0,00069 x 100 % = 0,069 % (4 AP)
(A±âˆ†A)=(1,08 ± 0,006 ) x 〖10〗^(-2 )m

Kesimpulan
Berdasarkanhasilpercobaan yang dilakukandenganmenggunakanalatukurbaikpengukuran yang dilakukanberulangataupengukurantunggalpastimenimbulkanketidakpastian. Inidikarenakantidakadapengukuran yang benar-benartepat
Kemungkinankesalahan
Kesalahanpraktikandalammembacaskalaukurpadaalatukur
Kesalahandalammenentukan NST