yodometri dan yodimetri

05 December 2019 22:12:28 Dibaca : 4250 Kategori : Laporan KA1

A.     JUDUL

yodometri dan yodimetri

B.     TUJUAN

Mahasiswa mampu menguasai konsep oksidator dan reduktor

C.     Dasar Teori

Dasar : I2 + 2e  à  2I-

Yodometri : bila I- sebagai reduktor

Yodimetri : bila I- sebagai oksidator

Yodometri I- (+) oksidator

Sebagai I- biasa dipakai KI. Reaksi dapat berlangsung dalam lingkungan asam atau netral. Contoh :

BrO3 + 6 H+  + 6I-   à   3 H2O + 3 I2 + Br-

IO3 + 6H++5I-  à    3 H2O + 3 I2

Dalam yodometri I- dioksidis suatu oksidator. Jika oksidatornya kuat tidak apa-apa, tetapi jika oksidatornya lemah maka oksidasinya berlangsung sangat lambat dan mungkin tidak sempurna, ini harus dihindari. Cara menghindari yaitu : (1) Mempebesar [H+] ; Jika oksidasinya kuat dengan menambah H+ atau menurunkan pH, (2) Memperbesar [I-] ; Misalnya oksidasi dengan Fe3+

Fe3+ + I-   à  Fe2+ + ½ I2

(3) Dengan mengeluarkan I2 yang berbentuk dari  campuran reaksi ; misalnya dikocok dengan kloroform, karbon tetra klorida atau bisulfida, maka I2 akan masuk dalam pelarut organis ini, sebab I2 lebih mudah larut dalam senyawa solven organic daripada dalam air. Cara menentukan  titik akhir titrasi yaitu : (1) Tanpa indicator ; Dapat dilakukan karena I2 dalam KI warna kuning, titrasi akhir kalau warna kuning hilang, (2) Dengan indikator amilum;  Sebab I2 + amilum menghasilkan warna biru. Makin sensitive bila berisi I- dan kurang sensitive bila larutan panas[1]

Cara langsung disebut iodimetri (digunakan larutan iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secaa kuantitatif pada titik ekivalennya). Namun,metode iodimetri ini jarang dilakukan mengingat iodium sendiri merupakan oksidator yang lemah. Sedangkan cara tidak langsung disebut iodometri (oksidator yang dianalisi kemudian direaksikan dengan ion iodide berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat standar atau asam arsenit). Reaksi-reaksi kimia yang melibatkan oksidasi reduksi dipergunakan secara luas oleh analisis titrimetrik. Ion-ion dari berbagai unsur dapat hadir dalam kondisi oksidasi yang berbeda-beda, menghasilkan kemungkinan banyak reaksi redoks. Banyak dari reaksi-reaksi ini memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam analisi titrimetrik dan penerapan-penerapannya cukup banyak.

Iodometri adalah titrasi terhadap iodium (I2) yang terdapat dalam larutan, sedangkan iodimetri adalah titrasi dengan larutan I2 standar. Untuk iodometri, dasar penentuan kadar ionnya adalah I2 yang terbentuk jika ion iodida I- teroksidasi menjadi I2. Titrasi yang dilakukan pada iodometri, ion-ion yang dapat ditentukan kadarnya adalah ion-ion yang mempunyai potensial elektroda lebih tinggi dari 0,535 volt, dan larutan baku/standar yang digunakan adalah larutan natrium tiosulfat[2].

Dalam proses analitis, iod digunakan sebagai zat pengoksid (iodimetri), dan ion iodida digunakan sebagai zat pereduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan dengan larutan natrium tiosulfat. Iodometri adalah suatu proses analitis tak langsung yang melibatkan iod. Ion iodida berlebih ditambahkan pada suatu zat pengoksid sehingga membebaskan iod, yang kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat.

Iodometri yaitu titrasi yang menggunakan larutan Na2S2O3 sebagai titran untuk menentukan kadar iodium yang dibebaskan pada suatu reaksi redoks. Titik akhir titrasi ditetapakan dengan bantuan indikator kanji, yang ditambahkan sesaat sebelum titik akhit tercapai. Larutan Na2S2O3 standar sekunder karena sifatnya tidak stabil terhadap oksidasi dari udara, asam dan adanya bakteri pemakan belerang yang terdapat dalam dalam pelarut. Titrasi iodimetri adalah titrasi redoks yang menggunakan larutan standar iodium sebagai titran dalam suasana netral atau sedikit asam. Larutan I2 dibuat dengan cara menimbang I2 murni kemudian dilarutkan, selanjutnya di standarisasi dengan As2O3[3].

Larutan standar yang dipergunakan dalam kebanyakan proses iodometrik adalah natrium tiosulfat. Garam ini biasanya tersedia sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi terhadap standar primer. Larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Sejumlah zat padat digunakan sebagai standar primer untuk larutan natrium tiosulfat. Iodium murni merupakan standar yang paling nyata, tetapi jarang digunakan karena kesukaran dalam penanganan dan penimbangan. Lebih sering digunakan pereaksi yang kuat yang membebaskan iodium dari iodida, suatu proses iodometrik. Metode titrasi iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (kadang-kadang dinamakan iodometri), adlaah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia.

Titrasi dapat dilakukan tanpa indikator dari luar karena larutan iodium yang berwarna khas dapat hilang pada titik akhir titrasi hingga titik akhir tercapai. Tetapi pengamatan titik akhir titrasi akan lebih mudah dengan penambahan larutan kanji sebagai indikator, karena amilum akan membentuk kompleks dengan I2 yang berwarna biru sangat jelas. Penambahan amilum harus pada saat mendekati titik akhir titrasi. Hal ini dilakukan agar amilum tidak membungkus I2 yang menyebabkan sukar lepas kembali, dan ini akan menyebabkan warna biru sukar hilang, sehingga titik akhir titrasi tidak terlihat tajam[4].

Pemberian amilum terlalu awal. Penambahan amilum harus menunggu sampai mendekati titik akhir titrasi, maksudnya agar amilum tidak membungkus iod dan menyebabkan sukar lepas kembali. Hal itu akan berakibat warna biru sulit sekali lenyap sehingga titik akhir tidak kelihatan tajam lagi. Bila iod masih banyak sekali bahkan dapat menguraikan amilum dan hasil penguraian ini mengganggu perubahan warna pada titik akhir. Banyak reaksi analat dengan KI yang berjalan lambat. Karena itu seringkali harus ditunggu sebelum titrasi, sebaliknya menunggu terlalu lama tidak baik karena kemungkinan iod menguap. I2 merupakan zat padat yang sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam KI, membentuk ion I3- yang merupakan suatu kompleks lemah.

Sejumlah substansi yang dapat dipergunakan sebagai standard-standard primer untuk larutan-larutan tiosulfat. Iodin murni adalah standard yang paling jelas namun jarang dipergunakan karena kesulitannya dalam penanganan dan penimbangan yang lebih sering dipergunakan adalah standard yang terbuat dari suatu agen pengoksidasi kuat yang akan membebaskan iodin dari iodida, sebab merupakan proses iodometrik. Pada proses iodometri banyak zat pengoksid kuat yang dapat dianalisis dengan menambahkan kalium iodida berlebihan dan menititrasi iod yang dibebaskan. Karena banyak zat pengoksid yang menuntut larutan asam untuk bereaksi dengan iodida, natrium tiosulfat lazim digunakan sebagai titran.Beberapa tindakan pencegahan diperlukan dalam menangani larutan kalium iodida untuk menghindari galat[5].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1.       Kopkhar., 2002, kimia analitik, Erlangga, Jakarta.

2.       Day, Anderwood, 1986,  Analisa kimia kuntitatif, Erlangga, Jakarta.

3.       Guniswara, S., 1981, Kimia farmasi analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

4.       Djanis, L Ratnawati dan Hanafi, penentuan kadar vitamin C,  Warta Akab, No 19, Juli 2008.

5.       Sukran,  2010,  Praktek Iodometri dan Iodimetri, http://fidz91.blogspot.com /2010 /08/laporan-praktek-iodo-iodimetri.html, Diakses pada tanggal 10 November, Pukul 20.00  WIB.