GEOLOGI PULAU MALUKU

21 October 2014 12:36:47 Dibaca : 3337 Kategori : bahan kuliah

"GEOLOGI PULAU MALUKU"


A. PENDAHULUAN
Kepulauan Maluku adalah gugusan pulau-pulau yang terletak di sebelah timur Indonesia, memiliki panjang 180 kilometer dari utara ke selatan dan lebar 70 kilometer dari barat ke timur. Berdasarkan keadaan geologis dan fisiografisnya dapat dibagi menjadi dua provinsi, yakni Halmahera bagian barat dan Halmahera bagian timur laut – tenggara. Halmahera bagian barat merupakan provinsi yang tersusun dari busur vulkanik Ternate dan Halmahera Barat, sedangkan Halmahera bagian timur laut – tenggara merupakan provinsi yang tersusun dari melange. Secara garis besarya, Maluku dapat dibagi menjadi dua bagian yakni Maluku Utara dan maluku Selatan. Maluku Utara sebgaian dihubungkan dengan rangkaian pulau-pulau Asia Timur, dan sebagian sistem Melanesia, sedangkan Maluku Selatan (Busur banda) merupakan suatu bagian dari Sistem Pegunungan Sunda. Daerah Obi Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis terletak antara koordinat 127o45’ – 128o00’ BT dan antara 01o25’ – 01o40’ LS. Morfologinya hampir sama dengan Pulau Sulawesi yakni memiliki 4 lengan dan bentuknya seperti huruf K, yang membedakan adalah skalanya. Pulau Halmahera memiliki ukuran sepertiga dari Pulau Sulawesi dan luas permukaannya sepersepuluh dari Pulau Sulawesi. Teluk antar lengan dan teluk Kau berada di timur laut, teluk Buli disebelah timur, dan teluk Weda di sebelah selatan. (Amarullah dan Tobing ; 2005)
Pada dasarnya Kepulauan Maluku ini memiliki topografi yang bergunung dan berbukit, kecuali di pantai sebelah timur di lengan tenggara umumnya adalah daerah banjir. Pegunungan yang ada di Kepulauan Halmahera ini menjulang dari timur laut – barat daya dengan relief yang beraneka, yakni berada pada kisaran 500 meter hingga 1.000 meter. Bukit Solat merupakan pegunungan tertinggi yang menjulang dengan ketinggian 1.508 meter di bagian tengah pulau. Pulau maluku dibagi menjadi dua bagian yaitu Maluku Utara dan Maluku Selatan. Maluku Utara sebagian dihubungkan dengan rangkaian pulau-pulau Asia Timur, dan sebagian dengan sistem Melanesia, Maluku Selatan (Busur Banda) merupakan suatu bagian dari Sistem Pegunungan Sunda.

a) Maluku utara
Provinsi Maluku Utara terletak di kepulauan Maluku sebelah utara dengan posisi 3º 90' LU-2º 10' LS-123º 15' BT. Luas provinsi Maluku Utara yang beribukota diSofifi adalah sekitar 53.836 km2, dengan jumlah penduduk 1.282.439 jiwa. Provinsi ini memiliki perairan laut yang relatif luas dengan sumberdaya perikanan yang relatif besar. Maluku Utara merupakan wilayah kepulauan yang terdiri atas pulau-pulau volkanik dan pulau-pulau non volkanik. Pulau vulkanik menempati bagian barat termasuk diantaranya adalah Pulau Ternate, Pulau Tidore, Pulau Moti, Pulau Mare, Pulau Makian, dan Pulau Sangihe. Sedangkan pulau non volkanik antara lain Pulau Bacan, Pulau Kasiruta, Pulau Talaud, dan Pulau Obi. (Amarullah dan Tobing ; 2005)

Gambar 1. Peta maluku utara
(Sumber: peta Administrasi pulau maluku)
b) Maluku Selatan
Maluku Selatan secara geologi merupakan Busur Banda, yaitu sistem kepulauan yang membentuk busur mengelilingi tapal kuda basin Laut Banda yang membuka ke arah barat. Sistem Kepulauan Maluku Selatan dibedakan menjadi busur dalam yang vulkanis dan busur luar yang non vulkanis.
ï‚— Busur dalam vulkanis
Terdiri dari pulau-pulau kecil (kemungkinan puncak gunungapi bawah laut/seamount) seperti Pulau Damar, Pulau Teun, Pulau Nila, Pulau Serua, Pulau Manuk dan Kepulauan Banda.
ï‚— Busur luar non vulkanis
Terdiri dari beberapa pulau yang agak luas dan membentuk kompleks-kompleks kepulauan antara lain Kepulauan Leti, Kepulauan Babar, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, Kepulauan Kai, Kepulauan Watu Bela, Pulau Seram, dan Pulau Buru.

Gambar 2. Peta maluku selatan
(Sumber: peta Administrasi pulau maluku)
B. GEOMORFOLOGI
1. Geomorfologi Maluku Utara
Maluku Utara merupakan wilayah kepulauan yang terdiri atas pulau-pulau volkanik dan pulau-pulau non volkanik. Pulau vulkanik menempati bagian barat termasuk diantaranya adalah Pulau Ternate, Pulau Tidore, Pulau Moti, Pulau Mare, Pulau Makian, dan Pulau Sangihe. Sedangkan pulau non volkanik antara lain Pulau Bacan, Pulau Kasiruta, Pulau Talaud, dan Pulau Obi. Pulau Halmahera sendiri termasuk pulau vulkanik meskipun aktivitas vulkanik yang aktif tidak terdapat seluruh wilayahnya. Bagian utara Pulau Halmahera merupakan lokasi aktivitas vulkanik yang aktif. Pulau-pulau non vulkanik Maluku Utara saat ini berkembang dibawah pengaruh proses marin terutama deposisi marin. Bentuklahan volkanik tererosi kuat terbentang dari timur ke barat pada zona vulkanik holosen yang aktif.. Blok barat laut berada di bagian tepi Pulau Halmahera, dibatasi dari graben tengah oleh escapment yang membentang dari pesisir timur hingga pesisir barat. Graben Tengah sendiri berbatasan langsung dengan zona gunungapi dan banyak mendapat pengaruh aktivitas vulkanik terutama dari Gunungapi Dukono dan Gunungapi Ibu. Di dalam Graben Tengah terdapat dataran rendah. Blok bagian timur memanjang arah utara selatan dan menempati sebagian besar sisi barat Pulau Halmahera. Dataran rendah kobe yang sempit memisahkan blok bagian timur halmahera di sebelah barat dengan dataran relief berombak di sebelah timurnya. (Amarullah dan Tobing ; 2005)
Dataran relief berombak menempati bagian yang luas ditimur Pulau Halmahera. Sepanjang pesisir utara dan selatan dataran ini terbentuk dari pesisir pengangkatan. Sedangkan bagian tengah merupakan pesisir pengenggelaman yang dipengaruhi oleh aktivitas marin dari Teluk Buli. Pada bagian ini dataran aluval tidak ditemukan, tetapi memasuki daerah Kao, ditemukan dataran aluvial yang luas pada daerah pedalaman, juga dataran vulkanik yang berombak dan dataran aluvial berawa secara lokal. Pada kedua semenanjung (baik utara maupun timur laut) daerah pegunungan itu masih dikelilingi oleh kawasan pegunungan dan perbukitan yang berkembang dari bahan yang sama. Pulau Morotai banyak memiliki kesamaan dengan Pulau Halmahera bagian utara, yang dicirikan oleh gunung-gunung yang berkembang dari batuan sediment dan batuan beku basa. Pada semenanjung bagian selatan Halmahera lebih di dominasi oleh daerah gunung yang terutama berkembang dari bahan-bahan sedimentasi batu napal dan batu gamping (marl dan limestone). Pegunungan yang mendominasi bagian utara dan timur laut Semenanjung Halmahera juga berbeda secara geologis. Semenanjung utara disusun oleh formasi gunung api (andesit dan batuan beku basaltic). (Syahya Sudarya; 2007)

2. Maluku Selatan
Maluku Selatan secara geomorlogi merupakan Busur Banda, yaitu sistem kepulauan yang membentuk busur mengelilingi tapalkuda basin Laut Banda yang membuka ke arah barat. Sistem Kepulauan Maluku Selatan dibedakan menjadi busur dalam yang vulkanis dan busur luar yang non vulkanis. Busur dalam terdiri dari pulau-pulau kecil (kemungkinan puncak gunungapi bawah laut/seamount) seperti Pulau Damar, Pulau Teun, Pulau Nila, Pulau Serua, Pulau Manuk dan Kepulauan Banda. Sedangkan busur luar terdiri dari beberapa pulau yang agak luas dan membentuk kompleks-kompleks kepulauan antara lain Kepulauan Leti, Kepulauan Babar, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, Kepulauan Kai, Kepulauan Watu Bela, Pulau Seram, dan Pulau Buru. (Sumardi, dkk. 2011)

C. GEOLOGI STRUKTUR
Karakteristik geologi Provinsi Maluku adalah terdiri dari batuan sedimen, batuan metamorfik dan batuan beku dengan penyebaran yang hampir merata di setiap gugus pulau. Hal ini dipengaruhi oleh klasifikasi umur pulau/kepulauan yang terbentuk pada 50-70 juta tahun yang lalu, pada periode Neogeon sampai Paleoceen.Karakteristik tersebut juga dipengaruhi oleh letak Maluku diantara lempeng bumi Indo-Australia, Pasifik, Laut Filipina dan Laut Banda, sehingga memberikan sebaran beberapa gunung api baik yang masih maupun sudah tidak aktif lagi. (Amarullah dan Tobing ; 2005)

a) Geologi maluku utara
Sebagian besar Provinsi Maluku Utara, terutama bagian tengah dan utara, merupakan daerah pegunungan. Namun secara geologi bukanlah pegunungan yang seragam. Artinya, bahan penyusunnya bervariasi. Pada semenanjung timur laut ditemukan batuan beku asam, basa dan ultrabasa serta batuan sediment. Daerah pegunungan yang ada merupakan bentangan lahan dengan puncak tajam dan punggung curah tertoreh serta lereng yang curam (40%). Di semenanjung utara Halmahera terdapat barisan gunung api aktif dan non-aktif dengan bentuk dan struktur yang sangat khas. Pada bagian ini terbentang dataran sempit ailuvial arah timur-barat. Kawasan sepanjang pantai barat Halmahera terbentang sejumlah pulau besar dan kecil yang dimulai dari Ternate bagian utara sampai Obi bagian selatan. Pulau-pulau kecil di bagian utara umumnya merupakan daerah vulkanik yang tersusun dari bahan andesit dan batuan beku basaltic dengan lereng curam (30-45%) sampai curam (45%). Pulau Obi dibatasi oleh dua sesar besar yaitu sesar Sorong-Sula Utara yang terletak dibagian selatan, dan sesar Maluku-Sorong yang terletak dibagian Utara. Sesar normal yang terjadi di Pulau Obi diakibatkan oleh sentuhan tektonik antara batuan ultramafik dengan batuan yang lebih muda. Umumnya sesar-sesar di Obi berarah barat-timur, baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya. Di Pulau Obi bagian barat terdapat Danau Karu yang diperkirakan berupa terban yang dibatasi oleh dua sesar dengan arah utara-selatan. Lipatan-lipatannya membentuk antiklin dan sinklin yang secara umum sumbunya berarah barat-timur. (Amarullah dan Tobing ; 2005)
b) Maluku Selatan
Maluku selatan disusun oleh hasil kegiatan endapan laut dangkal berumur Plio-Plistosen Sampai Holosen.Batuannya terdiri dari batu gamping, napal dan abut lumpur gamping dan endapan alluvium. Urutan batuan dari yang termuda sampai yang tertua adalah sebagai berikut.Sejarah geologi Maluku selatan dimulai pada zaman miosen bawah yang masih berupa daerah laut, dirincikan dengan pengendapan batu gamping dan napal yang berlangsung sampai miosentengah. Pada zaman miosen atas- Pliosen bawah terjadi pengangkatan dan lingkungan pengendapan berubah menjadi laut dangkal dengan adanya pengendapan batu gamping dan napal yang termasuk formasi manumbai. (Robertus, dkk ; 2011)

D. LITOLOGI
Litologi di daerah Anggai, maluku disusun oleh batuan yang terdiri dari batuan vulkanik, sedimen dan endapan muda. Batuan akibat adanya kegiatan tektonik mengakibatkan adanya perlipatan, dan pensesaran dan kegiatan magmatik (hidrotermal) yang mana hal tersebut merupakan media yang potensial bagi pembentukan mineralisasi. Daerah uji petik memiliki sebaran alterasi yang didominasi oleh ubahan silisifikasi, serisit sampai dengan argilik. Dibeberapa lokasi dijumpai adanya ubahan jenis filik (pada pungungan Anggai), argilik dan propilit. Hal ini menunjukkan alterasi kearah dalam memiliki variasi alterasi bertemperatur lebih tinggi. Jadi dimungkinkan tipe porpiri akan muncul (bisa saja terjadi) jika melihat pola alterasi yang demikian. (Roswita, dkk.2012)

Formasi Dorosagu (Tped)
Perselingan antara batupasir dengan serpih merah dan batugamping. Batupasir kelabu kompak, halus - kasar, sebagian gampingan, mengandung fragmen batuan ultra basa grauwake, kompak, komponen batuan ultrabasa, basal dan kuarsa; serpih berlapis
baik, batugamping, kelabu dan merah, kompak, sebagian menghablur. Dari analisis fosil menunjukkan umur Paleosen-Eosen (Kadar, 1976, komunikasi tertulis dalam jurnal Syahya Sudarya; proceeding pemaparan hasil kegiatan lapangan dan non lapangan tahun 2007 Pusat sumber daya geologi).

Formasi Tingteng (Tmpt)
Berupa batugamping hablur dan batugamping pasiran, sisipan napal dan batupasir. Batugamping pasiran, kelabu dan coklat muda, sebagian kompak; sisipan napal dan batupasir, kelabu, setebal 10 – 30 cm, umur Akhir Miosen – Awal Pliosen. (Kadar, 1976, komunikasi tertulis dalam jurnal Syahya Sudarya; proceeding pemaparan hasil kegiatan lapangan dan non lapangan tahun 2007 Pusat sumber daya geologi).

Formasi Weda (Tmpw)
Berupa batupasir berselingan dengan napal, tufa, konglomerat dan batugamping. Batupasir kelabu - coklat muda, - berbutir halus sampai kasar; -berselingan dengan serpih kelabu kehijauan. Napal, putih, kelabu dan coklat, getas; mengandung banyak foraminifora setempat sisipan batubara setebal 5 cm dan batugamping. Batugamping, putih kotor dan kelabu, kompak; merupakan sisipan dalam napal, setebal 10 – 15 cm di daerah Dote dan 0,5 – 2 m di daerah Kobe dan Kulo. Napal berumur Miosen Tengah – Awal Pliosen (Kadar, 1976, komunikasi tertulis) dan lingkungan neritik-batial. (Kadar, 1976, komunikasi tertulis dalam jurnal Syahya Sudarya; proceeding pemaparan hasil kegiatan lapangan dan non lapangan tahun 2007 Pusat sumber daya geologi).

Formasi Amasing (Tma)
Berupa batupasir tufaan, berselingan dengan batulempung dan napal, bersisipkan batugamping. Batupasir tufaan berwarna kelabu kehijauan, berpilahan sedang, berkomponen terutama kuarsa, feldspar dan sedikit mineral bijih, bermasa dasar tufa. Batulempung dan napal berwarna kelabu kehijauan, agak kompak, mengandung banyak fosil foraminifora plangton. Hasil analisis fosil menunjukkan napal berumur Miosen Bawah sampai Miosen Tengah. (Kadar, 1976, komunikasi tertulis dalam jurnal Syahya Sudarya; proceeding pemaparan hasil kegiatan lapangan dan non lapangan tahun 2007 Pusat sumber daya geologi).

Formasi Woi (Tmpw)
Berupa batupasir, konglomerat dan napal. Batupasir, kelabu, terpilah sedang, tufaan. Konglomerat, kelabu, kerakal andesit, basal dan batugamping. Napal; kelabu, foraminifora dan moluska, setempat lignitan. Fosil foraminifora menunjukkan umur Miosen Atas sampai Pliosen berlingkungan sublitoralbatial. Tebalnya antara 500– 600m. (Kadar, 1976, komunikasi tertulis dalam jurnal Syahya Sudarya; proceeding pemaparan hasil kegiatan lapangan dan non lapangan tahun 2007 Pusat sumber daya geologi).

Formasi Anggai (Tmps)
Berupa batugamping dan batugamping pasiran, pejal. Fosil foraminifora menunjukkan umur Miosen Atas sampai Pliosen. Sebarannya di timur P.Obi. Ketebalannya kurang lebih 500 m. Formasi Anggai menjemari dengan Formasi Woi. (Kadar, 1976, komunikasi tertulis dalam jurnal Syahya Sudarya; proceeding pemaparan hasil kegiatan lapangan dan non lapangan tahun 2007 Pusat sumber daya geologi).

Formasi Bacan (Tomb)
Terdiri dari lava, breksi dan tufa dengan sisipan konglomerat dan batupasir. Breksi gunungapi, kelabu kehijauan dan coklat, umumnya terpecah, mengandung barik kuarsa yang sebagian berpirit. Lava bersusunan andesit hornblenda dan andesit piroksen, berwarna kelabu kehijauan dan coklat, umumnya sangat terpecah dan terubah, terpropilitkan dan termineralkan. Konglomerat, kelabu kehijauan dan coklat, kompak, mengandung barik kuarsa, komponennya basal, batugamping, rijang, batupasir dan setempat dengan batuan ultrabasa. Batupasir dari analisis fosil menunjukkan umur Oligosen – Miosen bawah dan lingkungan litoral. (Kadar, 1976, komunikasi tertulis dalam jurnal Syahya Sudarya; proceeding pemaparan hasil kegiatan lapangan dan non lapangan tahun 2007 Pusat sumber daya geologi).
Telah dipelajari resistivitas untuk mengidentifikasi zona prospek geotermal di daerah konduktif Larike, Ambon, Maluku. Metode yang digunakan untuk akuisi data sounding dan pemetaan dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger. Data yang diperoleh di lokasi kemudian diproses untuk memperoleh litologi di bawah titik pengukuran. Pada tahap selanjutnya dibuat penampang dua dimensi dari daerah pengukuran dan tahap terakhir dibuat rekonstruksi tiga dimensi pada daerah pengukuran. Hasil yang diperoleh pada area Larike memiliki empat lapisan berupa litologi lapisan atas, bresccias, andesit dantuff. Sebagai batuan penutup (konduktif) sistem geotermal adalah lapisan tuff yang merupakan lapisan batuan dengan berbagai tingkat ketebalan. (Karyanto, dkk. 2011)
Penelitian dilakukan untuk mengetahui kedalaman lapisan bedrock di Pulau Pakal Halmahera Timur. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik resistivitas dengan konfigurasi elektroda wenner. Pengukuran dilakukan sebanyak 5 lintasan dengan panjang setiap lintasan 500 meter dan diolah menggunakan program Res2Dinv. Hasil yang didapatkan berupa penampang resistivitas 2 dimensi yang dikorelasikan dengan data bor. Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi diperoleh kedalaman lapisan bedrock memiliki nilai resistivitas 300 Ωm – 750 Ωm. dengan kedalaman maksimal berada pada 56 meter dari permukaan, sedangkan kedalaman lapisan bedrock yang minimum berada pada kedalaman 10 meter dari permukaan. Lapisan laterit memiliki nilai resistivitas 1 Ωm – 300 Ωm, dengan ketebalan lapisan di bagian barat daya hingga timur laut berkisar 34 – 56 meter dan dibagian barat hingga utara ketebalannya berkisar 6 – 26 meter. (Roswita, dkk.2012)

E. POTENSI GEOLOGI
Sumber daya Mineral dan Energi lepas pantai adalah material anorganik homogen yang terjadi secara alamiah serta mempunyai struktur atom dan komposisi kimia tertentu. Mineral dapat dibedakan menurut karakteristiknya, yaitu berdasarkan : warna, goresan, transparansi, kekerasan, struktur kristal dan tampilan yang terletak di lepas pantai laut indonesia. Beberapa sifat keterdapatan endapan mineral, diantaranya : terdapat dalam jumlah terbatas dan tidak merata di kulit bumi, baik dari segi mutu (kualitas) maupun jumlah (kuantitas). Oleh karena itu eksplorasi mineral (logam) merupakan kegiatan bersifat padat modal, berisiko tinggi dan saat ini semakin banyak memakai teknologi tinggi (yang sudah tentu relatif memerlukan biaya yang lebih tinggi). Suli merupakan daerah prospek panas bumi yang terbentuk sebagai akibat aktivitas pergerakan sesar normal yang berarah Timur Laut – Barat Daya menuju Kecamatan Leihitu. Daerah ini diduga sebagai media yang memunculkan manifestasi panas bumi, seperti banyaknya sumber air panas yang dijumpai di daerah ini. Suhu permukaan air panas tersebut berkisar antara (50,8 – 60,2)oC. Suhu rata-rata di permukaan mata air panas Suli pada 4 stasion pengukuran berkisar antara (50,8 – 60,2)oC. Rentang suhu yang terjadi mungkin akibat pengaruh percampuran dengan air permukaan (air hujan) dan suhu udara sekitarnya. Mineral termasuk sumberdaya alam yang tidak bisa diperbaharui serta terbentuk melalui proses geologi yang panjang. Ketika mineral habis, maka tidak ada penggantinya. Karena itu pemanfaatan mineral harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Magma adalah sumber dari berbagai jenis batuan dan mineral. Magma berasal dari mantel bumi atau dari batuan kerak bumi yg meleleh karena mendapat temperatur dan tekanan tinggi. Magma yang cair dan kental mengandung berbagai unsur kimia yang berasal dari mantel bumi ataupun dari batuan kerak bumi yang meleleh kembali akibat tekanan dan temperatur yang tinggi pada kedalaman tertentu. Karena sifatnya yang cair dan tempatnya yang dalam dengan tekanan dan temperatur tinggi, maka magma cenderung mengalir naik kepermukaan bumi melalui bagian-bagian bumi yang lemah, misalnya retakan. Atau jika tekanannya cukup, maka magma dapat pula menerobos batuan lain diatasnya. (Tjokrosapoetro et. al, 1993. Dalam jurnal Helda Andayany, 2012)
Pulau Bacan terletak di bagian selatan Provinsi Maluku Utara. Di pulau ini dijumpai hasil tambang seperti emas, nikel, tembaga, mangan, dan seng. Selain itu, Pulau Bacan juga termasuk sebagai kawasan pengembangan industri perikanan, maritim, dan pariwisata. Adanya deposit bahan tambang di pulau ini, terutama mineral yang mengandung logam serta berbagai aktivitas manusia di darat, cepat atau lambat akan dapat menyumbangkan kadar logam berat ke perairan laut, baik melalui peluruhan secara alami, proses geologis maupun melalui berbagai kegiatan. Keadaan ini dapat meningkatkan kadar logam berat di perairan laut sehingga pada kadar yang relatif tinggi akan berbahaya bagi kehidupan biota perairan. (Marasabessy, Dkk. 2010)
Secara regional daerah Obi termasuk kedalam Cekungan Obi yang terbentuk akibat pergerakan geodinamik tiga lempeng. Pulau Obi dibatasi oleh dua sesar besar yaitu sesar Sorong-Sula Utara yang terletak dibagian selatan, dan sesar Maluku-Sorong yang terletak dibagian Utara. Stratigrafi daerah Obi dimulai dengan munculnya batuan ultramafik dan malihan pada zaman Trias-Yura, sedangkan sedimen Tersier daerah Obi dimulai pada Oligo-Miosen. Formasi batuan yang dianggap sebagai pembawa batubara adalah Formasi Woi yang berumur Mio-Pliosen. Endapan batubara yang ditemukan membentuk lipatan sinklin yang sumbunya berarah baratlaut-tenggara, besar sudut kemiringan lapisan berkisar antara 5o–20o. Sebaran batubara kearah jurus tidak menerus sehingga batubara didaerah penyelidikan dipisahkan menjadi dua blok, yaitu Blok Huru dan Blok Kelo. Batubara di Blok Huru terdiri dari dua lapisan atau seam, tebal lapisan kesatu 1,35 m dan tebal lapisan kedua 1,60 m. Di Blok Kelo terdiri dari dua lapisan, tebal lapisan kesatu 0,50 m dan tebal lapisan kedua 0,40 m. Berdasarkan ciri-ciri sedimentasinya diperkirakan sebaran batubara dikedua blok tersebut hanya setempat-setempat. Nilai kalori batubara dari Blok Huru berkisar antara 5245 cal/gr – 5854 Cal/gr, sedangkan kandungan sulfurnya berkisar antara 6,37 % - 6,96 %. Nilai kalori batubara Blok Kelo berkisar antara 5886 Cal/gr – 5941 Cal/gr, sedangkan kandungan sulfurnya berkisar antara7,49 % - 7,58 %. Secara mikroskopis maseral yang dominan pada batubara daerah Obi adalah vitrinit yaitu berkisar antara 88,7 % - 96,3 % dengan reflektan berkisar antara 0,25 % - 0,40 %. Berdasarkan Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara Standar Nasional Indonesia (SNI) amandemen 1- SNI 135014 – 1998 dari Badan Standarisasi Nasional, sumberdaya batubara daerah Obi Utara dikelompokan kedalam sumberdaya batubara hipotetik (“hypothetic”). Sumberdaya batubara Blok Huru adalah 1.343.519 ton, dan sumberdaya Blok kelo adalah 787.065 ton. (Amarullah dan Tobing ; 2005)

F. BENCANA GEOLOGI
Selain mengandung potensi sumberdaya alam yang cukup berlimpah, Indonesia juga merupakan wilayah rawan bencana. Bencana gempabumi, banjir, longsor, bahaya gunung api, tsunami dan lain sebagainya merupakan beberapa bencana yang terjadi di Indonesia. Beberapa jenis bencana gempa bumi, tsunami, letusan gunung api merupakan bencana almiah yang memang sulit dikendalikan manusia. Di sisi lain bencana banjir, tanah longsor, tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari aktivitas manusia terhadap bumi. Zonasi rawan bencana di wilayah Indonesia ditampilkan pada atlas sebagai salah satu media infomasi. Zona gunungapi yang terletak di bagian utara Pulau Halmahera membentuk satu pola jaringan dengan gunungapi yang berada di pulau lain antara lain Pulau Ternate, Tidore, Mare, Moti dan Makian. Bentuklahan volkanik tererosi kuat terbentang dari timur ke barat pada zona vulkanik holosen yang aktif. Gunung Dukono adalah gunungapi aktif yang berada pada zona timur bagian utara. Gunung Dukono merupakan gunungapi holosen yang besar, posisinya bersambungan dengan patahan yang mengarah barat laut – tenggara. Zona gunungapi yang terletak di bagian utara Pulau Halmahera membentuk satu pola jaringan dengan gunungapi yang berada di pulau lain antara lain Pulau Ternate, Tidore, Mare, Moti dan Makian. (Andayany, 2012)

Gambar 3. Kontur suhu permukaan air panas Hatuasa (a) hari pertama; dan (b) hari kedua

Kontur suhu permukaan air panas Suli pada Gambar 3 menunjukkan bahwa suhu rata-rata tertinggi pada hari pertama pengukuran, yaitu 60,1oC terukur pada stasion 3 mata air panas Suli. Tampilan kontur suhu pada hari kedua menunjukkan tampilan yang hampir sama dengan hari pertama, dengan suhu permukaan rata-rata tertinggi, yaitu 60,0oC terukur pada stasion 3 mata air panas Suli. Sedangkan suhu rata-rata terendah pengukuran, yaitu 52,0oC pada stasion 2 mata air panas Suli. (Andayany, 2012)

G. PENUTUP
Dari uraian-uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Kepulauan Maluku adalah gugusan pulau-pulau yang terletak di sebelah timur Indonesia, memiliki panjang 180 kilometer dari utara ke selatan dan lebar 70 kilometer dari barat ke timur. Berdasarkan keadaan geologis dan fisiografisnya dapat dibagi menjadi dua provinsi, yakni Halmahera bagian barat dan Halmahera bagian timur laut – tenggara. Halmahera bagian barat merupakan provinsi yang tersusun dari busur vulkanik Ternate dan Halmahera Barat, sedangkan Halmahera bagian timur laut – tenggara merupakan provinsi yang tersusun dari melange. Secara garis besarya, Maluku dapat dibagi menjadi dua bagian yakni Maluku Utara dan maluku Selatan. Maluku Utara sebgaian dihubungkan dengan rangkaian pulau-pulau Asia Timur, dan sebagian sistem Melanesia, sedangkan Maluku Selatan (Busur banda) merupakan suatu bagian dari Sistem Pegunungan Sunda. (Amarullah dan Tobing ; 2005)
2. Maluku Utara merupakan wilayah kepulauan yang terdiri atas pulau-pulau volkanik dan pulau-pulau non volkanik. Pulau vulkanik menempati bagian barat termasuk diantaranya adalah Pulau Ternate, Pulau Tidore, Pulau Moti, Pulau Mare, Pulau Makian, dan Pulau Sangihe. Sedangkan pulau non volkanik antara lain Pulau Bacan, Pulau Kasiruta, Pulau Talaud, dan Pulau Obi. Sistem Kepulauan Maluku Selatan dibedakan menjadi busur dalam yang vulkanis dan busur luar yang non vulkanis. Busur dalam terdiri dari pulau-pulau kecil (kemungkinan puncak gunungapi bawah laut/seamount) seperti Pulau Damar, Pulau Teun, Pulau Nila, Pulau Serua, Pulau Manuk dan Kepulauan Banda. Sedangkan busur luar terdiri dari beberapa pulau yang agak luas dan membentuk kompleks-kompleks kepulauan antara lain Kepulauan Leti, Kepulauan Babar, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, Kepulauan Kai, Kepulauan Watu Bela, Pulau Seram, dan Pulau Buru. (Sumardi, dkk. 2011)
3. Karakteristik geologi Provinsi Maluku adalah terdiri dari batuan sedimen, batuan metamorfik dan batuan beku dengan penyebaran yang hampir merata di setiap gugus pulau. Hal ini dipengaruhi oleh klasifikasi umur pulau/kepulauan yang terbentuk pada 50-70 juta tahun yang lalu, pada periode Neogeon sampai Paleoceen.Karakteristik tersebut juga dipengaruhi oleh letak Maluku diantara lempeng bumi Indo-Australia, Pasifik, Laut Filipina dan Laut Banda, sehingga memberikan sebaran beberapa gunung api baik yang masih maupun sudah tidak aktif lagi. (Amarullah dan Tobing ; 2005)
4. Litologi di daerah Anggai, maluku disusun oleh batuan yang terdiri dari batuan vulkanik, sedimen dan endapan muda. Batuan akibat adanya kegiatan tektonik mengakibatkan adanya perlipatan, dan pensesaran dan kegiatan magmatik (hidrotermal) yang mana hal tersebut merupakan media yang potensial bagi pembentukan mineralisasi. Daerah uji petik memiliki sebaran alterasi yang didominasi oleh ubahan silisifikasi, serisit sampai dengan argilik. Dibeberapa lokasi dijumpai adanya ubahan jenis filik (pada pungungan Anggai), argilik dan propilit. (Amarullah dan Tobing ; 2005)
5. Sumber daya Mineral dan Energi lepas pantai adalah material anorganik homogen yang terjadi secara alamiah serta mempunyai struktur atom dan komposisi kimia tertentu. Mineral dapat dibedakan menurut karakteristiknya, yaitu berdasarkan : warna, goresan, transparansi, kekerasan, struktur kristal dan tampilan yang terletak di lepas pantai laut indonesia. Beberapa sifat keterdapatan endapan mineral, diantaranya : terdapat dalam jumlah terbatas dan tidak merata di kulit bumi, baik dari segi mutu (kualitas) maupun jumlah (kuantitas). Oleh karena itu eksplorasi mineral (logam) merupakan kegiatan bersifat padat modal, berisiko tinggi dan saat ini semakin banyak memakai teknologi tinggi (yang sudah tentu relatif memerlukan biaya yang lebih tinggi). (Andayany, 2012)
6. Bencana gempabumi, banjir, longsor, bahaya gunung api, tsunami dan lain sebagainya merupakan beberapa bencana yang terjadi di Indonesia. Beberapa jenis bencana gempa bumi, tsunami, letusan gunung api merupakan bencana almiah yang memang sulit dikendalikan manusia. Di sisi lain bencana banjir, tanah longsor, tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari aktivitas manusia terhadap bumi. Zonasi rawan bencana di wilayah Indonesia ditampilkan pada atlas sebagai salah satu media infomasi. Zona gunungapi yang terletak di bagian utara Pulau Halmahera membentuk satu pola jaringan dengan gunungapi yang berada di pulau lain antara lain Pulau Ternate, Tidore, Mare, Moti dan Makian. Bentuklahan volkanik tererosi kuat terbentang dari timur ke barat pada zona vulkanik holosen yang aktif.

DAFTAR PUSTAKA

Amarullah, Deddy dan Robert L. Tobing. 2005. Inventarisasi batubara marginal
Daerah obi utara kabupaten halmahera selatan Provinsi maluku utara. Dalam pemaparan hasil kegiatan lapangan subdit batubara : Obi
Andayany, Helda. 2012. Penerapan Persamaan Geotermometer (SiO2)P Di Lapangan Panas Bumi Suli, Ambon. Dalam Jurnal Barekang Vol. 6 No. 2 Hal. (33 – 36)
Karyanto, Wahyudi, Ari Setiawan, dan Sismanto. 2011. Identifikasi zona konduktif di daerah prospek panasbumi larike Ambon maluku. Dalam Jurnal Sains MIPA, Vol. 17, No. 2, Hal.: (67 – 74)
Kusnama. 2008. Fasies Dan Lingkungan Pengendapan Formasi Bobong Berumur Jura Sebagai Pembawa Lapisan Batubara Di Taliabu, Kepulauan Sanana-Sula, Maluku Utara. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 3 No. 3 Hal 161-173: Bandung
Marasabessy, M. Djen, Edward dan Febriana Lisa Valentin. 2010. Pemantauan Kadar Logam Berat Dalam Air Laut Dan Sedimen Di Perairan Pulau Bacan, Maluku Utara. Dalam makara, sains, vol. 14, no. 1 Hal : 32-38 : Bandung
Robertus S.L.S, Herry S, dan Andri Eko A. W. 2011. Survei Pendahuluan Panas Bumi Geologi Dan Geokimia Pulau Wetar, Provinsi Maluku. Dalam Buku Bidang Kelompok Penyelidikan Panas Bumi Pusat Sumber Daya Geologi : Bandung
Roswita, Lantu, dan Syamsuddin. 2006. Survei geolistrik metode resistivitas untuk Interpretasi kedalaman lapisan bedrock di pulau Pakal, halmahera timur. Program Studi Geofisika Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam , Universitas Hasanuddin : Makassar
Sudarya, Syahya. 2007. Inventarisasi mineral logam di kabupaten halmahera selatan dan kota tidore maluku utara. Dalam proceeding pemaparan hasil kegiatan lapangan dan non lapangan tahun 2007. Pusat sumber daya geologi: Bandung
Sumardi, Eddy, Bakrun, Syuhada, dan Liliek Rihardiana. 2011. Survei geofisika terpadu banda baru, maluku tengah, provinsi Maluku. Pusat Sumber Daya Geologi : Bandung
Triono, Untung dan Mulyana. 2011. Penyelidikan Batu Bara Di Daerah Mangole Dan Sekitarnya Kabupaten Kepulauan Sula,Maluku Utara. Dalam Prosiding Hasil Kegiatan Pusat Sumber Daya Geologi: KPP Energi Fosil dan Laboratorium Fisika Mineral : Bandung