KATEGORI : praktikum geografi

AKSIOLOGI

21 October 2014 11:31:42 Dibaca : 583

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aksiologi adalah teori tentang nilai merupakan suatu bahan kajian yang menarik untuk dibahas. Karena di dalamnya terkandung nilai-nilai sebagai dasar normative dalam penggunaan atau pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Tak dapat disangkal lagi kontribusi ilmu bagi kepentingan umat manusia. Ilmu telah banyak mengubah dunia dalam memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan, dan berbagai wajah kehidupan yang duka. Namun apakah hal itu selalu demikian: imu selalu merupakan berkat dan penyelamat bagi manusia?Memang dengan jalan mempelajari atom kita bias memanfaatkan wujud tersebut sebagai sumber energy bagi keselamatan manusia, tetapi dipihak lain ini bias juga berakibat sebaliknya, yakni membawa membawa manusia kepada penciptaan bom atom yang menimbulkan malapetaka.
Usaha memerangi kuman yang membunuh manusia sekaligus menghasilkan senjata kuman yang dipakai sebagai alat untuk membunuh sesame manusia pula. Sehingga timbul pertanyaan: apakah kehadiran ilmu itu sebuah berkah bagi kehidupan manusia ataukah malapetaka?
Dewasa ini, dalam perkembangannya ilmu sudah melenceng jauh dari hakikatnya, dimana ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Disinilah moral sangat berperan sebagai landasan normatif dalam penggunaan ilmu serta dituntut tanggungjawab sosial ilmu dengan kapasitas keilmuannya dalam menuntun pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tujuan hakiki dalam menuntun manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tujuan hakiki dalam kehidupan manusia tercapai.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan aksiologi ?
2. Bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara baik dan benar ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan aksiologi.
2. Untuk mengetahui cara menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara baik dan benar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. AKSIOLOGI
Secara etimologis, aksiologi berasal dari kata “axios” (Yunani) yang berarti nilai, dan “logos” yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. (Burhanuddin Salam, 1997)
Atau menurut Jujun S. Sumantri dalam filsafat Ilmu Suatu Pengantar, “aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh”. Sejalan dengan itu, Wibisono mengatakan aksiologi adalah nilai-nilai (value) sebagai tolak ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai dasar normatif dalam penelitian dan pengalian serta penerapan ilmu. Jadi, aksiologi adalah suatu teori tentang nilai yang berkaitan tentang bagaimana suatu ilmu digunakan.
B. PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah gejala tahunya secara bagian perbagian seseorang baik yang bersumber dari dirinya sendiri maupun dari orang lain mengenai sesuatu dan dasar sesuatu itu (Poedjawijatna, 2004). Segala sesuatu yang diketahui manusia disebut pengetahuan. Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk ke dalamnya adalah ilmu. Jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia disamping berbagai pengetahuan lain seperti seni dan agama.
Secara aksiologi pengetahuan yang dimiliki manusia yang berupa ilmu itu digunakan untuk kepentingan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia yang terus bertambah seiring dengan berkembangannya zaman.
C. ILMU
Ilmu adalah kumpulan dari pegetahuan yang sudah teruji kebenarannya secara ilmiah (Umar Solokhan, 2006)Menurut Endrotomo dalam ilmu danteknologi, ilmu merupakan suatu aktivitas tertentu yang menggunakan metode tertentu untuk menghasilkan pengetahuan tertentu.
Dari dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah kumpulan dari pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan penelitian ilmiah yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dalam pengertian lain, ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang diandalkan. Ilmu merupakan produk dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut berpikir ilmiah. (Burhanuddin Salam, 1997)
Berpikir ilmiah mrupakan kegiatan berpikir yang memenuhi persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut pada hakekatnya mencakup dua kriteria utama yaitu:
1. Mempunyai alur jalan pikiran yang logis
2. Didukung oleh fakta empiris
Persyaratan pertama mengharuskan alur pikiran kita konsisten dengan pengetahuan ilmiah yang tela ada, sedangkan persyaratan kedua mengharuskan kita untk menerima pernyataan yang didukung oleh fakta-fakta sebagai pernyataan yang benar secara ilmiah.
Kebenaran ilmiah ini tidaklah bersifat mutlak, sebab mungkin sajaperyataan yang sekarang logis kemudian akan bertentangan dengan pengetahuan ilmiah baru, atau peryataan yang sekarang didukung oleh fakta ternyata kemudian bertentangan dengan penemuan baru. Kebenaran ilmiah terbuka bagi koreksi dan penyempurnaan. Dari hakikat berpikir ilmiah tersebut maka dapat menyimpulkan beberapa karakteristik dari ilmu (Burhanudi Salam, 1997), sebagai berikut :
1. Ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.
2. Alur jalan pikiran yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang ada.
3. Pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif
4. Mekanisme yang terbuka terhadap koreksi
Dengan demikian maka manfaat nilai yang dapat ditarik dari karakteristik ilmu ialah sifat rasional, logis, objektif, dan terbuka. Disamping itu sifat kritis merupakan karakteristik yang melandasi keempat sifat tersebut.
Ilmu merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu dengan memperhatikan objek (ontologi), cara (epistemologi), dan kegunaannya (aksiologi). Berangkat dari 3 kerangka tersebut, dengan memanfaatkan kemampuan akal untuk memahami fenomena alam semesta (keseluruhan ciptaan atau makhluk Allah) sebagai objek pemahaman yang pada akhirnya hasil pemahaman tersebut dipergunakan untuk memberikan nilai manfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan. Adapun kegunaan ilmu itu adalah sebagai berikut :
1. Mencapai nilai kebenaran (ilmiah)
2. Memahami aneka kejadian
3. Meramalkan peristiwayang akan terjadi
Dalam perkembangan ilmu memahami dua tahap (Jujun S. Suriasumantri, 1996), sebagai berikut :
1. Tahap pengembangan konsep
2. tahap penerapan konsep
Dalam tahap pengembangan konsep, ilmu dipelajari secara metafisik, ilmuan melakukan penelitian-penelitian dalam rangka mempelajari alam sebagaimana adanya. Pada tahap ini ilmu bersifat kontenplatif, yaitu ilmu bertujuan mempelajari gajala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman.
Dalam tahap pengembagan konsep tujuan kegiatan keilmuan bukannya demi kamajuan ilmu itu sendiri, melainkan untk memecahkan masalah-masalah praktis dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi manusia. Atau dengan kata lain dalam tahap ini ilmu bersifat manipulatif, dimana faktor-faktor yang terkait dengan gejala-gejala alam tersebut dimanipulasi untuk dikontrol dan diarahkan proses yang terjadi demi pemecahan persoalan-persoalan praktis yang dihadapu manusia
Hasil-hasil kegiatan keilmuan dalam tahap ini dialih ragamkan (ditransformasikan) menjadi bahan, atau piranti, atau prosedur, atau teknik pelaksanaan sesuatu proses pengelolaan atau produksi yang nantinya akan menghasilkan sesuatu yang termasuk terknologi, jadi bisa dikatakan tekhnologi dikembangkan pada tahap ini. Kearaha mana dan terhadapa apa tekhnologi digunakan, amat tergantung pada kepentingan sipenguasa tekhnologi itu daan nilai-nlai moral etikanya.
C. TEKNOLOGI
Beberapa pengertian teknologi telah diberikan antara lain oleh David L. Goetch : “ People tools, resources, to solve problems ot to extend their capabilities”, sehingga teknologi dapat dipahami sebagai “upaya” untuk mendapatkan suatu “produk” yang dilakukan oleh manusia dengan memanfaatkan peralatan (tools), proses dan sumber daya (resources). Pengertian yang lain, telah diberikan oleh Arnold Pacey “ The application onscientific and other knowledge to practical task by ordered systems, that involve peopleand organizations, living things and machines ”.
Dari definisi ini nampak, bahwa teknologi tetap terkait pada pihak-pihak yang terlibat dalam perencanaannya, itulah teknologi tidak bebas organisasi, tidak bebas budaya dan sosial, ekonomi dan politik.Jujun S. Suriasumantri mendefinisikan teknologi adalah penerapan konsep ilmiahdalam memecahkan masalah-masalah praktis baik yang berupa perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Definisi teknologi yang lain diberikan oleh Rias Van Wyk “Technology is a “setof minds” created by people to facilitate human endeavor”. Dari definisi tersebut, adabeberapa esensi yang terkandung yaitu :
1. Teknologi terkait dengan ide atau pikiran yang tidak akan pernah berpikir,keberadaan teknologi bersama dengan keberadaan budaya umat manusia.
2. Teknologi merupakan kreasi dari manusia, sehingga tidak alami dan bersifatartificial.
3. Teknologi merupakan himpunan dari pikiran (set of minds), sehingga teknologidapat dibatasi atau bersifat universal, tergantung dari sudut pandang analisis.
4. Teknologi bertujuan untuk memfasilitasihuman endeavor(ikhtiar manusia),sehingga teknologi harus mampu meningkatkan performansi (kinerja) kemampuan manusia.
Dari definisi diatas, ada tiga entitas yang terkandung dalam teknologi, yaitu skill (keterampilan),algoritma(logika berpikir), danhardware(perangkat keras). DalampandanganManagement of Technology, teknologi dapat digambarkan dalam beragam cara :
a. Teknologi sebagai makna untuk memenuhi suatu maksud didalamnya terkandungapa saja yang dibutuhkan untuk merubah (mengkonversikan) sumber daya(resources) ke suatu produk atau jasa.
b. Teknologi tidak ubahnya sebagai pengetahuan, sumber daya yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan (objective).
c. Teknologi adalah suatu tubuh dari ilmu pengetahuan dan rekayasa (engineering)yang dapat diaplikasikan pada perancangan produk dan proses atau padapenelitian untuk mendapatkan pengetahuan baru.
Suatu teknologi biasanya dimulai dari imajinasi, baik secara individual ataukelompok dengan memanfaatkan sentuhan fenomena alam dan kebutuhan-kebutuhan praktis. Dari imajinasi tersebut seorang individu atau kelompok mengembangkan menjadi suatu temuan (invention). Untuk mengembangkan temuan itu menjadi suatu produk yang unggul. Parailmuwan melakukan penelitian-penelitian sehingga hasilnya nanti dapat dimanfaatkanoleh manusia.Teknologi yang telah dikembangkan dari hasil penelitian tersebut mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Sebagai sarana untuk memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia.
2. Meningkatkan performansi (kinerja) kemampuan manusia.
Dalam penggunaan teknologi yang merupakan produk dari ilmu pengetahuan sering kali terjadi penyalahgunaan. Teknologi yang semula digunakan untuk kemaslahatan manusia malah dapat memberikan kerugian yang besar bagi kehidupan. Teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia melainkan dia berada untuk tujuan eksistensinya sendiri. Sesuatu yang harus dibayar mahal oleh manusia yang kehilangan sebagian arti dari kemanusiaannya.

E. ILMU DAN MORAL
Sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah moral. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “ bumi yang berputar mengelilingi matahari “ dan bukan sebaliknya seperti yang dinyatakan dalam ajaran agama maka timbulah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik.
Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya (netralitas ilmu), sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan (nilai moral), seperti agama. Dari interaksi ilmu dan moral tersebut timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik yang berkulminasi pada pengadilan inkuisi Galileo pada tahun 1633. Galileo oleh pengadilan agama dipaksa untuk mencabut pernyataan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari (Sumantri, 1996).
Ketika ilmu dapat mengembangkan dirinya, yakni dari pengembangan konsepsional yang bersifat kontemplatif disusul penerapan –penerapan konsep ilmiah ke masalah-masalah praktis (bersifat manipulatif) atau dengan perkataan lain dari konsep ilmiah yang bersifat abstrak menjelma dalam bentuk kongkrit yang berupa teknologi, konflik antar ilmu dan moral berlanjut. Dalam tahap manipulasi masalah moral muncul kembali.
Kalau dalam kontemplasi masalah moral berkaitan dengan metafisika keilmuan maka dalam tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah. Atau secara filsafati dapat dikatakan bahwa dalam tahap pengembangan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi ontologis keilmuan, sedangkan dalam tahap penerapan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi aksiologi keilmuan (kegunaan ilmu). Tidak dapat dipungkiri peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu dan teknologi.
Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah disamping penciptaan berbagai kemudahan dalam bidang-bidang seperti kesehatan, pengangkutan, pemukiman, pendidikan dan komunikasi. Namun dalam kenyataannnya apakah ilmu selalu merupakan berkah, dan bukan musibah yang membawa manusia dalam malapetaka dan kesengsaraan. Sejak dalam tahap-tahap pertumbuhannya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang. Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi sesama manusia. Berbagai macam senjata pembunuh berhasil dikembangkan dan berbagai teknik penyiksaan diciptakan.
Dewasa ini ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. “ Bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust, “ meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal Carl Gustav Jung, “ melainkan Faust yang menciptakan Goethe.“ (Jujun.S.Sumantri,1996) Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmuwan abad 20 tidak boleh tinggal diam, si pemilik ilmu ini harus mempunyai sikap. Ilmuwan harus mampu menilai antara yang baik dan yang buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang kuat. Tanpa suatu landasan moral yang kuat.
a. Penggolongan ilmuwan
Berkaitan dengan masalah moral dalam menghadapi ekses ilmu dan teknologi yang bersif at merusak, ilmuwan terbagi dalam dua golongan pendapat (Jujun.S.Sumantri,1996), sebagai berikut :
1. Golongan I
Golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Dalam hal ini tugas ilmuwan adalahmenemukan pengatahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya ; apakah pengetahuan itu dipergunakan untuk tujuan yang baik, ataukah dipergunakan untuk tujuan yang buruk.
2. Golongan II
Ilmuwan golongan kedua berpendapat sebaliknya. Menurut mereka netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuwan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan objek penelitian, maka kegiatan keilmuwan harus berlandaskan asas-asas moral. Golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni:
a. Ilmu secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan teknologi-teknologi keilmuwan.
b. Ilmu telah berkembang dengan pesat dan makineksoterik sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang akibat-akibat yang mungkin terjadi bila terjadi salah penggunaan.
c. Ilmu telah berkembang sedemikian rupa sehingga terdapat kemungkinan bahwa ilmu
Dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti kasus revolusi genetika. Berdasarkan ketiga hal diatas maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmusecara moral harus ditujukan untuk kebaikan umat manusia tanpa merendahkanmartabat atau mengubah hakikat kemanusian.

b. Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan
Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Penciptaan ilmu bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu adalah bersifat sosial. Seorang Ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial, karena fungsinya selaku ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuwan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuwan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat demi kemaslahatan bersama. Menurut Jujun S.Sumantri dalam Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, tanggung jawab sosial ilmuwan meliputi antara lain :
a. Kepekaan/kepedulian terhadap masalah-masalah sosial di masyarakat.
b. Imperatf, memberikan perspektif yang benar terhadap sesuatu hal : untung dan ruginya, baik dan buruknya ; sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan.
c. Bertindak persuasif dan argumentatif (berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya).
d. Meramalkan apa yang akan terjadi ke depan.
e. Menemukan alternatif dari objek permasalahan yang sedang menjadi pusat perhatian.
f. Memberitahukan kekeliruan cara berfikir.
g. Menegakkan/menjunjung tinggi nilai kebenaran (universal)
h. menganalisis materi kebenaran (kegiatan intelektual).
i. prototype motorik yang baik (memberi contoh)
Dalam kenyataannya tidaklah mudah bagi ilmuwan untuk memikul tanggung jawab sosial dibahunya. Tetapi seorang ilmuwan yang dikaruniai kecerdasan intelektual dan memiliki nilai-nilai moral yang luhur akan dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik demi kelangsungan kehidupan manusia di dunia ini.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMULAN
Setelah mengkaji aksiologi ini maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
a. Aksiologi adalah cabang dari filsafat ilmu yang membahas mengenai nilai-nilai yang terkandung dari penggunaan ilmu.
b. Ilmu itu bersifat netral pada bagian ontologi dan epistemologinya saja, sedangkan pada bagian aksiologinya ilmu itu terikat dengan nilai-nilai, baik itu nilai etika ataupun moral.
c. Dalam memanfaatkan /menggunakan ilmu hendaknya kita berlandaskan kepada moral sebagai landasan normatifnya.
d. Teknologi sebagai produk dari ilmu hendaknya dipergunakan untuk membantu manusia memecahkan persoalan-persoalan praktis yang dihadapinya, bukan malah menciptakan persoalan baru bagi manusia.
e. Ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan untuk membantu manusia mencapai tujuan hidupnya tanpa harus menghilangkan hakikat kemanusiaannya.
f. Seorang ilmuwan secara aksiologi memiliki tanggung jawab sosial dipundaknya.

 

IDENTIFIKASI WILAYAH KEPESISIRAN

21 October 2014 11:29:04 Dibaca : 465

ACARA I
IDENTIFIKASI WILAYAH KEPESISIRAN

I. TUJUAN
Tujuan praktikum ini agar mahasiswa mampu :
1. Mengidentifikasi keruangan wilayah kepesisiran
2. Mengenali bentang lahan di wilayah kepesisiran
3. Menentukan tipologi wilayah kepesisiran
II. ALAT DAN BAHAN
• Peta rupa bumi
• Spidol
• Plastik transparansi
• GPS
• Kertas
• Kompas
III. PROSEDUR KERJA
1. Identifikasi keruangan wilayah kepesisiran. Tentukan wilayah daratan, laut, pantai, pesisir, garis pantai, garis pesisir
2. Menentukan satuan bentuk lahan yang terdapat pada lokasi praktikum dan menidentifikasi bentuk lahan yang ada ( tombolo, spit, dll )
3. Menetukan tipologi pesisir dilokasi praktikum
Mengklasifikasi wilayah berdasarkan pesisir primer, pesisir sekunder, materi penyusun dan sudut lereng pantai
IV. KAJIAN TEORI
Wilayah kepesisiran merupakan suatu ruang dimana limgkungan terestrial mempengaruhi lingkungan marin atau lakustrin dan sebaliknya (Carter, 1988). Menurut Sugandhy (1966) wilayah kepesisiran merupakan wilayah peralihan antara daratan dan perairan laut yang secara fisiografis didefinisikan sebagai wilayah antara garis pantai hingga kedaerah daratan yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut serta dibentuk oleh endapan lempug hingga pasir yang bersifat lepas, dan kadang materinya berupa kerikil.
Termasuk wilayah kepesisiran adalah pantai (Shore) dan pesisir (Coast). Pantai merupakan suatu mintakat antara daratan dan laut yang dibatasi oleh rata-rata garis surut terendah, yang disebut dengan garis pantai (shoreline) dengan rata-rata garis pasang tertinggi air laut, yang disebut dengan garis pesisir (coast line).
Bentuk lahan yang mungkin dijumpai diwilayah yaitu satuan bentuk lahan asal proses gelombang (marine) dan satuan bentuk lahan asal proses angin. Gunawan (2005) merumuskan definisi wilayah kepesisiran berdasarkan sudut pandang geomorfologi. Menurutnya, kepesisiran (coastal area) adalah bentanglahan yang dimulai garis batas wilayah laut (sea) yang ditandai oleh terbentuknya zona pecah gelombang (breakers zone) dan ke arah darat hingga pada suatu bentanglahan yang secara genetik pembentukannya masih dipengaruhi oleh aktivitas marin, seperti dataran aluvial kepesisiran (coastal aluvial plain).
Definisi wilayah kepesisiran ditinjau dari sudut geomorfologi sangat tepat untuk menentukan batas yang jelas dari suatu wilayah kepesisiran khususnya untuk merencanakan suatu pengelolaan wilayah kepesisiran. Hal ini karena batasan ini lebih menekankan pada aspek genetis yang membentuk wilayah kepesisiran dalam waktu yang sangat lama. Aspek genetis ini tidak mudah berubah, sehingga batas wilayah kepesisiran yang sekaligus digunakan sebagai batas wilayah pengelolaan juga akan berubah dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, maka perencanaan wilayah kepesisiran dengan batas genetis akan sangat cocok untuk perencanaan pengelolaan jangka panjang.
Termasuk dalam wilayah kepesisiran adalah pantai (shore) dan pesisir (coast). Pantai merupakan suatu mintakat antara daratan dala laut yang dibatasi oleh rata-rata surut terendah yang disebut sebagai garis pantai (shoreline) dengan rata-rata garis pasang tertinggi air laut, yang disebut garis pesisir (coastline). (Gunawan, 2005). Pesisir merupakan suatu mintakat yang dimulai dari garis pesisir (coastline) yang menunjukkan rata-rata garis pasang tertinggi kea rah daratan sampai pada suatu mintakat yang, secara genetik pembentukkannya masih dipengaruhi oleh aktivitas marin , yang biasanya bentanglahan terakhir berupa dataran alluvial kepesisiran (coastal alluvial plain). (CERC, 1994 dalam Gunawan, 2005).
V. HASIL
VI. PEMBAHASAN
VII. KESIMPULAN

KOMPONEN PETA

21 October 2014 11:27:57 Dibaca : 852

ACARA I
KOMPONEN PETA
(SKALA, SIMBOL, LEGENDA, KOMPOSISI, DAN LAYOUT)

I. Tujuan
a. Mahasiswa dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam membuat komponen peta (skala, simbol, legenda, komposisi, dan layout peta)
b. Memahami arti dari skala, simbol, legenda, dan mampu membuat layout peta sesuai dengan kaidah kartografis.
II. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Pensil
2. Pensil Warna
3. Mistar
4. Penghapus
5. Kertas Gambar
6. Kertas Grafik
b. Bahan
1. Peta Dasar atau Peta RBI
2. Peta tematik
III. Prosedur Kerja
a. Mengamati kedua peta (peta dasar dan peta tematik) yang tersedia
b. Menganalisis dan membandingkan komponen-komponen peta yang ada pada kedua buah peta
c. Skala:
1. Mengukur jarak antara dua buah objek pada peta dasar / peta tematik
2. Dengan menggunakan skala peta, kita menentukan jarak horizontal sesungguhnya (di permukaan bumi) kedua objek tersebut.
d. Membuat dan mengklasifikasikan simbol
1. Melihat kembali peta dasar dan peta tematik
2. Dengan menggunakan kaidah kartografis, kita mengklasifikasikan simbol berdasarkan:
Bentuk : titik, garis, dan area
Sifat : objektif, abstrak, dan huruf
3. Mendeskripsikan informasi dari masing-masing simbol tersebut berdasarkan legenda di peta
4. Membuat legenda ( sesuai dengan kaidah kartografis) dari simbol-simbol yang telah kita ambil
e. Membuat layout dari salah satu peta yang ada, berdasarkan kaidah kartografis.
IV. Kajian Teori
a. Skala Peta
Peta merupakan kenampakan permukaan bumi yang digambarkan pada bidang datar yang jauh lebih kecil dari kenyataannya. Perbandingan antara ukuran / besarnya kenampakan yang digambar dalam peta dengan kenampakan aslinya disebut skala peta. Skala peta adalah perbandingan antara jarak yang memisahkan kedua titik di peta dengan jarak sebenarnya antara dua titik yang sama di permukaan bumi. Atau skala adalah perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi, dengan satuan ukuran yang sama. Skala ini sangat erat kaitannya dengan data yang disajikan.
Dengan singkatnya dapat dinyatakan:
Angka perbandingan yang dinyatakan harus menggunakan satuan ukuran yang sama, misalnya cm, yard, inci, dan sebagainya. Jarak yang dimaksud di peta adalah jarak horizontal yaitu jarak yang diproyeksikan dari hasil pengukuran di lapangan.
Bila ingin menyajika data yang rinci, maka digunakan skala besar, misalnya 1 : 5000. Sebaliknya, apabila ingin ditunjukkan hubungan kenampakan secara keseluruhan, digunakan skala kecil, misalnya skala 1 : 1.000.000.
Contoh:
Skala 1 : 500.000 artinya 1 bagian di peta sma dengan 500.000 jarak yang sebenarnya, apabila dipakai satuan cm maka artinya 1 cm jarak di peta sama dengan 500.000 cm (5 km) jarak sebenarnya di permukaan bumi. Skala peta akan dibahas lebih rinci pada modul berikutnya nanti.
b. Simbol Peta
Pada peta, kita akan melihat simbol-simbol, gunanya agar informasi yang disampaikan tidak membingungkan. Simbol-simbol dalam peta harus memenuhi syarat, sehingga dapat menginformasikan hal-hal yang digambarkan dengan tepat.
Syarat-syarat peta adalah sebagai berikut:
1. Sederhana
2. Mudah Dimengerti
3. Bersifat Umum
Macam-macam simbol peta:
1. Macam-macam simbol peta berdasarkan bentuknya. Bentuk-bentuk simbol yang digunakan pada peta berbeda-beda tergantung dari jenis petanya.
a) Simbol titik, digunakan untuk menyajikan tempat atau data posisional, seperti simbol kota, pertambangan, titik trianggulasi (titik tertinggi) tempat dari permukaan laut dan sebagainya.
b) Simbol garis, digunakan untuk menyajikan data geografis misalnya sungai, batas wilayah, jalan, dan sebagainya.
c) Simbol luasa (area), digunakan untuk menyajikan kenampakan area misalnya rawa, hutan, padang pasir, dan sebagainya.
d) Simbol aliran, digunakan untuk menyatakan alur dan gerak.
e) Simbol batang, digunakan untuk menyatakan harga / dibandingkan harga lainnya / nilai lainnya.
f) Simbol lingkaran, digunakan untuk menyatakan kuantitas (jumlah) dalam bentuk persentase.
g) Simbol bola, digunakan untuk menyatakan isi (volume), makin besar simbol bola menunjukkan isi (volume) makin besar dan sebaliknya makin kecil bola berarti isi (volume) makin kecil.
2. Macam-macam simbol peta berdasarkan sifatnya. Simbol-simbol yang kita lihat pada peta, ada yang menyatakan jumlah dan ada yang hanya membedakan. Berdasarkan sifatnya, simbol dibedakan menjadi dua macam yaitu:
a) Simbol yang bersifat kualitatif
Simbol ini digunakan untuk membedakan persebaran benda yang digambarkan. Misalnya untuk menggambarkan daerah penyebaran hutan, jenis tanah, penduduk, dan lainnya.
b) Simbol yang bersifat kuantitatif
Simbol ini digunakan untuk membedakan atau menyatakan jumlah.
3. Macam-macam simbol berdasarkan fungsinya
Penggunaan simbol pada peta tergantung pada fungsinya. Untuk menggambarkan bentuk-bentuk muka bumi di daratan, di perairan, atau bentuk-bentuk budaya manusia. Berdasarkan fungsinya simbol peta dibedakan menjadi:
a) Simbol daratan digunakan untuk simbol-simbol permukaan bumi di daratan. Contoh: gunung, pegunungan, gunung api.
b) Simbol perairan digunakan untuk simbol-simbol bentuk perairan.
c) Simbol budaya digunakan untuk simbol-simbol bentuk hasil buadaya.
Nama Objek / Atribut Simbol
Pictorial Abstrak Huruf
Gedung Sekolah
S
Tegalan
TL

Bandar Udara
BU
Kantor Telepon
T
Table. 4.1
c. Legenda atau Keterangan
Legenda pada peta menerangkan arti dari simbol-simbol yang terdapat pada peta. Legenda itu harus dipahami oleh pembaca peta, agar tujuan pembuatan peta itu mencapai sasaran. Legenda biasanya diletakkan di pojok kiri bawah peta. Selain itu legenda peta dapat juga diletakkan pada bagian lain peta, sepanjang tidak mengganggu kenampakan peta secara keseluruhan.
d. Komposisi
Penentuan tata letak peta atau kombinasi peta harus mempertimbangkan cara-cara yang dapat menyentuh perasaan tertarik (sensible) dan juga unsur keindahan perlu dipertimbangkan. Tata letak yang betul akan menjadi penampilan peta secara keseluruhan menjadi lebih menarik.
Salah satu factor utama yang diperhatikan adalah adanya keseimbangan (balance) dalam tata letak informasi tepi. Ukuran hurus (text), tipe hurus (style), mempunyai peranan pula dalam komposisi tata letak informasi tepi ini oleh karena itu besar kecilnya huruf sangat rperlu dipertimbangkan secara tepat pula.
Dapat dikatakan bahwa suatu peta harus kaya dengan informasi yang dapat dievaluasi tanpa kesulitan dan dengan mudah dan cepat digunakan untuk mencapai tujuan pengguna peta. Tata letak peta dan desain peta yang dirancang baik, menambah kejelasan bagi uraian tertulis yang menyertainya.
e. Lay Out Peta
Semua informasi yang diletakkan pada peta harus diatur secara tepat diatas lembar peta sehingga dapat menjamin optimal dalam mudahnya dibaca dan kelihatan ekonomis. Lay Out peta berarti menyusun penempatan-penempatan dari pada peta judul, legenda, skala, sumber data, penerbit, no sheet, macam-macam proyeksi dan lain-lainnya.

Keterangan:
1. Judul peta
2. Petunjuk letak peta dan diagram lokasi
3. Informasi sistem referensi
4. Informasi pembuatan dan penerbit peta
5. Informasi nama dan nomor lembar peta
6. Legenda
7. Keterangan riwayat peta
8. Petunjuk pembacaan koordinat geografi
9. Petunjuk pembacaan koordinat utm
10. Pembagian daerah administrasi
11. Skala grafis
12. Singkatan dan kesamaan arti di peta
13. Diagram arah utara
14. Nomor lembar peta kiri bawah

Hal hal yang harus diperhatikan dalam lay out peta adalah
1. Penulisan Judul
Judul biasa ditulis disebelah kiri atau disebelah kanan atas tergantung komposisi dari peta. Ukuran huruf antara tema, daerah penelitian dan skala tidak sama. Ukuran huruf disesuaikan dengan ukuran besarnya peta. Untuk peta yang terbesar ukuran huruf maximum 1 cm. Di dalam judul ini termasuk skala, baik skala numeric (mis; 1 : 5.000) maupun skala grafis. Tulisan skala lebih kecil dari tema dan daerah penelitian.
2. Orientasi
Biasanya diletakkan di tempat yang kosong dan dibuat tegak lurus keatas tepat di bawah judul. Sebenarnya posisi dari orientasi ini tidaklah harus di bawah judul, tetapi tergantung dari posisi peta maupun ruang yang memungkinkan, sehingga memberi kesan menarikdan harmonis. Bila telah ada grid-gridnya maka panah utara itu tidak perlu.
3. Legenda
Legenda ini merupakan kunci dari pada peta. Jadi harus mengandung keterangan mengenai setiap simbol-simbol yang dipergunakan, baik simbol titik, garis, wilayah maupun simbol-simbol lain. Disamping itu arti singkatan yang dipakai didalam peta harus dicantumkan pula. Legenda diletakkan di dalam garis tepi dari peta dibagian pojok karena bagian bawah. Legenda simbol-simbol ditilis menurut kolom, dan legenda simbol wilayah dibuat dalam bentuk empat persegi panjang yang dibatasi oleh garis-garis. Simbol wilayah ditetapkan dalam ukuran yang teratas baru kemudian simbol-simbol lain termasuk simbol konvensional.

4. Letak Lintang dan Bujur
Letak lintang dan bujur ditulis di dalam garis tepi, antara garis tepi luas dengan garis tepi dalam. Penulisan letak lintang dan bujur dilakukan dengan tulisan tangan dan cukup kecil saja sesuai dengan ruangannya. Tanda-tanda koordinat lintang dan bujur ditambahkan dengan garis-garis pendek memotong peta inset. Peta inset diletakkan di bagian kanan bawah di sebelah kanan legenda. Di dalam peta inset pun terdapat informasi tepi terutama mengenai skala, nama daerah, letak lintang bujur, dan garis tepi.
5. Pencatatan Sumber
Catatan mengenai sumber data / informasi dibuat di dalam lingkungan kerangka bingkai dengan menyebutkan nama sumber dan diletakkan dibagian kiri bawah.
6. Garis Tepi / Kerangka Peta
Peta harus dibuat dengan kerangka yang tegas, garisnya jangan terlalu tipis, berbentuk empat persegi panjang yang terdiri dari dua garis sejajar lebarnya kurang lebih 7 inchi.
7. Penyusun / Penggambar Peta
Untuk menunjukkan siapa-siapa yang bertanggung jawab dalam pembuatan peta ditulis nama penyusun / penggambar peta berikut tahun penggambarannya. Penyusunan / penggambar peta ditulis disebelah bawah luar bingkai peta.

V. Hasil dan Pembahasan
5.1 Hasil
1. Perbandingan Komponen Peta
No Peta RBI Peta Tematik
1 Judul Judul
2 Petunjuk letak peta dan diagram lokasi Petunjuk letak peta dan diagram lokasi
3 Informasi sistem referensi Informasi sistem referensi
4 Informasi pembuatan dan penerbit peta Informasi pembuatan dan penerbit peta
5 Informasi nama dan nomor lembar peta Informasi nama dan nomor lembar peta
6 Legenda Legenda
7 Keterangan riwayat peta -
8 Petunjuk pembacaan koordinat geografis Petunjuk pembacaan koordinat geografis
9 Petunjuk pembacaan koordinat UTM Petunjuk pembacaan koordinat UTM
10 Pembagian daerah administrasi -
11 Skala grafis Skala grafis
12 Singkatan dan kesamaan arti di peta Singkatan dan kesamaan arti di peta
13 Diagram arah utara Diagram arah utara
14 Nomor lembar peta kiri bawah Nomor lembar peta kiri bawah
Table. 5.1
2. Menghitung Jarak Sebenarnya
Diketahui : jarak Huidu Tambo – Huidu Balobalonga di peta RBI = 20,5
Skala peta RBI = 1 : 50.00
Ditanya : jarak sebenarnya…. ?
Penyelesaian :

3. Mengklasifikasikan Simbol Berdasarkan Bentuk dan Sifat
a) Simbol Berdasarkan Bentuk
1) Peta RBI
Objek Titik Garis Area
Sawah

Hutan

Sungai

Air Terjun

Pusat Listrik

Tambang

Table. 5.2

2) Peta Tematik
Objek Titik Garis Area
Pemukiman

Batas Provinsi

Sungai dan Anak Sungai

Table. 5.3
c) Simbol Berdasarkan Sifat
1) Peta RBI
Atribut Objektif Abstrak Huruf

Sawah
SW

Hutan
H

Sungai
S

Pusat Listrik
PLN
Table. 5.4

2) Peta Tematik
Atribut Objektif Abstrak Huruf

Pemukiman
P

Batas Provinsi
BP

Sungai dan Anak Sungai
SAS
Table. 5.5

4. Layout Peta

Keterangan:
1. Judul peta
2. Skala
3. Informasi nama dan lembar peta
4. Petunjuk letak peta
5. Informasi sistem referensi
6. Legenda
7. Keterangan riwayat
8. Petunjuk pembacaan koordinat goegrafis
9. Petunjuk pembacaan koordinat UTM
10. Pembagian daerah administrasi
11. Skala grafis
12. Singkatan dan keterangan arti peta
13. Diagram arah utara
14. Nomor lembar peta kiri bawah
5.2 Pembahasan
Pada praktikum acara I kami melakukan pengamatan pada kedua peta yaitu peta RBI dan peta Tematik. Kami mengamati perbedaan komponen yang terdapat di kedua peta. Hasil pengamatan dapat di lihat pada table 5.2.
Langkah yang selanjutnya yaitu kami mengukur jarak objek yaitu daerah Huidu Tambo sampai Huidu Balobalonga. Kedua titik tersebut di ukur dengan menggunakan mistar yang dapat kami ketahui yaitu dengan panjang 20,5 cm dan dengan skala peta 1 : 50.000. setalah diketahui jarak kedua titik tersebut kami komplikasikan dengan skala peta yang digunakan untuk mencari jarak sebenarnya yaitu jarak yang di peta di bagi dengan skala dengan demikian jarak sebenarnya yaitu 10,25 km.

1. Mendeskripsikan Simbol Berdasarkan Bentuk
Berdasarkan bentuk simbol di klasifikasikan ke dalam 3 bagian yakni titik, garis, dan area. Misalnya sawah disimbolkan dengan area karena sawah mencakup beberapa meter luasan.
a) Peta RBI
1) Sawah disimbolkan area dengan bentuk kotak berpetak-petak karena pada bentuk aslinya sawah berbentuk kotak yang luas dan berpetakpetak
2) Hutan disimbolkan dengan area berbentuk kotak dan garis-garis yang menyerupai pohon. Hal itu di sebabkan karena untuk menyesuaikan bentuk aslinya di bumi dan garis-garis yang menyerupai pohon bertanda menunjukkan hutan.
3) Sungai disimbolkan dengan garis yang bercabang menyerupai ranting pohon. Hal ini disebabkan karena sungai mempunyai pola aliran yang berbeda-beda. Pola aliran sungai yang ada di bumi dipengaruhi oleh morfologi tempat sungai mengalir dan struktur geologinya.
4) Air terjun di beri simbol garis yang hamper sama denga sungai hanya saja pada garis sebelum cabang diberi garis melintang.
5) Pusat listrik diberi simbol titik karena pada legenda bentuk simbol ini kecil. Simbol ini berbentuk kotak dan di atasnya terdapat sebuah garis yang bergelombang.
6) Tambang juga diberi simbol titik karena ukurannya yang sama kecil dengan simbol pusat listrik. Simbol ini berbentuk palu yang menyilang.

b) Peta Tematik
1) Pemukiman disimbolkan dengan area yang berbentuk kotak berwarna orange. Kenapa pemukiman disimbolkan dengan area dan berbentuk kotak, karena pemukiman tersebut menyangkut luasan sama halnya dengan sawah hanya saja pada pemukiman terdapat warga-warga dan dengan desa-desa yang berbeda-beda
2) Batas Provinsi disimbolkan dengan titik.
3) Sungai dan Anak Sungai disimbolkan dengan garis yang bercabang-cabang tetapi pada tengah cabang berbentuk garis besar. Hal itu disebabkan pada garis yang tebal menunjukkan bahwa itu induk sungai atau sungai utama sedangkan garis cabang yang bergaris kecil-kecil menunjukkan bahwa itu anak sungai.
2. Mendeskripsikan Simbol Berdasarkan Sifat
a) Peta RBI
1) Sawah disimbolkan objektif yaitu dengan bentuk kotak berwarna hijau karena symbol tersebut sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan.
2) Hutan disimbolkan dengan huruf yaitu H
3) Sungai disimbolkan objektif dengan bentuk bercabang. Hal ini disesuaikan dengan bentuk kanyataan di lapangan bahwa sungai bercabang-cabang karena sungai sungai memiliki pola alur yang berbeda-beda.
4) Pusat Listrik disimbolkan dengan objektif yang berbentuk kotak dan di atasnya terdapat garis yang bergelombang.

b) Peta Tematik
1) Pemukiman disimbolkan abstrak karena tidak sesuai dengan kenyataan yang dilapangan.
2) Batas Provinsi juga disimbolkan abstrak karena tidak sesuai dengan yang dilapangan
3) Sungan dan Anak Sungai disimbolkan objektif karena pada kenyataan dilapangan sungai berbentuk ranting yang bercabang-cabang dan sungai mempunyai induk sungai atau sungai utama dan anak sungai.
3. Membuat Layout Peta Berdasarkan Kaidah Kartografis
Layout peta berarti menyusun penempatan-penempatan dari pada judul, legenda, skala, sumber data, penerbit, no sheet, macampmacam proyeksi dan lain-lainnya. Contoh membuat layout peta yaitu, gambar peta berada ditengah-tengah peta. Judul berada di pojok kanan atas. kemudian dibawahnya skala, disusul informasi nomor dan lembar peta, petunjuk letak peta, dan informasi sistem referensi. Sedangkan legenda berada di bawah informasi sistem referensi, kemudian di bawaj legenda terdapat keterangan riwayat, petunjuk pembacaan koordinat geografis, dan petunjuk pembacaan koordinat UTM. Sedangkan pembagian daerah administrasi, skala grafis, singkatan dan keterangan arti peta, diagram arah utara, dan nomor lembar peta pada kiri bawah terdapat tepat di bawah gambar peta.

VI. Kesimpulan
Dari pembahadan di atas kami dapat menari kesimpulan bahwa:
1. Peta RBI adalah peta yang menggambarkan kenampakan alamiah (natural freatures) dan kenampakan buatan manusia (man Made Freatures). Kanampakan alamiah adalah sungai, bukit, lembah, laut, danau, dan lain-lain. Sedangkan buatan manusia adalah jalan, kampong, permukiman, kantor, pasar, dan lain-lain.
2. Peta RBI bersifaf umum dan informasi-informasi yang disajikan mencakup keseluruhan dan merupakan peta topografi yang memperlihatkan posisi horisontal serta vertikal dari unsur alami dan unsur buatan manusia dalam bentuk tertentu, dengan mamperlihatkan sistem proyeksi peta yang digunakan serta skala peta.
3. Sedangkan peta tematik bersifat khusus, karena hanya menggambarkan informasi untuk tema tertentu yang terdapat di permukaan bumi.
4. Peta RBI antara lain berfungsi sebagai peta referensi atau acuan dan dasar dalam pembuatan peta tematik.
5. Simbol pada peta sangat berfungsi agar para pembaca tidak kebigungan dalam membaca peta.

VII. Daftar Pustaka
Anonim. 2012. ://Gudang Artikel. 2012/24/10. komponen-peta_16.html. Diakses hari Rabu, 24 September 2012.
Anonim://Prinsip-Prinsip Dasar Peta dan Pemetaan. Diakses hari Rabu, 24 September 2012
Sune, Nawir. 2012. Modul Praktikum Kartografi : Prodi Geografi. Jurusan Fisika. Universitas Negeri Gorontalo.

makalah praktikum metklim

23 February 2013 21:55:30 Dibaca : 841

praktikum Metklim

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Dalam kasus yang sering terjadi di atmosfer ada istilah yang sering kita dengar tentang meteor. Sebelum kita ingin mengetahui apa itu meteorologi dan klimatologi, terlebih dahulu kita memahami apa itu meteor. Meteor berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata berdasarkan ilmu cuaca dan astronomis. Ilmu cuaca merupakan suatu fenomena yang terlihat atau fenommena optik yang terjadi di atmosfer. Sedangkan astronomis adalah benda-benda ruang angkasa yang masuk kebumi. Jadi Dalam meteorologi dan klimatologi juga membahas tentang meteor. Setelah kita mengerti tentang meteor itu sendiri, ada beberapa jenis meteor yang sering terjadi di atmosfer kita khususnya pada lapisan troposfer yaitu : hidrometeor, litometeor, fotometeor, dan elektrometeor. Untuk meteorologi dan klimatologi itu terbagi atas 2 kata yaitu meteorologi dan klimatologi. Meteorologi yang artinya lagi terdiri dari dua istilah yaitu meteoros dan logos, meteoros artinya ruang atas dan logos artinya ilmu.

Jadi meteorologi merupakan Ilmu pengetahuan yang membahas pembentukan dan gejala perubahan cuaca serta fisika yang berlangsung di atmosfer, dalam hal ini adalah sebagai ilmu cuaca. Sedangkan Klimatologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari 2 kata yaitu klima dan logos. Klima yang artinya lintang dan logos artinya ilmu. Jadi Klimatologi merupakan Cabang ilmu pengetahuan yang membahas statistik unsur-unsur cuaca hari demi hari dalam periode beberapa tahun di suatu tempat atau wilayah tertentu, yang termasuk di dalamnya yaitu membahas atau mempelajari tentang iklim. Jadi cuaca adalah Keadaan keseluruhan daripada kondisi-kondisi atmosfer seperti temperatur, tekanan udara, angin, kelembaban dan hujan, dalam waktu yang singkat. Sedangkan Iklim merupakan Kumpulan rata-rata dari kondisi-kondisi fisik (temperatur, tekanan udara, angin, kelembaban dan hujan) di atmosfer dalam waktu yang lama dan tempat yang lebih luas, yang mencakup keseluruhan wilayah.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang di maksud dengan awan ?

2. Sebutkan beberapa sumber radiasi matahari ?

3. Jelaskan beberapa pengaruh lamanya penyinaran matahari terhadap bumi ?

4. Apa yang di maksud dengan suhu ?

5. Apa yang di maksud dengan kelembaban udara ?

6. Apa yang di maksud dengan curah hujan ?

7. Sebutkan alat-alat praktikum ?

1.3. Tujuan Pelaksana

Tujuan dari pelaksana praktikum ini, adalah untuk mengetahui dan cara :

1. Untuk Mengetahui apa sebenarnya awan tersebut

2. Dapat mengetahui radiasi matahari maksimum dan minimum

3. Dapat mengetahui cara pengukuran lamanya penyinaran matahari

4. Mengetahui apa pengertian suhu, dan kelembaban udara

5. Mengethui pengertian curah hujan

6. Untuk mengetahui cara menggunakan alat – alat praktikum

1.4. Manfaat

1. Agar mahasiswa mampu membaca jenis awan apa yang nampak di l;angit,

2. Agar mahasiswa mengethui cara pengukuran radiasi matahari

3. Agar mahasiswa mampu mengukur lamanya penyinaran matahari

4. Mahasiswa mengerti tentang pengukuran suhu udara, kelembaban udara,pengukuran curah hujan.

5. Agar mahasiswa mampu menggunakan alat-alat praktikm seperti GPS, actinograph, combell stokes, thermometer maximum-minimum, thermometer bola basah-bola kering, thermometer,psikometer asman, thermohygrograph, penakar curah hujan.

6. Mahasiswa dapat mngerti tentang iklim dan cuaca

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam ilmu meteorologi dan klimatologi kita mempelajari terlebih dahulu apa yang di maksud dari kata meteor. Meteor terdiri dari dua ilmu yaitu berdasarkan ilmu cuaca dan ilmu astronomi. Ilmu cuaca merupakan suatu fenomena yang terlihat atau fenomena optik di atmosfer. Sedangkan ilmu astronomi merupakan benda-benda ruang angkasa yang masuk ke atmosfer bumi. Dalam ilmu cuaca meteor yang di maksud di sini adalah hidrometeor, litometeor, fotometeor, dan elektrometeor.

Ø Hidrometeor merupakan suatu meteor yang terdiri dari partikel-partikel cair atau patikel-partikel padat yang jatuh melayang di dalam atmosfer dan tertiup angin dari permukaan bumi ke udara dan bisa mengendap pada benda-benda di tanah.

Ø Litometeor merupakan suatu partikel-partikel padat yang melayang di udara yang terangkat oleh angin dari permukaan tanah ke udara

Ø Fotometeor merupakan suatu fenomena bercahaya yang di akibatkan adanya pemantulan, atau pembiasan cahaya matahari

Ø Elektrometeor merupakan suatu fenomena yang dapat di dengar atau di lihat yang bermuatan listrik di atmosfer

Jadi meteorologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang pembentukan atau gejala cuaca di suatu wilayah, sedangkan klimatologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang keadaan iklim di suatu tempat.

Adapun beberapa hal yang sering kita jumpai dalam ilmu meteorologi dan klimatologi antara lain :

A. Awan

Awan merupakan sekumpulan titik-titik air atau es yang melayang-layang di udara, yang terbentuk dari hasil proses kondensasi. Kondensasi terjadi karena adanya proses panas atau penggabungan molekul-molekul air dalam jumlah cukup banyak sehingga membentuk butiran yang lebih besar. Terdapat berjuta-juta butiran awan di atmosfer dengan ukuran yang berbeda-beda. Masing-masing mempunyai gerakan yang arah dan kecepatannya tidak sama, sehingga antara butir yang satu dengan yang lain saling bertumbukan. Satu butir hasil kondensasi yang berukuran kecil ( 0,01 mm ) mempunyai kecepatan jatuh 1 cm per detik. Besarnya butiran awan dapat tumbuh menjadi 200 mikron atau lebih dan dapat jatuh sebagai hujan. Awan juga merupakan awal proses terjadinya hujan, sehingga banyak di gunakan sebagai indikator keadaan cuaca. Namun demikian, tidak semua jenis awan dapat menghasilkan hujan, oleh karena itu pengenalan jenis, bentuk dan sifat-sifat awan sangat di perlukan. Berikut ini di jelaskan klasifikasi awan berdasarkan morfologi, ketinggian, dan metode pembentukan.

Berdasarkan morfologi, awan di bedakan menjadi 3 jenis, yaitu :

Ø Awan cumulus yaitu berbentuk bergumpal-gumpal ( bundar-bundar ) dengan dasar horizontal.

Ø Awan stratus yaitu awan yang berjenis tipis dan tersebar luas sehingga dapat menutupi langit secara merata.

Ø Awan cirus yaitu awan yang berdiri sendiri yang halus dan berserat, berbentuk seperti bulu burung.

B. Radiasi Matahari

Penyinaran matahari mempunyai peranan penting dalam bidang meteorologi. Dalam hal ini alat yang sering di gunakan oleh pengamat cuaca untuk mengukur intensitas radiasi matahari total adalah actinograph. Actinograph termasuk alat pengukur intensitas radiasi matahari yang di pancarkan. Pada alat actinograph menggunakan alat dua buah logam bimetal sebagai sensor. Logam ini akan bertambah panjang seiring dengan meningkatnya intensitas radiasi matahari. Radiasi matahari adalah energi yang di keluarkan, di pancarkan atau di terima berupa gelombang atau partikel-partikel elektromagnetik.

Berdasarkan asal sumbernya radiasi dapat di bedakan kedalam 3 klasifikasi yaitu:

· Radiasi solar langsung yaitu radiasi yang di keluarkan oleh matahari

· Radiasi Terrestrial adalah radiasi yang di keluarkan oleh pelanet bumi termasuk atmosfernya

· Radiasi total yaitu jumlah radiasi solar dan terrestrial

C. Lamanya Penyinaran Matahari

Energi matahari ialah penyebab utama semua kegiatan perubahan maupun pergerakan di atmosfer. Oleh karena itu energi matahari ialah sumber energi terbesar di permukaan bumi, yaitu sekitar 99,9% dari energy total dan hanya sebagian kecil di hasilkan oleh panas dari tanah, letusan gunung berapi dan proses penghancuran mineral-mineral radioaktif serta hasil pembakaran bahan organik. Di mana penyebaran energi radiasi matahari di permukaan bumi merupakan faktor pengendali cuaca dan iklim yang terpenting. Radiasi matahari yang sampai kepermukaan bumi mempunyai beberapa pengaruh, antara lain :

1. Pada tanaman hijau, berperan sebagai proses fotosintesa sehingga mempengaruhi kecepatan pertumbuhan tanaman.

2. Mempengaruhi kecepatan transpirasi tanaman

3. Pada keadaan kritis pertumbuhan tanaman, tingkat energi radiasi yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya pembakaran.

4. Mempengaruhi perubahan unsur cuaca lain seperti : suhu, kelembaban, angin.

D. Suhu

Panas dapat di nyatakan sebagai energi yang di transfer dari bendda satu ke benda yang lain dengan proses termal seperti radiasi konduksi atau konveksi. Energi ini akan pindah dari tempat dari benda yang panas ke benda yang lebih dingin dan jika sumber dari luar maupun dalam di anggap tidak ada sampai ke dua benda tersebut mempunyai suhu sama dalam arti sudah tidak terjadi penukaran suhu panas lagi. Suhu merupakan ukuran relatif dari kondisi termal yang di miliki oleh suatu benda jika panas yang di alirkan pada suatu benda maka suhu benda terus akan meningkat, sebaliknya suhu benda tersebut akan turun jika benda yang bersangkutan kehilangan panas. Fluktuasi suhu harian terjadi sebagai akibat adanya perbedaan antara radiasi yang di terima dengan radiasi yang di lepaskan oleh bumi. Pada saat pengukuran suhu ada menggunakan alat yang sering di kenal dengan nama thermometer. Thermometer merupakan pengukur suhu udara sesaat, zat cair yang di gunakan adalah air raksa. Ada beberapa macam thermometer yang di gunakan pada pengukuran suhu udara antara lain : thermometer bola basah, thermometer bola kering, thermometer maksimum, dan thermometer minimum.

E. Kelembapan Udara

Kelembapan udara dapat di nyatakan dengan adanya banyak uap air dalam udara. Jumlah uap air dalam sebetulnya hanya merupakan sebagian kecil saja dari seluruh atmosfer yaitu hanya kira-kira 2 % dari jumlah massa. Keterkaitan kelembapan udara dengan suhu udara berhubungan dengan proses kembang kerut udara. Kelembapan udara adalah banyaknya uap air yang di kandung oleh udara atau atmosfer (Marbun, 1990). Kelembapan udara juga mempengaruhi dalam keseimbangan energi, yang mana kelembapan merupakan ukuran dari banyaknya energi radiasi yang terbentuk bahang laten, yang berfungsi untuk menguapkan air yang terdapat di permukaan penerima radiasi (evapotranspirasi).

Kelembapan udara ini dapat di bedakan menjadi kelembapan relatif. Kelembapan relatif merupakan bilangan yang menunjukkan perbandingan antara banyaknya uap air yang di kandung oleh udara dengan jumlah maksimum, uap air yang dapat di kandung oleh udara dengan jumlah maksimum uap air yang dapat di kandung oleh udara dalam suhu yang sama.

F. Curah hujan

Curah hujan ialah jumlah air yang jatuh pada permukaan tanah selama periode tertentu bila tidak terjadi penghilangan oleh ;proses evaporasi, pengaliran, peresapan yang di ukur dalam satuan tinggi. Adapun unsur-unsur hujan yang harus di perhatikan dalam mempelajari curah hujan ialah : jumlah curah hujan, hari hujan, dan intensitas atau kekuatan tetesan angin. Air yang jatuh di atas permukaan tanah yang datar di anggap sama tinggi. Volume air hujan pada luas permukaan tertentu dengan dengan mudah dapat di hitung bila tingginya dapat di ketahui. WMO menganjurkan penggunaan satuan milimeter sampai ketelitian 0,2 mm. Berdasarkan pengertian klimatologi, satu hari hujan ialah periode selamaa 24 jam terkumpul curah hujan setinggi 0,5mm atau lebih jenis pengukuran ini merupakan yang pada umumnya di gunakan ialah tipe omborometer ( tipe observatorium ).

BAB III

METODELOGI

3.1. Aalat dan Bahan

1. Acara I : Awan

Ø Alat dan Bahan

1. Alat Tulis Menulis

2. Mistar

3. Kamera

2. Acara II : Radiasi Matahari

Ø Alat dan Bahan

1. Actinograph ( alat pengukur radiasi matahari )

2. Alat tulis menulis

3. Mistar

4. Kalkulator

3. Acara III : Lama Penyinaran Matahari

Ø Alat dan Bahan

1. Alat tulis menulis

2. Combell Stokes

3. GPS

4. Acara IV : Suhu

Ø Alat dan Bahan

1. Alat tulis menulis

2. Thermometer maksimum - minimum

3. Thermometer bola basah – bola kering

4. Thermometer

5. Acara V : Kelembapan Udara

Ø Alat dan Bahan

1. Alat tulis menulis

2. Psikometer Asman

3. Thermometer bola kering – bola basah

4. Thermohygrograph

6. Acara VI : Curah Hujan

Ø Alat dan Bahan

1. Alat tulis menulis

2. Penakar Curah Hujan Biasa ( OBS )

3. Gelas ukur

3.2. Prosedur Kerja

1. Acara I : Awan

Ø Prosedur Kerja

1. Pahamilah terlebih dahulu jenis – jenis awan berdasarkan bentuk dan ketinggiannya

2. Bagilah luas langit menjadi empat kuadran

3. Amatilah awan yang terjadi pada pukul 07.00, 12.00 dan pukul 16.00 wita

4. Ambilah gambar ( potret ) awan yang anda amati

5. Deskripsikan awan yang anda amati

6. Tentukanlah nilai oktanya

2. Acara II : Radiasi Matahari

Ø Prosedur Kerja

1. Setinglah alat pengukur radiasi matahari ( actinograph )

2. Pasanglah kertas pias dan letakkan pena penggarisnya dan sesuaikan dengan waktu setempat

3. Letakan pena penggaris pada kertas pias dengan menyerong plat yang ada di samping / bawah alat tersebut

4. Amatilah cara kerja alat pengukur radiasi matahari ( actinograph )

5. Hitunglah jumlah kotak yang yang di lalui pena penggaris tersebut pada kertas pias

6. Jumlahkan nilai kotak dari banyaknya kotak yang di lalui pena penggaris

7. Tentukanlah nilai radiasi maksimum dan radiasi minimumnya

3. Acara III : Lama Penyinaran Matahari

Ø Prosedur Kerja

1. Setinglah terlebih dahulu alat pengukur lamanya penyinaran matahari (combell stokes)

2. Tentukanlah letak lintang setempat, kemudian sesuaikan pada alat pengukur lamanya penyinaran matahari (cambell stokes)

3. Masukkanlah salah satu jenis kertas pias sesuai dengan bulan pengamatan

4. Tentukanlah jejak-jejak bakar pada kertas pias, dengan melihat lembar bantuan pengamatan

5. Hitunglah lamanya penyinaran matahari dengan menggunakan rumus

4. Acara IV : Suhu

Ø Prosedur Kerja

1. Setinglah terlebih dahulu alat pengukur suhu udara ( Thermometer maksimum-minimmum, Thermometer bola basah-bola kering dan thermohygrograph sebelum melakukan pengukuran

2. Letakanlah alat pengukur suhu pada suatu ruang yang berfentilasi, agar udara dapat keluar masuk. Janganlah meletakkan alat pada lapangan terbuka karena penyinaran matahari secara langsung, tetesan air hujan, dan tiupan angin yang kuat, dapat mempengaruhi kerja alat.

3. Lakukanlah pengamatan pada :

· Thermometer pada pukul 06.00, 12.00 dan 16.00 wita

· Thermometer minimum pada pukul 00.00 wita atau 07.00 wita

· Thermometer maksimum pada pukul 12.00 wita atau 19.0p0 wita

· Thermometer bola kering pada pukul 06.00, 12.00, dan 16.00

4. Hitunglah rata – rata suhu udara pada thermometer, maksimum-minimum, thermometer bola kering, dan thermometer

5. Hitunglah suhu rata – rata hariannya

5. Acara V : Kelembapan Udara

Ø Prosedur Kerja

1. Seperti acara di atas, hal yang pertama di lakukan yaitu setinglah terlebih dahulu alat- alat yang di gunakan dalam pengukuran kelembapan udara

2. Letakkanlah alat pengukur kelembapan udara pada ruang yang berfentilasi, atau yang biasa di sebut sangkar meteorologi atau sejenisnya

3. Lakukanlah pengamatan pada alat :

· Thermometer bola basah dan bola kering pada pukul 06.00, 12.00, dan 16.00 wita

· Psikkometer Asmann

· Thermohygrograph

4. Tentukanlah kelembapan maksimum dan minimum pada kertas pias hasil perekaman thermohygrograph

5. Hitunglah suhu rata-rata thermometer bola kering dan bola basah

6. Hitunglah selisih antara thermometer bola kering dan bola basah

7. Hitunglah nilai kelembapan dalam (%) pada thermometer bola kering dan basah dengan melihat tabel selisih

6. Acara VI : Curah hujan

Ø Prosedur Kerja

1. Setinglah terlebih dahulu alat pengukur curah hujan jenis OBS

2. Pasanglah alat pengukur curah hujan pada lapangan terbuka tanpa ada pohon yang menghalangi

3. Lakukanlah pengamatan setiap hari pada pukul 07.00 wita

4. Keluarkan air hujan yang ada pada penakar curah hujan, dengan membuka keran yang ada di bawah

5. Ukurlah air hujan dengan menggunakan gelas ukur

6. Hitunglah curah hujan pada luasan tertentu.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

a. Actinograph b. Barograph

Gambar 1.1 Actinograph

Gambar 1.2 Barograph

Gambar 1.1 actinograph

c. Penakar curaj hujan biasanya d. Psikometer asmann

Gambar 1.3 Penakar Curah hujan biasa

Gambar 1.4 Psikometer asmann

e. Thermohygrograph f. Thermometer bola basah-bola kering

Gambar 1.5 Thermohygrograph

Gambar 1.6 Thermometer bola basah – bola kering

g. Gelas ukur h. Pan evaporimeter

Gambar 1.8 Pan evaporimeter

Gambar 1.7 Gelas ukur

i. Combell stokes j. Thermohygrograph

Gambar 2.0 Thermohygrograph

Gambar 1.9 Combell stokes

aphk. Thermometer

Gambar 2.1 Thermometer

4.1.1. Acara I : Awan

4.1.2. Acara II : Radiasi Matahari

Actinograph

4.1.3. Acara III : Lama Penyinaran Matahari

Combell stokes

4.1.4. Acara IV : Suhu

Thermohygrograph

4.1.5. Acara V : Kelembaban Udara

Psikometer asmann

4.1.6. Acara VI : Curah Hujan

Penakar curah hujan biasa

4.2. Pembahasan

4.2.1. Acara I : Awan

Pada hari pertama, hari sabtu :

Pengamatan pertama :

Tanggal : 2 juli 2011

Pukul : 07.00

Gambar :

· Arah timur laut

Jenis awan : Awan Altocumulus

Ketinggian : 4,5 – 6 km

Penutupan awan : 75 %

· Arah tenggara

Jenis awan : Awan cirrocumulus

Ketinggian : 7,5 – 9 km

Penutupan awan : 85 %

· Arah barat laut

Jenis awan : Awan Cirrostratus

Ketinggian : 6 – 7 km

Penutupan awan : 90 %

· Arah barat daya

Jenis awan : Awan cirrocumulus

Ketinggian : 7,5 – 9 km

Penutupan awan : 95 %

Hitungan :

· Jadi keadaan awannya 7/8 dari total langit tertutup

· Untuk oktanya : 7

§ Pengamatan kedua :

· Tanggal : 2 juli 2011

· Pukul : 12.00

· Gambar :

· Arah timur laut

Jenis awan : Awan stratocumulus

Ketinggian : di bawah 2000 m

Penutupan awan : 4

· Arah tenggara

Jenis awan : Awan Cumulo Nimbus

Ketinggian : 500 – 1500 m

Penutupan awan : 20 %

· Arah Barat laut

Jenis Awan : Awan Altocumulus

Ketinggian : 4,5 – 6 km

Penutupan awan : 80 %

· Arah barat daya

Jenis awan : Awan cirrostratus

Ketinggian : 6 – 7 km

Penutupan awan : 100 %

Hitungan :

Jadi keadaan awannya 5/8 dari total langit tertutup

Untuk oktanya : 5

Pengamatan ketiga :

Tanggal : 2 juli 2011

Pukul : 16.00

Gambar :

· Arah timur laut

Jenis awan : Awan stratocumulus

Ketinggian : di bawah 2000 m

Penutupan awan :40 %

· Arah tenggara

Jenis awan : Awan cirrus

Ketinggian : di atas 9 km

Penutupan awan : 75 %

· Arah barat laut

alat-alat metklim(meteorologi dan klimatologi)

23 February 2013 21:51:55 Dibaca : 1670

Artikel Seputar Informasi Iklim dan Lainnya

Alat-alat Klimatologi Konvensional

 

1. ALAT PENGUKUR TEKANAN UDARA

Tekanan udara adalah gaya berat/ gaya tekan udara pada suatu luasan tertentu. Persamaan fisis untuk mengetahui tekanan udara adalah :

Perhitungan dilakukan dengan metode pipa U, dimana tekanan pada pipa A akan sama dengan tekanan di pipa B, sehingga bila kolom udara pada salah satu kolom difakumkan dan massa fluida (m) serta konstanta grafitasi (g) diketahui maka tekanan pada pipa terbuka (identik dengan tekanan udara lingkungan) akan diketahui.

(A) (B) (C)
Prinsip Bejana Pipa U Prinsip Barometer Air Raksa Bentuk Fisik Barometer Air Raksa

1.1. BAROMETER AIR RAKSA

Membandingkan perbedaan tinggi air raksa dalam tabung gelas dan di dalam bejana. Barometer air raksa berfungsi untuk mengukur tekanan udara. Terdiri dari tabung gelas berisi air raksa, bagian atasnya tertutup dan bagian bawahnya terbuka dimasukkan ke dalam bejana air raksa.

Syarat penempatan :

a. Ditempatkan pada ruangan yang mempunyai suhu tetap (Homogen)

b. Tidak boleh kena sinar matahari langsung

c. Tidak boleh kena angin langsung

d. Tidak boleh dekat lalu-lintas orang

e. Tidak boleh dekat meja kerja

f. Penerangan jangan terlalu besar, maximum 25 watts

Cara pemasangan :

a. Dipasang tegak lurus pada dinding yang kuat

b. Tinggi bejana + 1 m dari lantai

c. Sebaiknya dipasang di lemari kaca

d. Latar belakang yang putih untuk memudahkan pembacaan

Cara membaca :

a. Baca suhu yang menempel pada Barometer

b. Naikkan air raksa dalam bejana, sehingga menyinggung jarum taji

c. Skala Nonius (Vernier) sehingga menyinggung permukaan air raksa

d. Baca skala Barometer dan skala Nonius

e. Gunakan koreksi yang telah disediakan

Cara membawa (Transport) :

a. Barometer dibalik pelan-pelan sehingga bejana berada di atas.

b. Masukkan dalam kotak transport, dengan bejana tetap diatas

c. Membawanya bejana harus tetap berada diatas

Koreksi-koreksi :

Koreksi IndexKoreksi LintangKoreksi Tinggi : Untuk membandingkan tempat-tempat tertentu diperlukan tekanan udara diatas permukaan laut.Koreksi Suhu : Jika pembacaan lebih tinggi dari 0 0C, maka pembacaan Barometer dikurangi dengan koreksi suhu ini, jika lebih rendah dari 0 0C koreksi ditambah.

1.2. BAROMETER ANEROID

Barometer ini menggunakan prinsip perubahan bentuk tabung/ kapsul logam akibat adanya perubahan tekanan udara. Sedikitnya ada 2 jenis barometer aneroid, yaitu:

1. Jenis Bourdon : Terdiri dari sebuah pipa besi/ baja yang melengkung, berbentuk oval. Gaya pegas pipa ini sama dengan tekanan udara. Perubahan tekanan udara menyebabkan perubahan bentuk ke-oval-an dari pipa, sehingga jarum penunjuk akan bergerak. Pergerakan jarum tersebut kemudian dikonversi dalam skala tekanan udara.

2. Jenis Vidi : Bagian terpenting ialah kapsul/ cell dari besi/baja, isinya dikosongkan/ hampa udara, permukaan atas dan bawah bergelombang. Kapsul/ cell ini biasanya terdiri dari 7 atau 8 lapisan. Jika tekanan udara naik, maka kapsul/ cell ini tertekan dan menarik sebagian dari tuas (lever) ke bawah, bagian lainnya akan naik menggerakkan jarum penunjuk. Jika tekanan turun, akan terjadi sebaliknya. Pergerakan kapsul/ cell aneroid ini kemudian dihubungkan denga pena/ jarum yang akan menunjukan pergeseran/ simpangan. Besarnya simpangan yang terjadi selanjutnya dikonversi ke dalam skala tekanan udara (mb).

2.3. BAROGRAPH

Barograph adalah istilah lain untuk barometer yang dapat merekam sendiri hasil pengukurannya. Barograph umumnya menggunakan prinsip Barometer Aneroid, dengan menghubungkan beberapa kapsul/ cell aneroid dengan sebuah pena untuk membuat track pada kerta pias yang diletakkan pada tabung yang berputar 24 jam per rotasi. Pada pias terdapat garis-garis tegak menunjukkan waktu dan garis mendatar menunjukkan tekanan udara.Tingkat keakuratan dari barograph, salah satunya ditentukan oleh jumlah kapsul/ cell aneroid yang digunakan. Semakin banyak kapsul aneroid yang digunakan maka semakin peka barograph tersebut terhadap perubahan tekanan udara.

Contoh Fisik Barograph Tipe Aneroid Bagian Dasar Barograph

2.4. ALTIMETER

Altimeter adalah alat untuk mengetahui ketinggian suatu tempat terhadap MSL (mean sea level= 1013,25 mb = 0 mdpl). Altimeter sebenarnya adalah barometer aneroid yang skala penunjukkannya telah dikonversi terhadap ketinggian. Sebagaimana kita ketahui bahwa 1 mb sebanding dengan 30 feet (9 meter) atau dapat dicari dengan pendekatan rumus:

H = 221.15 Tm log (Po / P)

2.5. KALIBRATOR BAROMETER/ BAROGRAPH

Alat yang sering digunakan untuk mengkalibrasikan sebuah barometer/ barograph adalah Vacuum Chamber. Alat ini sebenarnya adalah sebuah tabung tertutup dengan tingkat hampa udara yang dapat diatur (udara didalam tabung dikeluarkan secara perlahan dengan pompa penghisap udara). Barometer standar dan barometer/ barograph yang dikalibrasi harus diletakan dalam tabung secara bersamaan, kemudian dibandingkan penunjukannya untuk mendapatkan nilai koreksi (seiring dengan pengaturan tekanan udara).

3. ALAT PENGUKUR SUHU UDARA

Suhu (temperatur) adalah suatu besaran panas yang dirasakan oleh manusia. Satuan suhu yang biasa digunakan di Indonesia adalah derajat celcius (0C). Mengingat pentingnya faktor suhu terhadap kehidupan dan aktifitas manusia menyebabkan pengamatan suhu udara yang dilakukan oleh stasiun meteorologi dan klimatologi memiliki beberapa kriteria diantaranya:

Suhu udara permukaan (suhu udara aktual, rata-rata, maksimum dan minimum).Suhu udara di beberapa ketinggian/ lapisan atmosfer (hingga ketinggian ± 35 Km).Suhu tanah di beberapa kedalaman tanah (hingga kedalaman 1 m).Suhu permukaan air dan suhu permukaan laut.

Alat ukur yang umum digunakan oleh BMG untuk mengamati suhu udara akan dijelaskan lebih rinci pada pokok bahasan selanjutnya.

3.1. THERMOMETER BOLA BASAH DAN BOLA KERING

Merupakan thermometer air raksa dalam bejana kaca untuk mengukur suhu udara aktual yang terjadi (thermometer bola kering). Adapun thermometer bola basah adalah thermometer yang pada bola air raksa (sensor) dibungkus dengan kain basah agar suhu yang terukur adalah suhu saturasi/ titik jenuh, yaitu suhu yang diperlukan agar uap air di udara dapat berkondensasi.

3.2. THERMOMETER MAXIMUM

Thermometer air raksa ini memiliki pipa kapiler kecil (pembuluh) didekat tempat/ tabung air raksanya, sehingga air raksa hanya bisa naik bila suhu udara meningkat, tapi tidak dapat turun kembali pada saat suhu udara mendingin. Untuk mengembalikan air raksa ketempat semula, thermometer ini harus dihentakan berkali-kali atau diarahkan dengan menggunakan magnet.

Dari gambar disamping dapat diilustrasikan bahwa apabila temperatur naik dan kolom air raksa tidak terputus, maka air raksa terdesak melalui bagian yang sempit. Ujung kolom menunjukkan temperatur udara. Apabila suhu turun, kolom air raksa terputus pada bagian yang sempit setelah air raksa dalam bola temperatur menyusut. Ujung lain dari kolom air raksa tetap pada tempatnya.

Untuk pengamatan suhu udara ujung kolom ini menunjukkan suhu udara karena penyusutan air raksa kecil sekali dan dapat diabaikan. Jadi Thermometer menunjukkan suhu udara tertinggi setelah terakhir dikembalikan. Thermometer dikembalikan setelah dibaca.

3.3. THERMOMETER MINIMUM

Thermometer minimum biasanya menggunakan alkohol untuk pendeteksi suhu udara yang terjadi. Hal ini dikarenakan alkohol memiliki titik beku lebih tinggi dibanding air raksa, sehingga cocok untuk pengukuran suhu minimum. Prinsip kerja thermometer minimum adalah dengan menggunakan sebuah penghalang (indeks) pada pipa alkohol, sehingga apabila suhu menurun akan menyebabkan indeks ikut tertarik kebawah, namun bila suhu meningkat maka indek akan tetap pada posisi dibawah. Selain itu peletakan thermometer harus miring sekitar 20-30 derajat, dengan posisi tabung alkohol berada di bawah. Hal ini juga dimaksudkan untuk mempertahankan agar indek tidak dapat naik kembali bila sudah berada diposisi bawah (suhu minimum).

Untuk mengembalikan posisi indeks ke posisi aktual dapat dilakukan dengan memiringkan/ membalikkan posisi thermometer hingga indek bergerak ke ujung dari alkohol (posisi suhu aktual).

3.4. THERMOGRAPH

Alat ini mencatat otomatis temperatur sebagai fungsi waktu. Thermograph ini adalah logam panjang yang terdiri dari 2 bagian, kuningan dan invar. Bentuk bimetal merupakan spiral. Terpasang pada sumbu horizontal dan diluar kotak Thermograph. Satu ujung bimetal dipasang pada kotak dengan sekrup penyetel halus, sehingga letak pena dapat diatur. Ujung lain dihubungkan ketangkai pena melalui sumbu horizontal sehingga dapat menimbulkan track/ rekaman pada kertas pias yang berputar 24 jam per rotasi. Jika temperatur naik, ujung bimetal menggerakkan tangkai pena keatas, dan sebaliknya. Sebelum dipakai, thermograph harus dikalibrasi terlebih dahulu. Alat ini harus ditempatkan dalam sangkar apabila dipakai untuk mengukur atmospher.

(A) (B)
Contoh Thermograph Contoh Thermohygrograph

3.5. THERMOMETER TANAH

Prinsipnya sama dengan thermometer air raksa yang lain, hanya aplikasinya digunakan untuk mengukur suhu tanah dari kedalaman 0, 2, 5, 10, 20, 50 dan 100 cm. Untuk kedalaman 50 dan 100 cm, harus tanam sebuah tabung silinder untuk menempatkan thermometer agar mudah untuk melakukan pembacaan. Untuk kedalaman 0-20 cm, cukup dengan membenamkan bola tempat air raksa sesuai dengan kedalaman yang diperlukan.

3.6. THERMOMETER APUNG

Thermometer ini merupakan bagian/ kelengkapan dari alat evaporasi panci terbuka. Berfungsi untuk mengetahui suhu permukaan air yang terjadi di permukaan bumi/ tanah. Terdiri dari thermometer maksimum (thermometer air raksa) dan thermometer minimum (thermometer alcohol). Suhu rata-rata air didapat dengan menambahkan suhu makimum dan minimum, kemudian dibagi dua. Letak thermometer harus terapung tepat di permukaan air, sehingga dilengkapi dengan pelampung dibagian depan dan melakang yang terbuat dari bahan yang tahan air/ karat (biasanya almunium). Setelah dilakukan pembacaan, posisi indek pada thermometer minimum harus dikembalikan ke suhu actual dengan memiringkannya. Sedangkan untuk thermometer maksimum, tinggi air raksa juga dikembalikan pada suhu actual dengan menggunakan magnet.

3.7. KALIBRATOR THERMOMETER

Alat ini ini berfungsi untuk menguji/ mengkalibrasi thermometer/ thermograph dengan kendali temperatur elektronik, lampu indikator dan satu set termometer standard. Temperature test cabinet biasanya terbuat dari baja tahan-karat dengan kamar uji yang dilengkapi dengan tameng kaca dibagian depan. Dapat digunakan untuk mengkalibrasi 4 termograph/ thermohygrographs secara bersamaan, atau instrumen serupa. Nilai temperatur ditentukan melalui papan tombol dan DPC [DIODE PEMANCAR CAHAYA]

4. ALAT PENGUKUR KELEMBABAN UDARA

Alat-alat untuk mengukur Relative Humidity dinamakan Psychrometer atau Hygrometer. Pada umumnya alat bola kering dan bola basah dinamakan Psychrometer. Dengan Hygrometer, Relative Humidity dapat langsung dibaca. Hygrometer ialah alat yang mencatat Relative Humidity.

4.1 PSYCHROMETER BOLA BASAH DAN BOLA KERING

Psychrometer ini terdiri dari dua buah thermometer air raksa, yaitu :

1. Thermometer Bola Kering : tabung air raksa dibiarkan kering sehingga akan mengukur suhu udara sebenarnya.

2. Thermometer Bola Basah : tabung air raksa dibasahi agar suhu yang terukur adalah suhu saturasi/ titik jenuh, yaitu; suhu yang diperlukan agar uap air dapat berkondensasi.

Suhu udara didapat dari suhu pada termometer bola kering, sedangkan RH (kelembaban udara) didapat dengan perhitungan:

Hal-hal yang sangat mempengaruhi ketelitian pengukuran kelembaban dengan mempergunakan Psychrometer ialah :

a. Sifat peka, teliti dan cara membaca thermometer-thermometer

b. Kecepatan udara melalui Thermometer bola basah

c. Ukuran, bentuk, bahan dan cara membasahi kain

d. Letak bola kering atau bola basah

e. Suhu dan murninya air yang dipakai untuk membasahi kain

4.2 PSYCHROMETER ASSMANN

Psychrometer assmann terdiri dari 2 buah thermometer air raksa dengan pelindung logam mengkilat. Kedua bola thermometer terpasang dalam tabung logam mengkilat. Kipas angin terletak diatas tabung pada tengah alat. Gunanya untuk mengalirkan (menghisap) udara dari bawah melalui kedua bola. Thermometer langsung menuju keatas. Alat dipasang menghadap angin dan sedemikian sehingga logam mengkilat mencegah sinar matahari langsung ke Thermometer, terutama pada angin lemah dan sinar matahari yang kuat.

4.3 PSYCHROMETER PUTAR (WHIRLING)

Disebut juga sebagai Psychrometer Sling/ Whirling. Alat ini terdiri dari 2 Thermometer yang dipasang pada kerangka yang dapat diputar melalui sumbu yang tegak lurus pada panjangnya. Sebelum pemutaran bola basah dibasahi dengan air murni. Psychrometer diputar cepat-cepat (3 putaran/ detik). Selama + 2 menit, dihentikan dan dibaca cepat-cepat. Kemudian diputar lagi, dihentikan dan dibaca seterusnya sampai diperoleh 3 data. Data yang diambil adalah suhu bola basah terendah. Jika ada 2 suhu bola basah terendah yang diambil suhu bola kering.

Keuntungan : bentuknya yang portable dan kemurahan harganya dibandingkan dengan Psychrometer Assmann.Kerugian :

a. Karena harus diputar diluar sangkar, kedua Thermometernya dipengaruhi radiasi dan dari badan si pengamat.

b. Waktu hujan tetesan air hujan bias melekat sehingga merendahkan pembacaan.

c. Kecepatan udara (ventilasi) mungkin terlalu kecil.

4.4 HYGROMETER RAMBUT

Rambut menunjukkan perubahan dimensi jika kelembaban udara berubah-ubah. Perubahan dimensi dapat dipakai sebagai indikasi kelembaban nisbi udara.

Hygrometer rambut ada yang bersifat non recording dan recording (Hygrograph).

5. ALAT PENGUKUR CURAH HUJAN

5.1 PENAKAR CURAH HUJAN BIASA

Penakar hujan ini termasuk jenis penakar hujan non-recording atau tidak dapat mencatat sendiri. Bentuknya sederhana, terdiri dari :

Sebuah corong yang dapat dilepas dari bagian badan alat.Bak tempat penampungan air hujan.Kaki yang berbentuk tabung silinder.Gelas penakar hujan.

5.2 PENAKAR HUJAN BIASA TANAH

Penakar hujan biasa biasa tanah dimaksudkan untuk mendapatkan jumlah curah hujan yang jatuh pada permukaan tanah. Pada bagian tanah reservoir, terdapat tangkai yang digunakan untuk mengangkat penakar hujan jika akan dilakukan pembacaan. Tepat disekitar corong penakar hujan terdapat lapisan ijuk yang disusun pada lapisan kayu yang berbentuk lingkaran yang dimaksudkan untuk mengurangi percikan air hujan. Selain itu terdapat jaringan kawat/ besi yang berbentuk bujur sangkar dan digunakan sebagai tempat berpijak ketika akan mengangkat lapisan ijuk dan penakar hujan. Pada kedua tepi/ lapisan ijuk terdapat dua kaitan/ pegangan untuk memudahkan mengangkatnya.

5.3 PENAKAR HUJAN DENGAN WIND-SHIELD

Pemasangan Wind-Shield pada penakar hujan dimaksudkan untuk meniadakan angin putar, sehingga angin yang bertiup melewati corong sedapat mungkin menjadi horizontal.

5.4 PENAKAR HUJAN JENIS HELLMAN

Penakar hujan jenis Hellman termasuk penakar hujan yang dapat mencatat sendiri. Jika hujan turun, air hujan masuk melalui corong, kemudian terkumpul dalam tabung tempat pelampung. Air ini menyebabkan pelampung serta tangkainya terangkat (naik keatas). Pada tangkai pelampung terdapat tongkat pena yang gerakkannya selalu mengikuti tangkai pelampung. Gerakkan pena dicatat pada pias yang ditakkan/ digulung pada silinder jam yang dapat berputar dengan bantuan tenaga per. Jika air dalam tabung hampir penuh, pena akan mencapai tempat teratas pada pias. Setelah air mencapai atau melewati puncak lengkungan selang gelas, air dalam tabung akan keluar sampai ketinggian ujung selang dalam tabung dan tangki pelampung dan pena turun dan pencatatannya pada pias merupakan garis lurus vertikal. Dengan demikian jumlah curah hujan dapat dhitung/ ditentukan dengan menghitung jumlah garis-garis vertikal yang terdapat pada pias.

5.5 PENAKAR HUJAN JENIS TIPPING BUCKET

Bertujuan untuk mendapatkan jumlah curah hujan yang jatuh pada periode dan tempat-tempat tertentu. Pada bagian muka terdapat sebuah pintu untuk mengeluarkan alat pencatat, silinder jam dan ember penampung air hujan. Jika dilihat dari atas, ditengah-tengah dasar corong terdapat saringan kawat untuk mencegah benda-benda memasuki ember (bucket).

Pada prinsipnya jika hujan turun, air masuk melalui corong besar dan corong kecil, kemudian terkumpul dalam ember (bucket) bagian atas (kanan). Jika air yang tertampung cukup banyak menyebabkan ember bertambah berat, sehingga dapat menggulingkan ember kekanan atau kekiri, tergantung dari letak ember tersebut. Pada waktu ember terguling, penahan ember ikut bergerak turun naik. Penahan ember mempunyai dua buah tangkai yang berhubungan dengan roda bergigi. Gerakan turun naik penahan ember menyebabkan kedua tangkainya bergerak pula dan bentuknya yang khusus dapat memutar roda bergigi berlawanan dengan arah perputaran jarum jam. Perputaran roda bergigi diteruskan ke roda berbentuk jantung. Roda yang berbentuk jantung mempunyai sebuah per yang menghubungkan kedua pengatur kedudukan pena yang letak ujungnya selalu bersinggungan dengan tepi roda. Perputaran roda berbentuk jantung akan menyebabkan kedudukan pena bergerak sepanjang tepi roda.

5.6 RAINGAUGE TEST EQUIPMENT

Raingauge test equipment adalah alat yang ini digunakan untuk menguji/mengkalibrasi peralatan penakar hujan, terutama dari jenis tipping bucket. Alat ini menggunakan prinsip putaran pompa yang alirannya diukur dengan presisi flow meter. Air yang mengalir melalui flow meter ini kemudian dialiri ketipping bucket (sebagai simulasi dari air hujan yang jatuh ke dalam raingauge yang sedang dikalibrasi). Jumlah air yang tercatat di flow meter harus sama dengan jumlah air yang keluar dari raingauge (harus seimbang antara tabung penampungan sebelah kiri dan kanan). Selain itu jumlah tipping pada raingauge juga harus menunjukan nilai yang sama dengan flow meter (tergantung tingkat keakurasian raingauge).

6. ALAT PENGUKUR PENGUAPAN

Penguapan ialah proses perubahan air menjadi uap air. Proses ini dapat terjadi pada setiap permukaan benda pada temperatur diatas 0 0K. Faktor-faktor yang mempengaruhi penguapan ialah temperatur benda dan udara, kecepatan angin, kelembaban udara, intensitas radiasi matahari dan tekanan udara, jenis permukaan benda serta unsur-unsur yang terkandung didalamnya.

Dalam meteorologi dikenal dua istilah untuk penguapan yaitu evaporasi dan evapotranspirasi.

6.1 EVAPORIMETER PANCI TERBUKA

Evaporimeter panci terbuka digunakan untuk mengukur evaporasi. Makin luas permukaan panci, makin representatif atau makin mendekati penguapan yang sebenarnya terjadi pada permukaan danau, waduk, sungai dan lain-lainnya. Pengukuran evaporasi dengan menggunakan evaporimeter memerlukan perlengkapan sebagai berikut :

Panci Bundar BesarHook Gauge yaitu suatu alat untuk mengukur perubahan tinggi permukaan air dalam panci. Hook Gauge mempunyai bermacam-macam bentuk, sehingga cara pembacaannya berlainan.Still Well ialah bejana terbuat dari logam (kuningan) yang berbentuk silinder dan mempunyai 3 buah kaki.Thermometer air dan thermometer maximum/ minimumCup Counter AnemometerPondasi/ AlasPenakar hujan biasa

Alat Pengukur Penguapan

6.2 EVAPORIMETER JENIS PICHE

Piche

Seperti panci penguapan terbuka, alat ini digunakan sebagai pengukur penguapan secara relatif. Maksudnya, alat ini tidak dapat mengukur secara langsung evaporasi ataupun evapotranspirasi yang sesungguhnya terjadi.

Hasil pembacaannya sangat tergantung terhadap angin, iklim dan debu. Pada prinsipnya Piche evaporimeter terdiri dari:

Pipa gelas yang panjangnya + 20 Cm dan garis tengahnya + 1,5 Cm. Pada pipa gelas terdapat skala, yang menyatakan volume air dalam Cm3 atau persepuluhnya. Ujung bawah pipa gelas terbuka dan ujung atasnya tertutup dan dilenghkapi dengan tempat menggantungkan alat tersebut.Piringan kertas filter berbentuk bulat. Kertas ini berpori-pori banyak sehingga mudah menyerap air. Kertas filter dipasang pada mulut pipa terbuka.Penjepit logam, yang berbentuk lengkungan seperti lembaran per. Per ujung yang melekat disekeliling pipa dan ujung lainnya berbentuk sama dengan diameter pipa.

6.3 EVAPORASI JENIS KESHNER

Evaporasi jenis Keshner termasuk alat pengukur penguapan yang mencatat sendiri yang disebut sebagai Evaporigraph. Alat ini dapat mencatat terus menerus penguapan yang terjadi pada setiap saat.

6.4 EVAPORIMETER JENIS WILD

Evaporimeter jenis Wild termasuk alat pengukur penguapan (Evaporasi) yang tidak dapat mencatat sendiri (Non Recording).

7. ALAT PENGUKUR RADIASI MATAHARI

Pengukuran lamanya sinar matahari bersinar dimaksudkan untuk mengetahui intensitas dan berapa lama/ jam matahari bersinar mulai terbit hingga terbenam. Matahari dihitung bersinar terang jika sinarnya dapat membakar pias Campble stokes. Lamanya matahari bersinar dapat dinyatakan dalam presentase atau jam. Untuk keperluan pemasangan dan pengamatan perlu diketahui hal-hal yang menyangkut waktu smeu lokal dan waktu rata-rata lokal. True Solar Day yaitu waktu antara dua gerakan matahari melintasi meridian. Waktu yang didasarkan panjang hari ini disebut apparent solartime atau waktu semu lokal. Waktu ini dapat ditunjukkan oleh sunshine recorder. Waktu semu lokal ialah waktu yang ditentukan oleh gerakan relatif matahari terhadap horizon. Sepanjang tahun lamanya (panjangnya) True Solar Day berbeda-beda. Untuk memudahkan perhitungan dibayangkan adanya matahari fiktif yang beredar mengelilingi bumi dengan kecepatan tetap selama setahun.

7.1 PENGUKUR SINAR MATAHARI JENIS CAMPBLE STOKES

Campbell Stokes

Lamanya penyinaran sinar matahari dicatat dengan jalan memusatkan (memfokuskan) sinar matahari melalui bola gelas hingga fokus sinar matahari tersebut tepat mengenai pias yang khusus dibuat untuk alat ini dan meninggalkan pada jejak pias. Dipergunakannya bola gelas dimaksudkan agar alat tersebut dapat dipergunakan untuk memfokuskan sinar matahari secara terus menerus tanpa terpengaruh oleh posisi matahari. Pias ditempatkan pada kerangka cekung yang konsentrik dengan bola gelas dan sinar yang difokuskan tepat mengenai pias. Jika matahari bersinar sepanjang hari dan mengenai alat ini, maka akan diperoleh jejak pias terbakar yang tak terputus. Tetapi jika matahari bersinar terputus-putus, maka jejak dipiaspun akan terputus-putus. Dengan menjumlahkan waktu dari bagian-bagian terbakar yang terputus-putus akan diperoleh lamanya penyinaran matahari.

7.2 PENGUKUR SINAR MATAHARI JENIS JORDAN

Alat ini mencatat sendiri lamanya matahari bersinar dalam sehari yang terdiri dari dua kotak berbentuk setengah silinder dan tertutup. Di bagian dalam dipasang kertas yang sangat peka terhadap sinar matahari langsung.

Apabila seberkas matahari langsung mengenai kertas ini akan meninggalkan bekas yang gelap. Alat ini diatur sedemikian sehingga satu pias dipakai untuk pagi dan pias lainnya untuk siang hari.

7.3 PENGUKURAN INTENSITAS RADIASI MATAHARI

Untuk mengetahui intensitas radiasi yang jatuh pada permukaan bumi baik yang langsung maupun yang dibaurkan oleh atmosfer. Intensitas radiasi matahari ialah jumlah energi yang jatuh pada suatu bidang persatuan luas dalam satu satuan waktu. Dalam atmosfer bumi terdapat bermacam-macam radiasi seperti :

a. Direct Solar Radiation (S) yaitu radiasi langsung dari matahari yang sampai ke permukaan bumi.

b. Radiation Difus (D) yang berasal dari pantulan-pantulan oleh awan dan pembauran-pembauran oleh partikel-partikel atmosfer.

c. Surface Raflectivity (r) yaitu radiasi yang berasal dari pantulan-pantulan oleh permukaan bumi.

d. Out Going Terrestial radiation (O), yaitu radiasi yang berasal dari bumi yang berupa gelombang panjang.

e. Back Radiation (B) yaitu radiasi yang berasal dari awan-awan dan butir-butir uap air dan CO2 yang terdapat dalam atmosfer.

f. Global (total) Radiation (Q)

g. Net Radiation (R)

Dengan banyaknya jenis radiasi yang terdapat didalam atmosfer berarti banyak pula alat-alat yang diperlukan untuk mengukur radiasi langsung (S). Misalnya :

Pyrheliometer untuk mengukur radiasi langsung (S)Solarimeter dan Pyranometer untuk radiasi total (Q)Pyrgeometer untuk mengukur radiasi bumi (O)Net Pyrradiometer untuk mengukur radiasi total (R)

Pada prinsipnya sensor alat pengukur intensitas radiasi matahari dibagi 2 jenis :

Sensor yang dibuat dari bimetal yaitu 2 jenis logam yang mempunyai koefisien muai panjang yang berbeda dan diletakkan satu sama lainnya. Alat yang memakai sensor jenis ini ialah Actinograph.Sensor yang dibuat dari Thermopile seperti yang terdapat pada Solarimeter, Pyranometer dll

7.4 AMSTRONG PYRHELIOMETER

Pyrheliometer dipakai untuk mengukur intensitas radiasi matahari langsung (S). Pyrheliometer terdiri dari 2 bagian pokok, yaitu sensor yang menghasilkan gaya gerak listrik dan recorder yang berisi battery, galvanometer dan amperemeter. Sensor berada didalam sebuah tabung/silinder logam yang dapat diputar horizontal dan vertikal. Tabung diputar mengikuti gerakan matahari sehingga sinar selalu jatuh tegak lurus ke permukaan sensor. Pada bagian ujung/ muka tabung terdapat tutup yang dapat diputar terhadap permukaan silinder. Penutup ini berfungsi sebagai pelindung sensor terhadap matahari dan juga sebagai pemutus dan penghubung kontak listrik.

7.5 SOLARIMETER DAN PYRANOMETER

Digunakan untuk mengukur radaiasi matahari total. Untuk memperoleh data intensitas matahari secara kontinue, Solarimeter dihubungkan ke sebuah alat pencatat yang dinamakan Chart Recorder yang mempunyai sifat Self Balancing Potentiometric yaitu suatu recorder yang bekerjanya berdasarkan keseimbangan antara signal (tenaga listrik yang masuk berasal dari Solarimeter dengan tenaga listrik dari power supply. Gerakan dan kedudukan pena ditentukan oleh keseimbangan kedua unsur tersebut. Dengan demikian recorder ini memerlukan tenaga listrik yang diperlukan selain untuk keseimbangan juga untuk menggerakkan pias (Chart) dan jam. Recorder ini sangat peka terutama ketika sedang beroperasi, sedapat mungkin dihindarkan terhadap getaran-getaran yang dapat mengganggu keseimbangan.

8. ALAT PENGUKUR ARAH DAN KECEPATAN ANGIN

Angin merupakan pergerakan udara yang disebabkan karena adanya perbedaan tekanan udara di suatu tempat dengan tempat lain. Dengan adanya pergerakan udara di atmosfer ini maka terjadilah distribusi partikel-partikel di udara, baik partikel kering (debu, asap, dsb) maupun partikel basah seperti uap air. Pengukuran angin permukaan merupakan pengukuran arah dan kecepatan angin yang terjadi dipermukaan bumi dengan ketinggian antara 0.5 sampai 10 meter.

Alat-alat yang paling baik untuk mengukur angin (permukaan) ahíla Wind Vane dan Anemometer. Alat-alat pengukur kecepatan angin di bagi dalam 3 bagian :

1. Anemometer Cup dan Vane, alat ini mengukur banyaknya udara yang melalui alat per satuan waktu.

2. Pressure Tube Anemometer, alat ini bekerja disebabkan oleh tekanan dari aliran udara yang melalui pipa-pipanya.

3. Pressure Plate Anemometer, lembaran logam tertentu, ditempatkan tegak lupus angin. Lembaran logam ini akan berputar pada salah satu sisinya sebagai sumbu. Besar penyimpangan (sudut) menjadi kecepatan angin.

8.1 CUP COUNTER DAN WIND VANE ANEMOMETER

Anemometer

Pergerakan udara atau angin umumnya diukur dengan alat cup counter anemometer, yang didalamnya terdapat dua sensor, yaitu: cup – propeller sensor untuk kecepatan angin dan vane/ weather cock sensor untuk arah angin. Untuk pengamatan angin permukaan, Anemometer dipasang dengan ketinggian 10 meter dan berada di tempat terbuka yang memiliki jarak dari penghalang sejauh 10 kali dari tinggi penghalang (pohon, gedung atau sesuatu yang menjulang tinggi). Tiang anemometer dipasang menggunakan 3 buah labrang/ kawat penahan tiang, dimana salah satu kawat/labrang berada pada arah utara dari tiang anemometer dan antar labrang membentuk sudut 1200. Pemasangan penangkal petir pada tiang anemometer merupakan faktor terpenting terutama untuk daerah rawan petir. Hal ini mengingat tiang anemometer memiliki ketinggian 10 meter dengan ujung-ujung runcing yang membuatnya rawan terhadap sambaran petir.

Tags: Alat-alat Klimatologi, Konvensional

RSS feed | Trackback URI

64 comments

vanthey said:
Januari 23rd, 2009 on 20:47 bagus..
informatif banget..

ak4037 said:
Januari 23rd, 2009 on 20:58 Terima kasih atas kunjungannya…

Muji said:
Januari 25th, 2009 on 16:51 maz aku minta tolong kirimkan materi tentang evaporator film aduk, gambar alatnya, cara kerja, digunakan untuk larutan apa dan selengkapnya.

Terimakasih maz

ak4037 said:
Januari 25th, 2009 on 23:16 @Muji

Kirimnya ke mana ya..? Maksudnya gmana..?

arian said:
Januari 26th, 2009 on 08:05 good pisan euy

ak4037 said:
Januari 27th, 2009 on 08:10 Nuhun kang…!

sadeli ilyas said:
Maret 10th, 2009 on 13:32 good good; bagus; alus pisan euy; kreatif

ak4037 said:
Maret 10th, 2009 on 15:38 Nuhun kang mudahn bermanfaatlah buat pengetahuan…

nugroho said:
Maret 11th, 2009 on 16:26 Pak mohon diinformasikan harga untuk alat2 penakar hujan untuk kategori yang ada di artikel ini. Saya sangat butuh informasi ini dan apakah alat ini indent atau ready stock kalau pesan kira2 berapa lama dan cara pembayarannya bagaimana. Tolong balas ke email saya ya, atas bantuannya saya ucapkan terimakasih

Wassallam,

Nugroho

KlimatPress said:
Maret 11th, 2009 on 22:07 Mas nugroho bisa tanya langsung ke distributornya langsung di alamat http://www.alphamas.co.id, mudahan bisa membantu.

Handoko said:
April 2nd, 2009 on 21:20 Mas, boleh minta dimana kita bisa dapat atau beli alat penakar curah hujan biasa

KlimatPress said:
April 3rd, 2009 on 14:43 Langsung aja ke tkp mas handoko http://www.alphamas.co.id, thank’s

sovhy said:
April 23rd, 2009 on 10:23 wah.. bguss bnget m’bntu sy krja tgs geografi
mksih iyeik~

Kadir said:
Mei 16th, 2009 on 01:38 Terimakasih info jadul nya he.he. ini penting banget buat pemahaman dasar.