KATEGORI : kumpulan cerita

cerita cinta mengharukan

24 February 2013 11:27:38 Dibaca : 151

Cerita ini dikisahkan oleh seorang pria bernama Duel yang memiliki seorang adik perempuan bernama Rin. Suatu hari Rin mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia koma untuk waktu yang lama.

Pada hari kedua setelah Rin mengalami kecelakaan, seorang pria seumuran Rin datang melihat Rin. Dari parasnya sudah bisa kutebak kalau namanya adalah, Zero pria yang sering Rin ceritakan kepadaku.

"Anu.. nama kamu Zero kan ?" tanyaku padanya.
"Ya.. Mengapa kakak bisa tahu namaku ?" Tanyanya heran.
"Rin sering menceritakan tentang kamu, apakah kamu kekasih Rin?"

Setelah diam sejenak ia menjawab “Bukan.. Aku sahabatnya. Jujur aku mempunyai perasaan lebih pada Rin. Tapi, sampai ia koma sekarangpun aku belum menyatakan kepadanya” Ucapnya sambil menatap kearah Rin yang terbaring koma.
"Kakak rasa Rin juga mempunyai perasaan yang sama kepadamu Zero"
"Maksud kakak ?"

"Sebaiknya kamu membaca diary yang Rin tulis ini" Ucapku sambil menyodorkan diary itu padanya.

Sejenak aku melihat Zero yang membaca diary tersebut terlihat sedih. Terang saja, soalnya aku tahu, diari itu berisi tentang perasaan Rin pada Zero selama ini.

Sejak saat itu, Zero selalu datang melihat Rin yang koma setiap hari. Sampai-sampai terkadang aku melihat dia mengerjakan tugas sekolah di ruangan Rin. Sering kuintip dari sisi pintu, Zero memegang tangan Rin sambil berbicara sendiri entah dengan siapa, tapi aku biarkan saja karena aku tahu Zero seperti itu untuk menghibur dirinya sendiri dengan cara menganggap Rin telah sadar dari komanya.

Setelah tiga bulan, akhirnya Rin sadar dari komanya. Tidak seperti biasanya, pada hari dimana Rin sadar Zero malah tidak datang. Padahal Zero tidak pernah absent mengunjungi Rin sejak hari pertama ia datang meelihat Rin. Setelah kondisi Rin membaik, aku mulai menceritakan tentang apa yang terjadi selama tiga bulan Rin koma, termasuk perasaan dan tingkah Zero selama itu. Aku senang melihat Rin mulai tersenyum ketika aku menceritakan tentang Zero.

"Kakak tahu..? Dalam kondisi enggak sadar aku selalu merasakan Zero disisiku. Kami mengobrol bersama dan ia selalu mendukung agar aku cepat sembuh" Ucap Rin padaku.

"Yahh mungkin saja apa yang dilakukan Zero selama ini telah membantu Rin agar sadar dari komanya" pikirku.

"Kata kakak,Zero selalu datang setiap hari, tapi mengapa aku tidak melihat dia sama sekali hari ini..?" Tanya Rin heran.

"Kakak juga enggak tahu, mungkin Zero ada keperluan yang enggak bisa dia tinggal. Kamu bersabar saja yahh" Jawabku. Sebenarnya aku juga merasakan ada hal yang aneh yang terjadi hari itu.

Beberapa hari telah berlalu, Rin sudah terlihat cukup sehat dan bisa berjalan. Tetapi ia terlihat sangat sedih dan kecewa karena Zero tidak datang sama sekali semenjak Rin sadar dari komanya. Akhinya siang itu aku memutuskan untuk mengajak Rin kerumah Zero untuk menemui Zero. Dirumahnya kami melihat seorang ibu yang terlihat sedang menangis. Dengan memberanikan diri kami menanyainya :

"Permisi.. apakah ini rumah Zero bu ?" tanyaku pada ibu itu

Tetapi bukannya menjawab ibu itu malah semakin menangis dan tak berapa lama kemudian seorang perempuan keluar dan mengajak kami agar sedikit menjauh dari ibu itu.

"Kamu Rin kan ..?" Tanya perempuan itu pada Rin.
"Ya kak,Zero mana ? kenapa aku enggak melihatnya ?"

Sejenak aku melihat perempuan itupun menangis dan masuk kembali kedalam rumah. Beberapa saat kemudian perempuan itu keluar kembali dan menyodorkan sebuah diari yang bertuliskan “Untuk Rin” Dihalaman depannya. Samar-samar disana aku melihat bercak merah, entah apakah itu aku juga belum tahu pada awalnya

"Beberapa hari yang lalu saat Zero pulang dari melihat Rin seperti biasanya. Zero mengalami kecelakaan yang menyebabkan pendarahan parah pada kepalanya. Tim medis tak dapat menolong banyak dan akhirnya Zero meninggal pada hari itu sambil memegang Diary ini." Ucap perempuan itu yang membuat kami sangat kaget. Kontan saja Rin yang kala itu terdiam langsung menangis sambil berteriak nama Zero. Akupun yang tak kuasa melihat Rin ikut menangis karena tidak menyangka hari itu adalah hari terakhir aku melihat Zero.

Dengan berbekal alamat dan denah dari perempuan tadi, kami mengunjungi makam Zero. Disana kami memanjatkan doa. Tetapi Rin yang kala itu masih bersedih sama sekali tidak bisa menahan rasa tangisnya. Di makam itu Rin kemudian membuaka diari yang ia dapatkan, di diari itu tertulis persaaan Zero selama tiga bulan Rin koma. Dan pada tulisan terakhir nya terdapat foto Zero dan Rin yang dibawahnya tertulis "Ya tuhan, jika nanti aku telah tiada, tolong engkau jagalah ia untuku ya Tuhan. Pertemukanlah ia dengan lelaki lain yang bisa membuatnya tersenyum dan mencintai serta menjaganya dengan ikhlas sama seperti yang aku lakukan selama ini"

mitologi yunani

24 February 2013 11:21:56 Dibaca : 162

Hermafroditos adalah putra Hermes dengan Afrodit. Dia dibesarkan oleh para Naiad (Nimfa) di Gunung Ida di Likia. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan.

Ada seorang nimfa bernama Salmakis yang jatuh cinta padanya tetapi Hermafroditos selalu menolaknya. Suatu hari, Hermafroditos pergi ke mata air dekat Haliakrnassos di Karia. Di sana, tiba-tiba Salmakis muncul dan memeluk Hermafroditos dengan sangat erat. Hermafroditos berusaha melepaskan diri tapi tak bisa. Salamkis bahkan bertindak lebih jauh dengan menciumi Hermafroditos.

Dalam keadaan seperti itu, Salmakis berdoa pada para dewa supaya mereka bersatu dan tak terpisahkan. Para dewa menjawab doa Salmakis dengan menjadikan tubuhnya menyatu dengn tubuh Hermafroditos.

Seketika itu juga tubuh Hermafroditos menyatu dengan Salmakis sehingga Hermafroditos kini memiliki payudara dan serta vagina, namun ia juga tetap memiliki penis. Hermafroditos amat terkejut dan marah karena berubah menjadi seperti itu, sehingga, setelah keluar dari mata air, ia berdoa kepada orang tuanya agar jika ada pria yang mandi di mata itu, maka pria tersebut akan mengalami nasib yang sama seperti dirinya, yaitu berubah menjadi berkelamin ganda, separuh perempuan separuh lelaki.

Mata air tempat Hemafroditos berubah menjadi berkelamin ganda dinamai Salmakis.

Dari nama Hermafroditos muncul istilah hermafrodit, yaitu makhluk hidup yang memiliki kelamin jantan dan betina sekaligus.

cerita cinta sejati

24 February 2013 11:18:02 Dibaca : 297

Harus! Titik! Nggak ada tapi-tapian lagi! Apapun yang terjadi dia harus bisa! Yap, apalagi kalo bukan harus langsing! Itu misi terpentingnya. Itu cita-citanya yang paling diimpikan siang malam, pagi sore, pokoknya segera. Darurat deh! Doo segitunya? Emang seh, cita-citanya nggak semulia orang lain malah kesannya malu-maluin, tapi Suci nggak peduli. Dia tetep keukeh pengen langsing mendadak, kalo bisa malah lebih instan daripada buat mie.

Sebenernya kalo dipikir-pikir Suci tuh nggak gendut amat cuma agak kelebihan berat badan doang (ye, itu sih sama aja!) dalam rangka merencanakan strategi pelangsingan yang oke punya, maka disinilah Suci berada. Di depan kaca besar dalam kamarnya yang serba pinky.

Tepatnya sudah satu jam lebih 34 menit plus 10 detik. Mungkin kalo kacanya bisa ngomong kayak di dongeng, doi bakalan misuh-misuh alias bete abis "Woiii, gue udah pegel nih diplototin mulu dari tadi! Berenti kenapa?" kurang lebih gitu kali.
Sayang aja, kacanya nggak bisa protes. Dan Suci masih aja puter-puter mirip gasing. Ih! kurang kerjaan banget sih? Akhirnya Suci berhenti juga muter-muter dan coba-coba jilbab yang super ribet (baginya), kepalanya mulai pening, nyut-nyutan gara-gara kebanyakan muter. Untung belum oleng, tapi Suci masih belum selesai juga.

Sekarang dipegangnya pipi yang lumayan gembil itu. Huh, apa tadi kata Dinda? Tembem? Masak sih? Tapi emang tembem, sampe matanya jadi keliatan lebih kecil ketutup dengan pipinya. Kebayang kan gimana betenya Suci? So, menimbang, memilih dan memutuskan (ceile, lagaknya kayak direktur aja) hari ini Suci menyatakan perang dengan segala makanan dan hal lain yang berkaitan erat dengan kegemukan termasuk sama coklat yang paling dia sukai. Motto Suci yang tadinya tiada hari tanpa ngemil, terpaksa harus disingkirkan. Tapi, apa sih sebenernya yang bikin Suci jadi mati-matian mau langsing gitu?

Sebelumnya Suci oke-oke aja dengan bodynya yang lebih berisi dibanding cewek seangkatannya. Tapi itu dulu! Waktu Suci masih wajib peke seragam putih biru. Sering sih, dia diledek oleh teman sekelasnya. Tapi sejak beberapa bulan lalu, pas Suci udah jadi siswa SMA, mulai deh uring-uringan. Tadinya dikit tapi tambah lama tambah berat. Terus, mendadak jadi hal yang prinsipil.

Kantin sekolah (jam istirahat)

"Din, Din!"

"Emangnya aku klakson?! Apaan sih! Gangguin kenikmatan orang lagi makan aja!"

"Liat deh, liat deh! Itu tuh, mas Yusuf ketua rohis sekolah kita lagi sama anak kelas satu yang baru masuk."

"Ada apa sama mereka?"

"Mesra amat, seh!"

"Yee...bolehnya cembokur."

"Ih, siapa yang cembuu? Heran aja. N’tu anak biasanya kan dingin banget sama cewek"

"Kulkas kali"

"Eh, Din, Din"

"Uh, Suci...kalo manggil nama aku sekali aja dong! Gak usah diulang-ulang, jadi kayak klakson kedaraan tau! Kenapa lagi?"

"Apa cewek kelas satu itu nggak risih duduk berduaan sama cowok? Mana rapeet benget. Padahal dia kan?"

"Pake jilbab?"

"Iya. Harusnya dia malu dong sama jilbabnya! Masa’ akh…akh…apa namanya, Din?"

"Akhwat."

"Iya. Akhwat, masa’ kelakuannya gawat gitu. Mana di tempat umum lagi…apa dia gak malu, diliatin sama anak-anak lain?"

"Tapi, Ci..."

"Ih, mending lepas aja jilbabnya!"

"Lho, kok?"

"Buat apa pakai jilbab kalo kelakuannya gak Islami gitu?"

"Tapi Annisa..."

"Ah, siapapun namanya, ketika seorang wanita telah memutuskan berjilbab, seharusnya dia bisa menyesuaikan kelakuan dengan pakaian yang dikenakannya. Tapi anak kelas satu itu..."

"Annisa?"

"Iya, iya... Annisa, kamu sendiri sebagai akh... akh"

"Akhwat."

"Iya itu, apa kamu nggak risih melihat mereka dua-duaan gitu? Aku aja belum pake jilbab gak gitu-gitu amat kalo sama cowok..."

"Ha ha ha... kamu pasti cemburu sama Annisa, kan?"

"Idiih... siapa yang cemburu?!"

"Gak cemburu tapi mukanya merah"

"Masak sih, Din?"

"Liat aja sendiri di kaca!"

***

Ruang kelas XI IPA 4, 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.

"Din, Din!"

"Suci...! Kali ini apa lagi? Cepetan kalo mau cerita, aku lagi sibuk ngerjain PR kimia!"

"Masih soal mas Yusuf sama anak kelas satu itu."

"Kenapa lagi mas Yusuf sama Annisa?"

"Kemarin aku liat mereka jalan berdua di Sriwedari! Mereka bener-bener udah jadian, ya?"

"Jadian?"

"Iya, pacaran!"

"Suci, mereka itu..."

"Pacaran, kan? Uh, sebel banget deh ngliat mereka jalan berduaan"

"Hayo! Kamu naksir kan sama ketua rohis sekolah kita itu?"

"Naksir? Aku? Sama mas Yusuf?"

"Iya, kalo gak naksir, kenapa harus sebel melihat mereka jalan berduaan?"

"Oh, eh, i...i...tu"

"Ngaku aja, deh! Naksir juga nggak apa-apa..."

"Ngg.. anu... hehe... iya sih, Din"

"Huh, ngomong gitu aja kok susah amat...Udah ah, lagi sibuk, nih.. masih banyak soal yang belum aku kerjakan."

"Eh Din... terus gimana, dong? Gimana caranya supaya mas Yusuf suka sama aku?"

"Lho! Bukannya selama ini mas Yusuf emang suka sama kamu?"

"Masa sih, Din? Kamu tau dari mana?"

"Yang aku liat begitu, Uci mas Yusuf itu suka ama kamu."

"Yang bener, Din?"

"Iya, suka... nyuekin kamu! Huahaha…hahaha"

"Dindaaaaaaaaaaa!!!...!"

***

Emang sih kalo mau dibandingin Suci sama Annisa itu jauh banget, Annisa itu cewek kalem, pintar, imut, n yang pasti nggak segendut Suci.

Teras depan rumah Dinda, siang menjelang sore.

"Gawat, Din! Gawat Din! Aku liat mas Yusuf boncengin Annisa pakai motor!"

"Dimana letak gawatnya?"

"Annisa duduknya rapeeeeet banget, pake meluk pinggangnya mas Yusuf segala!"

"Biarin aja, biar gak jatoh kali. Diakan kecil anaknya, nggak kaya kamu!"

"Emang kenapa sama aku?"

"Tapi apa Din...?"

"Jatoh juga sih!... kalo kamu yang bonceng, kamunya gede, mas Yusufnya kurus ya bakal..."

"Bakal apa?"

"Bakal... jungkir balik, alis ngejengkal... hihihi"

"Iiih... Dinda"

"Apa iya mas Yusuf milih cewek yang ramping?"

"Iya kali"

"Hemm... kalo gitu aku musti diet ketat nih!"

"Whats? Suci diet?! Apa nggak salah denger!"

***

Ini jamu apa comberan ya? Kok… baunya ngalahin got depan rumah? Suci gak abis pikir, begitu beratkah perjuangan yang harus dilaluinya demi pinggul yang seksi, perut yang rata dan ops, tentu aja, pipi yang nggak tembem kaya bakpao. Glek! Glek! Suci merem sempet megap-megap sebentar. Hihi... kayak ikan mas koki keabisan air. Perutnya seperti dikitik-kitik, kayak mau muntahin sesuatu. Jamu tadi, tapi Suci udah bertekad baja. Apapun yang terjadi, jamu itu harus ngendon di perutnya. Nggak boleh keluar lagi. Hhhh... Suci menderita sekali.

Seandainya mas Yusuf tau betapa besar pengorbanannya demi bisa diboncengin ketua rohis itu, biar gak ngejengkal, kan kasihan juga mas Yusufnya. Ini sudah merk jamu yang ketujuh, yang dicobanya. Dan tak sedikitpun perubahan terjadi pada bodynya. Lemak pipinya tak berkurang meski hanya satu milimeter. Padahal ia sudah memasuki babak kesepuluh hari sejak ia menyatakan perang terhadap kegendutan.

***

Jamu udah! Pil pelangsing udah! Teh hijau biar singset udah! Pake magnet di perut sampe sesak nafas udah! No coklat, no es krim, udah! Padahal itu makanan favoritnya lho. Berenang seminggu sekali (meski lebih banyak air kolam yang ketelen ketimbang berenang). Juga udah! Anti makan nasi udah! Puasa makan pas lewat dari jam enam sore, udah! Yang terakhir, seminggu belakangan ini, dia cuma makan apel doang. Beneran Cuma apel tok! Pagi, sarapan apel, siang, makan apel, malem, apel lagi. Muka Suci aja udah mirip apel, bulat kemerahan.

Sampe-sampe kemarin, pas upacara, dia hampir pingsan. Nyaris! Matanya kunang-kunang. Yang keliatan cuma bintik-bintik putih yang rada mengkilat, terang, kedip-kedip. Buru-buru dia pegangan di bahunya Dinda, kalo nggak, pasti deh dia udah gedubrak di lantai.Yang ada di kepala Suci, Cuma bayangan apel, apel dan yap apel again!

"Udah deh Suci jangan diterusin lagi"

"Ah, aku masih kuat kok..."

"Kamu udah gila? Nggak cukup tadi kamu mau pake acara pingsan segala?"

"Itu kan nyaris, belum pingsan beneran!"

"Oke! Gini aja, aku nggak mau ngurusin kamu lagi kalo besok kamu pingsan beneran!"

"Yah, kamu segitunya ama aku, siapa lagi yang mau nolongin aku kalo bukan kamu, pliss!"

"Salah kamu sendiri! Diet kok nggak kira-kira?"

"Abis gimana dong! Aku harus langsing, ini mutlak! Ini menyangkut mati hidupnya aku!"

"Suci...emang kalo kamu langsing, apa mas Yusuf pasti bakal mau jadi pacar kamu? Ini lagi, kamu jadi ikut-ikutan pake jilbab, mending kalo pake jilbabnya karena Allah ta’ala tapi ini malah melenceng, cuma demi merebut perhatian mas Yusuf dari Annisa!"

"Namanya juga usaha!"

"Usaha sih boleh, tapi apa usahamu, pengorbananmu setimpal harganya dengan seorang Yusuf?"

Suci diam, iya juga sih! Kenapa mas Yusuf harus menjadi begitu penting baginya? Mengalahkan rasa perih yang musti dideritanya saat menahan lapar. Mengalahkan lelahnya setiap kali ia jogging, berenang, sit up. Mengalahkan nasib lambungnya yang jadi bahan percobaan segala merek obat pelangsing. Mengalahkan kepalanya yang nyut-nyutan karena seminggu ini ia bela-belain hanya memakan apel. Mengalahkan rasa gerahnya pake jilbab karena buat nyaingin penampilan Annisa cewek kelas satu itu. Beginikah susahnya? Padahal ia hanya ingin merasa disayangi, dicintai? Hanya itu. Tidak lebih. Tidak berhakkah ia untuk merasakan semua itu?

***

"Kamu pengen dicintai, disayangi dengan keadaan kamu yang apa adanya ini kan?" Suci menggeleng, tak mengerti ke arah mana pembicaraan Dinda."

"Kamu pengen, ada yang menyayangimu, nggak peduli kamu gembrot, jerawatan, kulit bersisik, rambut pecah-pecah, idung bulu keriting..."

"Hei! Stop! Stop! Kok malah ngejekin aku?"

"Ups, sory! Aku terlalu bernafsul..."

"Emangnya ada?"

"Oh, jelas! Bahkan lebih hebat dari siapapun dan apapun di dunia ini. Maha segalanya. Gak ada tandingannya deh!"

"Kalo kamu misal suatu saat jadian sama mas Yusuf, pasti ada berantemnya. Pasti ada sedihnya, betenya, empetnya, marahnya, belum lagi kalo mas Yusuf misal suka sama cewek lain, wuih... kamu pasti sakit ati banget kan?"

"Kok doa kamu jelek banget sih?"

"Bukannya gitu. Ini kan fakta yang bakal kamu alamin kalo jadian sama dia… Nah kalo sama yang aku calonin tadi, kamu nggak bakal sakit ati. Never deh! Promise!" Dinda mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.

"Siapa sih?"

"Allah...!"

***

Kok semuanya serba putih? Dimana dia? Apa ini mimpi? Suci menatap nanar sekelilingnya. Ia mengangkat tangan kanannya hendak mencubit pipi, biar ia segera tahu ini mimpi atau bukan. Tapi, waa... kok ada selang infus di tangannya? Buat apa? Memangnya dia sakit? Kapan? Kok dia nggak ngeh? Diliriknya Dinda yang menelungkup di pinggir tempat tidur. Kayaknya sih tidur, kalo gitu, beneran dong ini rumah sakit! Pengen ngebangunin Dinda, mau nanya kenapa ia bisa ada di sini tapi kok ya... nggak tega. Liat aja muka Dinda, meski cuma separo pipinya yang keliatan, tapi jelas ada lingkaran hitam di sekeliling matanya. Pasti kurang tidur, ngapain dia begadang? Ye, tulalit amat! Begadang nungguin dia lah, siapa lagi? Suci berusaha mengingat hal terakhir yang dilakukannya.

Mmm... apaan ya? Kayaknya di sekolahan deh! Trus... apa ya? Suci berusaha keras mengingatnya. Kepalanya jadi cenut-cenut. Tapi Suci nggak berenti mikir. Ah, ya! Dia ingat sekarang! Waktu itu, perutnya perih banget, jalannya udah lemes, diseret-seret karena tenaganya udah drop. Dia telentang di Mushola SMA nungguin Dinda yang lagi sholat. Dia sendiri? Hihi... masih bolong-bolong sholatnya. Tergantung mood, meskipun dia udah berjilbab. Huss! Bukannya nyadar kok malah ngikik. Abis itu apa ya? Kayaknya sampe disitu deh! Seterusnya gelap, ya... gelap.

Kepala Dinda bergerak, tangannya menggeliat, air mukanya terkejut, campur bahagia melihat Suci yang udah bangun.

"Eh, kamu udah bangun ya?"

"Aku bego ya, Din?"

"Siapa yang bilang kayak gitu?"

"Aku bener-bener idiot, kan?"

"Ssshh... nggak bagus ngomong kayak gitu."

"Aku bego... mau-maunya kayak gini cuma gara-gara..." Air mata Suci mulai merembes.

"Kamu nggak bego cuma khilaf..."

"Udah deh, Din! Nggak usah ngehibur aku! Aku tau, aku ini bener-bener stupid!"

"Eh kamu tahu Annisa itu?"

"Udah deh Din! Aku nggak mau nginget-nginget tentang itu!"

"Mereka kakak beradik"

"Hah...! Yang bener kamu?"

"Ye, kamu nya sih kebiasaan, kalo orang ngomong itu dengerin dulu, jangan nyerocos terus!"

"Jadi! Bukannya karena mas Yusuf suka sama cewek yang langsing & pake jilbab kaya Annisa itu?"

"Wah, kalo itu mana aku tahu..."

"Uh, udah dibela-belain diet ketat plus pake jilbab sampe kepala aku rasanya gatel banget, lagi..."

"Terus, kamu mau lepas jilbab kamu?"

"Yah, ehm... gimana ya"

"Kamu nggak malu lepas jilbab? Jilbab itu bukan buat mainan tau!"

"Aku gak lepas jilbabku."

"Nah, gitu dong!"

"Tapi... aku masih bisa kan ngecengin mas Yusuf?"

"Suci, udah deh, aku gak mau nungguin kamu di rumah sakit lagi kalo kamu jatuh sakit lagi gara-gara pengen diet!"

"Ya, ya... aku bakal berenti diet!"

"Nah, itu baru Suci temanku"

"Aww, sakit tau pipiku dicubit!"

"Habis kamu ngegemesin sih!"

Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja, otak Suci memutar ulang memorinya tentang ucapan Dinda waktu itu. Tentang ada yang bisa menyayanginya bagaimanapun buruknya rupa dia. Ada yang bisa menyayanginya tanpa ia harus berkorban menjadi langsing.

Ada! Suci yakin sekali, dia memang selalu menyertai kita, memperhatikan kita, mengawasi kita, menyayangi kita lebih dari siapapun, dialah Allah swt. Hanya Allah-lah yang mengerti tentang diri kita. Dan hanya kepada Allah-lah kita patut mencurahkan cinta sejati.

aku tidak mau belajar lagi

24 February 2013 07:03:53 Dibaca : 146

“Aku tidak mau belajar lagi! Buku cuma membuatku bodoh!”

“karena tantangan Wijang pagi ini :

Miris juga aku mendengar penuturan Wijang dengan wajah serius penuh ke arahku.

“Aku tidak mau belajar lagi! Buku cuma membuatku bodoh!”
Dan dia menyodorkan buku pelajarannya kepadaku dengan kecewa yang mendalam. Wajah kesalnya tidak bisa disembunyikan. Lalu dia berlari meninggalkanku termangu. Aku diam. Mencoba berpikir apa yang harus aku lakukan untuk menenangkannya.

Ya, peristiwa itu terjadi semalam. Aku seperti biasa menemani Wijang belajar, karena pagi ini dia ujian kenaikan kelas Bahasa Inggris. Sekitar jam 20.30 aku mulai membuka buku pelajaran Bahasa Inggris dan membacakan untuk Wijang. Belum berlalu 15 menit, aku sudah mulai adu pendapat dengan Wijang, karena ketika aku menyodorkan pertanyaan apakah bahasa inggrisnya bibi, Wijang menjawab uncle, dan ketika aku tanya bahasa inggrisnya paman, Wijang menjawab aunt. Ya, sudah pasti itu salah. Dan aku mencoba memberikan pengertian pada Wijang bahwa jawaban itu salah. Tapi Wijang tidak terima, dia bersikukuh pada pendapatnya : UNCLE=BIBI dan AUNT=PAMAN.

Kekukuhan atau ke-”ngeyelan” Wijang membuatku mulai gemas. Karena sebelum-sebelumnya aku pernah menjelaskan hal itu, dan Wijang mengerti. Tapi sekarang kok jadi berubah seperti ini. Jujur, dalam hati aku penasaran, sebenarnya apa yang mendasari Wijang bisa sekukuh itu.

Setengah putus asa dan bernada meninggi aku coba jelaskan lagi kalau apa yang dikukuhinya itu salah.Dan aku terangkan lagi hal yang benar. Namun, ternyata susah. Wijang tidak mau kalah. Lalu sedikit kasar ia ambil buku pelajaran Bahasa Inggris yang aku pegang, dan membuka-bukanya, sampai dia menemukan halaman yang dicari, kemudian menyodorkannya padaku.

“Lihat! Ini lho Mah! Lihat! Baca!” tunjuk Wijang pada salah satu halaman.
“Betul kan apa yang aku bilang! Uncle adalah Bibi! Aunt adalah Paman!”

Astaga!
Benar saja! Buku pelajaran Bahasa Inggris yang Wijang pakai untuk belajar dengan jelas menunjukkan gambar seorang WANITA dan di bawahnya tertera tulisan UNCLE. sementara di sampingnya ada gambar seorang PRIA dan di bawahnya tertera tulisan AUNT. Dan judul Bab yang tertulis di buku adalah FAMILY.

Aku kaget. Aku diam. Aku pandang Wijang tajam.
Sejurus kemudian aku ambil buku di tangan Wijang. Aku buka satu-satu halamannya. Aku periksa satu-pelajarannya. Aku cermati satu-satu tulisannya. Dan aku menemukan 26 kesalahan di situ. Ya ampun.

Setelah bingung sejenak mencari cara terbaik untuk menjelaskan keadaan kesalahan buku itu pada Wijang, akhirnya aku dekati Wijang pelan. Aku tahu, dia pasti masih mengukuhi bahwa buku pelajarannya adalah benar. Dan aku bawakan buku-buku Bahasa Inggris lain sebagai pembanding, yang memuat penjelasan tentang konsep family. Dan aku jelaskan pula dengan hati-hati bahwa di buku pelajarannya banyak sekali terjadi kesalahan. Aku tunjukkan satu-satu kesalahan itu dan aku jelaskan.

Tidak butuh waktu lama, Wijang pun mengerti. Namun tanpa kuduga, tiba-tiba dia berkata :
“Aku tidak mau belajar lagi! Buku cuma membuatku bodoh!”

Ya, kepercayaan Wijang terhadap buku mulai rontok. Ya, karena kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Aku tidak bisa membayangkan ketika itu harus terjadi di sebagian besar anak-anak kita.

 

cerita horor lucu

24 February 2013 06:58:58 Dibaca : 222

CERITA HORROR !!! jangan baca kalo anda merasa penakut….!!!

Yang Bikin Ketawa Pagi Ini : Cerita Horor Tapi Endingnya Lucu

Adi sedang dalam perjalanan ke Jakarta dengan bis malam.

Seorang kakek tua naik & menawarkan buku2 pada penumpang.

“Bukunya nak? Ada macam2 nih. Buku silat, cinta2an, agama, dll”, ujar si kakek.

Adi yg sdg tdk bisa tdr pun tertarik. “Ada buku horor ga kek?”

“Oh suka cerita horor ya? Kebetulan sisa satu, Pas lagi ceritanya. Tentang bis yang ditinggali banyak Arwah pnasaran.

Judulnya “PENUNGGU BIS BERDARAH”. Serem bgt pokoknya.”

“Boleh juga tuh berapa harganya?”

“Rp95.000, nak”

“Wow, mahal banget, kek”.

“Ya namanya juga buku Best Seller. Semua yg baca buku ini kabarnya syok loh wkt baca endingnya”, si kakek promosi ala salesman.

Adi pun mengalah.

Entah kenapa, pada saat ia serahkan uang tersebut ke kakek, tiba2 petir menggelegar.

Angin mulai bertiup kencang.

Si kakek turun dari bis, namun tiba2 berhenti & menolehkan wajahnya pelan2 ke Adi.

“Nak”, ujarnya lirih, “apa pun yg terjadi, harap jangan buka halaman terakhir.

Ingat, apapun yg terjadi.

Kalau tdk nanti kamu akan menyesal & saya tdk mau bertanggung jawab.”

Jantung Adi berdegup kencang. Saking takutnya, ia sampai tidak mampu menganggukkan kepala hingga si kakek turun dari bis dan menghilang ditelan kegelapan.

Pada saat tengah malam, Adi selesai membaca seluruh buku tersebut.

Kecuali halaman terakhir.

Dan memang benar saperti yg dikatakan si kakek, buku itu benar2 menegangkan dan menyeramkan.

Bis melaju kencang, hujan turun deras. Kilat menyambar bergantian, terdengar suara guruh menggelegar.

Adi melihat sekeliling dan ternyata smua penumpang sdh terlelap. Bulu kuduknya merinding.

“Baca halaman terakhirnya ga ya?”, pikir Adi bimbang. Antara penasaran dan rasa takut berbaur jadi satu. Di luar malam tampak makin gelap. “Ah sudahlah, sekalian aja. Nanggung!”

Dengan tangan gemetar ia pun membuka halaman terakhir buku tersebut secara perlahan.

Dan akhirnya tampak lembaran kosong dengan sepotong tulisan di bagian pojok kanan atas. Sambil menelan ludah, Adi membaca huruf demi huruf yg tercantum :

PENUNGGU BIS BERDARAH

Terbitan CV. Pustaka Buku

Harga Pas: Rp 12.500

———————————————————————————————————————————–

Pas saya baca urut runtut di kamar hotel jayakarta… dan ketemu endingnya, meledaklah tawa saya. Maklum, nyari penyegar pikiran, beberapa hari kangen sama anak yang lagi lucu2nya (ibunya juga lagi lucu2nya… …)