TESIS

21 October 2014 12:38:13 Dibaca : 386 Kategori : bahan kuliah

BAB I
PENDAHULUAN

a. Pengertian Tesis

Tesis merupakan karya ilmiah dalam suatu bidang studi yang ditulis oleh mahasiswa Program Magister (S2) pada akhir studinya. Karya ilmiah ini merupakan persyaratan untuk menyelesaikan studi mereka pada salah satu program studi yang dapat ditulis berdasrakan hasil penelitian lapangan, atau hasil kerja pengembangan.
Tesis hasil penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan. Ditinjau dari pendekatan yang digunakan, penelitian lapangan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalamnnya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahaannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verivikasi) dalam bentuk data empiris di lapangan. Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatrif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh keotentikan.
Kerja pengembangan adalah kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan ditekankan pada pengembangan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah. Tesis yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengembangan menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian, karena karakteristik hasil kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda. Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban suatu permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya penerapkan temuan atau teori untuk memecahkan suatu permasalahan.

B. Perbedaan Skripsi, Tesis, dan Disertasi
Perbedaan antara skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari dua aspek yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitiatif. Dari aspek kuantitatif, secara literal dapat dikatakan bahwa disertasi lebih berat bobot akademisnya dari tesis dan tesis lebih berat bobot akademisnya dari skripsi. Ketentuan ini hanya bisa diperlakukan untuk jenis karya ilmiah yang sama (sama-sama hasil penelitian kuantitatif atau sama-sama hasil penelitian kualitatif). Artinya disertasi mencakup bahasan yang lebih luas dari pada tesis, dan tesis mencakup bahasan yang lebih luas dari pada skripsi. Namun demikian, ini tidak dapat diperlakukan untuk membandingkan antar disiplin dan bidang ilmu. Oleh karena itu, perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi biasanya tidak hanya dilihat pada aspek kuantitatif, tetapi lebih banyak dilihat dari aspek kualitatif.
Pada dasarnya, aspek-aspek kualitatif membedakan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dikemukakan secara kontekstual, namun sulit dibedakan secara operasional. Berikut ini dikemukakan aspek-aspek yang dapat membedakan antara skripsi, tesis, dan disertasi, terutama hasil penelitian kuantitatif.

1. Aspek Permasalahan

Penulis disertasi dituntut untuk mengarahkan permasalahan yang dibahas dalam disertasinya agar temuannya dapat memberikan sumbangan “asli” bagi ilmu pengetahuan, sedangkan penulis tesis diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan. Sumbangan yang demikian itu tidak dituntut dari penulis skripsi.
Identifikasi masalah untuk skripsi dapat didasarkan atas informasi dari koran, majalah, buku, jurnal, laporan penelitian, seminar, atau keadaan lapangan, akan tetapi indentifikasi masalah untuk tesis terlebih lagi untuk disertasi perlu didasarkan atas teori-teori yang berdasar dari sejumlah hipotesis yang telah teruji. Masalah yang dikaji dalam skripsi cendrung pada masalah-masalah yang bersifat penerapan ilmu, sedangkan dalam tesis dan disertasi harus cenderung ke arah pengembangan ilmu.

2. Aspek Kajian Pustaka

Dalam mengemukakan hasil kajian pustaka, penulis skripsi hanya diharapkan untuk menjelaskan keterkaitan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian-penelitian lain dengan topik yang sama. Penulis tesis tidak hanya diharapkan diharapkan mengemukakan keterkaitannya saja, tetapi juga harus menyebutkan secara jelas persamaaan dan perbedaan antara penelitiannya dengan penelitian lain yang sejenis. Penulis disertasi diharapkan dapat (a) mengidentifikasi posisi dan peranan penelitian yang sedang dilakukan dalam konteks permasalahan yang lebih luas, (b) mengemukakan pendapat pribadinya setiap kali membahas hasil-hasil penelitian lain yang dikajinya, (c) menggunakan kepustakaan dari disiplin ilmu lain yang dapat memberikan implikasi terhadap penelitian yang dilakukan, dan (d) memaparkan hasil pustakanya dalam kerangka berfikir yang konseptual dengan cara sistematis.
Pustaka yang dijadikan sumber acuan dalam kajian pustaka pada skripsi seyogyanya menggunakan sumber primer dan dapat juga menggunakan sumber sekunder, namun pustaka yang menjadi bahan acuan pada tesis diharapkan berasal dari sumber-sumber primer (hasil penelitian dalam laporan penelitian, seminar hasil penelitian, dan jurnal-jurnal penelitian). Untuk disertasi, penggunaan sumber-sumber primer merupakan keharusan.

3. Aspek Metodologi Penelitian

Penulis skripsi dituntut untuk menyebutkan apakah sudah ada upaya untuk memperoleh untuk memperoleh data penelitian secara akurat dengan menggunakan instrumen pengumpul data yang valid. Bagi penulis tesis, penyebutuan adanya upaya saja tidak cukup, tetapi dia harus menyertakan bukti-bukti yang dapat dijadikan pegangan bahwa instrumen pengumpul data yang digunakan cukup valid. Bagi penulis disertasi, bukti-bukti validitas instrumen pengumpul data harus dapat diterima sebagai bukti yang tepat.
Dalam skripsi, penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data tidak harus dikemukakakn, sednagkan dalam tesis dan disertasi ppenyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data harus dikemukakan, beserta alasan-alasannya, sejauh mana penyimpangan tersebut, dan sejauh mana penyimpangan tersebut masih dapat ditoleransi.
Dalam penelitian kuantitatif, skripsi dapat mencakup satu variabel saja, tesis dua variabel atau lebih, sedangkan disertasi harus lebih dari dua variabel. Namun kriteria ini harus disesuaikan dengan masalah yang dikaji. Dalam penelitian kualitatif, skripsi dapat ditulis dalam berdasarkan kasus tunggal dan dalam satu lokasi saja, sedangkan tesis dan terutama disertasi seyogyanya didasrkan pada studi multikasus dan multisitus.

4. Aspek Hasil Penelitian

Hasil penelitian skripsi harus didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan. Dalam tesis dan disertasi, hasil penelitian yang dikemukakan, selain didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan, juga harus dibandingkan dengan hasil penelitian yang lain yang sejenis. Oleh karena itu dalam tesis dan disertasi perlu ada bab tersendiri yang menyajikan pembahasan hasil penelitian.
Pengajuan saran pada bagian akhir skripsi tidak harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil penelitian, sedangkan saran-saran yang dikemukakan dalam tesis dan disertasi harus dilengkapi dengan argumentasi yang dilakukan oleh hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.

D. Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah

Seorang peneliti dalam rangka melakukan penelitian tesis dan karya ilmiah lainnya selayaknya memiliki kesadaran yang tinggi terhadap:
1) Status dan peran sebagai ilmuan dimasyarakat
2) Konteks sosial dari prose dan hasil dari laporan hasil penelitiannya yang akan dibaca oleh komunitas atau masyarakat akademis
3) Adanya norma-norma ilmiah yang harus dipatuhi
Kesadaran tersebut membawa seorang peneliti kepada pertanggung jawaban kepada diri sendiri, masyarakat peneliti, dan kepada masyarakat luas.
Etika peneliti memberikan patokan apa yang sah dikerjakan dan apa yang tidak sah atau dilarang dilakukan serta nilai-nilai moral yang harus dipatuhi oleh seorang peneliti dalam melakukan pelaksanaan proses penelitian.
Etika penelitian yang termasuk pelanggaran ilmiah yaitu :
1) Plagiarism : mencuri ide orang lain ( mengutip tanpa menunjukan sumbernya)
2) Memalsukan data (merubah hasil-hasil penelitian yang sesungguhnya ditemukan dilapangan)
3) Berbohong mengenai metodologi yang digunakan (dalam penentuan sampel, dalam penentuan randominasi subjek dalam eksperimen dst)
4) Membuat data sendiri
5) Mengklaim penelitian orang lain
6) Mengubah data asli dari lapangan
Disamping itu peneliti melakukan penelitian selayaknya :
1) Tidak menghasilkan kerugian pada responden/ subjek penelitian
2) Harus mendapat persetujuan dari objek/ subjek penelitian dalam pengumpulan data
3) Jangan merendahkan, melecehkan, menyinggung perasaan, membuat stress responden, membuat malu, atau menggelisahkan responden
4) Jangan menimbulkan kesan/ informasi yang keliru dan merugikan
5) Jangan menimbulkan kerugian, gangguan psikis, sosial, fisik, hukum, karir responden
6) Memberikan jaminan anonimitas dan konfidentalitas bagi subjek atau responden
7) Menjaga privacy responden
8) Perhatikan akibat-akibat negatif terhadap subjek/ objek penelitian
9) Tidak boleh memaksakan pihak yang diteliti

BAB II
SISTEMATIKA TESIS

Tesis dalam pedoman ini dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu yang disusun berdasarkan hasil penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan kelas.

A. Tesis Hasil Penelitian Kuantitatif
Sebagai pedoman ringkas bagi mahasiswa yang akan memilih metode penelitian kuantitatif perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Paradigma penelitian kuantitatif adalah positivism, bahwa dunia kehidupan sosial dapat diteliti berdasarkan prinsip-prinsip hukum sebab akibat seperti layaknya hukum-hukum alam yang berlaku pada kehidupan sehari-hari. Paradigma merupakan framework (kerangka pandang) yang berfungsi sebagai petunjuk atau peta bagi komunitas ilmuan (scientific) dalam menentukan jawaban atau memberikan penjelasan-penjelasan definisi dan teori-teori secara ringkas. Paradigma merupakan suatu cara pandang terhadap realitas dunia kehidupan. Paradigma riset menentukan tidak hanya pendekatan atau metode-metode riset yang akan digunakan, tetapi juga menentukan tujuan-tujuan penelitiannya, serta peran-peran peneliti di dalamnya.
2. Pendekatan positivism, memandang bahwa ontologi realitas dapat dipecah-pecah, dapat dipelajari independen, dieliminasi dari objek yang lain,dan dapat dikontrol. Tinjauan dari unsur epistemologi tujuan penelitiannya yaitu menyusun bangunan ilmu nomothetik, yaitu ilmu yang berupaya membuat hukum berdasarkan hasil generalisasi. Tinjauan unsur aksiologi, positium menuntut agar penelitian itu bebas nilai, yang mengusahakan objektivitas agar dapat ditampilkan prediksi atau hukum yang keberlakuannya bebas waktu dan tempat.
3. Asumsi dari penelitian kuantitatif bahwa fakta-fakta dari objektif, dan variabel-variabel dapat diidentifikasi dan hubungan-hubungannya dapat diukur.
4. Alasan atau tujuan untuk melakukan penelitian adalah untuk mendapatkan deskripsi penjelasan-penjelasan kausal, mendapatkan generalisasi hasil, dan memprediksi suatu peristiwa berdasarkan sejumlah variabel prediktor.
5. Proses pendekatan risetnya secara ringkas mencakup : (1) permasalahan penelitian, (2) deduksi teori, (3) hipotesis, (4) disain penelitian, (5) rancangan pengukuran konsep-konsep dengan instrumen-instrumen pengumpul data, (6) penentuan populasi dan sampel, (7) uji coba instrumen, (8) pengumpulan data, (9) mengolah dan analisa data, (10) menarik kesimpulan atau menentukan temuan-temuan hasil penelitian, (11) penulisan laporan hasil penelitian.

Berdasarkan ciri tersebut maka isi dan sistematika tesis sebagai Proposal Penelitian kuantitatif dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Masing-masing bagian dapat dirinci sebagai berikut.

1. Bagian Inti
¬
Bagian ini berisi inti isi tesis yang meliputi:

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Indentifikasi Masalah
C. Perumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E Manfaat Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A Landasan Teori
1. Variabel Y
2. Variabel X1
3. Variabel X2
B. Hasil Penelitian yang Relevan
C Kerangka Berpikir (berdasarkan sinesis teori)
D. Hipotesis Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat, dan waktu penelitian
B. Jenis dan Disain Penelitian
C. Populasi dan Sampel
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Tes
2. Non Tes
E. Teknik Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data
2. Pengujian Persyaratan Analisis
3. Pengujian Hipotesis

B. Pembahasan

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Simpulan
B. Implikasi
C. Saran

Bagian inti dari tesis terdiri dari lima bab, yaitu Pendahuluan, Kajian pustaka atau landasan teori, Metodologi penelitian, Hasil Penelitian dan Pembahasan, dan penutup. Rincian isi dari masing-masing bab diuraikan pada bahasan berikut.

a. Bab I Pendahuluan

Pendahuluan adalah bab pertama dari tesis yang mengantarkan pembaca untuk dapat menajawab pertanyaan apa yang diteliti, untuk apa, dan mengapa penelitian dilakukan. Oleh karena itu, bab pendahuluan ini pada dasarnya memuat (1) latar belakang masalah, (2) identifikasi masalah, (3) rumusan masalah, (4) tujuan penelitian, (5) manfaat penelitian.
Latar Belakang Masalah. Di dalam bagian ini dikemukakan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, baik kesenjangan teoretik ataupun kesenjangan praktis yang melarbelakangi masalah yang diteliti. Di dalam latar belakang masalah ini dipaparkan secara ringkas teori, hasil-hasil penelitian, kesimpulan seminar, hasil diskusi ilmiah atupun pengalaman/pengamatan pribadi yang terkait erat dengan pokok masalah yang diteliti. Dengan demikian masalah yang dipilih untuk diteliti mendapat landasan berpijak yang kuat.

Identifikasi Masalah. Identifikasi masalah yang yang akan diangkat pada diangkat menjadi rumusan masalah dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Identifikasi masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pernyataan-pernyataan yang hendak dicarikan jawabannya.
Rumusan Masalah. Perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah Rumusan masalah hendaknya disusun secara ringkas, padat, jelas, dan dituangkan dalam bentuk kalimat tanya. Rumusan masalah yang baik akan menampakkan variabel-variabel yang akan diteliti, jenis dan hubungan antara variabel tersebut, dan subyek penelitian. Selain itu, rumusan masalah dapat diuji secara empiris dan memungkinkan pengumpulan datanya untuk menjawab pertanyaan penelitian. Contoh: Apakah terdapat hubungan antara tingkat kecerdasan siswa SMP dengan prestasi belajar mereka dalam mata pelajaran bahasa Inggris?
Tujuan Penelitian. Tujuan penelitian mengungkapkan sasaran yang akan dicapai dalam penelitian. Isi dan rumusan tujuan penelitian mengacu pada rumusan masalah penelitian. Masalah penelitian dirumuskan dengan cara menggunakan kalimat tanya, sedangkan pada tujuan penelitian menggunakan kalimat pernyataan. Contoh: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan antara tingkat kecerdasan siswa SMP dengan prestasi belajar mereka dalam mata pelajaran bahasa Inggris.
Manfaat Penelitian. Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau manfaat penelitian yang dilakukan, baik secara teoretis dalam arti pengembangan ilmu maupun manfaat praktis yang dapat digunakan oleh masyarakat. Dengan kata lain, uraian pada subbab kegunaan penelitian memberikan alasan kelayakan akan masalah yang diteliti.

b. Landasan Teori dan Hipotesis Penelitian

Kerangka teoretik atau kajian pustaka memuat dua hal pokok, yaitu deskripsi teoretik tentang obyek (variabel) yang diteliti dan kesimpulan tentang kajian antara lain berupa argumentasi tentang hipotesis yang telah diajukan. Untuk dapat memberikan deskripsi teoritis terhadap variabel yang diteliti, maka diperlukan kajian teori yang mendalam. Selanjutnya argumentasi atas hipotesis yang diajukan menuntut peneliti untuk mengintegrasikan teori yang dipilih sebagi landasan penelitian dengan hasil kajian mengenai temuan penelitian yang relevan. Pembahasan terhadap satu hasil penelitian tidak dilakukan secara terpisah dalam satu subbab tersendiri.
Bahan-bahan kajian pustaka dapat diangkat dari berbagai sumber seperti jurnal penelitian, disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar dan diskusi ilmiah, terbitan-terbitan resmi pemerintah dan lembaga lain. Akan lebih baik jika kajian teoritis dan telaah terhadap temuan-temuan penelitian didasarkan pada sumber kepustakaan primer, yaitu bahan pustaka yang isinya bersumber pada temuan penelitian. Bahan kepustakaan sekunder dapat dipergunakan sebagai penunjang. Pemilihan bahan pustaka yang akan dikaji didasarkan pada dua kriteria, yakni (1) prinsip kemutakhiran, dan (2) prinsip relevansi.
Tidak semua penelitian kuantitatif memerlukan hipotesis penelitian. Penelitian kuantitatif yang bersifat eksploratoris dan deskriptif tidak memerlukan hipotesis. Oleh karena itu, sub bab hipotesis tidak harus ada dalam tesis hasil penelitian kuantitatif.
Secara prosedural hipotesis penelitian dilakukan setelah peneliti melakukan kajian pustaka, karena hipotesis adalah rangkuman dan kesimpulan teoretis yang diperoleh dari kajian pustaka. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian secara teoritis yang dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya.
Rumusan hipotesis hendaknya bersifat definitif atau direksional. Artinya, dalam rumusan hipotesis tidak hanya disebutkan adanya hubungan atau perbedaan antarvariabel, melainkan telah ditunjukkan sifat hubungan atau keadaan perbedaan itu. Contoh: Ada hubungan yang positif antara tingkat kecerdasan siswa SMP dengan prestasi belajar mereka dalam mata pelajaran bahasa Inggris.

c. Bab III Metodologi Penelitian

Pokok-pokok bahasan yang terdapat pada bab metodologi penelitian paling tidak mencakup (1) tempat dan waktu penelitian (2) jenis dan rancangan penelitian, (3) populasi dan sampel, (4) instrumen penelitian, (5) teknik pengumpulan data, dan (6) teknik analisis data.
Tempat dan Waktu Penelitian. Tempat dan waktu penelitian harus jelas dalam penelitian. Dengan adanya tempat dan waktu penelitian akan memberikan gambaran tentang latar dan setting penelitian dan hal ini akan berpengaruh pada pengumpulan dan hasil pengumpulan data untuk mencapai tujuan penelitian.

Jenis dan Disain Penelitian. Penjelasan mengenai rancangan atau desain penelitian yang digunakan perlu diberikan untuk setiap jenis penelitian, terutama penelitian eksperimental. Rancangan penelitian diartikan sebagai strategi mengatur latar penelitian agar peneliti memperoleh data yang valid sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan penelitian. Dalam penelitian eksperiemental, rancangan penelitian yang dipilih adalah yang paling memungkinkan peneliti untuk mengendalikan variabel-variabel yang diduga ikut berpengaruh terhadap variabel terikat.
Pada penelitian noneksperimental, bahasan dalam subbab rancangan penelitian berisi penjelasan tentang jenis penelitian yang dilakukan dutinjau dari tujuan dan sifatnya, apakah penelitian eksploratoris, deskriptif, eksplanatoris, survei, atau penelitian historis, korelasional, dan komparasi kausal. Di samping itu, dalam bagian ini dijelaskan pula variabel yang dilibatkan dalam penelitian serta sifat dan hubungan antara variabel-variabel tersebut.
Populasi dan Sampel. Istilah populasi dan sampel tepat digunakan jika penelitian yang dilakukan mengambil sampel sebagai subyek penelitian. Akan tetapi jika sasaran penelitiannya adalah seluruh anggota populasi, akan lebih cocok digunakan istilah subyek penelitian, terutama dalam penelitian eksperimental. Dalam survei, sumber data lazim disebut responden, dan dalam penelitian kualitatif disebut informan atau subyek tergantung pada cara pengambilan datanya.
Penjelasan yang akurat tentang karakteristik populasi penelitian perlu diberikan agar besarnya sampel dan cara pengambilannya dapat ditentukan secara tepat. Tujuannya adalah agar sampel yang dipilih benar-benar representatif, dalam arti dapat mencerminkan keadaan populasinya secara cermat. Kerepresentatifan sampel merupakan kriteria terpenting dalam pemilihan sampel dalam kaitannya dengan maksud menggeneralisasikan hasil-hasil penelitian sampel terhadap populasinya. Hal yang dibahas dalam bagian populasi dan sampel adalah (a) identifikasi dan batasan-batasan tentang populasi atau subyek penelitian, (b) prosedur dan teknik pengambilan sampel, serta (c) besarnya sampel.
Instrumen Penelitian. Pada bagian ini dikemukakan instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Sesudah itu barulah dipaparkan prosedur pengembangan instrumen pengumpul data atau alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian. Dengan cara ini akan terlihat apakah instrumen yang dugunakan sesuai dengan variabel yang diukur, paling tidak ditinjau dari segi isinya. Sebuah instrumen yang bagus harus memenuhi persyaratan reliabilitas. Dalam tesis ada bagian yang menjelaskan proses validasi instrumen. Hal lain yang perlu diungkapkan dalam instrumen penelitian adalah cara pemberian skor atau kode terhadap masing-masing butir pertanyaan/pernyataan.
Teknik Pengumpulan Data. Bagian ini menguraikan (a) langkah-langkah yang ditempuh dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data, (b) kualifikasi dan jumlah petugas yang terlibat dalam proses pengumpulan data, serta (c) jadwal waktu pengumpulan data.
Pengembangan Instrumen. Bagian ini menguraikan tentang definisi konseptual, definisi operasional, kisi-kisi instrument, dan hasil uji coba instrument dengan pengujian validitas dan reliabilitas.
Teknik Analisis Data. Pada bagian ini diuraikan jenis analisis statistik yang digunakan. Dilihat dari metodenya, ada dua jenis statistik yang dapat dipilih, yaitu statistik deskriptif, dan statistik inferensial. Dalam statistik inferensial terdapat statistik parametrik dan nonparametrik.
Pemilihan jenis analisis data sangat ditentukan oleh jenis data yang dikumpulkan dengan tetap berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai atau hipotesis yang hendak diuji. Oleh karena itu, yang penting diperhatikan dalam analisis data adalah ketepatan teknik analisisnya.

Daftar Rujukan

Bahan pustaka yang dimasukkan ke dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaiknya semua bahan pustaka yang dirujuk pada tesis dan disertasi harus dimasukkan dalam daftar rujukan. Tata cara penulisan daftar rujukan dibahas tersendiri pada bab berikutnya.

BAB III
FORMAT PENULISAN TESIS
A. Kertas
Kertas yang digunakan adalah kuarto ukuran 24 ¼ x 28 cm dan berat 80 gram.
B. Ketikan
Huruf (font) 12 Times New Roman dengan 2 spasi. Batas pengetikan adalah 4 cm dari batas atas. 4 cm dari pinggir kiri, 3 cm dari pinggir kanan, dan 3 cm dari batas bawah.
C. Kulit muka
Dijilid tebal dengan huruf mempergunakan tinta emas dan warna kulit oranye.
D. Nomor Halaman
Nomor halaman ditaruh disebelah kanan atas, kecuali nomor halaman bagi bab baru,yang ditaruh ditengah bawah. Nomor halaman dengan angka Arab dimulai dengan tubuh utma tulisan (Bab 1) sedangkan bagi hal-hal yang bersifat mengantar dipergunakan angka latin dengan mengunakan alfabet huruf kecil (seperti i, iv, v dan x ) yang ditaruh ditengah bawah, lampiran juga diberi nomor halaman seperti halaman tubuh utama tulisan.
E. Abstrak
Abstrak diketik 1 spasi maksimal 1 halaman. Ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan Abstrak bahasa Inggris ditulis terlebih dahulu.
F. Gaya Penulisan
Penulisan memakai gaya esai, dilarang mengunakan sistem penomoran kecuali dalam hal-hal yang relevan seperti perumusan masalah dan perumusan hipotesis. Dilarang mengunakan singkatan dalam tubuh tulisan maupun lampiran. Singkatan diperkenankan dalam tabel atau bagan tetapi diiringi dengan keterangan untuk setiap tabel atau bagan tersebut.
G Kutipan
Kutipan langsung diperkenankan maksimal 30 persen dari seluruh kutipan dalam tubuh tulisan. Kutipan sebaiknya mempergunakan pernyataan yang telah disimpulkan dan ditulis sendiri (parafrase). Dilarang mengambil kutipan langsung lebih dari 5 baris. Dalam satu halaman dilarang mengandung lebih dari 1 kutipan langsung. Kutipan lanngsung dipergunakan hanya untuk hal-hal yang penting seperti definisi atau pendapat seseorang yang khas. Kutipan langsung dalam bahasa asing diperkenankan asalkan diberi terjemahan dalam bahasa Indonesia di dalam tubuh tulisan sedangkan bahasa asing ditulis dalam catatan kaki atau diletakkan dibawah kutipan bahasa indonesia yang diberi tanda kurung.
H Kosa kata
Tulisan harus mempergunakan kosa kata bahasa Indonesia yang baku yang tercantm dalam kamus umum bahasa Indonesia atau kamus-kamus istilah dan daftar istilah yang diterbitkan oleh pusat bahasa. Dilarang mempergunakan kata asing yang diterjemahkan begitu saja seperti “ Reliable” dan “Valid”. Semua terminologi asing seperti “motor learning” harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia,Sekiranya perlu diterjemahkan ini diikuti oleh bahasa aslinya dalam tanda kurung,atau diantara tanda petik tunggal (‘……’)
I Daftar Pustaka
Daftar pustaka yang boleh dicantumkan hanya sumber referensi yang dikutip langsung atau tidak langsung dalam tulisan.

K. Lampiran
Merupakan bagian dari tulisan yang harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya, semua lampiran diberi nomor urut, judul dan nomor halaman,semua singkatan harus diberi penjelasan langsung dalam halaman yang bersangkutan termasuk lambang-lambang statistika seperti jk (jumlah kuadrat) atau dk (derajat kebebasan). Disamping hal-hal yang perlu disertakan maka lampiran harus mengandung :
1. Data lengkap dari setiap variabel yang diteliti yang ditransfer dari instrumen pengukuran, (data mentah yang berupa kusioner yang telah diisi harus dibawa dalam ujian tertutup sebab ada kemungkinan diminta oleh komisi penguji)
2. Perhitungan lengkap analisis data lengkap dengan rumus statistika yang dipakai. Semua lambang statistika harus diperjelas artinya (lihat lampiran diatas). Dilarang mempergunakan program komputer dengan tidak mengetahui rumus yang dipakai. Print out komputer tidak dilampirkan.
3. Instrumen penelitian yang lengkap
4. Dokumen yang tidak mempunyai relevansi dengan tubuh penulisan seperti surat keputusan dan surat izin penelitian tidak dilampirkan.
L Tabel / Bagan / Grafik / Gambar
Semua tabel / bagan / grafik / gambar diberi nomor: judul dan nomor halaman, judul tabel ditaruh diatas sedangkan judul bagan / grafik / gambar ditaruh dibawah.
Setiap singkatan apapun harus diberikan keterangan langsung dihalaman yang sama dalam catatan kaki.
M. Potret
Potret sebagai ilustrasi dalam tesis maka ilustrasi yang diertakan itu harus merupakan potret yang sesungguhnya dan bukan merupakan foto copy, sering terjadi kopi asli saja yang disertai dengan foto copy ilustarsi yang diambil dari buku cetak lainnya. Reproduksi yang bersifat fotografis diperkenankan.
N. Angka
Mengunakan pembulatan dua angka dibelakang koma baik untuk besaran absolut maupun besaran relatif seperti koefisien.
O. Nama Subjek Penelitian
Nama subjek penelitian yang dikaitkan dengan skor pengukuran dihilangkan dan diganti dengan nomor urut.

BAB IV
TEKNIK PENULISAN TESIS

Bab ini akan membahas petunjuk yang berkaitan dengan sistematikan penulisan, cara merujuk/mengutip dan menulis daftar rujukan, tabel, dan gambar, dan petunjuk praktis teknis penulisan yang meliputi hal-hal yang perlu diperhatikan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan

A. Sistematika Penulisan Tesis

Penulisan judul bab yang berperingkat 1 sama dengan yang berlaku untuk alternatif Pertama, yaitu dengan menempatkannya ditengah memakai huruf besar semua dan bold. Peringkat selanjutnya dinyatakan dengan huruf dan ngka sebagai berikut.

(1) Peringkat 2 ditunjukkan dengan urutan huruf besar (A, B, C, dst.) memakai ttitik dan ditulis dengan huruf besar kecil dan bold.
(2) Peringkat 3 ditunjukkan dengan urutan angka (1,2,3, dst.) memakai titik ditulis dengan huruf besar kecil dan bold.
(3) Peringkat 4 ditunjukkan dengan urutan huruf kecil (a, b, c, d dst.) memakai titik dan ditulis dengan huruf besar kecil dan bold.
(4) Peringkat 5 ditunjukkan dengan angka (1,2,3 dst.) memakai kurung tutup tanpa titik.
(5) Butir uraian atau contoh dibedakan atas butir hirarkis dan butir non hirarkis sama dengan alternatif pertama dan kedua.

Contoh
B. Cara Merujuk dan Mengutip dan Menulis Daftar Rujukan

1. Cara Merujuk/Mengutip

Perujukan dilakukan dengan menggunakan nama akhir dan tahun di antara tanda kurung. Jika ada dua penulis, perujukan dilakukan dengan cara menyebut nama kahir kedua penulis tersebut. Jika penulisnya lebih dari dua orang, penulisan rujukan dilakukan dengan cara menulis nama pertama dan penulis tersebut diikuti dengan dkk. Jika nama penulis tidak disebutkan, yang dicantumkan dalam rujukan adalah nama lembaga yang menerbitkan, nama dokumen yang diterbitkan, atau nama koran. Untuk karya terjemahan, perjukan dilakukan dengan cara menyebutkan nama penulis aslinya.

a. Cara Merujuk Kutipan Langsung

Kutipan Kurang dari 40 kata
Kutipan yang berisi kurang dari 40 kata ditulis diantara tanda kutip (“……”) sebagian bagian terpadu dalam teks utama, dan diikuti nama penulis, tahun dan nomor halaman di dalam kurung. Lihat contoh berikut
Nama penulis disebut dalam teks secara terpadu.
Contoh:
Soebronto (1990:123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”.
Nama penulis disebut bersama dengan tahun penerbitan dan nomor halaman.
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar” (Subronto, 1990:123).
Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (‘…’)
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “terdapat kecendrungan semakin banyak ‘campur tangan’ pimpinan oerusahaan semakin rendah tingkat partisipasi karyawan di daerah perkotaan” (Soewignyo, 1991:101).

Kutipan 40 Kata atau Lebih
Kutipan yang berisi 40 kata atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang mendahului, ditulis 1,2 cm dari garis tepi sebelah kiri dan kanan, dan diketik dengan spasi tunggal. Nomor halaman juga harus ditulis.

Contoh:

Smith (1990:276) menarik kesimpulan sebagai berikut.

The ‘placebo effect’, which had been verified in previous studies, disappeared when behaviors were studied in this manner. Furthermore, the behaviors were never exhibited again, even when real drugs were administered.
Kutipan yang Sebagian Dihilangkan

Apabila dalam mengutip langsung ada kata-kata dalam kalimat yang dibuang, maka kata-kata yang dibuang dengan tiga titik.

Contoh:
“Semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah … diharapkan sudah melaksanakan kurikulum baru” (Manan, 1995:278).
Apabila ada kalimat yang dibuang, maka kalimat yang dibuang diganti dengan empat titik.

Contoh:
“Gerak manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara mata, tangan, atau bagian tubuh lain …. Yang termasuk gerak manipulatif antara lain adalah menangkap bola, menendang bola, dan menggambar” (Asim, 1995:315).

b. Cara Merujuk Kutipan Tidak Langsung

Kutipan yang disebut secara tak langsung atau dikemukakan dengan bahasa penulis sendiri ditulis tanpa tanda kutip dan terpadu dalam teks. Nama penulis dan bahan kutipan dapat disebut terpadu dalam teks, atau disebut dalam kurung bersama tahun penerbitnya.

Nama penulis terpadu dalam teks.
Contoh:
Salimin (1990:13) tidak menduga bahwa mahasiswa tahun ketiga lebih baik daripada mahasiswa tahun keempat.

Nama penulis disebut dalam kurung bersama tahun penerbitnya.
Contoh:
Mahasiswa tahun ketiga ternyata lebih baik daripada mahasiswa tahun keempat
(Salimin, 1990:13).

c. Cara Menulis Daftar Rujukan
Daftar Rujukan merupakan daftar yang berisi buku, makalah, artikel, atau bahan lainnya yangdikutip baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Unsur-unsur yang ditulis dalam daftar rujukan secara berturut-turut meliputi (1) nama penulis dengan urutan nama akhir, nama awal dan nama tengah, tanpa gelar akademik, (2) tahun penerbitan, (3) judul, termasuk anak judul (subjudul), (4) kota tempat penerbitan, dan (5) nama penerbit.

1) Rujukan dari Buku
Tahun penerbitan ditulis setelah nama penulis diakhiri dengan titik. Judul buku ditulis dengan hruf miring, dengan huruf besar pada awal setiap kata, kecuali kata hubung. Tempat penerbitan dan nama penerbit dipisahkan dengan titik dua (:).
Contoh:
Strunk, W.Jr & While, E.B. 1979. The Elements of Style (3rd ed.) New York: Macmillan.
Jika ada beberapa buku yang dijadikan sumber ditulis oleh orang yang sama dan diterbitkan dalam tahun yang sama pula, data tahun penerbitan diikuti oleh lambang a, b, c, dan seterusnya yang urutannya ditentukan secara kronologis.
Contoh:
Cornet, L. & Weeks, K. 1985a. Career Ladders Plans: Trends and Emerging Issues-1985.Atlanta, GA: Career Ladder Clearinghouse.
Cornet, L & Weeks, K. 1985b. Planning Career Ladders: Lesson from the States. Atlanta, GA: Career Ladder Clearinghouse.

2) Rujukan dari Buku yang Berisi Kumpulan Artikel (Ada Editornya)
Seperti menulis rujukan dari buku ditambah dengan tulisan (Ed.) jika ada satu editor dan (Eds) jika lebih dari satu editors dia natara nama penulis dan tahun penerbitan.

Contoh:
Letheridge, S. & Cannon, C.R. (eds.) 1980. Bilingual Education: Teaching English as a Second Language. New York: Praeger.
Aminuddin (ed.) 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3.

Rujukan dari Artikel dalam Buku Kumpulan Artikel (Ada Editornya)

Nama penulis artikel ditulis di depan diikuti dengan tahun penerbitan. Judul artikel ditulis tanpa cetak miring. Nama editor ditulis sperti menulis nama biasa, diberi keterangan (Ed.) bila hanya satu editor dan (Eds) bila lebioh dari satu edotor. Judul buku kumpulannya ditulis dengan hruf miring, dan nomor halamannya disebutkan dalam kurung.
Contoh:
Hasan, M.Z. 1990. Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam Aminuddin (Ed.) Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra (hlm.12-25) Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3.

3) Rujukan dari Artikel dalam Jurnal

Nama penulis ditulis paling depan diikuti dengan tahun dan judul artikel yang ditulis dengan cetak biasa, dan huruf besar pada tiap awal kata. Nama jurnal ditulis dengan cetak miring, dan huruf awal dari setiap katanya ditulis dengan huruf besar kecuali kata hubung. Bagian akhir berturut-turut ditulis jurnal tahun ke berapa, nomor berapa (dalam kurung), dan nomor halaman dari artikel tersebut.

Contoh:
Hanafi, A. 1989. Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengadopsian Inovasi. Forum Penelitian, 1 (1):33-47.

4) Rujukan dari Artikel dalam Majalah atau Koran

Nama penulis ditulis paling depan, diikuti oleh tanggal, bulan, dan tahun (jiuka ada) Judul artikel ditulis dengan cetak biasa, dan huruf besar pada tiap awal kata, kecuali kata hubung. Nama majalah ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf pertama setiap kata dan dicetak miring. Nomor halaman tersebut pada bagian akhir.

Contoh:
Huda, M. 13 November, 1991. Menyiasati Krisis Listrik Musim Kering. Jawa Pos, hlm.6

Suryadarma, S.V.C. 1990. Prosessor dan Interface: Komunikasi Data.. Info Komputer, IV (4): 46-48.

5) Rujukan dari Koran Tanpa Penulis

Nama koran ditulis bagian awal. Tanggal, bulan, dan tahun ditulis setelah nama koran, kemudian judul ditulis dengan huruf besar-kecil dicetak miring dan diikuti dengan nomor halaman.

Contoh:
Jawa Pos. 22 April. 1995. Wanita Kelas Bawh Lebih Mandiri, hlm.3.

6) Rujukan dari Dokumen Resmi Pemerintah yang Diterbitkan oleh Suatu Penerbit
Tanpa penulis dan Tanpa lembaga

Judul dan nama dokumen ditulis di bagian awal dengan cetak miring, diikuti tahun penerbitan dokumen, kota penerbit, dan nama penerbit.

Contoh:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta: PT Armas Duta Jaya.

Rujukan dari Lembaga yang Ditulis Atas Nama Lembaga Tersebut

Nama lembaga penanggungjawab langsung ditulis paling depan, dikuti dengan tahun, judul karangan yang dicetak miring, nama dan tempat penerbitan, dan nama lembaga yang bertanggungjawab atas penerbitan karangan tersebut.

Contoh:
Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1978. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.

7) Rujukan Berupa Karya Terjemahan

Nama penulis Asli ditulis paling depan, diikuti tahun penerbitan karya asli, judul terjemahan, nama penerjemah, tahunterjemahan, nama tempat penerbitan, dan nama penerbit teejemahan. Apa bila tahun penerbitan buku asli tidak dicantumkan, ditulis dengan kata tanpa tahun.

Contoh:
Ary, D., Jacobs, L.C. & Razavieh, A. Tanpa Tahun. Pengantar penelitian Pendidikan. Terjemahan oleh Arif Furcha.1982. Surabaya: Usaha Nasional.

8) Rujukan Berupa Skripsi, Tesis, atau Disertasi

Nama penulis ditulis paling depan, diikuti tahaun yang tercantum pada samapul, judul skripsi, tesis atau disertasi ditulis dengan cetak miring diikuti denagan pernyataan skripsi,tesis, atau desertasi yang tidak terbitkan, nama kota tempata perguruan tinggi dan nama fakultas serta nama perguruan tinggi.
Contoh:

Pangaribuan, T. 1992. Perkembangan Kompentensi Kewacanaan Pembelajar Bhs. Inggris di LPTK. Desertasi tidak diterbitkan di Malang: Program Pascasarjana IKIP MALANG.

9) Rujukan Berupa Makalah yang Disajikan dalam Seminar, Penataran atau Loka Karya

Nama penulis ditulis paling depan, dilanjutkan dengan tahun, judul makalah dicetak miring, kemudian diikuti pernyataan “Makalah disajikan dalam …” nama pertemuan, lembaga penyelenggara, tempat penyelenggaraan, dan tanggal serta bulannya.

Contoh:
Huda, N. 1991. Penulisan Laporan Penelitian untuk Jurnal. Makalah disajikan dalam loka karya penelitian tingkat dasar bagi dosen PTS dan PTN di Malang Angkatan XIV, Pusat Penelitian IKIP Malang, Malang 12 Juli.

10) Rujukan dari Internet berupa Karya Individual

Nama penulis ditulis seperti rujukan dalam bahan cetak, ditulis secra berturut-turut oleh tahun, judul karya tersebut, (dicetak miring) dengan diberi keterangan dalam kurung (Online), dan diakhiri dengan alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.

Contoh:
Hitcock, S., Carr, L. & Hall, W. 1996. A Survey of STM Online Journals, 1990-95: The Calm before the storm, (Online), (Http://journal.ecs.soton.ac.uk/survey/survey.html, daikses 12 Juni 1996).

11) Rujukan dari Internet berupa Artikel dari Jurnal

Nama penulis ditulis seperti rujukan dalam bahan cetak, ditulis secra berturut-turut oleh tahun, judul karya tersebut, (dicetak miring) dengan diberi keterangan dalam kurung (Online), Nama penulis ditulis seperti rujukan dalam bahan cetak, ditulis secra berturut-turut oleh tahun, judul karya tersebut, (dicetak miring) dengan diberi keterangan dalam kurung (Online), volume dan nomor, dan diakhiri dengan alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.

Contoh:
Kumaidi.1998. Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya. Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online,) Jilid 5, No.4 (http://www.mlng.ac.id,diakses 20 Januari 2000).

12) Rujukan dari Internet Berupa E-mail Pribadi

Nama pengirim jika ada dan disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail pengirim), diikuti secara berturut-turut oleh tanggal, bulan, tahun, topik isi bahan (dicetak miring), nama yang dikirimi disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail yang dikirim).

Contoh:
Naga, Dali S. (kip-jkt@indo.net.id). 1 Oktober 1997. Artikel untuk JIP. Email kepada Ali Sauka (jippsi.ywcn.or.id).