ARSIP BULANAN : June 2013

50 TAHUN UNG: Bukan Tahun Emas Tapi Tahun Pertaubatan

27 June 2013 08:44:49 Dibaca : 230

 

Apakah benar 50 tahun UNG sebagai tahun emas yg menandai sebagai tahun kejayaan…???

 

Pertanyaannya adalah karya besar apakah yg membuat UNG jaya atau dengan menggenapi usia 50 ini disebut dengan tahun emas…???

 

Adakah karya yang membuat kita mahasiswa bangga dengan kampus UNG yang bisa kita jual dan tunjukkan kepada masyarakat, Apakah dengan bangunan-banguan yg bertingkat elit, mahal dan mewah disebut sebagai bentuk kejayaan UNG…???

 

Terus apakah dengan bangunan yang elit berbanding lurus dengan hasil kreativitas mahasiswa…???

 

Bisa kita lihat realitanya bahwa semua hanya symbol yang tidak berisi akan kreativitas mahasiswa. Dengan kata lain bangunan yang elit membunuh kreativitas mahasiswa. Buktinya bangunan yang elit yang di bangunan dari uang mahasiwa sebagai sumber pendanaan terbesar sulit sekali menggunakan bangunan-bangunan itu dan sering sekali di halang-halangi dengan dalil IZIN. Apakah gedung yang di bangun dengan uang kita (mahasiswa) harus perlu meminta izin untuk menggunakananya…?? Bukankah gedung itu milik kita karna di bangun menggunakan uang dari biaya pembangunan yang dipungut pada saat kita masuk…??? Bukan dengan pemberitahuan saja sudah cukup sebagai penanda bahwa ruangan ini akan di pakai..?? Ironi memang, kita tidak menjadi Tuan untuk milik kita. Lantas dimana pembangunan kreativitas mahasiswa jika semua di rampok oleh birokrat kampus...??? Bukankah ini kerakusan kebijakan…?? Rakus dalam membunuh potensi ilahiya yang ada dalam JIWA mahasiswa. BENAR,,, jika peradaban itu selalu ditandai dengan bangunan-bangunan yang super, tapi jika itu ukurannya maka birokrat kampus salah total, mengapa salah total..?? Karena sejatinya kampus membangun peradaban kemanusiaan atau membangun karya yg besar dari mahasiswa bukan dengan bangunan yang elit. Tridarma perguruan tinggi sangat jelas berbicara bahwa objek pembangunan kampus adalah pembangunan kapasitas, kapabilitas dan integritas mahasiswa bukan pembangunan fisik. Kampus kita gagal total membangun nilai-nilai kemanusian. Bagaimana tidak, tukang pangsit yang hanya nebeng rezki di dalam area kampus harus angkat kaki dan tidak bisa berjualan di dalam kampus hanya karena dengan alasan mengganggu keindahan tata kelola kampus. Apapun alasanya nilai kemanusiaan tidak bisa tergusur hanya karena alasan yang di buat-buat. INI BUKTI BAHWA PERADABAN DI UNG TERSELUBUNGI OLEH KEBIADABAN.

 

Semestinya 50 tahun UNG bukan sebagai tahun emas tetapi tahun Pertaubatan, mengapa demikian….???

 

kita tahu bersama emas itu harganya mahal dan hanya orang-orang yg berada di kelas ekonomi menengah keatas yg mampu membeli dan menggunakannya. Ini sama artinya bahwa mahasiswa baru harus membayar mahal untuk masuk dan mendaftar di UNG dan yg bisa masuk hanya orang-orang yg memiliki ekonomi menengah keatas, dengan kata lain ORANG MISKIN DILARANG KULIAH DI UNG. Bisa saja dengan kemahalan biaya kuliah di UNG para birokrat berlindung pada pemberian beasiswa. Tapi, apakah semua mahasiswa mendapatkan uang beasiswa…??? ini pertanyaan yg mudah, tapi tidak bisa dijawab oleh pada birokrat kampus. jadi 50 tahun UNG bukan lagi menjadi tahun emas tetapi sebagai tahun penjajahan, oleh karna itu kami menyarankan dalam tulisan ini untuk mengevaluasi kembali moto itu. 50 tahun UNG Bukan tahun emas tapi sebagai tahun pertaubatan. Taubatan dalam artian kembali jalan yang benar. Kembali pada peningkatan kualitas mahasiswa, kembali memurahkan perkuliahan, kembali membangun karya kebesaran gorontalo dan kembali membangun KREATIVITAS MAHASISWA YANG MANDUL dan kembali pada nilai-nilai kemanusian dan kemahasiswaan. 

 

By: MR (Aply) & MCD (Ica)

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong