ARSIP BULANAN : December 2014

Fakta Anak Teknik

19 December 2014 18:34:53 Dibaca : 87

1. Anak Teknik, WOW

Yup, bukannya menyombongkan diri nih tapi setelah survey di beberapa orang memang nih banyak yang menilai jika anak teknik merupakan anak yang WOW. Mengapa bisa WOW? yap, karena jika kamu telah memasuki jurusan teknik maka hal pertama yang harus kamu keluarkan ialah biaya. Biasanya nih, biaya yang kamu keluarkan di atas rata-rata fakultas umum lainnya dan terkenal mahal. Yang kedua ialah, persaingan yang sangat ketat untuk menduduki kursi teknik terutama pada teknik Informatika. Jadi sangat luar biasa kamu yang telah berhasil memasuki jurusan itu.

2. Paling Banyak Tugas dan Praktikum

Selain kedokteran nih, ternyata anak teknik adalah salah satu penyumbang terbanyak dalam hal praktikum terutama nih mahasiswa D3. Biasanya kalo temen fakultas lain pulang, eh anak teknik sendiri yang masih nongkrong di lab buat praktikum ato di perpus buat ngerjain tugas. Berangkatnya pagi sendiri, bisa-bisa pulangnya telat sendiri kawan, Nasib.. nasib...

3. Kaum Adam Berjaya 

udah jadi perbincangan umum nih kalo bisanya fakultas teknik itu mayoritas ialah kaum adam alias cowok. Nah, ada beberapa tanda tanya nih, kenapa ya? Biasanya nih kawan, terutama teknik elektro ato mesin kan kerjanya tuh berat ya jadi jarang ada kaum hawa yang mau bisa-bisa nih tangan jadi kasar, hehe Namun hal itu berlaku beberapa tahun yang lalu. Perkembangan zaman saat ini menjadikan kaum hawa tersebar diseleuruh plosok fakultas termasuk teknik. Kasian juga kalo adam semua, tar yang ada jadi hombreng.. :)

4. Paling Lama Lulusnya

untuk yang satu ini udah bukan jadi rahasia lagi deh. Coba liat temen kamu yang seangkatan tapi dari fakultas lain, pasti tu sebelum 4 tahun aja udah bayak yang lulus, nah kalo teknik?? ada sih tapi beberapa aja dari satu angkatan.

5. Anak Teknik Gak Bisa Coding

Untuk yang satu ini biasanya dialami oleh anak dari jurusan teknik informatika dan industri. Yup, banyak dari teman yang telah nyemplung (masuk) ke dalam jurusan ini dan mereka akhirnya stress karena tidak menguasai coding atau biasa disebut bahasa pemrograman. Dan, apa yang terjadi? angka mahasiswa keluar atau pindah jurusan semakin banyak. Jadi jika kamu telah memilih jurusan ini maka komitmen sangat dibutuhkan.

Ciri-ciri Orang yang sedang berbohong

19 December 2014 18:20:07 Dibaca : 96

Cara dan ciri yang akan disampaikan berikut bukan tanpa dasar. Jika anda mengamati dan gemar menonton film, sinetron, drama, atau acara apapun yang dibalut dengan akting, pasti anda sepakat bahwa semua yang dilakukan para aktor/aktris adalah berbohong. Benar kan? Mereka tidak sedang menjadi diri mereka sendiri dan memerankan tokoh serta cerita yang dibuat. Ada yang meyakinkan, ada pula yang meragukan. Nah, berdasarkan sedikit dari apa yang saya pelajari dalam dunia teater serta psikologi, berikut cara mengetahui orang berbohong:

1. Ketahuilah cara dia biasanya berbicara

Sebagai seorang teman, anda pasti mengetahui cara biasanya sahabat atau orang yang anda kenal ketika berbicara. Ada hal-hal yang khas dari setiap orang ketika mengujarkan sesuatu, baik ketika sedih, senang, marah, dan lain sebagainya. Biasanya ciri ini juga diikuti dengan gesture khusus, seperti gerak bibir, tangan, badan, mata, alis dan lain sebagainya yang satu sama lain memiliki perbedaan. Cara-cara yang tidak sama dengan cara yang biasanya dilakukan ketika berbicara bisa menjadi petunjuk awal.

2. Perhatikan tekanan-tekanan dalam pola bicaranya

Seseorang yang berada dalam tekanan dan desakan psikologis juga mengalami tekanan fisik tertentu sebagai imbasnya. Misalnya detak jantung yang meningkat dan aliran darah yang cepat. Hal ini mempengaruhi aktivitas fisik lainnya, dalam hal ini adalah aktivitas berbicara. Orang yang berbohong cenderung memiliki nada bicara dan tekanan yang tidak wajar. Hal ini dikarenakan oleh tekanan serta pertimbangan pikiran yang tarik ulur dalam menyatakan kebohongan. Pada dasarnya, menyatakan kebohongan adalah hal yang secara alamiah akan memberikan tekanan sekaligus pada kondisi psikologi, fisik, serta mental. Oleh karena itu, tekanan yang muncul lebih besar,

3. Lihatlah beberapa pertanda dan gesture (gerak-gerik) khusus yang muncul.

Berikut ini adalah beberapa pertanda dan gesture yang seringkali dijumpai pada orang yang sedang berbohong;

Gerak tubuh yang minim atau sama sekali tidak bergerak atau justru bergerak secara berlebihan. Orang yang sedang berbohong cenderung 'membeku', tidak sering berhadapan dengan lawan bicara,dan berusaha meminimalisasi gerak tubuhnya. Ada pula yang justru bergrak secara berlebihan. Semua itu adalah usaha untuk menghindari munculnya tanda-tanda bahwa dia sedang berbohong. Namun, hal ni justru juga bisa menjadi petunjuk bahwa seseorang sedang berbohong.Tidak ada kontak mata. Orang sedang berbohong seringkali menghindari kontak mata. Secara naluriah, dia akan menghidari tatapan mata lawan bicaranya. Kontak mata dalam berbicara merupakan pendukung dan juga menyimpan informasi tambahan ketika berbicara. Dengan melakukan kontak mata, seseorang yang sedang dibohongi akan menangkap signal informasi yang tidak sinkron dengan apa yang diucapkan. Itulah mengapa kemudian ada juga ilmu ilmiah membaca pikiran orang lain melalui kontak mata.Gesture bagian tubuh lain yang menunjukkan rasa tertekan. Misalnya mengkukur2, memainkan kuku jari, mengedipkan mata secara berlebihan, menelan ludah berkali-kali, dan gerakan lain yang dilakukan berulang-ulang. Perasaan takut, gugup, tidak nyaman, serta bayangan tentang apa yang akan terjadi jika dia diketahui berbohong akan membuat orang mengalami tekanan yang tinggi dan melakukan hal-hal yang sebenarnya menunjukkan kegelisahan.Melihat ke bagian kanan atas. Melihat ke arah ini diasosiasikan sebagai usaha untuk memperkerjakan dan mengolah otak kanan untuk memunculkan imajinasi, yaitu usaha untuk membuat jalinan cerita berdasarkan apa yang telah diceritakannya. Sebaliknya, melihat ke bagian kiri disosiasikan sebagai usaha memanggil memori untuk menyatakan kebenaran/jalinan cerita yang sesungguhnya.Mata yang terbuka lebar dan memasang tampang innocent (tidak bersalah). Kebiasaan di masa kecil yang masih kita bawa sekarang adalah membuka mata selebar-lebarnya dan membuat tampang innocent, seolah-olah hendak berkata, "Siapa? ....Aku yang bersalah?!" Hal ini sering kita lakukan pada saat kecil dulu ketika mama memergoki ada sebungkus roti gede yang hilang dari kulkas. !(^^)Bicara yang tersendat-sendat (paused). Tidak semua orang memiliki bakat yang besar dalam membuat cerita serta berbicara dengan lancar pada saat berbohong. Sehingga, seringkali ditemui pembicaraan yang dihentikan sejenak dan dalam tempo yang tidak wajar. Biasanya terjadi ketika suatu bagian cerita bohong hendak dilontarkan, yaitu ketika dia sedang berusaha mengarang suatu jalinan cerita. Di sinilah biasanya cerita yang disampaikan mulai tidak konsisten dan berubah-ubah.Menyentuh hidung dan menutup wajah atau mulut. Ini juga merupakan bawaan sejak kecil, yang merupakan respon reflektif ketika seseorang ingin menutup-nutupi sesuatu.Nada bicara yang tinggi. Orang yang berbohong cenderung menaikkan nada bicara. Baik karena sebagai usaha menegaskan informasi yang disampaikan, emosi yang meningkat, maupun tekanan yang tinggi. Hal ini akan sangat mudah diketahui apabila anda telah mengenal kebiasaan berbicara lawan bicara.

4. Mengurangi/menghilangkan informasi yang harus disampaikan.

Berbohong tidak hanya dengan mengucapkan hal yang tidak sebenarnya, namun juga dengan menghilangkan informasi yang seharusnya dikatakan pada lawan bicara. Indikasi ini sebenarnya justru lebih mudah diketahui karena biasanya jalinan informasi/atau cerita yang disampaikan menjadi tidak utuh dan menimbulkan banyak pertanyaan. Pertanda-pertanda tersebut di atas masih tetap akan muncul. Setelah menyampaikan informasi dengan gaya yang meyakinkan, dia akan melakukan gesture-gesture tertentu, misalnya menyentuh hidung atau menutup mulut/wajah.

5. Tanyailah orang yang anda duga berbohong.

Tentu saja cara ini juga akan mengundang resiko besar. Apabila, ternyata lawan bicara anda tidak berbohong, maka cara ini akan membawa dampak buruk. Oleh karena itu, pergunakan cara ini juka anda telah mendapatkan banyak pertanda di atas dan anda yakin benar bahwa lawan bicara anda telah berbohong. Akan tetapi, membiarkan dan tidak menanyai orang yang sedang berbohong pun juga akan berdampak sangat buruk, terutama bagi si pelaku. Oleh karena itu, cara ini juga merupakan solusi agar si pelaku kebohongan mengaku dan masalah kemudian dapat dicarikan solusi untuk diselesaikan.

6. Gunakan Intuisi.

Percaya atau tidak, manusia diciptakan memiliki intuisi. Selain itu, manusia diciptakan untuk mengatakan kebenaran. Oleh karena itu manusia pada dasarnya susah untuk melakukan kebohongan dan sulit untuk dibohongi. Intuisi sama sekali berbeda dengan nafsu, karena nafsu berkaitan dengan keinginan, sehingga bersifat subjektif. Sedangkan intuisi bersikap objektif dan tidak berdasarkan dengan keinginan. Jadi merasa dibohongi dan berprasangka dibohongi tidaklah sama. Sebelum meyakini diri anda dibohongi, tanyakanlah pada diri anda apakah ini karena prasangka ataukah karena intuisi anda. Meskipun anda pada akhirnya tidak tahu apakah anda dibohongi dengan adanya bukti, tapi setidaknya anda tahu bahwa seseorang sepertinya sedang berbohong pada anda sehingga anda tidak akan mempercayainya begitu saja.

Kecerdasan Emosional

19 December 2014 18:15:08 Dibaca : 55

Topik di atas menarik untuk saya tuliskan sebagai pengisi ruang yang agak luang dalam aktivitas saya. Topik ini terpilih secara kebetulan karena munculnya sekian banyak fenomena yang menunjukkan bahwa banyak di antara para pemimpin di sekitar kita yang tidak memahami secara mendalam filosofi kepemimpinan itu sendiri. Suatu ketika, secara kebetulan saya mengunjungi salah seorang teman di tempat kerjanya. Karena posisi teman di kantor itu lumayan strategis, maka saya di terima di ruang tamu pimpinan yang saat itu kebetulan sedang mempersiapkan suatu event besar. Saya berpikir acara tersebut memang sangat penting, terlihat dari suasana para staf perusahaan itu yang super sibuk. Namun, saya terhentak ketika manajer bidang keuangan perusahaan itu mencak-mencak di depan jajaran direksi gara-gara koordinasi pembagian honor para stafnya yang dia anggap tidak becus menyusun administrasi keuangan. Soal mencak-mencaknya menurut saya wajar saja sebagai pemegang kendali di bidang keuangan, tetapi menjadi kurang patut karena yang bersangkutan tidak mampu secara cerdas menggunakan kalimat yang tepat di depan dewan direksi.

Leadership is all about relationship, sedangkan membangun dan merawat relasi/hubungan dengan baik dibutuhkan kecerdasan emosi. Karena itu, seorang pemimpin tanpa kecerdasan emosi yang baik akan sulit mendapatkan kepercayaan pengikutnya, bahkan mereka mungkin menjauhinya. Karena itu, mustahil membangun kepemimpinan efektif tanpa adanya kecerdasan emosi. Hal inilah yang pernah dinyatakan oleh Shankman dalam “Emotionally Intelligent Leadership” (2008), ada tiga kesadaran yang harus dilatih para pemimpin yang ingin mengembangkan kecerdasan emosionalnya: kesadaran akan diri, kesadaran akan orang lain, dan kesadaran akan konteks. Kesadaran akan diri menuntut kita jujur mengenali emosi diri. Kesadaran akan orang lain mengharuskan kita memperhatikan karakter setiap anggota organisasi atau pemimpin dalam organisasi. Kesadaran akan konteks menuntut kita mengenali lingkungan, budaya ataupun norma tempat kita bekerja.

Banyak orang tidak memiliki kesadaran akan orang lain dan konteks. Hal itu membuat mereka gagal memimpin, karena mereka berpikir bahwa cara memimpin yang sama di masa lalu bisa diterapkan pada masa kini. Biasanya orang tersebut mulai menyalahkan keadaan atau menyalahkan anggotanya. Dengan memiliki kesadaran akan diri, orang lain dan konteks seorang pemimpin mudah membagi nilai dan visi kepada anggota-anggotanya, karena mereka memahami bagaimana cara menyampaikan nilai dan visi tersebut kepada para anggota, terlebih sekadar meminta partisipasi anggota-anggotanya. Karena itu, kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor kepemimpinan efektif.

Pemimpin perlu mengelola suasana hati organisasinya. Pemimpin yang paling berbakat melakukan hal itu dengan menggunakan suatu campuran misterius berbagai kemampuan psikologis yang disebut kecerdasan emosi. Mereka sadar diri dan berempati. Mereka dapat membaca dan mengatur emosi dirinya sementara secara intuitif menangkap bagaimana perasaan orang lain dan mengukur keadaan emosi organisasinya. Kecerdasan emosi sebagian merupakan fungsi bawaan genetik, sebagian adalah pengalaman hidup, dan sebagian lagi adalah pelatihan. Kecerdasan emosi berbeda-beda tingkatnya antara satu pemimpin dan yang lain, dan manajer menerapkannya dengan ketrampilan yang berbeda-beda pula. Kalau dipergunakan dengan bijak dan simpatik, kecerdasan emosi akan memacu pemimpin, orang-orangnya, dan organisasinya hingga mencapai kinerja yang luar biasa. Sebaliknya, kalau dipergunakan secara naif dan melenceng, kecerdasan emosi dapat melumpuhkan pemimpin atau memungkinkan mereka memanipulasi para pengikutnya untuk kepentingan pribadi. Sadar diri adalah ketrampilan-kunci dari kecerdasan emosi yang ada di belakang kepemimpinan yang baik.

Sejarah Amerika telah menunjukkan bahwa kecerdasan emosi bukan hanya merupakan komponen mutlak dari kepemimpinan politik, tapi juga bahwa kecerdasan itu bisa ditingkatkan melalui usaha keras terus menerus. George Washington harus bekerja keras mengendalikan temperamen pemarahnya sebelum ia menjadi model untuk negara itu, dan Abraham Lincoln harus mengatasi sifat melankolisnya sebelum akhirnya dapat memperlihatkan penampilan berani dan hangat yang menjadi magnet bagi orang lain. Kita juga bisa menjadi pemimpin yang baik kalau kita tahu seni membuat orang lain bekerja luar biasa. Untungnya, kecerdasan emosi itu bisa dipelajari. Pemimpin yang punya motivasi untuk meningkatkan kecerdasan emosinya dapat melakukannya apabila mereka diberi informasi yang benar, panduan, dan dukungan. Informasi yang dibutuhkan itu adalah penilaian yang jujur terhadap kekuatan dan kelemahannya oleh orang yang mereka kenal dengan baik dan yang pendapatnya mereka percaya. Panduan yang diperlukan adalah rencana pengembangan yang spesifik yang menggunakan pertemuan di tempat kerja alami sebagai laboratorium untuk bercakap-cakap ketika praktek tentang cara menangani berbagai situasi, tentang apa yang mesti dilakukan kalau mereka telanjur merusak situasi itu, dan bagaimana menarik pelajaran dari persoalan itu. Apabila seorang pemimpin memanfaatkan sumberdaya ini dan mempraktekkannya terus, ia akan dapat mengembangkan ketrampilan kecerdasan emosi yang spesifik – ketrampilan yang akan bertahan bertahun-tahun.