Tentang Bidikmisi

08 March 2013 10:33:32 Dibaca : 206

Bidikmisi adalah program bantuan biaya pendidikan yang diberikan Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun 2010 kepada mahasiswa yang memiliki potensi akademik memadai dan kurang mampu secara ekonomi.

Bidikmisi merupakan program 100 Hari Kerja Menteri Pendidikan Nasional yang dicanangkan pada tahun 2010. Perguruan tinggi yang mendapat bantuan Bidikmisi yaitu perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama. Pada tahun 2011 mahasiswa baru penerima Bidikmisi bertambah menjadi 30.000 di 117 perguruan tinggi negeri dengan adanya tambahan anggaran dari APBN-Perubahan. Pada tahun 2012 ini Bidikmisi dilanjutkan dikembangkan menjadi 30.000 calon mahasiswa penerima yang diselenggarakan di 87 perguruan tinggi negeri dibawah Kemdikbud dan program Bidikmisi yang dikelola oleh Kementerian Agama.

Program ini mempunyai misi untuk menghidupkan harapan bagi masyarakat kurang mampu dan mempotensi akademik memadai untuk dapat menempuh pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi.

Bantuan yang diberikan dalam program ini terdiri atas Bantuan biaya hidup yang diserahkan kepada mahasiswa sekurang-kurangnya sebesar Rp600.000,00 (enam ratus ribu rupiah) per bulan yang ditentukan berdasarkan Indeks Harga Kemahalan daerah lokasi PTN dan Bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan yang dikelola PTN sebanyak-banyaknya Rp2.400.000,00 (dua juta empat ratus ribu rupiah) per semester per mahasiswa.

 

http://bidikmisi.dikti.go.id/

Ada Apa dengan Bidik Misi ?

08 March 2013 10:30:12 Dibaca : 256

Bidik Misi adalah beasiswa yang diberikan pemerintah untuk calon mahasiswa yang kurang biaya untuk tetap bisa melanjutkan kuliah di PTN pilihan, bahkan tahun ini juga dibuka untuk PTS.

Sejatinya, para mahasiswa penerima beasiswa bidik misi ini mempunyai semangat belajar tinggi sehingga nilai akademis tidak boleh kurang dari yang telah ditentukan, walaupun memang banyak hambatan lain yang menyebabkan nilai tidak beranjak naik, salah satunya keseringan mangkir tersebut.

Menurut Dedi Gumelar (6/6), para penerima bidik misi seharusnya dites secara akademik sehingga nilai akademiknya tidak boleh rendah.

Rektor UNJ, Bedjo Sujanto (7/7) mengatakan bahwa Beasiswa Bidikmisi ini terbuka untuk semua pelajar karena ingin membuka akses yang luas bagi semua orang. Mereka tidak harus brilian, yang penting masuk dalam kategori miskin dan memiliki kemampuan untuk mengikuti proses perkuliahan.

Penerimaan mahasiswa program bidik misi sendiri mengikuti proses yang sama dengan program regular lainnya, baik yang mengajukan melalui jalur undangan maupun ujian tulis dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Bahkan ujian mandiripun bisa menggunakan program ini. Artinya, penyeleksian tes ini sudah mengikuti standar pengetesan kemampuan akademik calon mahasiswa. Permasalahan selanjutnya ada pada kemauan si mahasiswa penerima bidik misi, bagaimana dia mampu meneruskan semangat dan menaikkan nilai akademis untuk melanjutkan pendidikannya.

Setelah lulus ujian, calon mahasiswa harus mengalami pengecekan kembali atau verifikasi apakah benar data-data yang telah diberikannya. Pengecekan salah satunya menyangkut status kemiskinannya. Jika tidak terpenuhi, maka hak beasiswa akan dicabut dan diberikan kepada mahasiswa lain yang memang membutuhkan bantuan beasiswa.

 

http://edukasi.kompasiana.com

Mengapa Mahasiswa Penerima Bidik Misi Lengah ?

08 March 2013 10:29:02 Dibaca : 169

Lengahnya mahasiswa penerima bidik misi dimungkinkan karena memang rendahnya motivasi si penerima beasiswa untuk melanjutkan kuliah, atau bisa jadi kesibukannya mencari tambahan penghasilan dan factor keuangan lainnya, atau memang tidak punya dukungan eksternal dari keluarga dan lingkungan untuk dapat melanjutkan kuliah. Salah satu sebab ini saya dapatkan kisahnya dari seorang teman pada tahun 2010 yang lalu.

Teman ini memberitahukan bahwa tetangganya tiba-tiba mengabarkan bahwa anaknya telah kehilangan kesempatan bidik misinya karena dia tidak kunjung daftar ulang. Mengapa tidak daftar ulang? Hal pertama yang yang menjadi penyebabnya adalah dia tidak tahu alur selanjutnya dan apa yang harus dilakukan setelah tes masuk dinyatakan lulus. Yang kedua, tidak ada dukungan keluarga untuk memberikan motivasi bagi penerima beasiswa ini untuk melanjutkan kuliah. Keluarga merasa tetap khawatir akan biaya kuliah yang tinggi. Ketiga, pihak sekolah lepas tangan akan calon mahasiswa yang sudah dinyatakan lulus dan harus melakukan verifikasi. Setidaknya, kemiskinan memang kadang membuat siswa merasa rendah diri dan tidak berani melakukan hal-hal baru. Dukungan sekolah dalam hal ini menjadi hal yang paling penting untuk mengantarkan siswa miskin ke bangku kuliah. Bukankah beasiswa bidik misi ditujukan salah satunya untuk memutus rantai kemiskinan ?

 

http://edukasi.kompasiana.com

Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)

08 March 2013 10:22:43 Dibaca : 220

HITI adalah organisasi profesi, merupakan wadah ahli-ahli bidang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tanah. Organisasi ini berazaskan Pancasila dan berdasarkan UUD 45. Sejak didirikan 18 Juli 1972 di Jakarta, HITI senantiasa mendukung perwujudan cita-cita Bangsa Indonesia seperti yang dinyatakan dalam Mukadimah UUD 45, yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tanah merupakan sumberdaya alam yang mempunyai karakteristik spesifik, secara langsung memberikan kehidupan bagi makhluk hidup termasuk manusia. Tanah sebagai komponen dasar sistem penyangga – kehidupan (life support system), sehingga eksistensinya sangat vital bagi kehidupan. Bagi bangsa Indonesia tanah dipandang sebagai karunia Tuhan yang Maha Esa, yang hubungan tanah dengan masyarakat Indonesia sangat menentukan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, keberlanjutan dan harmoni bagi bangsa dan Negara Indonesia. Ilmu-ilmu tanah adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan dimensi dan nilai-nilai tanah bagi kehidupan, oleh karena itu maka ilmu-ilmu tanah merupakan modal pokok untuk peningkatan daya guna tanah dan berbagai komponen yang berhubungan dengan tanah untuk mendukung kehidupan dan kelestarian lingkungan hidup.

Tantangan kehidupan yang berhubungan dengan sumberdaya tanah saat ini semakin meningkat seperti yang ditunjukkan oleh semakin meningkatnya intesitas dan sebaran banjir dan longsor pada musim hujan, kekeringan dan kebakaran tanah pada musim kemarau, angin puting-beliung hampir setiap saat, perubahan iklim dsb.,membuahkan permasalahan ikutan seperti gagal panen, wabah penyakit, semakin rentannya ketahanan pangan dan energi, rusaknya infrastruktur pembangunan dsb. Kesemuanya itu bermuara pada permasalahan ekonomi, sosial, politik, pertahanan dan keamanan yang akhirnya berhubungan dengan pelemahan ketahanan nasional. HITI memiliki rasa tanggungjawab untuk berkontribusi dalam pengelolaan pertanahan nasional agar tanah bersama sumberdaya alam lainnya yang berkaitan, dapat digunakan atau diusahakan sebaik-baiknya untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat bangsa Indonesia selama-lamanya.

 

http://www.hiti.or.id

Sejarah ilmu tanah di Indonesia

08 March 2013 10:17:55 Dibaca : 210

Ilmu tanah di Indonesia Pertama diajarkan di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (merupakan kelanjutan dari Landbouw Hogeschool yang didirikan 1940, selanjutnya menjadi Institut Pertanian Bogor) oleh staf pengajar berkebangsaan Belanda, seperti Prof. Dr. Ir. F.A. van Baren (pakar agrogeologi dan mineralogi) dan Prof. Dr. H.J. Hardon (pakar ilmu tanah dan kesuburan tanah). Mereka kemudian digantikan oleh Drs. F.F.F.E. van Rummelen dan Dr. J. van Schuylenborgh. Akibat nasionalisasi, sejak tahun 1957 digantikan oleh Drs. Manus dan Dr. Ir. Tan Kim Hong. Penelitian tanah di Indonesia mulai saat Indonesia masih dalam kekuasaan kolonial Belanda oleh Dr. E.C.Jul. Mohr (1873–1970). Dr. Mohr yang bertugas di Indonesia sebagai kepala Laboratorium Voor Agrogeologie en Grond Onderzoek di Bogor (sekarang menjadi Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat) telah menjalankan survai di Indonesia sejak tahun 1920. Ia menerbitkan buku pentingnya tahun 1933[1]. Buku tersebut memaparkan iklim dan komposisi tanah di berbagai tempat di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Timor, Papua, Maluku, Halmahera, Kalimantan, dan Sulawesi. Versi yang disempurnakan diedarkan kembali pada tahun 1972[2]. Buku ini masih menjadi rujukan bagi pakar tanah di daerah tropika sampai sekarang.

 

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_tanah