TIGA KATA YANG TERLAMBAT

25 June 2013 23:02:03 Dibaca : 305 Kategori : peristiwa

cerita pendek ini karya dari randy namun saya meminta izin kepadanya agar cerita ini bisa di muat di postingan saya agar bisa bermanfaat bagi org banyak...

TIGA KATA YANG TERLAMBAT

Seperti biasa, suara tertawa ibuku terdengar nyaring di telinga. Aku pun mulai tak nyaman disertai konsentrasi yang semakin memudar. Sejenak aku berpikir, “Apa sih serunya sebuah sinetron di televisi? Apa lagi ceritanya selalu berakhir sama dengan pernikahan atau kematian si tokoh utama?” gumam aku sendiri. Namun, aku teringat akan tugas biologi yang belum aku selesaikan malam ini. Aku coba fokuskan mata ini pada tugas tersebut dan mematikan saluran telingaku dari suara-suara yang menggoda, termasuk suara tertawaan ibuku .

Hampir satu jam sudah aku duduk di depan meja belajar malam ini. Banyak buku biologi kelas IX yang tersebar merata di seluruh penjuru meja belajarku. Selain itu suasana mengantuk mulai menerpa tapi dibalik itu aku sedikit tersenyum puas karena tugas biologi ku sudah selesai.

“Alhamdulillah, sudah selesai…” Kataku dalam hati
“Randy…!” Panggil ibuku dengan nada bass tinggi
“Iya bu, Ada apa?” Jawab aku sambil membereskan buku yang berantakan di atas meja belajar
“Ini Hp mu ada sms.” Kata Ibu.
“Sebentar bu.” Aku menjawab sambil berjalan menuju ruang keluarga
Aku mengambil Hp ku yang berada di atas lemari kecil tak jauh dari tempat ibu menonton televisi. Terdapat 2 pesan masuk di Hp ku, setelah aku buka ternyata sms yang pertama dari Indosat dan sms yang kedua cuma nomor doang. Aku hapus langsung sms yang pertama tanpa membacanya.

“Maaf ganggu, PR biologi tu halaman berapa ya?” Tanya Seseorang yang punya nomor GJ di Hp ku.
“Ohh.., itu halaman 32-24.” Jawabku dengan mengirim pesan balik ke nomor itu.
“Ealaaahh, Ya sudah. Makasih ya.” Balasnya kemudian.
“Iya, sama-sama. Tapi ini nomornya siapa ya..?” Tanyaku heran.
“Ini aku, Tiya.” Jawabnya Singkat.

Akupun tidak membalas smsnya setelah itu karena aku sudah sangat mengantuk dan tidak menghiraukan sms yang masuk ke Hp ku.

Di sekolah seperti biasa, aku sering bertemu dengan Tiya. Maklum kami memang satu kelas. Tapi aku sering cuek ke dia, jadi tak pernah ada suasana yang spesial antara aku dan dia. Meski begitu aku tak dapat membohongi diriku kalau aku mengagumi dia. Apalagi dia adalah cewek yang pandai, rajin serta seorang Ketua Osis di sekolah ku. Namun sekali lagi aku tidak pernah berpikir untuk jadi seseorang yang spesial buat dia.

Cerita pun mulai berubah, semenjak Tiya sms aku pada malam itu, kami jadi sering sms-an tiap malam. Pertama sih saling tanya soal pelajaran, namun lama-lama kami jadi ketagihan dan mulai membahas di luar materi pelajaran. Semisal Hobi, Teman, Kesukaan dan lain-lain.

Pokoknya bisa dibilang mesra deh kalau kami sms-an, walau belum jadian.tapi, kedekatan diantara kami sudah seperti orang yang berpacaran.

Empat bulan berlalu, rasa suka terhadap Tiya pun tak bisa dibendung oleh hati ini. Ingin rasanya aku mengucapkan sejujurnya ke dia. Cuma 3 kata yang mungkin terlalu lama terhenti di kerongkongan ku. “AKU SUKA KAMU “. Kalimat itu yang hingga pada akhirnya belum aku ucapkan ke dia.

Waktu perpisahan sekolah pun telah tiba, pihak sekolah ku mengadakan perkemahan guna memberi kenangan terindah bagi para siswa-siswi kelas IX. Aku berpikir mungkin saat perkemahan itulah aku akan bisa menyatakan perasaan ku kepada Tiya yang selama ini sangat memeras tenaga karena terlalu lama ku pendam di hati.

Persiapan raga dan mental telah selesai aku rampungkan, lidah telah siap guna meluncurkan semua kata-kata yang indah hanya untuk dia, yakni Tiya. Aku bergegas menemui Tiya yang sedang berada di pos sekretariat perkemahan. Langkah demi langkah aku tapaki, walau belum jelas apa yang akan aku dapatkan darinya. Tapi aku yakin, aku harus mencoba untuk mengatakan hal itu ke dia.
Langkah terakhir dan aku telah berada di pos sekretariat perkemahan. Suasana disana cukup mendukung, tak banyak orang yang ada disana. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju ke tempat Tiya duduk.

“Tiya ...! Aku mulai membuka pembicaraan.
“Oh iya, ada apa Ran?” Jawab Tiya dengan senyum manisnya.
“Ehhhh… Bisa bicara sebentar nggak?” Kataku sedikit gugup.
“Emang mau bicara apa?” Katanya dengan sedikit heran.
“Sebenarnya aku…” Aku kembali gugup.

Kali ini aku benar-benar tak bisa mengatakan apa-apa. Lidahku seolah telah tenggelam dalam adonan semen yang cepat kering dan mengeras. Sementara dalam kebingunganku, Tiya masih menunggu apa yang akan aku bicarakan ke dia. Dahinya sedikit mengerut tanda bahwa dia benar-benar penasaran.

Pada malam itu Nazir datang ke rumahku untuk mengerjakan tugas bahasa indonesia. Setelah beberapa lama kami mengerjakan tugas akhirnya telah selesai. Kemudian aku menceritakan pada Nazir tentang perasaanku ke Tiya. “ingin rasanya aku mengatakan yang sebenarnya. Namun, entah ada angin apa .. ? mengapa setiap kali aku ingin mengatakan perasaan ini kepadanya mulutku seperti sedang terkunci dan gendang suaraku seperti telah menghilang serta perasaan yang tak menentu ketika berada di dekat Tiya. Menatap matanya saja aku tidak mampu apa lagi berbicara langsung dengannya .. !” kataku dengan nada yang sedikit marah demgan diriku sendiri. “Ran,sebaiknya besok kau utarakan saja perasaanmu ini kepadanya. Diterima atau ditolak itu urusan belakang asalkan kau sudah mengatakan yang sebernya kepada Tiya.” Kata Nazir sambil memegang bahuku dengan nada sedikit menyemangatiku. Setelah beberapa lama berbicara tak terasa malam sudah semakin larut. Nazir pun bergegas pulang ke rumahnya. Karena sudah di telepon oleh ibunya.

Keesokan harinya seperti biasa aku masuk sekolah lebih dulu dari mereka dengan perasaan sedikit tak sabar ingin melihat wajah sang pujaan hati. Beberapa menit kemudian Tiya datang.

“Heehh… Randy! Kok ngelamun?” Kata Tiya sambil menepuk tangan kiriku.
“Oh iya-iya, Maaf.” Aku tersadar kembali.
“Jadi, Mau bicara apa?”Tiya menanyakan kembali apa yang aku akan katakan padanya kemarin. Tanya dia dengan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa penasaran.
“Ngg…ggaak jadi deh. Lain kali aja”. Jawabku dengan nada lirih.
“Kalau gitu aku kembali dulu ke tenda.” Pintaku sambil memalingkan badan dan siap berjalan pergi
“Oh… yaudah kalau gitu. Salam buat Ahmad ya.” Jawabnya kepadaku.

Ditengah perjalanan menuju tenda, aku masih merenungi kejadian beberapa menit lalu. Seribu cemoohan dari dalam diriku sendiri terdengar sangat berisik. Benar dan tak salah jika aku harus mengakui kalau aku tak punya mental juara, yakni mental juara di hati wanita yang aku cinta.
Dalam renunganku tersebut, aku sedikit tersadar mengenai kalimat terakhir yang diucapkan Tiya kepadaku tadi. Terselip tanda tanya mengapa dia menitipkan salam kepada Ahmad? Apakah itu hanya salam biasa atau lebih? Apakah ada hubungan di antara mereka?.
Aku belum selesai menyimpulkan jawabanku ketika sosok pria mengagetkanku.

“Woyy.. Ada apa Ran?” Kata Maulana sembari memegang lenganku.
“Gak ada apa-apa.” Jawabku tak bersemangat.
“Ayolah jujur aja? Ada apa?.” Desak Maulana.
“Apa kamu tahu hubungan antara Tiya dan Ahmad?” Tanyaku ke dia.
“Hmmm.. aku tahu kamu suka ke Tiya, Ran. Kamu juga sudah sering cerita ke aku tentang rasamu itu. Tapi sekarang Tiya sudah jadian sama Ahmad.” Jelas Maulana kepadaku.
“Jadi, dugaanku benar. Aku terlalu terlambat.” Kataku dengan nada lirih sambil menahan nafas yang mulai tersendat-sendat.
“Sudahlah, Ambil hikmahnya aja. Lagi pula jodoh itu sudah diatur oleh-Nya.” Kata Nazir mencoba menyemangati aku.
“Tapi…” Aku ingin membantahnya, Namun Maulana langsung memotong pembicaraanku.
“Tak usah .. ! tapi, Kalau pun kamu membantah kata-kataku tadi, itu tak membantu. Tak akan mengubah keadaan. Justru kamu akan di pengaruhi oleh amarah. Sekarang ayo kembali ke tenda, kita istirahat dulu. Nanti sore kegiatan perkemahan sudah dimulai.” Kata Nazir yang penuh dengan kesabaran menegingatkan aku.
“Makasih” Jawabku pendek.

Hembusan angin malam terasa menyejukkan. Apalagi disertai alunan musik pop yang terdengar sangat nyaring bersama suara sorak-sorak para peserta perkemahan. Lapangan yang tadi siang bagaikan padang pasir tandus telah terisi oleh puluhan bahkan ratusan orang. Di depan mereka telah berdiri sebuah panggung megah guna acara pentas seni pada malam ini. Aku tak ikut menyaksikan acara tersebut, aku hanya diam di tenda dan hanya bertugas untuk menjaga tenda kelompokku. Rasa kecewa masih menyelimuti raga dan juga jiwaku. Walau mungkin penjelasan dari Maulana sudah cukup jelas kalau Tiya sudah menjalin hubungan dengan Ahmad, Tapi aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri. Tentang semua keputusan yang aku ambil ternyata tak ada yang memerdekakan hati ini. Pilihan untuk menutup mulut terhadap rasa cinta telah berdampak pada sebuah penyesalan yang tak ternilai derajatnya. Namun, Aku teringat bahwa itu semua adalah resiko. Tak ada sesuatu keputusan yang tak memiliki resiko, semuanya pasti punya. Hanya keberanian yang bisa meminimalkan resiko itu. Dan benar, hanya keberanian.

Tak terasa bulan pun mulai meninggi dan jam di tangan telah membentuk sudut 90 derajat pada jarum pendek menunjuk angka 9. Aku mulai berhenti berbicara dengan diriku sendiri. Akupun pada akhirnya mendapat kesimpulannya. Semua yang terlambat pasti di belakangnya ada sesuatu yang tepat untuk didapat. Itulah sepenggal kalimat yang mungkin bisa aku kembangkan untuk kedepannya. Dan untukmu Tiya, aku harap engkau bahagia bersama Ahmad. Semoga engkau bahagia dengan pilihanmu