kakao

11 October 2014 08:03:06 Dibaca : 1007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia, kakao mulia dihasilkan oleh beberapa perkebunan tua di Jawa, seperti di Kabupaten Jember yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara XII (Persero). Kultivar-kultivar penghasil kakao mulia berasal dari pemuliaan yang dilakukan pada masa kolonial Belanda, dan dikenal dari namanya yang berawalan "DR" (misalnya DR-38). Singkatan ini diambil dari singkatan nama perkebunan tempat dilakukannya seleksi (Djati Roenggo, di daerah Ungaran, Jawa Tengah). Kakao mulia berpenyerbukan sendiri dan berasal dari tipe Criollo.

Kakao (Theobroma cacao) merupakan tumbuhan berwujud pohon yang berasal dari Amerika Selatan. Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat.Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon, di alam dapat mencapai ketinggian 10m. Meskipun demikian, dalam pembudidayaan tingginya dibuat tidak lebih dari 5m tetapi dengan tajuk menyamping yang meluas. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak cabang produktif. Kakao secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sistem inkompatibilitas-sendiri (lihat penyerbukan). Walaupun demikian, beberapa varietas kakao mampu melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih tinggi.Buah tumbuh dari bunga yang diserbuki. Ukuran buah jauh lebih besar dari bunganya, dan berbentuk bulat hingga memanjang. Buah terdiri dari 5 daun buah dan memiliki ruang dan di dalamnya terdapat biji. Warna buah berubah-ubah. Sewaktu muda berwarna hijau hingga ungu. Apabila masak kulit luar buah biasanya berwarna kuning.Biji terangkai pada plasenta yang tumbuh dari pangkal buah, di bagian dalam. Biji dilindungi oleh salut biji (aril) lunak berwarna putih. Dalam istilah pertanian disebut pulp. Endospermia biji mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi. Dalam pengolahan pascapanen, pulp difermentasi selama tiga hari lalu biji dikeringkan di bawah sinar matahari.Produksi kakao telah meningkat dari 1,5 juta ton pada tahun 1983-1984 menjadi 3,5 juta ton pada tahun 2003-2004, hampir seluruhnya karena perluasan area produksi daripada menghasilkan meningkat. Kakao ditanam baik oleh perkebunan besar dan agroindustri produsen kecil, sebagian besar produksi berasal dari jutaan petani yang memiliki beberapa pohon masing-masing. Sebuah pohon mulai berbuah dan dipanen ketika tanaman sudah berumur empat atau lima tahun. Sebuah pohon dewasa mungkin memiliki 6.000 bunga dalam setahun, namun hanya sekitar 20 buah. Sekitar 300-600 bibit (kira-kira dari 10 buah) yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg pasta kakao.

1.2 Tujuan

- Untuk mengetahui salah satu tanaman perkebunan di Gorontalo.

- Untuk mengetahui apa saja yang menyerang tanaman kakao. Serta,

- Gejala-gejala dan bagaimana penyerangan dari penyakit tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Kakao

http://cybex.deptan.go.id/lokalita/penyakit-akar-putih-rigidoporus- microporus-dan-manajemen-pengendaliannya-di-perkebunan-karet

http://ditjenbun.deptan.go.id/bbpptpmedan/berita-196-rekomendasi-pengendalian-penyakit-antraknosa-pada-tanaman-kakao.html

http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=254505:hama-buah-busuk-serang-kakao&catid=13:aceh&Itemid=26

BAB III

ISI

Penyakit Kanker Batang Pada Tanaman Kakao

Bila kita mendengar penyakit kanker pada manusia mungkin tidak asing lagi. Tapi saya yakin bila sahabat semua mendengar kalau pada tanaman kakao juga ada istilahnya penyakit kanker yang menyerang batang kakao pasti timbul tanda tanya.
Penyakit kanker batang pada tanaman kakao disebabkan oleh sejenis patogen yang menyerang batang kakao atau sering disebut jugaPhytophthora Palmivora (Butl.) Butl, sama seperti pathogen pada penyakit busuk buah kakao.

Gejala Serangan

v Kulit batang agak berlekuk dan berwarna lebih gelap atau kehitam-hitaman

v Sering terdapat cairan kemerahan yang kemudian tanpa seperti lapisan karat

v Jika lapisan kulit luar dibersihkan maka tampak lapisan dibawahnya membusuk dan berwarna merah anggur

Penyebaran

v Penyebaran penyakit kanker batang hamper sama dengan penyebaran penyakit busuk buah.

v Penyakit kanker batang dapat terjadi karena pathogen yang menginfeksi buah menjalar melalui tungkai buah mencapai batang.

v penyakit berkembang pada kebun yang mempunyai kelembaban dan curah hujanyang tinggi atau sering tergenang air.

Pengendalian

Kulit batang yang membusuk dikupas sampai batas kulit yang sehet.

Luka kupasan selanjutnya dioles dengan fungisida yang mengandung tembaga seperti nordox atau sejenisnya dengan konsentrasi 5 % formulasi.Apabila serangan pada kulit batang sudah hampir melingkar, maka tanaman harus dipotong atau dibongkar.

Penyakitntraknose
Penyakit antraknosa (mati ranting) yang menyerang pucuk dan ranting tanaman kakao merupakan penyakit yang banyak menimbulkan kerugian. Penyakit ini menyebabkan daun gugur, ranting meranggas dan mati. Akibat serangan penyakit ini tanaman kakao menjadi kehilangan daun padahal daun merupakan tempat untuk proses fotosintesis pada tanaman (Semangun, 2000).

Tanaman terserang tumbuh merana dan produksinya rendah. Pada serangan lanjut tanaman menjadi mati meranggas. Di propinsi Sumatera Utarakerusakan akibat serangan penyakit ini telah dilaporkan terjadi yaitu di Kabupaten Batu Bara, Serdang Bedagai, Langkat, Deli Serdang, Simalungun dan Asahan.

Gejala serangan penyakit antraknosa

Jamur penyebab penyakit dapat menyerang pada daun, ranting, dan buah. Pada daun muda penyakit menyebabkan matinya daun atau sebagian dari helaian daun. Gejala ini yang sering disebut sebagai hawar daun (leaf blight). Daun muda yang sakit juga dapat membentuk bintik-bintik kecil berwarna coklat tidak beraturan dan biasanya mudah gugur (Semangun, 2000). Pada daun tua penyakit dapat menyebabkan terjadinya bercak-bercak nekrosis (jaringan mati) yang terbatas tidak teratur. Bercak-bercak ini kelak dapat menjadi lubang. Daun-daun yang terserang berat akan mudah gugur, sehingga ranting-ranting tanaman menjadi gundul (Sunanto,2002).

Ranting yang daun-daunnya terserang dan gugur dapat mengalami mati pucuk. Jika mempunyai banyak ranting, tanaman akan tampak seperti sapu dan sering berlanjut dengan matinya ranting. Penyakit ini juga dapat timbul pada buah, terutama buah yang masih pentil atau buah muda (Semangun, 2000). Pada buah muda bintik-bintik coklat berkembang menjadi bercak coklat berlekuk. Selanjutnya buah akan layu, mengering dan mengeriput. Serangan pada buah tua akan menyebabkan busuk kering pada ujung buah (Semangun, 2000) Buah muda (pentil) yang terserang menjadi keriput kering atau menyebabkan gejala busuk kering. Busuk kering karena serangan penyakit ini ditandai dengan terjadinya lingkaran berwarna kuning pada batas jaringan yang busuk dan jaringan yang sehat (Sunanto, 2002)Ciri penting gejala serangan Colletotrichum pada tanaman kakao adalah terbentuknya lingkaran berwarna kuning (halo) disekeliling jaringan yang sakit, dan terjadinya jaringan mati yang melekuk (antraknosa). Halo dan antraknosa dapat terjadi pada daun maupun pada buah. Tanaman yang terserang berat oleh patogen ini berbuah sedikit sehingga daya hasilnya sangat menurun (Mahneli, 2007).

Penyebaran penyakit Antraknosa

Konidium jamur dipencarkan oleh percikan air, dan oleh angin. Jamur tersebar luas diseluruh dunia, dan dapat menyerang bermacam-macam tumbuhan. Dengan demikian sumber infeksi dapat dikatakan selalu ada (Junianto dan Sri Sukamto, 1992).

Di Sumatera Utara diduga bahwa infeksi pada semai kakao di pembibitan berasal dari kebun karet yang ada didekatnya, yang sedang terserang penyakit gugur daun Colletotrichum (Semangun, 2000).

C. gloeosporioides mempunyai misellium yang jumlahnya agak banyak, hifa bersepta tipis, mula-mula terang kemudian gelap (Mehrotra, 1983 dalam Mahneli 2007). Konidiofor pendek, tidak bercabang, tidak bersepta dengan ukuran 7-8 x 3-4 µm. Konidium jamur dipencarkan oleh percikan air, dan mungkin juga oleh angin. Konidia terbentuk pada permukaan bercak pada daun terinfeksi. Konidia tersebut mudah lepas bila ditiup angin atau bila terkena percikan air hujan. Konidia sangat ringan dan dapat menyebar terbawa angin sampai ratusan kilometer sehingga penyakit tersebar luas dalam waktu yang singkat. Konidia mungkin juga dapat ditularkan oleh serangga.

PENYAKIT AKAR

Sumber Gambar: Balai Penelitian Sembawa 2010

Penyebaran penyakit akar putih

Di dalam tanah, jamur ini bertahan pada sisa-sisa akar dan kayu-kayu penularan terutama terjadi dengan perantaraan rhizomorf. Rhizomorf tersebut dapat menjalar bebas di dalam tanah, terlepas dari akar-akar tanaman. Infeksi jamur ini terutama terjadi pada kebun muda.

Penyakit Akar merah

Kelembaban tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan jamur ini. Ganoderma pseudoforeum pada umumnya ditemukan di tempat-tempat yang tingginya kurang dari 900 dpl. Penularan tanaman lain biasanya terjadi dengan kontak akar sakit dengan yang sehat.

Penyakit akar coklat

Penularan terjadi dengan kontak langsung antara akar sakit dan akar sehat. Pada umumnya jamur menyerang akar tunggang dan selanjutnya menyerang ke akar-akar yang besar, apabila seluruh permukaan akar tunggang telah ditutupi kerak, maka tanaman segera menguning kemudian mati.

Penyakit busuk buah

Penyebab penyakit busuk buah adalah jamur P.palmivora(phytophthora palmivora)

Penyebab penyakit

Menyebar melalui beberapa cara:

-percikan air hujan

Menyebarkan spora dari buah sakit ke buah yang sehat atau spora yang berasal dari tanah ke buah.

-hubungan langsung antara buah yang sakit dengan buah sehat.

-perantara binatang

Yang paling berperan dalam penyebaran penyakit adalah semut.selain itu,ada binatang penyebar lain seperti tikus,tupai dan berkicot.

Kerusakan

Serangan penyakit P.palmifora pada buah muda akan mneyebabkan busuk. Terjadinya serangan penyakit hanya berlangsung dalam beberapa hari hingga menyebabkan buah ursak dan tidak bisa di panen. Serangan pada buah dewasa menimbulkan kerusakan pada biji, tetapi buah masih bisa di panen, walaupun kualitas biji kakao tidak bagus.

Penyakit jamur

Penyebaran jamur upas

- Dalam penyebaranya jamur upas di pencarkan oleh basidiospora yang terbawah oleh angin.

- Basidiospora tidak dapat terangkut jauh dalam keadaan hidup,karenanya memepunyai dinding yang tipis dan hanya terbentuk jika kondisinya lembab.

- Adanya infeksi jamur upas pada suatu tanaman berarti sumber infeksi berada di sekitarnya.

- Jamur ini bersifat folifak (menyerang beberapa tanaman), antara lain karet, kopi, teh, kina, apel, dan cingkeh.

- Tanaman tephrosia candida (teprosia) bisa sebagai sumber infeksi karena sangat peka terhadap jamur upas.

- Kebun yang memiliki kelebaban tiggi karena pemangkasan tanaman kakao dengan tanaman pelindung yang terlambat sangat membantu perkembangan penyakit.

- Pada saat musim hujan. hujan yang terus-menerus akan menyebabkan jamur upas cepat meluas perkembanganya.

BAB IV

PEMBAHASAN

Serangan penyakit semakin meningkat belakangan ini disebabkan banyaknya pekebun yang menanam kakao tanpa naungan. Padahal untuk tumbuh normal tanaman kakao adalah tanaman yang memerlukan naungan. Menurut Sunanto (2002) intensitas sinar matahari yang diterima sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman cokelat. Banyak ahli berpendapat bahwa intensitas sinar matahari yang optimum adalah 50%, tetapi bila keadaan tanah subur (tanaman yang dipupuk sesuai kebutuhan), intensitas bisa naik menjadi 70-80%. Disamping itu peningkatan suhu udara akibat global warming di duga turut memperbesar serangan penyakit.

Penyakit kanker batang seperti kulit batang tanpa adanya warna gelap atau kehitaman dan agak berlekuk. Pada bercak hitam ini sering ditemikan cairan kemerahan yang lama kelamaan menjadi seperti lapisan karat. Apabila kulit batang yang terserang di kupas akan terlihat lapisan dibawahnya membusuk dan berwarna merah anggur.

Penyakit antraknosa seperti serangan ringan pada daun muda terlihat gejala bintik-bintik nekrosis (kematian jaringan) berwarna coklat. Setelah daun berkembang, bintik nekrosis menjadi bercak berlubang dengan halo (jalur di sekitar bercak akibat klorofil yang rusak) berwarna kuning. Pada daun yang lebih bintik nekrosis berkembang menjadi bercak nekrosis yang beraturan. Daun-daun muda yang serangan penyakitnya cukup berat muda mengalami kerontokan dan menyebabkan ranting menjadi gundul. Apabila serangan penyakit terjadi beberapa kali, ranting-ranting akan berbentuk menyerupai kipas dengan ruas yang penndek. Keadaan ini akan segera di ikuti dengan mati ranting. Buah-buah muda lebih rentan (peka) terhadap infeksi jamur dari pada buah dewasa. Infeksi jamur pada buah muda menimbulkan gejala kelayuan dengan bintik-bintik coklat. Bintik tersebut segera berkembang menjadi bercak coklat yang berlekuk (antraknosa). Akhirnya buah mengering menjadi mumi (buah yang mengeras, mengcil, dan kering). Buah dewasa yang terinfeksi tidak menjadi layu, hanya mengalami antraknosa dan mengerut pada bagian ujungnya. Tanaman yang terserang cukup berat menunjukan gejala maranggas dengan sedikit atau bahkan tanpa daun sama sekali. Biasanya serangan terjadi pada tanaman yang berumur lebih dari enam minggu.

Penyakit akar gejalanya seperti mula-mula daun kelihatan menguning, layu dan akhirnya gugur kemudian diikuti dengan kematian tanaman. Untuk mengetahui patogenya dengan tepat harus dilakukan pemeriksaan terhadap leher akar dan perakaran tanaman.

- Penyakit jamur akar putih terdapatbenang-benang putih yang bercabang, melekat erat pada permukaan akar. Benang-benang tersebut adalah rhizomorf yang terdiri dari berkas-berkas hifa jamur. Hifa tersebut meluas seperti jala dan ujungnya seperti bulu.

- Penyakit akar coklat seperti permukaan akar tanaman diliputi oleh benang-benang jamur berlendir yang mengikat erat butir-butir tanah. Jika akar dicuci, kerak-kerak tersebut sulit untuk lepas.

- Pada butir-butir tanah terdapat hifa jamur yang berwarna coklat.

Penyakit akar merah,pada permukaan akar ada lapiasan jamur berwarna merah atau coklat tua. Keadaan akar yang terinfeksi menjadi busuk basa, lunak dan berair.

Penyakit busuk buah

Penyakit ini menyerang buah kakao yang masih muda sampai dewasa.tetapi persentasi serangan lebih banyak pada buah yang lebih dewasa.Buah yang terinfeksi menunjukan gejala yang terjadi pembusukan besertai bercak coklat kehitaman dengan batas yang tegas.Sedangkan dimulai dari ujung atau pangkal buah.Perkembangan bercak coklat cukup cepat,sehingga dalam waktu beberapa hari seluruh permukaan menjadi busuk,basa dan berwarna coklat kehitaman.Pada kondisi lembab pada permukaan buah akan muncul serbuk berwarna putih.Serbuk ini adalah spora P.palmivora yang sering kali bercampur dengan jamur sekunder.

Penyakit jamur upas seranganya terdiri dari beberapa tingkatan sebagai berikut :

- Tingkat sarang laba-laba,pada tingkat ini,bagian tanaman yang diserang mula-mula jamur tanpa mengilap sepertin perak,sangat mirip dengan sarang laba – laba.Dalam keadaan ini di bawah lapisan sarang laba – laba berwarna hitam.

- Tingkat bongkol,pada tingkat ini jamur membentuk kerak yang berwarna merah jambu,seperti warna ikan salmon.Oleh karena itu penyakit ini sering disebut pink disease kulit cabang di bawah kerak tersebut sudah membusuk.

Tingkat mekator,jamur akan dapat berkembang terus dan membentuk pikmida yang berwarna merah tua dan biasanya terdapat pada sisi yang lebih kering.Pada bagian ujung percabngan yang sakit , daun menjadi layu secara mendadak sehingga banyak yang tetep melekat pada cabang meskipun sudah kering.

makalah aridisol

11 October 2014 07:59:08 Dibaca : 959

Aridisol mempunyai regim kelembaban tanah aridic dan merupakan tanah dominan rendah padang pasir, merupakan ordo tanah yang berlimpah mendekati 20% tanah di dunia (lihat table). Belukar padang pasir mendominasi sebagian besar daerah arid dimana belukar memberikan jalan tumbuhnya rumput berkelompok dengan meningkatnya kelembaban. Tanaman berjarak cukup lebar antara satu dengan yang lainnya dan bagaimanapun menggunakan kelembaban tanah agak kurang efektif. Barang kali salah satu yang mengejutkan bagi seorang yang seluruh hidupnya tinggal di daerah basah dan kemudian bepergian di padang pasir adalah begitu besar diversifikasi.

Tanaman dan jumlah vegetasi yang perlu diperkirakan. Beberapa tanaman padang pasir tumbuh dan berfungsi selama musim yang lebih basah pada tahun tersebut dan menjadi dorman selama musim paling kering. Pada daerah yang lebih basah, atau daerah tepi sebelah timur daerah kering Amerika Serika bagian barat, rumput daerah padang pasir yang berkelompok mendapat kesempatan menjadi lebih tinggi dan lebih banyak rumput yang sangat vigorous : aridisol bergabung dengan molisol.

Tabel 10-4. Luas tanah di dunia menurut ordonya

Ordo tanah

Luas dalam total ribuan atau di dunia mil persegi (%)

Tingkatan (ranking)

Alfisol

7600

14,7

.5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0in 5.4pt 0in 5.4pt; width: 95.75pt;" valign="top" width="128">

3

Aridisol

9900

19,2

1

Entisol

6500

12,5

4

Histosol

400

0,8

10

Inceptisol

8100

15,8

2

Mollisol

4600

9,0

6

Oxisol

4800

9,2

5

Spodosol

2800

5,4

8

Ultisol

4400

8,5

7

Vertisol

1100

2,1

9

Lapangan es

-

Pegunungan tak rata

1200

2,4

Pegunungan tak terhitung

200

0,4

total

51600

100

ü PERKEMBANGAN DAN SIFAT ARIDISOL

Di daerah kering proses pembentukan tanah sama dengan yang terjadi di daerah basah, tetapi laju perkembangan tanah daerah kering sangat lambat. Jumlah tanaman yang tumbuh lebih sedikit dan kecilnya potensi perobakan bahan organic menghasilkan tanah dengan kandungan bahan organic rendah. Angin memainkan peran penting dalam perkembangan aridisol. Angin memindahkan debu, kadang-kadang hujan mencuci unsure hara berlarut dari debu pada perjalanannya melintasi padang pasir. Peranan nyata yang lebih penting dari angin adalah meniup partikel-partikel tanah yang halus, berakibat dalam pembantukan satu konsentrasi kerikil atau pembantukan padang pasir di kanan kirinya.

Air kurang efektif dalam pencucian garam-garam berlarut dan memindahkan bahan koloid di daerah arid, sebab rendahnya presipitasi. Factor lain adalah alam yang tercerai berai karena curah hujan yang besar berakibat terjadinya aliran permukaan. Gamabaran yang memperburuk sebagian besar aridisol adlah suatu zone dengan jarak yang bervariasi dibawah permukaan dimana kalisium karbonat telah ditimbun oleh air berkolasi (horizon klasik).

Beberapa aridisol mempunyai horizon argillic (Bt). Yang berkembang dengan baik, yang merupakan bukti perkiraan adanya pergerakan liat. Keberadaan horizon argillic yang luas pada beberapa ardisol mengingatkan bahwa beberapa tahun yang lalu lebih banyak terjadi iklim basah daripada yang terjadi pada waktu ini. “mohave” adalah aridisol yang biasa dari bagian barat daya amerika serikat, beberapa data Mohave ditampilkan dalam table untuk menggambarkan atau ciri yang bisa ditemukan pada aridisol terdapat adanya horizon argillic, kandungan bahan organic rendah dan ratio karbon, nitrogen dalam bahan organic rendah, adanya natrium dapat ditukar yang nyata, nilai pH tinggi dan akumulasi kalsium karbonat (K) di bagian lebih bawah pada profil.

Aridisol ditempatkan dalm sub ordo berdasarkan ada atau tidaknya horizon argillic. Sub ordo orthid termasuk oridisol yang tidak mempunyai horizon argillic. Sebaliknya sub ordo arghid termasuk aridisol dengan horizon argillic. Seperti yang telah kita catat Mohave mempunyai horizon argilik; jadi Mohave adalah argid. Distribusi Orthid dan Argid pada umumnya di Amerika Serikat dapat dilihat pada gambar 10-2

ü HUBUNGAN PERMUKAAN LAHAN DENGAN UMUR ARIDISOL

Dapat dipercaya bahwa orthid merupakan aridisol yang lebih muda dan bahwa argid merupakan aridisol lebih tua. Terdapat bukti bahwa orthid, di Amerika Serikat berkembang sangat beasr dalam 25.000 tahun yang lau di iklim kering. Orthid sebagian besar terdapat dimana alluvium belakangan ini telah ditimbun. Argid biasanya pada permukaan lahan yang lebih tua di setiap landscape dimana terdapat lebih banyak watu untuk pembentukan horizon argilik dan satu kemungkinan yang besar dimana tanah telah dipengaruhi oleh lebih banyak iklim basah lebih dari 25.000 tahun yang lalu. Pada sebagian besar sedimen ini atau permukaan lahan belakangan ini entisol berlimpah.

ü TATA GUNA LAHAN PADA ARIDISOL

Aridosol di bagian barat Amerika serikt seluruhnya terjadi dalam suatu daerah yang disebut “kisaran barat daerah beririgasi”. Seperti nama yang tercantum, penggembalaan domba dan sapi, produksi tanaman dengan irigasi adalah dua cara utama penggunaan lahan ini. Penggunaanlahan untuk penggembalaan berhubungan erat dengan presipitasi, yang menentukan secara luas jumlah produksi makanan ternak. Beberapa area sangat kering digunakan untuk penggembalaan, sedangkan area lainnya sangat mendukung untuk dijadikan penggembalaan pada musim panasdi padang-padang rumput di gunung. Sebanyak 35 hektar atau 75 are atau lebih area kering diperlukan diperlukan setiap ekor sapi, jadi memperbesar usaha pertanian merupakan suatu keharusan. Sebagian besar pemilik tempat pemeliharaan ternak menyediakan tambahan hijauan makanan ternak dengan memproduksi beberapa tanaman pada area kecil yang berlokasi baik untuk irigasi (lihat Gambar 10-6). Bahaya utama dalam penggunaan lahan penggembalaan adalah penggembalaan berat yang mengakibatkan penyerbuan spesies tanaman yang kurang layak dan meningkatkan erosi tanah.

Hanya sekitar satu atau dua persen lahan yang diirigasi, sebab produksi tanaman dengan irigasi tergantung pada penyediaan air. Sebagian besar lahan beririgasi terletak pada tanah-tanah aluvial atau Entisol, sepanjang arus air dan sungai dimana tanah mendekati muka air dan air irigasi dapat didistribusikan ke tempat lapang oleh gravitasi. Sebagai tambahan,sungai-sungai yang didekatinya melayaninya sebagai satu sumber air dari aliran sungai dan membawa air irigasi dari tempat penampungan persediaan air. Keadaan alkali Aridosol dapat menyebabkan defisiensi beberapa unsur hara pada tanaman tertentu. Tanaman utama termasuk tanaman alfalfa, kapas, buah jeruk, sayur-sayuran dan tanaman biji-bijian. Di Arizona, produksi tanaman hanya dua persen dari lahan yang memberikan 60 persen penerimaan total suatu usaha pertanian. Penggembalaan sebaiknya menggunakan 80 persen lahan dan memberikan hanya 40 persen penerimaan total usaha pertanian.

gombal maut anak muda

11 October 2014 07:54:06 Dibaca : 254

Ad seribu mcam karakter yg tdk kau ktahui tntangq..
Ada seribu mcam kgiatn yg tdk prnah kau ikuti dngq..

Nmun ckup 1 hti yg slalu aq impikn dan kau pasti tau bhwa itu adlh kamu.. bkn dia or mereka..

 

 

Klw suatu hari nnti aq jauhh jng d cari yeaa...
Ckup pjamkn mtamu mka aq akn trasa memlukmu krna aq slalu ad d dkatmu..

Tp klw pagi ni cerah tolong siram akn kopi hangat biar mkin nikmat punya anugrah spertimu.. bkn untuk mmperbudakmu nmun dng ktulusan smua yg kau lakukn for me itu indahh..

Diam saja suaramu merdu.. hahaha ngio2to org bgt..

Oke kawan nikmti hdupmu sbg nikmat trbesar yg tuhan brikn kpadamu.. sgla sesuatu yg terjdi tak lput dri campur tngan-NYA

Arti Logo

11 October 2014 07:44:40 Dibaca : 258

Arti Logo Kabupaten Boalemo

Lambang Daerah Kabupaten Boalemo dimuat dalam bentuk segi Lima, yang melambangkan 5 (lima) Sila Pancasila. Lambang Daerah Kabupaten Boalemo memuat kondisi Geografis dan potensi alam Boalemo antara lain ;

GunungLautKelapaSawah

Dan indentitas Hewan Langka di Kabupaten Boalemo yaitu Burung Maleo Lambang Daerah Kabupaten Boalemo memuat senjata khas masyarakat Boalemo yaitu keris (Bituo); Warna Dasar / Arsir Hijau yang merupakan warna adat (linula) Boalemo melambangkan kesejahteraan Masyarakat Boalemo; Atribut lambang Kabupaten Boalemo memuat symbol padi dan kapas yang melambangkan kesejahteraan Masyarakat Boalemo; Landasan bingkai lambang kabupaten Boalemo bertuliskan Kabupaten Boalemo; Ukuran lambang Kabupaten Boalemo disesuaikan dengan kabutuhan dimana lambang itu akan ditempatkan.

Pemaknaan Simbol Dalam Logo :

Gunung : Melambangkan sumber potensi alam ilayah Kabupaten BoalemoSawah/Ladang : Melambangkan potensi pangan di kabupaten BoalemoKelapa : Melambangkan salah satu komoditas yang dihasilkan oleh masyarakat BoalemoLaut : Melambangkan Potensi Kelautan dan Perikanan serta PariwisataBurung Maleo : Melambangkan hewan langka terdapat di kabupaten BoalemoKeris (Bituo): Melambangkan kesiapan dan rasa percaya diri Masyarakat Boalemo.Padi dan Kapas : Melambangkan kesejahteraan Masyarakat sebagai cita-cita kemakmuran masyarakat Boalemo

Pemaknaan Landasan / Bingkai : Landasan / Bingkai yang bertuliskan Kabupaten Boalemo yang ditandai dengan warna hitam diatas putih melambangkan keabsahan Pemerintah (pemerintah Boalemlo)

Pemaknaan Warna Dalam Logo :

Hijau melambangkan warna adat ( Linula ) Boalemo yang tidak bisa di ubah-ubah lagi karena warna ini adalah merupakan ciri khas warna jeruk dan menjadi nama keharuman Masyarakat Boalemo.Hijau Tua melambangkan Hukum dan Kekayaan alamKuning melambangkan kemakmuran Rakyat Indonesia (sebagai cita-cita Masyarakat Boalemo)Biru muda melambangkan langitBiru Tua melambangkan lautHitam diatas putih melambangkan keabsahan Pemerintah (Pemerintah Boalemo)

pemekaran kab. Boalemo

11 October 2014 07:34:04 Dibaca : 333

Sejarah pemekaran dan jumlah penduduk

Pembentukan daerah otonom di Indonesia seringkali dikaitkan dengan dua hal, yakni bagian dari daerah kerajaan masa lampau dan pembagian daerah menurut aturan kolonial Belanda. Berdasarkan data historis, Boalemo pada abad ke-17 pernah menjadi sebuah daerah kerajaan, wilayahnya mencakup bagian barat Gorontalo. Ketika Belanda berkuasa sistem pemerintahan beberapa kali mengalami perubahan. Dalam Lembaran Negara tahun 1925 Nomor 262, Keresidenan Gorontalo dibagi menjadi dua wilayah pemerintahan, yakni; 1) Onder Afdeling Gorontalo dengan Onder distriknya, meliputi Atinggola, Kwandang, Sumalata, Batudaa, Tibawa, Gorontalo, Telaga, Tapa, Kabila, Suwawa dan Bonepantai, 2) Onder Afdeling Boalemo dengan Onder distriknya, meliputi Paguyaman, Tilamuta dan Paguat.

Pada tahun 1946, ketika Sulawesi menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur, keswaprajaan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 perihal pemebentukan Daerah Tingkat II di seluruh Sulawesi. Dalam UU ini Boalemo menjadi salah satu kawedanan dalam wilayah Kabupaten Gorontalo. Status kewedanan Boalemo berlaku sampai dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974 yang selanjutnya disusul oleh Permendagri Nomor 132 tahun 1978 tentang Pedoman Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pembantu Bupati/Walikotamadya. Kemudian bekas Kewedanan Boalemo berubah menjadi Pembantu Bupati Wilayah Kerja Paguat yang meliputi lima kecamatan, yakni ; Paguyaman, Tilamuta, Marisa, Popayato. Menengok sejarah Boalemo pada masa lalu, serta mempertimbangkan jarak kendali pemerintahan Kabupaten Gorontalo yang berpusat di Limboto, maka kemudian berkembang aspirasi pembentukan daerah otonom baru. Apalagi saat itu dukungan telah disuarakan oleh Bupati Gorontalo dan DPRD setempat, juga adanya dukungan dari Gubernur dan DPRD Sulawesi Utara sebelum berpisah Gorontalo menjadi provinsi. Kemudian Presiden RI dan DPR RI menetapkan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 1999, tanggal 4 Oktober 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Boalemo (Lembaran Negara RI tahun 1999 Nomor 178, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3899).

Kemudian secara resmi Kabupaten Boalemo berdiri setelah diundangkannya pada tanggal 12 Oktober 1999. Pada saat berdiri Kabupaten Boalemo meliputi 5 wilayah kecamatan, yaitu; Kecamatan Paguat, Kecamatan Marisa, Kecamatan Popayato, Kecamatan Paguyaman, Kecamatan Tilamuta,. Melihat perkembangan dan dinamika masyarakat Boalemo yang terjadi, serta Provinsi Gorontalo telah terbentuk maka pada tahun 2003 Boalemo dimekarkan lagi. Pada tanggal 27 Januari 2003 Kabupaten Pohuwato berdiri, wilayah ini tadinya merupakan bagian dari Kabupaten Boalemo yang meliputi Lima kecamatan, yakni:

Lemito,Marisa,Paguat,Popayato, danRandangan menjadi wilayah Kabupaten Pahuwato dengan luas ± 4.244,31 km², serta berpenduduk 88.796 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk 20,92 jiwa /km² pada tahun 1997.

Pembentukan Kabupaten Pohuwato sekaligus mengakhiri polemik ditengah masyarakat Kabupaten Boalemo, sebab di dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 50 tahun 1999 menyebutkan bahwa Kabupaten Boalemo dalam jangka waktu lima tahun harus memindahkan ibu kotanya dari Tilamuta ke Marisa.

Wilayah yang masuk dalam Kabupaten Boalemo pada saat pemekaran, yakni

Mananggu (536,16 km²),Paguyaman, danWonosari (460,80 km²), ditambahTilamuta, danDulupi (1.520,40 km²), atau total luas 2.517,36 km² tetap sebagai wilayah Kabupaten Boalemo.

Kelima kecamatan di wilayah Kabupaten Boalemo ini pada tahun 1997 diperkirakan berjumlah 94.824 jiwa, dengan tingkat kepadatan sekitar 38 jiwa/km². Sedangkan menurut data yang diperoleh dari Gorontalo Post, tanggal 24 November 2006 (berdasarkan data pemilihan gubernur tahun 2006), jumlah penduduk Kabupaten Boalemo adalah 119,978 jiwa, dengan luas 1,521.88 km² dan tingkat kepadatan penduduk 79 jiwa/km².

Sesuai dengan hasil data Sensus Penduduk 2010 (Mei 2010), luas wilayah Kabupaten Boalemo adalah 2.567,36 km² atau 21,02% dari luas Provinsi Gorontalo, dengan jumlah penduduk 129.177 jiwa, dan tingkat kepadatan penduduk 50,32 jiwa/km².

Menurut data terakhir (September 2011), Kabupaten Boalemo terdiri atas 7 wilayah kecamatan, yaitu: Botumoito, Dulupi, Mananggu, Paguyaman, Paguyaman Pantai, Tilamuta, dan Wonosari, serta 2 kelurahan dan 81 desa.

Ada pun daftar lengkap nama kecamatan serta desa/ kelurahan yang ada di Kabupaten Boalemo hingga saat ini (September 2011) adalah sebagai berikut.

Botumoito, terdiri atas 9 desa, yaitu: (1) Bolihutuo; (2) Botumoito; (3) Dulangeya; (4) Hutamonu; (5) Patoameme; (6) Potanga; (7) Rumbia; (8) Tapadaa; dan (9) Tutulo.Dulupi, terdiri atas 8 desa, yaitu: (1) Dulupi; (2) Kotaraja; (3) Pangi; (4) Polohungo; (5) Tabongo; (6) Tanah Putih; (7) Tangga Barito; dan (8) Tangga Jaya.Mananggu, terdiri atas 9 desa, yaitu: (1) Bendungan; (2) Buti; (3) Kaaruyan; (4) Keramat; (5) Mananggu; (6) Pontolo; (7) Salilama; (8) Tabulo; dan (9) Tabulo Selatan.Paguyaman, terdiri atas 23 desa, yaitu: (1) Balate Jaya; (2) Batu Kramat; (3) Bongo; (4) Bongo Tua; (5) Bualo; (6) Diloato; (7) Girisa; (8) Hulawa; (9) Huwongo; (10) Karya Murni; (11) Kuala Lumpur; (12) Molombulahe; (13) Mustika; (14) Mutiara; (15) Permata; (16) Rejonegoro; (17) Saripi; (18) Sosial; (19) Sumber Jaya; (20) Tangkobu; (21) Tenilo; dan (23) Wonggahu.Paguyamanpantai, terdiri atas 8 desa, yaitu: (1) Apitalawu; (2) Bangga; (3) Bubaa; (4) Bukit Karya; (5) Limbatihu; (6) Lito; (7) Olibu; dan (8) Towayu.Tilamuta, terdiri atas 12 desa, yaitu: (1) Ayuhulalo; (2) Bajo; (3) Hungayonaa; (4) Lahumbo; (5) Lamu; (6) Limbato; (7) Modelomo; (8) Mohungo; (9) Pentadu Barat; (10) Pentadu Timur; (11) Piloliyanga; dan (12) Tenilo.Wonosari, terdiri atas 16 desa, yaitu: (1) Dimito; (2) Dulohupo; (3) Harapan; (4) Jati Mulya; (5) Makmur; (6) Mekar Jaya; (7) Pangea; (8) Raharja; (9) Sari Tani; (10) Sejahtera; (11) Suka Maju; (12) Suka Mulia; (13) Tanjung Harapan; (14) Tri Rukun; (15) UPT SP1; dan (16) UPT SP2.