Rinduku

19 March 2013 08:45:56 Dibaca : 105

Ketika pertama kali aku lahir ke dunia, mungkin tangisku adalah irama indah yang hiasi malamnya. Rasanya ketika melihatku seperti ada keajaiban yang ada dalam hidupnya, yang selama ini ia nantikan. Sentuhan kasihnya tiada henti menghangatkan jiwaku yang masih enggan menyesuaikan dengan suasana baru. Tapi dalam dekapnya aku selalu merasa tenang, aku tak perlu merasa takut dengan semua yang akan aku hadapi kedepannya. Dalam dekapnya pula aku terlelap melewati malam-malam yang indah menurutnya. Lelah jiwanya sirna ketika memandangi wajahku yang menggambarkan kebahagiaan. Senyumanku adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Ketika aku pertama kali mencoba untuk melangkah dihadapannya, kugenggam tangannya dan kuraih peluknya, dan saat itu sebuah kata terucap dari bibirku, dengan menyebut namanya “Mama”. Itulah kata yang pertama kali terucap olehku.

Pagi menyambut jiwa senyum itu telah menemaniku, yang kurasa menghiasi hatinya.sungguh hanya aku dan sentuhmu.ketika itu, seakan dunia ini adalah milikmu, hingga enggan melepaskanku dalam dekapmu. Kini ketika aku sudah bisa melangkahkan kaki dengan baik, dan semua yang kudapat dapat tersusun dengan indah. Kemanakah irama itu? Rindukah aku dengan hal itu? Kemanakah aku melangkahkan kaki ketika semuanya telah kudapati, ketika kebahagiaan menghampiriku? Adakah aku memperdulikannya, dan membalas apa yang dia berikan selama ini. Semuanya seakan terkikis oleh waktu, tak pernah terbayangkan untuk membalas kasihnya, namun bagaimanpun keadaannya aku tetap merindukan kasihmu, dekapmu, dan sentuh jiwamu. Hal itu membuat aku tak henti-hentinya menyebut namamu “Mama ! aku sangat merindukanmu. Merindukan apa yang pernah kau berikan padaku.

Ketika waktu itu tiba, dimana itu adalah akhir dari seluruh kasihmu. Saat itu ketika kata maaf belum sempat terucap olehku, cinta dan kasihnya belum terbalaskan dan ketika itu pula jiwa ini seakan mati bagaikan tak bernyawa lagi, jika itu terjadi akankah aku akan menyesalinya? Walaupun demikian, itu semua sudah terlambat, waktu tak bisa diulang kembali. Yang perlu aku lakukan agar itu tak terjadi adalah membahagiakanmu, walaupun kebahagiaan yang ku berikan tidak sesempuna kasihmu, Mama !.

sekian

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong