Jasa Seorang Ibu
Di salah satu desa yang makmur dan indah yaitu desa Sidomukti yang terletak di kecamatan Bolano Lambunu di situlah seorang ibu yang berusia 49 tahun yang sangat cantik dan rajin tinggal, sebut saja ibu Bariah. ibu yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga tersebut mempunyai dua orang anak yang pertama bernama Beni Febriyanto dan yang ke dua bernama Desi Nuraini
Ibu yang sudah lama menjadi IRT tersebut selalu mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari ibu memasak di pagi buta sebelum ayah dan adikku bangun. Namun setelah pulang sekolah terkadang ibu menyuruh ku membantu menyapu lantai yang kotor dan Sehabis makan aku pun harus mencuci sendiri piring bekas makanan yang aku makan. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini aku mengerti kenapa dulu ibu melakukan itu semua. Karena ibu ingin aku harus menjadi orang yang mandiri dan tidak selalu bergantung kepada orang lain. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi anak yang baik dan anak yang bisa dibanggakan oleh ibu dan bapak.
Saat pertama kali aku masuk Sekolah Dasar (SD) Ibu lah yang mendaftarkanku hingga masuk ke dalam kantor. Sesekali kulihat dari jendela kelas, dengan sabar ibu duduk mengantri di seberang sana untuk mendaftarkanku.
Kini Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering mengenang kebaikan-kebaikan yang ibu berikan kepada ku mulai aku masih kecil hingga saat ini, terutama kebaikan saat ibu membelikanku jaket baru untuk ku, di situ aku sangat bahagia apalagi jaket tersebut sangat keren, karena terdapat strip merah putih di bagian depan
Tapi ibu tak pernah membeli pakaian baru untuk dirinya sendiri, apalagi perhiasan. Ia malah membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat Ganteng, ia pakaikan juga topi di kepalaku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang saat mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas Aliyah baru aku mengerti, Meski Ibu bukan orang yang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Sesaat kupandang senyumnya yang begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum teman-teman ku. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini,. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Maka dari itu sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kita sewaktu kita masih anak anak