Jasa Seorang Ibu

14 December 2016 08:53:18 Dibaca : 63


Di salah satu desa yang makmur dan indah yaitu desa Sidomukti yang terletak di kecamatan Bolano Lambunu di situlah seorang ibu yang berusia 49 tahun yang sangat cantik dan rajin tinggal, sebut saja ibu Bariah. ibu yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga tersebut mempunyai dua orang anak yang pertama bernama Beni Febriyanto dan yang ke dua bernama Desi Nuraini
Ibu yang sudah lama menjadi IRT tersebut selalu mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari ibu memasak di pagi buta sebelum ayah dan adikku bangun. Namun setelah pulang sekolah terkadang ibu menyuruh ku membantu menyapu lantai yang kotor dan Sehabis makan aku pun harus mencuci sendiri piring bekas makanan yang aku makan. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini aku mengerti kenapa dulu ibu melakukan itu semua. Karena ibu ingin aku harus menjadi orang yang mandiri dan tidak selalu bergantung kepada orang lain. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi anak yang baik dan anak yang bisa dibanggakan oleh ibu dan bapak.
Saat pertama kali aku masuk Sekolah Dasar (SD) Ibu lah yang mendaftarkanku hingga masuk ke dalam kantor. Sesekali kulihat dari jendela kelas, dengan sabar ibu duduk mengantri di seberang sana untuk mendaftarkanku.
Kini Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering mengenang kebaikan-kebaikan yang ibu berikan kepada ku mulai aku masih kecil hingga saat ini, terutama kebaikan saat ibu membelikanku jaket baru untuk ku, di situ aku sangat bahagia apalagi jaket tersebut sangat keren, karena terdapat strip merah putih di bagian depan
Tapi ibu tak pernah membeli pakaian baru untuk dirinya sendiri, apalagi perhiasan. Ia malah membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat Ganteng, ia pakaikan juga topi di kepalaku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang saat mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas Aliyah baru aku mengerti, Meski Ibu bukan orang yang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Sesaat kupandang senyumnya yang begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum teman-teman ku. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini,. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Maka dari itu sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kita sewaktu kita masih anak anak

 

Penjual cemilan tradisional jawa (Peyek)

14 December 2016 08:47:30 Dibaca : 52


Pagi sekitar pukul 07.30 waktu setempat, saya bertemu sebuah rumah yang tak jauh dari kos ku berada, tempat tinggal Ibu Kurnia yang dipanggil akrab Bu Nia yang tahun lalu baru pindah dari desa paguyaman ke kota gorontalo. Di tengah kunjungan, saya temui Bu Nia sedang asik dan sibuk membuat adonan peyek. Ibu Nia ini sekarang menggeluti usaha bisnis pembuatan cemilan tradisional jawa. Cemilan ini berbahan dasar terigu yang diberi kacang serta di baluri dengan sayur di atasnya kemudian digoreng. “Bahan dasar peyek memang cukup sederhana dan pembuatannya juga mudah”. ujar Bu Nia.
Ibu yang baru saja pindah tempat tinggi ini lebih memilih untuk merintis usaha pembuatan peyek dari pada mencari-cari pekerjaan atau melamar kerja kesana kemari. “Lebih baik menciptakan lapangan kerja dari pada mencari kerja, karena lowongan kerja saat ini susah, Mas.” lanjut Bu Nia sambil menggoreng adonan peyek.
Usaha cemilan gorengan seperti peyek ini memang menguntungkan. Ini sudah dibuktikan sendiri oleh Bu Nia. Apalagi cemilan tersebut untuk di daerah Kota gorontalo masih tergolong asing alias langka. Dibandingkan dengan daerah paguyaman.
“Berawal dari melihat cara pembuatan peyek saat masih sekolah SMA dulu, lalu berkeinginan untuk mengembangkan usaha.” tutur Bu Nia. Kenangan munculnya inspirasi yang tidak akan dilupakannya. Ketika itu Bu Nia langsung mencari informasi tentang pembuatan peyek. Berbagai macam cara yang berbeda ia dapatkan resepnya dari teman juga internet. Dari banyak versi tersebut Bu Nia memadukan sehingga tercipta resep ala Bu Nia.
Peyek buatan Bu Nia sangat laris manis. Keuntungan bisa dua kali lipat dari modal yang dikeluarkan untuk bahan dasarnya. Perhari Bu Nia mampu membuat peyek sebanyak 150 bungkus dengan total biaya modal dasar sebesar Rp 50.000,-. Satu bungkus peyek dijual seharga Rp. 1.000,-. Dapat diketahui keuntungannya Rp. 100.000,- perhari. Apabila dihitung selama satu bulan berarti keuntungannya bisa mencapai omset Rp. 3.000.000,-.
Bu Nia menyiapkan beberapa strategi khusus untuk mengatasi lemahnya penjualan. Agar tetap laris manis strategi yang dapat dibocorkan olehnya yaitu pertama mempertahankan dan mengembangkan rasa. Bu Nia akan membuat peyek dengan aneka rasa, tidak hanya di bauri kacang dan sayur saja tetapi dibauri dengan ikan teri yang kecil-kecil juga. kemasan peyek dibuat dengan serapi mungkin dan diberi label nama. Hal itu penting agar pelanggan tahu dan mengenal lebih akrab dengan peyek buatan Bu Nia.
Selama ini cemilan buatan Bu Nia dikemas biasa-biasa saja karena kapasitas produksi masih terbatas. Tapi untuk peyek ini, Bu Nia lebih serius mengelola pembuatannya. Karena konsumen sudah banyak yang membeli dan berlangganan. Terutama saat menjelang bulan ramadhan, banyak persiapan-persiapan yang dilakukannya mulai dari penambahan modal, penyediaan tempat yang strategis, sampai dengan kemasan yang akan dibuat lebih menarik lagi. “Biar pengunjung lebih tertarik lagi.” ujarnya.

 

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll